
Seminggu sudah berlalu. Hubungan Titin semakin langgeng. Titin tidak menemukan
sosok Hartati. Di rumah, di luar dan di tempat-tempat lain.
Hartati sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Apakah Hartati
pergi berlibur bersama ibu-ibu pejabat lainnya? Pikir Titin. Titin
tidak perduli. Untuk apa memikirkan Hartati? Batinnya.
Hendrawan masuk ke kamar Titin. Ia melihat putrinya
termenung di balik jendela.Perlahan Hendrawan mendekati Titin.
“Papa lihat kamu semakin akrab dengan Toni. Ada apa
denganmu?”tanyanya.
Titin melengos. “Dia lebih baik dari apa yang papa
bayangkan. Dia juga lebih perhatian dari pada papa dan bang Dewa. Jangan pernah
lagi menghujatnya, Pa.”
“Tin… Dia itu anak haram. Papa tidak mau menanggung dosa
seorang anak haram.”
“Menjadi anak haram bukan kehendaknya, Pa. Apakah
setiap manusia tidak memiliki hak untuk hidup sebagai orang yang sempurna? Kenapa
harus Toni yang mananggung dosa orang-orang yang tidak bertanggung jawab?”
“Kamu sudah terkena rayuan laki-laki itu. Papa tidak
izinkan kamu dekat-dekat lagi dengan dia.”
“Paaa… Toni bukan orang jahat. Dia laki-laki yang
penuh dengan kedamaian. Titin merasa hangat berada di dekatnya. Titin merasa terlindungi,punya
seorang kakak seperti Toni.”
“Dan papa tidak suka kamu dekat-dekat dengannya. Cam kan
itu!”
“Papa terlalu ditaktor. Papa mau menang sendiri. Apa
papa pernah memberikan kedamaian di hati Titin? Apa yang papa lakukan saat Titin
berada di rumah sakit? Titin mengharapkan kalian, tapi papa dan bang Dewa tidak
muncul. Titin sendirian, Pa. Titin kesepian? Dan hanya Toni yang menjaga Titin
sampai sembuh! Sudahlah, Pa. Urus saja perempuan simpanan papa itu. Gak perlu mengurusi Titin!” Sergah Titin.
“Tiinn… Jangan sangkut pautkan dengan perempuan itu.
Ini masalah keluarga kita!”
Titin mencibir. “Apakah perempuan itu tidak menjadi
__ADS_1
masalah dalam keluarga kita, Pa? Papa menghamilinya dan papa tidak mengakuinya?
Titin jengah mendengar kata-kata papa yang sok idealis! Sok suci di depan umum!
Tapi kenyataanya papa seorang ********!”
“Titin!!! Jaga mulut kamu!! Lama-lama kamu semakin
kurang aja!”
“Dan papa tidak pernah mengajarkan Titin melakukan hal
yang baik. Iya kan? Titin mengharapkan vigor
seorang ayah yang mampu melindungi putrinya, Pa.”
“Diaammm!” Bentak Hendrawan keras.
Titin terdiam. Sorot matanya tajam menatap Hendrawan. Tubuhnya naik turun mengatur
nafas yang berat.Menahan emosi yang sepenggal. Mencoba mengendalikan
diri agar tidak terpancing kemarahan.
Titin keluar kamar dengan perasaan kesal. Hendrawan tidak pernah mau mengalah
kalau Titin menuntut tanggung jawab Hendrawan sebagai seorang ayah.
Pikiran Titin semakin kacau. Mengapa rumah terasa di
neraka. Tidak ada kedamaian sedikit pun. Titin tidak tahu harus berbuat apa
Titin pergi ke rumah Bellinda untuk menenangkan
pikirannya. Di dalam mobil ia hanya bisa menangis. Ia ingin segera keluar dari
rumah itu secepat mungkin.
Titin tiba di rumah Bellinda. Ia memarkirkan
mobilnya di halaman rumah Bellinda. Terlihat
rumah yang nyaman dengan bentuk yang elegan. Titin keluar dari mobilnya sedikit
ragu. Kemudian ia memberi salam.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsallam.” Terdengar sahutan dari dalam.
Bellinda keluar dan melihat seseorang yang datang. Bellinda
terpaku sejenak mengamati orang di depannya. Bellinda sangat terkejut ketika
melihat penampilan baru Titin.
“Titin? Ini kamu?” tanya Bellinda yang keheranan. Ia hampir
tidak percaya. Paduan rok panjang dan baju berlengan panjang serta hijab yang
dikenakan sangat serasi.
__ADS_1
“Iya, Bell. Memang kenapa? Aku gak boleh berhijab?” tanya
Titin kemudian.
“Alhamdulillah kalau begitu, Tin. Kamu sudah
memantapkan hatimu? Jangan mempermainkan hijab yang kamu kenakan.”
Titin hanya mengangguk pelan.
“Jangan seperti aku yang belum hijra.” Kata Bella.
“Mengenakan hijab, hatiku terasa tenang, Bell. Aku
merasa terlahir kembali.”
“Oh iya ayo masuk, Tin. Kak Bimo ada di dalam tuh.”
Wajah Titin bersemu dadu.
“Titin?” sapa mama Bellinda heran.
“Iya, Tante.”
“Alhamdulillah, kamu cantik sekali.” Kata mama Bellinda.
“Ah, tante bisa aja.” Titin tertunduk malu.
“Tante buatin teh ya. Sebentar.”
“Gak usah repot-repot, tante.”
“Cuma teh.”
Titin kemudian masuk ke kamar Bellinda. Banyak yang ia
bicarakan ke Bellinda. Tentang ia hijra dan tentang hidup yang semakin menegangkan.
Tak berapa lama, mama Bellinda masuk ke kamar.
Ini tehnya, Tin.” Katanya.
“Terima kasih, Tante.”
“Tante ke dapur dulu, menyiapkan makan malam. Kamu makan
di sini ya.” Ujar mama Bellinda.
Tintin hanya tersenyum titis. Bahagia rasanya punya
keluarga yang baik dan tidak seperti papa-mamanya.
“Kangen sama
aku ya?” Tiba-tiba Bimo nyeletuk dari pintu kamar Bellinda.
“Enggak. Aku cuma mau ketemu sama Bellinda.”
“Bilang aja terus terang. Nggak usah malu-malu.” Kata Bimo
lagi.
Titin pun tersipu malam dan membuat senyuman manisnya.
__ADS_1