
Medan hujan deras.
Belinda mengkerut kedinginan. Dia mendekap buku-bukunya di dada. Sudah satu jam
dia berada di halte. Tidak ada yang menjemput. Gelisah. Pikirannya kacau. Di
matanya masih terbayang kelakuan Kevin yangmengusirnya dari rumah sakit.
“Aku akan melupakanmu,
Vin! Selamanya….!” dengusnya.
Rasa sakit itu
semakin menusuk-nusuk uluh hatinya, ketika
mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Kevin dengan bangganya membela Cindy
yang sudah terang-terangnya bersalah. Kini Cindy juga pergi meninggalkan Kevin,
karena dia tahu Kevin sudah tidak sempurna. Sebelah kaki Kevin tidak bisa digerakan. Kevinlumpuh.
Malam itu hujan
deras. Petir menyambar-nyambar di ujung jalan becek. Bellinda mendekap tubuhnya
dengan perasaan tak menentu. Takut kalau ada seseorang yang usil mengganggunya.
“Ugghh… kenapa gak ada yang menjemput sih…” Gerutu Bellinda sambil
mengibaskan sisa air hujan di wajahnya. Sudah pukul delapan malam. Bimo juga
tidak tahu kemana. Biasanya dia paling khawatir dengan Bellinda, adik perempuan
satu-satunya.
Sebuah mobil
berhenti di depan halte. Bellinda tidak perduli. Paling laki-laki hidung belang
yang mencari kesempatan dengan anak-anak mahasiswi lainnya. Kaca mobil terbuka
dan terdengar suara seseorang memanggilnya dari dalam.
“Belindaa!!
Belindaaa!!” teriak orang itu dari dalam mobil. Bellinda mencari sumber suara.
Dia tersentak ketika melihat Titin memanggilnya. Tumben tuh anak naik mobil.
Motor trailnya lagi masuk bengkel setelah balapan.
“Titin..!” Serunya. Sekejap sajarasa takutnya memudar. Titin keluar dan membawa payung dari mobilnya. Titin
menghampiri Bellinda yang sudah kedinginan.
“Kamu kok masih
di sini?” Tanya Titin heran.
“Gak ada yang
menjemput.” Jawab Bellinda singkat.
“Ayo aku
hantar.” Tawar Titin berbaik hati. Bellinda mengangguk seraya tersenyum.
Bellinda mengikuti langkah Titin dan masuk ke dalam mobilnya. Tak berapa lama
mobil pun melaju di jalan hitam. Bellinda menghapus wajahnya dengan tisu.
“Kenapa tidak
menelponku, Bell? Aku kan
bisamenjemputmu dan menghantarmu sampai ke rumah?”
“Aku takut
merepotkanmu, Tin. Persoalan dengan Kevin aja membuat kepalaku mau pecah.”
“Sudahlah, Bell.
Mungkin Kevin bukan jodohmu.”
“Dan sekarang
Cindy juga meninggalkannya, Tin. Aku kasihan lihat Kevin. Aku tidak sanggup
melihat dia bersedih. Apalagi menerima kenyataan pahit itu.”
“Sudah takdir,
Bell,” Titin tersenyum, kemudian memperhatikan jalan hitam yang masih diguyur
hujan deras. Kaca mobil terlihat berkabut. Irama musik melankolis keluar dari loudspeaker mobil Titin. Terasa teduh
dan nyaman. Mereka ngobrol ala kadarnya. Ngobrol tentang Kevin dan masih kecil
Bellinda.
Mobil Titin
berhenti di depan rumah Belinda. Hujan belum redah. Genangan-genangan air hujan
membuat sungai-sungai kecil di pinggir jalan. Titin keluar sambil mengembangkan
payung silver miliknya. Membukakan pintu untuk Bellinda dan mengamit tangan Bellinda keluar dari mobil. Titin
menghantarkan Bellinda sampai ke teras rumahnya. Tiba-tiba saja Nurhaida keluar
dan berdiri di depan pintu rumah. Nurhaida menatap Titin dengan tajam, tidak
senang.
“Untuk apa kamu
kemari?!” Sergah Nurhaida sinis. Titin kontan saja kaget dan heran. Titin
tersenyum hambar, berusaha menepis sergahan mama Belinda yang dianggap sadis.
“Saya menghantar
Bellinda, Tante.” Jawabnya tergagap.
“Alasan! Kamu
gak perlu menghantar anak saya! Jauhi dia!” Pekik Nurhaida masih dengan nada
ketus. Bellinda bingung dengan kondisi seperti itu. Dia memperhatikan wajah
mama tidak percaya.
“Ma… Mama
apa-apaan sih..? Titin sudah berbaik hati menghantarkan Bella, Ma. Mama kok
begitu?” Tanya Bellinda heran.
“Kamu tidak tahu
apa-apa, Bellinda. Mama tidak suka melihat dia dekat-dekat dengan kamu!”
“Maa…”
“Diam kamu!” Bentak
Nurhaida keras.
“Sudahlah, Bel.”
Potong Titin cepat. “Tidak usah diributkan. Aku maklum…” Ucap Titin sendu.
Bellinda menunduk.
“Maafkan mamaku, Tin…”
__ADS_1
“Iya.” Titin mengangguk
pelan sambil tersenyum getir. Tak sedikit pun rasa tersinggung melekat di
wajahnya.
“Pergi kamu,
anak setan!” Bentak Nurhaida seperti kerasukan setan.
Bellinda
terkejut, melihat mamanya sekasar itu kepada Titin. “Maa… sudah dong. Mama
kenapa sih kok marah-marah gitu sama temenku? Seharusnya mama berterima kasih
karena Titin sudah berbaik hati menghantar Bellinda pulang. Bellinda ketakutan
di halte, Ma. Tadi Bellinda sendirian, tidak ada yang mau menjemput.”
“Baik hati ***
kucing!” Nurhaida mengumpat, sambil meraih pot plastik kosong di rak bunga,
lalu melemparnya ke kepala Titin. Pletak! Air hujan yang menggenang dalam pot
itu mengenai wajah Titin.
“Pergi kamu dari
rumahku!” Teriak
Nurhaida berapi-api.
Bellinda
tersentak kaget. Tidak menyangka tindakan mama akan sejauh itu. Titin akhirnya
mengalah dan beranjak melangkahkan kakinya dengan hati miris. Bellinda mengejar
Titin yang masih mengelap wajahnya dengan tisu.
“Maafkan mamaku
ya, Tin.” Ujarnya. “Aku gak tahu kenapa mama jadi seperti itu.”
Titin tersenyum
tipis. “Sudahlah, Bel. Aku baik-baik saja kok. Tidak usah khawatir.” Titin
berusaha menguatkan hatinya. Berusaha mengubur rasa sakit hati atas perlakuan
mama Bellinda kepadanya.
“Benar kamu
tidak apa-apa?” Bellinda memastikan perasaan Titin.
“Iya, aku
baik-baik saja. Aku bisa maklum, namanya juga orang tua.”
“Tapi mama tidak
harus seperti itu. Aku tidak tahu mengapa mama sekasar itu sama kamu, Tin?”
“Yah, aku juga
tidak tahu, Bell. Aku pergi dulu ya.” Ucap Titin dengan senyumnya mengembang.
“Hati-hati ya,
Tin.” Nasehat Bellinda ketika Titin berlalu. Titin mengangguk, lalu masuk ke
dalam mobilnya. Tak berapa lama mobil Titin melesat di jalan hitam. Menembus
jalan becek yang licin. Asap dari knalpotnya menggumpal tebal.
Nurhaida
“Bellindaaa!!!
Cepat masuk!!” Bentak Nurhaida keras. Dengan berat Bellinda masuk ke dalam
rumahnya. Berlari masuk ke dalam kamar. Menggigit bantal guling dan menangis.
Mengapa mamanya sekejam itu kepada Titin. Padahal Titin sangat baik kepada
Bellinda.
Hujan sudah
reda, tapi masih menawarkan hawa dingin. Di dalam mobil, Titin berusaha
menguatkan hatinya. Menguatkan hati dari caci maki dan tudingan-tudingan lain
terhadapnya. Mengapa orang-orang tidak sependapat dengannya. Mengapa
orang-orang selalu mencibirnya. Mengapa orang-orang tidak suka dengan
penampilannya. Titin menghapus air matanya
yang menggenang. Dia tak perlu menangis karena dia bukan gadis yang cengeng.
‘Kamu jangan
cengeng, Titin!’ bentaknya dalam hati. Titin menarik nafas dalam-dalam lalu
menghembuskannya seraya membuang semua kekesalannya.
Titin tiba di
rumah saat malam menggelayut pekat. Titin memarkirkan mobilnya di garasi, lalu
masuk ke kamarnya. Titin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia
membiarkan perasaanya lebur oleh tetes-tetes air hujan yang menggenang di
tepian rumahnya. Tangannya meraih sebuah figura di
atas meja. Sebuah foto terpampang di sana. Entahlah… Titin berusaha
melupakan orang-orang yang ada di dalam foto itu.
Titin membasuh
wajahnya di kamar mandi. Memperhatikan garis-garis wajahnya yang memudar. Ada pemberontakan batin di sana. Gejolak kehidupan yang
memutar balikkan dunianya. Kehidupannya beberapa tahun lalu wajar-wajar saja.
Bahagia dengan gelimangan harta orangtuanya.
Di ruang tamu Bimo mengintrogasi Bellinda habis-habisan. Bimo
melarang Bellinda berteman dengan Titin. Cewek tomboy yang kelakuannya seperti
laki-laki. Larangan Bimo dan Nurhaida tidak menyurutkan persahabatan Bellinda
ke Titin. Dia tetap menjadi teman baiknya. Daripada dia berteman dengan
cewek-cewek sok alim tapi berhati busuk. Munafik. Belinda juga tidak cocok
dengan pergaulan teman-teman kampusnya. Dia lebih cocok berteman dengan Titin.
Nurhaida duduk
di depan Bellinda sedangkan Bimo berdiri dengan tampang marah. Kedua orang itu
sangat membenci Titin. Entah alasan apa sampai mereka
anti pati melihat Titin.
“Kamu jangan
bergaul dengan perempuan sialan itu, Bella!” Bentak Bimo keras. Bellinda
__ADS_1
kerkesiap, menatap pendar bola mata Bimo yang memerah.
“Titin itu cewek
baik-baik, Kak. Apa aku salah berteman dengan dia?” Ucap Bellinda membela
sahabatnya.
“Jelas salah, Bellinda!
Kamu tahu siapa dia?” Alis mata Bimo naik beberapa mili. Matanya memerah dengan
amarah yang meledak-ledak. “Dia itu perempuan gak bener! Dia pecandu narkoba!”
“Kaakk…” Selah
Bellinda tidak menerima perkataan Bimo.
“Mama juga tidak
suka kamu bergaul dengan dia, Bel. Mama khawatir!” Nurhaida ikut menimpali.
“Mama khawatir kamu terjerumus ke dunianya,”
“Mama dan kak
Bimo kenapa sih kok jadi sinis begitu sama orang?” Bellinda memberontak
tudingan Nurhaida dan Bimo.
“Tidak semua
orang, Bellinda.” Ujar Nurhaida. “Hanya untuk perempuan itu. Mama tidak suka!”
“Lantas mengapa
harus Titin, Ma?”
“Dia itu cewek
tomboy!” Celetuk Bimo ketus.
“Apa salahnya
kalau dia tomboy? Dia tidak mengganggu siapa pun.”
“Dia itu tidak
suka cowok! Dia hanya mengganggu cewek ***** seperti kamu, Bellinda.” Bimo
terus berceloteh dengan sinis.
“Kak Bimo tidak
boleh begitu. Jangan berprasangka dulu sama seseorang. Dia cewek baik-baik.”
“Ahkk… itu alasannya saja,
Bel. Kamu saja yang *****! Mau diperalat. Dia belum menunjukkan sifat aslinya!”
“Lantas, mengapa
harus diributkan? Kalau dia tomboy kenapa kalian yang keberatan? Titin tidak
mengganggu siapa pun,
Kak.”
“Pokoknya kakak
tidak setuju kalau kamu berteman dengan dia!” Bentak Bimo dengan amarah yang
sepenggal.
“Mama juga tidak
setuju, Bellinda.” Timpal Nurhaida lagi. “Lebih baik kamu cari teman yang lain,
jangan perempuan itu!”
Bellinda menarik
nafas dengan berat. “Memangnya kenapa
kalau Belinda berteman dengan Titin? Apakah Titin akan menularkan penyakit yang
mematikan?”
“Kamu tidak usah
membangkang. Anak-anak kampus sudah tahu siapa dia? Dia itu lesbian, Bell…”Ujar Bimo dengan suara keras.
“Siapa yang bilang?”Tanya Bellinda penasaran.
“Teman-teman
kampus.”
“Apa kak Bimo
menyaksikan sendiri?”
“Tidak.”
“Kata-kata orang
itu belum tentu benar, Kak.”
“Pokoknya kamu
tidak boleh bergaul dengan dia, titik!”
Belinda terdiam.
Mencoba memahami kata-kata Bimo barusan. Lesbian? Benarkah? Kalaupun iya, itu kan haknya.
Mengapa Bimo harus sesinis itu sama Titin? Mengapa Bimo tidak memprotes
sahabatnya yang menjadi gay? Mengapa dia tidak berkoak-koak
mengumpulkan para aktifis mahasiswa untuk memberontak kaum gay dan lesbian?
“Walau pun Titin lesbian, tapi
dia juga manusia, Kak. Kita tidak sepantasnya mengucilkan dia. Mengapa masalah
yang kecil saja harus diributkan?”
“Kamu memang
keras kepala, Bellinda! Kamu itu masih anak ingusan. Tidak tahu apa-apa!”
“Sudahlah, Kak.
Bellinda tidak mau meributkan soal ini. Bellinda capek, mau istirahat.”
“Tunggu,
Bellinda. Mama juga tidak mau kamu terjerumus ke jalan yang salah.”
“Sudahlah, Ma.
Mama begitu gampang terhasut kata-kata orang. Bellinda tidak mungkin
ikut-ikutan menjadi lesbian.”
Nurhaida terdiam
melihat Bellinda berlalu dari ruang tamu. Bellinda masuk ke kamarnya. Hawa
dingin masih menyelimuti malam yang gelap. Daun-daun masih basah. Hujan tak
henti-hentinya mengguyur kota Medan. Bellinda merebahkan tubuhnya setelah
mengganti baju. Lelah, mengikuti mata kuliah yang benar-benar menguras otaknya.
__ADS_1