
Kampus yang terletak di tengah-tengah pohon-pohon rindang terlihat biasa
saja. Titin
bertemu dengan Bimo yang menyebalkan. Ia duduk di bangku panjang. Entah apa
maunya. Padahal Titin sudah tidak lagi menemui Bellinda. Titin jengah dengan
wajah itu. Posesif. Datar dan cenderung arogan.
Titin meliriknya. Ada rasa benci kalau ingat kata-kata Bimo yang menudingnya
seorang lesbian. Bimo benar-benar menjatuhkan martabatnya. Bimo menatap Titin
dengan lekat, namun Titin memalingkan wajahnya dan terus berjalan.
“Tunggu...!” Bimo
menghentikan langkah Titin. Perlahan Titin menoleh menatap Bimo yang beranjak
dari duduknya. Titin menarik nafas berat.
“Aku tidak lagi bertemu
dengan Bellinda sejak kamu menghujatku! Kamu puas?! Sekarang kamu mau apa lagi?”Tanya Titin sewot.
“Ya, aku tahu itu.”
“Lantas? Kamu mau apa?”
“Aku mau minta maaf
sama kamu.”
“Maaf? Soal apa?”Titin tampak penasaran dengan penuturan Bimo yang
tiba-tiba saja minta maaf?
“Tentang tuduhanku
padamu.”
“Oh...” Titin bergumam
pelan, lalu diam sesaat. “Okey.” Ucapnya.
“Akan ku pertimbangkan perkataan maafmu.”
Titin melangkahkan kakinya.
“Tunggu sebentar,
Tin...” Bimo menarik pergelangan tangan Titin. Titin melirik sinis, membuat
Bimo melepaskan genggaman tangannya.
“Aku buru-buru ke
kelas. Ada tugas dari dosen.”Ucapnya ketus.
“Bellinda sakit.” Ujar Bimo dengan suara parau. Titin
terkejut.
“Sakit..? Sakit apa..?”Tanyanya seperti orang panik.
“Demam tinggi. Dia selalu
menyebut namamu dan Kevin.”Ujar Bimo.
Titin tertunduk. “Maaf,
aku tidak ada waktu. Aku
harus masuk kuliah hari ini. Ada mata kuliah yang penting.” Kata Titin dan bergegas
melangkahkan kakinya. Bimo mengikutinya sambil memohon ke Titin.
“Tin... aku mohon... Please... Ini demi Bellinda.”
“Aku tidak mau
dikucilkan keluargamu, Bim! Apa kamu belum puas menghinaku? Apa mamamu juga
belum puas menimpukku dengan vas bunga?! Ingat, Bim. Aku perempuan. Aku masih
punya hati dan perasaan?!Sergah Titin dengan nada ketus.
“Maafkan aku dan
mamaku, Tin. Kami memang salah menuduhmu yang tidak-tidak. Aku baru tahu dari
Bellinda. Masa lalumu yang kelam bersama Frans. Masalah keluargamu yang
carut-marut dan perasaanmu yang miris ketika seseorang menuduhmu lesbian.”
Titin terdiam.
Menghentikan langkahnya. Kata-kata Bimo membuat bathinnya makin miris.
“Dan kamu menuduhku
mencintai adikmu?!”
“Tiinn... jangan
menyulutkan api lagi. Niatku suci menemuimu. Aku dan atas nama mamaku minta
maaf.”
“Aku sudah memaafkan
kalian. Sekarang aku boleh pergi?”
“Kalau kamu tidak keberatan, jenguk Bellinda. Dia
membutuhkanmu.”Kata Bimo
memohon.
Titin tidak menjawab. Ia pergi meninggalkan Bimo
__ADS_1
begitu saja. Hatinya benar-benar pedih mendengar sahabatnya sakit. Tak sabar
rasanya ingin menjenguk Bellinda secepat mungkin.
Ragu-ragu Titin masuk ke halaman rumah Bellinda. Ia menarik nafas
dalam-dalam dan melangkahkan kakinya dengan berat. Semoga vas bunga itu tidak
melayang lagi ke kepalanya. Titin masuk dan menuju kamar Bellinda. Ia melihat
Bellinda sedang tiduran di sana.
“Hai...” Sapan Titin
pelan. Ia muncul di balik pintu kamar Bellinda. Mata Bellinda terlihat sayu.
Ada lingkaran hitam di kelopanya. Wajahnya pucat dan lesu. Bellinda mengulas
senyum. Bola matanya berbinar berselaput air bening. Bahagia dan sedih.
“Titiiinnn...” Gumamnya pelan. Titin menghampiri Bellinda dengan seikat bunga mawar dan
lili. Ia duduk di samping Bellinda yang terlihat lemah.
“Kamu kenapa, Bell? Kok
bisa begini?” Tanya
Titin sedih.
“Aku gak tahu, Tin. Kata
dokter harus banyak istirahat.”
“Yah. Kamu kecapean
kali, Bell. Kenapa tidak menelponku?”
“Aku sudah minta tolong
ke Bimo untuk menemuimu.”
“Yah, dia menemuiku.”
Bellinda menatap Titin.
“Aku minta maaf, Tin. Sudah menceritakan biografi dan masalah keluargamu ke
mama dan Bimo. Aku ingin mereka mengerti dan tidak salah tanggap tentang
dirimu.”
“Terima kasih, Bell.
Setidaknya Bimo tidak apatis melihatku, heheh...” Titin tertawa.
“Ngomong-ngomong Bimo lucu juga ya? Hihih”
Bellinda tertawa. “Ah,
kamu bisa aja. Hati-hati kalau kamu sampai kepincut dengan kakakku.”
aku gak suka lihat cowok over protektif. Dia egois, galak nak ujubilah.”
“Hahahaha…” Bellinda
tertawa renyah.
“Huusssttt… Aku bawa
kado untukmu.”
“O ya?” Alis Bellinda
berkerut. Dia sama sekali tidak melihat bungkusan atau kotak kado di tangan
Titin.
“Sebentar…” Ujar Titin. Dia memberi kode dengan
siulan kecil. Seorang cowok muncul dari balik pintu. Memakai satu tongkat
penyangga. Cowok itu Kevin. Ia tertunduk saat Titin menyuruhnya masuk. Mata
Bellinda haru dan berkaca-kaca. Bahagia dan sedih bercampur aduk.
“Keviinn…” Gumamnya parau. Kevin mendongakan
kepalanya. Menatap wajah Bellinda dengan mata sendu. Segelintir air bening
jatuh dari kelopak mata Bellinda.
“Ndaaa….” Berat suara
Kevin menyapa Bellinda. Tertatih ia menghampiri Bellinda. “Maafkan aku.” Ucapnya pelan. “Aku memang bodoh
membiarkanmu pergi ke Bandung.”
Bellinda mendegut ludahnya yang getir. Kevin duduk di sudut
tempat tidur. Titin membantunya meletakkan tongkat penyangga.
“Kamu masih marah
padaku?” Tanya
Kevin. “Aku telah menuduhmu macam-macam. Aku menyesal, Bell…”
“Vinn…” Gumam Bellinda
pelan. “Kamu adalah sahabatku sejak kecil. Aku tahu sifatmu. Kita akan selalu
menjadi sahabat.”
“Sekedar sahabat?”
“Hmm…”
“Kamu tidak perlu
__ADS_1
membohongi dirimu, Bell. Kamu mencintaiku kan?” Tanya Kevin serius. Bellinda tertunduk. Matanya
berkaca-kaca lagi.
“Tidak.” Jawab Bellinda
tegas.
“Bell…” Selah Kevin
dengan suara parau. Lekat ia menatap Bellinda. Bellinda
menghapus airmatanya.
“Aku tidak akan pernah
meninggalkanmu, Vin. Aku tidak bisa jauh darimu.” Gumam Bellinda. Air bening
menetes di pipinya.
Kevin menatap bola mata
Bellinda yang penuh air mata.
“Aku juga masih mencintaimu, Bell. Sampai kapan pun…” Ujarnya serak.
“Viinnn…” Bellinda
terharu. Dengan susah payah Kevin mendekti Bellinda dan memeluknya mesra.
Hangat. Bellinda rebah di dekapan Kevin sambil menangis tersedu.
Titin yang melihat
kejadian itu ingin menangis. Tangis bahagia. Akhirnya Kevin dan Bellinda
menjadi sepasang kekasih. Titin beranjak dari tempat tidur Bellinda. Keluar
pelan-pelan dan meninggalkan mereka berdua. Biarlah mereka lebur dalam cinta
yang sangat dalam dan memahami arti cinta yang sesungguhnya.
Di ruang tamu, Nurhaida
duduk dengan wajah bersalah. Ia menatap Titin teduh. Perlakuannya selama ini
memang tidak manusiawi. Nurhaida meminta maaf ke Titin.
“Maafkan tante, Tin…
Sudah menyakiti hatimu.” Ujar Nurhaida dengan suara berat. Titin mengamati perempuan itu lekat-lekat, kemudian
ia menarik
nafas dalam-dalam. “Sudahlah, Tante.” Ujarnya dengan suara serak. “Saya sudah berusaha
melupakannya.”
“Ya, Tante benar-benar salah, Tin. Tante menuduhmu yang
bukan-bukan. Tante terpancing dengan gunjingan orang tanpa berpikir panjang.”
Titin tersenyum getir. “Setiap manusia memang begitu,
Tante. Yang penting hati kita harus bersih.”Ucapnya sendu.
Nurhaida menunduk, kemudian mendongak menatap Titi.“Bellinda banyak cerita tentang dirimu. Semula tante tidak percaya apa yang
telah kamu hadapi selama ini. Hati tante merasa iba. Bagaimana kalau Bellinda
menghadapi masalah besar sepertimu. Tante tidak dapat membayangkan hal itu.”
“Sudahlah, Tante.
Jangan diungkit lagi masalah itu. Kekacauan dalam keluarga Titin itu sudah
menjadi cobaan yang di atas.
Titin tidak tahu sampai kapan prahara dalam rumah tangga papa dan mama
berakhir.”
“Kamu sabar ya, Tin...
Semua itu ada hikmanya.”
Titin menunduk. “Tak
lama lagi keluarga kami akan mengalami kehancuran dan tidak bisa dikembalikan
ke semula.” Suara
Titin berubah parau.
“Separah itu?”
Titin menghela berat.
“Yah, begitulah, Tante… Papa sibuk dengan partainya, mama sibuk dengan
bisnisnya. Saya sangat merindukan sebuah keluarga yang bahagia.” Titin
menunduk. Ada genangan air bening di kelopak matanya.
Nurhaida menatap iba.
“Sabar ya, Tin. Semuanya pasti bisa diselesaikan.” Kata Nurhaida.
“Saya harap juga
begitu, Tante…” Titin membuat seulas senyum tipis sambil menyembunyikan air matanya, tapi sayang segelintir air
bening jatuh di pipinya. Buru-buru Titin menghampus dengan tisu. Ia tidak mau terkesan cengeng di depan
Nurhaida.
Suara pintu kamar
terdengar dibuka. Kevin muncul dengan langkah tertatih. Setelah obrolan kecil,
__ADS_1
Titin dan Kevin pamit pulang.