TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 36


__ADS_3

Hartati terbaring lemah di tempat tidur. Keadaanya


memburuk. Tumor ganas bersarang di kepalanya. Beberapa waktu lalu ia merasa


sakit di kepalanya. Sakit luar biasa hingga beberapa kali Hartati pingsan. Selang infuse menancap di tangan kirinya.


Toni merasa iba melihat keadaan Hartati yang sangat


memprihatinkan. Ia tak sanggup menerima kenyataan pahit dari sang dokter kalau


di kepala Hartati ada tumor ganas. Toni duduk di samping tempat tidur mamanya.


“Sabar ya, Ma…” Gumamnya dengan suara berat. Hartati


tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil meneteskan airmata.


“Di mana adikmu?” tanyanya dengan suara berat. Wajah Hartati


terlihat pucat dan semakin kurus.


“Toni belum menemuinya, Ma.”


“Mama mau bicara sama dia.”


“Nanti kalau Toni sudah ketemu dia. Besok Toni temui Titin.”


Hartati mengangguk pelan. Benjolan di kelapanya


semakin terlihat membesar. Semua uangnya habis untuk biaya perobatan. Hatinya


miris. Sampai hari ini Hendrawan tidak menjenguknya. Apalagi Dewa. Benar-benar


tidak perduli dengan Hartati.


Segelintir air bening jatuh. Membasahi kelopak


matanya. Pandangannya buram. Ia merasa sedih mengapa semuanya menjadi kacau


balau. Ia menangis tidak mampu mengembalikan keadaan keluarganya secara utuh.


Titin juga tidak perduli padanya.



Keesokan harinya, Toni menemui Titin di kampus. Toni mencari-cari


sosok Titin tapi tidak menemukannya. Ia tidak menemukan sosok Titin yang


biasanya mengenakan jeans belel, kaos oblong dan jaket.


“Di mana Titin?” Gumamnya dalam hati. Ia terkejut


ketika seseorang memanggil Titin dari jauh. Orang itu tak lain adalah Bimo. Toni


melihat orang yang dipanggilnya. Gadis berhijab denganstilys yang menawan. Toni


terkejut dan mengernyitkan keningnya. Bimo menghampiri Titin.


“Titin?” Gumamnya pelan. “Titin…” Panggilnya kemudian.


Titin menoleh, Bimo juga. Toni benar-benar tercengan melihat cantiknya Titin


berhijab. Toni pun menghampirinya.


“Kamu cantik sekali. Abang sampai pangling.  Ini beneran kamu?”


“Iyalah, Bang.”


“Alhamdulillah kalau kamu sudah berubah.”


“Ada apa, Bang?” tanya Titin kemudian.

__ADS_1


“Ada yang mau abang bicarakan


sama kamu. Berdua.” Kata Toni.


Bimo memberi izinke Titin. Ia


beranjak entah kemana.


“Ada apa sih, Bang?” tanya Titin penasaran.


“Mama mau bicara sama kamu.”


Titin diam. Ia tidak ingin bicara dengan Hartati saat


ini. Hatinya sudah terlanjur miris.


“Maaf. Titin gak ada waktu ketemu mama.”


“Tiin, please… Abang mohon.”


Titin mendengus kesal. “Sudahlah, Bang. Gak usah


membahas mama. Mereka sama saja seperti papa.”


“Ini permintaan mama.”


“Paling mama lagi sibuk sama ibu-ibu jetset. Atau baru


pulang dari luar negeri, pamer barang mewah yang dibelinya. Mau mama apa sih?


Gak bisa lihat orang bahagia?”


“Tiinn,  mama


ingin memperbaiki kesalahannya. Mama ingin kalian kumpul lagi seperti dulu.”


“Keadaan keluarga mama sudah fatal, bang. Gak bisa


dipertahankan lagi.”


Titin melipat tangannya. Wajahnya terlihat masam dan


kesal. “Titin tidak mau menemui mama.”


Toni diam, lalu menarik nafas dengan berat. “Ini


permintaan mama yang terakhir. Mama di rumah sakit.” Ujarnya parau. Titin bergeming.


Ia berpikir ini hanya akal-akalan Hartati saja. Toni berusaha meyakinkan Titin.


“Ada benjolan di kepala mama. Mama terserang tumor


ganas, Tin.” Suara Toni terdengar miris. Toni cerita semuanya tentang Hartati


ke Titin. Beberapa minggu lalu Hartati jatuh pingsan dan merasakan kepalanya


sakit luar biasa. Hartati memang tidak pernah cerita kepada siapa pun, karena


Hendrawan juga tidak mau tahu. Apalagi Dewa yang selalu pergi dan pulang tak


tentu waktu. Apalagi Titin yang cuek terhadap Hartati.


“Mama ingin bicara padamu, disisa waktunya.”


Titin menunduk. Tiba-tiba saja hatinya terhenyu mendengar cerita Toni. Ada sebentuk rasa iba dan


rasa bersalah selama ini.


“Mama membutuhkanmu, Tin.” Ujar Toni kemudian. Titin


diam, namun miris dalam hatinya. Matanya merebak dan bibirnya gemetar.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian mereka meluncur ke rumah


sakit. Perasaan Titin tidak menentu. Pikirannya kacau, sedih dan galau. Ada


sesuatu yang mengganjal di hatinya.



Sementara di sisi lain Devina terus mendesak Hendrawan


untuk bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Ia minta Hendrawan


mentransfer uang ke rekening pribadi jika Hendrawan tidak ingin nama baiknya


tercoreng. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Lima ratus juta rupiah. Sementara


proyek senilai satu miliyar yang dikerjakan mengalami kerugian. Pembangunan


jembatan dan jalan di kawasan kota rubuh.


Sore itu Devina datang ke kantor Hendrawan. Hendrawan terkejut


melihat kedatangan perempuan itu secara tiba-tiba. Hendrawan yang sudah dihadapkan


masalah keuangan dan usahanya mengalami kebangkrutan menyuruh Devina


menggugurkan kandungannya. Devina tidak terima keputusan Hendrawan. Dimana dulu


janji manis Hendrawan saat menggaulinya di sebuah hotel. Hingga Devina


menyerahkan keperawannya kepada laki-laki baya yang pantas dipanggil ayah.


Hendrawan mengusir Devina dari kantornya.


Devina yang merasa dikucilkan memberi tahu ke teman-teman premannya. Hendrawan dihajar hingga


babak belur. Ia diancam akan dibunuh jika tidak mentransfer lima ratus juta ke


rekening Devina.



Titin berlari kecil di koridor


rumah sakit. Tidak sabar ingin menemui Hartati. Di depan pintu bertuliskan


Kenanga 211, Titin berhenti. Ia menahan tangisnya saat mengintai lewat kaca


pintu.


“Mama…” pekiknya pelan. Perlahan ia


membuka pintu dan masuk. Ia menghampiri Hartati yang masih tertidur. Selang


infuse dan oksigen membuat hati Titin perih. Wajah Hartati terlihat pucat.


Titin duduk di kursi di samping Hartati. Toni duduk di


sofa sebelahnya.


“Ma…” gumam Titin pelan sambil membelai tangan Hartati


yang mulai keriput. Air matanya terus menetes seperti anak sungai. “Bangun, Ma…


Ini Titin…” isaknya sedih.


Hartati tak bergeming. Ia tertidur pulas dengan


mimpi-mimpinya. Titin kembali menangis. “Ma… maafin Titin. Tidak mendengar


kata-kata mama…” Titin terisak, lalu rebah di lengan kanan Hartati. Ia menumpahkan

__ADS_1


semua penyesalannya.



__ADS_2