TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 19


__ADS_3

Medan hujan deras.


Belinda mengkerut kedinginan. Dia mendekap buku-bukunya di dada. Sudah satu jam


dia berada di halte. Tidak ada yang menjemput. Gelisah. Pikirannya kacau. Di


matanya masih terbayang kelakuan Kevin yangmengusirnya dari rumah sakit.


“Aku akan melupakanmu,


Vin! Selamanya….!” dengusnya.


Rasa sakit itu


semakin menusuk-nusuk uluh hatinya, ketika


mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Kevin dengan bangganya membela Cindy


yang sudah terang-terangnya bersalah. Kini Cindy juga pergi meninggalkan Kevin,


karena dia tahu Kevin sudah tidak sempurna. Sebelah kaki Kevin tidak bisa digerakan. Kevinlumpuh.


Malam itu hujan


deras. Petir menyambar-nyambar di ujung jalan becek. Bellinda mendekap tubuhnya


dengan perasaan tak menentu. Takut kalau ada seseorang yang usil mengganggunya.


 “Ugghh… kenapa gak ada yang menjemput sih…” Gerutu Bellinda sambil


mengibaskan sisa air hujan di wajahnya. Sudah pukul delapan malam. Bimo juga


tidak tahu kemana. Biasanya dia paling khawatir dengan Bellinda, adik perempuan


satu-satunya.


Sebuah mobil


berhenti di depan halte. Bellinda tidak perduli. Paling laki-laki hidung belang


yang mencari kesempatan dengan anak-anak mahasiswi lainnya. Kaca mobil terbuka


dan terdengar suara seseorang memanggilnya dari dalam.


“Belindaa!!


Belindaaa!!” teriak orang itu dari dalam mobil. Bellinda mencari sumber suara.


Dia tersentak ketika melihat Titin memanggilnya. Tumben tuh anak naik mobil.


Motor trailnya lagi masuk bengkel setelah balapan.


“Titin..!” Serunya. Sekejap sajarasa takutnya memudar. Titin keluar dan membawa payung dari mobilnya. Titin


menghampiri Bellinda yang sudah kedinginan.


“Kamu kok masih


di sini?” Tanya Titin heran.


“Gak ada yang


menjemput.” Jawab Bellinda singkat.


“Ayo aku


hantar.” Tawar Titin berbaik hati. Bellinda mengangguk seraya tersenyum.


Bellinda mengikuti langkah Titin dan masuk ke dalam mobilnya. Tak berapa lama


mobil pun melaju di jalan hitam. Bellinda menghapus wajahnya dengan tisu.


“Kenapa tidak


menelponku, Bell? Aku kan


bisamenjemputmu dan menghantarmu sampai ke rumah?”


“Aku takut


merepotkanmu, Tin. Persoalan dengan Kevin aja membuat kepalaku mau pecah.”


“Sudahlah, Bell.


Mungkin Kevin bukan jodohmu.”


“Dan sekarang


Cindy juga meninggalkannya, Tin. Aku kasihan lihat Kevin. Aku tidak sanggup


melihat dia bersedih. Apalagi menerima kenyataan pahit itu.”


“Sudah takdir,


Bell,” Titin tersenyum, kemudian memperhatikan jalan hitam yang masih diguyur


hujan deras. Kaca mobil terlihat berkabut. Irama musik melankolis keluar dari loudspeaker mobil Titin. Terasa teduh


dan nyaman. Mereka ngobrol ala kadarnya. Ngobrol tentang Kevin dan masih kecil


Bellinda.


Mobil Titin


berhenti di depan rumah Belinda. Hujan belum redah. Genangan-genangan air hujan


membuat sungai-sungai kecil di pinggir jalan. Titin keluar sambil mengembangkan


payung silver miliknya. Membukakan pintu untuk Bellinda dan mengamit tangan Bellinda keluar dari mobil. Titin


menghantarkan Bellinda sampai ke teras rumahnya. Tiba-tiba saja Nurhaida keluar


dan berdiri di depan pintu rumah. Nurhaida menatap Titin dengan tajam, tidak


senang.


“Untuk apa kamu


kemari?!” Sergah Nurhaida sinis. Titin kontan saja kaget dan heran. Titin


tersenyum hambar, berusaha menepis sergahan mama Belinda yang dianggap sadis.


“Saya menghantar


Bellinda, Tante.” Jawabnya tergagap.


“Alasan! Kamu


gak perlu menghantar anak saya! Jauhi dia!” Pekik Nurhaida masih dengan nada


ketus. Bellinda bingung dengan kondisi seperti itu. Dia memperhatikan wajah


mama tidak percaya.


“Ma… Mama


apa-apaan sih..? Titin sudah berbaik hati menghantarkan Bella, Ma. Mama kok


begitu?” Tanya Bellinda heran.


“Kamu tidak tahu


apa-apa, Bellinda. Mama tidak suka melihat dia dekat-dekat dengan kamu!”


“Maa…”


“Diam kamu!” Bentak


Nurhaida keras.


“Sudahlah, Bel.”


Potong Titin cepat. “Tidak usah diributkan. Aku maklum…” Ucap Titin sendu.


Bellinda menunduk.


“Maafkan mamaku, Tin…”

__ADS_1


“Iya.” Titin mengangguk


pelan sambil tersenyum getir. Tak sedikit pun rasa tersinggung melekat di


wajahnya.


“Pergi kamu,


anak setan!” Bentak Nurhaida seperti kerasukan setan.


Bellinda


terkejut, melihat mamanya sekasar itu kepada Titin. “Maa… sudah dong. Mama


kenapa sih kok marah-marah gitu sama temenku? Seharusnya mama berterima kasih


karena Titin sudah berbaik hati menghantar Bellinda pulang. Bellinda ketakutan


di halte, Ma. Tadi Bellinda sendirian, tidak ada yang mau menjemput.”


“Baik hati ***


kucing!” Nurhaida mengumpat, sambil meraih pot plastik kosong di rak bunga,


lalu melemparnya ke kepala Titin. Pletak! Air hujan yang menggenang dalam pot


itu mengenai wajah Titin.


“Pergi kamu dari


rumahku!” Teriak


Nurhaida berapi-api.


Bellinda


tersentak kaget. Tidak menyangka tindakan mama akan sejauh itu. Titin akhirnya


mengalah dan beranjak melangkahkan kakinya dengan hati miris. Bellinda mengejar


Titin yang masih mengelap wajahnya dengan tisu.


“Maafkan mamaku


ya, Tin.” Ujarnya. “Aku gak tahu kenapa mama jadi seperti itu.”


Titin tersenyum


tipis. “Sudahlah, Bel. Aku baik-baik saja kok. Tidak usah khawatir.” Titin


berusaha menguatkan hatinya. Berusaha mengubur rasa sakit hati atas perlakuan


mama Bellinda kepadanya.


“Benar kamu


tidak apa-apa?” Bellinda memastikan perasaan Titin.


“Iya, aku


baik-baik saja. Aku bisa maklum, namanya juga orang tua.”


“Tapi mama tidak


harus seperti itu. Aku tidak tahu mengapa mama sekasar itu sama kamu, Tin?”


“Yah, aku juga


tidak tahu, Bell. Aku pergi dulu ya.” Ucap Titin dengan senyumnya mengembang.


“Hati-hati ya,


Tin.” Nasehat Bellinda ketika Titin berlalu. Titin mengangguk, lalu masuk ke


dalam mobilnya. Tak berapa lama mobil Titin melesat di jalan hitam. Menembus


jalan becek yang licin. Asap dari knalpotnya menggumpal tebal.


Nurhaida


“Bellindaaa!!!


Cepat masuk!!” Bentak Nurhaida keras. Dengan berat Bellinda masuk ke dalam


rumahnya. Berlari masuk ke dalam kamar. Menggigit bantal guling dan menangis.


Mengapa mamanya sekejam itu kepada Titin. Padahal Titin sangat baik kepada


Bellinda.


Hujan sudah


reda, tapi masih menawarkan hawa dingin. Di dalam mobil, Titin berusaha


menguatkan hatinya. Menguatkan hati dari caci maki dan tudingan-tudingan lain


terhadapnya. Mengapa orang-orang tidak sependapat dengannya. Mengapa


orang-orang selalu mencibirnya. Mengapa orang-orang tidak suka dengan


penampilannya. Titin menghapus air matanya


yang menggenang. Dia tak perlu menangis karena dia bukan gadis yang cengeng.


‘Kamu jangan


cengeng, Titin!’ bentaknya dalam hati. Titin menarik nafas dalam-dalam lalu


menghembuskannya seraya membuang semua kekesalannya.


Titin tiba di


rumah saat malam menggelayut pekat. Titin memarkirkan mobilnya di garasi, lalu


masuk ke kamarnya. Titin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia


membiarkan perasaanya lebur oleh tetes-tetes air hujan yang menggenang di


tepian rumahnya. Tangannya meraih sebuah figura di


atas meja. Sebuah foto terpampang di sana. Entahlah… Titin berusaha


melupakan orang-orang yang ada di dalam foto itu.


Titin membasuh


wajahnya di kamar mandi. Memperhatikan garis-garis wajahnya yang memudar. Ada pemberontakan batin di sana. Gejolak kehidupan yang


memutar balikkan dunianya. Kehidupannya beberapa tahun lalu wajar-wajar saja.


Bahagia dengan gelimangan harta orangtuanya.



Di ruang tamu Bimo mengintrogasi Bellinda habis-habisan. Bimo


melarang Bellinda berteman dengan Titin. Cewek tomboy yang kelakuannya seperti


laki-laki. Larangan Bimo dan Nurhaida tidak menyurutkan persahabatan Bellinda


ke Titin. Dia tetap menjadi teman baiknya. Daripada dia berteman dengan


cewek-cewek sok alim tapi berhati busuk. Munafik. Belinda juga tidak cocok


dengan pergaulan teman-teman kampusnya. Dia lebih cocok berteman dengan Titin.


Nurhaida duduk


di depan Bellinda sedangkan Bimo berdiri dengan tampang marah. Kedua orang itu


sangat membenci Titin. Entah alasan apa sampai mereka


anti pati melihat Titin.


“Kamu jangan


bergaul dengan perempuan sialan itu, Bella!” Bentak Bimo keras. Bellinda

__ADS_1


kerkesiap, menatap pendar bola mata Bimo yang memerah.


“Titin itu cewek


baik-baik, Kak. Apa aku salah berteman dengan dia?” Ucap Bellinda membela


sahabatnya.


“Jelas salah, Bellinda!


Kamu tahu siapa dia?” Alis mata Bimo naik beberapa mili. Matanya memerah dengan


amarah yang meledak-ledak. “Dia itu perempuan gak bener! Dia pecandu narkoba!”


“Kaakk…” Selah


Bellinda tidak menerima perkataan Bimo.


“Mama juga tidak


suka kamu bergaul dengan dia, Bel. Mama khawatir!” Nurhaida ikut menimpali.


“Mama khawatir kamu terjerumus ke dunianya,”


“Mama dan kak


Bimo kenapa sih kok jadi sinis begitu sama orang?” Bellinda memberontak


tudingan Nurhaida dan Bimo.


“Tidak semua


orang, Bellinda.” Ujar Nurhaida. “Hanya untuk perempuan itu. Mama tidak suka!”


“Lantas mengapa


harus Titin, Ma?”


“Dia itu cewek


tomboy!” Celetuk Bimo ketus.


“Apa salahnya


kalau dia tomboy? Dia tidak mengganggu siapa pun.”


“Dia itu tidak


suka cowok! Dia hanya mengganggu cewek ***** seperti kamu, Bellinda.” Bimo


terus berceloteh dengan sinis.


“Kak Bimo tidak


boleh begitu. Jangan berprasangka dulu sama seseorang. Dia cewek baik-baik.”


“Ahkk… itu alasannya saja,


Bel. Kamu saja yang *****! Mau diperalat. Dia belum menunjukkan sifat aslinya!”


“Lantas, mengapa


harus diributkan? Kalau dia tomboy kenapa kalian yang keberatan? Titin tidak


mengganggu siapa pun,


Kak.”


“Pokoknya kakak


tidak setuju kalau kamu berteman dengan dia!” Bentak Bimo dengan amarah yang


sepenggal.


“Mama juga tidak


setuju, Bellinda.” Timpal Nurhaida lagi. “Lebih baik kamu cari teman yang lain,


jangan perempuan itu!”


Bellinda menarik


nafas  dengan berat. “Memangnya kenapa


kalau Belinda berteman dengan Titin? Apakah Titin akan menularkan penyakit yang


mematikan?”


“Kamu tidak usah


membangkang. Anak-anak kampus sudah tahu siapa dia? Dia itu lesbian, Bell…”Ujar Bimo dengan suara keras.


“Siapa yang bilang?”Tanya Bellinda penasaran.


“Teman-teman


kampus.”


“Apa kak Bimo


menyaksikan sendiri?”


“Tidak.”


“Kata-kata orang


itu belum tentu benar, Kak.”


“Pokoknya kamu


tidak boleh bergaul dengan dia, titik!”


Belinda terdiam.


Mencoba memahami kata-kata Bimo barusan. Lesbian? Benarkah? Kalaupun iya, itu kan haknya.


Mengapa Bimo harus sesinis itu sama Titin? Mengapa Bimo tidak memprotes


sahabatnya yang menjadi gay? Mengapa dia tidak berkoak-koak


mengumpulkan para aktifis mahasiswa untuk memberontak kaum gay dan lesbian?


“Walau pun Titin lesbian, tapi


dia juga manusia, Kak. Kita tidak sepantasnya mengucilkan dia. Mengapa masalah


yang kecil saja harus diributkan?”


“Kamu memang


keras kepala, Bellinda! Kamu itu masih anak ingusan. Tidak tahu apa-apa!”


“Sudahlah, Kak.


Bellinda tidak mau meributkan soal ini. Bellinda capek, mau istirahat.”


“Tunggu,


Bellinda. Mama juga tidak mau kamu terjerumus ke jalan yang salah.”


“Sudahlah, Ma.


Mama begitu gampang terhasut kata-kata orang. Bellinda tidak mungkin


ikut-ikutan menjadi lesbian.”


Nurhaida terdiam


melihat Bellinda berlalu dari ruang tamu. Bellinda masuk ke kamarnya. Hawa


dingin masih menyelimuti malam yang gelap. Daun-daun masih basah. Hujan tak


henti-hentinya mengguyur kota Medan. Bellinda merebahkan tubuhnya setelah


mengganti baju. Lelah, mengikuti mata kuliah yang benar-benar menguras otaknya.


__ADS_1


__ADS_2