TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 33


__ADS_3

Suara menderu terdengar membahana di malam itu. Gibran duduk


di atas sepeda motor dengan pandangan fokus ke depan. Di matanya hanya ada


wajah Jack yang ingin ia habisi. Wajah


itu bermain-main di matanya seraya kenangan dua tahun lalu yang ikut bermain-main


di mata Gibran. Bagaimana mereka menendang motor Gibran hingga terhempas dan


bagaimana mereka menyetubuhi  kekasihnya


dengan kejih dan membunuhnya. Gibran tidak bisa memaafkan kejadian itu.


Malam itu arena balapan sangat ramai


dengan anak-anak genk motor yang usianya masih belasan tahun dan dua puluh


tahunan. Beberapa teman Jack juga berada di sana. Mereka minum-minuman  keras dan ada juga yang menghaisap ganja.


Sementara Maryati merasa cemas di ruang


tamu. Ia meremas-remas jemari tangannya sambil mondar-mandir. Ia tidak


menemukan Gibran di kamarnya. Papa  belum


kembali dari kantor. Pikiran Maryati semakin tidak menentu. Ia mengambil


ponselnya dan segera menghubungi Titin.


“Tin, Gibran tidak ada di kamarnya.”


Ucapnya dengan suara cemas. “Tante khawatir Gibran pergi ke balapan liar.”


“Tenang, Tante. Serahkan sama saya. Saya


akan mencari Gibran.”


“Bantu tante, Tin.”


“Iya, Tante.” Jawab Titin sambil


mengakhiri pembicaraannya. Titin menutup ponselnya dan keluar dari rumah.


“Kamu mau kemana, Tin?” tanya Dewa ketika Titin


mengambil helm dari atas buffet.


“Mau cari angin. Emang kenapa?”


“Ini udah malam, Tin. Gak perlulah kamu


cari angin di luar. Kamu mau ugal-ugalan lagi kan?”


“Udahlah, abang gak usah ikut campur!” Kata


Titin ketus.


Tinti beranjak ke garasi dan mengeluarkan


motornya. Seperti biasa ia menyalakan motor dengan suara yang menderu keras.


Brumm… Titin tancap gas melaju di jalan


hitam sebelum Dewa menghalangi niatnya. Dewa hanya menggeleng-gelengkan kepala.



Sorak-sorak anak genk motor membahana


malam itu. Terlihat Jack dan teman-temannya di sana. Suara motor yang menderu-deru


membuat keributan di malam itu. Beberapa motor sudah ada di garis start.


Gibran yang juga tiba di arena balapan


memperhatikan wajah-wajah para genk motor yang ikut lomba. Wajah-wajah sangar


yang membuat orang bergidik bila melihatnya. Gibran memarkirkan motornya di

__ADS_1


pinggir jalan sambil duduk di bangku belakang.


Suara riuh kembali terdengar. Kini terdengar


suara Jack yang memandu balapan. Jack memegang peluit sambil mengacungkan


bendera ke angkasa. Ia mulai menghitung mundul. 5, 4, 3, 2, 1 go! Semua pembalap


berpacu dan mengeberkan sepeda motornya. Mereka melaju kencang di jalan hitam


sambil membuat gaya yang sedemikian rupa.


Mata Gibran memperhatikan Jack yang tengah


tertawa bersama teman lainnya. Minuman keras terdeletak di sebuah meja kecil di


sudut lapangan. Gibran menekuk jemari tangannya hingga menimbulakn suara. Sementara


Titin mencari keberadaa Gibran di mana posisinya. Titin celingukan mencari


sosok Gibran. Dia tidak menemukan cowok itu.


Lima belas menit kemudian, suara serine


polisi mengagetkan semuanya. Jack dan teman-temannya sibuk mencari sepeda motor


dan Titin segera menyalakn motornya. Gibran yang juga mendengar suara mobil


polisi langsung mengejar sosok Jack.


Semua kocar-kacir menyelamatkan diri


masing-masing. Beberapa polisi berhasil menangkap sebagian anak genk motor dan


menangkap sebagian yang mengonsumsi sabu. Sebagian polisi mengejar anak genk


motor yang melarikan diri. Gibran masih blingsatan mengejar Jack yang melarikan


diri.


Titin melihat Gibran yang mengejar Jack. Ia  langsung mengikuti motor Gibran dan berusaha


mengejarnya. Aksi kejar-kejaran pun berlangsung di jalan raya.


beberapa kendaraan. Sedangkan Jack terus melaju kencang. Dendam di hati Gibran semakin


memabara. Ia ingin segera menghabisi Jack dan mengejar laki-laki itu sampai


dapat.


Motor Jack berbelok ke kanan, di malan


jalanan sudah sepi. Malam semakin larut dan motor Gibran menyerempet motor Jack.


Gibran menendang motor Jack hingga motor cowok itu oleng dan terhempas di badan


jalan. Jack terpelanting di jalan beberapa meter. Ia kesakitan dan bangkit


dengan tertatih. Gibran menghentikan sepeda motornya dan mengambil sebatang


besi yang dibawanya. Gibran menghampiri Jack sambil menyeret batang beli di


jalan aspal. Besi itu menimbulakas suara yang mendecit.


Jack membuka penutup helmnya dan


memperhatikan cowok yang menghampirinya. Jack bergerak mundur ketika sadar


kalau cowok di depannya adalah cowok yang diceritakan Titin.


“Tolong jangan bunuh aku!” Kata Jack dengan


suara gemetar. Gibran mengayunkan besi ke angkasa dan ingin memukul Jack. Tapi suara


Titin menghentikannya.


“Gibraan! Jangan!” Teriak Titin sambil


menghentikan sepeda motornya. “ku mohon Gibran, jangan lakukan itu. Biar hukum yang

__ADS_1


membalaskan dendammu!”


Wajah Gibran masih memerah dan mengingat


semua perlakuan Jack dan teman-temannya. Gibran tidak perduli dan menendang


wajah Jack dengan kaki kanannya. Darah muncrat dari hidung Jack.


“Aku mohon maafkan aku, Gibran.” Kata Jack


memohon.


“Gibran! Please, aku mohon!” Kata Titin yang


terlihat panik.


Malam terasa panas dengan dendam yang


membara. Titin sangat bingung harus bagaimana. Gibran terus saja menghajar Jack.


Sementara ada dua motor yang  menghampiri


tempat mereka. Kedua motor itu adalah polisi yang mengejar anak genk motor. Gibran


mengacungkan tangannya ke atas dan memukul Jack menggunakan bongkahan besi.


“Jangan bergerak!” Tiba-tiba suara itu


membahan dan mereka mengarahkan pistol ke Gibran.


“Gibran!! Berhenti!” Teriak Titin lagi.


Gibran tidak peduli dan memukul Jack


hingga cowok itu menghentikan nafasnya.


DOOORR!!! Suara pistol membahana dan


mengenai punggung Gibran. Gibran pun roboh dan Titin menjerit histeris. Gibran


tewas di tangan polisi.


“GIBRAANN!!!  TIDAAAK!!”



Titin duduk termenung di mobil polisi. Ia tidak


bisa menyelamatkan Gibran dan ia tidak bisa harus menghadapi Maryati yang


berharap padanya dengan keselamatan Gibran. Sepanjang perjalanan ke kantor


polisi, Titin hanya termenung dan menunduk. Titin tidak sanggup untuk


menghubungi Maryati.


Setelah diproses di kantor polisi, Titin


diperbolehkan pulang. Titin langsung ke rumah sakit untuk melihat jenaza Gibran.


Dan tak lama ia keluar, Titin tiba di rumah sakit. Titin bertemu dengan Maryati


yang menangis tersedu di kursi dekat kamar mayat. Titin menghampri dengan


perlahan.


“Maaf kan saya, tante. Saya tidak bisa


menyelamatkan Gibran.” Ucapnya sendu. Maryati menoleh menatap Titin dengan


berat.


“Semuanya sudah terjadi, Tin. Ini sudah


takdir anak tante. Tante tida menyalahkan kamu.” Kata Maryati sambil menghapus


airmatanya dengan tisu.


Suasana haru pun menyergap di rumah sakit.

__ADS_1


Gibran pergi untuk selamanya setelah membalaskan dendamnya.



__ADS_2