TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 25


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Kevin


belum juga tidur. Dia masih berkutat di meja belajarnya. Kevin


memperhatikan sudut-sudut kamar. Tampak cukup luas. Ada tempat tidur terbuat dari kayu jati,


satu lemari baju berukuran sedang dan satu meja belajar. Di


pojok kamar terlihat 2 buah tongkat penyangga kaki. Kevin tertunduk saat


melihat tongkat itu yang teronggok diam. Mata Kevin memperhatikan sebuah vigura di dinding kamarnya.Foto Kevin dengan dua sahabat


karibnya, Titin dan Bellinda.


Tanpa dapat dicegah kenangan pahit muncul dalam benaknya.


Kevin teringat kekonyolannya, kesalahan-kesalahannya hingga dia harus


kehilangan gadis yang tulus mencintainya. Kevin kecelakaan dan


lumpuh.


“Bangsaaatt!! Begoook!


Toloooool!” Kevin berteriak dengan emosinya. Dia memporak porandakan isi


kamarnya dan menangis.


PRAAANN... PRAAAKKK..


Buku-buku


dan vigura jatuh ke lantai lalu pecah berserakan. Kevin terpaku sesaat. Pandangannya beralih ke


arah foto gadis manis yang tulus mencintainya. Bellinda. Gadis yang diam-diam


memendam cinta di hatinya. Kevin mencampakkannya hanya karena emosi sesaat.


Ketika ia tengah bergejolak dengan cintanya Cindy. Kevinmenghapus kaca vigura dengan bergetar.


“Maafin aku ya, Bell… Dimanapun kini


kamu berada, kamu mau kan maafin semua kesalahanku…?” ditatapnya lekat foto


itu. Kini ia tidak tahu dimana Bellinda berada. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Titin.


“Halo, Tin...” Sapanya berat.


“Ya, ada apa, Vin?”


“Aku mau ketemu Bellinda. Kamu mau kan tunjukan aku dimana


dia berada?”


“Bellinda ada di Bandung, Vin. Ia pindah kuliah ke sana,”


Sedikit miris hati Kevin mendengar penuturan Titin. Dia


benar-benar tidak akan bertemu lagi dengan Bellinda.


“Terima kasih, Tin...” ucapnya berat.


“Terima kasih untuk apa?”


“Gak ada apa-apa. Aku hanya merindukan kalian berdua,”


“Jangan bohongi hatimu, Vin. Kamu mencintai Bellinda kan?”


“Hmm...” kata-kata Kevin tertahan.


“Aku tahu perasaanmu, Vin. Kamu masih menyimpan cinta itu,”


“Tiinn... bantu aku nemui Bellinda,”


“Ya, akan aku usahakan, Vin. Tapi tidak hari ini. Aku harus


mencari informasi dulu keberadaan Bellinda,”


Kevin mengangguk. “Terima kasih, Tin...”


“Sama-sama,”


“Maaf, aku mengganggumu...”


“Gak apa-apa, Vin,”


“Dag...”


Kevin menutup ponselnya. Ia kembali ke pembaringan dengan


tertatih. Hatinya benar-benar sunyi. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam


hidupnya. Kemana gerangan Bellinda?



Angin malam menerpa


tubuh Titin. Ia membuka jendela kamar dan memperhatikan halaman depan. Tiba-tiba


ponselnya berdering. Dari Bellinda.


“Halo, Tin… apa kabar?”


sapa Bellinda dari seberang.

__ADS_1


“Bellinda…? Gimana


kabarmu?” tanya Titin antusias.


“Aku baik-baik saja,


Tin…”


“Kamu dimana sih? Kok


hilang dari perdaran?”


“Aku di Bandung,”


“Bandung? Ngapain kamu


disana?”


“Mama dan Kak Bimo


memaksaku pindah ke sana. Apalagi yang kuharap di Medan, Tin? Kevin juga sudah


menuduhku menghancurkan kehidupannya,”


“Bell… kamu jangan


begitu dong… Kevin masih labil. Mungkin aja dia begitu karena shock,”


“Tapi tekadku sudah


bulat, Tin. Aku tidak akan kembali ke Medan sampai selesai kuliahku. Dan


mungkin aku akan mencari pendamping hidup di Bandung. Cowok Bandung keren-keren


loh... hihihi...” Bellinda tertawa di seberang.


“Aku akan merasa


kesepian tanpa kalian berdua, Bell. Hidupku terasa hampa,”


“Maafkan aku, Tin… Kita


akan tetap menjadi sahabat kok. Hari ini dan esok,”


“Yah… Jangan pernah


lupakan aku,”


“Yup…”


Titin duduk di kursi.


“Bell… kemaren Kevin telpon aku. Dia mencarimu,”


Bukannya aku ini cewek yang jahat di matanya?”


“Sudahlah, Bell.


Maafkan dia,”


“Hatiku sudah terlalu


sakit, Tin,”


“Hatimu sakit karena


kamu cemburu kan? Kamucemburu ama Cindy?”


“Gak!” Bellinda sewot.


“Ayo dong, Bell,” pujuk


Titin kemudian. “Kamu pasti nyesel seumur hidup kalau gak maafin dia,”


“Ughh... Titin...


Jangan membuatku bingung dengan kata-katamu,”


“Setidaknya Kevin


tenang menjalani hidupnya dan menerima maaf darimu,”


“Aku pikir-pikir dulu


deh,”


“Ok, itu memang hakmu.


Tapi saranku, kamu harus memaafkannya. Jangan biarkan hatimu menangis bathin


karena cintamu yang gak kesampaian,”


“Igghh... apaan sih?”


“Kamu harus jujur sama


aku. Kamu masih mencintai Kevin kan?”


Bellinda terdiam


sesaat. “Hmm...” ia bergumam pelan.


“Kalau kamu memang


mencintainya bilang aja terus terang, Bell. Atau kamu juga sudah tak mencintai

__ADS_1


Kevin karena ia sudah tidak sempurna?”


“Bukan begitu, Tinn...”


“Lantas?”


“Hmmm...”


“Kelamaan! Kamu harus


menelpon Kevin sesegera mungkin!”


“Iya deh...” selah


Bellinda pelan.


“Nah... begitu dong.


Itu kejujuran hatimu. Besok aku jenguk Kevin,”


“Sampaikan salamku juga


ya,”


“Ok...”


Setelah menerima


telepon dari Bellinda, hati Titin terasa lega. Bellinda baik-baik saja. Namun


pikirannya lagi-lagi galau. Bagaimana perasaanya terhadap Aditya?



Kevin duduk di kursi


roda. Wajahnya terlihat sembab dan sedikit pucat. Setelah mencagak motor, Titin


menghampiri Kevin di teras depan. Ia tersenyum tipis. Kasihan Kevin, batinnya.


Apakah Kevin akan selamanya lumpuh?


“Hai...” sapa Titin


tersenyum. “Bagaimana kabarmu, Vin?”


Kevin tersenyum. “Aku


baik-baik aja. Sudah mendingan. Aku mulai belajar berjalan,”


“Oh...” Titin duduk di


kursi. “Bellinda titip salam untukmu,”


“Oh ya..?” Kevin


senang. “Dia dimana, Tin? Aku rindu sama ocehannya. Apa dia baik-baik saja?”


“Bellinda di Bandung,


Vin. Dia baik-baik saja kok,”


“Bandung?” dahi Kevin


berkerut. “Ngapain dia di sana?”


“Katanya pindah


kuliah,”


Kevin terdiam. Matanya


beralih ke halaman depan. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.


“Aku pikir kalian sudah


saling menyapa,”


“Belum. Aku belum menghubungi


handphonenya,”


“Yah... mungkin nanti.


Oh ya, aku mau ke kampus,” kata Titin seraya beranjak. “Aku harap kamu cepat


sembuh, Vin,”


“Yah, makasih, Tin...”


“Kapan-kapan aku tidur


di kamarmu lagi ya...”


“Jiaaahh....


Tidaaakk!!”


“Hahahaha...” Titin tertawa


lepas. Lalu keluar dari gerbang rumah. Motornya melesat. Tinggal Kevin di teras


depan yang terus merasa bersalah.


__ADS_1


__ADS_2