TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 34


__ADS_3

Hari terus berlalu dan tidak bisa kita


cegah. Setelah kepergian Gibran, Titin sadar akan arti hidup yang sesungguhnya.


Hidup tidak harus menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tapi, Titin belum bisa


menerima kehancuran keluarganya. Papa dan mama masih menyalahkan satu sama


lain.


Titin duduk di kursi taman kampus. Ia memperhatikan


mahasiswi yang berdatangan sambil bercanda bersama teman-temannya. Kini Titin


juga sudah jarang bertemu dengan Kevin dan Bellinda.


“Kristina.” Tiba-tiba sebuah suara


membuyarkan lamunan Titin. Titin tercekat dan segera menoleh ke arah suara di


belakangnya. Seraut wajah tampan tersenyum padanya. Wajah yang dulu sangat


dibenci karena menuduh mencintai adiknya.


“Bimo?” Gumam Titin pelan. Titin menghapus


air bening yang sempat merebak. Ia berusaha tersenyum dan menyambut kehadiran Bimo.


Kemudian Bimo duduk di sebelah Titin.


“Hai… Kamu melamun lagi?” tanya Bimo


seraya menyapa. Aroma parfum classic menyeruak di hidung Titin. Wangi owok


maskuli.


“Hmm, enggak. Aku lagi mikirin pelajaran


kampus aja.” Jawab Titin  berbohong.


“Bagaimana kabar Bellida?” tanyanya kemudian.


“Bellinda sudah mulai membaik.” Jawab Bimo.


“Syukurlah.” Ucap Titin.


Sejenak situasi hening dan membuat Bimo


salah tingkah.


“Kamu sibuk hari ini?”


Titin menggeleng. “Enggak, memang kenapa?”


“Kita jalan yuk.” Ajak Bimo.


“Kemana?”

__ADS_1


“Ya kemana aja. Asal jangan naik motor.”


“Hahahah…”


Titin tertawa renyah dan beranjak dari


duduknya. Kemudian mereka berjalan di parkiran dan Bimo mengambil mobilnya. Ini


pertama kali Titin ngedate sejak kematian Frans. Ia berusaha melupakan kenangan


pahit itu dan menjalani kehidupan percintaan yang baru.



Café yang didecoratif seindah café-café luar negeri, membuat Titin


merasa nyaman. Ia menikmati setiap detil yang disajikan café itu. Sementara


Bimo memesan makanan kesukaanya.


“Kenapa tiba-tiba kamu suka aku?” Tanya Titin mengawali pembicaraan.


“Aku merasa bersalah sejak menuduhmu sebagai lesbian. Tapi Bellinda


menyerikan semuanya tentang kamu. Bagaimana kamu sangat kehilangan, maaf… Frans


dan bagaimana hancurnya keluargamu. Aku beranggapan semua itu ada pengaruhnya


ke dirimu dan aku merasa iba. Sebagai maafku yang terdalam aku mencintaimu.


Titin menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


“Semuanya sudah berlalu dan aku tidak ingin berlarut dalam kesedihanku.


Setiap manusia mempunyai masalahnya masing-masing dalam hidup ini. Aku merasa


udah cukup waktunya untuk berubah dan membuang semua kenangann pahit itu.”  Kata Titin dengan suara berat.


“Dan aku ingin memulai cintaku padamu, Tin. Kamu menerima cintaku kan?”


Titin mengangguk pelan. Bimo menggenggam jemari tangan Titin dengan


mesra.


“Aku ingin kamu merubah apa yang telah menjadi kebiasaamu selama ini.


Menjadi perempuan seutuhnya. Aku gak mau kamu mengalami kecelakaan seperti Frans.”


Ucap Bimo.


Titin hanya tersenyum manis. Sederetan gigi putihnya menghiasi bibirnya


yang seksi. Ia memang harus merubah kehidupan yang liar. Ugal-ugalan yang tidak


penting dan membahayakan. Hari itu Titin sangat bahagia, karena ada cowok yang


perhatian kepadanya.

__ADS_1



Keesokan harinya, Bimo dan semua teman


kampus terpolongo melihat penampilan Titin. Titin yang biasa  mengenakan celana jeans belel, kita ia


mengenakan rok panjang dan lebih feminine. Titin sengaja ke salon untuk


menyambung rambut agar kelihatan panjang.  Titin menggerai rambutnya dan kini ia memoles wajahnya dengan sapuan


make up yang natural. Cantik!  Sempurna.


Bimo mendegut ludahnya ketika melihat


penampilan Titin hari itu. Ia hampir tidak percaya perubahan penampilan Titin. Bimo


menarik lengan Titin ke koridor kampus.


“Kamu udah siap?” tanya Bimo ketika


melihat Titin berhijab.


“Insyaallah aku siap, Bim. Kalau tidak


sekarang kapan lagi.”


“Kamu gak main-main kan?”


Titin menggeleng. Reflex Bimo  memeluk Titin dengan erat.


“Alhamduillah. Aku sangat bahagia, Tin. Kamu


mau kan menikah denganku?” tanya Bimo seraya melepaskan pelukkannya.


“Menikah?” Titin menaikan kedua alisnya


dan membuak ekspresi wajahnya sedemikian rupa. Hal itu membuat Bimo terdiam.


“Kamu tidak mau menikah denganku?”


Titin tersenyum. “Tunggu selesai dulu


kuliahku.” Katanya.


Bimo kembali memeluk Titin dengan perasaan


yang bahagia. Teman-teman yang mendengarkan percakapan mereka pun ikut bersorak


bahagia.


“HOREEE… Bimo dan Titin akan menikah”


Terdengar lagi suara riuh dari balik


koridor.


__ADS_1


__ADS_2