Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Pengobatan


__ADS_3

Tibalah, Tiara dan Dahlan di sebuah ruangan yang tertutup dan sepi tanpa ada seorangpun manusia di sana.


Dahlan merasa heran, namun tidak berani bertanya sambil mengitari tempat tersebut, di sana terdapat tempat tidur yang. Di sampingnya meja kecil yang ada aroma terapi nya, sehingga wangi nya pun menusuk ke dalam rongga hidung.


Sofa panjang pun menghiasi di samping kanan. Kemudian Dahlan melihat ke arah Tiara yang tengah tersenyum padanya.


"Silakan duduk, Mas?" Tiara memapah dan mengambil tongkatnya dari tangan Dahlan.


"Ta-tapi, Mbak. Mana yang mau mengobati saya nya?" Dahlan penasaran dan heran karena di sini tidak seperti tempat pengobatan umumnya.


"Mas, saya yang mau mengobati mu." Tiara mendudukan Dahlan di tepi tempat tidur.


Dahlan semakin heran. Kalau Tiara bisa mengobati dirinya, kenapa harus di bawa ke tempat ini segala? kan bisa di gubuk juga!


"Kalau, Mbak bisa mengobati saya. Kenapa mesti ke tempat ini segala? kan bisa tidak harus ke sini!" Dahlan tetap mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tersebut.


"Di sana saya tidak leluasa, Mas. Dan kagok sama bapak mu, kalau di sini bapak mu juga bisa istirahat dengan baik tanpa ada yang mengganggu." Tiara membaringkan tubuh Dahlan dengan nyaman nya.


Dan Dahlan menurut saja ketika Tiara membuka pakaiannya satu persatu. Sehingga kini tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


Dahlan yang merasa malu, berusaha menutupi sesuatu yang sedang tidur, takutnya nanti dia mencuat bangun. Dia tutupi dengan ujung selimut yang ia tarik.


Namun tangan Tiara menariknya kembali agar tidak menghalangi sedikitpun dan dia melumuri seluruh tubuh Dahlan dengan minyak aroma terapi.


"Aduh, aku malu! kenapa harus begini juga sih? nanti kalau bangun gimana coba! berabe urusan nya, bagaimanapun. Aku ini normal." Gumamnya Dahlan dalam hati sambil memejamkan kedua matanya, menahan malu.


Apalagi di hadapannya itu seorang gadis cantik, di tambah lagi dengan penampilan yang seksi. Tentunya akan menggoda iman.


"Hem, hei hi hi ... lucu sekali dia. Menahan malu begitu!" Tiara menatap gemas pada burung Pipit yang berusaha Dahlan tutupi dengan tangannya itu.


"Jangan malu, Mas. santai aja, rileks. Anggap saja saya ini istri Mas. Biar Mas lebih santai dan nyaman," kata Tiara dengan lirih.

__ADS_1


Dahlan mengangguk sembari tetap memejamkan matanya. Lalu menghela nafas dalam-dalam, ia tarik ... hembuskan. Tarik kembali dan hembuskan.


Manik matanya Tiara yang indah menatapi Dahlan dengan intens serta tangan yang terus mengelus seluruh tubuh pria yang memejamkan mata tersebut.


Kemudian mengarahkan penglihatannya ke kaki Dahlan yang terdapat luka dan retak tulang itu.


Dan Rekk-rekk ...


Tiara memijat tulang kaki nya Dahlan yang retak tersebut, dan sang empu hanya meringis sedikit tanpa bersuara.


Bibir Tiara tersenyum melebar. Ketika si burung Pipit mulai meradang dan berdiri tegak, membuat pemiliknya menjadi kikuk dan serba salah.


Tiara hanya tersenyum sambil terus mengurut kaki Dahlan. Dia pun sudah merasa kepuasan dan timbulnya hasrat untuk memiliki pria yang kini siap bila dia serang.


Manik mata Tiara sudah mulai berkabut, nafas pun berubah dada naik turun. Tidak kuat dengan lambaian milik Dahlan seakan terus memanggil.


"Mas, coba kakinya di gerakkan?" pinta Tiara dengan suara yang bergetar.


Dahlan turun dengan tegak tanpa tongkat lalu mengayunkan langkahnya maju dan mundur, dengan bibir tersenyum betapa bahagia nya dia saat ini.


Tidak sadar kalau gerak maju mundurnya itu, ada seorang kapiten yang membawa pedang panjang.


Dahlan ingin menoleh pada Tiara dan mengucapkan terima kasih. Namun Tiara sudah lebih dulu menghampiri dan memeluknya dengan alangkah kagetnya Dahlan. Karena Tiara sudah tidak mengenakan apapun sehingga kulit bertemu kulit.


Dahlan yang mau berucap terima kasih, tidak mampu bersuara karena mulut Tiara membungkam mulutnya dengan ganas.


Tiara terus mencumbu pemuda yang belum merasakan bercinta itu. Membuat kebingungan harus gimana? selain mengikuti instruksi dari Tiara dan mengikuti yang Tiara lakukan.


Keduanya terhanyut dengan suasana yang mengasyikan. Dahlan yang belum pengalaman pun akhirnya tau dan merasakan gimana itu berhubungan yang intim antara pria dan wanita.


Suasana semakin memanas. Di antara keduanya yang sedang di landa hasrat yang membuncah.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka pun menyudahi ritual nya tersebut. Dahlan jatuh terkulai merasakan betapa lelahnya namun sangat memuaskan.


Setelah beberapa kali pelepasan yang membuat bahagia. Tiara meletakkan kepalanya di dada Dahlan dengan tangan yang terus menari-nari ke setiap tempat,


Dahlan memejamkan kedua matanya, dan pada akhirnya dia menyadari bila yang telah dia lakukan itu salah.


"Mbak, apa yang sudah kita lakukan? kita sudah salah melakukan hal yang barusan. Mbak gak sadar apa? kalau ini salah!" gumamnya Dahlan sambil menatap ke arah Tiara yang mengecup dada pemuda tersebut.


"Mas, jangan banyak berpikir yang tidak-tidak, karena saya hanya ingin Mas melayani saya, bukan memberikan sesuatu yang akan merugikan atau hal yang tidak mungkin." Tiara membelai wajah pemuda tersebut dengan lembut.


Setelah beberapa saat dan mereka sudah membersihkan diri. Lalu menjemput bapaknya Dahlan yang berada di ruangan lain.


Dahlan dengan jalan yang normal. Merasa sangat bahagia dan dia tidak ada henti-hentinua berterima kasih pada Tiara yang sudah menyembuhkan dirinya.


"Dahlan? kau sudah sembuh? bin ajaib kau Dahlan. Dalam sekali berobat kau sembuh! bis berjalan dengan normal kembali." Bapaknya Dahlan menatap heran auto bahagia yang tiada terkira.


"Iya, Pak. Aku sudah berjalan dengan normal kembali, berkat mbak Tiara, Pak. Aku bisa jalan normal tanpa ada rasa sakit dan aku sudah tidak perlu tongkat lagi." Dahlan memutar tubuhnya sambil berlari kecil dan menunjuk tongkat yang Tiara bawa.


"Iya, Lan. Bapak sangat bahagia melihat kau sembuh seperti itu, nanti kau bisa bekerja kembali dan lebih giat, agar kita mempunyai tempat tinggal yang lebih layak." Ungkap bapaknya.


Tiara mengulas senyum nya melihat mereka berdua berpelukan sebagai ungkapan rasa kebahagian antara mereka. Dan satu lagi kejutan yang akan Tiara berikan kepada Dahlan.


"Sungguh kau cukup sekali di bawa ke sini untuk berobat! kenapa gak dari dulu ya, Lan?" bapaknya memegang kedua bahunya dengan tatapan yang berbinar.


"Iya, Pak. Alhamdulillah, mungkin baru jodohnya sekarang, Pak!" Dahlan melirik pada Tiara.


"Siapa tabib nya, Lan? sungguh aneh bin ajaib dengan seketika kau sehat. Bapak tidak menyangka m, bener!" sambung bapaknya lagi.


"Em ... tabib?" Dahlan kebingungan. Karena bila di bilangin malu, dengan apa yang mereka lakukan barusan setelah melakukan pengobatan. Dahlan jadi malu sendiri ...


.

__ADS_1


Terima kasih pada yang sudah subscribe🙏 jangan lupa like komen dan lainnya.


__ADS_2