
Embun tak lagi merendah di kamarku. Pagi
menawarkan hawa kering. Debu-debu melekat di kaca jendela kamar. Aku
memperhatikan halaman depan. Tanahnya tandus, retak-retak. Langit juga terasa
gersang. Ah, lagi-lagi aku terperangkap pada sebuah kerinduan yang tak
tersisa.
Aku meraba pundakku. Aku terkejut.
Sebentuk daging itu semakin panjang berbulu lebat. Aku membuka bajuku dan
memperhatikannya lewat cermin. Sepasang sayap putih. Benarkah itu sayapku? Aku
bersayap? Apakah aku akan menjadi burung? Seperti dalam doa-doaku yang
kulantunkan setiap malam menjelang. Dimana fajar menantikan sang mentari?
Aku mengepakkan sayapku. Aku mengerjap.
Benarkah itu kepakan sayapku? Oh…Hatiku senang tak tekira. Aku semakin yakin
akan terbang mengitari jagat raya. Aku akan terbang bersama burung-burung
gelatik. Aku akan singgah di beberapa pulau dan kota. Aku ingin menikmati
keindahan alam dari atas.
Kembali aku mengepakan sayapku. Angin
berdersir menyapu barang-barang di kamarku. Tubuhku terangkat dengan beberapa
kepakan. Aku berputar-putar mengintari kamarku. Aku membuka jendela kamarku dan
keluar seperti seekor kupu-kupu. Aku memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran,
lalu melesat tinggi. Aku bahagia sekali hingga aku lupa akan sosok mama dan
papa.
Ketika teringat aku segera mengepakan
sayapku dengan kencang. Aku melewati gedung-gedung pencakar langit, hutan
__ADS_1
hijau, laut dan beberapa kota. Aku mencari alamat papa. Aku menemukan alamat
rumah itu, tapi mendadak saja aku terkejut ketika mendapati suara cekikik di
dalam kamar. Aku melihat papa tengah mencumbui seorang gadis berseragam smu.
Aku menangis melihat penghianatan papa
yang melupakan cinta mama. Aku kalud. Pikiranku kacau. Secepat kilat aku
terbang lagi kembali ke rumah. Mendadak saja aku terkejut ketika sesampainya di
rumah. Aku melihat beberapa orang berkumpul di sana. Aku bertanya-tanya ada
apa? Aku menuju kamarku. Kulihat ada
seorang gadis tertidur di kasurku. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Setelah
kuamati wajahnya mirip denganku.
“Dia sudah meninggal dua hari yang
lalu.” Kata seorang yang melihatku
Ku lihat mama menangis meraung-raung. Airmantanya
“Alisa... Maafin mama... Kamu jangan
pergi, Nak...”
“Maafin Alisa, Ma.”
Embun
pagi masih berkerendahan di kaca jendela, mengeremang seperti pandangan mata
manis, saat Titin menggeliat baru bangun tidur. Matanya masih kuyu seperti mata
kupu-kupu. Titinmengerjap haru saat menatap embun di jendela kamar yang
putih seperti guguran salju. Membuat khayalnya melambung jauh, membayangkan
suatu saat nanti bisa bertemu dengan pangeran tampan.
__ADS_1
Hari
minggu pagi yang cerah. Handpone Titin berdering. Ada whatsapp
masuk dari Bellinda. Titin terkejut setengah mati membaca pesan dari Bellinda.
Alisa meninggal dunia.
Secepat kilat Titin meluncur
ke rumah Alisa. Perasaannya sangat terguncang dan sedih. Titin tidak percaya dengan kenyataan itu. Baru kemarin mereka
bersenang-senang dan menghibur Alisa. Hari ini Titin mendapat
kabar kalau Alisa pergi untuk selamanya.
Pandangan Titin nanar
karena airmata yang terus merebak di pelupuk mata. Ia tidak menyangka kalau Alisa akan
mengakhiri hidupnya seperti ini. Kesedihan dan airmata jatuh berderai tanpa
henti. Titin dan Bellinda terus menangis.
Sahabat yang mereka sayangi pergi untuk selamanya. Alisa gantung diri.
“Alisa… Kenapa ini kamu melakukan ini? Kamu udah janji sama aku, kita akan tetap menjadi sahabat yang bahagia.” Titin terisak di depan jenazah Alisa. Tampak wajah kesedihan
di raut wajah Alisa. Air mata kesedihan
jatuh dari matanya.
Bellinda menangis tersedu di sebelah Titin.
Alisa terbujur kaku dengan wajah pucat. Wajah kesedihan yang tersimpan dalam
lubuk hatinya.
“Semoga lo tenang di sisi-Nya, Sa... Hik..hik..” Bellinda sesenggukkan.
Suasana duka dan sedih seakan tak berujung hari
itu. Mama Alisa menangis meraung-raung menyesali kepergian Alisa. Ia menyesal
mengapa mengekang Alisa selama ini.
__ADS_1