
Gibran duduk terpaku di balkon kamarnya. Matanya sendu
memandang alun-alun kota Jakarta. Tangannya terus memainkan bola kristal
berulang-ulang. Entah apa yang ada dalam benaknya. Pandangannya kosong seperti
kemarin-kemarin.
Gibran beranjak ke galerinya. Ia mengambil saksofon dari
atas lemari pakaian. Masih apik dengan peti kecil berwarna hitam. Gibran
memperhatikan benda itu dengan lekat, lalu mengelusnya lembut. Menikmati
sentuhan halus setiap bentuknya. Ia mengangkat benda itu dengan hati-hati lalu
meniupnya dengan penuh penghayatan. Nada-nada yang indah keluar begitu
merdunya. Sungguh luar biasa. Maryati sampai terpaku mendengarnya. Matanya
sampai berkaca-kaca memperhatikan Gibran yang begitu menghayati memainkan
saksofon. Maryati tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya dan duduk manis di
beranda samping.
Maryati hanya tersenyum haru. Sungguh ini di luar
dugaannya. Ia sangat berterima kasih pada Yang Maha Kuasa, karena memberi
kelebihan lain pada anaknya. Maryati merapatkan tangannya sambil tersenyum.
Matanya terus berbinar. Nada-nada itu terus mengalum lembut hingga melambungkan
angan dan kenangan Maryati.
Gibran mengakhiri permainannya dengan nada penutup yang
lembut. Hal itu membuat Maryati membuka matanya. Pertunjukan sudah selesai dan
ia tersenyum.
###
Pagi
itu di kampus. Titin menemui Bellinda di kelasnya. Bellinda tampak kuyu, kurang
tidur. Ditambah lagi beberapa hari ini pikirannya tak menentu. Kevin yang
dikenalnya sejak kecil dan membuat Bellinda kelimpungan, gak pernah nongol
sejak jadian sama Cindy.
“Bell? Kamu
sakit?” tanya Titin saat melihat
wajah Bellinda yang pucat.
“Cuma gak enak
badan aja, Tin. Ada apa?”
Titin duduk di
sebelah Bellinda. “Bell, aku mau ngomong ma kamu, bentar…”
“Yah udah
ngomong aja, Tin…”
“Gak asyik di
kelas. Kita ke taman yuk..” Titin menarik tangan Bellinda hingga ia beranjak
dari duduknya. Di taman mereka duduk di kursi, di bawah pohon mahoni.
“Kamu tahu Rico? Anak Teknik, yang satu angkatan di atas kita?”
Bellinda
mengingat sejenak, lalu mengangguk.
“Iya, emang kenapa sama si Rico?”
“Dia ditangkap
polisi kemarin.” Ujar Titin.
“Kenapa?” Bellinda penasaran.
“Ternyata dia
itu bandar narkoba di kampus.”
“Terus, apa
hubungannya sama aku? Aku kan nggak pernah pake narkoba?” Kata Bellinda memastikan.
“Aduh, Bell…!
Gini ceritanya. Si Rico itu kan bekas gebetannya Cindy. Bahkan desas desusnya
yang ngenalin Rico ama narkoba itu si Cindy!”
“Serius? Yang
bener kamu, Tin?! Kamu jangan asal nyeplos aja! Bahaya kalo Kevin dengar, bisa marah besar dianya.”
“Justru itu,
Bell… Aku jadi ngeri kalo berita itu benar. Bisa-bisa…”
“Bisa-bisa apa,
Tin? Kamu hati-hati ya kalo ngomong!”
“Bisa-bisa Kevin
juga udah jadi pemakai gara-gara Cindy. Melihat akhir ini dia sering ngaco
gitu.” Titin merasa cemas.
“Nggak mungkin
ah! Kevin gak segampang itu dipengaruhi orang lain. Tapi…” Bellinda mulai
cemas.
“Eh, Kevin
datang tuch,” Bellinda dan Titin menghentikan perbincangan mereka. Kevin
menghampiri keduanya.
“Kalian ngapain
lihat aku sampai melotot gitu?”
“Eee…gak ada
apa-apa kok.”
“Kalian lihat
Cindy?”
Bellinda dan
Titin menggeleng.
__ADS_1
“Biasanya jalan
berdua sama kamu?”
“Tadi janjinya
mau ketemu di kampus.” Kevin celingukan di halaman kampus. Bellinda dan Titin
masih ragu-ragu ingin menanyakan kebenaran desa-desus yang beredar.
“Vin… kamu
serius sama Cindy…?” akhirnya Titin angkat bicara. Kevin terkejut dengan
pertanyaan Titin.
“Ya seriuslah!
Emang kenapa? Tumben nanyain hubunganku ama Cindy?”
“Kamu tahu latar
belakang Cindy, Vin?” tanya Titin serius. Kevin mulai tidak nyaman dengan arah
pembicaraan kedua sahabatnya.
“Emang kenapa
ama latar belakang Cindy?”
“Kamu kenal Rico kan, Vin? Bekas gebetanCindy dulu.”
“Dia kemarin ketangkap
polisi. Masalah drugs.” Potong
Titin. Kevin semakin tidak nyaman.
“Iya, aku tahu
si Rico mantan Cindy dan aku udah tahu kalau dia ketangkap kemarin. Tapi apa
hubungannya ama Cindy?”
Bellinda dan
Titin saling berpandangan. Dengan nada berhati-hati Bellinda berujar.
“Jadi kamu udah
dengar juga desas-desusnya kan?”
“Bahwa si Cindy
itu yang ngenalin Rico ama drugs?” Potong Kevin cepat. Kevin berdiri dari
duduknya, wajahnya memerah. Dia marah.
“Kalian kalau
ngomong hati-hati ya! Kalau gak ingat kalian temanku dari kecil aku sudah menghajar
kalian berdua!”
Bellinda
bergidik. Tidak menyangka Kevin bakalan sekasar itu kepada mereka.
“Aku cuma tanya
aja, Vin. Apa desas-desus itu benar?”
“Arrggghhh…
*******!! Kalian gak usah mencampuri hubunganku sama Cindy. Maksud kalian apa?
Mau misahkan aku sama Cindy? Jangan harap, Tin. Aku mencintai Cindy lebih dari
“Lantas kami
kamu anggap apa, Vin? Apa kamu pikir kami tidak perduli dengan kehidupanmu?!”
Kevin masih
emosional, berdiri sambil menuding Titin dan Bellinda. “Aku gak nyangka kalau
kalian berdua…” Nafas Kevin tersengal menahan emosi. “Yang ngaku temen ama aku…
tega ngomongin Cindy kaya gitu?! Nuduh yang enggak-enggak!”
“Vin, justru
karena kita berdua ini temen kamu makanya kita gak pingin kamu terjerumus…” Bellinda berusaha menyabarkan
Kevin.
“Alaaah… udah
diam kamu, Bell! Aku gak butuh temen kayak kalian berdua! Kalian berdua sama aja kaya nyokap bokapku, sok
perhatian, sok ngatur, gak bisa lihat aku senang. Awas kalian berdua, jangan
ikut campur urusanku ama Cindy lagi! Kalo gak…” Kevin tidak menyelesaikan
perkataannya, dia lalu pergi dengan kesal. Bellinda dan Titin mematung diam
melihat kepergian Kevin.
“Terus gimana
nih, Bell?”
“Aku curiga
kalau Kevin udah bener-bener jadi drugs
addict.”
Titin menghela
napas panjang. “Wah kacau… Kacau…”
“Liat aja jadi
makin temperament. Labil. Syarafnya mulai banyak yang putus.”
Titin cuma
geleng-geleng kepala. Kemudian mereka masuk ke ruangan.
Kevin berjalan menuju mobilnya.
Emosinya dilampiaskan dengan menendang sebotol kaleng minuman ringan.
Klontang… tangg.. tanggg…
“Sialan Titin
sama Bella, apa sih hak mereka nge-judge Cindy? Cindy tu kan pacarku! Kalau mereka gak percaya ama Cindy, berarti mereka
gak percaya juga ama aku!” Kevin tampak emosional.
“Kamu dimana,
Sayang?” Kevin nelpon Cindy.
“Keviiinn… aku
lagi di toko baju nih, Sun Plaza. Kamu kemari dong temenin aku…”
“Oke deh. Tunggu
__ADS_1
aku di sana ya…”
Klik.
Kevin memutar
setir mobilnya. Berbelok ke kanan menuju Sun Plaza. Setibanya di Sun Plaza Kevin
mencari Cindy yang sibuk memilih baju. Tak lama ia menemukan Cindy sambil
melambaikan tangannya. Kevin menceritakan semua desas-desus miring tentang
dirinya.
“Oh, jadi begitu
ceritanya?”
“Mereka
keterlaluan, Cind…”
“Kamu tahu gak
sih, Vin. Bellinda itu berusaha memisahkan kita. Dia itu suka sama kamu,
makanya dia buat gara-gara untuk misahin kita.”
“Kurang ajar
Bellinda. Mau mereka apa sih? Gak bisa lihat orang senang.”
“Sudahlah,
Sayang. Jangan dipikirkan. Lebih baik kita pulang saja… Jangan diurusin Bellinda.”
Kevin mengangguk
sambil menerima kecupan hangat dari Cindy. Setelah membayar semua baju yang
diborong Cindy pakai ATM Kevin, Cindy minta ditemeni lagi beli perhiasan.
###
Di sebuah kamar.
Cindy dan Kevin duduk di sofa. Cindy memaksa Kevin untuk ngedrugs. Berkali-kali
Cindy membujuk Kevin yang sudah tergila-gila dengan Cindy.
“Aku gak bakalan
nawarin barang ini ke kamu, Vin. Kalau aku sendiri gak pernah nyoba.
Sensasional deh. Kita bisa semalaman fly
on bed honey.”
“Tapi, Cin… Aku gak
pernah,”
“Aku tahu
rasanya gak diperhatiin sama ortu. Bokap Nyokapku sama kayak bokap nyokap kamu.
Mentingin karir, gak peduli ama aku. Karir politik iya kerjaan iya. Its ok,
tapi mereka kecolongan. Anaknya brengsek! Hahahhaha… Orang tua *****!”
“Husst! Jangan
gitu ah!”
“Ayo dong, coba honey…. Surga dunia kita miliki
malam iniii!”
“Ini drugs, kamu tahu kan akibatnya kalau
kecanduaan?”
Cindy bergelayut
manja. “Kamu pernah lihat aku sakauw? Atau kamu bisa lihat dari penampilanku
kalo aku ini pemakai? Enggak kan, Vin? Aku bisa kontrol kapan aku butuh pake ni
barang apa nggak.”
“Orang tua kamu
nggak tahu ini?”
Cindy tertawa
lebar. “Hhahahha… Bokap nyokapku juga udah tahu kalo aku nge-drugs. Tapi justru itu sekarang mereka
jadi perhatian banget ama aku. Jadi sayang banget ama aku, semua keinginan aku
mereka penuhin. Gak kayak dulu mereka jadi care sekarang sama aku.”
“Ya udah kan
perhatian dan kepedulian mereka yang kamu mau? Stop ngedrugs honey. Kan tujuan kamu ngedrugs udah
tercapai.”
“Ok targetku
sudah tercapai, tapi ada beberapa target yg lain yg belum tercapai.”
“Apa itu?”
“Milikin kamu
seutuhnya, Honey… Coba dikitlah, biar
orang tua kamu juga care nantinya ma
kamu kalau kecanduan. Yuuuuk…” Cindy memaksa. Kevin menatap Cindy dengan lekat.
Dia mulai goyah dengan
pendiriannya. Selama ini Kevin yang selalu mewanti-wanti teman-teman kampusnya
mendekati barang haram itu. Ngedrus no way… Slogan-slogan yang dia buat juga
mulai pudar.
###
Malam semakin
larut. Kevin berada di mobilnya dalam keadaan fly. Mata Kevin sayu menahan kantuk.
Mobil hitam metalik yang ia kendarai oleng ke kanan dan oleng ke kiri..
Sesekali ia menginjak pedal rem dengan terkejut. Jalanan terlihat sepi. Hanya
suara burung malam yang berkoak perih di dahan pohon mahoni.
Tiba-tiba sorot
lamu truk bermuatan balok menyilaukan pandangannya. Kevin panik dan membanting
stir ke kanan. Mobil terhempas tak terkendali. Tak lama kemudian terdengar
suara dentuman keras yang dahsyat.
BRAANNNKKKK....
__ADS_1
KRAAKK.... CRAAAASSSS...