TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 31


__ADS_3

Pagi itu Titin ke kampus. Ia mencari Marcel. Ia ingin menanyakan kebenaran ceritanya,


namun Marcel tidak ada di kampus. Titin bertanya ke


teman-teman yang dekat dengan cowok itu. Tidak ada yang tahu keberadaan Marcel.


Sudah beberapa hari ini Marcel tidak masuk kampus, kata salah seorang temannya. Titin lunglai. Ia berjalan tertatih


di koridor lalu duduk di bangku taman. Seorang cowok


berkulit hitam menegurnya.  Cowok itu teman Marcel.


“Tin...” Sapanya berat. Titin menoleh ke cowok yang bernama Jack.


“Maaf


kalau aku sudah membuat kesalahan yang fatal.” Kata cowok itu.


“Jack…” Gumam Titin pelan. Jack duduk di depan Titin. Raut wajahnya


tampak kaku dan bersalah.


“Marcel membohongimu, Tin. Dia tidak


benar-benar mencintaimu. Marcel sudah meninggal dunia.” Ujar Jack kemudian.


Titin


seperti dihujami pisau menusuk jantungnya. “Apa


maksudmu?”tanyanya


penasaran.


“Marcel pernah cerita ke aku kalau


dia hanya ingin balas dendam ke kamu sejak kamu berpacaran dengan Aditya. Dia


juga ingin membalas dendam untuk kakaknya.”


“Balas dendam?” Titin semakin


bingung.Dahinya membuat


lipatan-lipatan yang tegas.


“Yah…” Jack menunduk. “Kamu pasti


kenal dengan Frans…” Ucapnya.


“Ya. Dia mantan kekasihku. Apa sangkut


pautnya?” tanya Titin heran.


“Frans adalah kakak Marcel. Ia menuduhmu


telah membunuh Frans. Itu sebabnya ia ingin membalaskan dendamnya ke kamu.”


“Membunuh


Frans?” Wajah Titin berubah tegang. “Itu tidak mungkin, Jack. Aku tidak


mungkin melakukan hal itu. Kematian Frans murni kecelakaan.”


“Aku tahu. Tapi itu anggapan mereka.


Mereka menuduhmu melakukan tindakkan yang konyol. Mereka tidak suka denganmu.”


Titin menunduk. Ia mengingat kembali


masa lalunya bersama Frans. Betapa ia sangat mencintai cowok itu. Hingga kini


bayangan Frans selalu berada di hatinya.


Titin lunglai dengan hati perih.


Persendiannya terasa ngilu. Kini air matanya benar-benar jatuh dan membasahi


pipi. Hatinya remuk redam untuk kesekian kali. Ucapan-ucapan Marcel beberapa waktu lalu ternyata hanya


ucapan semu.


Toni yang memperhatikan Titin dari


jauh menatap iba. Cowok itu menghampiri Titin, ketika Jack meninggalkannya.


“Sudahlah… Kamu tidak perlu meratapi


kepergian Marcel.” Ucapnya. Titin mendongak menatap Toni. Melihat mata Titin


yang berkaca-kaca, Toni tak tega. Ia merengkuh Titin dalam pelukan. Kepala


Titin rebah di dekapan Toni sambil menangis sesenggukan. Titin merasa bersalah


selama ini menghujat Toni yang bukan-bukan. Kini ia sadar kalau Toni cowok baik


yang mau perduli dengan kehidupannya. Tidak seperti Dewa kakak kandungnya.


“Aku mencintainya.”


“Sudahlah...


Tak perlu kamu mengharapkan laki-laki itu. Biarkan dia


tenang di alamnya.”


Titin


terisak. “Maafkan aku, Kak…” Bisiknya dalam hati. Titin masih


sesenggukan dalam dekapan Toni. Ia membiarkan Titin menumpahkan air matanya.


Membiarkan Marcel tenang di alamnya.


“Maafkan

__ADS_1


aku, Kak…” Ucap Titin parau. Baru kali ini Titin memanggilnya kakak. Toni


terhenyu dengan kata-kata itu.


“Kamu adalah adik kecilku. Manja, lucu


dan aku ingin melindungimu.” Kata Toni.


Mata Titin kembali merebak, lalu


tersenyum bahagia. Ada kehangatan dalam diri Toni. Ia sudah berjanji kepada


Hartati, akan selalu melindungi Titin. Mengarahkan Titin ke jalan yang benar.


“Syukurlah kamu sudah mengakui


kesalahanmu.” Kata Toni dengan suara pelan.  “Ada cowok yang tulus mencintaimu, Tin…” Ucap


Toni. Titin terperanjat. Ia merenggangkan pelukan Toni, lalu menghapus air matanya.


“Siapa?” Tanyanya penasaran.


Toni tersenyum tipis seraya memanggil


cowok yang bersembunyi di balik dinding kampus. Cowok itu muncul dengan


perlahan.


“Bimo..?” Alis Titin berkerut.


“Tiinn…” Selahnya


pelan.


“Kamu?”


Bimo tertunduk. “Sejak aku


melihat foto-fotomu dan melihat ketegaranmu menghadapi semua masalah, aku


benar-benar kagum padamu. Kamu bukan cewek tomboy seperti tuduhanku. Kamu


begitu karena ada penyebabnya. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Aku


jatuh cinta padamu, Tin…”


Titin tidak percaya mendengar


penuturan Bimo barusan. Apakah


itu hanya kepura-puraan Bimo untuk menghibur atau hanya isapan jempol.


“Kamu serius? Kamu tidak


membohongiku?”


“Iya, Tin… Aku serius.”


Titin berpikir sejenak. Tidak mungkin


dengan pandangannya. Toni mengangguk pelan pertanda setuju.


“Akan ku pertimbangkan. Aku tidak mau


menerima cintamu secepat itu.” Ucapnya. Bimo tertunduk. Ia harus menunggu


jawaban dari Titin.


“Kapan aku menerima jawaban darimu,


Tin?” tanya Bimo.


“Ketika kelopak mawar di kamarku


gugur semua.”


“Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan


menunggu jawabanmu.”



Gibran memperhatikan mahasiswa di kampus. Ia terbelalak ketika melihat


seorang cowok di sana. cowok dengan tato di lengan kirinya. Cowok itu adalah


Jack. Gibran mengikuti Jack yang berjalan di sekitar kampus. Di pertengahan


koridor tiba-tiba seseorang memanggilnya.


“Gibran! Tunggu!”Teriak Titin dari jauh.


Gibran berhenti sejenak, lalu ia berjalan lagi mengikuti Jack yang


berjalan bersama temannya.Titin mengejarnya dengan nafas


tersengal. Kemudian ia menarik lengan Gibran ketika dekat dengan cowok itu.


“Gibran, tunggu!” Kata


Titin dengan suara menghempas.


Gibran pun menghentikan


langkahnya dan menatap gadis di depannya. Lama ia mengamati wajah Titin sebelum


Titin mengajukan pertanyaanya. Ia masih mengatur pernafasannya.


“Kamu kenapa ada di


sini? Kamu mau apa?” tanya Titin kemudian.


“Bukan urusanmu.” Jawabnya


singkat.

__ADS_1


“Gibran... Mama kamu


pasti khawatir kalau kamu pergi-pergi begini. Apalagi ingatan kamu belum pulih.”


“Aku sudah mengingat


semua.”


“Mengingat tentang apa?”


tanya Titin penasaran.


“Mereka yang membuat


aku begini dan aku kehilangan gadis yang sangat aku cintai.” Tutur Gibran.


Titin menarik nafasnya sejenak.


“Serahkan saja kepada


pihak yang berwajib, Gibran.”


“Sampai kapan? Mereka


bebas berkeliaran selama dua tahun? Dan polisi hanya diam saja? Aku harus


membalaskan dendamku!” Gibran beranjak dan mencari sosok Jack di kerumunan


mahasiswa lain. Titin mengejarnya lagi.


“Apa yang akan kamu


lakukan?” tanya Titin mengikuti langkah Gibran.


“Aku akan membuat dia


seperti dia membuat aku begini.”


“Siapa yang kamu incar?”


tanya Titin lagi. Gibran celingukan mencari sosok Jack.


“Orang itu.” Katanya


dengan nada penuh dendam. Titin mengikuti arah mata Gibran dan ia melihat sosok


Jack bersama temannya.


“Jack?” Gumamnya. “Tunggu-tunggu.


Maksud kamu cowok bertato itu?”


Gibran mengangguk


dengan pandangan matanya yang tajam mengamati gerak-gerik Jack. Titin pun kaget


dibuatnya. Ia kenal dengan Jack dan hampir tak percaya dulu Jack pernah


melakukan pembunuhan terhadap kekasih Gibran.


“Gibran, sebaiknya kamu


laporkan saja ke polisi. Jangan bertindak sendiri. Itu bahaya.” Kata Titin.


“Tidak! Aku harus


menuntaskannya!” Gibran kembali berjalan dan mencari sosok Jack yang hilang


dari pandangannya. Ia mencari-cari Jack di kerumunan, namun Jack sudah keluar


dari areal kampus. Gibran menghempas kesal dan keluar dari kampus. Sementara


Titin masuk ke ruangannya dengan pikiran kacau. Ia harus mencegah Gibran


sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.



“Saya khawatir dengan


Gibran, Tante. Dia ke kampus tadi pagi dan mencari seseorang.” Ujar Titin sore


itu. Maryati terlihat panik mendengar penuturan Titin dan menghela nafas


beberapa kali.


“Siapa yang dicarinya?”


tanya Maryati.


“Jack, teman saya.


Katanya Gibran mau balas dendam dan menghabisi teman saya. Saya khawatir,


Tante.”


“Saya juga jadi


khawatir, Tin. Bagimana ini?” Maryati terlihat cemas.


“Saya juga tidak tahu


harus berbuat apa, tante. Apakah masalah ini sebaiknya kita laporkan saja ke


polisi?”


“Jangan. Jangan, Tin.


Saya tidak mau Gibran dipenjara. Dia anak tante satu-satunya.” Ujar Maryati


panik.


“Tante tenang aja.


Gibran akan baik-baik saja kok.” Ucap Titin menenangkan pikiran Maryati.

__ADS_1


Maryati terlihat gelisah.


__ADS_2