
“Saya sudah memberi mu kesempatan. Tapi tidak kau pergunakan dengan baik. Kau sering menyia-nyiakan orang yang meminta pertolongan pada mu, sehingga lihat lah? tidak sedikit orang-orang yang tersenyum atas kematian mu itu, karena apa? karena mereka membenci dirimu yang sombong dan tidak ingat sama mereka orang-orang kecil. Waktu itu membutuhkan bantuan mu. Kini kau sudah berbeda alam dengan mereka.”
Orang tersebut menoleh pada orang-orang yang mengantar nya ke pembaringan terakhir tersebut. Mereka banyak yang tersenyum senang, mencibir dan menggunjingkan dirinya sebagai orang kaya yang sombong dan pelit, juga kejam. Tinggallah penyesalan yang tiada arti lagi, sampai menangis darah pun tak akan merubah keadaan. Mengembalikan nya berkumpul dengan keluarga.
“Meminta lah kepada Tuhan mu. Agar merubah takdir mu kembali ke dunia, tapi kekayaan yang telah ku berikan akan tetap hilang. Terhitung dari hari kematian mu,” jelas Tiara kemudian pergi dari tempat tersebut.
Pria itu terus berteriak-teriak. "Aku belum mati ... dan kembalikan aku ke dunia?" Namun sekencang apapun teriakannya tidak membuat satupun orang yang dapat mendengar suara orang tersebut.
Tinggallah dia menangis, menjerit dan meratapi nasibnya yang sudah terlambat tersebut.
“Ada ular emas, ular emas.” Teriak Orang yang melihat sosok ular emas.
Krosak, sish ... sish ... ular emas itu memasuki ke dalam semak-semak yang berada di pinggiran pemakaman tersebut.
“Mana? mana? mungkin ular itu yang sudah makan korban, ayo tangkap dan musnahkan! jangan sampai memakan korban lagi. Kita lebih baik mencegah daripada kejadian lagi,” timpal seseorang yang langsung melompat mencari keberadaan ular tersebut.
Hampir setengahnya orang-orang yang turut memburu ular berwarna emas tersebut, dan bukan Tiara namanya bila harus tertangkap begitu saja.
Krosak-krosak, terdengar dari sebelah dan berlainan arah. Membuat orang-orang berlarian ke sebelah sana dan menjauhi tempat dimana Tiara berada.
“Hem, dasar bodoh! Carilah sampat dapat, dan kalian tidak akan menemukan ku wahai kalian manusia yang tidak ada hubungannya dengan ku,” Tiara ngeloyor meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
...----...
Dalam waktu begitu singkat, sistem kekayaan yang Tiara berikan pada Darjat. Sudah merubah kehidupan Darjat, dalam kurun waktu yang terbilang cepat. Darjat sudah mampu membangun rumah yang termasuk mewah di kampung nya tersebut.
Seperti permintaan Tiara. Darjat pun mengkhususkan sebuah kamar dengan sentuhan warna emas pun sudah jadi.
Desain mewah dan interior yang indah. Membuat semua orang terkagum-kagum dengan rumah yang Darjat miliki saat ini. termasuk orang-orang yang menghina dan mencemooh jaga menendang dirinya, kini berbalik mendekati dan mengagumi sosok Darjat.
Bahkan orang tua kekasihnya yang sudah menghina habis-habisan kini mendatangi Darjat untuk melamar dia untuk putrinya yang katanya tidak mau menikah dengan pria manapun selain Darjat.
“Apakah anda yakin ingin melamar ku buat putri anda? Bukan kah waktu itu kau sudah menolak ku mentah-mentah, karena aku miskin, pekerjaan saja aku tidak punya bukan?” Darjat menatap tajam ke arah pria paruh baya yang pernah menghinanya itu sembari menaikan kakinya ke atas meja memperlihatkan keangkuhan nya terhadap pria tua tersebut.
Pria tua itu terus memohon dan meminta, sudilah Darjat menikahi putrinya yang katanya dulu sangat dicintai oleh Darjat. “Saya mau melakukan apa pun bersimpuh atau bersujud pun di kaki ku mau, asalkan kau mau menerima dan menikahi putri ku yang kini sakit dan memanggil-manggil nama mu.”
Pria tersebut menunduk dalam dan mengakui semua yang pernah dia lakukan terhadap Darjat, di masa lalu. Namun mengingat putrinya yang bagaikan mayat hidup dan terus menyebut nama Darjat, membuat dia terpaksa menurunkan gengsinya itu. Lagian kan Darjat sudah menjadi orang kaya. Beda dari waktu itu.
Meski mata yang penuh kemarahan dan tersimpan dendam yang teramat dalam. Tetapi karena Darjat memang cinta sama kekasihnya yang memiliki nama Sadiah tersebut membuat hati Darjat luluh dan menyetujui kalau dia akan menikahi kekasih nya itu.
Seketika wajah pria tua tersebut yang tadi pucat paseh berubah berwarna dan merasa bahagia karena Darjat mau menikahi putrinya tersebut.
“Terima kasih banyak Darjat? Terima kasih kau sudah menyetujui nya,” ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya kepada Darjat. Namun Darjat tidak menanggapi uluran tangan pria tersebut.
__ADS_1
Membuat pria tersebut menarik kembali tangannya.
Tetapi apa yang terjadi selanjutnya? kini Darjat lah yang meraih tangan si calon mertua nya tersebut. “Terima kasih kau sudah mau menikahkan ku dengan putri mu?”mereka pun berpelukan dengan erat.
Padahal tadi hati pria itu sudah menciut bagaikan siput menerima sikap dari Darjat yang tidak mengenakan hati.
Sang ibu dari Darjat yang sedari tadi berdiri dekat pintu runga lain sudah merasakan tidak enak hati dengan sikap putranya yang termasuk lancang kepada tamu yang tiada bukan adalah calon mertua nya itu. Kini merasa lega dan bisa tersenyum dengan tenang melihatnya.
Suatu malam yang begitu dingin dan samar-samar terdengar suara burung hantu bernyanyi dan suara lolongan anjing dari kejauhan mewarnai heningnya di malam itu.
Kini Tiara sudah berada di kamar yang di khusus kan Darjat untuknya, dibawah sinar lampu yang temaram, Tiara meringkuk dengan wujud yang aslinya yaitu ular yang terbilang besar berwana emas di tempat peraduan yang bertilam putih bersih.
Rekettttt ... pintu terbuka dan masuklah sosok pemuda yang berwajah tampan, dengan wajah yang sumringah menyambut kehadiran Tiara di kamar itu.
Seiringnya dengan pintu yang terbuka, si ular emas itu seketika berubah wujud menjadi seorang gadis cantik nan jelita. Tersenyum dan merentangkan kedua tangannya ke arah Darjat.
“Terima kasih Tiara siluman ular. Sudah datang ke tempat ku? karena aku tidak tahu harus menemui mu di mana? aku merindukan mua Tiara.” Ungkap Darjat sembari berjalan mendekati tempat tidur tersebut.
“Kan sudah ku bilang. Kalau kau merindukan ku atau memang membutuhkan sesuatu, sebutlah namaku tiga kali. Niscaya aku akan datang menemui dirimu wahai suami ku,” suara Tiara dengan lirih dan terdengar begitu sangat merdu ditelinga ya Darjat.
Darjat duduk di atas tempat tidur dengan ukuran king size tersebut duduk di samping gadis cantik yang sudah mulai menggoda iman dengan bahas tubuhnya yang sebentar lagi meruntuh kan kokohnya pertahanan seorang Darjat ....
__ADS_1
Jangan lupa subscribe nya ya? biar kalau ada episd baru langsung ada notif 🤭