TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 21


__ADS_3

Perasaan


Hartati masih tidak menentu. Akhir-akhir ini berita tentang pembegalan tengah


marak-maraknya. Para korban yang ditemui pasti bersimbah darah. Hal itu membuat


Hartati cemas melihat Titin yang suka ngetril di jalanan. Konon para genk motor


dan begal tengah diincar polisi. Mereka tidak segan-segan akan menembak mati


para pelaku.


Titin


keluar dari kamarnya dan hendak pergi ke kampus. Mama menegurnya ketika ia


melintas ruang tamu.


“Tin…”


Sapa mama pelan dan hati-hati. “Dengerin kata mama. Kamu jangan ngetril lagi.”


Titin


diam saja tidak menggubris perkataan mama dan di langsung keluar. Suara menderu


dari motor gedenya pun membahana di pagi itu. Secepat kilat motor Titin melesat


di jalan hitam.



Di kampus, Titin duduk termenung. Dia mengamati foto-foto keluarganya. Kini


tinggal kenangan. Titin merobek semua foto-foto itu. Ia membuang semua ke tong


sampah. Ada satu foto terselip di antara foto keluarga. Foto seorang cowok


bertubuh atletis. Seorang cowok yang pernah mencuri hatinya. Kini foto itu


menjadi memory tersendiri di hatinya.


Frans seorang


pembalap motor berusia dua puluh empat tahun saat itu. Dia tewas dua tahun yang


lalu, saat mengikuti balap motor di kawasan Griyadom. Motornya tidak stabil


ketika roda motor menikung di belahan jalan berlubang. Motor Frans terpelanting


beberapa meter. Tubuh Frans terhempas di badan jalan. Membentur pembatas.


Kecelakaan itu begitu tragis hingga Frans tewas di tempat. Darah mengucur dari


mulutnya. Bagai tersambar petir Titin menerima berita kematian Frans.


“Frans...” Pekiknya tertahan. Masih


terngiang lagi hujatan orangtua Frans kepadanya.


“Dasar perempuan ******! Ini semua pasti


gara-gara kamu! Kamu yang menyebabkan Frans meninggal! Kurang ajar kamu! Dasar


pembunuh..!” Sergah wanita itu penuh emosi.


”Tante... saya...”


”Jangan komentar! Saya tidak butuh alasanmu!” Sergah


wanita baya itu berapi-api. ”Dari dulu saya tidak suka Fransberhubungan dengan kamu! Dasar perempuan tidak tahu diri!”


”Sudahlah, Ma. Jangan menyalahkan orang lain...” Seorang


laki-laki baya menasehatinya. Itu papanya


Frans. ”Ini sudah ajal, Ma.” Katanya


sembari merengkuh pundak wanita baya itu.


”Mama tidak terima, Pa. Ini


semua pasti ulah perempuan itu. Dia yang menyebabkan anak kita meninggal dunia.


Sejak dia bertemu dengan perempuan itu, tingkahnya jadi aneh-aneh. Suka dugem,


ngedrugs dan tidak nurut sama mama.”


”Ma... sudahlah... Kita serahkan saja semua sama yang di


atas. Tidak baik menuduh orang macam-macam.”


Titin menghapus airmatanya. ”Maafkan saya, Om.” Kata Titin sembari


menunduk.


”Sudahlah... maafkan istri saya ya. Istri saya belum bisa


menerima kenyataan ini.”


Titinmengangguk sedih. ”Iya, Om.” Ucapnya pelan.


Setelah urusan administrasi, jenazah Frans dibawa pulang ke rumah untuk dimakamkan. Masih tertinggal kesedihan di hati Titin dan


keluarga besar Frans yang ditinggalkan. Keluarga Frans masih tidak menerima atas kepergian Frans dan menyalahkan Titin.


Mereka menuduh Titin penyebab kematian Frans.


Sejak Titin mengenal Frans,


dia sama sekali belum pernah bertemu orangtua Frans.


Mereka tidak setuju kalau Frans berhubungan dengan Titindan  menuduhnya sebagai wanita liar yang


tidak jelas statusnya.


Kenangan itu


menjadi nestapa yang hitam bagi Titin. Titin tidak dapat menerima kenyataan


pahit itu. Berhari-hari dia mengunjungi makam Frans sambil menangis sedih. Dia


tahu Frans meninggal, tapi dia belum mati. Frans akan selalu berada di


sampingnya, hanya saja tidak terlihat oleh mata. Titin uring-uringan di kamar.


Menangis sedih hingga berhari-hari. Titin tidak dapat melupakan sosok Frans.


Cowok yang pertama sekali singgah di hatinya. Cowok yang hanya sekali


mengatakan cintanya.


Kenangan itu


selalu bermain-main di matanya. Titin mengenal Frans di sebuah acara kampus.


Saat malam renungan mahasiswa di


Simarjarunjung. Tempat  rekreasi di

__ADS_1


tepian Danau Toba. Tempat yang indah, dingin dan menyenangkan bagi pasangan


kekasih.


“Aku mencintaimu, Tin…” Bisik Frans di telinga


Titin. Bisikan itu begitu dekat di telinganya. Titin tersenyum mengingat


bisikan itu, sekilas, lalu murung. Wajahnya terlihat sedih. Sebelum kejadian


naas itu Titin minta putus dari Frans. Namun Frans tidak menerima Titin


memutuskan cintanya.


Titin menghela


berat. ‘Hhhh… Aku sangat merindukanmu, Frans. Bantu aku menghadapi kenyataan


hidup ini…’ bisik Titin dalam hati.


Setahun lamanya


Titin berusaha melupakan sosok Frans. Waktu demi waktu ia melebur


kenangan-kenangan manis bersama Frans. Sampai ia berkenalan dengan Agung.


Seorang cowok berperawakan biasa-biasa saja. Suka nangkring di discotiq. Orangtua Titin tidak


merestui Titin bergaul dengan Agung yang narkobaan. Titin berontak karena dia


sangat mencintai Agung. Sampai Titin minggat dari rumah ke rumah Agung beberapa


hari. Hanya karena cintanya dengan Agung, tapi ternyata Agung bukan tipe cowok


baik-baik. Agung peminum dan suka main perempuan. Titin beberapa kali memergoki


Agung bersama perempuan lain. Dia bermesraan di depan Titin. Titin sakit hati


dan kecewa. Dia menangis batin


dan trauma mengenal sosok laki-laki.


‘Dasar cowok


brengsek!’ Makinya mengingat semua itu. Setahun kemudian Titin mendapat kabar


kalau Agung meninggal dunia karena over dosis.


Kenangan pahit


itu membuat Titin merubah penampilannya.  Dia tidak mau dujuluki cewek cengeng, sensi dan pesimis. Titin memotong


rambutnya dan membuat model seperti cowok. Cara berpakaiannya juga selalu


tomboy.


Dari jauh


Bellinda memperhatikan Titin yang terpaku. Perlahan dia mendekati Titin dan


menyapanya.


“Titin…” Sapanya


lembut. Bellinda duduk di samping Titin. Titin menoleh dan tersenyum ke arah


Bellinda.


“Bellinda…” Balasnya.


“Kok termenung,


Titin menggeleng


pelan. “Enggak kok, Bell. Aku sudah melupakan kejadian itu.” Titin tersenyum


tipis.


“Maafkan sikap


mamaku kemarin ya, Tin. Aku benar-benar malu melihat kelakuan mamaku. Aku


terkejut mama melakukan hal itu ke kamu.”


“Sudahlah, Bel.


Aku sudah melupakan kejadian itu. Aku baik-baik saja. Gak usah ngomongin itu


lagi ah, mending kita membicarakan yang lain saja.”


Belinda


tersenyum. Titin bukan tipe cewek pendendam yang menyimpan amarah di hatinya.


Amarah itu membuatnya selalu tertekan, jadi lupakan saja


“Bagaimana


hubunganmu dengan Kevin?” tanya Titin mengawali topik pembicaraan yang baru.


Bellinda menghela berat.


“Aku sudah


melupakan Kevin dari hatiku, Tin…”


“Loh… kenapa?


Bukannya kalian teman sejak kecil?”


“Yah, kalau aku


pikir-pikir sih untuk apa merebutkan cinta Kevin. Toh dia sudah punya Cindy…”


“Yah, kamu harus


ikhlaskan hatimu,”


Bellinda menarik


nafas dalam-dalam. “Aku mau cerita ma kamu, Tin…”


“Soal apa?”


“Rafly. Pacarku


dulu. Aku punya kenangan pahit dengan Rafly.”


Titin menaikkan


alisnya. “Memangnya ada apa dengan Rafly?”


“Entahlah, Tin.


Aku bingung mau cerita apa. Aku sangat mencintai Rafly sampai sekarang.” Ucapnya


sendu.


“Lantas?”

__ADS_1


“Aku malu


menceritakannya, Tin…” Bellinda menundukan kepalanya.


“Hei… apa yang kamu


malukan. Apa kamu fikir aku tipe cewek penggosip? Bellinda, jauhkan fikiran itu


dari benakmu.”


Belinda


mendongak dan tersenyum. “Aku percaya sama kamu, tapi rahasia ini hanya kita


berdua yang tahu,” kata Bellinda seraya mengulurkan jari kelingkingnya.


“Setuju, ini rahasia kita


berdua.”


Belinda


menceritakan semua tentang Rafly. Cowok ganteng yang dikaguminya itu memiliki


kelainan ****. Bellinda memergoki Rafly berpelukan dengan seorang laki-laki.


”Apa? Rafly seorang gay?”


Bellinda mengangguk berat. Bellindamenangis sedih. “Selama itu aku tidak tahu, Tin. Aku


tidak menyangka kalau Rafly suka sama cowok. Dia membohongi aku. Dia


menghianati cintaku.”


“Sabar deh, Bel. Kita memang tidak tahu karakter seseorang, bahkan cowok


berpenampilan jantan juga ada yang gay. Cowok bukan dia saja kok. Masih banyak


cowok lain yang lebih cakep dari Rafly.”


”Aku tidak percaya lagi sama cowok cakep, Tin. Cowok cakep banyak yang gay. Aku cinta banget sama Rafly,


tapi mengapa dia harus menjadi seperti itu, Tin?”


“Kamu tidak perlu memikirkan itu, Bel. Semuanya sudah diatur yang diatas.


Mereka juga tidak ingin menjadi seperti itu, tapi keadaan yang memaksa naluri


mereka berbuat seperti itu,”


”Batinku masih belum


menerima, Tin. Aku malu pada diriku, pada kata-kata cintaku.”


”Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu tidak perlu membenci


laki-laki, karena tanpa mereka hidup ini hampa.”


Belinda menghapus airmatanya dengan tisu, lalu tersenyum tipis.


”Makasih ya, Tin... Kamu memang temen baikku.”


Titin  tersenyum mengamit


jemari tangan Belinda.


”Kita akan selalu menjadi sahabat...”


Bellinda menghapus


airmata yang terus membanjiri pipinya. Berusaha senyum sedapat mungkin demi


sahabatnya, kemudian merengkuh Titin sambil


sesenggukan. Persahabatan mereka tidak akan pernah pudar, meski Bimo


mati-matian melarang Belinda.



Titin semakin


sering menghantar jemput Bellinda. Sepulang kampus terkadang mereka nongkrong


di Mal atau ke café. Titin  menghantar


Bellinda hanya sampai di depan pintu gerbang. Dia takut mama Bellinda semakin


berang melihat kedekatan persahabatan mereka.


Bellinda tiba di


rumah saat sholat isya berlalu beberapa jam lalu. Bimo menunggu Bellinda di ruang tamu. Pintu terbuka


perlahan. Bellinda masuk dengan cara mengendap-endap, tapi sayang, Bimo


memergokinya.


“Kamu dari mana, Bellinda?”Tanya Bimo mengejutkan Bellinda.


Bellinda


menghentikan langkahnya. “Dari rumah temen.” Jawabnya singkat.


“Kamu ke rumah


perempuan itu?”


“Iya, memangnya


kenapa?”


“Sudah berapa


kali kamu diperingatkan, Bel? Harus berapa kali kakak mengingatkan kamu. Kamu


jangan bergaul dengan perempuan itu.”


“Kenapa sih Kak


Bimo selalu apatis sama Titin. Titin tidak seperti yang kakak bayangkan. Dia


cewek baik-baik.”


“Dia berusaha


merayumu, Bellinda. Dia berusaha mencuri hatimu.”


“Apa? Mencuri


hatiku? Sudahlah, Kak. Tidak usah berprasangka buruk. Bellinda capek, mau


istirahat.” Kata


Bellinda seraya berlalu dari amarah Bimo yang tak terkendali. Mengapa sih Bimo


selalu saja menuding Titin yang bukan-bukan.


__ADS_1


__ADS_2