
Hari terus berlalu dan tidak bisa kita
cegah. Setelah kepergian Gibran, Titin sadar akan arti hidup yang sesungguhnya.
Hidup tidak harus menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tapi, Titin belum bisa
menerima kehancuran keluarganya. Papa dan mama masih menyalahkan satu sama
lain.
Titin duduk di kursi taman kampus. Ia memperhatikan
mahasiswi yang berdatangan sambil bercanda bersama teman-temannya. Kini Titin
juga sudah jarang bertemu dengan Kevin dan Bellinda.
“Kristina.” Tiba-tiba sebuah suara
membuyarkan lamunan Titin. Titin tercekat dan segera menoleh ke arah suara di
belakangnya. Seraut wajah tampan tersenyum padanya. Wajah yang dulu sangat
dibenci karena menuduh mencintai adiknya.
“Bimo?” Gumam Titin pelan. Titin menghapus
air bening yang sempat merebak. Ia berusaha tersenyum dan menyambut kehadiran Bimo.
Kemudian Bimo duduk di sebelah Titin.
“Hai… Kamu melamun lagi?” tanya Bimo
seraya menyapa. Aroma parfum classic menyeruak di hidung Titin. Wangi owok
maskuli.
“Hmm, enggak. Aku lagi mikirin pelajaran
kampus aja.” Jawab Titin berbohong.
“Bagaimana kabar Bellida?” tanyanya kemudian.
“Bellinda sudah mulai membaik.” Jawab Bimo.
“Syukurlah.” Ucap Titin.
Sejenak situasi hening dan membuat Bimo
salah tingkah.
“Kamu sibuk hari ini?”
Titin menggeleng. “Enggak, memang kenapa?”
“Kita jalan yuk.” Ajak Bimo.
“Kemana?”
__ADS_1
“Ya kemana aja. Asal jangan naik motor.”
“Hahahah…”
Titin tertawa renyah dan beranjak dari
duduknya. Kemudian mereka berjalan di parkiran dan Bimo mengambil mobilnya. Ini
pertama kali Titin ngedate sejak kematian Frans. Ia berusaha melupakan kenangan
pahit itu dan menjalani kehidupan percintaan yang baru.
Café yang didecoratif seindah café-café luar negeri, membuat Titin
merasa nyaman. Ia menikmati setiap detil yang disajikan café itu. Sementara
Bimo memesan makanan kesukaanya.
“Kenapa tiba-tiba kamu suka aku?” Tanya Titin mengawali pembicaraan.
“Aku merasa bersalah sejak menuduhmu sebagai lesbian. Tapi Bellinda
menyerikan semuanya tentang kamu. Bagaimana kamu sangat kehilangan, maaf… Frans
dan bagaimana hancurnya keluargamu. Aku beranggapan semua itu ada pengaruhnya
ke dirimu dan aku merasa iba. Sebagai maafku yang terdalam aku mencintaimu.
Titin menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
“Semuanya sudah berlalu dan aku tidak ingin berlarut dalam kesedihanku.
Setiap manusia mempunyai masalahnya masing-masing dalam hidup ini. Aku merasa
udah cukup waktunya untuk berubah dan membuang semua kenangann pahit itu.” Kata Titin dengan suara berat.
“Dan aku ingin memulai cintaku padamu, Tin. Kamu menerima cintaku kan?”
Titin mengangguk pelan. Bimo menggenggam jemari tangan Titin dengan
mesra.
“Aku ingin kamu merubah apa yang telah menjadi kebiasaamu selama ini.
Menjadi perempuan seutuhnya. Aku gak mau kamu mengalami kecelakaan seperti Frans.”
Ucap Bimo.
Titin hanya tersenyum manis. Sederetan gigi putihnya menghiasi bibirnya
yang seksi. Ia memang harus merubah kehidupan yang liar. Ugal-ugalan yang tidak
penting dan membahayakan. Hari itu Titin sangat bahagia, karena ada cowok yang
perhatian kepadanya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Bimo dan semua teman
kampus terpolongo melihat penampilan Titin. Titin yang biasa mengenakan celana jeans belel, kita ia
mengenakan rok panjang dan lebih feminine. Titin sengaja ke salon untuk
menyambung rambut agar kelihatan panjang. Titin menggerai rambutnya dan kini ia memoles wajahnya dengan sapuan
make up yang natural. Cantik! Sempurna.
Bimo mendegut ludahnya ketika melihat
penampilan Titin hari itu. Ia hampir tidak percaya perubahan penampilan Titin. Bimo
menarik lengan Titin ke koridor kampus.
“Kamu udah siap?” tanya Bimo ketika
melihat Titin berhijab.
“Insyaallah aku siap, Bim. Kalau tidak
sekarang kapan lagi.”
“Kamu gak main-main kan?”
Titin menggeleng. Reflex Bimo memeluk Titin dengan erat.
“Alhamduillah. Aku sangat bahagia, Tin. Kamu
mau kan menikah denganku?” tanya Bimo seraya melepaskan pelukkannya.
“Menikah?” Titin menaikan kedua alisnya
dan membuak ekspresi wajahnya sedemikian rupa. Hal itu membuat Bimo terdiam.
“Kamu tidak mau menikah denganku?”
Titin tersenyum. “Tunggu selesai dulu
kuliahku.” Katanya.
Bimo kembali memeluk Titin dengan perasaan
yang bahagia. Teman-teman yang mendengarkan percakapan mereka pun ikut bersorak
bahagia.
“HOREEE… Bimo dan Titin akan menikah”
Terdengar lagi suara riuh dari balik
koridor.
__ADS_1