
Seorang
gadis berpakaian modis hadir di rumah Hendrawan. Memakai kacamata hitam dan hak
tinggi yang sangat menawan. Anggun dengan dandanan gadis metropolis. Hartati
terkejut dan bertanya-tanya. Siapa gerangan gadis itu.
“Saya mencari om
Hendrawan. Apa dia ada?” tanya gadis itu sambil membuka kacamatanya.
“Kamu siapa?” Tanya
Hartati penasaran.
“Saya Devina. Pacar om
Hendra!”
Tegasnya.
Deg… Jantung Hartati
seperti mau copot. Ia tidak mampu menopang tubuhnya yang mulai goyang. Bibirnya
terkatup tak mampu bicara. Kepalanya terasa berputar-putar.
“Pacar?” Hartati
menjelaskan pendengarannya.
“Ya. Dan saya sudah
mengandung anak Hendrawan. Saya ingin minta pertanggung jawaban.”
Hartati lemas. Persendiannya
nyeri. Jantungnya seperti meledak-ledak mendengar pengakuan gadis muda yang
mungkin usianya sebanding Dewa, anak sulungnya.
“Hamil…” Gumamnya pelan
dengan bibir bergetar. Hartati
duduk di kursi tamu dengan lunglai. “Hendrawan tidak ada di rumah. Ia masih di kantor.” Kata Hartati tak kuasa
menahan tekanan bathin.
Gadis itu beranjak.
“Kalau begitu sampaikan salam saya ke Hendrawan. Saya permisi.” Ujar
gadis itu sebelum pergi. Hartati tidak menyahut. Ia tak sanggup bangkit dari
duduknya. Kini keluarga yang mereka bina selama dua puluh tiga tahun kandas
sudah. Ada orang ketiga yang mengusik rumah tangga Hartati.
Malam itu Hendrawan
tiba di rumah. Ia melepaskan sepatunya di kursi tamu. Hartati menatap dengan
lekat. Memperhatikan Hendarawan dan mengingat kebejatan yang dilakukannya. Batin Hartati masih tersayat-sayat pedih bila
mengingat kejadian tadi sore.
“Tadi Devina
mencarimu.” Kata Hartati tegas. Hendrawan terkejut. Ekespresi wajahnya berubah
pias.
“Ada hubungan apa papa
dengan Devina?” Tanya Hartati ingin tahu.
Hendrawan kalang kabut
tidak bisa menjawab. “E…e..hmm… Dia hanya rekan kerja, Ma. Gak ada hubungan
apa-apa. Memangnya kenapa?”
“Gak apa-apa. Devina
hanya minta pertanggung jawabanmu, Papa. Pertangung jawabkan saja perbuatan papa. Gampang kan?”
“Pertanggung jawaban?
Pertanggung jawaban apa?”
“Gak usah pura-pura
tidak tahu, Pa. Devina mengandung anak papa. Papa bilang gak ada hubungan
apa-apa?!”
Hendrawan semakin
terkejut. Keringat dingin mengucur di keningnya. Hartati tak mampu menahan emosinya
yang meledak-ledak.
__ADS_1
“Keluarga kita sudah
benar-benar hancur, Pa. Dan kini papa menghamili gadis itu?! Cueeh…!” Hartati
meludah. “Di mana
letak wibawa papa sebagai seorang kepala rumah tangga? Mama tidak menyangka
kalau papa akan berbuat seperti ini ke mama. Di mana
tanggung jawab papa sebagai seorang pemimpin? Mengumbar janji yang idealis!
Tapi papa sendiri seorang pecundang!”
“Ma..! Dengar dulu
penjelasan papa!”
“Penjelasan apa lagi?
Gadis itu sudah menjelasakan semuanya, Pa? Hati mama sakit... Papa menghianati
perkawainan kita!”
“Papa dijebak, Ma...”
“Dijebak..?” Hartati
meninggikan suaranya. “Itu alasan yang konyol, Pa. Papa selaku orang terpandang, pintar dan
terhormat bisa juga dijebak? Tidak masuk diakal. Itu karena papa yang
kegatalan! Sudahlah, Pa. Lebih baik kita berpisah!”
“Ma... jangan mengambil
keputusan sebelah pihak. Masalah ini bisa kita selesaikan baik-baik,”
“Kita selesaikan?” Hartati melengos. “Masalah
anak-anak kita saja papa tidak mampu menyelesaikannya, apalagi masalah
menghamili anak gadis orang? Mama malu, Pa? Mama
tertekan batin...!” Hartati menangis.
Hendrawan tak mampu
bicara. Ia menunduk sambil memegangi kepalanya. Pikirannya semakin kacau.
Tiba-tiba saja Titin muncul di depan pintu. Ia mendengar semuanya pertengkaran
Hendrawan dan Hartati. Kali ini masalahnya berbeda. Titin menatap keduanya
secara bergantian.
saja! Titin gak menyangka di dalam hati kalian ada
sifat kebejatan seekor binatang! Titin malu, Pa? Titin tertekan batin… Kapan
sih keluarga kita bisa akur… damai dan bahagia…?” Suara Titin
sedikit parau. “Titin sudah mendengar semuanya. Tentang perempuan itu, Titin
pernah melihat papa bersamanya. Jadi selama ini papa mengumbar idealis di
sebuah discotiq?”
“Tinn…” Selah Hendrawan
membela diri.
“Cukup, Pa…! Titin mau
mati aja kalau keluarga kita sudah tidak dapat dipertahankan. Titin malu, Pa!”
“Papa mohon… Maafkan
papa…”
Titin diam. Ia menahan
emosinya dengan linangan air mata,
lalu beranjak dari ruang tamu.
“Tin… Titin…” Panggil
Hendrawan. Titin tidak menyahut. Ia menghidupkan menyalakan motornya dan melesat di
malam yang gelap. Segelap kehidupannya. Segelap hatinya. Pikirannya bertambah
kacau dengan masalah-masalah yang bertubi-tubi.
Hartati terkulai lemas
di kursi tamu. Ia menangis sesenggukan. Pedih. Hendrawan telah mengotori rumah
tangga mereka dengan kemunculan perempuan hamil. Sepertinya mereka tidak mampu
mempertahankan keutuhan rumah tangga yang dibina selama dua puluh lima tahun.
Pikiran Titin
__ADS_1
benar-benar seperti ditumpuki beton. Hendrawan yang dikenalnya sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kini telah melanggar
kesucian keluarga. Hendrawan tak ubah seperti laki-laki
bejat yang kerjanya mabuk-mabukan. Segelintir air beningjatuh di pipi Titin.
Semua
seperti mimpi buruk
Mimpi
yang menghujatku berlabuhke dunia berkabut
Hitam,
pekat…
Dunia
seperti bara api
Menjilati
hati dan pikiranku
Menghanguskan
perasaan dan batinku
Angin dingin menerpa
tubuh Titin. Ia duduk terpaku. Menatap langit biru yang polos tanpa sinar
bulan. Bintang pun tak berkedip. Kelihatannya langit berubah mendung.
Toni menghampiri Titin.
“Kamu sedang apa?” tanyanya. Titin terkejut dan menoleh ke arah Toni.
“Bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Toni duduk di
sebelah Titin. Titin menggeser tubuhnya.
“Sepertinya kamu menghadapi
masalah yang berat?”
“Setiap hari. Dan kamu
tidak perlu ikut campur di keluargaku.”
Toni diam menatap ke
depan. “Tadi mama menelponku sambil menangis. Katanya papamu menghamili gadis
lain.”
“Aku tidak perduli. Mereka
sama saja.”
“Tapi bagi mamaku, itu
sebuah bencana yang besar.”
“Jika masalah itu
dibesar-besarkan!”
“Ya… dan kamu harus
tabah menghadapi cobaan itu.”
“Aku ingin mati saja,
agar tidak menanggung malu yang sangat besar.”
“Mati bukan berarti
tidak punya masalah. Apa kamu siap dengan amal ibadah yang kamu kerjakan?”
Titin terdiam. Memang
selama ini ia jauh dari ajaran agama. Keluarganya tidak pernah memberi wejangan
untuk melaksanakan sholat atau pengajian-pengajian semacamnya.
“Mungkin itu lebih
baik.”
“Mati bukan pilihan
setiap manusia. Mereka berusaha bertahan hidup hingga ajal menjemput.”
“Kamu tidak usah
mengguruiku!”
Titin beranjak dari duduknya. Menyibak kotoran yang menempel di celana panjangnya. Toni membiarkan Titin pergi dan
merenungi kata-katanya. Mungkin ia akan mengerti dengan keadaan yang
dialaminya.
__ADS_1