TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 32


__ADS_3

Sore itu Titin ke rumah


Jack. Ia ingin tahu kebenarannya langsung dari mulut Jack. Apa yang sudah


dilakukannya dua tahun lalu sampai seorang cowok bernama Gibran menaruh dendam


padanya. Jack pun keluar dari rumah setelah Titin memanggilnya. Jack heran dan


bingung, kenapa Titin tiba-tiba saja ke rumahnya dan tahu alamatnya.


“Kamu tahu dari mana


alamat rumahku?” tanyanya heran.


“Dari temanmu.” Jawab


Titin singkat.


“Ada perlu apa?” tanya


Jack dengan nada biasa saja.


“Ada yang mau aku


omongin. Sebaiknya kita cari tempat di luar. Aku tidak mau orang tuamu


mendengarnya.”


Jack diam sejenak


sambil berpikir apa yang ingin diomongkan Titin kepadanya. Padahal dia tidak


begitu mengenal Titin sangat dekat. Mereka hanya sering bertemu di tempat lain


atau di kampus.


Akhirnya mereka keluar


dan mencari tempat di alun-alun kota. Di taman Ahmad Yani mereka duduk di


bangku yang terbuat dari beton. Titin mengawali pembicaraan seraya bertanya pada


Jack.


“Jack, aku gak mau


mencampuri urusanmu, tapi ini menyangkut seseorang yang saat ini mengalami


depresi karena kelakuan kalian dua tahun lalu. Apa yang sudah kalian lakukan


dua tahun lalu?” tanya Titin.


Jack terdiam dan


mengingat apa yang sudah ia lakukan. “Maksudmu melakukan apa? Aku tidak


melakukan apa-apa.” Jawab Jack tidak mengingat apa-pun.


“Apa benar kalian


pernah membunuh seseorang?”


Jack terkejut dan ia


mulai gelisa. Raut wajahnya berubah pias dan ia mulai salah tingkah.


“Katakan saja terus


terang, Jack. Apakah benar kalian melakukan pembunuhan itu?”


Jack terdiam.


Sepertinya ia mulai mengingat kejadian itu dan berusaha menutupinya. Malam di


mana mereka dalam keadaan mabuk dan membegal sepasang kekasih di tengah jalan


sepi. Mereka menghajar si cowok sampai babak belur dan memperkosa kekasihnya


sebelum dibunuh.


“Jack!” Panggil Titin


menyadarkan lamunannya. Jack tergagap dan sadar akan panggilan Titin.


“Iya, Tin.”


“Apa yang sudah kalian


lakukan?”


“Hmm...” Jack mendegut


ludahnya sejenak lalu menceritakan kejadian itu.

__ADS_1


Malam itu mereka habis


balapan liar dan menang. Uangnya hasil balapan liar mereka belikan minuman


keras sampai mereka mabuk. Malam yang dingin dan sepi ketika sepasang kekasih


melintas, mereka pun mengejarnya. Mereka membegal sepasang kekasih sampai


motornya jatuh dan terhempas di jalan hitam. Entah apa yang merasuki meraka


sampai tega menghabisi nyawa si gadis. Sambil tertawa dan teler, mereka membawa


si gadis ke tempat kosong dan sepi. Dengan tidak manusiawi mereka memperkosa si


gadis bergantian, sementara si cowok terkapar dijalan karena mereka pukul.


Malam bejat dan malam


durjana, akhirnya mereka membunuh si gadis dengan sadis. Kemudian mereka


membuang mayat si gadis ke semak-semak. Cowok yang sudah bersimbah darah itu


pun kemudian mereka pukul pakai benda keras di kepalanya. Setelah itu mereka


pergi tidak meninggalkan jejak. Pembunuhan itu sangat rapi.


Cowok yang sekarat itu


akhirnya dilarikan ke rumah sakit saat pagi menjelang. Saat seseorang menemukannya


tergeletak di jalan. Cowok itu adalah Gibran.


“Jadi benar kamu melakukan


perbuatan bejat itu?”


“Aku menyesal, Tin.


Hampir setiap malam arwah gadis itu minta tolong padaku.” Ujar Jack.


Titin menarik nafasnya


dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak bisa membayangkan


kejadian itu yang sangat tragis.


“Sebaiknya kamu akui


“Tapi aku tidak mau di


penjara, Tin. Bagaimana perasaan nyokap dan bokap kalau tahu aku melakukan


perbuatan itu?”


“Sama dengan orang tua


korban yang telah kalian renggut nyawanya, Jack. Bagaimana perasaan mereka


mengetahui anaknya sudah menjadi mayat? Perbuatan kalian tidak bisa diampuni.


Kamu tehu kematian Aditya? Kematian Marcel? Mereka mengalami kematian yang


sama. Dengan motif pembegalan.”


Jack terdiam lagi dan


menunduk seolah menyesal apa yang telah diperbuatnya.


“Tapi kejadian itu


sudah dua tahun yang lalu. Kasusnya juga sudah dilupakan.”


“Bukan berarti pihak


keluarga melupakan kematian anak gadisnya, Jack. Ada seseorang yang mengincarmu


dan akan membunuhmu.”


“Siapa?” Jack terkejut


dan membelalakan matanya.


“Korban yang kalian


pukul di bagian kepala. Dia akan menuntut balas dan menghabisi kalian.”


“Cowok itu? Masih


hidup?” tanya Jack penasaran.


Titin hanya mengangguk,


kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu


pikirkan saran yang kuberikan ke kamu. Aku pergi dulu.” Kata Titin dan berlalu


menghampiri sepeda motornya. Jack masih terpaku dan berpikir dengan hati yang


galau.



Gibran berdiri di sudut jendela. Ia senang memperhatikan halaman


depan dan menerawang jauh ke depan. Misinya tinggal sedikit lagi. Ia harus


menghabisi Jack malam ini. Ia tidak ingin Jack lolos lagi dari pantauannya.


Gibran tercekat ketika mendengar ketukan pintu dari luar.


“Gibran...” Panggil mama dari luar.


“Iya, Ma...” Jawab Gibran seraya beranjak dari tempatnya. Gibran


membukakan pintu dan melihat mama yang mengamatinya.


“Mama buatin bubur ayam nih.” Kata mama sambil masuk ke kamar


Gibran dan meletakkan tempaian di atas meja. Gibran duduk di kursi dan mama


duduk di sisi tempat tidur. Maryati mengamati anak laki-lakinya yang semakin


dewasa.


“Gibran, mama mohon. Kamu jangan pergi-pergi lagi tanpa


sepengetahuan mama. Mama khawatir.”


“Gibran gak pergi kemana-mana kok, Ma.” Kata Gibran memastikan


mamanya.


“Kemarin kamu ke kampus. Apa yang kamu lakukan di sana? Mama


khawatir dan seseorang yang menyakitimu.”


Gibran terdiam. Dia tau siapa yang mengadu ke mamanya. Pasti


Titin. Gibran masih diam ketika Maryati menasehatinya. Sampai Maryati keluar


dari kamar Gibran, cowok itu masih tetap diam. Namun, hatinya berkecambuk ingin


menghabisi cowok di kampus itu.



Di ruang tamu, Maryati menemui suaminya yang duduk santai sambil


membaca majalah bisnis. Ia duduk di sebelahnya dan meletakkan kopi di atas


meja.


“Gibran di mana, Ma?” tanya sang suami.


“Ada di kamarnya, Pa. Tapi mama khawatir dengaN Gibran.”


“Apa yang mama khawatirkan?”


“Gibran ingin balas dendam, Pa.”


Papa kaget dan menurunkan majalahnya. “Balas dendam sama siapa?”


tanyanya kemudian.


“Orang yang pernah meyakitinya.”


“Maksud, Mama?”


“Kejadian dua tahun lalu bukan kecelakaan, Pa. Tapi pembegalan.”


Papa menarik nafas berat dan meletakkan majalahnya di atas meja.


Papa benar-benar tidak tahu kalau kejadian dua tahun lalu adalah pembegalan


yang dilakukan beberapa orang.


“Bagaimana ini, Pa?” tanya Maryati dengan cemas.


“Kita harus mengawasi Gibran, Ma. Jangan biarkan dia bertindak


sendiri.”


Mama mengangguk, namun pikirannya masih tidak tenang.


__ADS_1


__ADS_2