TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 16


__ADS_3

Maryati sedang sibuk di kebun bunganya. Ia menyemprot bunga-bunga yang mulai mekar dan


mengumpati serangga-serangga kecil yang berpesta pora di antara batang dan daun


Mawar. Ia mengganti polybag yang rusak dengan yang baru. Memberi pupuk ke


tanaman anggreknya yang beraneka ragam.


Deru suara mesin motor gede milik Titin mencuri perhatiannya. Motor gede  warna merah berhenti di


depan toko dengan posisi sejajar dengan tulisan MARYATI FLORIST. Maryati menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan


penyemprot di atas meja dan memerhatikan seseorang yang turun dari motor. Seorang gadis dengan setelan yang modis berjalan


sambil menyandang tas.


“Titin…” Gumamnya pelan.


Maryati


beranjak dari tempatnya. Ia melepas sarung tangan dan meletakkannya di atas


kayu penyangga. Sejenak ia melihat penampilannya di cermin oval yang terletak


di sisi pintu masuk, terbuat dari kayu jati berukir. Maryati merapikan


rambutnya yang sedikit bergelombang, lalu ia membuka pintu dan menyambut


kehadiran Titin dengan senyum mengembang.


“Selmat pagi, Tante...” Sapa Titin ramah.


“Selamat pagi juga, Tin. Tumben kamu


datang.  Maaf, tadi


tante masih asyik di kebun, jadi belum merapikan diri.” Ujarnya.


“Tidak


apa-apa, Tante. Kebetulan saya tidak ada mata kuliah hari ini.  Dari pada saya bengong di rumah, lebih baik saya berkunjung ke rumah tante. Saya ingin melihat bunga-bunga yang ada di toko tante ini. Selain itu, Titin juga pengen ketemu dengan Gibran.” Ucap Titin.


“Gibran? Kamu tau dari mana anak tante


namanya Gibran?”


“Saya kemarin kan pinjam buku harian anak tante.”


“Ohh… dengan senang hati.


Mari silahkan masuk, Tin."  Ujarnya ramah.


“Terima


kasih, Tante.” Titin mengangguk dengan senyuman.


Mereka


berjalan memasuki kebun bunga milik Maryati. Batu-batu sungai tersusun rapi di


injakan tanah dan mengarah ke sebuah gazebo. Patung seorang anak dengan bentuk


yang sangat indah terletak di tengah taman. Mengeluarkan air mancur di vas yang


dipegangnya dan sebuah kolam kecil dengan ikan hias berwarna kemerahan.


Titin berdecak kagum


memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman. Bermacam jenis Anggrek,


Lily, Mawar, Anthurium dan banyak lagi. Maryati merawatnya sangat sempurna.


Rangkaian-rangkaian bunganya bisa diacungi jempol.


Di sebuah gazebo, Maryati mempersilahkan Titin duduk sambil menikmati


hembusan angin dan panorama taman. Rangkaian Anggrek dan Lily terlihat apik di


sudut lemari hias. Maryati yang merangkai bunga-bunga itu dengan gaya seni


menarik.


Titin memperhatikan beberapa


rangkaian Maryati yang sangat elegan. Ingin juga ia memiliki toko bunga seperti


Maryati. Apalagi ia sangat menyukai bunga-bunga tropis dan impor.


“Sudah dua tahun Gibran kehilangan semangat hidup. Ia mengalami depresi berat, Tin...


Dia juga hilang ingatan jangka pendek. Saya khawatir dengan keadaanya dan takut


semakin buruk. Saya ingin ada seseorang yang menemaninya.”

__ADS_1


“Izinkan saya bertemu dengan Gibran, Tante.”


“Baik, sebentar saya panggilkan dulu.” Ucapnya seraya beranjak dari tempat duduk, kemudian ia masuk ke


dalam rumah dan meninggalkan Titin.


Maryati


menuju ruang lukis anaknya dan memerhatikan lukisan di papan penyangga. Ia


tersenyum tipis.


“Sempurna.


Cantik.” Suara Maryati membuyarkan lamunan Gibran yang sedari tadi asyik


mengamati lukisannya. Lukisan seorang gadis berambut panjang tergerai dengan


balutan satin biru sedang bermain biola. Gibran menoleh ke arah perempuan baya


itu dengan pandangan sendu. Ia tidak berekspresi apa pun sebagai interaksi


lawan bicaranya. Wajahnya tetap sama. Datar seperti kemarin-kemarin.


“Siapa


gadis itu?” tanya Maryati ingin tahu.


Gibran


meletakkan kuasnya di atas meja, lalu menatap ibunya dengan pandangan lembut.


Tidak ada yang tersirat di wajah itu.


“Bukan


siapa-siapa, Ma. Gadis itu selalu ada dalam mimpi Gibran.” Jawabnya singkat.


Maryati


tersenyum tipis sambil menghampiri Gibran. Putra satu-satunya yang


dipertahankan sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu. Sejak mertuanya mengusir


dari rumah. Pernikahannya tidak disetujui dan ibu mertuanya berusaha


memisakhakn ia dengan suaminya.


Maryati


menatap Maryati dengan lekat.


“Mungkin


hanya bunganya tidur, Gibran…”


“Tapi


selalu hadir dalam mimpi Gibran, Ma…”


“Sudahlah, Gibran. Mama nggak mau kamu terus-terusan seperti ini. Mama sudah tua


dan mama nggak mau kamu menderita. Mama membawa seseorang untuk menemani


hari-harimu. Semoga saja Gibran bisa terhibur.”


Gibran


diam, lalu mengambil bola kristal di atas meja. Ia memainkan bola itu dengan


satu tangannya. Ia tertunduk dan diam.


“Siapa


orang itu, Ma?” tanyanya datar.


“Titin namanya. Ia gadis yang cantik dan baik. Gibran pasti suka.”


Gibran


kembali terdiam, lalu berujar dengan berat. “Gibran


nggak mau ketemu siapa-siapa, Ma.” Ujarnya.


“Gibran,


sampai kapan kamu mengurung diri seperti ini? Mama khawatir tidak bisa menemani


kamu selamanya. Mama membawa Titinuntuk menemanimu. Yuk, temui dia…”


Gibran


diam saja ketika Maryati mengamit jemari tangannya, lalu menarik Gibran keluar

__ADS_1


dari galerinya. Beberapa menit kemudian Maryati keluar bersama Gibran menemui Titin.


Titin sedikit terkejut melihat


seorang cowok bersama Maryati dengan wajah sangat berbeda dari foto di buku hariannya. Cowok tampan itu kini


menjadi cowok yang tidak memliki gairah hidup.  Namun, ia masih punya dendam. Dendam kedapa orang-orang yang telah


membuatnya jadi seperti itu.


“Tin… Kenalkan ini Gibran, putra saya.” Ucap Maryati memperkenalkan.


Titin tersenyum dan menyambut


kehadiran Gibran. Wajah Gibran tetap sama, datar dan tidak memberikan kesan


manis. Titinmengulurkan tangannya.


“Titin … Kristina lengkapnya.” Ucapnya lembut.


Gibran menyambut tangan Titin dengan ekspresi biasa-biasa saja.


“Gibran…”


Sambutnya, seraya menarik tangannya kembali.


Gibran


buru-buru beranjak meninggalkan Titin dan Maryati, lalu masuk ke


kamar dan membanting pintu dengan keras.


JEDAAAR...


Maryati


tercengang melihat kelakuan Gibran. Ia berusaha tersenyum ke Titin.


“Hh…


maafkan putra saya, Tin. Kelakuannya memang begitu. Lama-lama juga dia bisa akrab kok.”


Ucap Maryati merasa tidak enak ke Titin.


“Nggak


apa-apa, Tante. Saya mengerti keadaan Gibran. Tapi, apa yang terjadi dengannya?”


Maryati


duduk di kursi. Diikuti Titin yang duduk di depannya sambil mendengarkan cerita


Maryati tentang putranya. Maryati menghela nafas, lalu menceritakan semua tentang Gibran.


Dua tahun yang lalu Gibran mengalami kecelakaan, tepatnya bukan


kecelakaan, tapi dibegal oleh sekelompok genk motor. Gibran kehilangan kekasih


yang sangat ia sayangi. Untung nyawa Gibran bisa diselamatkan. Dan kini Gibran


menyimpan dendam kepada sekelompok genk motor.


“Izinkan saya menemani Gibran, tante.”


“Kamu tidak keberatan?”


Titin menggeleng. “Saya kasihan melihatnya. Saya akan berusaha membuat


Gibran bangkit lagi.”


“Terima kasih, Nak Titin. Kamu baik sekali. Saya harap kamu tidak bosan menemani Gibran.”


“Saya akan berusaha semampu saya, tante.


Kalau begitu besok saya akan menemani Gibran. Saya permisi dulu, tante.”


“Ya.”


Titin berjalan meninggalkan


gazebo menuju motornya yang diparkir di depan. Dari dalam kamar, Gibran


mengintai Titin lewat celah jendela. Ia memperhatikan gadis itu dengan lekat lalu


mengambil bola kristal di atas meja dan memainkannya berulang-ulang. Titin menyalakan motornya lalu melirik sekilas ke jendela kamar Gibran. Gibran


buru-buru menutup gorden jendela.


Maryati


melambaikan tangan saat motor Titin meninggalkan toko bunganya dengan serpihan asap knalpot. Besar


harapan Maryati agar Titin mau membantu Gibran menemukan jati dirinya. Ia

__ADS_1


tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya. Sedikit merapikan meja dan menata


ulang rangkaian bunganya.


__ADS_2