TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 28


__ADS_3

Seorang


gadis berpakaian modis hadir di rumah Hendrawan. Memakai kacamata hitam dan hak


tinggi yang sangat menawan. Anggun dengan dandanan gadis metropolis. Hartati


terkejut dan bertanya-tanya. Siapa gerangan gadis itu.


“Saya mencari om


Hendrawan. Apa dia ada?” tanya gadis itu sambil membuka kacamatanya.


“Kamu siapa?” Tanya


Hartati penasaran.


“Saya Devina. Pacar om


Hendra!”


Tegasnya.


Deg… Jantung Hartati


seperti mau copot. Ia tidak mampu menopang tubuhnya yang mulai goyang. Bibirnya


terkatup tak mampu bicara. Kepalanya terasa berputar-putar.


“Pacar?” Hartati


menjelaskan pendengarannya.


“Ya. Dan saya sudah


mengandung anak Hendrawan. Saya ingin minta pertanggung jawaban.”


Hartati lemas. Persendiannya


nyeri. Jantungnya seperti meledak-ledak mendengar pengakuan gadis muda yang


mungkin usianya sebanding Dewa, anak sulungnya.


“Hamil…” Gumamnya pelan


dengan bibir bergetar. Hartati


duduk di kursi tamu dengan lunglai. “Hendrawan tidak ada di rumah. Ia masih di kantor.” Kata Hartati tak kuasa


menahan tekanan bathin.


Gadis itu beranjak.


“Kalau begitu sampaikan salam saya ke Hendrawan. Saya permisi.” Ujar


gadis itu sebelum pergi. Hartati tidak menyahut. Ia tak sanggup bangkit dari


duduknya. Kini keluarga yang mereka bina selama dua puluh tiga tahun kandas


sudah. Ada orang ketiga yang mengusik rumah tangga Hartati.



Malam itu Hendrawan


tiba di rumah. Ia melepaskan sepatunya di kursi tamu. Hartati menatap dengan


lekat. Memperhatikan Hendarawan dan mengingat kebejatan yang dilakukannya. Batin Hartati masih tersayat-sayat pedih bila


mengingat kejadian tadi sore.


“Tadi Devina


mencarimu.” Kata Hartati tegas. Hendrawan terkejut. Ekespresi wajahnya berubah


pias.


“Ada hubungan apa papa


dengan Devina?” Tanya Hartati ingin tahu.


Hendrawan kalang kabut


tidak bisa menjawab. “E…e..hmm… Dia hanya rekan kerja, Ma. Gak ada hubungan


apa-apa. Memangnya kenapa?”


“Gak apa-apa. Devina


hanya minta pertanggung jawabanmu, Papa. Pertangung jawabkan saja perbuatan papa. Gampang kan?”


“Pertanggung jawaban?


Pertanggung jawaban apa?”


“Gak usah pura-pura


tidak tahu, Pa. Devina mengandung anak papa. Papa bilang gak ada hubungan


apa-apa?!”


Hendrawan semakin


terkejut. Keringat dingin mengucur di keningnya. Hartati tak mampu menahan emosinya


yang meledak-ledak.

__ADS_1


“Keluarga kita sudah


benar-benar hancur, Pa. Dan kini papa menghamili gadis itu?! Cueeh…!” Hartati


meludah. “Di mana


letak wibawa papa sebagai seorang kepala rumah tangga? Mama tidak menyangka


kalau papa akan berbuat seperti ini ke mama. Di mana


tanggung jawab papa sebagai seorang pemimpin? Mengumbar janji yang idealis!


Tapi papa sendiri seorang pecundang!”


“Ma..! Dengar dulu


penjelasan papa!”


“Penjelasan apa lagi?


Gadis itu sudah menjelasakan semuanya, Pa? Hati mama sakit... Papa menghianati


perkawainan kita!”


“Papa dijebak, Ma...”


“Dijebak..?” Hartati


meninggikan suaranya. “Itu alasan yang konyol, Pa.  Papa selaku orang terpandang, pintar dan


terhormat bisa juga dijebak? Tidak masuk diakal. Itu karena papa yang


kegatalan! Sudahlah, Pa. Lebih baik kita berpisah!”


“Ma... jangan mengambil


keputusan sebelah pihak. Masalah ini bisa kita selesaikan baik-baik,”


“Kita selesaikan?” Hartati melengos. “Masalah


anak-anak kita saja papa tidak mampu menyelesaikannya, apalagi masalah


menghamili anak gadis orang? Mama malu, Pa? Mama


tertekan batin...!” Hartati menangis.


Hendrawan tak mampu


bicara. Ia menunduk sambil memegangi kepalanya. Pikirannya semakin kacau.


Tiba-tiba saja Titin muncul di depan pintu. Ia mendengar semuanya pertengkaran


Hendrawan dan Hartati. Kali ini masalahnya berbeda. Titin menatap keduanya


secara bergantian.


saja! Titin gak menyangka di dalam hati kalian ada


sifat kebejatan seekor binatang! Titin malu, Pa? Titin tertekan batin… Kapan


sih keluarga kita bisa akur… damai dan bahagia…?” Suara Titin


sedikit parau. “Titin sudah mendengar semuanya. Tentang perempuan itu, Titin


pernah melihat papa bersamanya. Jadi selama ini papa mengumbar idealis di


sebuah discotiq?”


“Tinn…” Selah Hendrawan


membela diri.


“Cukup, Pa…! Titin mau


mati aja kalau keluarga kita sudah tidak dapat dipertahankan. Titin malu, Pa!”


“Papa mohon… Maafkan


papa…”


Titin diam. Ia menahan


emosinya dengan linangan air mata,


lalu beranjak dari ruang tamu.


“Tin… Titin…” Panggil


Hendrawan. Titin tidak menyahut. Ia menghidupkan menyalakan motornya dan melesat di


malam yang gelap. Segelap kehidupannya. Segelap hatinya. Pikirannya bertambah


kacau dengan masalah-masalah yang bertubi-tubi.


Hartati terkulai lemas


di kursi tamu. Ia menangis sesenggukan. Pedih. Hendrawan telah mengotori rumah


tangga mereka dengan kemunculan perempuan hamil. Sepertinya mereka tidak mampu


mempertahankan keutuhan rumah tangga yang dibina selama dua puluh lima tahun.



Pikiran Titin

__ADS_1


benar-benar seperti ditumpuki beton. Hendrawan yang dikenalnya sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kini telah melanggar


kesucian keluarga. Hendrawan tak ubah seperti laki-laki


bejat yang kerjanya mabuk-mabukan. Segelintir air beningjatuh di pipi Titin.


Semua


seperti mimpi buruk


Mimpi


yang menghujatku berlabuhke dunia berkabut


Hitam,


pekat…


Dunia


seperti bara api


Menjilati


hati dan pikiranku


Menghanguskan


perasaan dan batinku


Angin dingin menerpa


tubuh Titin. Ia duduk terpaku. Menatap langit biru yang polos tanpa sinar


bulan. Bintang pun tak berkedip. Kelihatannya langit berubah mendung.


Toni menghampiri Titin.


“Kamu sedang apa?” tanyanya. Titin terkejut dan menoleh ke arah Toni.


“Bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Toni duduk di


sebelah Titin. Titin menggeser tubuhnya.


“Sepertinya kamu menghadapi


masalah yang berat?”


“Setiap hari. Dan kamu


tidak perlu ikut campur di keluargaku.”


Toni diam menatap ke


depan. “Tadi mama menelponku sambil menangis. Katanya papamu menghamili gadis


lain.”


“Aku tidak perduli. Mereka


sama saja.”


“Tapi bagi mamaku, itu


sebuah bencana yang besar.”


“Jika masalah itu


dibesar-besarkan!”


“Ya… dan kamu harus


tabah menghadapi cobaan itu.”


“Aku ingin mati saja,


agar tidak menanggung malu yang sangat besar.”


“Mati bukan berarti


tidak punya masalah. Apa kamu siap dengan amal ibadah yang kamu kerjakan?”


Titin terdiam. Memang


selama ini ia jauh dari ajaran agama. Keluarganya tidak pernah memberi wejangan


untuk melaksanakan sholat atau pengajian-pengajian semacamnya.


“Mungkin itu lebih


baik.”


“Mati bukan pilihan


setiap manusia. Mereka berusaha bertahan hidup hingga ajal menjemput.”


“Kamu tidak usah


mengguruiku!”


Titin beranjak dari duduknya. Menyibak kotoran yang menempel di celana panjangnya. Toni membiarkan Titin pergi dan


merenungi kata-katanya. Mungkin ia akan mengerti dengan keadaan yang


dialaminya.

__ADS_1



__ADS_2