TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 20


__ADS_3

Titin masuk ke kamarnya. Ia meletakkan tas sandangnya di atas meja


belajar. Kemudian Titin meraih buku tebal milik Gibran yang ia pinjam kemarin. Ia


ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi hingga Gibran mengalami depresi berat


seperti itu.


Titin membuka lembaran-lembaran berikutnya di buku Gibran. Ia menghapus


air matanya, setelah mama Bellinda memaki dan menghujatnya sebagai perempuan


tidak benar. Hancur batin Titin dan ia tidak ingin larut dalam kehancuran itu.


Titin membalik buku itu dan membacanya dengan sepenuh hati.


Lembaran kesepuluh, Raisa baru tahu kalau Gibran adalah seorang penulis


yang novelnya dikagumi. Banyak yang ngefans dengan buku-buku karya Gibran,


bukan Khalil Gibran yang sudah malang melintang di internasional.


“Kamu suka novel itu?” Tanya Gibran pada malam peluncuran bukunya.


Gadis itu mengangguk senang. “Aku tidak menyangka, kamu seorang


novelis.” Katanya dengan ekspresi senang.


“Sa…” Gumam Gibran. Raisa lalu menghentikan kegirangannya dan menatap


wajah Gibran.


“Ya…” Sahutnya pelan.


“Aku suka kamu. I love you.” Ucap


Gibran berterus terang. Raisa sedikit terkejut dengan ucapan itu. Dia terdiam


sesaat.


“Bisa aku jawabnya besok?” Tanya Raisa hati-hati.


Gibran mengangguk pelan dengan hati masih menggantung. Tapi dia yakin


kalau Raisa juga pasti mencintainya. Buku harian itu pun berhenti di lembaran


terakhir. Tidak ada kelanjutan cerita Gibran.  Titin mengerutkan keningnya sambil membolak-balik lembaran yang masih


kosong. Kemudian ia meletakkan buku itu di atas meja belajarnya.


Ponselnya bordering di atas meja. Tangan kanan Titin ponsel keluaran


terbaru, lalu menekan tombol OK. Dari Aditya.


“Aditya?” Guman Titin berbisik. “Mau apa dia?” Berkerut kening Titin.


“Halo…” Sapa Titin seperti biasa.


“Halo, Tin. Kamu sibuk?”


“Enggak. Emang kenapa?”


“Kita ke sirkuit yuk.” Ajak Aditya.


“Aku lagi gak mood nih. Besok aja.” Titin menolak ajakan Aditya. Dia


tidak mau keluar hari ini. Titin ingin melenturkan tulang-tulangnya yang terasa

__ADS_1


putus. Kemudian dia mematikan ponselnya begitu saja. KLIK!



Gibran


mengenakan jaket kulit warna hitam dan celana senada. Kemudian ia mengambil


helem teropongnya dan meraih kunci motor yang terletak di atas meja kecil.


Gibran menyalakan motornya dengan bunyi yang menderu keras. Mama dari dalam


tergopoh-gopoh menuju garasi. Tapi terlambat, karena motor Gibran lebih dulu


keluar dari garasi. Mama hanya bisa mengurut dada dan berharap Gibran baik-baik


saja. Mama kembali masuk ke dalam dan menemui papa di kamar.


“Gibran,


Pa.” Ujar mama dengan wajah cemas.


“Kenapa


dengan Gibran?”


“Gibran


pergi gak tau kemana?”


“Sudahlah,


Ma. Kita berdoa saja sama yang maha kuasa. Semua sudah jalannya. Mau kemana


kita cari?”


“Tapi


Papa


hanya pasrah sementara mama merasa cemas.



BRUUMMMM…


Suara menderu moter gede milik Gibran terdengar membahana di jalanan. Pengendara


yang lain hanya memperhatikan motor gede model Harley.  Gibran berhenti di pusat kuliner yang ada di


inti kota Medan. Merdeka Walk. Dia duduk di salah satu café dan memesan minuman.


Matanya memperhatikan orang yang lalu lalang dan yang datang ke café itu.


Di sudut café ia melihat seorang cowok bersama teman-temannya sedang


cekakak-cekikik sambil ngobrol. Di sana ada Titin juga. Titin? Ya, Titin bersama


Aditya, cowok kenalannya beberapa malam lalu. Anak genk motor.


Gibran


mempertajam pandangannya dan ia ingat cowok itu. Cowok itu yang memukul Raisa


pakai benda tumpul! Cowok bertato dan rambutnya sedikit gondrong. Cowok itu


adalah Aditya.

__ADS_1


Gibran


terus saja memperhatikan gerak-gerik cowok di sudut café sampai bergerak


pulang. Hampir tengah malam mereka bubar dari café dan berjalan menuju


parkiran. Gibran beranjak dari tempat duduknya dan mengendap-endap mengikuti


mereka.


Suara


motor membahana di malam itu. Mereka berpisah di tengah jalan dan membuat Gibran


semakin bernafsu untuk membalaskan dendamnya. Jalanan masih kelihatan ramai. Aditya


menyusuri jalan gelap dan berbelok di beberapa tikungan. Gibran menarik tuas


gas agar tidak tertinggal dari Aditya, cowok yang diincarnya.


Jalan


mulai sepi di pertigaan dan Aditya berbelok ke kanan. Di mana jalan semakin


sepi karena masuk ke jalan kecil. Di situlah aksi Gibran di mulai. Gibran sudah


menyiapkan tongkat kayu untuk memukul Aditya. Gibran pun menggeber kan suara


motornya dan tanjap gas. Ia mengangkat tangan kirinya dan memukul kepala Aditya.


Cowok itu oleng bersama motornya. Gibran berbalik dan menabrak Aditya dengan


kecepatan tinggi. Aditya terpental di jalanan dan helmnya terhempas. Dengan cepat


Gibran memukul benda tumpul ke kepala Aditya, hingga kepalanya mengalami


beberapa sobekan.


Aditya


berusaha bangkit dengan sempoyongan, namun Gibran langsung memukulnya lagi


dengan kayu yang ia bawa.  Aditya terhempas


ketika sebuah benda keras menghantam kepalanya. BAAGGHH! Aditya terkapar


bersimbah darah!


Gibran


pergi dengan wajah sinis dan merasa puas telah membalaskan dendamnnya. Masih ada


tiga orang lagi yang diincarnya. Malam ini ia kembali ke rumah dengan tangan


penuh bercak  darah.


Di


kamar yang lumayan luas, Gibran terududk sambil memegangi kepalanya. Ia berteriak


ketika ingatan itu melintas di benaknya. Ingatan saat par genk motor merenggut


kekasihnya.


“ARRRGGGHHH..!”


Gibran meremas-remas rambutnya sambil menangis dan menyesal. Mengapa ia tidak

__ADS_1


bisa melindungi Raisa dari para genk motor.



__ADS_2