TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 18


__ADS_3

Ponsel Titin


berdering. Masih pagi-pagi buta. Dia menerima kabar mengejutkan dari Bellinda.


“Kevin


kecelakaan, Tin…”Kata Bellinda.


“Apa? Kevin


kecelakaan?” Titin kaget.


“Mobilnya nabrak


tembok…” Suara


Bellinda parau menahan tangis.


“Trus gimana?


Kevinnya gak apa-apa?”


“Kevin lagi dibawa


ke ruang ICU.”


“Kamu tahu dari


mana, Bell?”


“Dari Bimo,


Kakakku.”


“Kevin mabok?”


“Enggak tahu,


Tin… Mendingan kamu cepat ke rumah sakit… Aku sudah nunggu disini.”


“Iya-iya, aku


segera kesana, Bell. Kamu tenang aja ya…”


Titin buru-buru


keluar dari kamarnya. Menghadang sebuah taksi. Taksi melesat menuju rumah


sakit. Setibanya di rumah sakit Titin tergesa–gesa mencari ruang ICU. Di ruang


tunggu dia bertemu dengan Bellinda yang duduk termenung. Titin menghampiri


Bellinda yang sedih.


“Bagaimana,


Bell?” Tanya Titin.


Bella


menggeleng. “Belum tahu, Tin,”


“Kamu yang sabar


ya. Doakan saja Kevin selamat,”


Bella mengangguk


sambil menangis sedih. Dari sudut koridor terlihat Cindy tergopoh-gopoh


mendekati Bellinda. Cindy menghardik Bellinda dengan wajah memerah.


“Kamu


mau apa sekarang? Kamu puas kan melihat Kevin sekarat?!“


“Cin,


aku kemari mau melihat keadaan Kevin. Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku  hanya ingin melihat keadaan Kevin, itu saja.“


“Alaaa,


kamu bohong! Kamu senang kan melihat Kevin kecelakaan! Kamu pasti bergembira


melihat dia mati!“


“Jaga


bicara kamu, Cin!“ Sergah Titin menengahi. “Bellinda dan Kevin sudah berteman


sejak kecil. Jadi kamu tidak tahu apa-apa tentang Kevin!”


“Oh…


jadi kamu membela Bellinda? Dasar cewek sotoy! Ini semua gara-gara kamu kan!“ ketus


Cindy sambil menujuk wajah Bellinda.


“Aku


nggak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Kevin! Jadi kamu nggak berhak


nyalahi aku, Cin!“


“Ahh,


kamu memang munafik!!”


“Huussst,


tolong jangan berisik, Mbak. Pasien sedang sekarat.“ Tiba-tiba saja


seorang perawat menghentikan perseteruan Bellinda dan Cindy. Cindy mencibir


dengan bibir sinisnya.


“Sudahlah,


Cin. Kita di sini sedang berkabung. Jangan berantem terus.“ Titin menimpali.

__ADS_1


Cindy sewot dan duduk di kursi tunggu. Wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaannya.


Perlahan Bellinda melihat keadaan Kevin dari kaca pintu.


“Viiinnn…“


Gumam Bellinda pelan dan sedih. Perlahan matanya berkaca-kaca. Ada segelintir


rindu yang menikam di dadanya. Kevin tidak seperti dulu lagi. Bellinda beranjak


dari pintu kaca, duduk di ruang tunggu. Matanya masih berkaca-kaca,


pandangannya menerawang. Ia mengingat masa kecilnya dulu bersama Kevin.


Masa-masa indah itu menumbuhkan rasa sayang yang tak pernah disadari.


Setelah


selesai menjenguk, Titin dan Bellinda bergegas pergi menuju ke kampus. Mata


Bellinda kelihatan merebak saat Titin menoleh ke arahnya. Hingga sesampianya di


kampus Bellinda hanya diam dan murung.



Sudah tiga hari Kevin tidak sadarkan diri. Bellinda selalu menjenguknya.


Mengajak Kevin ngobrol walau belum siuman. Bellinda dengan


rajin mengganti bunga- bunga yang telah layu. Ia tiba-tiba saja merasa aneh. Sejak kemarin sampai


hari ini ia tidak menemukan sosok Cindy. Kemana dia? bantin Bellinda  dalam hati.


“Bell…“  tiba-tiba saja seseorang menyapanya. Bellinda menoleh.


“Titin? Sejak kapan kamu disitu? Ngejutin aja,” selahnya  pelan. Titin  tersenyum  tipis sambil menghampiri Bellinda.


“Kita ini kan sahabat. Aku prihatin melihatmu, Bell,“


“Memangnya


kenapa?”


“Kamu setia banget


menjaga Kevin. Kamu benar-benar mencintainya?”


Bellinda menunduk.


Wajahnya bersemu dadu.


“Cindy kemana, Tin?” Bellinda memalingkan pertanyaan.


“Aku gak tahu. Dia


malah gak pernah datang jenguk Kevin,”


“Anak itu


keterlaluan. Pasti ini ulah dia, Tin,”


Jangan menyalahkan orang. Mungkin Cindy pergi karena dia tahu Kevin sudah tak


sempurna,”


Bellinda terkejut.


“Maksudmu?”


Titin menarik


nafas berat lalu menghembuskannya berlahan. “Tadi aku bertemu dokter yang


menangai Kevin. Ia divonis lumpuh oleh dokter,”


Bellinda menggigit


bibirnya. “Lumpuh?” gumamnya pelan. Matanya beralih menatap wajah Kevin.


Bellinda benar-benar tidak percaya kenyataan pahit itu.


“Vin…” Gumamnya


berat. Matanya berkaca-kaca. “Andai saja kamu mendengar kata-kata kami, kamu


gak akan begini…”


Titin


menepuk-nepuk pundak Bellinda. Ia juga turut sedih dengan apa yang dialami


Kevin. Ini benar-benar sebuah keputusan yang berat diterima Kevin.



Siang itu, Kevin siuman. Perlahan ia membuka matanya sambil memperhatikan


sekelilingnya. Pandangannya masih buram. Tapi buru-buru Titin menyapanya.


“Kamu sudah sadar, Vin?“ Tanya Titin pelan.


“Aku dimana, Tin?“


“Kamu di rumah sakit.“


“Rumah sakit? Memangnya aku kenapa?“ Tanya Kevin yang tak ingat kejadian beberapa malam


lalu.


“Kamu kecelakaan, Vin. Sudah hampir empat hari kamu nggak sadarkan diri,”


“Empat hari?“


“Ya,”


Kevin berusaha


bangkit. Tapi rasa nyeri di bagian kepalanya membuat ia memekik kesakitan.

__ADS_1


“Aww…”


“Sebaiknya kamu


istirahat saja, Vin…”


“Ahkk..!“ Kevin merintih lagi. Luka di keningnya terasa mendenyut. Tak berapa lama Kevin berusaha bangkit dari tidurnya. Dengan posisi setengah tidur. Perlahan Kevinmencoba menggerakkan


kakinya. Tapi mendadak saja ia terkejut.


“Kenapa dengan kakiku, Tin?“ Tanyanya panik. “Kakiku nggak bisa digerakin?“


“Kata dokter kamu butuh istirahat


total, Vin...“


“Istirahat total? Kenapa?“


“Urat di kakimu belum pulih. Kakimu…“ Titin memotong


kata-katanya.


“Kenapa dengan kakiku, Tin?    Aku  nggak  bisa bergerak,“ pekiknya lagi.


“Kamu harus tabah menghadapi ini semua,“


“Maksud kamu apa???“


“Kamu… Kamu lumpuh, Vin..“ Kata Titin dengan berat hati.


“Apa? Aku lumpuh?! Ini nggak mungkin, Tin…! Aku nggak mungkin


lumpuh. Aku nggak terima, Tin! Dokter… dokter….“ Pekik Kevinterus meronta.


“Sabar, Vin. Kesehatanmu belum pulih betul,“


“Aku nggak terima, Tin…“ pekik Kevin dengan suara berat seraya menangis dengan


sedih.


“Aku nggak tahu harus berkata apa sama kamu,“


Kevin menangis sambil menerawang jauh. Di benaknyasudah tidak ada lagi harapan


untuk masa depan. Harapannya telah hancur. Pasti semua temannya telah


meninggalkan dirinya begitu saja.



Senja itu Bellinda sengaja menjenguk Kevin. Tiba-tiba saja Kevin seperti kesetanan. Kevin menghardik Bellinda dan membentak Bellinda habis-habisan.


“Kamu ngapain di sini?! Kamu mau apa?!“


“Vin… Ini aku… Bellinda…”


“Kamu pikir aku buta?! Ini semua gara-gara kamu, Bell. Sekarang juga kamu pergi dari sini! Pergi!!“ bentak  Kevinkeras.


“Vin… aku hanya ingin menjengukmu,”


“Aku gak butuh


jengukanmu, Bell. Gara-gara kamu Cindy meninggalkan aku! Semua gara-gara kamu!“ Kevin semakin berang. “Keluar dari sini, keluar! Aku nggak mau melihatmulagi!“


“Vin, tenang. Jangan emosi begitu,“ tukas Titin.


“Aku nggak terima, Tin. Aku nggak terima jadi begini! Aku lumpuh! Aku nggak bisa Membayangkan hidup tanpa bisa berjalan. Kamu ngerti kan!“


“Aku ngerti, Vin. Tapi ini bukan salah Bellinda. Kita sahabatan…“


“Jelas saja salah dia. Dia yang membuat aku jadi begini, Tin. Dia yang membuat Cindy kabur dariku!“


Titin menghelah nafas dengan berat. Dilihatnya Bellindatertunduk dan menangis.


“Kamu mau apa lagi?! Apa kamu nggak dengar kalau aku bilang keluar! Keluaaaarr! Dan jangan sekali–kali kamu berani nemui aku lagi!“ bentak Kevin dengan emosi yang


tidak terkendali. Bellinda kontan saja keluar sambil sesenggukan. Ia menangis tersedu melawati


koridor. Ia menghadang


sebuah taxi.


“Kamu keterlaluan, Vin. Sekarang kamu puas?! Setelah kamu mengeluarkan emosimu yang tidak terkendali itu?! Bellinda telah


mengorbankan segalanya. Empat hari kamu nggak sadarkan diri, siapa temen kamu yang datang? nggak


ada kan? Siapa yang nemeni kamu? siapa yang menghibur perasaanmu? Bahkan Cindy yang selalu kamu  agungkan, nggak


perduli dengan keadaanmu,”


Kevin diam dengan sorot mata tajam. Ia tidak perduli dengan kata-kata Titin.


“Kamu sebaiknya berfikir, Vin. Kalau memang otakmu masih waras. Bellinda mencintaimu lebih dari segalanya.


Cinta suci dari Bellinda tidak dapat digantikan dengan cintanya Cindy ke kamu,“


Kevin tidak


berkomentar. Ia mencerna kata-kata Titin.



Dalam taxi, terlihat Bellinda menghapus


airmata. Tetes-tetes air bening itu menjadi sejarah yang pahit dalam


kehidupannya. Cinta yang telah ia pupuk dengan pengorbanan dan cobaan menjadi


sebuah kepahitan yang mendalam.


Senja telah


berganti dengan malam. Bellinda memperhatikan lampu–lampu


jalan yang mulai terang menyala. Café tenda yang berderet di tepian jalan


membuat Bellinda tersenyum kecil dengan slogan–slogan yang unik dan lucu. Tak berapa


lama suasana hening lagi. Bayangan Kevinlagi–lagi  muncul di benaknya.

__ADS_1



__ADS_2