
Maryati sedang sibuk di kebun bunganya. Ia menyemprot bunga-bunga yang mulai mekar dan
mengumpati serangga-serangga kecil yang berpesta pora di antara batang dan daun
Mawar. Ia mengganti polybag yang rusak dengan yang baru. Memberi pupuk ke
tanaman anggreknya yang beraneka ragam.
Deru suara mesin motor gede milik Titin mencuri perhatiannya. Motor gede warna merah berhenti di
depan toko dengan posisi sejajar dengan tulisan MARYATI FLORIST. Maryati menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan
penyemprot di atas meja dan memerhatikan seseorang yang turun dari motor. Seorang gadis dengan setelan yang modis berjalan
sambil menyandang tas.
“Titin…” Gumamnya pelan.
Maryati
beranjak dari tempatnya. Ia melepas sarung tangan dan meletakkannya di atas
kayu penyangga. Sejenak ia melihat penampilannya di cermin oval yang terletak
di sisi pintu masuk, terbuat dari kayu jati berukir. Maryati merapikan
rambutnya yang sedikit bergelombang, lalu ia membuka pintu dan menyambut
kehadiran Titin dengan senyum mengembang.
“Selmat pagi, Tante...” Sapa Titin ramah.
“Selamat pagi juga, Tin. Tumben kamu
datang. Maaf, tadi
tante masih asyik di kebun, jadi belum merapikan diri.” Ujarnya.
“Tidak
apa-apa, Tante. Kebetulan saya tidak ada mata kuliah hari ini. Dari pada saya bengong di rumah, lebih baik saya berkunjung ke rumah tante. Saya ingin melihat bunga-bunga yang ada di toko tante ini. Selain itu, Titin juga pengen ketemu dengan Gibran.” Ucap Titin.
“Gibran? Kamu tau dari mana anak tante
namanya Gibran?”
“Saya kemarin kan pinjam buku harian anak tante.”
“Ohh… dengan senang hati.
Mari silahkan masuk, Tin." Ujarnya ramah.
“Terima
kasih, Tante.” Titin mengangguk dengan senyuman.
Mereka
berjalan memasuki kebun bunga milik Maryati. Batu-batu sungai tersusun rapi di
injakan tanah dan mengarah ke sebuah gazebo. Patung seorang anak dengan bentuk
yang sangat indah terletak di tengah taman. Mengeluarkan air mancur di vas yang
dipegangnya dan sebuah kolam kecil dengan ikan hias berwarna kemerahan.
Titin berdecak kagum
memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman. Bermacam jenis Anggrek,
Lily, Mawar, Anthurium dan banyak lagi. Maryati merawatnya sangat sempurna.
Rangkaian-rangkaian bunganya bisa diacungi jempol.
Di sebuah gazebo, Maryati mempersilahkan Titin duduk sambil menikmati
hembusan angin dan panorama taman. Rangkaian Anggrek dan Lily terlihat apik di
sudut lemari hias. Maryati yang merangkai bunga-bunga itu dengan gaya seni
menarik.
Titin memperhatikan beberapa
rangkaian Maryati yang sangat elegan. Ingin juga ia memiliki toko bunga seperti
Maryati. Apalagi ia sangat menyukai bunga-bunga tropis dan impor.
“Sudah dua tahun Gibran kehilangan semangat hidup. Ia mengalami depresi berat, Tin...
Dia juga hilang ingatan jangka pendek. Saya khawatir dengan keadaanya dan takut
semakin buruk. Saya ingin ada seseorang yang menemaninya.”
__ADS_1
“Izinkan saya bertemu dengan Gibran, Tante.”
“Baik, sebentar saya panggilkan dulu.” Ucapnya seraya beranjak dari tempat duduk, kemudian ia masuk ke
dalam rumah dan meninggalkan Titin.
Maryati
menuju ruang lukis anaknya dan memerhatikan lukisan di papan penyangga. Ia
tersenyum tipis.
“Sempurna.
Cantik.” Suara Maryati membuyarkan lamunan Gibran yang sedari tadi asyik
mengamati lukisannya. Lukisan seorang gadis berambut panjang tergerai dengan
balutan satin biru sedang bermain biola. Gibran menoleh ke arah perempuan baya
itu dengan pandangan sendu. Ia tidak berekspresi apa pun sebagai interaksi
lawan bicaranya. Wajahnya tetap sama. Datar seperti kemarin-kemarin.
“Siapa
gadis itu?” tanya Maryati ingin tahu.
Gibran
meletakkan kuasnya di atas meja, lalu menatap ibunya dengan pandangan lembut.
Tidak ada yang tersirat di wajah itu.
“Bukan
siapa-siapa, Ma. Gadis itu selalu ada dalam mimpi Gibran.” Jawabnya singkat.
Maryati
tersenyum tipis sambil menghampiri Gibran. Putra satu-satunya yang
dipertahankan sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu. Sejak mertuanya mengusir
dari rumah. Pernikahannya tidak disetujui dan ibu mertuanya berusaha
memisakhakn ia dengan suaminya.
Maryati
menatap Maryati dengan lekat.
“Mungkin
hanya bunganya tidur, Gibran…”
“Tapi
selalu hadir dalam mimpi Gibran, Ma…”
“Sudahlah, Gibran. Mama nggak mau kamu terus-terusan seperti ini. Mama sudah tua
dan mama nggak mau kamu menderita. Mama membawa seseorang untuk menemani
hari-harimu. Semoga saja Gibran bisa terhibur.”
Gibran
diam, lalu mengambil bola kristal di atas meja. Ia memainkan bola itu dengan
satu tangannya. Ia tertunduk dan diam.
“Siapa
orang itu, Ma?” tanyanya datar.
“Titin namanya. Ia gadis yang cantik dan baik. Gibran pasti suka.”
Gibran
kembali terdiam, lalu berujar dengan berat. “Gibran
nggak mau ketemu siapa-siapa, Ma.” Ujarnya.
“Gibran,
sampai kapan kamu mengurung diri seperti ini? Mama khawatir tidak bisa menemani
kamu selamanya. Mama membawa Titinuntuk menemanimu. Yuk, temui dia…”
Gibran
diam saja ketika Maryati mengamit jemari tangannya, lalu menarik Gibran keluar
__ADS_1
dari galerinya. Beberapa menit kemudian Maryati keluar bersama Gibran menemui Titin.
Titin sedikit terkejut melihat
seorang cowok bersama Maryati dengan wajah sangat berbeda dari foto di buku hariannya. Cowok tampan itu kini
menjadi cowok yang tidak memliki gairah hidup. Namun, ia masih punya dendam. Dendam kedapa orang-orang yang telah
membuatnya jadi seperti itu.
“Tin… Kenalkan ini Gibran, putra saya.” Ucap Maryati memperkenalkan.
Titin tersenyum dan menyambut
kehadiran Gibran. Wajah Gibran tetap sama, datar dan tidak memberikan kesan
manis. Titinmengulurkan tangannya.
“Titin … Kristina lengkapnya.” Ucapnya lembut.
Gibran menyambut tangan Titin dengan ekspresi biasa-biasa saja.
“Gibran…”
Sambutnya, seraya menarik tangannya kembali.
Gibran
buru-buru beranjak meninggalkan Titin dan Maryati, lalu masuk ke
kamar dan membanting pintu dengan keras.
JEDAAAR...
Maryati
tercengang melihat kelakuan Gibran. Ia berusaha tersenyum ke Titin.
“Hh…
maafkan putra saya, Tin. Kelakuannya memang begitu. Lama-lama juga dia bisa akrab kok.”
Ucap Maryati merasa tidak enak ke Titin.
“Nggak
apa-apa, Tante. Saya mengerti keadaan Gibran. Tapi, apa yang terjadi dengannya?”
Maryati
duduk di kursi. Diikuti Titin yang duduk di depannya sambil mendengarkan cerita
Maryati tentang putranya. Maryati menghela nafas, lalu menceritakan semua tentang Gibran.
Dua tahun yang lalu Gibran mengalami kecelakaan, tepatnya bukan
kecelakaan, tapi dibegal oleh sekelompok genk motor. Gibran kehilangan kekasih
yang sangat ia sayangi. Untung nyawa Gibran bisa diselamatkan. Dan kini Gibran
menyimpan dendam kepada sekelompok genk motor.
“Izinkan saya menemani Gibran, tante.”
“Kamu tidak keberatan?”
Titin menggeleng. “Saya kasihan melihatnya. Saya akan berusaha membuat
Gibran bangkit lagi.”
“Terima kasih, Nak Titin. Kamu baik sekali. Saya harap kamu tidak bosan menemani Gibran.”
“Saya akan berusaha semampu saya, tante.
Kalau begitu besok saya akan menemani Gibran. Saya permisi dulu, tante.”
“Ya.”
Titin berjalan meninggalkan
gazebo menuju motornya yang diparkir di depan. Dari dalam kamar, Gibran
mengintai Titin lewat celah jendela. Ia memperhatikan gadis itu dengan lekat lalu
mengambil bola kristal di atas meja dan memainkannya berulang-ulang. Titin menyalakan motornya lalu melirik sekilas ke jendela kamar Gibran. Gibran
buru-buru menutup gorden jendela.
Maryati
melambaikan tangan saat motor Titin meninggalkan toko bunganya dengan serpihan asap knalpot. Besar
harapan Maryati agar Titin mau membantu Gibran menemukan jati dirinya. Ia
__ADS_1
tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya. Sedikit merapikan meja dan menata
ulang rangkaian bunganya.