
Pagi itu Titin ke kampus. Ia mencari Marcel. Ia ingin menanyakan kebenaran ceritanya,
namun Marcel tidak ada di kampus. Titin bertanya ke
teman-teman yang dekat dengan cowok itu. Tidak ada yang tahu keberadaan Marcel.
Sudah beberapa hari ini Marcel tidak masuk kampus, kata salah seorang temannya. Titin lunglai. Ia berjalan tertatih
di koridor lalu duduk di bangku taman. Seorang cowok
berkulit hitam menegurnya. Cowok itu teman Marcel.
“Tin...” Sapanya berat. Titin menoleh ke cowok yang bernama Jack.
“Maaf
kalau aku sudah membuat kesalahan yang fatal.” Kata cowok itu.
“Jack…” Gumam Titin pelan. Jack duduk di depan Titin. Raut wajahnya
tampak kaku dan bersalah.
“Marcel membohongimu, Tin. Dia tidak
benar-benar mencintaimu. Marcel sudah meninggal dunia.” Ujar Jack kemudian.
Titin
seperti dihujami pisau menusuk jantungnya. “Apa
maksudmu?”tanyanya
penasaran.
“Marcel pernah cerita ke aku kalau
dia hanya ingin balas dendam ke kamu sejak kamu berpacaran dengan Aditya. Dia
juga ingin membalas dendam untuk kakaknya.”
“Balas dendam?” Titin semakin
bingung.Dahinya membuat
lipatan-lipatan yang tegas.
“Yah…” Jack menunduk. “Kamu pasti
kenal dengan Frans…” Ucapnya.
“Ya. Dia mantan kekasihku. Apa sangkut
pautnya?” tanya Titin heran.
“Frans adalah kakak Marcel. Ia menuduhmu
telah membunuh Frans. Itu sebabnya ia ingin membalaskan dendamnya ke kamu.”
“Membunuh
Frans?” Wajah Titin berubah tegang. “Itu tidak mungkin, Jack. Aku tidak
mungkin melakukan hal itu. Kematian Frans murni kecelakaan.”
“Aku tahu. Tapi itu anggapan mereka.
Mereka menuduhmu melakukan tindakkan yang konyol. Mereka tidak suka denganmu.”
Titin menunduk. Ia mengingat kembali
masa lalunya bersama Frans. Betapa ia sangat mencintai cowok itu. Hingga kini
bayangan Frans selalu berada di hatinya.
Titin lunglai dengan hati perih.
Persendiannya terasa ngilu. Kini air matanya benar-benar jatuh dan membasahi
pipi. Hatinya remuk redam untuk kesekian kali. Ucapan-ucapan Marcel beberapa waktu lalu ternyata hanya
ucapan semu.
Toni yang memperhatikan Titin dari
jauh menatap iba. Cowok itu menghampiri Titin, ketika Jack meninggalkannya.
“Sudahlah… Kamu tidak perlu meratapi
kepergian Marcel.” Ucapnya. Titin mendongak menatap Toni. Melihat mata Titin
yang berkaca-kaca, Toni tak tega. Ia merengkuh Titin dalam pelukan. Kepala
Titin rebah di dekapan Toni sambil menangis sesenggukan. Titin merasa bersalah
selama ini menghujat Toni yang bukan-bukan. Kini ia sadar kalau Toni cowok baik
yang mau perduli dengan kehidupannya. Tidak seperti Dewa kakak kandungnya.
“Aku mencintainya.”
“Sudahlah...
Tak perlu kamu mengharapkan laki-laki itu. Biarkan dia
tenang di alamnya.”
Titin
terisak. “Maafkan aku, Kak…” Bisiknya dalam hati. Titin masih
sesenggukan dalam dekapan Toni. Ia membiarkan Titin menumpahkan air matanya.
Membiarkan Marcel tenang di alamnya.
“Maafkan
__ADS_1
aku, Kak…” Ucap Titin parau. Baru kali ini Titin memanggilnya kakak. Toni
terhenyu dengan kata-kata itu.
“Kamu adalah adik kecilku. Manja, lucu
dan aku ingin melindungimu.” Kata Toni.
Mata Titin kembali merebak, lalu
tersenyum bahagia. Ada kehangatan dalam diri Toni. Ia sudah berjanji kepada
Hartati, akan selalu melindungi Titin. Mengarahkan Titin ke jalan yang benar.
“Syukurlah kamu sudah mengakui
kesalahanmu.” Kata Toni dengan suara pelan. “Ada cowok yang tulus mencintaimu, Tin…” Ucap
Toni. Titin terperanjat. Ia merenggangkan pelukan Toni, lalu menghapus air matanya.
“Siapa?” Tanyanya penasaran.
Toni tersenyum tipis seraya memanggil
cowok yang bersembunyi di balik dinding kampus. Cowok itu muncul dengan
perlahan.
“Bimo..?” Alis Titin berkerut.
“Tiinn…” Selahnya
pelan.
“Kamu?”
Bimo tertunduk. “Sejak aku
melihat foto-fotomu dan melihat ketegaranmu menghadapi semua masalah, aku
benar-benar kagum padamu. Kamu bukan cewek tomboy seperti tuduhanku. Kamu
begitu karena ada penyebabnya. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Aku
jatuh cinta padamu, Tin…”
Titin tidak percaya mendengar
penuturan Bimo barusan. Apakah
itu hanya kepura-puraan Bimo untuk menghibur atau hanya isapan jempol.
“Kamu serius? Kamu tidak
membohongiku?”
“Iya, Tin… Aku serius.”
Titin berpikir sejenak. Tidak mungkin
dengan pandangannya. Toni mengangguk pelan pertanda setuju.
“Akan ku pertimbangkan. Aku tidak mau
menerima cintamu secepat itu.” Ucapnya. Bimo tertunduk. Ia harus menunggu
jawaban dari Titin.
“Kapan aku menerima jawaban darimu,
Tin?” tanya Bimo.
“Ketika kelopak mawar di kamarku
gugur semua.”
“Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan
menunggu jawabanmu.”
Gibran memperhatikan mahasiswa di kampus. Ia terbelalak ketika melihat
seorang cowok di sana. cowok dengan tato di lengan kirinya. Cowok itu adalah
Jack. Gibran mengikuti Jack yang berjalan di sekitar kampus. Di pertengahan
koridor tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Gibran! Tunggu!”Teriak Titin dari jauh.
Gibran berhenti sejenak, lalu ia berjalan lagi mengikuti Jack yang
berjalan bersama temannya.Titin mengejarnya dengan nafas
tersengal. Kemudian ia menarik lengan Gibran ketika dekat dengan cowok itu.
“Gibran, tunggu!” Kata
Titin dengan suara menghempas.
Gibran pun menghentikan
langkahnya dan menatap gadis di depannya. Lama ia mengamati wajah Titin sebelum
Titin mengajukan pertanyaanya. Ia masih mengatur pernafasannya.
“Kamu kenapa ada di
sini? Kamu mau apa?” tanya Titin kemudian.
“Bukan urusanmu.” Jawabnya
singkat.
__ADS_1
“Gibran... Mama kamu
pasti khawatir kalau kamu pergi-pergi begini. Apalagi ingatan kamu belum pulih.”
“Aku sudah mengingat
semua.”
“Mengingat tentang apa?”
tanya Titin penasaran.
“Mereka yang membuat
aku begini dan aku kehilangan gadis yang sangat aku cintai.” Tutur Gibran.
Titin menarik nafasnya sejenak.
“Serahkan saja kepada
pihak yang berwajib, Gibran.”
“Sampai kapan? Mereka
bebas berkeliaran selama dua tahun? Dan polisi hanya diam saja? Aku harus
membalaskan dendamku!” Gibran beranjak dan mencari sosok Jack di kerumunan
mahasiswa lain. Titin mengejarnya lagi.
“Apa yang akan kamu
lakukan?” tanya Titin mengikuti langkah Gibran.
“Aku akan membuat dia
seperti dia membuat aku begini.”
“Siapa yang kamu incar?”
tanya Titin lagi. Gibran celingukan mencari sosok Jack.
“Orang itu.” Katanya
dengan nada penuh dendam. Titin mengikuti arah mata Gibran dan ia melihat sosok
Jack bersama temannya.
“Jack?” Gumamnya. “Tunggu-tunggu.
Maksud kamu cowok bertato itu?”
Gibran mengangguk
dengan pandangan matanya yang tajam mengamati gerak-gerik Jack. Titin pun kaget
dibuatnya. Ia kenal dengan Jack dan hampir tak percaya dulu Jack pernah
melakukan pembunuhan terhadap kekasih Gibran.
“Gibran, sebaiknya kamu
laporkan saja ke polisi. Jangan bertindak sendiri. Itu bahaya.” Kata Titin.
“Tidak! Aku harus
menuntaskannya!” Gibran kembali berjalan dan mencari sosok Jack yang hilang
dari pandangannya. Ia mencari-cari Jack di kerumunan, namun Jack sudah keluar
dari areal kampus. Gibran menghempas kesal dan keluar dari kampus. Sementara
Titin masuk ke ruangannya dengan pikiran kacau. Ia harus mencegah Gibran
sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Saya khawatir dengan
Gibran, Tante. Dia ke kampus tadi pagi dan mencari seseorang.” Ujar Titin sore
itu. Maryati terlihat panik mendengar penuturan Titin dan menghela nafas
beberapa kali.
“Siapa yang dicarinya?”
tanya Maryati.
“Jack, teman saya.
Katanya Gibran mau balas dendam dan menghabisi teman saya. Saya khawatir,
Tante.”
“Saya juga jadi
khawatir, Tin. Bagimana ini?” Maryati terlihat cemas.
“Saya juga tidak tahu
harus berbuat apa, tante. Apakah masalah ini sebaiknya kita laporkan saja ke
polisi?”
“Jangan. Jangan, Tin.
Saya tidak mau Gibran dipenjara. Dia anak tante satu-satunya.” Ujar Maryati
panik.
“Tante tenang aja.
Gibran akan baik-baik saja kok.” Ucap Titin menenangkan pikiran Maryati.
__ADS_1
Maryati terlihat gelisah.