
Suasana kampus seperti biasa. Panas menyengat, hingga sebagian mahasiswa berkipas-kipas dan berteduh di bawah pepohonan rindang. Sepasang sorot mata tajam mengamati beberapa
mahasiswa. Gibran duduk di sebuah cafet dekat kampus. Ia mencari seseorang yang
bergabung dengan genk motor malam itu.
“Gibran?” Sapa Titin heran, mengapa cowok itu berada di sana sendirian. Titin
menghampiri cowok itu dan duduk di depannya. “Kamu ngapain di sini?” Tanyanya
ingin tahu. Titin mengamati wajah Gibran yang sangat tampan. Kumis dan cambang
dicukur habis hingga meninggalkan warna kebiruan.
“Duduk. Aku mau duduk aja.” Jawabnya singkat.
“Kamu bisa tersesat, Gibran. Di sini tidak aman.” Kata Titin lagi.
“Biarkan aku disini!” Kata Gibran ketus. Titin mengamati wajah Gibran
dan mencari tau apa maksud dan tujuannya ke kampus ini.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Aku tidak mau pulang!”
“Gibran… Mamamu pasti khawatir melihat kamu tidak ada di rumah.”
“Kamu tau apa dengan diriku? Aku mau mencari seseorang yang membuatku
begini.”
Titin terdiam dan mengamati wajah Gibran. Sepertinya cowok itu sangat
menyuimpan dendam. Ingatannya sudah mulai membaik sepertinya. Dia ingat semua
apa yang terjadi malam itu. Malam dimana dia kehilangan kekasihnya. Walau sudah
sangat lama.
“Kejadian itu sudah lama sekali, Gibran.”
“Tapi aku ingat semuanya. Orang-orang yang memukulku dan membunuh
Raisa.” Kata Gibran dengan pandangan sinis dan dendam yang membara. Cerita itu,
cerita yang ditulis Gibran dalam buku hariannya. Kisah yang tragis dan
memilukan. “Sebagian mereka ada di kampus ini.” Kata Gibran.
Titin terdiam dan kembali mengamati wajah Gibran yang penuh dendam. Ia
ingat kalau teman-temannya banyak yang genk motor. Mereka sangat beringas dan
nekat membunuh korbannya.
“Temanku kemarin tewas di pinggir jalan. Aku tidak tahu apa ada genk
motor yang membunuhnya. Aku takut kamu jadi korban berikutnya, Gibran. Sekarang
kembalilah ke rumah.”
Pandangan Gibran masih jelalatan melihat mahasiswa yang masuk ke kampus.
“Itu dia!” Ucapnya seraya bangkit dari tempat duduk. Titin melihat
seorang cowok yang dilihat Gibran. Marcel, ketua genk motor yang suka
mengadakan balap liar.
“Marcel?” Gumam Titin pelan.
“Kamu mengenalnya?” Tanya Gibran.
Titin mendengut ludahnya, namun Gibran sudah beranjak mengejar Marcel.
“Gibran tunggu!” Teriak titin memanggil Gibran. Gibran tidak mengguris
dan mencari sosok Marcel yang sudah berbaur dengan mahasiswa lain. Cowo itu
sudah masuk ke koridor lain, dan Gibran kehilangan jejaknya.
“Arrrghh…” Gibran memekik kesal sambil menghempas. Titin yang
mengejarnya terlihat ngos-ngosan. Kemudian Gibran pergi ke parkiran dan
menyalakan motornya. Suara menderum terdengar seperti halilintar di siang itu.
Titin hanya memperhatikan motor Gibran yang menjauh.
Titin duduk terpaku di
kursi beton dekat taman.Sudah tiga hari ia tidak menemukan Bellinda. Titin khawatir terjadi apa-apa
dengan sahabatnya.
Titin melirik ketika
mendengar suara decak telapak kaki menghampirinya. Cowok dengan jaket kulit
hitam berdiri tegak. Titin menoleh, menatap cowok itu.
“Kamu mau apa lagi
kemari?” Tanya Titin tidak bersahabat.
“Sebaiknya kamu
membatalkan niatmu untuk mengikuti balapan itu.”
“Dari mana kamu tahu aku ikut balapan?”
“Aku melihat daftar
peserta yang ada di tangan Marcel.
Kamu pikir Marcel itu
cowok baik-baik?”
“Apa urusanmu?! Kamu
tidak berhak menuding Marcel seperti
itu!”
“Marcel hanya memanfaatkanmu
saja, Tin...”
“Cukuup!!! Aku tidak
mau dengar lagi ocehanmu! Mau kamu apa sih? Kamu gak cukup membuat masalah di
keluargaku?”
“Okey... itu memang
hakmu. Aku tidak perlu ikut campur. Asal kamu tahu, aku tidak membuat masalah
di keluargamu. Tapi papamu!”
“Hehk...” Titin mencibir.
__ADS_1
“Papaku orang terpandang. Dia lebih terhormat dari pada papamu yang gak jelas
statusnya!”
“Dan kamu tahu papamu
punya selingkuhan?”
Emosi Titin
meledak-ledak. “Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Kamu mengada-ada. Kamu mau
memfitnah keluargaku!”
Toni tertawa sinis.
“Aku tidak menyangka, papamu yang mengumbar idealis ternyata seorang pecundang.
Pembohong kelas kakap!”
“Cukuuup!!!” Sergah Titin emosi. “Eh, dengar ya,
kamu itu gak usah ikut campur dengan kehidupanku. Urus saja dirimu sendiri!”
“Tin… tolong dengerin
aku. Ini demi mama.” Tegas Toni.
“Hehk... mama???” Titin
mencibir. Ia melangkahkan kakinya menjauhi kursi beton. Toni mengikutinya dari
belakang.
“Aku mohon sama kamu.
Tinggalkan balapan itu.”
“Tidak! Aku tidak akan pernah
meninggalkan balapan itu!”
“Kamu memang keras
kepala. Aku heran mengapa mama bisa melahirkan anak sepertimu?”
“Hei..! Jaga bicaramu.
Jangan sangkut paut kan
mamaku dengan balapan ini. Aku juga gak mau mengakuimu sebagai kakakku!”
“Aku tidak memaksamu.
Kamu boleh menganggapku apa aja. Yang penting kamu membatalkan balapan itu!”
“Itu tidak merubah keputusanku.”
Titin menuju parkiran.
Ia memakai helm teropongnya lalu menyalakan starter. Motor Titin melaju
meninggalkan lokasi kampus. Toni hanya menatapi kepergian Titin. Ughh… dia melenguh
kesal.
Hartati duduk di kursi
tamu. Kamar Toni sedikit berantakan. Tangan Hartati meraih selimut yang
berserak di lantai. Ia beranjak merapikan baju-baju Toni yang berserakan.
Ton…?”
“Biasalah, Ma… anak
lajang. Toni gak ada pembantu.”
Hartati melipat
baju-baju Toni. “Bagaimana pembicaraanmu dengan Titin?”Tanya Hartati.
Toni memakai bajunya.
“Titin memang keras kepala, Ma. Titin gak mau mendengar kata-kata Toni.”
Hartati terdiam sesaat, lalu berujar dengan suara berat. “Sudahlah,
Ton. Biar mama saja yang menasehatinya.”
“Tapi Titin ikut
balapan liar, Ma. Itu bahaya.”
“Balapan liar?”Hartati terkejut.
“Iya, Ma. Toni khawatir.
Titin melawan geng motor.”
“Ya ampun, Tiinn...”
Hartati mengurut dadanya. “Bagaimana ini, Ton? Mama khawatir.”
“Sudahlah, Ma. Serah kan saja sama Toni. Mama gak usah
panik.”Kata Toni agar
Hartati tenang. Memang sebagai orang tua kepanikan saat anaknya melakukan
hal-hal tidak diinginkan. Membahayakan diri sendiri membuat orang tua sakit
jantung.
“Tapi mama tidak ingin
terjadi apa-apa sama Titin. Tolong
kamu cegah Titin, Ton.”
“Toni akan terus
meluluhkan hati Titin, Ma.”
“Bagaimana caranya?
Titin itu keras kepala. Susah diatur.”
“Mama tenang aja.” Toni
merapikan kemejanya. “Toni akan mencari Marcel.”
“Marcel? Siapa dia?”
“Orang yang mengusulkan
Titin ikut lomba.”
Hartati tertunduk.
“Mama mohon, Ton. Jaga Titin…” Hartati nelangsa dengan nafas berat. Dia
benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menasehati
__ADS_1
Titin. Hartati pasrah dan menyerahkan masalah ini ke Toni. Hartati lebih dekat
ke Toni dari pada
Dewa. Dewa lebih mementingkan diri sendiri. Tidak perduli dengan keluarga apa lagi adik-adiknya.
Hartati mengetuk pintu kamar Titin. Lama ia menunggu
jawaban dari Titin. Lima belas menit kemudian Titin membuka pintu. Wajahnya
masih tetap dingin menatap Hartati.
“Tin... apa benar kamu
ikut balapan liar?”Tanya
Hartati kemudian.
Titin melipat
tangannya. Wajahnya kecut. “Oh... jadi anak haram mama itu yang melapor ke
mama? Sudahlah, Ma. Gak usah ngurusin Titin! Gak ada gunanya!”
“Tiiinnn.... Mama mohon
sekali ini aja. Dengarkan kata-kata mama... Balapan liar itu bahaya!”
“Kata-kata mama gak
akan bisa menghalangi Titin! Titin akan tetap ikut balapan. Sekarang mama keluar
dan urus tuh anak haram mama!”
Hartati mendegut ludah dengan pahit. “Tiinnn...” Selahnya berat. Titin menutup pintu
kamarnya. Hartati beranjak dengan berat. Ia duduk di ruang tamu sambil
nelangsa. Menangis batin. Mengapa Titin tidak
mau mendengar nasehatnya.
JEDAAAAARRRR....
Tiba-tiba Titin terkejut
mendengar suara pintu dibanting. Ia terlonjak. Suara ribut-ribut di ruang tamu
membuat Titin gerah. Pasti papa dan mamanya lagi berantem. Titin memegang
kepalanya, lalu rebah sambil menutup telinga. Suara
Hendrawan sampai ke kamar Titin. Hartati juga gak mau kalah. Masalahnya
Handrawan selalu mengungkit keberada Toni yang dianggap merusak keluarga
mereka.
“Kenapa papa selalu
menyalahkan, Toni? Dia tidak tahu apa-apa!”Sergah Hartati marah ketika Hendrawan mengungkit
masalah Toni.
“Karena mama selalu menjenguknya.
Kenapa mama tidak menjenguk Renold?”Suara Hendrawan tak kalah keras.
“Itu sudah mama
lakukan. Setelah menjenguk Renold mama ke rumah kontrakan Toni. Apa itu salah?!
Apa yang papa lakukan ke Renold? Tidak ada kan?!”
“Papa sudah
mengeluarkan biaya untuk rehabilitasi Renold. Apa itu belum cukup?”
“Renold tidak butuh
uang papa. Dia ingin kehadiran papa disana, sebagai tanggung jawab seorang ayah!”
“Sudahlah, Ma! Papa
pusing mendengarkan ocehan mama!” Hendrawan beranjak dari ruang tamu.
“Papa mau kemana?” Tanya Hartati penasaran.
“Papa mau ketemu
teman-teman partai. Ada rapat penting!”
“Tengah malam begini?!”
Hendrawan tak
menggubris perkataan Hartati. Ia langsung saja pergi. Titin menutup rapat-rapat
telinganya. Setiap hari ia mendengar pertengkaran-pertengkaran Hendrawan dan
Hartati yang membosankan. Entah sampai kapan mereka bisa akur.
Titin merasa jenuh
berada di rumah. Mending ia keluar cari angin. Siapa tahu aja dengan menghirup
angin malam pikirannya menjadi tenang. Namun sayang, di persimpangan lampu
merah Titin melihat mobil Hendrawan. Lampu kanannya berkedip-kedip. Iseng Titin
mengikutinya. Mobil mewah berhenti
di sebuah bar. Kening Titin berkerut. Ia memperhatikan Hendrawan yang keluar
bersama seorang gadis.
Deg…
jantung Titin berdebuk kencang. Tak percaya melihat papanya bersama permpuan
lain. Jadi selama ini apa yang dikatakan Toni benar. Hendrawan punya simpanan.
Pikiran
Titin semakin kacau. Dunia seperti mau kiamat. Mengapa keluarganya tidak ada
yang beres.
Titin
pulang dengan penuh beban mental. Ia tidak menerima kalau papanya punya
simpanan seorang gadis. Apa Hendrawan juga akan mengaku kalau itu anak gadisnya
dari perempuan selain Hartati? Titin benar-benar tidak tahu lagi melihat
kehidupan papa dan mamanya.
__ADS_1