TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 29


__ADS_3

Medan sore itu


kelihatan mendung. Awan berarak gelisah. Menyelimuti sebagian gedung pencakar


langit. Tetes air hujan mulai turun membasahi sebagian kota


Medan.


Malam itu jalanan masih basah. Titin, Marceldan teman-teman yang lain berkumpul di café pinggir jalan. Titin menarik


resulting jaket kulit warna gelap. Udara masih dingin, namun terasa panas


begitu melihat geng motor lain di seberang jalan.


Titin memperhatikan Marcel yang tengah sibuk


ngobrol dengan teman lain. Mereka menunggu waktu yang sudah disepakati. Titin


mendekap tangannya di dada. Malam itu terasa dingin. Tak berapa lama Marcel menghampirinya. Membawa minuman kaleng. Ia memberikannya ke Titin lalu duduk di


sebelah. Titin tampak kedinginan.


“Kamu kenapa, Tin?”tanya Marcel.


“Hm… aku masih belum siap, Cel.”


“Sudahlah… Jangan khawatir. Kamu kan bukan sekali ini


aja balapan.”


“Tapi perasaanku gak enak.”


“Ayolah, Tin. Jangan redupkan semangatmu. Ini demi


impianmu selama ini. Kalau tidak untuk apa kamu ngtrail di jalan raya?”


Titin tertunduk. “Aku lagi gak mood,”


“Gak mood? Heii… apa yang kamu


pikirkan? Aku ada di sini bersama yang lain,”


“Kamu ikut balapan juga?”


“Ya, aku akan bersamamu.” Kata Marcel.


Pukul sepuluh malam, Marcel, Titin dan


teman-temannya menuju lokasi balapan. Di sana sudah ramai anak-anak geng motor


yang ingin ikut balapan. Suara motor mereka menderu-deru mengeluarkan asaptebal.


Titin mengenakan jaket kulit dan sarung tangan. Sepatu


kets dan jeans ketat. Ia memeriksa motornya. Memastikan semua mesin dalam


keadaan standby. Babak pertama


sudah dimulai. Titin masuk ke babak kedua.


Malam terasa panas. Asap motor mengepul di sepanjang jalan.


Bendera-bendera kecil berkibar. Wajah-wajah mereka terlihat tegang, sementara Marcel


tidak kelihatan batang hidungnya. Entah kemana anak itu. Katanya mencari minuman, tapi sudah satu jam tidak muncul juga.


Titin mulai gelisah. Matanya celingukan mencari sosok Marcel.


Teman-teman Marcel juga tidak kelihatan. Padahal tadi mereka kumpul bersama


Titin. Kini semuanya seperti raib dari muka bumi. Titin naik ke motornya menuju


pembatas balapan.


“Siap-siap…!” Terdengar


pengeras suara memberi aba-aba. Titin sudah standby di atas motornya.


“Lima, empat, tiga, dua, satu…. Dooorrr….”


BRUUUMMMM….. motor Titin melesat dengan


kecepatan tinggi. Batang-batang pohon terlihat berkelebatan. Titin menarik tuas


gas kuat-kuat. Suara riuh sorak dan deru motor membuatnya semangat. Namun di


tengah perjalanan ia melihat Marcel cekakak cekikik bersama


Meta. Mereka berada di pinggir jalan jauh dari titik start. Titin tidak

__ADS_1


konsentrasi. Bayangan Marcel dan Meta mengusik hatinya. Emosi Titin


meledak-ledak. Ternyata Marcel menipunya. Marceltidak ikut balapan. Ia malah bermesraan dengan Meta.


“Cueh…!” Titin mengumpat dengan hati


pedih. Belum lagi habis permasalahan di rumah kini ia dihadapkan dengan masalah


hati dan perasaan.


Motor Titin oleng. Dia benar-benar


tertekan batin. Airmatanya menggenang. Ia benar-benar telah bosan hidup. Dengan


semua emosi ia luapkan di balap motor. Titin menarik tuas gas kuat-kuat dan tak


terkendali.


JEBRAAAANNKKK… KRAAAKK….


Suara dahsyat membahana malam itu. Titin


terkapar di badan jalan. Ia terseret beberapa meter. Anak-anak heboh, panik dan


menjerit-jerit. Marcelmeningggalkan arena balap motor bersama


Meta.


Mobil polisi meliung-liung mendapat kabar


dari seseorang. Anak-anak geng motor kalang kabut menyelamatkan diri. Sebagianmereka ada


yang ketangkap.


Mobil ambulance tiba di TKP setelah beberapa menit


kemudian. Membawa Titin yang tidak sadarkan diri.



Sementara di sisi lain, Gibran mengejar Marcel. Marcel


target berikutnya yang harus ia habisi. Ketika melihat motor Marcel yang melaju


kencang, Gibran pun mengejarnya dengan kelajuan yang cukup tinggi. Motor menderu


dengan suara yang memekakan gendang telinga.


kaca spion, ada seseorang yang mengikutinya. Marcel pun blingsatan sambil


mengganti gigi tarik dan clos. Sedangkan Meta merangkul Marcel dengan erat. Di persimpangan


tikungan Marcel berbelok dan membuat pegangan Meta terlepas. Meta pun terhempas


dan jatuh di jalan berguling-guling.


Gibran terus saja memburu Marcel dengan dendam yang


membara. Di pertigaan Marcel tidak  terkontrol dan tidak terkendali. Motornya terpental ketika menabrak


sebuah lubang di tengah jalan.


BRAAAKKK. Motor Marcel terhempas jauh dan Marcel


terhempas di jalan hitam. Gibran menghentikan sepeda motornya dan turun sambil


membawa sebuah besi panjang. Ia menghampiri Marcel yang sudah terhempas dan


penh luka. Ia merintih kesakitan.


BUUGGGH.


Sebuah pukulan di punggung Marcel, membuat cowok  itu menahan nafas dan sakit yang amat sangat.


Gibran yang masih mengenakan helm menatap tajam ke Marcel. Gibran mengingat apa


yang sudah diperbuat Marcel dua tahun lalu. Ia memukul kekasihnya pakai besih


hingga tewas. Kini besi itu ada di tangan Gibran dan Gibran memukul Marcel di


bagian kepala.


KEDEBANG…


Tubuh Marcel berkelojotan di jalan dan darah mengalir


dari kepalanya. Gibran pun meninggalkan cowok itu begitu saja. Marcel sekarat


dan ia meregang nyawa pada malam itu juga.

__ADS_1



Titin berada di ruang ICU. Ia cedera di bagian kepala, tangan


dan kaki.


Hartati tergopoh-gopoh


berjalan di koridor menuju ruang Titin. Sesekali ia menghapus airmatanya.


Berharap Titin baik-baik saja. Di ruang tunggu sudah ada Toni. Hartati menangis


saat mendekati ruang ICU.


“Bagaimana Titin, Ton?”


Toni menunduk. “Belum tahu, Ma. Dokter belum keluar dari ruang ICU,” ucap


Toni berat. Hartati terduduk di kursi.


“Titin...Titin... kenapa kamu tidak mau menuruti nasehat mama...” gumam


Hartati merasa bersalah. Toni mengelus bahu Hartati.


“Sudahlah, Ma. Ini bukan salah mama. Semua kehendak Allah,”


“Tapi mama tidak mampu mencegahnya, Ton. Mama gagal menjadi seorang ibu,”


Hartati sesenggukan.


“Tidak, Ma. Mama itu seorang bidadari,”


Hartati menghapus airmatanya. Hendrawan dan Dewa muncul dari jauh. Mereka


setengah berlari menuju ruang ICU.


“Ma, bagaimana dengan Titin?” tanya Hendrawan


ketika sampai di ruang tunggu.


“Dokter belum keluar,”jawab Hartati datar.


Hendrawan memandang sinis ke Toni. “Mau apa anak itu kemari?” tanyanya


ketus.


“Toni yang membawa Titin ke rumah sakit. Papa jangan menghujatnya


terus menerus. Apa anak dalam kandungan perempuan itu anak sah?”


Hendrawan terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa setelah


dihardik Hartati. Hendrawan masih tidak menginginkan Toni berada dekat dengan


keluarganya. Dewa hanya berdiri jauh dari mereka. Menghabiskan beberapa batang


rokok.


Dokter Bahtiar keluar sambil membuka maskernya. Hartati dan Hendrawan


segera menghampiri dan bertanya.


“Bagaimana keadaan anak saya, dok?” tanya Hendrawan cemas.


“Anak anda baik-baik saja. Dia masih belum sadar dan harus  banyak istirahat,”


“Terima kasih, dok,”


Satu persatu mereka melihat keadaan Titin yang belum siuman. Hartati


terus berdoa agar Titin diberi kekuatan. Lama mereka duduk di ruang tunggu.


Hari sudah menjelang pagi.


Hendrawan pamit duluan. Ada kerjaan yang harus ia selesaikan. Begitu juga


dengan Dewa. Proyek senilai 1 milyar harus ia kerjakan sebelum pihak pemeriksa


turun lapangan. Tinggal Hartati dan Toni yang duduk di ruang tunggu.


“Mama istirahat aja dulu. Biar Toni yang jaga Titin,”


“Yah... mama titip Titin ya, Ton,”


Toni mengangguk. “Ya, Ma...”


Hartati beranjak dan melangkahkan kakinya perlahan. Kepalanya terasa


berputar-putar. Mungkin karena kelelahan semalaman. Ia ingin istirahat sejenak.

__ADS_1


Akhir-akhir ini kondisinya melemah. Kepalanya seperti ditusuk paku-paku raksasa.



__ADS_2