
Titin masuk ke kamarnya. Ia meletakkan tas sandangnya di atas meja
belajar. Kemudian Titin meraih buku tebal milik Gibran yang ia pinjam kemarin. Ia
ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi hingga Gibran mengalami depresi berat
seperti itu.
Titin membuka lembaran-lembaran berikutnya di buku Gibran. Ia menghapus
air matanya, setelah mama Bellinda memaki dan menghujatnya sebagai perempuan
tidak benar. Hancur batin Titin dan ia tidak ingin larut dalam kehancuran itu.
Titin membalik buku itu dan membacanya dengan sepenuh hati.
Lembaran kesepuluh, Raisa baru tahu kalau Gibran adalah seorang penulis
yang novelnya dikagumi. Banyak yang ngefans dengan buku-buku karya Gibran,
bukan Khalil Gibran yang sudah malang melintang di internasional.
“Kamu suka novel itu?” Tanya Gibran pada malam peluncuran bukunya.
Gadis itu mengangguk senang. “Aku tidak menyangka, kamu seorang
novelis.” Katanya dengan ekspresi senang.
“Sa…” Gumam Gibran. Raisa lalu menghentikan kegirangannya dan menatap
wajah Gibran.
“Ya…” Sahutnya pelan.
“Aku suka kamu. I love you.” Ucap
Gibran berterus terang. Raisa sedikit terkejut dengan ucapan itu. Dia terdiam
sesaat.
“Bisa aku jawabnya besok?” Tanya Raisa hati-hati.
Gibran mengangguk pelan dengan hati masih menggantung. Tapi dia yakin
kalau Raisa juga pasti mencintainya. Buku harian itu pun berhenti di lembaran
terakhir. Tidak ada kelanjutan cerita Gibran. Titin mengerutkan keningnya sambil membolak-balik lembaran yang masih
kosong. Kemudian ia meletakkan buku itu di atas meja belajarnya.
Ponselnya bordering di atas meja. Tangan kanan Titin ponsel keluaran
terbaru, lalu menekan tombol OK. Dari Aditya.
“Aditya?” Guman Titin berbisik. “Mau apa dia?” Berkerut kening Titin.
“Halo…” Sapa Titin seperti biasa.
“Halo, Tin. Kamu sibuk?”
“Enggak. Emang kenapa?”
“Kita ke sirkuit yuk.” Ajak Aditya.
“Aku lagi gak mood nih. Besok aja.” Titin menolak ajakan Aditya. Dia
tidak mau keluar hari ini. Titin ingin melenturkan tulang-tulangnya yang terasa
__ADS_1
putus. Kemudian dia mematikan ponselnya begitu saja. KLIK!
Gibran
mengenakan jaket kulit warna hitam dan celana senada. Kemudian ia mengambil
helem teropongnya dan meraih kunci motor yang terletak di atas meja kecil.
Gibran menyalakan motornya dengan bunyi yang menderu keras. Mama dari dalam
tergopoh-gopoh menuju garasi. Tapi terlambat, karena motor Gibran lebih dulu
keluar dari garasi. Mama hanya bisa mengurut dada dan berharap Gibran baik-baik
saja. Mama kembali masuk ke dalam dan menemui papa di kamar.
“Gibran,
Pa.” Ujar mama dengan wajah cemas.
“Kenapa
dengan Gibran?”
“Gibran
pergi gak tau kemana?”
“Sudahlah,
Ma. Kita berdoa saja sama yang maha kuasa. Semua sudah jalannya. Mau kemana
kita cari?”
“Tapi
Papa
hanya pasrah sementara mama merasa cemas.
BRUUMMMM…
Suara menderu moter gede milik Gibran terdengar membahana di jalanan. Pengendara
yang lain hanya memperhatikan motor gede model Harley. Gibran berhenti di pusat kuliner yang ada di
inti kota Medan. Merdeka Walk. Dia duduk di salah satu café dan memesan minuman.
Matanya memperhatikan orang yang lalu lalang dan yang datang ke café itu.
Di sudut café ia melihat seorang cowok bersama teman-temannya sedang
cekakak-cekikik sambil ngobrol. Di sana ada Titin juga. Titin? Ya, Titin bersama
Aditya, cowok kenalannya beberapa malam lalu. Anak genk motor.
Gibran
mempertajam pandangannya dan ia ingat cowok itu. Cowok itu yang memukul Raisa
pakai benda tumpul! Cowok bertato dan rambutnya sedikit gondrong. Cowok itu
adalah Aditya.
__ADS_1
Gibran
terus saja memperhatikan gerak-gerik cowok di sudut café sampai bergerak
pulang. Hampir tengah malam mereka bubar dari café dan berjalan menuju
parkiran. Gibran beranjak dari tempat duduknya dan mengendap-endap mengikuti
mereka.
Suara
motor membahana di malam itu. Mereka berpisah di tengah jalan dan membuat Gibran
semakin bernafsu untuk membalaskan dendamnya. Jalanan masih kelihatan ramai. Aditya
menyusuri jalan gelap dan berbelok di beberapa tikungan. Gibran menarik tuas
gas agar tidak tertinggal dari Aditya, cowok yang diincarnya.
Jalan
mulai sepi di pertigaan dan Aditya berbelok ke kanan. Di mana jalan semakin
sepi karena masuk ke jalan kecil. Di situlah aksi Gibran di mulai. Gibran sudah
menyiapkan tongkat kayu untuk memukul Aditya. Gibran pun menggeber kan suara
motornya dan tanjap gas. Ia mengangkat tangan kirinya dan memukul kepala Aditya.
Cowok itu oleng bersama motornya. Gibran berbalik dan menabrak Aditya dengan
kecepatan tinggi. Aditya terpental di jalanan dan helmnya terhempas. Dengan cepat
Gibran memukul benda tumpul ke kepala Aditya, hingga kepalanya mengalami
beberapa sobekan.
Aditya
berusaha bangkit dengan sempoyongan, namun Gibran langsung memukulnya lagi
dengan kayu yang ia bawa. Aditya terhempas
ketika sebuah benda keras menghantam kepalanya. BAAGGHH! Aditya terkapar
bersimbah darah!
Gibran
pergi dengan wajah sinis dan merasa puas telah membalaskan dendamnnya. Masih ada
tiga orang lagi yang diincarnya. Malam ini ia kembali ke rumah dengan tangan
penuh bercak darah.
Di
kamar yang lumayan luas, Gibran terududk sambil memegangi kepalanya. Ia berteriak
ketika ingatan itu melintas di benaknya. Ingatan saat par genk motor merenggut
kekasihnya.
“ARRRGGGHHH..!”
Gibran meremas-remas rambutnya sambil menangis dan menyesal. Mengapa ia tidak
__ADS_1
bisa melindungi Raisa dari para genk motor.