
Malam
itu suasana dingin, namun terasa panas karena amarah yang tersimpan di hati.
Hartati tiba di rumah. Hendrawan menegurnya. Ia bangkit dari duduknya dan
menatap Hartati tajam.
“Mama dari mana aja? Nemui anak
haram itu lagi?”
“Pa… jangan
sekali lagi papa memanggilnya anak haram! Dia anak mama, Pa. Jangan menghujat
mama terus. Batin mama
sakit.”
“Itu karena ulah
mama. Papa kan sudah menasehati mama jangan menemui anak itu lagi. Kenapa mama
masih melanggar nasehat papa?”
“Toni anak mama,
Pa. Bagaimana sekali pun
papa menasehati mama, mama tidak akan pernah melupakan anak kandung mama. Tidak
ada yang dinamakan mantan anak, Pa..”Kata mama sambil terisak. Tubuh Hartati bergucang karena tangis.
“Oh, begitu? Dan
mama lebih memperhatikan Toni ketimbang anak-anak kita?” Kata papa
dengan nada marah.
“Cukup, Pa! Mama
tidak ada pilih kasih. Mama sayang dengan mereka semua. Dan satu hal, Toni
sudah tidak punya siapa-siapa. Mama kasihan dengan anak itu. Mama tidak mau
Toni menjadi anak terlantar!”
“Itu memang
mantas untuknya, Ma!”
“Pa…? Apa papa
pikir papa sudah menjadi sosok ayah yang bertanggung jawab? Kenapa papa tidak
sedikit pun
memberi belai kasihan ke Toni?”
“Dia bukan
anakku, Ma? Dia anak haram!”
“Pa!!!” Bentak Hartati keras.
“Papa jangan berkata seperti itu. Toni anak mama dan papa tahu itu dari awal.
Mengapa dulu papa menikahi mama? Bukankah papa tahu mama mengandung Toni? Mengapa, Pa? Jawab?”
Hartati terlihat berang.
Hendrawan
terdiam.
“Keluarga kita
sudah semakin hancur, Pa. Kenapa papa tidak pernah berpikir untuk
memperbaikinya?”
“Itu tugasmu,
Ma. Pokoknya papa tidak mau Toni datang ke rumah ini. Ingat itu, Ma!”
Hartati
terdiam. Ia sesenggukan, lalu beranjak ke kamar. Menutup pintu rapat-rapat.
Tubuhnya terguncang menahan tangis. Air matanya membasahi pipi. Ia duduk di atas
tempat tidur, terpaku.
Titin
mendengarkan pertengkaran Hartati dan Hendrawan. Ini entah sudah yang keberapa
kali mereka bertengkar. Malam itu benar-benar seperti mau kiamat.
Hendrawan juga tahu kalau Hartati punya
anak di luar sana. Itu anak dari mantan kekasihnya.
Titin menutup
pintu kamarnya. Ia bersandar sambil terduduk. Keadaan semakin runyam saja. Ia
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa agar keluarganya kembali seperti dulu.
__ADS_1
Matahari
pagi terlihat cerah dengan sinarnya yang masuk ke pentilasi kamar Titin. Kesibukan
kota Medan sama seperti kesibukan di kota-kota lain. Anak sekolah sibuk berebut
angkutan umum, para pekerja mengejar waktu ke kantor dan mahasisawa sibuk
mencari bahan kampus.
Titin
menghapus matanya dan beranjak ke kamar mandi. Pikirannya masih kacau dan
kepalanya terasa berat. Ia membiarkan shower menyala dan air membasahi
kepalanya. Ia berharap semuanya berlalu dan kembali menjadi baik-baik saja.
Seperti
biasa, motor Titin menderu di jalanan. Jalanan macet.
Titin berada di atas motor trail. Ia melirik cowok di sampingnya. Cowok dengan
jaket parasut hitam berhelm silver. Cowok itu menatap Titin dari kaca helm. Titin menoleh sambil menarik tuas
gas kuat-kuat. Suara menderum.
BRUUUMMMM....
Titin melesat
meninggalkan asab kehitaman. Seperti biasa ia blingsatan di jalan. Tak perduli
dengan makian pedas yang hampir setiap hari diterimanya. Pikirannya sedikit
tenang karena sentuhan coklat hangat yang dibuat pembantunya pagi tadi di kamar.
Sesampainya di
kampus, Titin memarkirkan motornya. Ia melihat cowok tinggi berdiri sambil
menatapnya. Mengepulkan asap rokok dan membuang puntungan rokok dengan asal.
Toni menghampiri Titin di parkiran.
“Kamu mau apa?!” Tanya Titin tak
bersahabat.Wajahnya juga dibuat
menekuk seperti kertas kusut.
“Aku mau bicara
denganmu.” Kata Toni.
apa?” Nada Titin masih ketus.
“Tentang mamaku.”
“Mamamu? Apa
sangkut pautnya denganku?!”Tanya Titin
dengan alis naik beberapa inch.
“Aku sudah tahu
semua cerita tentangmu, sifat dan tingkah lakumu.”
“Lantas, apa
urusanmu?”
“Kamu memang
keras kepala. Kenapa kamu selalu menyakiti hati mamaku?”Cowok itu mendekat di depan Titin.
“Hei… aku tidak
kenal siapa mamamu? Aku gak punya waktu. Urus saja mamamu.” Titin melangkahkan
kakinya.
“Tunggu…”
Titin berhenti.
“Ada apa lagi? Kamumau menuntutku?”
“Aku harap kamu
tidak menyakiti perasaan mamaku.”
Titin buang
muka, lalu menatap Tony dengan tajam. “Eh, kamu sadar gak sih? Kamu itu anak
haram! Jadi kamu gak perlu ngaku-ngaku anak mamaku dan gak usah menasehati
aku!”Sergah Titin emosi.
“Jaga bicaramu.
Aku juga tidak
ingin terlahir sebagai anak haram. Dan menanggung semua dosa papa dan mamaku.
__ADS_1
Kamu juga harus tahu, mamaku seorang malaikat yang memberiku kehidupan. Tidak
seperti papamu yang ingin membunuhku. Mengumbar janji ke rakyat kecil tapi semuanya nol!”
“Hei… jangan
seenaknya menghujat papaku! Dia lebih berwibawa dari pada papamu dan itu
memang pantas untukmu!”
“Yah, dan aku
tidak pantas bergabung dalam keluarga kalian. Yang mengumbarjanji-janji palsu, penuh pertengkaran
dan tidak ada kedamaian.”
“Kami juga tidak
ada yang membutuhkanmu!”
“Kamu
benar-benar egois!”
“Dan sudah kamu
ketahui sekarang. Terima kasih. Aku gak ada waktu ngurusi anak haram sepertimu!” Titin berlalu
meninggalkan Toni di koridor. Toni menahan amarahnya. Ia memperhatikan langkah
Titin sampai hilang di tikungan.
Titin menghela
nafas kesal. Ia mempercepat langkahnya, ingin menemui Bellinda. Titin tidak
menemukan Bellinda. Di ruangan juga gak ada. Bellinda tidak masuk kampus hari
ini. Hapenya juga gak aktif. Kemana anak itu? batinnya. Titin tetap menunggu
dengan pikiran tak tenang. Hingga mata pelajaran dimulai, Bellinda gak nongol
juga.
Selesai mata
pelajaran ekonomi, Titin tidak mengikuti pelajaran selanjutnya. Ia keluar dan
ingin menemui Bellinda di rumah. Siapa tahu saja Bellinda sakit. Namun Titin
mengurungkan niatnya ketika melihat mama Bellinda duduk di teras depan. Ia
memutar kembali motornya. Bimo memergokinya.
“Kamu mau apa
lagi? Bellinda tidak ada di rumah!” Bimo berucap ketus.
“Aku hanya ingin
tahu kabar Bellinda.” Kata Titin.
“Gak penting.
Lebih baik kamu jauhi dia.”
“Bimm… aku ini
sahabatnya. Apa aku salah menanyakan kabarnya?” Tanya Titin
dengan suara rendah.
“Aku tahu akal
busukmu, Tin. Kamu menginginkan sesuatu dari adikku kan?”
“Menginginkan
apa?”
“Alaa… gak usah
munafik!”
“Aku benar-benar
gak tahu apa yang kamu pikirkan, Bim?Aku tidak seburuk apa yang kamu bayangkan.”
“Oh ya? Dan kamu
keranjingan seperti seorang gangster? Aku tidak ingin melihatmu ada di lokasi
rumahku. Jadi mulai hari ini kamu jangan datang-datang lagi dengan alasan apa pun!”
“Baik, kalau itu
keputusanmu! Kamu egois!” Sergah Titin.
Titin melajukan
motornya dengan pikiran kesal. Mengapa Bimo selalu saja menudingnya
macam-macam. Membencinya seperti seorang pembunuh yang melarikan diri. Titin
bingung mau kemana. Tidak ada tujuan. Mungkin kembali ke kampus dan menemui
teman-temannya yang lain bisa membuat pikirannya lebih baik.Atau ia ke rumah Gibran.
__ADS_1