TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 17


__ADS_3

Gibran duduk terpaku di balkon kamarnya. Matanya sendu


memandang alun-alun kota Jakarta. Tangannya terus memainkan bola kristal


berulang-ulang. Entah apa yang ada dalam benaknya. Pandangannya kosong seperti


kemarin-kemarin.


Gibran beranjak ke galerinya. Ia mengambil saksofon dari


atas lemari pakaian. Masih apik dengan peti kecil berwarna hitam. Gibran


memperhatikan benda itu dengan lekat, lalu mengelusnya lembut. Menikmati


sentuhan halus setiap bentuknya. Ia mengangkat benda itu dengan hati-hati lalu


meniupnya dengan penuh penghayatan. Nada-nada yang indah keluar begitu


merdunya. Sungguh luar biasa. Maryati sampai terpaku mendengarnya. Matanya


sampai berkaca-kaca memperhatikan Gibran yang begitu menghayati memainkan


saksofon. Maryati tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya dan duduk manis di


beranda samping.


Maryati hanya tersenyum haru. Sungguh ini di luar


dugaannya. Ia sangat berterima kasih pada Yang Maha Kuasa, karena memberi


kelebihan lain pada anaknya. Maryati merapatkan tangannya sambil tersenyum.


Matanya terus berbinar. Nada-nada itu terus mengalum lembut hingga melambungkan


angan dan kenangan Maryati.


Gibran mengakhiri permainannya dengan nada penutup yang


lembut. Hal itu membuat Maryati membuka matanya. Pertunjukan sudah selesai dan


ia tersenyum.


###


Pagi


itu di kampus. Titin menemui Bellinda di kelasnya. Bellinda tampak kuyu, kurang


tidur. Ditambah lagi beberapa hari ini pikirannya tak menentu. Kevin yang


dikenalnya sejak kecil dan membuat Bellinda kelimpungan, gak pernah nongol


sejak jadian sama Cindy.


“Bell? Kamu


sakit?” tanya Titin saat melihat


wajah Bellinda yang pucat.


“Cuma gak enak


badan aja, Tin. Ada apa?”


Titin duduk di


sebelah Bellinda. “Bell, aku mau ngomong ma kamu, bentar…”


“Yah udah


ngomong aja, Tin…”


“Gak asyik di


kelas. Kita ke taman yuk..” Titin menarik tangan Bellinda hingga ia beranjak


dari duduknya. Di taman mereka duduk di kursi, di bawah pohon mahoni.


“Kamu tahu Rico? Anak Teknik, yang satu angkatan di atas kita?”


Bellinda


mengingat sejenak, lalu  mengangguk.


“Iya, emang kenapa sama si Rico?”


“Dia ditangkap


polisi kemarin.” Ujar Titin.


“Kenapa?” Bellinda penasaran.


“Ternyata dia


itu bandar narkoba di kampus.”


“Terus, apa


hubungannya sama aku? Aku kan nggak pernah pake narkoba?” Kata Bellinda memastikan.


“Aduh, Bell…!


Gini ceritanya. Si Rico itu kan bekas gebetannya Cindy. Bahkan desas desusnya


yang ngenalin Rico ama narkoba itu si Cindy!”


“Serius? Yang


bener kamu, Tin?! Kamu jangan asal nyeplos aja! Bahaya kalo Kevin  dengar, bisa marah besar dianya.”


“Justru itu,


Bell… Aku jadi ngeri kalo berita itu benar. Bisa-bisa…”


“Bisa-bisa apa,


Tin? Kamu hati-hati ya kalo ngomong!”


“Bisa-bisa Kevin


juga udah jadi pemakai gara-gara Cindy. Melihat akhir ini dia sering ngaco


gitu.” Titin merasa cemas.


“Nggak mungkin


ah! Kevin gak segampang itu dipengaruhi orang lain. Tapi…” Bellinda mulai


cemas.


“Eh, Kevin


datang tuch,” Bellinda dan Titin menghentikan perbincangan mereka. Kevin


menghampiri keduanya.


“Kalian ngapain


lihat aku sampai melotot gitu?”


“Eee…gak ada


apa-apa kok.”


“Kalian lihat


Cindy?”


Bellinda dan


Titin menggeleng.

__ADS_1


“Biasanya jalan


berdua sama kamu?”


“Tadi janjinya


mau ketemu di kampus.” Kevin celingukan di halaman kampus. Bellinda dan Titin


masih ragu-ragu ingin menanyakan kebenaran desa-desus yang beredar.


“Vin… kamu


serius sama Cindy…?” akhirnya Titin angkat bicara. Kevin terkejut dengan


pertanyaan Titin.


“Ya seriuslah!


Emang kenapa? Tumben nanyain hubunganku ama Cindy?”


“Kamu tahu latar


belakang Cindy, Vin?” tanya Titin serius. Kevin mulai tidak nyaman dengan arah


pembicaraan kedua sahabatnya.


“Emang kenapa


ama latar belakang Cindy?”


“Kamu kenal Rico kan, Vin? Bekas gebetanCindy dulu.”


“Dia kemarin ketangkap


polisi. Masalah drugs.” Potong


Titin. Kevin semakin tidak nyaman.


“Iya, aku tahu


si Rico mantan Cindy dan aku udah tahu kalau dia ketangkap kemarin. Tapi apa


hubungannya ama Cindy?”


Bellinda dan


Titin saling berpandangan. Dengan nada berhati-hati Bellinda berujar.


“Jadi kamu udah


dengar juga desas-desusnya kan?”


“Bahwa si Cindy


itu yang ngenalin Rico ama drugs?” Potong Kevin cepat. Kevin berdiri dari


duduknya, wajahnya memerah. Dia marah.


“Kalian kalau


ngomong hati-hati ya! Kalau gak ingat kalian temanku dari kecil aku sudah menghajar


kalian berdua!”


Bellinda


bergidik. Tidak menyangka Kevin bakalan sekasar itu kepada mereka.


“Aku cuma tanya


aja, Vin. Apa desas-desus itu benar?”


“Arrggghhh…


*******!! Kalian gak usah mencampuri hubunganku sama Cindy. Maksud kalian apa?


Mau misahkan aku sama Cindy? Jangan harap, Tin. Aku mencintai Cindy lebih dari


“Lantas kami


kamu anggap apa, Vin? Apa kamu pikir kami tidak perduli dengan kehidupanmu?!”


Kevin masih


emosional, berdiri sambil menuding Titin dan Bellinda. “Aku gak nyangka kalau


kalian berdua…” Nafas Kevin tersengal menahan emosi. “Yang ngaku temen ama aku…


tega ngomongin Cindy kaya gitu?! Nuduh yang enggak-enggak!”


“Vin, justru


karena kita berdua ini temen kamu makanya kita gak pingin kamu  terjerumus…” Bellinda berusaha menyabarkan


Kevin.


“Alaaah… udah


diam kamu, Bell! Aku gak butuh temen kayak kalian berdua! Kalian  berdua sama aja kaya nyokap bokapku, sok


perhatian, sok ngatur, gak bisa lihat aku senang. Awas kalian berdua, jangan


ikut campur urusanku ama Cindy lagi! Kalo gak…” Kevin tidak menyelesaikan


perkataannya, dia lalu pergi dengan kesal. Bellinda dan Titin mematung diam


melihat kepergian Kevin.


“Terus gimana


nih, Bell?”


“Aku curiga


kalau Kevin udah bener-bener jadi drugs


addict.”


Titin menghela


napas panjang. “Wah kacau…  Kacau…”


“Liat aja jadi


makin temperament. Labil. Syarafnya mulai banyak yang putus.”


Titin cuma


geleng-geleng kepala. Kemudian mereka masuk ke ruangan.


Kevin berjalan menuju mobilnya.


Emosinya dilampiaskan dengan menendang sebotol kaleng minuman ringan.


Klontang… tangg.. tanggg…


“Sialan Titin


sama Bella, apa sih hak mereka nge-judge Cindy? Cindy tu kan pacarku! Kalau mereka gak percaya ama Cindy, berarti mereka


gak percaya juga ama aku!” Kevin tampak emosional.


“Kamu dimana,


Sayang?” Kevin nelpon Cindy.


“Keviiinn… aku


lagi di toko baju nih, Sun Plaza. Kamu kemari dong temenin aku…”


“Oke deh. Tunggu

__ADS_1


aku di sana ya…”


Klik.


Kevin memutar


setir mobilnya. Berbelok ke kanan menuju Sun Plaza. Setibanya di Sun Plaza Kevin


mencari Cindy yang sibuk memilih baju. Tak lama ia menemukan Cindy sambil


melambaikan tangannya. Kevin menceritakan semua desas-desus miring tentang


dirinya.


“Oh, jadi begitu


ceritanya?”


“Mereka


keterlaluan, Cind…”


“Kamu tahu gak


sih, Vin. Bellinda itu berusaha memisahkan kita. Dia itu suka sama kamu,


makanya dia buat gara-gara untuk misahin kita.”


“Kurang ajar


Bellinda. Mau mereka apa sih? Gak bisa lihat orang senang.”


“Sudahlah,


Sayang. Jangan dipikirkan. Lebih baik kita pulang saja… Jangan diurusin Bellinda.”


Kevin mengangguk


sambil menerima kecupan hangat dari Cindy. Setelah membayar semua baju yang


diborong Cindy pakai ATM Kevin, Cindy minta ditemeni lagi beli perhiasan.


###


Di sebuah kamar.


Cindy dan Kevin duduk di sofa. Cindy memaksa Kevin untuk ngedrugs. Berkali-kali


Cindy membujuk Kevin yang sudah tergila-gila dengan Cindy.


“Aku gak bakalan


nawarin barang ini ke kamu, Vin. Kalau aku sendiri gak pernah nyoba.


Sensasional deh. Kita bisa semalaman fly


on bed honey.”


“Tapi, Cin… Aku gak


pernah,”


“Aku tahu


rasanya gak diperhatiin sama ortu. Bokap Nyokapku sama kayak bokap nyokap kamu.


Mentingin karir, gak peduli ama aku. Karir politik iya kerjaan iya. Its ok,


tapi mereka kecolongan. Anaknya brengsek! Hahahhaha… Orang tua *****!”


“Husst! Jangan


gitu ah!”


“Ayo dong, coba honey…. Surga dunia kita miliki


malam iniii!”


“Ini drugs, kamu tahu kan akibatnya kalau


kecanduaan?”


Cindy bergelayut


manja. “Kamu pernah lihat aku sakauw? Atau kamu bisa lihat dari penampilanku


kalo aku ini pemakai? Enggak kan, Vin? Aku bisa kontrol kapan aku butuh pake ni


barang apa nggak.”


“Orang tua kamu


nggak tahu ini?”


Cindy tertawa


lebar. “Hhahahha… Bokap nyokapku juga udah tahu kalo aku nge-drugs. Tapi justru itu sekarang mereka


jadi perhatian banget ama aku. Jadi sayang banget ama aku, semua keinginan aku


mereka penuhin. Gak kayak dulu mereka jadi care sekarang sama aku.”


“Ya udah kan


perhatian dan kepedulian mereka yang kamu mau? Stop ngedrugs honey. Kan tujuan kamu ngedrugs udah


tercapai.”


“Ok targetku


sudah tercapai, tapi ada beberapa target yg lain yg belum tercapai.”


“Apa itu?”


“Milikin kamu


seutuhnya, Honey… Coba dikitlah, biar


orang tua kamu juga care nantinya ma


kamu kalau kecanduan. Yuuuuk…” Cindy memaksa. Kevin menatap Cindy dengan lekat.


Dia mulai goyah dengan


pendiriannya. Selama ini Kevin yang selalu mewanti-wanti teman-teman kampusnya


mendekati barang haram itu. Ngedrus no way… Slogan-slogan yang dia buat juga


mulai pudar.


###


Malam semakin


larut. Kevin berada di mobilnya dalam keadaan fly. Mata Kevin sayu menahan kantuk.


Mobil hitam metalik yang ia kendarai oleng ke kanan dan oleng ke kiri..


Sesekali ia menginjak pedal rem dengan terkejut. Jalanan terlihat sepi. Hanya


suara burung malam yang berkoak perih di dahan pohon mahoni.


Tiba-tiba sorot


lamu truk bermuatan balok menyilaukan pandangannya. Kevin panik dan membanting


stir ke kanan. Mobil terhempas tak terkendali. Tak lama kemudian terdengar


suara dentuman keras yang dahsyat.


BRAANNNKKKK....

__ADS_1


KRAAKK.... CRAAAASSSS...


__ADS_2