TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 30


__ADS_3

Gibran duduk di tempat tidur. Ia mengamati foto di


atas meja belajarnya. Foto seorang gadis cantik. Raisa namanya. Gadis yang


tewas malam itu dengan sangat tragis. Gibran sudah membunuh dua orang yang telah


menghabisi nyawa kekasihnya dan tinggal seorang lagi. Gibran belum menemukan


orang itu.


“Gibraan.” Panggil mama dari luar.


“Buka saja pintunya, Ma.” Jawab Gibran.


Mama membuka pintu dan masuk ke kamar sambil membawa


cokelat hangat untuk Gibran. Kemudian mama meletakkan cokelat itu di atas meja


dekat tempat tidur.


“Kamu dari mana aja semalam? Mama khawatir, Gibran. Lihat


berita di Koran ada pembunuhan anak genk motor. Kepalanya pecah, seram sekali.”


Gibran tertunduk dan bingung. Ia pun sangat takut kalau


polisi mencari tahu siapa yang membunuh anak genk motor itu.


“Gibran dari rumah teman, Ma.” Jawabnya singkat.


“Kamu hati-hati, jangan keluar malam lagi. Mama takut


terjadi apa-apa sama kamu, Gibran.”


“Iya, Ma.”


“Ya sudah kalau begitu, mama mau ke dapur menyiapkan saran


pagi untuk papa kamu.” Mama beranjak dan keluar dari kamar Gibran.


Gibran kembali terpaku, kemudian meneguk cokelat


hangat di atas meja. Ia masih berusaha mengingat seseorang yang ikut dalam


pembunuhan malam itu.



Dua hari kemudian, Titin dipindah ke ruang perawatan.


Ruang VIP di lantai tiga. Keadaannya sudah mulai membaik. Ia siuman. Matanya perlahan


terbuka. Ia memperhatikan sekelilingnya yang serba putih. Seorang perawat


menyapanya.


“Mbak Titin sudah sadar?” tanyanya.


Titin mengangguk. “Iya, Sus...” Jawabnya berat. “Keluarga saya di mana?”


“Maaf, Mbak. Sampai hari ini keluarga mbak belum datang. Hanya mas itu


yang menunggu mbak Titin sejak beberapa hari lalu. Dia cowok yang setia ya,


Mbak…”


Titin menoleh ke sudut ruangan. Di kursi empuk Toni tertidur pulas.


Semalaman dia tidak tidur hanya menjaga Titin. Titin bangkit dengan perlahan. Kepalanya


masih terasa sakit.


“Aduuh...” Rintihnya pelan.


“Hati-hati, Mbak... Mbak Titin mau ke mana?”


“Saya mau ke toilet, Sus...”


“Biar saya bantu,”


“Gak usah,”


Titin tertatih masuk ke kamar mandi. Suster yang menangani Titin keluar


dari ruangan. Tak berapa lama Titin keluar sambil memegang kepalanya yang masih


sakit.Ia mengedarkan pandang. Tidak ada siapa-siapa selain Toni. Di mana Marcel?


Pikirnya. Titin berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Hatinya seperti


terbakar api cemburu dan sakit. Marcel bermesraan dengan Meta. Pedih bila


mengingat hal itu.

__ADS_1


Toni terbangun dan melihat Titin berdiri di sudut


jendela.


“Kamu sudah bangun?” tanyanya. Titin tidak menjawab.


Ia hanya melirik sekilas. Tidak suka Toni berada di ruangannya.


“Kamu harus banyak istirahat, Tin. Jangan bergerak


dulu.” Kata Toni seraya beranjak dari tempatnya.


“Kenapa kamu ada disini?” tanya Titin tak bersahabat.


“Aku menjagamu.”


“Aku tidak butuh simpatik


darimu!” Titin ketus. Ia berjalan


tertatih menuju tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya


dengan sandaran yang empuk. Kepalanya masih terasa pusing. Luka di kaki dan


tangannya masih mendenyut.Titin memalingkan wajahnya dari


tatapan cowok itu.


“Sebaiknya kamu keluar dari ruangan ini. Aku jengah


melihat wajahmu.”


“Tinn… Aku sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Aku


kasihan melihatmu. Papa, Dewa dan keluargamu tidak ada yang menjengukmu.”


“Kamu gak perlu mengasihani aku. Tidak perlu ikut


campur dengan keluargaku. Aku sudah terbiasa jauh dari kasih sayang orangtuaku.”


“Tapi aku masih perduli denganmu. Kamu masih ada aku.”


“Memangnya siapa dirimu?”


“Aku ini kakakmu. Walau aku terlahir dari laki-laki


yang kamu anggap bejat, tapi aku terlahir dari rahim mamamu. Seorang bidadari


yang penuh kasih. Kita satu rahim, Tin.”


aduuh…” Titin merintih kecil. Kepalanya berdenyut, sakit sekali.


“Tin… kamu tidak apa-apa?” tanya Toni


memberi perhatian ke Titin. Titin menepis tangan Toni.


“Jangan sentuhaku!” Sungutnya.


Tiba-tiba pintu terayun terbuka. Sosok Hartati muncul


dengan seulas senyum, lalu menyapa Titin dengan perhatian yang penuh.


“Tinn… Kamu sudah siuman, Sayang?” Hartati menghampiri


Titin. Ia duduk di sebelahnya. Tangannya mengelus kepala Titin.


“Sudahlah, Ma. Gak usah pura-pura baik,” Titin menepis


tangan Hartati. Hartati bingungdengan kata-kata Titin.


“Tiinn… Apamaksud kamu? Mama tulus


menyayangimu, tidak ada kepura-puraan…”


“Cukup, Ma. Kalian berdua sama saja. Menyebalkan dan


bikin pusing!”


“Tiiin… Jangan begitu dong, Sayang… Mama menjengukmu.


Mama khawatir dengan keadaanmu.”


Titin masih dengan wajah yang sama. Hatinya sama


sekali tidak tersentuh dengan kasih saying mama. “Tidak perlu. Sebaiknya kalian


berdua keluar. Keluarrrr….!”


“Tiiinnn…”


“Keluaaarrrr…!!!”


Hartati menghela berat. Toni membimbing Hartati keluar

__ADS_1


dari ruangan Titin. Mungkin Titin masih mengalami trauma dengan kejadian malam


itu. Hartati hanya berdoa, semoga Titin diberi kesembuhan yang cepat.



Sudah seminggu Titin berada di rumah sakit. Dan hanya


Toni yang berbaik hati menjaganya. Hartati tak sanggup lagi menemani Titin.


Kondisi Hartati makin melemah


dan ia memeriksakan penyakitnya. Ada masalah di kepalanya.


Titin sudah membaik, namun kakinya masih terasa sakit.


Hingga ia tertatih berjalan. Toni yang setia menjaganya terkadang mendapat


makian pedas. Namun Toni tidak perduli. Ia kasihan melihat Titin.


“Mungkin ini hal terberat yang ingin ku sampaikan


padamu.” Toni buka bicara. Titin menatap Toni dengan tajam.


“Ada apa?”


“Sebenarnya Marcel tidak benar-benar mencintaimu. Dia menjebakmu dalam balapan itu. Ia


menyuruh temannya untuk merusak pedal rem agar kamu kecelakaan.”


Titin terkejut. “Itu tidak mungkin. Itu cerita


bohonganmu aja kan?! Hei… dari dulu juga aku sudah tahu akal busukmu! Mau kamu apa?!”


“Tiinn… Percaya sama aku. Jack sendiri yang bilang,”


“Jack…?” Dahi Titin berkerut. Ia kenal betul dengan cowok itu.


Sahabat dekat Marcel


dan Aditya.


“Marcel inginbalas dendam


ke kamu…”


“Balas dendam? Balas dendam untuk apa? Salahku apa?


Sudahlah, Ton… Jangan mengada-ada cerita. Kamu itu pecundang! Anak haram yang tidak


direstui lahir kedunia!”


“Tin..! Aku bercerita apa adanya. Kamu jangan mengungkit statusku! Aku tahu


dari dulu kalau aku tidak diharapkan terlahir di dunia ini. Tapi aku ingin


orang-orang menerimaku.”


“Itu urusanmu!”


“Ya... memang urusanku. Aku harap kamu tidak lagi berhubungan dengan Marcel. Lupakan dia.”


“Bukan urusanmu!”


“Sekarang menjadi urusanku!”


“Cukuuupp…!! Aku tidak mau mendengar ocehanmu!Lebih baik kamu


pergi dari kehidupanku!! Pergiiii!!!” Usir Titin dengan penuh emosi.


“Marcel  sudah


meninggal! Marcel tewas kecelakaan.” Kata Toni kemudian.


“Tidak! Itu tidak mungkin! Sekarang kamu keluar!”


Toni menarik nafas dalam-dalam. Menatap Titin dengan lekat, lalu melangkahkan


kakinya di jalan


setapak. Ia sudah berusaha menyadarkan Titin dari cinta palsu Marcel, namun


sia-sia. Titin keras kepala.


Ruang perawatanterasa


lengang. Sepi. Hanya Titin yang duduk sambil menatap halaman rumah sakit. Hari


ini ia sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun tidak ada yang menjemputnya. Titin menelepon supirnya dan menyuruh mang Izam ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan ia hanya mengingat Marcel. Ia tidak


percaya kalau Marcel sudah meninggal dunia. Ia juga mempertimbangkan kata-kata

__ADS_1


Toni. Benarkah yang diceritakan Toni atau hanya isapan jempol belaka.



__ADS_2