
Ponsel Titin
berdering. Masih pagi-pagi buta. Dia menerima kabar mengejutkan dari Bellinda.
“Kevin
kecelakaan, Tin…”Kata Bellinda.
“Apa? Kevin
kecelakaan?” Titin kaget.
“Mobilnya nabrak
tembok…” Suara
Bellinda parau menahan tangis.
“Trus gimana?
Kevinnya gak apa-apa?”
“Kevin lagi dibawa
ke ruang ICU.”
“Kamu tahu dari
mana, Bell?”
“Dari Bimo,
Kakakku.”
“Kevin mabok?”
“Enggak tahu,
Tin… Mendingan kamu cepat ke rumah sakit… Aku sudah nunggu disini.”
“Iya-iya, aku
segera kesana, Bell. Kamu tenang aja ya…”
Titin buru-buru
keluar dari kamarnya. Menghadang sebuah taksi. Taksi melesat menuju rumah
sakit. Setibanya di rumah sakit Titin tergesa–gesa mencari ruang ICU. Di ruang
tunggu dia bertemu dengan Bellinda yang duduk termenung. Titin menghampiri
Bellinda yang sedih.
“Bagaimana,
Bell?” Tanya Titin.
Bella
menggeleng. “Belum tahu, Tin,”
“Kamu yang sabar
ya. Doakan saja Kevin selamat,”
Bella mengangguk
sambil menangis sedih. Dari sudut koridor terlihat Cindy tergopoh-gopoh
mendekati Bellinda. Cindy menghardik Bellinda dengan wajah memerah.
“Kamu
mau apa sekarang? Kamu puas kan melihat Kevin sekarat?!“
“Cin,
aku kemari mau melihat keadaan Kevin. Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin melihat keadaan Kevin, itu saja.“
“Alaaa,
kamu bohong! Kamu senang kan melihat Kevin kecelakaan! Kamu pasti bergembira
melihat dia mati!“
“Jaga
bicara kamu, Cin!“ Sergah Titin menengahi. “Bellinda dan Kevin sudah berteman
sejak kecil. Jadi kamu tidak tahu apa-apa tentang Kevin!”
“Oh…
jadi kamu membela Bellinda? Dasar cewek sotoy! Ini semua gara-gara kamu kan!“ ketus
Cindy sambil menujuk wajah Bellinda.
“Aku
nggak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Kevin! Jadi kamu nggak berhak
nyalahi aku, Cin!“
“Ahh,
kamu memang munafik!!”
“Huussst,
tolong jangan berisik, Mbak. Pasien sedang sekarat.“ Tiba-tiba saja
seorang perawat menghentikan perseteruan Bellinda dan Cindy. Cindy mencibir
dengan bibir sinisnya.
“Sudahlah,
Cin. Kita di sini sedang berkabung. Jangan berantem terus.“ Titin menimpali.
__ADS_1
Cindy sewot dan duduk di kursi tunggu. Wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaannya.
Perlahan Bellinda melihat keadaan Kevin dari kaca pintu.
“Viiinnn…“
Gumam Bellinda pelan dan sedih. Perlahan matanya berkaca-kaca. Ada segelintir
rindu yang menikam di dadanya. Kevin tidak seperti dulu lagi. Bellinda beranjak
dari pintu kaca, duduk di ruang tunggu. Matanya masih berkaca-kaca,
pandangannya menerawang. Ia mengingat masa kecilnya dulu bersama Kevin.
Masa-masa indah itu menumbuhkan rasa sayang yang tak pernah disadari.
Setelah
selesai menjenguk, Titin dan Bellinda bergegas pergi menuju ke kampus. Mata
Bellinda kelihatan merebak saat Titin menoleh ke arahnya. Hingga sesampianya di
kampus Bellinda hanya diam dan murung.
Sudah tiga hari Kevin tidak sadarkan diri. Bellinda selalu menjenguknya.
Mengajak Kevin ngobrol walau belum siuman. Bellinda dengan
rajin mengganti bunga- bunga yang telah layu. Ia tiba-tiba saja merasa aneh. Sejak kemarin sampai
hari ini ia tidak menemukan sosok Cindy. Kemana dia? bantin Bellinda dalam hati.
“Bell…“ tiba-tiba saja seseorang menyapanya. Bellinda menoleh.
“Titin? Sejak kapan kamu disitu? Ngejutin aja,” selahnya pelan. Titin tersenyum tipis sambil menghampiri Bellinda.
“Kita ini kan sahabat. Aku prihatin melihatmu, Bell,“
“Memangnya
kenapa?”
“Kamu setia banget
menjaga Kevin. Kamu benar-benar mencintainya?”
Bellinda menunduk.
Wajahnya bersemu dadu.
“Cindy kemana, Tin?” Bellinda memalingkan pertanyaan.
“Aku gak tahu. Dia
malah gak pernah datang jenguk Kevin,”
“Anak itu
keterlaluan. Pasti ini ulah dia, Tin,”
Jangan menyalahkan orang. Mungkin Cindy pergi karena dia tahu Kevin sudah tak
sempurna,”
Bellinda terkejut.
“Maksudmu?”
Titin menarik
nafas berat lalu menghembuskannya berlahan. “Tadi aku bertemu dokter yang
menangai Kevin. Ia divonis lumpuh oleh dokter,”
Bellinda menggigit
bibirnya. “Lumpuh?” gumamnya pelan. Matanya beralih menatap wajah Kevin.
Bellinda benar-benar tidak percaya kenyataan pahit itu.
“Vin…” Gumamnya
berat. Matanya berkaca-kaca. “Andai saja kamu mendengar kata-kata kami, kamu
gak akan begini…”
Titin
menepuk-nepuk pundak Bellinda. Ia juga turut sedih dengan apa yang dialami
Kevin. Ini benar-benar sebuah keputusan yang berat diterima Kevin.
Siang itu, Kevin siuman. Perlahan ia membuka matanya sambil memperhatikan
sekelilingnya. Pandangannya masih buram. Tapi buru-buru Titin menyapanya.
“Kamu sudah sadar, Vin?“ Tanya Titin pelan.
“Aku dimana, Tin?“
“Kamu di rumah sakit.“
“Rumah sakit? Memangnya aku kenapa?“ Tanya Kevin yang tak ingat kejadian beberapa malam
lalu.
“Kamu kecelakaan, Vin. Sudah hampir empat hari kamu nggak sadarkan diri,”
“Empat hari?“
“Ya,”
Kevin berusaha
bangkit. Tapi rasa nyeri di bagian kepalanya membuat ia memekik kesakitan.
__ADS_1
“Aww…”
“Sebaiknya kamu
istirahat saja, Vin…”
“Ahkk..!“ Kevin merintih lagi. Luka di keningnya terasa mendenyut. Tak berapa lama Kevin berusaha bangkit dari tidurnya. Dengan posisi setengah tidur. Perlahan Kevinmencoba menggerakkan
kakinya. Tapi mendadak saja ia terkejut.
“Kenapa dengan kakiku, Tin?“ Tanyanya panik. “Kakiku nggak bisa digerakin?“
“Kata dokter kamu butuh istirahat
total, Vin...“
“Istirahat total? Kenapa?“
“Urat di kakimu belum pulih. Kakimu…“ Titin memotong
kata-katanya.
“Kenapa dengan kakiku, Tin? Aku nggak bisa bergerak,“ pekiknya lagi.
“Kamu harus tabah menghadapi ini semua,“
“Maksud kamu apa???“
“Kamu… Kamu lumpuh, Vin..“ Kata Titin dengan berat hati.
“Apa? Aku lumpuh?! Ini nggak mungkin, Tin…! Aku nggak mungkin
lumpuh. Aku nggak terima, Tin! Dokter… dokter….“ Pekik Kevinterus meronta.
“Sabar, Vin. Kesehatanmu belum pulih betul,“
“Aku nggak terima, Tin…“ pekik Kevin dengan suara berat seraya menangis dengan
sedih.
“Aku nggak tahu harus berkata apa sama kamu,“
Kevin menangis sambil menerawang jauh. Di benaknyasudah tidak ada lagi harapan
untuk masa depan. Harapannya telah hancur. Pasti semua temannya telah
meninggalkan dirinya begitu saja.
Senja itu Bellinda sengaja menjenguk Kevin. Tiba-tiba saja Kevin seperti kesetanan. Kevin menghardik Bellinda dan membentak Bellinda habis-habisan.
“Kamu ngapain di sini?! Kamu mau apa?!“
“Vin… Ini aku… Bellinda…”
“Kamu pikir aku buta?! Ini semua gara-gara kamu, Bell. Sekarang juga kamu pergi dari sini! Pergi!!“ bentak Kevinkeras.
“Vin… aku hanya ingin menjengukmu,”
“Aku gak butuh
jengukanmu, Bell. Gara-gara kamu Cindy meninggalkan aku! Semua gara-gara kamu!“ Kevin semakin berang. “Keluar dari sini, keluar! Aku nggak mau melihatmulagi!“
“Vin, tenang. Jangan emosi begitu,“ tukas Titin.
“Aku nggak terima, Tin. Aku nggak terima jadi begini! Aku lumpuh! Aku nggak bisa Membayangkan hidup tanpa bisa berjalan. Kamu ngerti kan!“
“Aku ngerti, Vin. Tapi ini bukan salah Bellinda. Kita sahabatan…“
“Jelas saja salah dia. Dia yang membuat aku jadi begini, Tin. Dia yang membuat Cindy kabur dariku!“
Titin menghelah nafas dengan berat. Dilihatnya Bellindatertunduk dan menangis.
“Kamu mau apa lagi?! Apa kamu nggak dengar kalau aku bilang keluar! Keluaaaarr! Dan jangan sekali–kali kamu berani nemui aku lagi!“ bentak Kevin dengan emosi yang
tidak terkendali. Bellinda kontan saja keluar sambil sesenggukan. Ia menangis tersedu melawati
koridor. Ia menghadang
sebuah taxi.
“Kamu keterlaluan, Vin. Sekarang kamu puas?! Setelah kamu mengeluarkan emosimu yang tidak terkendali itu?! Bellinda telah
mengorbankan segalanya. Empat hari kamu nggak sadarkan diri, siapa temen kamu yang datang? nggak
ada kan? Siapa yang nemeni kamu? siapa yang menghibur perasaanmu? Bahkan Cindy yang selalu kamu agungkan, nggak
perduli dengan keadaanmu,”
Kevin diam dengan sorot mata tajam. Ia tidak perduli dengan kata-kata Titin.
“Kamu sebaiknya berfikir, Vin. Kalau memang otakmu masih waras. Bellinda mencintaimu lebih dari segalanya.
Cinta suci dari Bellinda tidak dapat digantikan dengan cintanya Cindy ke kamu,“
Kevin tidak
berkomentar. Ia mencerna kata-kata Titin.
Dalam taxi, terlihat Bellinda menghapus
airmata. Tetes-tetes air bening itu menjadi sejarah yang pahit dalam
kehidupannya. Cinta yang telah ia pupuk dengan pengorbanan dan cobaan menjadi
sebuah kepahitan yang mendalam.
Senja telah
berganti dengan malam. Bellinda memperhatikan lampu–lampu
jalan yang mulai terang menyala. Café tenda yang berderet di tepian jalan
membuat Bellinda tersenyum kecil dengan slogan–slogan yang unik dan lucu. Tak berapa
lama suasana hening lagi. Bayangan Kevinlagi–lagi muncul di benaknya.
__ADS_1