TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 27


__ADS_3

Kampus yang terletak di tengah-tengah pohon-pohon rindang terlihat biasa


saja. Titin


bertemu dengan Bimo yang menyebalkan. Ia duduk di bangku panjang. Entah apa


maunya. Padahal Titin sudah tidak lagi menemui Bellinda. Titin jengah dengan


wajah itu. Posesif. Datar dan cenderung arogan.


Titin meliriknya. Ada rasa benci kalau ingat kata-kata Bimo yang menudingnya


seorang lesbian. Bimo benar-benar menjatuhkan martabatnya. Bimo menatap Titin


dengan lekat, namun Titin memalingkan wajahnya dan terus berjalan.


“Tunggu...!” Bimo


menghentikan langkah Titin. Perlahan Titin menoleh menatap Bimo yang beranjak


dari duduknya. Titin menarik nafas berat.


“Aku tidak lagi bertemu


dengan Bellinda sejak kamu menghujatku! Kamu puas?! Sekarang kamu mau apa lagi?”Tanya Titin sewot.


“Ya, aku tahu itu.”


“Lantas? Kamu mau apa?”


“Aku mau minta maaf


sama kamu.”


“Maaf? Soal apa?”Titin tampak penasaran dengan penuturan Bimo yang


tiba-tiba saja minta maaf?


“Tentang tuduhanku


padamu.”


“Oh...” Titin bergumam


pelan, lalu diam sesaat. “Okey.” Ucapnya.


“Akan ku pertimbangkan perkataan maafmu.”


Titin melangkahkan kakinya.


“Tunggu sebentar,


Tin...” Bimo menarik pergelangan tangan Titin. Titin melirik sinis, membuat


Bimo melepaskan genggaman tangannya.


“Aku buru-buru ke


kelas. Ada tugas dari dosen.”Ucapnya ketus.


“Bellinda sakit.” Ujar Bimo dengan suara parau. Titin


terkejut.


“Sakit..? Sakit apa..?”Tanyanya seperti orang panik.


“Demam tinggi. Dia selalu


menyebut namamu dan Kevin.”Ujar Bimo.


Titin tertunduk. “Maaf,


aku tidak ada waktu. Aku


harus masuk kuliah hari ini. Ada mata kuliah yang penting.” Kata Titin dan bergegas


melangkahkan kakinya. Bimo mengikutinya sambil memohon ke Titin.


“Tin... aku mohon... Please... Ini demi Bellinda.”


“Aku tidak mau


dikucilkan keluargamu, Bim! Apa kamu belum puas menghinaku? Apa mamamu juga


belum puas menimpukku dengan vas bunga?! Ingat, Bim. Aku perempuan. Aku masih


punya hati dan perasaan?!Sergah Titin dengan nada ketus.


“Maafkan aku dan


mamaku, Tin. Kami memang salah menuduhmu yang tidak-tidak. Aku baru tahu dari


Bellinda. Masa lalumu yang kelam bersama Frans. Masalah keluargamu yang


carut-marut dan perasaanmu yang miris ketika seseorang menuduhmu lesbian.”


Titin terdiam.


Menghentikan langkahnya. Kata-kata Bimo membuat bathinnya makin miris.


“Dan kamu menuduhku


mencintai adikmu?!”


“Tiinn... jangan


menyulutkan api lagi. Niatku suci menemuimu. Aku dan atas nama mamaku minta


maaf.”


“Aku sudah memaafkan


kalian. Sekarang aku boleh pergi?”


“Kalau kamu tidak keberatan, jenguk Bellinda. Dia


membutuhkanmu.”Kata Bimo


memohon.


Titin tidak menjawab. Ia pergi meninggalkan Bimo

__ADS_1


begitu saja. Hatinya benar-benar pedih mendengar sahabatnya sakit. Tak sabar


rasanya ingin menjenguk Bellinda secepat mungkin.



Ragu-ragu Titin masuk ke halaman rumah Bellinda. Ia menarik nafas


dalam-dalam dan melangkahkan kakinya dengan berat. Semoga vas bunga itu tidak


melayang lagi ke kepalanya. Titin masuk dan menuju kamar Bellinda. Ia melihat


Bellinda sedang tiduran di sana.


“Hai...” Sapan Titin


pelan. Ia muncul di balik pintu kamar Bellinda. Mata Bellinda terlihat sayu.


Ada lingkaran hitam di kelopanya. Wajahnya pucat dan lesu. Bellinda mengulas


senyum. Bola matanya berbinar berselaput air bening. Bahagia dan sedih.


“Titiiinnn...” Gumamnya pelan. Titin menghampiri Bellinda dengan seikat bunga mawar dan


lili. Ia duduk di samping Bellinda yang terlihat lemah.


“Kamu kenapa, Bell? Kok


bisa begini?” Tanya


Titin sedih.


“Aku gak tahu, Tin. Kata


dokter harus banyak istirahat.”


“Yah. Kamu kecapean


kali, Bell. Kenapa tidak menelponku?”


“Aku sudah minta tolong


ke Bimo untuk menemuimu.”


“Yah, dia menemuiku.”


Bellinda menatap Titin.


“Aku minta maaf, Tin. Sudah menceritakan biografi dan masalah keluargamu ke


mama dan Bimo. Aku ingin mereka mengerti dan tidak salah tanggap tentang


dirimu.”


“Terima kasih, Bell.


Setidaknya Bimo tidak apatis melihatku, heheh...” Titin tertawa.


“Ngomong-ngomong Bimo lucu juga ya? Hihih”


Bellinda tertawa. “Ah,


kamu bisa aja. Hati-hati kalau kamu sampai kepincut dengan kakakku.”


aku gak suka lihat cowok over protektif. Dia egois, galak nak ujubilah.”


“Hahahaha…” Bellinda


tertawa renyah.


“Huusssttt… Aku bawa


kado untukmu.”


“O ya?” Alis Bellinda


berkerut. Dia sama sekali tidak melihat bungkusan atau kotak kado di tangan


Titin.


“Sebentar…” Ujar Titin. Dia memberi kode dengan


siulan kecil. Seorang cowok muncul dari balik pintu. Memakai satu tongkat


penyangga. Cowok itu Kevin. Ia tertunduk saat Titin menyuruhnya masuk. Mata


Bellinda haru dan berkaca-kaca. Bahagia dan sedih bercampur aduk.


“Keviinn…” Gumamnya parau. Kevin mendongakan


kepalanya. Menatap wajah Bellinda dengan mata sendu. Segelintir air bening


jatuh dari kelopak mata Bellinda.


“Ndaaa….” Berat suara


Kevin menyapa Bellinda. Tertatih ia menghampiri Bellinda. “Maafkan aku.” Ucapnya pelan. “Aku memang bodoh


membiarkanmu pergi ke Bandung.”


Bellinda mendegut ludahnya yang getir. Kevin duduk di sudut


tempat tidur. Titin membantunya meletakkan tongkat penyangga.


“Kamu masih marah


padaku?” Tanya


Kevin. “Aku telah menuduhmu macam-macam. Aku menyesal, Bell…”


“Vinn…” Gumam Bellinda


pelan. “Kamu adalah sahabatku sejak kecil. Aku tahu sifatmu. Kita akan selalu


menjadi sahabat.”


“Sekedar sahabat?”


“Hmm…”


“Kamu tidak perlu

__ADS_1


membohongi dirimu, Bell. Kamu mencintaiku kan?” Tanya Kevin serius. Bellinda tertunduk. Matanya


berkaca-kaca lagi.


“Tidak.” Jawab Bellinda


tegas.


“Bell…” Selah Kevin


dengan suara parau. Lekat ia menatap Bellinda. Bellinda


menghapus airmatanya.


“Aku tidak akan pernah


meninggalkanmu, Vin. Aku tidak bisa jauh darimu.” Gumam Bellinda. Air bening


menetes di pipinya.


Kevin menatap bola mata


Bellinda yang penuh air mata.


“Aku juga masih mencintaimu, Bell. Sampai kapan pun…” Ujarnya serak.


“Viinnn…” Bellinda


terharu. Dengan susah payah Kevin mendekti Bellinda dan memeluknya mesra.


Hangat. Bellinda rebah di dekapan Kevin sambil menangis tersedu.


Titin yang melihat


kejadian itu ingin menangis. Tangis bahagia. Akhirnya Kevin dan Bellinda


menjadi sepasang kekasih. Titin beranjak dari tempat tidur Bellinda. Keluar


pelan-pelan dan meninggalkan mereka berdua. Biarlah mereka lebur dalam cinta


yang sangat dalam dan memahami arti cinta yang sesungguhnya.



Di ruang tamu, Nurhaida


duduk dengan wajah bersalah. Ia menatap Titin teduh. Perlakuannya selama ini


memang tidak manusiawi. Nurhaida meminta maaf ke Titin.


“Maafkan tante, Tin…


Sudah menyakiti hatimu.” Ujar Nurhaida dengan suara berat. Titin mengamati perempuan itu lekat-lekat, kemudian


ia menarik


nafas dalam-dalam. “Sudahlah, Tante.” Ujarnya dengan suara serak. “Saya sudah berusaha


melupakannya.”


“Ya, Tante benar-benar salah, Tin. Tante menuduhmu yang


bukan-bukan. Tante terpancing dengan gunjingan orang tanpa berpikir panjang.”


Titin tersenyum getir. “Setiap manusia memang begitu,


Tante. Yang penting hati kita harus bersih.”Ucapnya sendu.


Nurhaida menunduk, kemudian mendongak menatap Titi.“Bellinda banyak cerita tentang dirimu. Semula tante tidak percaya apa yang


telah kamu hadapi selama ini. Hati tante merasa iba. Bagaimana kalau Bellinda


menghadapi masalah besar sepertimu. Tante tidak dapat membayangkan hal itu.”


“Sudahlah, Tante.


Jangan diungkit lagi masalah itu. Kekacauan dalam keluarga Titin itu sudah


menjadi cobaan yang di atas.


Titin tidak tahu sampai kapan prahara dalam rumah tangga papa dan mama


berakhir.”


“Kamu sabar ya, Tin...


Semua itu ada hikmanya.”


Titin menunduk. “Tak


lama lagi keluarga kami akan mengalami kehancuran dan tidak bisa dikembalikan


ke semula.” Suara


Titin berubah parau.


“Separah itu?”


Titin menghela berat.


“Yah, begitulah, Tante… Papa sibuk dengan partainya, mama sibuk dengan


bisnisnya. Saya sangat merindukan sebuah keluarga yang bahagia.” Titin


menunduk. Ada genangan air bening di kelopak matanya.


Nurhaida menatap iba.


“Sabar ya, Tin. Semuanya pasti bisa diselesaikan.” Kata Nurhaida.


“Saya harap juga


begitu, Tante…” Titin membuat seulas senyum tipis sambil menyembunyikan air matanya, tapi sayang segelintir air


bening jatuh di pipinya. Buru-buru Titin menghampus dengan tisu. Ia tidak mau terkesan cengeng di depan


Nurhaida.


Suara pintu kamar


terdengar dibuka. Kevin muncul dengan langkah tertatih. Setelah obrolan kecil,

__ADS_1


Titin dan Kevin pamit pulang.



__ADS_2