TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 26


__ADS_3

Suasana kampus seperti biasa. Panas menyengat, hingga sebagian mahasiswa berkipas-kipas dan berteduh di bawah pepohonan rindang. Sepasang sorot mata tajam mengamati beberapa


mahasiswa. Gibran duduk di sebuah cafet dekat kampus. Ia mencari seseorang yang


bergabung dengan genk motor malam itu.


“Gibran?” Sapa Titin heran, mengapa cowok itu berada di sana sendirian. Titin


menghampiri cowok itu dan duduk di depannya. “Kamu ngapain di sini?” Tanyanya


ingin tahu. Titin mengamati wajah Gibran yang sangat tampan. Kumis dan cambang


dicukur habis hingga meninggalkan warna kebiruan.


“Duduk. Aku mau duduk aja.” Jawabnya singkat.


“Kamu bisa tersesat, Gibran. Di sini tidak aman.” Kata Titin lagi.


“Biarkan aku disini!” Kata Gibran ketus. Titin mengamati wajah Gibran


dan mencari tau apa maksud dan tujuannya ke kampus ini.


“Aku akan mengantarmu pulang.”


“Aku tidak mau pulang!”


“Gibran… Mamamu pasti khawatir melihat kamu tidak ada di rumah.”


“Kamu tau apa dengan diriku? Aku mau mencari seseorang yang membuatku


begini.”


Titin terdiam dan mengamati wajah Gibran. Sepertinya cowok itu sangat


menyuimpan dendam. Ingatannya sudah mulai membaik sepertinya. Dia ingat semua


apa yang terjadi malam itu. Malam dimana dia kehilangan kekasihnya. Walau sudah


sangat lama.


“Kejadian itu sudah lama sekali, Gibran.”


“Tapi aku ingat semuanya. Orang-orang yang memukulku dan membunuh


Raisa.” Kata Gibran dengan pandangan sinis dan dendam yang membara. Cerita itu,


cerita yang ditulis Gibran dalam buku hariannya. Kisah yang tragis dan


memilukan. “Sebagian mereka ada di kampus ini.” Kata Gibran.


Titin terdiam dan kembali mengamati wajah Gibran yang penuh dendam. Ia


ingat kalau teman-temannya banyak yang genk motor. Mereka sangat beringas dan


nekat membunuh korbannya.


“Temanku kemarin tewas di pinggir jalan. Aku tidak tahu apa ada genk


motor yang membunuhnya. Aku takut kamu jadi korban berikutnya, Gibran. Sekarang


kembalilah ke rumah.”


Pandangan Gibran masih jelalatan melihat mahasiswa yang masuk ke kampus.


“Itu dia!” Ucapnya seraya bangkit dari tempat duduk. Titin melihat


seorang cowok yang dilihat Gibran. Marcel, ketua genk motor yang suka


mengadakan balap liar.


“Marcel?” Gumam Titin pelan.


“Kamu mengenalnya?” Tanya Gibran.


Titin mendengut ludahnya, namun Gibran sudah beranjak mengejar Marcel.


“Gibran tunggu!” Teriak titin memanggil Gibran. Gibran tidak mengguris


dan mencari sosok Marcel yang sudah berbaur dengan mahasiswa lain. Cowo itu


sudah masuk ke koridor lain, dan Gibran kehilangan jejaknya.


“Arrrghh…” Gibran memekik kesal sambil menghempas. Titin yang


mengejarnya terlihat ngos-ngosan. Kemudian Gibran pergi ke parkiran dan


menyalakan motornya. Suara menderum terdengar seperti halilintar di siang itu.


Titin hanya memperhatikan motor Gibran yang menjauh.



Titin duduk terpaku di


kursi beton dekat taman.Sudah tiga hari ia tidak menemukan Bellinda. Titin khawatir terjadi apa-apa


dengan sahabatnya.


Titin melirik ketika


mendengar suara decak telapak kaki menghampirinya. Cowok dengan jaket kulit


hitam berdiri tegak. Titin menoleh, menatap cowok itu.


“Kamu mau apa lagi


kemari?” Tanya Titin tidak bersahabat.


“Sebaiknya kamu


membatalkan niatmu untuk mengikuti balapan itu.”


“Dari mana kamu tahu aku ikut balapan?”


“Aku melihat daftar


peserta yang ada di tangan Marcel.


Kamu pikir Marcel itu


cowok baik-baik?”


“Apa urusanmu?! Kamu


tidak berhak menuding Marcel seperti


itu!”


“Marcel hanya memanfaatkanmu


saja, Tin...”


“Cukuup!!! Aku tidak


mau dengar lagi ocehanmu! Mau kamu apa sih? Kamu gak cukup membuat masalah di


keluargaku?”


“Okey... itu memang


hakmu. Aku tidak perlu ikut campur. Asal kamu tahu, aku tidak membuat masalah


di keluargamu. Tapi papamu!”


“Hehk...” Titin mencibir.

__ADS_1


“Papaku orang terpandang. Dia lebih terhormat dari pada papamu yang gak jelas


statusnya!”


“Dan kamu tahu papamu


punya selingkuhan?”


Emosi Titin


meledak-ledak. “Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Kamu mengada-ada. Kamu mau


memfitnah keluargaku!”


Toni tertawa sinis.


“Aku tidak menyangka, papamu yang mengumbar idealis ternyata seorang pecundang.


Pembohong kelas kakap!”


“Cukuuup!!!” Sergah Titin emosi. “Eh, dengar ya,


kamu itu gak usah ikut campur dengan kehidupanku. Urus saja dirimu sendiri!”


“Tin… tolong dengerin


aku. Ini demi mama.” Tegas Toni.


“Hehk... mama???” Titin


mencibir. Ia melangkahkan kakinya menjauhi kursi beton. Toni mengikutinya dari


belakang.


“Aku mohon sama kamu.


Tinggalkan balapan itu.”


“Tidak! Aku tidak akan pernah


meninggalkan balapan itu!”


“Kamu memang keras


kepala. Aku heran mengapa mama bisa melahirkan anak sepertimu?”


“Hei..! Jaga bicaramu.


Jangan sangkut paut kan


mamaku dengan balapan ini. Aku juga gak mau mengakuimu sebagai kakakku!”


“Aku tidak memaksamu.


Kamu boleh menganggapku apa aja. Yang penting kamu membatalkan balapan itu!”


“Itu tidak merubah keputusanku.”


Titin menuju parkiran.


Ia memakai helm teropongnya lalu menyalakan starter. Motor Titin melaju


meninggalkan lokasi kampus. Toni hanya menatapi kepergian Titin. Ughh… dia melenguh


kesal.



Hartati duduk di kursi


tamu. Kamar Toni sedikit berantakan. Tangan Hartati meraih selimut yang


berserak di lantai. Ia beranjak merapikan baju-baju Toni yang berserakan.


Ton…?”


“Biasalah, Ma… anak


lajang. Toni gak ada pembantu.”


Hartati melipat


baju-baju Toni. “Bagaimana pembicaraanmu dengan Titin?”Tanya Hartati.


Toni memakai bajunya.


“Titin memang keras kepala, Ma. Titin gak mau mendengar kata-kata Toni.”


Hartati terdiam sesaat, lalu berujar dengan suara berat. “Sudahlah,


Ton. Biar mama saja yang menasehatinya.”


“Tapi Titin ikut


balapan liar, Ma. Itu bahaya.”


“Balapan liar?”Hartati terkejut.


“Iya, Ma. Toni khawatir.


Titin melawan geng motor.”


“Ya ampun, Tiinn...”


Hartati mengurut dadanya. “Bagaimana ini, Ton? Mama khawatir.”


“Sudahlah, Ma. Serah kan saja sama Toni. Mama gak usah


panik.”Kata Toni agar


Hartati tenang. Memang sebagai orang tua kepanikan saat anaknya melakukan


hal-hal tidak diinginkan. Membahayakan diri sendiri membuat orang tua sakit


jantung.


“Tapi mama tidak ingin


terjadi apa-apa sama Titin. Tolong


kamu cegah Titin, Ton.”


“Toni akan terus


meluluhkan hati Titin, Ma.”


“Bagaimana caranya?


Titin itu keras kepala. Susah diatur.”


“Mama tenang aja.” Toni


merapikan kemejanya. “Toni akan mencari Marcel.”


“Marcel? Siapa dia?”


“Orang yang mengusulkan


Titin ikut lomba.”


Hartati tertunduk.


“Mama mohon, Ton. Jaga Titin…” Hartati nelangsa dengan nafas berat. Dia


benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menasehati

__ADS_1


Titin. Hartati pasrah dan menyerahkan masalah ini ke Toni. Hartati lebih dekat


ke Toni dari pada


Dewa. Dewa lebih mementingkan diri sendiri. Tidak perduli dengan keluarga apa lagi adik-adiknya.



Hartati mengetuk pintu kamar Titin. Lama ia menunggu


jawaban dari Titin. Lima belas menit kemudian Titin membuka pintu. Wajahnya


masih tetap dingin menatap Hartati.


“Tin... apa benar kamu


ikut balapan liar?”Tanya


Hartati kemudian.


Titin melipat


tangannya. Wajahnya kecut. “Oh... jadi anak haram mama itu yang melapor ke


mama? Sudahlah, Ma. Gak usah ngurusin Titin! Gak ada gunanya!”


“Tiiinnn.... Mama mohon


sekali ini aja. Dengarkan kata-kata mama... Balapan liar itu bahaya!”


“Kata-kata mama gak


akan bisa menghalangi Titin! Titin akan tetap ikut balapan. Sekarang mama keluar


dan urus tuh anak haram mama!”


Hartati mendegut ludah dengan pahit. “Tiinnn...” Selahnya berat. Titin menutup pintu


kamarnya. Hartati beranjak dengan berat. Ia duduk di ruang tamu sambil


nelangsa. Menangis batin. Mengapa Titin tidak


mau mendengar nasehatnya.



JEDAAAAARRRR....


Tiba-tiba Titin terkejut


mendengar suara pintu dibanting. Ia terlonjak. Suara ribut-ribut di ruang tamu


membuat Titin gerah. Pasti papa dan mamanya lagi berantem. Titin memegang


kepalanya, lalu rebah sambil menutup telinga. Suara


Hendrawan sampai ke kamar Titin. Hartati juga gak mau kalah. Masalahnya


Handrawan selalu mengungkit keberada Toni yang dianggap merusak keluarga


mereka.


“Kenapa papa selalu


menyalahkan, Toni? Dia tidak tahu apa-apa!”Sergah Hartati marah ketika Hendrawan mengungkit


masalah Toni.


“Karena mama selalu menjenguknya.


Kenapa mama tidak menjenguk Renold?”Suara Hendrawan tak kalah keras.


“Itu sudah mama


lakukan. Setelah menjenguk Renold mama ke rumah kontrakan Toni. Apa itu salah?!


Apa yang papa lakukan ke Renold? Tidak ada kan?!”


“Papa sudah


mengeluarkan biaya untuk rehabilitasi Renold. Apa itu belum cukup?”


“Renold tidak butuh


uang papa. Dia ingin kehadiran papa disana, sebagai tanggung jawab seorang ayah!”


“Sudahlah, Ma! Papa


pusing mendengarkan ocehan mama!” Hendrawan beranjak dari ruang tamu.


“Papa mau kemana?” Tanya Hartati penasaran.


“Papa mau ketemu


teman-teman partai. Ada rapat penting!”


“Tengah malam begini?!”


Hendrawan tak


menggubris perkataan Hartati. Ia langsung saja pergi. Titin menutup rapat-rapat


telinganya. Setiap hari ia mendengar pertengkaran-pertengkaran Hendrawan dan


Hartati yang membosankan. Entah sampai kapan mereka bisa akur.



Titin merasa jenuh


berada di rumah. Mending ia keluar cari angin. Siapa tahu aja dengan menghirup


angin malam pikirannya menjadi tenang. Namun sayang, di persimpangan lampu


merah Titin melihat mobil Hendrawan. Lampu kanannya berkedip-kedip. Iseng Titin


mengikutinya. Mobil mewah berhenti


di sebuah bar. Kening Titin berkerut. Ia memperhatikan Hendrawan yang keluar


bersama seorang gadis.


Deg…


jantung Titin berdebuk kencang. Tak percaya melihat papanya bersama permpuan


lain. Jadi selama ini apa yang dikatakan Toni benar. Hendrawan punya simpanan.


Pikiran


Titin semakin kacau. Dunia seperti mau kiamat. Mengapa keluarganya tidak ada


yang beres.


Titin


pulang dengan penuh beban mental. Ia tidak menerima kalau papanya punya


simpanan seorang gadis. Apa Hendrawan juga akan mengaku kalau itu anak gadisnya


dari perempuan selain Hartati? Titin benar-benar tidak tahu lagi melihat


kehidupan papa dan mamanya.


__ADS_1


__ADS_2