TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 23


__ADS_3

Malam


itu suasana dingin, namun terasa panas karena amarah yang tersimpan di hati.


Hartati tiba di rumah. Hendrawan menegurnya. Ia bangkit dari duduknya dan


menatap Hartati tajam.


“Mama dari mana aja? Nemui anak


haram itu lagi?”


“Pa… jangan


sekali lagi papa memanggilnya anak haram! Dia anak mama, Pa. Jangan menghujat


mama terus. Batin mama


sakit.”


“Itu karena ulah


mama. Papa kan sudah menasehati mama jangan menemui anak itu lagi. Kenapa mama


masih melanggar nasehat papa?”


“Toni anak mama,


Pa. Bagaimana sekali pun


papa menasehati mama, mama tidak akan pernah melupakan anak kandung mama. Tidak


ada yang dinamakan mantan anak, Pa..”Kata mama sambil terisak. Tubuh Hartati  bergucang karena tangis.


“Oh, begitu? Dan


mama lebih memperhatikan Toni ketimbang anak-anak kita?” Kata papa


dengan nada marah.


“Cukup, Pa! Mama


tidak ada pilih kasih. Mama sayang dengan mereka semua. Dan satu hal, Toni


sudah tidak punya siapa-siapa. Mama kasihan dengan anak itu. Mama tidak mau


Toni menjadi anak terlantar!”


“Itu memang


mantas untuknya, Ma!”


“Pa…? Apa papa


pikir papa sudah menjadi sosok ayah yang bertanggung jawab? Kenapa papa tidak


sedikit pun


memberi belai kasihan ke Toni?”


“Dia bukan


anakku, Ma? Dia anak haram!”


“Pa!!!” Bentak Hartati keras.


“Papa jangan berkata seperti itu. Toni anak mama dan papa tahu itu dari awal.


Mengapa dulu papa menikahi mama? Bukankah papa tahu mama mengandung Toni? Mengapa, Pa? Jawab?”


Hartati terlihat berang.


Hendrawan


terdiam.


“Keluarga kita


sudah semakin hancur, Pa. Kenapa papa tidak pernah berpikir untuk


memperbaikinya?”


“Itu tugasmu,


Ma. Pokoknya papa tidak mau Toni datang ke rumah ini. Ingat itu, Ma!”


Hartati


terdiam. Ia sesenggukan, lalu beranjak ke kamar. Menutup pintu rapat-rapat.


Tubuhnya terguncang menahan tangis. Air matanya membasahi pipi. Ia duduk di atas


tempat tidur, terpaku.


Titin


mendengarkan pertengkaran Hartati dan Hendrawan. Ini entah sudah yang keberapa


kali mereka bertengkar. Malam itu benar-benar seperti mau kiamat.


Hendrawan  juga tahu kalau Hartati punya


anak di luar sana. Itu anak dari mantan kekasihnya.


Titin menutup


pintu kamarnya. Ia bersandar sambil terduduk. Keadaan semakin runyam saja. Ia


benar-benar tidak tahu harus berbuat apa agar keluarganya kembali seperti dulu.

__ADS_1



Matahari


pagi terlihat cerah dengan sinarnya yang masuk ke pentilasi kamar Titin. Kesibukan


kota Medan sama seperti kesibukan di kota-kota lain. Anak sekolah sibuk berebut


angkutan umum, para pekerja mengejar waktu ke kantor dan mahasisawa sibuk


mencari bahan kampus.


Titin


menghapus matanya dan beranjak ke kamar mandi. Pikirannya masih kacau dan


kepalanya terasa berat. Ia membiarkan shower menyala dan air membasahi


kepalanya. Ia berharap semuanya berlalu dan kembali menjadi baik-baik saja.


Seperti


biasa, motor Titin menderu di jalanan. Jalanan macet.


Titin berada di atas motor trail. Ia melirik cowok di sampingnya. Cowok dengan


jaket parasut hitam berhelm silver. Cowok itu menatap Titin dari kaca helm. Titin menoleh sambil menarik tuas


gas kuat-kuat. Suara menderum.


BRUUUMMMM....


Titin melesat


meninggalkan asab kehitaman. Seperti biasa ia blingsatan di jalan. Tak perduli


dengan makian pedas yang hampir setiap hari diterimanya. Pikirannya sedikit


tenang karena sentuhan coklat hangat yang dibuat pembantunya pagi tadi di kamar.


Sesampainya di


kampus, Titin memarkirkan motornya. Ia melihat cowok tinggi berdiri sambil


menatapnya. Mengepulkan asap rokok dan membuang puntungan rokok dengan asal.


Toni menghampiri Titin di parkiran.


“Kamu mau apa?!” Tanya Titin tak


bersahabat.Wajahnya juga dibuat


menekuk seperti kertas kusut.


“Aku mau bicara


denganmu.” Kata Toni.


apa?” Nada Titin masih ketus.


“Tentang mamaku.”


“Mamamu? Apa


sangkut pautnya denganku?!”Tanya Titin


dengan alis naik beberapa inch.


“Aku sudah tahu


semua cerita tentangmu, sifat dan tingkah lakumu.”


“Lantas, apa


urusanmu?”


“Kamu memang


keras kepala. Kenapa kamu selalu menyakiti hati mamaku?”Cowok itu mendekat di depan Titin.


“Hei… aku tidak


kenal siapa mamamu? Aku gak punya waktu. Urus saja mamamu.” Titin melangkahkan


kakinya.


“Tunggu…”


Titin berhenti.


“Ada apa lagi? Kamumau menuntutku?”


“Aku harap kamu


tidak menyakiti perasaan mamaku.”


Titin buang


muka, lalu menatap Tony dengan tajam. “Eh, kamu sadar gak sih? Kamu itu anak


haram! Jadi kamu gak perlu ngaku-ngaku anak mamaku dan gak usah menasehati


aku!”Sergah Titin emosi.


“Jaga bicaramu.


Aku juga tidak


ingin terlahir sebagai anak haram. Dan menanggung semua dosa papa dan mamaku.

__ADS_1


Kamu juga harus tahu, mamaku seorang malaikat yang memberiku kehidupan. Tidak


seperti papamu yang ingin membunuhku. Mengumbar janji ke rakyat kecil tapi semuanya nol!”


“Hei… jangan


seenaknya menghujat papaku! Dia lebih berwibawa dari pada papamu dan itu


memang pantas untukmu!”


“Yah, dan aku


tidak pantas bergabung dalam keluarga kalian. Yang mengumbarjanji-janji palsu, penuh pertengkaran


dan tidak ada kedamaian.”


“Kami juga tidak


ada yang membutuhkanmu!”


“Kamu


benar-benar egois!”


“Dan sudah kamu


ketahui sekarang. Terima kasih. Aku gak ada waktu ngurusi anak haram sepertimu!” Titin berlalu


meninggalkan Toni di koridor. Toni menahan amarahnya. Ia memperhatikan langkah


Titin sampai hilang di tikungan.


Titin menghela


nafas kesal. Ia mempercepat langkahnya, ingin menemui Bellinda. Titin tidak


menemukan Bellinda. Di ruangan juga gak ada. Bellinda tidak masuk kampus hari


ini. Hapenya juga gak aktif. Kemana anak itu? batinnya. Titin tetap menunggu


dengan pikiran tak tenang. Hingga mata pelajaran dimulai, Bellinda gak nongol


juga.



Selesai mata


pelajaran ekonomi, Titin tidak mengikuti pelajaran selanjutnya. Ia keluar dan


ingin menemui Bellinda di rumah. Siapa tahu saja Bellinda sakit. Namun Titin


mengurungkan niatnya ketika melihat mama Bellinda duduk di teras depan. Ia


memutar kembali motornya. Bimo memergokinya.


“Kamu mau apa


lagi? Bellinda tidak ada di rumah!” Bimo berucap ketus.


“Aku hanya ingin


tahu kabar Bellinda.” Kata Titin.


“Gak penting.


Lebih baik kamu jauhi dia.”


“Bimm… aku ini


sahabatnya. Apa aku salah menanyakan kabarnya?” Tanya Titin


dengan suara rendah.


“Aku tahu akal


busukmu, Tin. Kamu menginginkan sesuatu dari adikku kan?”


“Menginginkan


apa?”


“Alaa… gak usah


munafik!”


“Aku benar-benar


gak tahu apa yang kamu pikirkan, Bim?Aku tidak seburuk apa yang kamu bayangkan.”


“Oh ya? Dan kamu


keranjingan seperti seorang gangster? Aku tidak ingin melihatmu ada di lokasi


rumahku. Jadi mulai hari ini kamu jangan datang-datang lagi dengan alasan apa pun!”


“Baik, kalau itu


keputusanmu! Kamu egois!” Sergah Titin.


Titin melajukan


motornya dengan pikiran kesal. Mengapa Bimo selalu saja menudingnya


macam-macam. Membencinya seperti seorang pembunuh yang melarikan diri. Titin


bingung mau kemana. Tidak ada tujuan. Mungkin kembali ke kampus dan menemui


teman-temannya yang lain bisa membuat pikirannya lebih baik.Atau ia ke rumah Gibran.

__ADS_1



__ADS_2