
Medan sore itu
kelihatan mendung. Awan berarak gelisah. Menyelimuti sebagian gedung pencakar
langit. Tetes air hujan mulai turun membasahi sebagian kota
Medan.
Malam itu jalanan masih basah. Titin, Marceldan teman-teman yang lain berkumpul di café pinggir jalan. Titin menarik
resulting jaket kulit warna gelap. Udara masih dingin, namun terasa panas
begitu melihat geng motor lain di seberang jalan.
Titin memperhatikan Marcel yang tengah sibuk
ngobrol dengan teman lain. Mereka menunggu waktu yang sudah disepakati. Titin
mendekap tangannya di dada. Malam itu terasa dingin. Tak berapa lama Marcel menghampirinya. Membawa minuman kaleng. Ia memberikannya ke Titin lalu duduk di
sebelah. Titin tampak kedinginan.
“Kamu kenapa, Tin?”tanya Marcel.
“Hm… aku masih belum siap, Cel.”
“Sudahlah… Jangan khawatir. Kamu kan bukan sekali ini
aja balapan.”
“Tapi perasaanku gak enak.”
“Ayolah, Tin. Jangan redupkan semangatmu. Ini demi
impianmu selama ini. Kalau tidak untuk apa kamu ngtrail di jalan raya?”
Titin tertunduk. “Aku lagi gak mood,”
“Gak mood? Heii… apa yang kamu
pikirkan? Aku ada di sini bersama yang lain,”
“Kamu ikut balapan juga?”
“Ya, aku akan bersamamu.” Kata Marcel.
Pukul sepuluh malam, Marcel, Titin dan
teman-temannya menuju lokasi balapan. Di sana sudah ramai anak-anak geng motor
yang ingin ikut balapan. Suara motor mereka menderu-deru mengeluarkan asaptebal.
Titin mengenakan jaket kulit dan sarung tangan. Sepatu
kets dan jeans ketat. Ia memeriksa motornya. Memastikan semua mesin dalam
keadaan standby. Babak pertama
sudah dimulai. Titin masuk ke babak kedua.
Malam terasa panas. Asap motor mengepul di sepanjang jalan.
Bendera-bendera kecil berkibar. Wajah-wajah mereka terlihat tegang, sementara Marcel
tidak kelihatan batang hidungnya. Entah kemana anak itu. Katanya mencari minuman, tapi sudah satu jam tidak muncul juga.
Titin mulai gelisah. Matanya celingukan mencari sosok Marcel.
Teman-teman Marcel juga tidak kelihatan. Padahal tadi mereka kumpul bersama
Titin. Kini semuanya seperti raib dari muka bumi. Titin naik ke motornya menuju
pembatas balapan.
“Siap-siap…!” Terdengar
pengeras suara memberi aba-aba. Titin sudah standby di atas motornya.
“Lima, empat, tiga, dua, satu…. Dooorrr….”
BRUUUMMMM….. motor Titin melesat dengan
kecepatan tinggi. Batang-batang pohon terlihat berkelebatan. Titin menarik tuas
gas kuat-kuat. Suara riuh sorak dan deru motor membuatnya semangat. Namun di
tengah perjalanan ia melihat Marcel cekakak cekikik bersama
Meta. Mereka berada di pinggir jalan jauh dari titik start. Titin tidak
__ADS_1
konsentrasi. Bayangan Marcel dan Meta mengusik hatinya. Emosi Titin
meledak-ledak. Ternyata Marcel menipunya. Marceltidak ikut balapan. Ia malah bermesraan dengan Meta.
“Cueh…!” Titin mengumpat dengan hati
pedih. Belum lagi habis permasalahan di rumah kini ia dihadapkan dengan masalah
hati dan perasaan.
Motor Titin oleng. Dia benar-benar
tertekan batin. Airmatanya menggenang. Ia benar-benar telah bosan hidup. Dengan
semua emosi ia luapkan di balap motor. Titin menarik tuas gas kuat-kuat dan tak
terkendali.
JEBRAAAANNKKK… KRAAAKK….
Suara dahsyat membahana malam itu. Titin
terkapar di badan jalan. Ia terseret beberapa meter. Anak-anak heboh, panik dan
menjerit-jerit. Marcelmeningggalkan arena balap motor bersama
Meta.
Mobil polisi meliung-liung mendapat kabar
dari seseorang. Anak-anak geng motor kalang kabut menyelamatkan diri. Sebagianmereka ada
yang ketangkap.
Mobil ambulance tiba di TKP setelah beberapa menit
kemudian. Membawa Titin yang tidak sadarkan diri.
Sementara di sisi lain, Gibran mengejar Marcel. Marcel
target berikutnya yang harus ia habisi. Ketika melihat motor Marcel yang melaju
kencang, Gibran pun mengejarnya dengan kelajuan yang cukup tinggi. Motor menderu
dengan suara yang memekakan gendang telinga.
kaca spion, ada seseorang yang mengikutinya. Marcel pun blingsatan sambil
mengganti gigi tarik dan clos. Sedangkan Meta merangkul Marcel dengan erat. Di persimpangan
tikungan Marcel berbelok dan membuat pegangan Meta terlepas. Meta pun terhempas
dan jatuh di jalan berguling-guling.
Gibran terus saja memburu Marcel dengan dendam yang
membara. Di pertigaan Marcel tidak terkontrol dan tidak terkendali. Motornya terpental ketika menabrak
sebuah lubang di tengah jalan.
BRAAAKKK. Motor Marcel terhempas jauh dan Marcel
terhempas di jalan hitam. Gibran menghentikan sepeda motornya dan turun sambil
membawa sebuah besi panjang. Ia menghampiri Marcel yang sudah terhempas dan
penh luka. Ia merintih kesakitan.
BUUGGGH.
Sebuah pukulan di punggung Marcel, membuat cowok itu menahan nafas dan sakit yang amat sangat.
Gibran yang masih mengenakan helm menatap tajam ke Marcel. Gibran mengingat apa
yang sudah diperbuat Marcel dua tahun lalu. Ia memukul kekasihnya pakai besih
hingga tewas. Kini besi itu ada di tangan Gibran dan Gibran memukul Marcel di
bagian kepala.
KEDEBANG…
Tubuh Marcel berkelojotan di jalan dan darah mengalir
dari kepalanya. Gibran pun meninggalkan cowok itu begitu saja. Marcel sekarat
dan ia meregang nyawa pada malam itu juga.
__ADS_1
Titin berada di ruang ICU. Ia cedera di bagian kepala, tangan
dan kaki.
Hartati tergopoh-gopoh
berjalan di koridor menuju ruang Titin. Sesekali ia menghapus airmatanya.
Berharap Titin baik-baik saja. Di ruang tunggu sudah ada Toni. Hartati menangis
saat mendekati ruang ICU.
“Bagaimana Titin, Ton?”
Toni menunduk. “Belum tahu, Ma. Dokter belum keluar dari ruang ICU,” ucap
Toni berat. Hartati terduduk di kursi.
“Titin...Titin... kenapa kamu tidak mau menuruti nasehat mama...” gumam
Hartati merasa bersalah. Toni mengelus bahu Hartati.
“Sudahlah, Ma. Ini bukan salah mama. Semua kehendak Allah,”
“Tapi mama tidak mampu mencegahnya, Ton. Mama gagal menjadi seorang ibu,”
Hartati sesenggukan.
“Tidak, Ma. Mama itu seorang bidadari,”
Hartati menghapus airmatanya. Hendrawan dan Dewa muncul dari jauh. Mereka
setengah berlari menuju ruang ICU.
“Ma, bagaimana dengan Titin?” tanya Hendrawan
ketika sampai di ruang tunggu.
“Dokter belum keluar,”jawab Hartati datar.
Hendrawan memandang sinis ke Toni. “Mau apa anak itu kemari?” tanyanya
ketus.
“Toni yang membawa Titin ke rumah sakit. Papa jangan menghujatnya
terus menerus. Apa anak dalam kandungan perempuan itu anak sah?”
Hendrawan terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa setelah
dihardik Hartati. Hendrawan masih tidak menginginkan Toni berada dekat dengan
keluarganya. Dewa hanya berdiri jauh dari mereka. Menghabiskan beberapa batang
rokok.
Dokter Bahtiar keluar sambil membuka maskernya. Hartati dan Hendrawan
segera menghampiri dan bertanya.
“Bagaimana keadaan anak saya, dok?” tanya Hendrawan cemas.
“Anak anda baik-baik saja. Dia masih belum sadar dan harus banyak istirahat,”
“Terima kasih, dok,”
Satu persatu mereka melihat keadaan Titin yang belum siuman. Hartati
terus berdoa agar Titin diberi kekuatan. Lama mereka duduk di ruang tunggu.
Hari sudah menjelang pagi.
Hendrawan pamit duluan. Ada kerjaan yang harus ia selesaikan. Begitu juga
dengan Dewa. Proyek senilai 1 milyar harus ia kerjakan sebelum pihak pemeriksa
turun lapangan. Tinggal Hartati dan Toni yang duduk di ruang tunggu.
“Mama istirahat aja dulu. Biar Toni yang jaga Titin,”
“Yah... mama titip Titin ya, Ton,”
Toni mengangguk. “Ya, Ma...”
Hartati beranjak dan melangkahkan kakinya perlahan. Kepalanya terasa
berputar-putar. Mungkin karena kelelahan semalaman. Ia ingin istirahat sejenak.
__ADS_1
Akhir-akhir ini kondisinya melemah. Kepalanya seperti ditusuk paku-paku raksasa.