
Perasaan
Hartati masih tidak menentu. Akhir-akhir ini berita tentang pembegalan tengah
marak-maraknya. Para korban yang ditemui pasti bersimbah darah. Hal itu membuat
Hartati cemas melihat Titin yang suka ngetril di jalanan. Konon para genk motor
dan begal tengah diincar polisi. Mereka tidak segan-segan akan menembak mati
para pelaku.
Titin
keluar dari kamarnya dan hendak pergi ke kampus. Mama menegurnya ketika ia
melintas ruang tamu.
“Tin…”
Sapa mama pelan dan hati-hati. “Dengerin kata mama. Kamu jangan ngetril lagi.”
Titin
diam saja tidak menggubris perkataan mama dan di langsung keluar. Suara menderu
dari motor gedenya pun membahana di pagi itu. Secepat kilat motor Titin melesat
di jalan hitam.
Di kampus, Titin duduk termenung. Dia mengamati foto-foto keluarganya. Kini
tinggal kenangan. Titin merobek semua foto-foto itu. Ia membuang semua ke tong
sampah. Ada satu foto terselip di antara foto keluarga. Foto seorang cowok
bertubuh atletis. Seorang cowok yang pernah mencuri hatinya. Kini foto itu
menjadi memory tersendiri di hatinya.
Frans seorang
pembalap motor berusia dua puluh empat tahun saat itu. Dia tewas dua tahun yang
lalu, saat mengikuti balap motor di kawasan Griyadom. Motornya tidak stabil
ketika roda motor menikung di belahan jalan berlubang. Motor Frans terpelanting
beberapa meter. Tubuh Frans terhempas di badan jalan. Membentur pembatas.
Kecelakaan itu begitu tragis hingga Frans tewas di tempat. Darah mengucur dari
mulutnya. Bagai tersambar petir Titin menerima berita kematian Frans.
“Frans...” Pekiknya tertahan. Masih
terngiang lagi hujatan orangtua Frans kepadanya.
“Dasar perempuan ******! Ini semua pasti
gara-gara kamu! Kamu yang menyebabkan Frans meninggal! Kurang ajar kamu! Dasar
pembunuh..!” Sergah wanita itu penuh emosi.
”Tante... saya...”
”Jangan komentar! Saya tidak butuh alasanmu!” Sergah
wanita baya itu berapi-api. ”Dari dulu saya tidak suka Fransberhubungan dengan kamu! Dasar perempuan tidak tahu diri!”
”Sudahlah, Ma. Jangan menyalahkan orang lain...” Seorang
laki-laki baya menasehatinya. Itu papanya
Frans. ”Ini sudah ajal, Ma.” Katanya
sembari merengkuh pundak wanita baya itu.
”Mama tidak terima, Pa. Ini
semua pasti ulah perempuan itu. Dia yang menyebabkan anak kita meninggal dunia.
Sejak dia bertemu dengan perempuan itu, tingkahnya jadi aneh-aneh. Suka dugem,
ngedrugs dan tidak nurut sama mama.”
”Ma... sudahlah... Kita serahkan saja semua sama yang di
atas. Tidak baik menuduh orang macam-macam.”
Titin menghapus airmatanya. ”Maafkan saya, Om.” Kata Titin sembari
menunduk.
”Sudahlah... maafkan istri saya ya. Istri saya belum bisa
menerima kenyataan ini.”
Titinmengangguk sedih. ”Iya, Om.” Ucapnya pelan.
Setelah urusan administrasi, jenazah Frans dibawa pulang ke rumah untuk dimakamkan. Masih tertinggal kesedihan di hati Titin dan
keluarga besar Frans yang ditinggalkan. Keluarga Frans masih tidak menerima atas kepergian Frans dan menyalahkan Titin.
Mereka menuduh Titin penyebab kematian Frans.
Sejak Titin mengenal Frans,
dia sama sekali belum pernah bertemu orangtua Frans.
Mereka tidak setuju kalau Frans berhubungan dengan Titindan menuduhnya sebagai wanita liar yang
tidak jelas statusnya.
Kenangan itu
menjadi nestapa yang hitam bagi Titin. Titin tidak dapat menerima kenyataan
pahit itu. Berhari-hari dia mengunjungi makam Frans sambil menangis sedih. Dia
tahu Frans meninggal, tapi dia belum mati. Frans akan selalu berada di
sampingnya, hanya saja tidak terlihat oleh mata. Titin uring-uringan di kamar.
Menangis sedih hingga berhari-hari. Titin tidak dapat melupakan sosok Frans.
Cowok yang pertama sekali singgah di hatinya. Cowok yang hanya sekali
mengatakan cintanya.
Kenangan itu
selalu bermain-main di matanya. Titin mengenal Frans di sebuah acara kampus.
Saat malam renungan mahasiswa di
Simarjarunjung. Tempat rekreasi di
__ADS_1
tepian Danau Toba. Tempat yang indah, dingin dan menyenangkan bagi pasangan
kekasih.
“Aku mencintaimu, Tin…” Bisik Frans di telinga
Titin. Bisikan itu begitu dekat di telinganya. Titin tersenyum mengingat
bisikan itu, sekilas, lalu murung. Wajahnya terlihat sedih. Sebelum kejadian
naas itu Titin minta putus dari Frans. Namun Frans tidak menerima Titin
memutuskan cintanya.
Titin menghela
berat. ‘Hhhh… Aku sangat merindukanmu, Frans. Bantu aku menghadapi kenyataan
hidup ini…’ bisik Titin dalam hati.
Setahun lamanya
Titin berusaha melupakan sosok Frans. Waktu demi waktu ia melebur
kenangan-kenangan manis bersama Frans. Sampai ia berkenalan dengan Agung.
Seorang cowok berperawakan biasa-biasa saja. Suka nangkring di discotiq. Orangtua Titin tidak
merestui Titin bergaul dengan Agung yang narkobaan. Titin berontak karena dia
sangat mencintai Agung. Sampai Titin minggat dari rumah ke rumah Agung beberapa
hari. Hanya karena cintanya dengan Agung, tapi ternyata Agung bukan tipe cowok
baik-baik. Agung peminum dan suka main perempuan. Titin beberapa kali memergoki
Agung bersama perempuan lain. Dia bermesraan di depan Titin. Titin sakit hati
dan kecewa. Dia menangis batin
dan trauma mengenal sosok laki-laki.
‘Dasar cowok
brengsek!’ Makinya mengingat semua itu. Setahun kemudian Titin mendapat kabar
kalau Agung meninggal dunia karena over dosis.
Kenangan pahit
itu membuat Titin merubah penampilannya. Dia tidak mau dujuluki cewek cengeng, sensi dan pesimis. Titin memotong
rambutnya dan membuat model seperti cowok. Cara berpakaiannya juga selalu
tomboy.
Dari jauh
Bellinda memperhatikan Titin yang terpaku. Perlahan dia mendekati Titin dan
menyapanya.
“Titin…” Sapanya
lembut. Bellinda duduk di samping Titin. Titin menoleh dan tersenyum ke arah
Bellinda.
“Bellinda…” Balasnya.
“Kok termenung,
Titin menggeleng
pelan. “Enggak kok, Bell. Aku sudah melupakan kejadian itu.” Titin tersenyum
tipis.
“Maafkan sikap
mamaku kemarin ya, Tin. Aku benar-benar malu melihat kelakuan mamaku. Aku
terkejut mama melakukan hal itu ke kamu.”
“Sudahlah, Bel.
Aku sudah melupakan kejadian itu. Aku baik-baik saja. Gak usah ngomongin itu
lagi ah, mending kita membicarakan yang lain saja.”
Belinda
tersenyum. Titin bukan tipe cewek pendendam yang menyimpan amarah di hatinya.
Amarah itu membuatnya selalu tertekan, jadi lupakan saja
“Bagaimana
hubunganmu dengan Kevin?” tanya Titin mengawali topik pembicaraan yang baru.
Bellinda menghela berat.
“Aku sudah
melupakan Kevin dari hatiku, Tin…”
“Loh… kenapa?
Bukannya kalian teman sejak kecil?”
“Yah, kalau aku
pikir-pikir sih untuk apa merebutkan cinta Kevin. Toh dia sudah punya Cindy…”
“Yah, kamu harus
ikhlaskan hatimu,”
Bellinda menarik
nafas dalam-dalam. “Aku mau cerita ma kamu, Tin…”
“Soal apa?”
“Rafly. Pacarku
dulu. Aku punya kenangan pahit dengan Rafly.”
Titin menaikkan
alisnya. “Memangnya ada apa dengan Rafly?”
“Entahlah, Tin.
Aku bingung mau cerita apa. Aku sangat mencintai Rafly sampai sekarang.” Ucapnya
sendu.
“Lantas?”
__ADS_1
“Aku malu
menceritakannya, Tin…” Bellinda menundukan kepalanya.
“Hei… apa yang kamu
malukan. Apa kamu fikir aku tipe cewek penggosip? Bellinda, jauhkan fikiran itu
dari benakmu.”
Belinda
mendongak dan tersenyum. “Aku percaya sama kamu, tapi rahasia ini hanya kita
berdua yang tahu,” kata Bellinda seraya mengulurkan jari kelingkingnya.
“Setuju, ini rahasia kita
berdua.”
Belinda
menceritakan semua tentang Rafly. Cowok ganteng yang dikaguminya itu memiliki
kelainan ****. Bellinda memergoki Rafly berpelukan dengan seorang laki-laki.
”Apa? Rafly seorang gay?”
Bellinda mengangguk berat. Bellindamenangis sedih. “Selama itu aku tidak tahu, Tin. Aku
tidak menyangka kalau Rafly suka sama cowok. Dia membohongi aku. Dia
menghianati cintaku.”
“Sabar deh, Bel. Kita memang tidak tahu karakter seseorang, bahkan cowok
berpenampilan jantan juga ada yang gay. Cowok bukan dia saja kok. Masih banyak
cowok lain yang lebih cakep dari Rafly.”
”Aku tidak percaya lagi sama cowok cakep, Tin. Cowok cakep banyak yang gay. Aku cinta banget sama Rafly,
tapi mengapa dia harus menjadi seperti itu, Tin?”
“Kamu tidak perlu memikirkan itu, Bel. Semuanya sudah diatur yang diatas.
Mereka juga tidak ingin menjadi seperti itu, tapi keadaan yang memaksa naluri
mereka berbuat seperti itu,”
”Batinku masih belum
menerima, Tin. Aku malu pada diriku, pada kata-kata cintaku.”
”Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu tidak perlu membenci
laki-laki, karena tanpa mereka hidup ini hampa.”
Belinda menghapus airmatanya dengan tisu, lalu tersenyum tipis.
”Makasih ya, Tin... Kamu memang temen baikku.”
Titin tersenyum mengamit
jemari tangan Belinda.
”Kita akan selalu menjadi sahabat...”
Bellinda menghapus
airmata yang terus membanjiri pipinya. Berusaha senyum sedapat mungkin demi
sahabatnya, kemudian merengkuh Titin sambil
sesenggukan. Persahabatan mereka tidak akan pernah pudar, meski Bimo
mati-matian melarang Belinda.
Titin semakin
sering menghantar jemput Bellinda. Sepulang kampus terkadang mereka nongkrong
di Mal atau ke café. Titin menghantar
Bellinda hanya sampai di depan pintu gerbang. Dia takut mama Bellinda semakin
berang melihat kedekatan persahabatan mereka.
Bellinda tiba di
rumah saat sholat isya berlalu beberapa jam lalu. Bimo menunggu Bellinda di ruang tamu. Pintu terbuka
perlahan. Bellinda masuk dengan cara mengendap-endap, tapi sayang, Bimo
memergokinya.
“Kamu dari mana, Bellinda?”Tanya Bimo mengejutkan Bellinda.
Bellinda
menghentikan langkahnya. “Dari rumah temen.” Jawabnya singkat.
“Kamu ke rumah
perempuan itu?”
“Iya, memangnya
kenapa?”
“Sudah berapa
kali kamu diperingatkan, Bel? Harus berapa kali kakak mengingatkan kamu. Kamu
jangan bergaul dengan perempuan itu.”
“Kenapa sih Kak
Bimo selalu apatis sama Titin. Titin tidak seperti yang kakak bayangkan. Dia
cewek baik-baik.”
“Dia berusaha
merayumu, Bellinda. Dia berusaha mencuri hatimu.”
“Apa? Mencuri
hatiku? Sudahlah, Kak. Tidak usah berprasangka buruk. Bellinda capek, mau
istirahat.” Kata
Bellinda seraya berlalu dari amarah Bimo yang tak terkendali. Mengapa sih Bimo
selalu saja menuding Titin yang bukan-bukan.
__ADS_1