TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 24


__ADS_3

Di teras belakang, Gibran duduk terpaku. Entah


apa yang dipikirkan cowok itu. Maryati memperhatikan Gibran dari balik kaca toko. Ada sedikit


rasa cemas di hatinya. Tidak seperti biasanya Gibranmurung seperti itu.


Maryati meletakkan


gunting bunga di atas meja. Menyuruh karyawannya menyelesaikan pekerjaan dan


memotong tangkai-tangkai bunga yang sudah layu. Maryati menghampiri Gibrandengan perasaan tidak menentu.


“Gibran…” Sapanya ragu-ragu. Gibran menoleh pelan, namun tidak


menggubris sapaan Maryati. “Kamu kenapa, Sayang? Apa yang kamu pikirkan?”


Maryati duduk di sebelah Gibran.


Gibran melirik Maryati. “Tidak apa-apa, Ma.” Ujarnya pelan.


Maryati menghela berat.


“Jangan bikin mama khawatir,


Gibran. Mama ingin kamu cepat sembuh.”


“Gibran mau balas dendam, Ma.”


“Balas dendam? Untuk apa? Sudahlah, kamu lupakan saja peristiwa itu,


nak. Mama takut banyak genk motor berkeliaran di jalan.”


“Tapi Gibran harus membunuh mereka yang suah membuat


Gibran begini.”


“Sudahla, Gibran... Mama tidak izinkan kamu keluar malam.”


Gibran  terdiam dengan


sorot mata yang sangat tajam. Gibran beranjak. Ia mengambil


biola yang terletak apik di lemari khusus miliknya. Gibran mencoba beberapa senar dan


memainkan nada-nada sumbang, seperti lengkingan seekor kucing. Bekali-kali


dicobanya namun tetap saja suara-suara yang keluar seperti gesekan-gesekan mendecit. Gibran emosi


dan tidak sabar, hingga ia menghempaskan biolanya di sudut tempat tidur.


Gibran menarik-narik rambutnya berulang-ulang. Pikirannya


kacau dan penyakitnya kambuh lagi. Gibran memang selalu begitu


saat suasana hatinya terganggu. Ia sering memukul tembok bahkan menghentakkan


kepalanya berkali-kali ke dinding kamar. Hal itu membuat Maryati khawatir kalau Gibranbertindak konyol hingga menyakiti tubuhnya sendiri.



Titin  mengamati


lukisan-lukisan Gibran di


galerinya. Sangat artistik. Paduan warna yang merata dan sangat elegan. Goresan


kuas yang lembut hingga terlihat seperti aslinya. Begitu halus dengan


warna-warna yang natural. Lukisan-lukisan itu patut diacungi jempol dan bisa


bersaing dengan pelukis-pelukis terkenal.


Gibran keluar dari kamarnya. Ia mengenakan jeans biru tua


dan t-shirt putih. Tampak sangat tampan dengan potongan rambut model sekarang.


Bibirnya merah basah dengan kumis yang dicukur


namun masih menyisakan bekas cukuran. Matanya


menatap Titin dengan


lekat. Tatapan itu benar-benar membuat Titin salah tingkah.

__ADS_1


“Gibran...?” Sapa Titin lembut dengan seulas senyum yang


menawan. Gibran diam


saja dengan ekspresi seperti biasa. Ia mengambil bola kristalnya yang terletak


di atas buffet, lalu memainkannya berulang-ulang. Titin mengikuti langkah Gibranke balkon belakang.


“Sebaiknya kamu pergi saja. Aku tidak mau diganggu siapa pun.” Ucap Gibran datar. Dahi Titin berkerut,


lalu ia berusaha membujuk Gibran.


“Aku hanya ingin


berteman denganmu, Gibran.” Ucapnya


lembut.


“Tidak usah. Aku tidak butuh teman.” Gibranmenolak.


Titin berusaha lagi membujuknya. “Yah… mungkin saat ini kamu tidak butuh teman, tapi suatu saat nanti kamu pasti butuh seseorang dalam hidupmu.”


“Aku tidak mau. Kamu pergi saja!” Suara Gibran mengeras.


“Gibran… aku ingin jadi sahabatmu. Gibran, kedatanganku bukan


untuk menyakitimu. Tapi aku ingin berbagi pengalaman denganmu.” Pujuk Titin lagi. Ia berusaha bersabar


menghadapi Gibran.


Seperti membujuk anak kecil yang sedang ngambek dan nggak mau makan.


Gibrantidak memberi reaksi apa-apa. Ia diam sambil asyik


dengan pikirannya.


“Gibran, beri aku kesempatan


untuk menemukan jati dirimu kembali. Sampai kapan kamu terperangkap dalam kehidupanmu


seperti ini?”


“Aku tidak perduli! Pergi kamu!!


JEDAAARRR…


Sejenak situasi menjadi


hening. Kemudian terdengar suara jeritan-jeritan dari kamar Gibran. Dia menjerit-jerit sambil


membenturkan kepalanya. Titin panik


dan ketakutan. Ia cemas dengan keadaan Gibran di


kamar. Mendengar Gibran teriak-teriak, Maryati menghampiri Titin yang panik.


“Bagaimana ini, Tante?” Tanyanya


gugup.


Maryati tersenyum


getir. “Nggak apa-apa, Tin… Gibran memang


suka begitu akhir-akhir ini.


Maafkan anak tante ya, Tin. Tante sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Gibran tapi


dia tetap dengan pikirannya.


Tante nggak tahu lagi harus bagaimana?”


Maryati berusaha


meyakinkan Titin.


Ia mengajak Titinke beranda belakang dan menyuguhkan teh hangat serta beberapa cemilan kecil.


“Kita ngeteh dulu yuk…” Ajak


Maryati.


“Terima kasih, Tante…” Titin duduk dengan manis. Angin sepoi-sepoi menyentuh kulit Titin.

__ADS_1


“Begitulah tingkah Gibran kalau sedang marah, Tin… Tante khawatir dengan keadaannya.”


“Sabar ya, Tante.


Mengambil simpati Titin itu butuh waktu. Saya akan terus berusaha membujuk Titin.”


“Tapi tante merasa


bersalah jika memaksamu mnemani


Gibran.”


“Saya nggak pernah


merasa terpaksa, Tante. Apalagi ini demi kemanusiaan. Demi Titin yang


terpuruk jauh dari kehidupannya.


Kasihan Titinkalau separuh hidupnya mengalami seperti ini.”


“Ya... Tante tahu, Tin... Mungkin itu sudah takdir Gibran.” Suara Maryati mendadak parau. Ada


genangan air bening di pelupuk matanya.


“Sudah dua tahun lebih


tante menghadapi Gibran seperti


ini. Tante sedih, Tin. Hanya Gibrananak tante satu-satunya. Tante tidak tahu lagi harus bagaimana?”


“Tante harus bersabar.


Kita harus terus berusaha dan berdoa agar Gibran mengalami


perubahan. Agar Tuhan juga memberi mukjizatnya.”


“Terima kasih, Tin. Tante harap kamu mau bersabar


untuk Gibran.”


Titin mengangguk pelan. “Sama-sama, Tante. Untuk hari ini


biarkan Gibran di kamarnya. Besok saya akan kembali lagi. Saya akan membujuk Gibran dengan


cara saya sendiri.”


Maryati tersenyum.


“Sekali lagi terima kasih, Tin.


Tante harap kamu tidak bosan menghadapi kelakuan Gibran.”


“Ya, semoga, Tante.” Titin tersenyum.


“Silahkan diminum dulu


tehnya, Tin…”


Titin mengangguk sambil menikmati hembusan angin yang


segar. Setelah obrolan panjang, Titin pamit pulang.


“Saya pamit pulang,


Tante. Masih ada kerjaan lain yang harus saya selesaikan.”


“Baiklah, Tin. Terima kasih atas kunjungannya.”


“Sama-sama, Tante.”


“Kamu hati-hati di


jalan.”


“Ya.”


Maryati mengantarkan Titin sampai ke halaman depan. Tak lama


motor Titin meninggalkan


rumah Maryati. Titinmenghela berat di perjalanan. Ia benar-benar mendapat sebuah tantangan dan


cobaan yang sangat berat.

__ADS_1



__ADS_2