
Sore itu Titin ke rumah
Jack. Ia ingin tahu kebenarannya langsung dari mulut Jack. Apa yang sudah
dilakukannya dua tahun lalu sampai seorang cowok bernama Gibran menaruh dendam
padanya. Jack pun keluar dari rumah setelah Titin memanggilnya. Jack heran dan
bingung, kenapa Titin tiba-tiba saja ke rumahnya dan tahu alamatnya.
“Kamu tahu dari mana
alamat rumahku?” tanyanya heran.
“Dari temanmu.” Jawab
Titin singkat.
“Ada perlu apa?” tanya
Jack dengan nada biasa saja.
“Ada yang mau aku
omongin. Sebaiknya kita cari tempat di luar. Aku tidak mau orang tuamu
mendengarnya.”
Jack diam sejenak
sambil berpikir apa yang ingin diomongkan Titin kepadanya. Padahal dia tidak
begitu mengenal Titin sangat dekat. Mereka hanya sering bertemu di tempat lain
atau di kampus.
Akhirnya mereka keluar
dan mencari tempat di alun-alun kota. Di taman Ahmad Yani mereka duduk di
bangku yang terbuat dari beton. Titin mengawali pembicaraan seraya bertanya pada
Jack.
“Jack, aku gak mau
mencampuri urusanmu, tapi ini menyangkut seseorang yang saat ini mengalami
depresi karena kelakuan kalian dua tahun lalu. Apa yang sudah kalian lakukan
dua tahun lalu?” tanya Titin.
Jack terdiam dan
mengingat apa yang sudah ia lakukan. “Maksudmu melakukan apa? Aku tidak
melakukan apa-apa.” Jawab Jack tidak mengingat apa-pun.
“Apa benar kalian
pernah membunuh seseorang?”
Jack terkejut dan ia
mulai gelisa. Raut wajahnya berubah pias dan ia mulai salah tingkah.
“Katakan saja terus
terang, Jack. Apakah benar kalian melakukan pembunuhan itu?”
Jack terdiam.
Sepertinya ia mulai mengingat kejadian itu dan berusaha menutupinya. Malam di
mana mereka dalam keadaan mabuk dan membegal sepasang kekasih di tengah jalan
sepi. Mereka menghajar si cowok sampai babak belur dan memperkosa kekasihnya
sebelum dibunuh.
“Jack!” Panggil Titin
menyadarkan lamunannya. Jack tergagap dan sadar akan panggilan Titin.
“Iya, Tin.”
“Apa yang sudah kalian
lakukan?”
“Hmm...” Jack mendegut
ludahnya sejenak lalu menceritakan kejadian itu.
__ADS_1
Malam itu mereka habis
balapan liar dan menang. Uangnya hasil balapan liar mereka belikan minuman
keras sampai mereka mabuk. Malam yang dingin dan sepi ketika sepasang kekasih
melintas, mereka pun mengejarnya. Mereka membegal sepasang kekasih sampai
motornya jatuh dan terhempas di jalan hitam. Entah apa yang merasuki meraka
sampai tega menghabisi nyawa si gadis. Sambil tertawa dan teler, mereka membawa
si gadis ke tempat kosong dan sepi. Dengan tidak manusiawi mereka memperkosa si
gadis bergantian, sementara si cowok terkapar dijalan karena mereka pukul.
Malam bejat dan malam
durjana, akhirnya mereka membunuh si gadis dengan sadis. Kemudian mereka
membuang mayat si gadis ke semak-semak. Cowok yang sudah bersimbah darah itu
pun kemudian mereka pukul pakai benda keras di kepalanya. Setelah itu mereka
pergi tidak meninggalkan jejak. Pembunuhan itu sangat rapi.
Cowok yang sekarat itu
akhirnya dilarikan ke rumah sakit saat pagi menjelang. Saat seseorang menemukannya
tergeletak di jalan. Cowok itu adalah Gibran.
“Jadi benar kamu melakukan
perbuatan bejat itu?”
“Aku menyesal, Tin.
Hampir setiap malam arwah gadis itu minta tolong padaku.” Ujar Jack.
Titin menarik nafasnya
dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak bisa membayangkan
kejadian itu yang sangat tragis.
“Sebaiknya kamu akui
“Tapi aku tidak mau di
penjara, Tin. Bagaimana perasaan nyokap dan bokap kalau tahu aku melakukan
perbuatan itu?”
“Sama dengan orang tua
korban yang telah kalian renggut nyawanya, Jack. Bagaimana perasaan mereka
mengetahui anaknya sudah menjadi mayat? Perbuatan kalian tidak bisa diampuni.
Kamu tehu kematian Aditya? Kematian Marcel? Mereka mengalami kematian yang
sama. Dengan motif pembegalan.”
Jack terdiam lagi dan
menunduk seolah menyesal apa yang telah diperbuatnya.
“Tapi kejadian itu
sudah dua tahun yang lalu. Kasusnya juga sudah dilupakan.”
“Bukan berarti pihak
keluarga melupakan kematian anak gadisnya, Jack. Ada seseorang yang mengincarmu
dan akan membunuhmu.”
“Siapa?” Jack terkejut
dan membelalakan matanya.
“Korban yang kalian
pukul di bagian kepala. Dia akan menuntut balas dan menghabisi kalian.”
“Cowok itu? Masih
hidup?” tanya Jack penasaran.
Titin hanya mengangguk,
kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Sebaiknya kamu
pikirkan saran yang kuberikan ke kamu. Aku pergi dulu.” Kata Titin dan berlalu
menghampiri sepeda motornya. Jack masih terpaku dan berpikir dengan hati yang
galau.
Gibran berdiri di sudut jendela. Ia senang memperhatikan halaman
depan dan menerawang jauh ke depan. Misinya tinggal sedikit lagi. Ia harus
menghabisi Jack malam ini. Ia tidak ingin Jack lolos lagi dari pantauannya.
Gibran tercekat ketika mendengar ketukan pintu dari luar.
“Gibran...” Panggil mama dari luar.
“Iya, Ma...” Jawab Gibran seraya beranjak dari tempatnya. Gibran
membukakan pintu dan melihat mama yang mengamatinya.
“Mama buatin bubur ayam nih.” Kata mama sambil masuk ke kamar
Gibran dan meletakkan tempaian di atas meja. Gibran duduk di kursi dan mama
duduk di sisi tempat tidur. Maryati mengamati anak laki-lakinya yang semakin
dewasa.
“Gibran, mama mohon. Kamu jangan pergi-pergi lagi tanpa
sepengetahuan mama. Mama khawatir.”
“Gibran gak pergi kemana-mana kok, Ma.” Kata Gibran memastikan
mamanya.
“Kemarin kamu ke kampus. Apa yang kamu lakukan di sana? Mama
khawatir dan seseorang yang menyakitimu.”
Gibran terdiam. Dia tau siapa yang mengadu ke mamanya. Pasti
Titin. Gibran masih diam ketika Maryati menasehatinya. Sampai Maryati keluar
dari kamar Gibran, cowok itu masih tetap diam. Namun, hatinya berkecambuk ingin
menghabisi cowok di kampus itu.
Di ruang tamu, Maryati menemui suaminya yang duduk santai sambil
membaca majalah bisnis. Ia duduk di sebelahnya dan meletakkan kopi di atas
meja.
“Gibran di mana, Ma?” tanya sang suami.
“Ada di kamarnya, Pa. Tapi mama khawatir dengaN Gibran.”
“Apa yang mama khawatirkan?”
“Gibran ingin balas dendam, Pa.”
Papa kaget dan menurunkan majalahnya. “Balas dendam sama siapa?”
tanyanya kemudian.
“Orang yang pernah meyakitinya.”
“Maksud, Mama?”
“Kejadian dua tahun lalu bukan kecelakaan, Pa. Tapi pembegalan.”
Papa menarik nafas berat dan meletakkan majalahnya di atas meja.
Papa benar-benar tidak tahu kalau kejadian dua tahun lalu adalah pembegalan
yang dilakukan beberapa orang.
“Bagaimana ini, Pa?” tanya Maryati dengan cemas.
“Kita harus mengawasi Gibran, Ma. Jangan biarkan dia bertindak
sendiri.”
Mama mengangguk, namun pikirannya masih tidak tenang.
__ADS_1