TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 35


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu. Hubungan Titin semakin langgeng. Titin tidak menemukan


sosok Hartati. Di rumah, di luar dan di tempat-tempat lain.


Hartati sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Apakah Hartati


pergi berlibur bersama ibu-ibu pejabat lainnya? Pikir Titin. Titin


tidak perduli. Untuk apa memikirkan Hartati? Batinnya.


Hendrawan masuk ke kamar Titin. Ia melihat putrinya


termenung di balik jendela.Perlahan Hendrawan mendekati Titin.


“Papa lihat kamu semakin akrab dengan Toni. Ada apa


denganmu?”tanyanya.


Titin melengos. “Dia lebih baik dari apa yang papa


bayangkan. Dia juga lebih perhatian dari pada papa dan bang Dewa. Jangan pernah


lagi menghujatnya, Pa.”


“Tin… Dia itu anak haram. Papa tidak mau menanggung dosa


seorang anak haram.”


“Menjadi anak haram bukan kehendaknya, Pa. Apakah


setiap manusia tidak memiliki hak untuk hidup sebagai orang yang sempurna? Kenapa


harus Toni yang mananggung dosa orang-orang yang tidak bertanggung jawab?”


“Kamu sudah terkena rayuan laki-laki itu. Papa tidak


izinkan kamu dekat-dekat lagi dengan dia.”


“Paaa… Toni bukan orang jahat. Dia laki-laki yang


penuh dengan kedamaian. Titin merasa hangat berada di dekatnya. Titin merasa terlindungi,punya


seorang kakak seperti Toni.”


“Dan papa tidak suka kamu dekat-dekat dengannya. Cam kan


itu!”


“Papa terlalu ditaktor. Papa mau menang sendiri. Apa


papa pernah memberikan kedamaian di hati Titin? Apa yang papa lakukan saat Titin


berada di rumah sakit? Titin mengharapkan kalian, tapi papa dan bang Dewa tidak


muncul. Titin sendirian, Pa. Titin kesepian? Dan hanya Toni yang menjaga Titin


sampai sembuh! Sudahlah, Pa. Urus saja perempuan simpanan papa itu. Gak perlu mengurusi Titin!” Sergah Titin.


“Tiinn… Jangan sangkut pautkan dengan perempuan itu.


Ini masalah keluarga kita!”


Titin mencibir. “Apakah perempuan itu tidak menjadi

__ADS_1


masalah dalam keluarga kita, Pa? Papa menghamilinya dan papa tidak mengakuinya?


Titin jengah mendengar kata-kata papa yang sok idealis! Sok suci di depan umum!


Tapi kenyataanya papa seorang ********!”


“Titin!!! Jaga mulut kamu!! Lama-lama kamu semakin


kurang aja!”


“Dan papa tidak pernah mengajarkan Titin melakukan hal


yang baik. Iya kan? Titin mengharapkan  vigor


seorang ayah yang mampu melindungi putrinya, Pa.”


“Diaammm!” Bentak Hendrawan keras.


Titin terdiam. Sorot matanya tajam menatap Hendrawan. Tubuhnya naik turun mengatur


nafas yang berat.Menahan emosi yang sepenggal. Mencoba mengendalikan


diri agar  tidak terpancing kemarahan.


Titin keluar kamar dengan perasaan kesal. Hendrawan tidak pernah mau mengalah


kalau Titin menuntut tanggung jawab Hendrawan sebagai seorang ayah.



Pikiran Titin semakin kacau. Mengapa rumah terasa di


neraka. Tidak ada kedamaian sedikit pun. Titin tidak tahu harus berbuat apa


Titin pergi ke rumah Bellinda untuk menenangkan


pikirannya. Di dalam mobil ia hanya bisa menangis. Ia ingin segera keluar dari


rumah itu secepat mungkin.


Titin tiba di rumah Bellinda. Ia memarkirkan


mobilnya  di halaman rumah Bellinda. Terlihat


rumah yang nyaman dengan bentuk yang elegan. Titin keluar dari mobilnya sedikit


ragu. Kemudian ia memberi salam.


“Assalamualaikum…”


“Waalaikumsallam.” Terdengar sahutan dari dalam.


Bellinda keluar dan melihat seseorang yang datang. Bellinda


terpaku sejenak mengamati orang di depannya. Bellinda sangat terkejut ketika


melihat penampilan baru Titin.


“Titin? Ini kamu?” tanya Bellinda yang keheranan. Ia hampir


tidak percaya. Paduan rok panjang dan baju berlengan panjang serta hijab yang


dikenakan sangat serasi.

__ADS_1


“Iya, Bell. Memang kenapa? Aku gak boleh berhijab?” tanya


Titin kemudian.


“Alhamdulillah kalau begitu, Tin. Kamu sudah


memantapkan hatimu? Jangan mempermainkan hijab yang kamu kenakan.”


Titin hanya mengangguk pelan.


“Jangan seperti aku yang belum hijra.” Kata Bella.


“Mengenakan hijab, hatiku terasa tenang, Bell. Aku


merasa terlahir kembali.”


“Oh iya ayo masuk, Tin. Kak Bimo ada di dalam tuh.”


Wajah Titin bersemu dadu.


“Titin?” sapa mama Bellinda heran.


“Iya, Tante.”


“Alhamdulillah, kamu cantik sekali.” Kata mama Bellinda.


“Ah, tante bisa aja.” Titin tertunduk malu.


“Tante buatin teh ya. Sebentar.”


“Gak usah repot-repot, tante.”


“Cuma teh.”


Titin kemudian masuk ke kamar Bellinda. Banyak yang ia


bicarakan ke Bellinda. Tentang ia hijra dan tentang hidup yang semakin menegangkan.


Tak berapa lama, mama Bellinda masuk ke kamar.


Ini tehnya, Tin.” Katanya.


“Terima kasih, Tante.”


“Tante ke dapur dulu, menyiapkan makan malam. Kamu makan


di sini ya.” Ujar mama Bellinda.


Tintin hanya tersenyum titis. Bahagia rasanya punya


keluarga yang baik dan tidak seperti papa-mamanya.


“Kangen  sama


aku ya?” Tiba-tiba Bimo nyeletuk dari pintu kamar Bellinda.


“Enggak. Aku cuma mau ketemu sama Bellinda.”


“Bilang aja terus terang. Nggak usah malu-malu.” Kata Bimo


lagi.


Titin pun tersipu malam dan membuat senyuman manisnya.

__ADS_1



__ADS_2