
Suara menderu terdengar membahana di malam itu. Gibran duduk
di atas sepeda motor dengan pandangan fokus ke depan. Di matanya hanya ada
wajah Jack yang ingin ia habisi. Wajah
itu bermain-main di matanya seraya kenangan dua tahun lalu yang ikut bermain-main
di mata Gibran. Bagaimana mereka menendang motor Gibran hingga terhempas dan
bagaimana mereka menyetubuhi kekasihnya
dengan kejih dan membunuhnya. Gibran tidak bisa memaafkan kejadian itu.
Malam itu arena balapan sangat ramai
dengan anak-anak genk motor yang usianya masih belasan tahun dan dua puluh
tahunan. Beberapa teman Jack juga berada di sana. Mereka minum-minuman keras dan ada juga yang menghaisap ganja.
Sementara Maryati merasa cemas di ruang
tamu. Ia meremas-remas jemari tangannya sambil mondar-mandir. Ia tidak
menemukan Gibran di kamarnya. Papa belum
kembali dari kantor. Pikiran Maryati semakin tidak menentu. Ia mengambil
ponselnya dan segera menghubungi Titin.
“Tin, Gibran tidak ada di kamarnya.”
Ucapnya dengan suara cemas. “Tante khawatir Gibran pergi ke balapan liar.”
“Tenang, Tante. Serahkan sama saya. Saya
akan mencari Gibran.”
“Bantu tante, Tin.”
“Iya, Tante.” Jawab Titin sambil
mengakhiri pembicaraannya. Titin menutup ponselnya dan keluar dari rumah.
“Kamu mau kemana, Tin?” tanya Dewa ketika Titin
mengambil helm dari atas buffet.
“Mau cari angin. Emang kenapa?”
“Ini udah malam, Tin. Gak perlulah kamu
cari angin di luar. Kamu mau ugal-ugalan lagi kan?”
“Udahlah, abang gak usah ikut campur!” Kata
Titin ketus.
Tinti beranjak ke garasi dan mengeluarkan
motornya. Seperti biasa ia menyalakan motor dengan suara yang menderu keras.
Brumm… Titin tancap gas melaju di jalan
hitam sebelum Dewa menghalangi niatnya. Dewa hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Sorak-sorak anak genk motor membahana
malam itu. Terlihat Jack dan teman-temannya di sana. Suara motor yang menderu-deru
membuat keributan di malam itu. Beberapa motor sudah ada di garis start.
Gibran yang juga tiba di arena balapan
memperhatikan wajah-wajah para genk motor yang ikut lomba. Wajah-wajah sangar
yang membuat orang bergidik bila melihatnya. Gibran memarkirkan motornya di
__ADS_1
pinggir jalan sambil duduk di bangku belakang.
Suara riuh kembali terdengar. Kini terdengar
suara Jack yang memandu balapan. Jack memegang peluit sambil mengacungkan
bendera ke angkasa. Ia mulai menghitung mundul. 5, 4, 3, 2, 1 go! Semua pembalap
berpacu dan mengeberkan sepeda motornya. Mereka melaju kencang di jalan hitam
sambil membuat gaya yang sedemikian rupa.
Mata Gibran memperhatikan Jack yang tengah
tertawa bersama teman lainnya. Minuman keras terdeletak di sebuah meja kecil di
sudut lapangan. Gibran menekuk jemari tangannya hingga menimbulakn suara. Sementara
Titin mencari keberadaa Gibran di mana posisinya. Titin celingukan mencari
sosok Gibran. Dia tidak menemukan cowok itu.
Lima belas menit kemudian, suara serine
polisi mengagetkan semuanya. Jack dan teman-temannya sibuk mencari sepeda motor
dan Titin segera menyalakn motornya. Gibran yang juga mendengar suara mobil
polisi langsung mengejar sosok Jack.
Semua kocar-kacir menyelamatkan diri
masing-masing. Beberapa polisi berhasil menangkap sebagian anak genk motor dan
menangkap sebagian yang mengonsumsi sabu. Sebagian polisi mengejar anak genk
motor yang melarikan diri. Gibran masih blingsatan mengejar Jack yang melarikan
diri.
Titin melihat Gibran yang mengejar Jack. Ia langsung mengikuti motor Gibran dan berusaha
mengejarnya. Aksi kejar-kejaran pun berlangsung di jalan raya.
beberapa kendaraan. Sedangkan Jack terus melaju kencang. Dendam di hati Gibran semakin
memabara. Ia ingin segera menghabisi Jack dan mengejar laki-laki itu sampai
dapat.
Motor Jack berbelok ke kanan, di malan
jalanan sudah sepi. Malam semakin larut dan motor Gibran menyerempet motor Jack.
Gibran menendang motor Jack hingga motor cowok itu oleng dan terhempas di badan
jalan. Jack terpelanting di jalan beberapa meter. Ia kesakitan dan bangkit
dengan tertatih. Gibran menghentikan sepeda motornya dan mengambil sebatang
besi yang dibawanya. Gibran menghampiri Jack sambil menyeret batang beli di
jalan aspal. Besi itu menimbulakas suara yang mendecit.
Jack membuka penutup helmnya dan
memperhatikan cowok yang menghampirinya. Jack bergerak mundur ketika sadar
kalau cowok di depannya adalah cowok yang diceritakan Titin.
“Tolong jangan bunuh aku!” Kata Jack dengan
suara gemetar. Gibran mengayunkan besi ke angkasa dan ingin memukul Jack. Tapi suara
Titin menghentikannya.
“Gibraan! Jangan!” Teriak Titin sambil
menghentikan sepeda motornya. “ku mohon Gibran, jangan lakukan itu. Biar hukum yang
__ADS_1
membalaskan dendammu!”
Wajah Gibran masih memerah dan mengingat
semua perlakuan Jack dan teman-temannya. Gibran tidak perduli dan menendang
wajah Jack dengan kaki kanannya. Darah muncrat dari hidung Jack.
“Aku mohon maafkan aku, Gibran.” Kata Jack
memohon.
“Gibran! Please, aku mohon!” Kata Titin yang
terlihat panik.
Malam terasa panas dengan dendam yang
membara. Titin sangat bingung harus bagaimana. Gibran terus saja menghajar Jack.
Sementara ada dua motor yang menghampiri
tempat mereka. Kedua motor itu adalah polisi yang mengejar anak genk motor. Gibran
mengacungkan tangannya ke atas dan memukul Jack menggunakan bongkahan besi.
“Jangan bergerak!” Tiba-tiba suara itu
membahan dan mereka mengarahkan pistol ke Gibran.
“Gibran!! Berhenti!” Teriak Titin lagi.
Gibran tidak peduli dan memukul Jack
hingga cowok itu menghentikan nafasnya.
DOOORR!!! Suara pistol membahana dan
mengenai punggung Gibran. Gibran pun roboh dan Titin menjerit histeris. Gibran
tewas di tangan polisi.
“GIBRAANN!!! TIDAAAK!!”
Titin duduk termenung di mobil polisi. Ia tidak
bisa menyelamatkan Gibran dan ia tidak bisa harus menghadapi Maryati yang
berharap padanya dengan keselamatan Gibran. Sepanjang perjalanan ke kantor
polisi, Titin hanya termenung dan menunduk. Titin tidak sanggup untuk
menghubungi Maryati.
Setelah diproses di kantor polisi, Titin
diperbolehkan pulang. Titin langsung ke rumah sakit untuk melihat jenaza Gibran.
Dan tak lama ia keluar, Titin tiba di rumah sakit. Titin bertemu dengan Maryati
yang menangis tersedu di kursi dekat kamar mayat. Titin menghampri dengan
perlahan.
“Maaf kan saya, tante. Saya tidak bisa
menyelamatkan Gibran.” Ucapnya sendu. Maryati menoleh menatap Titin dengan
berat.
“Semuanya sudah terjadi, Tin. Ini sudah
takdir anak tante. Tante tida menyalahkan kamu.” Kata Maryati sambil menghapus
airmatanya dengan tisu.
Suasana haru pun menyergap di rumah sakit.
__ADS_1
Gibran pergi untuk selamanya setelah membalaskan dendamnya.