
Hartati terbaring lemah di tempat tidur. Keadaanya
memburuk. Tumor ganas bersarang di kepalanya. Beberapa waktu lalu ia merasa
sakit di kepalanya. Sakit luar biasa hingga beberapa kali Hartati pingsan. Selang infuse menancap di tangan kirinya.
Toni merasa iba melihat keadaan Hartati yang sangat
memprihatinkan. Ia tak sanggup menerima kenyataan pahit dari sang dokter kalau
di kepala Hartati ada tumor ganas. Toni duduk di samping tempat tidur mamanya.
“Sabar ya, Ma…” Gumamnya dengan suara berat. Hartati
tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil meneteskan airmata.
“Di mana adikmu?” tanyanya dengan suara berat. Wajah Hartati
terlihat pucat dan semakin kurus.
“Toni belum menemuinya, Ma.”
“Mama mau bicara sama dia.”
“Nanti kalau Toni sudah ketemu dia. Besok Toni temui Titin.”
Hartati mengangguk pelan. Benjolan di kelapanya
semakin terlihat membesar. Semua uangnya habis untuk biaya perobatan. Hatinya
miris. Sampai hari ini Hendrawan tidak menjenguknya. Apalagi Dewa. Benar-benar
tidak perduli dengan Hartati.
Segelintir air bening jatuh. Membasahi kelopak
matanya. Pandangannya buram. Ia merasa sedih mengapa semuanya menjadi kacau
balau. Ia menangis tidak mampu mengembalikan keadaan keluarganya secara utuh.
Titin juga tidak perduli padanya.
Keesokan harinya, Toni menemui Titin di kampus. Toni mencari-cari
sosok Titin tapi tidak menemukannya. Ia tidak menemukan sosok Titin yang
biasanya mengenakan jeans belel, kaos oblong dan jaket.
“Di mana Titin?” Gumamnya dalam hati. Ia terkejut
ketika seseorang memanggil Titin dari jauh. Orang itu tak lain adalah Bimo. Toni
melihat orang yang dipanggilnya. Gadis berhijab denganstilys yang menawan. Toni
terkejut dan mengernyitkan keningnya. Bimo menghampiri Titin.
“Titin?” Gumamnya pelan. “Titin…” Panggilnya kemudian.
Titin menoleh, Bimo juga. Toni benar-benar tercengan melihat cantiknya Titin
berhijab. Toni pun menghampirinya.
“Kamu cantik sekali. Abang sampai pangling. Ini beneran kamu?”
“Iyalah, Bang.”
“Alhamdulillah kalau kamu sudah berubah.”
“Ada apa, Bang?” tanya Titin kemudian.
__ADS_1
“Ada yang mau abang bicarakan
sama kamu. Berdua.” Kata Toni.
Bimo memberi izinke Titin. Ia
beranjak entah kemana.
“Ada apa sih, Bang?” tanya Titin penasaran.
“Mama mau bicara sama kamu.”
Titin diam. Ia tidak ingin bicara dengan Hartati saat
ini. Hatinya sudah terlanjur miris.
“Maaf. Titin gak ada waktu ketemu mama.”
“Tiin, please… Abang mohon.”
Titin mendengus kesal. “Sudahlah, Bang. Gak usah
membahas mama. Mereka sama saja seperti papa.”
“Ini permintaan mama.”
“Paling mama lagi sibuk sama ibu-ibu jetset. Atau baru
pulang dari luar negeri, pamer barang mewah yang dibelinya. Mau mama apa sih?
Gak bisa lihat orang bahagia?”
“Tiinn, mama
ingin memperbaiki kesalahannya. Mama ingin kalian kumpul lagi seperti dulu.”
“Keadaan keluarga mama sudah fatal, bang. Gak bisa
dipertahankan lagi.”
Titin melipat tangannya. Wajahnya terlihat masam dan
kesal. “Titin tidak mau menemui mama.”
Toni diam, lalu menarik nafas dengan berat. “Ini
permintaan mama yang terakhir. Mama di rumah sakit.” Ujarnya parau. Titin bergeming.
Ia berpikir ini hanya akal-akalan Hartati saja. Toni berusaha meyakinkan Titin.
“Ada benjolan di kepala mama. Mama terserang tumor
ganas, Tin.” Suara Toni terdengar miris. Toni cerita semuanya tentang Hartati
ke Titin. Beberapa minggu lalu Hartati jatuh pingsan dan merasakan kepalanya
sakit luar biasa. Hartati memang tidak pernah cerita kepada siapa pun, karena
Hendrawan juga tidak mau tahu. Apalagi Dewa yang selalu pergi dan pulang tak
tentu waktu. Apalagi Titin yang cuek terhadap Hartati.
“Mama ingin bicara padamu, disisa waktunya.”
Titin menunduk. Tiba-tiba saja hatinya terhenyu mendengar cerita Toni. Ada sebentuk rasa iba dan
rasa bersalah selama ini.
“Mama membutuhkanmu, Tin.” Ujar Toni kemudian. Titin
diam, namun miris dalam hatinya. Matanya merebak dan bibirnya gemetar.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian mereka meluncur ke rumah
sakit. Perasaan Titin tidak menentu. Pikirannya kacau, sedih dan galau. Ada
sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Sementara di sisi lain Devina terus mendesak Hendrawan
untuk bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Ia minta Hendrawan
mentransfer uang ke rekening pribadi jika Hendrawan tidak ingin nama baiknya
tercoreng. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Lima ratus juta rupiah. Sementara
proyek senilai satu miliyar yang dikerjakan mengalami kerugian. Pembangunan
jembatan dan jalan di kawasan kota rubuh.
Sore itu Devina datang ke kantor Hendrawan. Hendrawan terkejut
melihat kedatangan perempuan itu secara tiba-tiba. Hendrawan yang sudah dihadapkan
masalah keuangan dan usahanya mengalami kebangkrutan menyuruh Devina
menggugurkan kandungannya. Devina tidak terima keputusan Hendrawan. Dimana dulu
janji manis Hendrawan saat menggaulinya di sebuah hotel. Hingga Devina
menyerahkan keperawannya kepada laki-laki baya yang pantas dipanggil ayah.
Hendrawan mengusir Devina dari kantornya.
Devina yang merasa dikucilkan memberi tahu ke teman-teman premannya. Hendrawan dihajar hingga
babak belur. Ia diancam akan dibunuh jika tidak mentransfer lima ratus juta ke
rekening Devina.
Titin berlari kecil di koridor
rumah sakit. Tidak sabar ingin menemui Hartati. Di depan pintu bertuliskan
Kenanga 211, Titin berhenti. Ia menahan tangisnya saat mengintai lewat kaca
pintu.
“Mama…” pekiknya pelan. Perlahan ia
membuka pintu dan masuk. Ia menghampiri Hartati yang masih tertidur. Selang
infuse dan oksigen membuat hati Titin perih. Wajah Hartati terlihat pucat.
Titin duduk di kursi di samping Hartati. Toni duduk di
sofa sebelahnya.
“Ma…” gumam Titin pelan sambil membelai tangan Hartati
yang mulai keriput. Air matanya terus menetes seperti anak sungai. “Bangun, Ma…
Ini Titin…” isaknya sedih.
Hartati tak bergeming. Ia tertidur pulas dengan
mimpi-mimpinya. Titin kembali menangis. “Ma… maafin Titin. Tidak mendengar
kata-kata mama…” Titin terisak, lalu rebah di lengan kanan Hartati. Ia menumpahkan
__ADS_1
semua penyesalannya.