TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 15


__ADS_3

Embun tak lagi merendah di kamarku. Pagi


menawarkan hawa kering. Debu-debu melekat di kaca jendela kamar. Aku


memperhatikan halaman depan. Tanahnya tandus, retak-retak. Langit juga terasa


gersang. Ah, lagi-lagi aku terperangkap pada sebuah kerinduan yang tak


tersisa.


Aku meraba pundakku. Aku terkejut.


Sebentuk daging itu semakin panjang berbulu lebat. Aku membuka bajuku dan


memperhatikannya lewat cermin. Sepasang sayap putih. Benarkah itu sayapku? Aku


bersayap? Apakah aku akan menjadi burung? Seperti dalam doa-doaku yang


kulantunkan setiap malam menjelang. Dimana fajar menantikan sang mentari?


Aku mengepakkan sayapku. Aku mengerjap.


Benarkah itu kepakan sayapku? Oh…Hatiku senang tak tekira. Aku semakin yakin


akan terbang mengitari jagat raya. Aku akan terbang bersama burung-burung


gelatik. Aku akan singgah di beberapa pulau dan kota. Aku ingin menikmati


keindahan alam dari atas.


Kembali aku mengepakan sayapku. Angin


berdersir menyapu barang-barang di kamarku. Tubuhku terangkat dengan beberapa


kepakan. Aku berputar-putar mengintari kamarku. Aku membuka jendela kamarku dan


keluar seperti seekor kupu-kupu. Aku memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran,


lalu melesat tinggi. Aku bahagia sekali hingga aku lupa akan sosok mama dan


papa.


Ketika teringat aku segera mengepakan


sayapku dengan kencang. Aku melewati gedung-gedung pencakar langit, hutan

__ADS_1


hijau, laut dan beberapa kota. Aku mencari alamat papa. Aku menemukan alamat


rumah itu, tapi mendadak saja aku terkejut ketika mendapati suara cekikik di


dalam kamar. Aku melihat papa tengah mencumbui seorang gadis berseragam smu.


Aku menangis melihat penghianatan papa


yang melupakan cinta mama. Aku kalud. Pikiranku kacau. Secepat kilat aku


terbang lagi kembali ke rumah. Mendadak saja aku terkejut ketika sesampainya di


rumah. Aku melihat beberapa orang berkumpul di sana. Aku bertanya-tanya ada


apa?  Aku menuju kamarku. Kulihat ada


seorang gadis tertidur di kasurku. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Setelah


kuamati wajahnya mirip denganku.


“Dia sudah meninggal dua hari yang


lalu.” Kata seorang yang melihatku


Ku lihat mama menangis meraung-raung. Airmantanya


“Alisa... Maafin mama... Kamu jangan


pergi, Nak...”


“Maafin Alisa, Ma.”



Embun


pagi masih berkerendahan di kaca jendela, mengeremang seperti pandangan mata


manis, saat Titin menggeliat baru bangun tidur. Matanya masih kuyu seperti mata


kupu-kupu. Titinmengerjap haru saat menatap embun di jendela kamar yang


putih seperti guguran salju. Membuat khayalnya melambung jauh, membayangkan


suatu saat nanti bisa bertemu dengan pangeran tampan.

__ADS_1


Hari


minggu pagi yang cerah. Handpone Titin berdering. Ada whatsapp


masuk dari Bellinda. Titin terkejut setengah mati membaca pesan dari Bellinda.


Alisa meninggal dunia.


Secepat kilat Titin meluncur


ke rumah Alisa. Perasaannya sangat terguncang dan sedih. Titin tidak percaya dengan kenyataan itu. Baru kemarin mereka


bersenang-senang dan menghibur Alisa. Hari ini Titin mendapat


kabar kalau Alisa pergi untuk selamanya.


Pandangan Titin nanar


karena airmata yang terus merebak di pelupuk mata.  Ia tidak menyangka kalau Alisa akan


mengakhiri hidupnya seperti ini. Kesedihan dan airmata jatuh berderai tanpa


henti. Titin dan Bellinda terus menangis.


Sahabat yang mereka sayangi pergi untuk selamanya. Alisa gantung diri.


“Alisa… Kenapa ini kamu melakukan ini? Kamu udah janji sama aku, kita akan tetap menjadi sahabat yang bahagia.” Titin terisak di depan jenazah Alisa. Tampak wajah kesedihan


di  raut wajah Alisa. Air mata kesedihan


jatuh dari matanya.


Bellinda menangis tersedu di sebelah Titin.


Alisa terbujur kaku dengan wajah pucat. Wajah kesedihan yang tersimpan dalam


lubuk hatinya.


“Semoga lo tenang di sisi-Nya, Sa... Hik..hik..” Bellinda sesenggukkan.


Suasana duka dan sedih seakan tak berujung hari


itu. Mama Alisa menangis meraung-raung menyesali kepergian Alisa. Ia menyesal


mengapa mengekang Alisa selama ini.

__ADS_1



__ADS_2