
Setelah acara selesai, Satria mengajak Laila untuk pindah dari rumahnya. Ia sudah mempersiapkan rumah yang mewah untuk tinggal bersama Laila.
" ayah , ibu. Laila pamit " ucap Laila sambil mencium kedua tangan orang tua nya. hal itu pula diikuti dengan Satria.
" iya sayang, selamat ya. jaga baik baik nak Satria" ucap ibu Laila dan memandang menantunya.
Ayah Laila tak menjawab perkataan putrinya , baginya perusahaan lebih penting dari pada kebahagian putrinya.
" ayah.. ayah tak ingin mendoakan Laila?" tanya Laila yang sama sekali tak direspon oleh ayahnya.
Satria yang melihat ekspresi mertuanya itu merasa tak suka, bagaimana bisa ayah Laila begitu dingin pada anaknya.
" ayah mertua, saya pamit dulu" ucap Satria yang langsung dijawab oleh nya.
" iya nak Satria, jika Laila menyusahkanmu bilang saja pada kami ya nak" ucap ayah Laila sambil menepuk pundak Satria.
ayah..tega sekali kau Batin Laila menangis.
Satria melihat kearah Laila , gadis itu masih tertegun dengan jawaban ayahnya .
" kami pergi dulu" Pamit Satria sambil menarik tangan istrinya itu untuk melangkah ke mobil , dan dijawab anggukan serta senyuman dari kedua orang tua Laila.
Didalam mobil Laila lebih memilih berdiam diri, ia malas berada dalam satu mobil bersama Satria.
Tiba tiba Satria menyandarkan kepalanya dibahu Laila, sontak membuat Laila kaget dan menoleh.
" kenapa? aku sekarang suami mu. kami halal buatku ." ucap Satria santai.
" hei.. aku tau siapa kamu? tanpa kata halal pun kamu sudah tidur dengan puluhan wanita, ah bukan mungkin bisa ratusan . " ejek Laila geram.
" jaga ucapan mu Laila, aku ini suamimu. kau tak pantas meninggikan suara mu" Satria menegakkan tubuhnya menghadap Laila.
" oh ya, ? Apakah pantas kau kusebut Suami? kalau kau merasa pantas seharusnya kau tak melakukan ini terhadapku. hiks.. hiks.." Laila tak tahan menahan tangisnya, ia sudah tak sanggup lagi mengatur nafasnya dan sesegukan.
" kenapa kau begitu membenciku Laila?"
" karena kau menyukaiku karena hasrat nafsumu "amarah Laila berkobar
" iya, memang awal aku hanya berhasrat pada mu Laila, tapi sekarang itu berbeda Laila" Satria masih mencoba untuk menahan amarahnya.
" jika memang kau menyukaiku bukan karena hasrat nafsumu, jangan pernah sentuh aku. " tantang Laila, ia tak mau melakukan sesuatu yg berharga bersama orang yg tak ia cintai.
Satria hanya diam, ia tak bisa menjawab tantangan Laila.
" kenapa? oh.. apakah aku benar ?" " kau tak sanggup"
" aku sanggup, aku akan buktikan kepada mu"
Setelah mendapat jawaban Satria , Laila merasa lega. ia akan selalu waspada terhadap lelaki itu.
setelah perdebatan itu pun mereka memilih diam. hanya suara kendaraan yg berlalu lalang yg terdengar.
******
Satria dan Laila telah sampai dirumah baru mereka. Rumah mewah yang didesain dengan gaya modern dengan berhiaskan taman di aksesoriskan dengan perpaduan aneka bunga. ia sangat paham betul bahwa Laila sangat menyukai bunga.
Laila turun dari mobil , betapa terkejutnya ia melihat aneka bunga menyambutnya.
wah.. banyak sekali bunganya Batin Laila yg kagum akan keindahan taman itu.
Satria yang melihat raut senang diwajah Laila merasa tak sia sia usahanya selama ini.
" kamu suka" tanya Satria mengalihkan pandangan Laila terhadap taman itu.
__ADS_1
" hem..aku suka" jawab Laila datar sambil melenggang masuk kerumah.
" Laila, kamar kita di atas" tunjuk Satria ke salah satu kamar di lantai 2.
" Maksud kamu kita sekamar?" Ucap Laila dengan nada cemas.
" iya kita sekamar"
" tapi kamu kan janji tak akan menyentuhku?"
" iya " jawab Satria datar melangkah kan kakinya menuju tangga lantai 2.
Laila tertegun. Bagaimana dia bisa tidur nyenyak jika ia tidur sekamar dengan Satria. Membayangkannya saja sudah seram. apalagi menjalaninya.
" Laila" panggil Satria yang membuyarkan Lamunan Laila.
" ada apa"
"cepat naik, beresin barang barangnya" Satria menyuruh Laila segera membereskan barang barang yang ia bawa.
Waktu pun berlalu , tak terasa mereka berdua sudah lebih dari 3 jam membersihkan dan menata rumah itu.
Bruk.. Laila merebahkan badannya di sofa ruang keluarga. Ia tak berani kalau harus merebahkan badannya di kamar.
" cape ..?" Suara Satria mengejutkan Laila, sontak gadis itu bangun dari rebahannya. dan beringsut duduk di ujung sofa panjang itu.
Satria menghampiri Laila dan menyodorkan segelas jus yang tadi ia buat untuk mengisi tenggorokannya yang kering.
" ini , buat kamu?" Laila menatap gelas yang dihadapannya, Ia ragu untuk menerimanya.
dikasih obat tidur ngga ya pikir Laila.
" ini, aku ngga kasih apa apa ko di minuman ini" Satria kembali menyodorkan jus tersebut.
Segarnya pekik Laila dalam hati.
Jus itu pun habis, ternyata memang gadis itu sangat kehausan . Satria masih memandang Laila. Laila merasa Satria terus memandanginya pun berdiri hendak meninggalkan Satria. Rasa risih dibenaknya muncul seketika.
" Laila, kamu mau kemana?"
" Aku mau mandi"
" oh .. ok".
Laila bergegas mandi , ia mengkunci pintu kamarnya. Ia takut tiba tiba Satria masuk ke kamarnya.
" huft.. Lega , bagaimana aku bisa bertahan coba?" ucap Laila pada dirinya sendiri.
******
Satria merebahkan badannya di sofa , ia menunggu gadis itu selesai mandi , ia tak menyangka sudah menikah pun ia harus berjuang mendapatkan hati Laila.
" Laila ..laila , kau sungguh sukar ku dapatkan. jangankan menyentuh mu , memandangmu saja kau seperti keberatan" Keluh Satria pada dirinya sendiri.
Satria merogoh saku kanannya dan mengeluarkan benda kecil dari sakunya.
" hallo , ketemuan yuk ay. aku butuh temen " ucap Satria pada seseorang yang dipanggil aya .
" dimana?"
" dicafe x ya, nanti setengah jam lagi aku kesana . kamu tunggu disana , oke"
" ok"
__ADS_1
pembicaraan Satria pun terputus, ia tak sanggup jika harus lama lama berdua dengan Laila, ia ingin mencari kesibukan agar menghindari Laila dan bisa memegang janjinya.
******
Laila keluar dari kamarnya, ia melihat Satria masih ada di sofa , dan menghampirinya.
" Mas aku udah selesai" ucap Laila
" oh .. ok, oh ya Laila kamu berani ngga sendiri di rumah? aku mau keluar "
" berani "
" ok, aku akan pulang larut , kamu ngga usah nungguin aku. nanti pintunya kunci aja , aku bawa cadangannya ko"
siapa yang mau nungguin kamu batin Laila.
" hem"
jawaban yang singkat dan padat dari gadis itu.
nyebelin banget si bocah ini, awas aja nanti , bakal jatuh cinta kamu batin Satria.
Satria pergi menuju cafe x, disana ia mencari gadis yang tadi diajak nya untuk bertemu. Ternyata gadis itu sudah datang menunggu nya. Gadis cantik , bermata bulat, bibir kecil dan tipis, muka bulat dan putih tinggi badan yang hampir menyeimbangi Satria itulah Tania.
" aya.. , udah lama" sapa Satria
"belum , baru sampai ko" ucapnya
" gimana kabar kamu?, setelah terakhir aku mengantar kamu , aku jadi teringat terus sama kamu" Satria melancarkan aksinya.
" Sat, kamu ngga sadar sadar ya." ucap Tania kesal.
" sadar gimana?" Satria merasa bingung
" dengan datangnya kamu dihidup aku lagi, aku udah bahagia. aku kira pertemuan itu awal dari kembalinya hubungan kita, tapi.."
Tania enggan melanjutkan perkataannya.
" Tapi..? bukankan kita masih seperti yang dulu" Ucap Satria santai .
" kamu gila ya Sat, kamu udah punya istri. gimana perasaan dia , pas tau suaminya menghubungi mantannya." Nada bicara Tania mulai naik.
" kamu tau dari mana aku menikah?"
" hei.. jangan anggap aku bodoh, kalian orang terhormat . Pernikahan kalian pasti sudah go publik Sat"
" tapi dia tidak mau aku sentuh ay" Nada suara Satria putus asa.
" maksud kamu?"
" jadi dia ngga mau melakukan itu dengan aku"
" terus kalau dia ngga mau? kamu bakal lampiasin ke aku? gitu? " Tania menghela nafas dan melanjutkan perkataannya.
" Aku memang sempat berfikir ingin mencari gadis itu, tapi setelah aku tau kalian menikah aku urungkan semuanya. aku rela kamu sama dia , dan aku ngga mau kamu balik seperti dulu lagi" Ucap Tania penuh dengan penekanan.
" tapi , gimana bisa aku memenuhi hasratku ay, aku ju.." belum Satria selesai mengucapkan kalimatnya tamparan dari Tania sudah melayang ke pipinya. Satria memegangi pipinya yang terasa seperti terbakar.
" Sudah sadar kamu sekarang? cinta itu bukan hanya hasrat Sat , kalo kamu bener bener mencintai dia , kamu akan sabar menunggunya, seperti kamu menunggu dia yang hilang 1 tahun lalu" Tania mengingatkan kenangan 1 tahun silam.
Satria terdiam , ia fikir jika tak menyentuh Laila, maka ia bisa lampiaskan hasratnya kepada wanita lain. Tapi Tania telah membuka mata hatinya, Bahwa benar kata Laila , Satria menikah dengannya bukan karena cinta tapi hasrat belaka.
Tania berdiri dan bergegas meninggalkan Satria yang masih terdiam.
__ADS_1
" Sat , aku pergi dulu. kalau kamu mau cari pelampiasan jangan cari aku, aku bukan orang seperti itu. jangan anggap aku pernah tidur denganmu , lalu aku seperti *******. aku melakukan kesalahan karena aku fikir kita sama sama mencintai. Tapi aku salah, itu bukan cinta, melainkan nafsu" setelah itu Tania benar benar meninggalkan Satria.