
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Kevin
belum juga tidur. Dia masih berkutat di meja belajarnya. Kevin
memperhatikan sudut-sudut kamar. Tampak cukup luas. Ada tempat tidur terbuat dari kayu jati,
satu lemari baju berukuran sedang dan satu meja belajar. Di
pojok kamar terlihat 2 buah tongkat penyangga kaki. Kevin tertunduk saat
melihat tongkat itu yang teronggok diam. Mata Kevin memperhatikan sebuah vigura di dinding kamarnya.Foto Kevin dengan dua sahabat
karibnya, Titin dan Bellinda.
Tanpa dapat dicegah kenangan pahit muncul dalam benaknya.
Kevin teringat kekonyolannya, kesalahan-kesalahannya hingga dia harus
kehilangan gadis yang tulus mencintainya. Kevin kecelakaan dan
lumpuh.
“Bangsaaatt!! Begoook!
Toloooool!” Kevin berteriak dengan emosinya. Dia memporak porandakan isi
kamarnya dan menangis.
PRAAANN... PRAAAKKK..
Buku-buku
dan vigura jatuh ke lantai lalu pecah berserakan. Kevin terpaku sesaat. Pandangannya beralih ke
arah foto gadis manis yang tulus mencintainya. Bellinda. Gadis yang diam-diam
memendam cinta di hatinya. Kevin mencampakkannya hanya karena emosi sesaat.
Ketika ia tengah bergejolak dengan cintanya Cindy. Kevinmenghapus kaca vigura dengan bergetar.
“Maafin aku ya, Bell… Dimanapun kini
kamu berada, kamu mau kan maafin semua kesalahanku…?” ditatapnya lekat foto
itu. Kini ia tidak tahu dimana Bellinda berada. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Titin.
“Halo, Tin...” Sapanya berat.
“Ya, ada apa, Vin?”
“Aku mau ketemu Bellinda. Kamu mau kan tunjukan aku dimana
dia berada?”
“Bellinda ada di Bandung, Vin. Ia pindah kuliah ke sana,”
Sedikit miris hati Kevin mendengar penuturan Titin. Dia
benar-benar tidak akan bertemu lagi dengan Bellinda.
“Terima kasih, Tin...” ucapnya berat.
“Terima kasih untuk apa?”
“Gak ada apa-apa. Aku hanya merindukan kalian berdua,”
“Jangan bohongi hatimu, Vin. Kamu mencintai Bellinda kan?”
“Hmm...” kata-kata Kevin tertahan.
“Aku tahu perasaanmu, Vin. Kamu masih menyimpan cinta itu,”
“Tiinn... bantu aku nemui Bellinda,”
“Ya, akan aku usahakan, Vin. Tapi tidak hari ini. Aku harus
mencari informasi dulu keberadaan Bellinda,”
Kevin mengangguk. “Terima kasih, Tin...”
“Sama-sama,”
“Maaf, aku mengganggumu...”
“Gak apa-apa, Vin,”
“Dag...”
Kevin menutup ponselnya. Ia kembali ke pembaringan dengan
tertatih. Hatinya benar-benar sunyi. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam
hidupnya. Kemana gerangan Bellinda?
Angin malam menerpa
tubuh Titin. Ia membuka jendela kamar dan memperhatikan halaman depan. Tiba-tiba
ponselnya berdering. Dari Bellinda.
“Halo, Tin… apa kabar?”
sapa Bellinda dari seberang.
__ADS_1
“Bellinda…? Gimana
kabarmu?” tanya Titin antusias.
“Aku baik-baik saja,
Tin…”
“Kamu dimana sih? Kok
hilang dari perdaran?”
“Aku di Bandung,”
“Bandung? Ngapain kamu
disana?”
“Mama dan Kak Bimo
memaksaku pindah ke sana. Apalagi yang kuharap di Medan, Tin? Kevin juga sudah
menuduhku menghancurkan kehidupannya,”
“Bell… kamu jangan
begitu dong… Kevin masih labil. Mungkin aja dia begitu karena shock,”
“Tapi tekadku sudah
bulat, Tin. Aku tidak akan kembali ke Medan sampai selesai kuliahku. Dan
mungkin aku akan mencari pendamping hidup di Bandung. Cowok Bandung keren-keren
loh... hihihi...” Bellinda tertawa di seberang.
“Aku akan merasa
kesepian tanpa kalian berdua, Bell. Hidupku terasa hampa,”
“Maafkan aku, Tin… Kita
akan tetap menjadi sahabat kok. Hari ini dan esok,”
“Yah… Jangan pernah
lupakan aku,”
“Yup…”
Titin duduk di kursi.
“Bell… kemaren Kevin telpon aku. Dia mencarimu,”
Bukannya aku ini cewek yang jahat di matanya?”
“Sudahlah, Bell.
Maafkan dia,”
“Hatiku sudah terlalu
sakit, Tin,”
“Hatimu sakit karena
kamu cemburu kan? Kamucemburu ama Cindy?”
“Gak!” Bellinda sewot.
“Ayo dong, Bell,” pujuk
Titin kemudian. “Kamu pasti nyesel seumur hidup kalau gak maafin dia,”
“Ughh... Titin...
Jangan membuatku bingung dengan kata-katamu,”
“Setidaknya Kevin
tenang menjalani hidupnya dan menerima maaf darimu,”
“Aku pikir-pikir dulu
deh,”
“Ok, itu memang hakmu.
Tapi saranku, kamu harus memaafkannya. Jangan biarkan hatimu menangis bathin
karena cintamu yang gak kesampaian,”
“Igghh... apaan sih?”
“Kamu harus jujur sama
aku. Kamu masih mencintai Kevin kan?”
Bellinda terdiam
sesaat. “Hmm...” ia bergumam pelan.
“Kalau kamu memang
mencintainya bilang aja terus terang, Bell. Atau kamu juga sudah tak mencintai
__ADS_1
Kevin karena ia sudah tidak sempurna?”
“Bukan begitu, Tinn...”
“Lantas?”
“Hmmm...”
“Kelamaan! Kamu harus
menelpon Kevin sesegera mungkin!”
“Iya deh...” selah
Bellinda pelan.
“Nah... begitu dong.
Itu kejujuran hatimu. Besok aku jenguk Kevin,”
“Sampaikan salamku juga
ya,”
“Ok...”
Setelah menerima
telepon dari Bellinda, hati Titin terasa lega. Bellinda baik-baik saja. Namun
pikirannya lagi-lagi galau. Bagaimana perasaanya terhadap Aditya?
Kevin duduk di kursi
roda. Wajahnya terlihat sembab dan sedikit pucat. Setelah mencagak motor, Titin
menghampiri Kevin di teras depan. Ia tersenyum tipis. Kasihan Kevin, batinnya.
Apakah Kevin akan selamanya lumpuh?
“Hai...” sapa Titin
tersenyum. “Bagaimana kabarmu, Vin?”
Kevin tersenyum. “Aku
baik-baik aja. Sudah mendingan. Aku mulai belajar berjalan,”
“Oh...” Titin duduk di
kursi. “Bellinda titip salam untukmu,”
“Oh ya..?” Kevin
senang. “Dia dimana, Tin? Aku rindu sama ocehannya. Apa dia baik-baik saja?”
“Bellinda di Bandung,
Vin. Dia baik-baik saja kok,”
“Bandung?” dahi Kevin
berkerut. “Ngapain dia di sana?”
“Katanya pindah
kuliah,”
Kevin terdiam. Matanya
beralih ke halaman depan. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
“Aku pikir kalian sudah
saling menyapa,”
“Belum. Aku belum menghubungi
handphonenya,”
“Yah... mungkin nanti.
Oh ya, aku mau ke kampus,” kata Titin seraya beranjak. “Aku harap kamu cepat
sembuh, Vin,”
“Yah, makasih, Tin...”
“Kapan-kapan aku tidur
di kamarmu lagi ya...”
“Jiaaahh....
Tidaaakk!!”
“Hahahaha...” Titin tertawa
lepas. Lalu keluar dari gerbang rumah. Motornya melesat. Tinggal Kevin di teras
depan yang terus merasa bersalah.
__ADS_1