
Gibran duduk di tempat tidur. Ia mengamati foto di
atas meja belajarnya. Foto seorang gadis cantik. Raisa namanya. Gadis yang
tewas malam itu dengan sangat tragis. Gibran sudah membunuh dua orang yang telah
menghabisi nyawa kekasihnya dan tinggal seorang lagi. Gibran belum menemukan
orang itu.
“Gibraan.” Panggil mama dari luar.
“Buka saja pintunya, Ma.” Jawab Gibran.
Mama membuka pintu dan masuk ke kamar sambil membawa
cokelat hangat untuk Gibran. Kemudian mama meletakkan cokelat itu di atas meja
dekat tempat tidur.
“Kamu dari mana aja semalam? Mama khawatir, Gibran. Lihat
berita di Koran ada pembunuhan anak genk motor. Kepalanya pecah, seram sekali.”
Gibran tertunduk dan bingung. Ia pun sangat takut kalau
polisi mencari tahu siapa yang membunuh anak genk motor itu.
“Gibran dari rumah teman, Ma.” Jawabnya singkat.
“Kamu hati-hati, jangan keluar malam lagi. Mama takut
terjadi apa-apa sama kamu, Gibran.”
“Iya, Ma.”
“Ya sudah kalau begitu, mama mau ke dapur menyiapkan saran
pagi untuk papa kamu.” Mama beranjak dan keluar dari kamar Gibran.
Gibran kembali terpaku, kemudian meneguk cokelat
hangat di atas meja. Ia masih berusaha mengingat seseorang yang ikut dalam
pembunuhan malam itu.
Dua hari kemudian, Titin dipindah ke ruang perawatan.
Ruang VIP di lantai tiga. Keadaannya sudah mulai membaik. Ia siuman. Matanya perlahan
terbuka. Ia memperhatikan sekelilingnya yang serba putih. Seorang perawat
menyapanya.
“Mbak Titin sudah sadar?” tanyanya.
Titin mengangguk. “Iya, Sus...” Jawabnya berat. “Keluarga saya di mana?”
“Maaf, Mbak. Sampai hari ini keluarga mbak belum datang. Hanya mas itu
yang menunggu mbak Titin sejak beberapa hari lalu. Dia cowok yang setia ya,
Mbak…”
Titin menoleh ke sudut ruangan. Di kursi empuk Toni tertidur pulas.
Semalaman dia tidak tidur hanya menjaga Titin. Titin bangkit dengan perlahan. Kepalanya
masih terasa sakit.
“Aduuh...” Rintihnya pelan.
“Hati-hati, Mbak... Mbak Titin mau ke mana?”
“Saya mau ke toilet, Sus...”
“Biar saya bantu,”
“Gak usah,”
Titin tertatih masuk ke kamar mandi. Suster yang menangani Titin keluar
dari ruangan. Tak berapa lama Titin keluar sambil memegang kepalanya yang masih
sakit.Ia mengedarkan pandang. Tidak ada siapa-siapa selain Toni. Di mana Marcel?
Pikirnya. Titin berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Hatinya seperti
terbakar api cemburu dan sakit. Marcel bermesraan dengan Meta. Pedih bila
mengingat hal itu.
__ADS_1
Toni terbangun dan melihat Titin berdiri di sudut
jendela.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya. Titin tidak menjawab.
Ia hanya melirik sekilas. Tidak suka Toni berada di ruangannya.
“Kamu harus banyak istirahat, Tin. Jangan bergerak
dulu.” Kata Toni seraya beranjak dari tempatnya.
“Kenapa kamu ada disini?” tanya Titin tak bersahabat.
“Aku menjagamu.”
“Aku tidak butuh simpatik
darimu!” Titin ketus. Ia berjalan
tertatih menuju tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya
dengan sandaran yang empuk. Kepalanya masih terasa pusing. Luka di kaki dan
tangannya masih mendenyut.Titin memalingkan wajahnya dari
tatapan cowok itu.
“Sebaiknya kamu keluar dari ruangan ini. Aku jengah
melihat wajahmu.”
“Tinn… Aku sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Aku
kasihan melihatmu. Papa, Dewa dan keluargamu tidak ada yang menjengukmu.”
“Kamu gak perlu mengasihani aku. Tidak perlu ikut
campur dengan keluargaku. Aku sudah terbiasa jauh dari kasih sayang orangtuaku.”
“Tapi aku masih perduli denganmu. Kamu masih ada aku.”
“Memangnya siapa dirimu?”
“Aku ini kakakmu. Walau aku terlahir dari laki-laki
yang kamu anggap bejat, tapi aku terlahir dari rahim mamamu. Seorang bidadari
yang penuh kasih. Kita satu rahim, Tin.”
aduuh…” Titin merintih kecil. Kepalanya berdenyut, sakit sekali.
“Tin… kamu tidak apa-apa?” tanya Toni
memberi perhatian ke Titin. Titin menepis tangan Toni.
“Jangan sentuhaku!” Sungutnya.
Tiba-tiba pintu terayun terbuka. Sosok Hartati muncul
dengan seulas senyum, lalu menyapa Titin dengan perhatian yang penuh.
“Tinn… Kamu sudah siuman, Sayang?” Hartati menghampiri
Titin. Ia duduk di sebelahnya. Tangannya mengelus kepala Titin.
“Sudahlah, Ma. Gak usah pura-pura baik,” Titin menepis
tangan Hartati. Hartati bingungdengan kata-kata Titin.
“Tiinn… Apamaksud kamu? Mama tulus
menyayangimu, tidak ada kepura-puraan…”
“Cukup, Ma. Kalian berdua sama saja. Menyebalkan dan
bikin pusing!”
“Tiiin… Jangan begitu dong, Sayang… Mama menjengukmu.
Mama khawatir dengan keadaanmu.”
Titin masih dengan wajah yang sama. Hatinya sama
sekali tidak tersentuh dengan kasih saying mama. “Tidak perlu. Sebaiknya kalian
berdua keluar. Keluarrrr….!”
“Tiiinnn…”
“Keluaaarrrr…!!!”
Hartati menghela berat. Toni membimbing Hartati keluar
__ADS_1
dari ruangan Titin. Mungkin Titin masih mengalami trauma dengan kejadian malam
itu. Hartati hanya berdoa, semoga Titin diberi kesembuhan yang cepat.
Sudah seminggu Titin berada di rumah sakit. Dan hanya
Toni yang berbaik hati menjaganya. Hartati tak sanggup lagi menemani Titin.
Kondisi Hartati makin melemah
dan ia memeriksakan penyakitnya. Ada masalah di kepalanya.
Titin sudah membaik, namun kakinya masih terasa sakit.
Hingga ia tertatih berjalan. Toni yang setia menjaganya terkadang mendapat
makian pedas. Namun Toni tidak perduli. Ia kasihan melihat Titin.
“Mungkin ini hal terberat yang ingin ku sampaikan
padamu.” Toni buka bicara. Titin menatap Toni dengan tajam.
“Ada apa?”
“Sebenarnya Marcel tidak benar-benar mencintaimu. Dia menjebakmu dalam balapan itu. Ia
menyuruh temannya untuk merusak pedal rem agar kamu kecelakaan.”
Titin terkejut. “Itu tidak mungkin. Itu cerita
bohonganmu aja kan?! Hei… dari dulu juga aku sudah tahu akal busukmu! Mau kamu apa?!”
“Tiinn… Percaya sama aku. Jack sendiri yang bilang,”
“Jack…?” Dahi Titin berkerut. Ia kenal betul dengan cowok itu.
Sahabat dekat Marcel
dan Aditya.
“Marcel inginbalas dendam
ke kamu…”
“Balas dendam? Balas dendam untuk apa? Salahku apa?
Sudahlah, Ton… Jangan mengada-ada cerita. Kamu itu pecundang! Anak haram yang tidak
direstui lahir kedunia!”
“Tin..! Aku bercerita apa adanya. Kamu jangan mengungkit statusku! Aku tahu
dari dulu kalau aku tidak diharapkan terlahir di dunia ini. Tapi aku ingin
orang-orang menerimaku.”
“Itu urusanmu!”
“Ya... memang urusanku. Aku harap kamu tidak lagi berhubungan dengan Marcel. Lupakan dia.”
“Bukan urusanmu!”
“Sekarang menjadi urusanku!”
“Cukuuupp…!! Aku tidak mau mendengar ocehanmu!Lebih baik kamu
pergi dari kehidupanku!! Pergiiii!!!” Usir Titin dengan penuh emosi.
“Marcel sudah
meninggal! Marcel tewas kecelakaan.” Kata Toni kemudian.
“Tidak! Itu tidak mungkin! Sekarang kamu keluar!”
Toni menarik nafas dalam-dalam. Menatap Titin dengan lekat, lalu melangkahkan
kakinya di jalan
setapak. Ia sudah berusaha menyadarkan Titin dari cinta palsu Marcel, namun
sia-sia. Titin keras kepala.
Ruang perawatanterasa
lengang. Sepi. Hanya Titin yang duduk sambil menatap halaman rumah sakit. Hari
ini ia sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun tidak ada yang menjemputnya. Titin menelepon supirnya dan menyuruh mang Izam ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ia hanya mengingat Marcel. Ia tidak
percaya kalau Marcel sudah meninggal dunia. Ia juga mempertimbangkan kata-kata
__ADS_1
Toni. Benarkah yang diceritakan Toni atau hanya isapan jempol belaka.