Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Halimun


__ADS_3

Di daerah Sukabumi, yang letaknya di kabupaten, ada hutan kecil yang di sebut warga Gedug Halimun yang menyimpan hal-hal mistis dan menyeramkan.


bagi warga sekitar.


Konon Pernah ada ibu tua ke sana untuk mencari kayu bakar, dan dia hilang di sana tanpa ada kabar berita. Setelah beberapa bulan kemudian ibu itu ditemukan lagi namun bukan dari tempat semula. Melainkan dari gunung gede yang berada di perbatasan antara Sukabumi dan Cianjur.


Katanya dari Gedug tersebut, terbentang sebuah jalan yang menyambungkan dengan gunung gede yang tentunya juga sangat kasat mata, tidak terlihat. Wallahu alam.


Konon, katanya juga. Dulu banyak batu akik berwarna merah delima yang ditemukan dari sana dan bisa berpindah-pindah tempat dari pemiliknya ke pemilik lain. Dan banyak juga pendatang untuk bertapa di sana entah untuk apa yang tidak bisa dimengerti.


Sebagai makhluk aneh. Tiara pun merasa penasaran terhadap tempat tersebut. Sehingga diapun mendatangi dan ingin tahu makhluk apa saja yang kata orang-orang merajai tempat tersebut.


Ada sebagian warga yang menemukan monyet putih padahal bukan tempatnya. Ada juga yang bilang ada ular besar yang berwarna hitam pekat dan bentuk ularnya pun pendek. Tak berbuntut, Menyeramkan pokoknya, makanya jarang ada yang berani masuk ke dalam kawasan tersebut.


Suasana siang sih biasa saja dan tidak ada yang aneh, Namun ketika datang malam. Memang terasa aneh, pantas bila warga tak berani masuk pun.


Tiara yang tidak ingin mengganggu dan ingin cukup tahu saja. Dia tidak banyak yang dilakukan di sana, karena semua makhluk yang sama Tuhan ciptakan untuk saling menghormati.


Begitu pun dengan Tiara dan makhluk lainnya. Asal jangan mengganggu saja, hidup berdampingan dan menciptakan kedamaian.


Di pinggiran perkampungan yang tidak jauh dari tempat tersebut, ada sebuah rumah tua dan pemiliknya adalah seorang lelaki tua pula, memiliki beberapa anak yang belum bisa bekerja, si ayah pun cuma pekerja mencangkul itupun bila ada kerjaannya dan bila ada yang membutuhkan, bila tidak ada? ya nganggur.


Kehidupan mereka sehari-hari tampak susah, Makan pun seadanya dan masih mending masih makan juga, terkadang harus ngutang dulu. Pakaian pun lusuh dan jauh dari baru, itupun banyak di kasih orang.


Tiara pun berjalan membawa kantong kresek yang berisi sembako dan pakaian. "Permisi ... sedang apa bapak, dan adek-adek?" sapa Tiara menatap mereka yang tampak bingung.


"Ooh ... Mangga, silakan duduk, maaf begini saja," si bapak kebingungan dengan kedatangan wanita yang tidak mereka kenal tersebut.

__ADS_1


"Makasih, Bapak, terima kasih banyak." Tiara mengulas senyumnya kepada mereka semua yang tampak kebingungan.


"Oya, bapak tidak bekerja hari ini dan kerja nya apa Bapak kalau boleh tahu?" selidik Tiara.


“Ah … mencangkul kalau ada yang nyuruh dan sekarang lagi nganggur,” jawab si bapak. Dan anaknya tampak merengek minta jajan, namun bapaknya tidak ada uang buat jajan mereka anaknya.


"Oh ... mencangkul da lahan orang ya Pak? berapa sehari Pak?" Selidik lagi Tiara penasaran.


"Buruhnya? lima puluh Neng. Itupun bila ada, kalau gak ada mah nganggur seperti sekarang ini." Sambung si bapak itu.


"Ini semua anaknya ya? ibunya kemana?" Tiara semakin penasaran sambil melihat pada anak-anak si bapak itu.


"Iya, Neng ... anak saya semuanya," menunjuk pada empat anaknya.


"Ibunya kemana?" ulang Tiara lagi sambil menatap mereka semua.


"Ibunya ... kami dah pisah dan sudah menikah lagi. Jadi kami berlima saja." Jawab si bapak.


Si bapak dan anaknya bengong ketika melihat isinya yang berisi makanan, sembako dan pakaian juga yang masih bagus-bagus malah si bapak itu sampai matanya berkaca-kaca.


"Ini semua buat Bapak?" menatap ke arah Tiara yang tersenyum ikut bahagia dengan kebahagiaan anak-anak yang langsung menyantap jajanan nya.


"Iya saya berikan buat bapak dan anak-anak, makan lah dan nikmatilah, dan ini buat bapak dan anak-anak semoga bermanfaat buat Bapak dan keluarga." Tiara memberikan sebuah amplop kepada si bapak


Lalu kemudian Tiara pun pergi meninggalkan mereka semua yang tampak bahagia dan juga bengong dengan rejeki yang mereka dapatkan hari ini.


...---...

__ADS_1


Jauh di salah satu tempat pemukiman kecil yang belum lama ini mengalami bencana alam, yaitu gempa. Ada sebuah keluarga yang rumahnya hancur diakibatkan bencana tersebut.


Namun mungkin karena jauh dari jangkauan. Mereka pun tak sampai kena bantuan dari pihak pemerintah, bila ada pun tidak seberapa dan lebih banyak bantuan dari para warga setempat yang tidak terkena dampak.


"Ya Allah ... bagaimana dan di mana kita akan tinggal? sementara rumah kami ini sebagian roboh dan bila ditinggali pun takut tiba-tiba runtuh kembali, gimana dong Pak?" keluhnya seorang ibu kepada suaminya.


"Iya, gimana dong, Bu ... lagian bukan kita aja yang kena bencana dan ini merata bukan cuman kita saja!" jawabnya sang suami dengan nada bicara yang pasrah.


"Sabar aja Pak, Bu ... mungkin esok atau lusa. Jangan terlalu berharap bantuan dari pemerintah, lagian saya bisa berusaha dan saya akan mencari kerja agar kita dapat membangun rumah kembali," timpal putranya yang bernama Wahab.


"Iya Bapak juga ngerti kamu pasti akan berusaha tapi kan tidak sekarang, sekarang ini masih genting, bila nanti kalau keadaan sudah agak normal ... barulah kau mencari kerjaan di kota, dan kami izinkan itu, ya kan Bu?"


"Itu benar. Semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang bagus, gaji yang besar! supaya kita mempunyai rumah kembali harap sama ibu. Namun butuh waktu, lalu kita gimana?" Sambung sang ibu.


"Sabar aja ya, Bu ... semoga kita jalan, Yang jalan. Kita tidak boleh tergantung dan berharap sama bantuan." Lanjut Wahab kembali.


Jadi untuk sementara waktu, mereka sekeluarga menumpang dulu di rumah tetangga yang Alhamdulillah ... rumahnya masih kokoh dan tidak kena dampak sama sekali.


Suatu saat Wahab iseng mau mancing ke kali, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dibarengi oleh sang adik, kan kalau dapat lumayan buat makan kalau banyak bisa dijual juga. Begitu pikirnya Wahab.


Dan setibanya di pinggir kali, dia dan adiknya berjongkok memasang kail dan berharap mendapatkan ikan yang banyak. Sebab kalau dapat banyak lumayan bisa dijual dan dimakan sebagian.


"Sedang apa mas di sini? rajin amat duduk di pinggir kali memasang kali? emang banyak ikannya apa?" selidik Tiara sambil berjongkok juga di samping pemuda tersebut.


Wahab alangkah terkejutnya, mendapati wanita secantik dia di tempat ini. Jangankan di tempat seperti ini, di perkampungan pun Wahab baru melihat gadis secantik dia ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Akankah Tiara membantu warga dari yang terkena bencana tersebut.


Makasih.


__ADS_2