
Di teras belakang, Gibran duduk terpaku. Entah
apa yang dipikirkan cowok itu. Maryati memperhatikan Gibran dari balik kaca toko. Ada sedikit
rasa cemas di hatinya. Tidak seperti biasanya Gibranmurung seperti itu.
Maryati meletakkan
gunting bunga di atas meja. Menyuruh karyawannya menyelesaikan pekerjaan dan
memotong tangkai-tangkai bunga yang sudah layu. Maryati menghampiri Gibrandengan perasaan tidak menentu.
“Gibran…” Sapanya ragu-ragu. Gibran menoleh pelan, namun tidak
menggubris sapaan Maryati. “Kamu kenapa, Sayang? Apa yang kamu pikirkan?”
Maryati duduk di sebelah Gibran.
Gibran melirik Maryati. “Tidak apa-apa, Ma.” Ujarnya pelan.
Maryati menghela berat.
“Jangan bikin mama khawatir,
Gibran. Mama ingin kamu cepat sembuh.”
“Gibran mau balas dendam, Ma.”
“Balas dendam? Untuk apa? Sudahlah, kamu lupakan saja peristiwa itu,
nak. Mama takut banyak genk motor berkeliaran di jalan.”
“Tapi Gibran harus membunuh mereka yang suah membuat
Gibran begini.”
“Sudahla, Gibran... Mama tidak izinkan kamu keluar malam.”
Gibran terdiam dengan
sorot mata yang sangat tajam. Gibran beranjak. Ia mengambil
biola yang terletak apik di lemari khusus miliknya. Gibran mencoba beberapa senar dan
memainkan nada-nada sumbang, seperti lengkingan seekor kucing. Bekali-kali
dicobanya namun tetap saja suara-suara yang keluar seperti gesekan-gesekan mendecit. Gibran emosi
dan tidak sabar, hingga ia menghempaskan biolanya di sudut tempat tidur.
Gibran menarik-narik rambutnya berulang-ulang. Pikirannya
kacau dan penyakitnya kambuh lagi. Gibran memang selalu begitu
saat suasana hatinya terganggu. Ia sering memukul tembok bahkan menghentakkan
kepalanya berkali-kali ke dinding kamar. Hal itu membuat Maryati khawatir kalau Gibranbertindak konyol hingga menyakiti tubuhnya sendiri.
Titin mengamati
lukisan-lukisan Gibran di
galerinya. Sangat artistik. Paduan warna yang merata dan sangat elegan. Goresan
kuas yang lembut hingga terlihat seperti aslinya. Begitu halus dengan
warna-warna yang natural. Lukisan-lukisan itu patut diacungi jempol dan bisa
bersaing dengan pelukis-pelukis terkenal.
Gibran keluar dari kamarnya. Ia mengenakan jeans biru tua
dan t-shirt putih. Tampak sangat tampan dengan potongan rambut model sekarang.
Bibirnya merah basah dengan kumis yang dicukur
namun masih menyisakan bekas cukuran. Matanya
menatap Titin dengan
lekat. Tatapan itu benar-benar membuat Titin salah tingkah.
__ADS_1
“Gibran...?” Sapa Titin lembut dengan seulas senyum yang
menawan. Gibran diam
saja dengan ekspresi seperti biasa. Ia mengambil bola kristalnya yang terletak
di atas buffet, lalu memainkannya berulang-ulang. Titin mengikuti langkah Gibranke balkon belakang.
“Sebaiknya kamu pergi saja. Aku tidak mau diganggu siapa pun.” Ucap Gibran datar. Dahi Titin berkerut,
lalu ia berusaha membujuk Gibran.
“Aku hanya ingin
berteman denganmu, Gibran.” Ucapnya
lembut.
“Tidak usah. Aku tidak butuh teman.” Gibranmenolak.
Titin berusaha lagi membujuknya. “Yah… mungkin saat ini kamu tidak butuh teman, tapi suatu saat nanti kamu pasti butuh seseorang dalam hidupmu.”
“Aku tidak mau. Kamu pergi saja!” Suara Gibran mengeras.
“Gibran… aku ingin jadi sahabatmu. Gibran, kedatanganku bukan
untuk menyakitimu. Tapi aku ingin berbagi pengalaman denganmu.” Pujuk Titin lagi. Ia berusaha bersabar
menghadapi Gibran.
Seperti membujuk anak kecil yang sedang ngambek dan nggak mau makan.
Gibrantidak memberi reaksi apa-apa. Ia diam sambil asyik
dengan pikirannya.
“Gibran, beri aku kesempatan
untuk menemukan jati dirimu kembali. Sampai kapan kamu terperangkap dalam kehidupanmu
seperti ini?”
“Aku tidak perduli! Pergi kamu!!
JEDAAARRR…
Sejenak situasi menjadi
hening. Kemudian terdengar suara jeritan-jeritan dari kamar Gibran. Dia menjerit-jerit sambil
membenturkan kepalanya. Titin panik
dan ketakutan. Ia cemas dengan keadaan Gibran di
kamar. Mendengar Gibran teriak-teriak, Maryati menghampiri Titin yang panik.
“Bagaimana ini, Tante?” Tanyanya
gugup.
Maryati tersenyum
getir. “Nggak apa-apa, Tin… Gibran memang
suka begitu akhir-akhir ini.
Maafkan anak tante ya, Tin. Tante sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Gibran tapi
dia tetap dengan pikirannya.
Tante nggak tahu lagi harus bagaimana?”
Maryati berusaha
meyakinkan Titin.
Ia mengajak Titinke beranda belakang dan menyuguhkan teh hangat serta beberapa cemilan kecil.
“Kita ngeteh dulu yuk…” Ajak
Maryati.
“Terima kasih, Tante…” Titin duduk dengan manis. Angin sepoi-sepoi menyentuh kulit Titin.
__ADS_1
“Begitulah tingkah Gibran kalau sedang marah, Tin… Tante khawatir dengan keadaannya.”
“Sabar ya, Tante.
Mengambil simpati Titin itu butuh waktu. Saya akan terus berusaha membujuk Titin.”
“Tapi tante merasa
bersalah jika memaksamu mnemani
Gibran.”
“Saya nggak pernah
merasa terpaksa, Tante. Apalagi ini demi kemanusiaan. Demi Titin yang
terpuruk jauh dari kehidupannya.
Kasihan Titinkalau separuh hidupnya mengalami seperti ini.”
“Ya... Tante tahu, Tin... Mungkin itu sudah takdir Gibran.” Suara Maryati mendadak parau. Ada
genangan air bening di pelupuk matanya.
“Sudah dua tahun lebih
tante menghadapi Gibran seperti
ini. Tante sedih, Tin. Hanya Gibrananak tante satu-satunya. Tante tidak tahu lagi harus bagaimana?”
“Tante harus bersabar.
Kita harus terus berusaha dan berdoa agar Gibran mengalami
perubahan. Agar Tuhan juga memberi mukjizatnya.”
“Terima kasih, Tin. Tante harap kamu mau bersabar
untuk Gibran.”
Titin mengangguk pelan. “Sama-sama, Tante. Untuk hari ini
biarkan Gibran di kamarnya. Besok saya akan kembali lagi. Saya akan membujuk Gibran dengan
cara saya sendiri.”
Maryati tersenyum.
“Sekali lagi terima kasih, Tin.
Tante harap kamu tidak bosan menghadapi kelakuan Gibran.”
“Ya, semoga, Tante.” Titin tersenyum.
“Silahkan diminum dulu
tehnya, Tin…”
Titin mengangguk sambil menikmati hembusan angin yang
segar. Setelah obrolan panjang, Titin pamit pulang.
“Saya pamit pulang,
Tante. Masih ada kerjaan lain yang harus saya selesaikan.”
“Baiklah, Tin. Terima kasih atas kunjungannya.”
“Sama-sama, Tante.”
“Kamu hati-hati di
jalan.”
“Ya.”
Maryati mengantarkan Titin sampai ke halaman depan. Tak lama
motor Titin meninggalkan
rumah Maryati. Titinmenghela berat di perjalanan. Ia benar-benar mendapat sebuah tantangan dan
cobaan yang sangat berat.
__ADS_1