TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 14


__ADS_3

Gadis berambut


sebahu yang dikuncir kuda duduk terpaku di bangku yang terletak di koridor. Ia


menyendiri dan melamun. Ia memperhatikan teman-teman lainnya yang tampak


bahagia. Tidak seperti dirinya. Meratapi nasibnya yang tidak seberuntung


teman-temannya. Gadis itu lebih sering mengeluarkan airmata dari pada mengumbar


senyum. Alisa mendesah berat, ketika seorang cowok duduk di sampingnya.


“Alisa, apa


yang kamu pikirkan?” suara itu membuyarkan lamunan Alisa. Alisa kenal betul


dengan suara itu, Kevin.


Alisa berusaha tersenyum sedapat mungkin.


“Aku gak mikirin


apa-apa kok.” Ucapnya sambil menghapus airmatanya.


“Aku turut


prihatin, Al. Aku tahu semua cerita tentangmu.”


Alisa menunduk


dan berusaha menutupi kesedihannya, namun gagal ketika air bening menetes di


pipinya.


“Nih, hapus


airmatamu.” Kata Kevin kemudian


sambil memberikan sapu tangan ke Alisa. Alis menerimanya, lalu menghapus


airmatanya.


“Makasih ya, Vin. Kamu mau perhatian


sama aku. Gak ada satu pun cowok yang seperti kamu.” Alisa berusaha tersenyum


sambil menghapus airmatanya.


Kevin memperhatikan


Alisa dengan lekat.


“Semuanya


berubah sejak papa memiliki wanita lain di hatinya. Papa sering marah dan ribut


dengan mama. Aku sedih ngelihat kehidupanku yang kacau balau, Vin. Andai saja aku punya


sayap dan terbang kemana pun aku mau, aku akan minta ama Tuhan agar aku


dijadikan seekor burung saja. Aku sudah gak kuat menghadapi kehidupan ini, Vin…”


“Kamu yang sabar


ya, Sa…. Setiap manusia punya cobaan masing-masing. Tapi kamu harus optimis.


Masa depanmu masih panjang. Setamat sekolah kamu bisa lepas dari semua


masalahmu.”


Alisa menunduk


kembali. Ia mengingat perlakukan mamanya yang seperti sosok tidak dikenal.


“Kita ke kantin


yuk.” Ajak Kevin kemudian.

__ADS_1


“Mmm….”


“Udah, aku yang


traktir. Yuk…” Kevinmengamit pergelangan Alisa dan mengajaknya ke kantin.


Alisa mengumbar


senyum manisnya dan mengangguk. Ia mengikuti langkah Kevin. Mereka beranjak dan


menuju kantin sekolah. Walau sejenak, tapi Alisa merasa terhibur.



“Kamu dari mana


aja?!” Sergah mama Alisa, ketika ia tiba saat matahari tak lagi bersinar. “Ini


sudah jam berapa, Alisa?! Kamu mau jadi wanita penghibur di luar sana?!” Bentak


mamanya.


Alisa terkejut


dan merasa direndahkan oleh mama.


“Mama kenapa sih


marah-marah mulu sama aku? Aku ini udah gadis, Ma…”


“Lantas, kamu


bertindak sesuka hatimu?”


“Ma…”


“Diam kamu!”


Alisa terdiam


dan tertunduk.


kamu seperti papamu! Jangan mempermalukan mama, Alisa!”


Alisa kembali


terisak, kemudian ia berlari masuk ke kamarnya. Alisa merebahkan tubuhnya di


atas tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Dunianya seperti neraka.


Penderitaan yang ia rasakan terlalu berat. Ia tidak merasakan bahagianya


menjadi seorang gadis remaja.



Ini bukan cerita tentang Cinderella atau seorang


putri yang bertemu dengan pangeran. Ini cerita tentang gadis remaja yang


kehilangan masa indahnya. Gadis itu adalah Alisa.


Andai


saja aku punya sayap dengan bulu-bulu lebat dan mengepak hingga aku terbang,


aku akan mengintari jagad raya. Aku akan pergi berkelana


kemana aku mau dan tak ingin kembali ke rumah. Rumah bagiku seperti neraka.


Papa bertengkar lagi dengan mama. (Alisa)


 


Gadis itu terpaku. Matanya berkaca-kaca dan air bening


mentes beberapa kali. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan hidup yang pahit.

__ADS_1


Mengapa cobaan itu harus ia hadapi disaat usianya masih muda belia. Alisa,


gadis remaja berusia enam belas tahun. Kini kekerasaan hidup harus ia jalani.


”Tuhan tidak adil pada diriku.” Gumam Alisa dengan bibir bergetar.


Alisa memperhatikan lebam di tangannya. Bekas itu


pertinggal dari kekerasan papa karena meluapkan emosinya. Papa menganggap Alisa


bukan anaknya dan menuduh mama berselingkuh dengan laki-laki lain. Betapa


hancur hati Alisa saat ini. Ia menutup kembali punggungnya dengan baju.


Alisa memperhatikan gadis-gadis remaja yang lain.


Mereka penuh tawa dan canda. Penuh kebahagian yang akan menjadi cerita dimasa


tua mereka. Alisa ingin seperti mereka, namun takdirnya justru membuat ia putus


asa.


Semuanya menjadi


kelam ketika papa mejalin kasih dengan seorang gadis muda. Papa ingin menikahi


gadis itu dan ingin hidup bersama. Mama yang juga menderita hanya bisa


menangis. Apa yang dituduhkan papa tidak benar. Alisa darah daging papa.


Sejak kepergian papa dengan perempuan lain, mama jadi apatis pada Alisa. Mama melecutinya dengan tali pinggang hingga tubuh Alisa penuh memar. Mama memukul Alisa seperti memukul ******** tengik


yang menipunya. Berkali-kali Alisa mengerang kesakitan yang mendera, namun mama tidak


perduli dengan keadaan Alisa.


“Ampuun, Ma...


Sakiit... Ampuun...” Alisa mengerang kesakitan.


“Anak kurang


ajar! Pergi saja kau!”


Alisa menangis


sedih dengan linangan airmata. Matanya sembab dan memerah.


"Tuhan


memang tidak adil!! Mengapa engkau memberiku hukuman ini. Tuhan, apa


salahku?” Bibir Alisa tampak pucat membiru.


Alisa


mengambil buku hariannya dan menulis semua kesedihan yang ia alami. Betapa


dunia tidak berpihak padanya, dimana keahagiaan juga berpaling darinya.


Aku melihat embun pagi terbang perlahan.


Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar dia memberiku sepasang sayap agar aku bisa


terbang. Mengintari dunia dan pergi jauh ke angkasa. Aku sudah tidak sanggup


menghadapi mama yang semakin hari semakin bengis. Tubuhku tak berdaya. (Alisa)


Saat bangun pagi aku terkejut melihat


punggungku. Ku dapati sebentuk daging tumbuh melengkung bersama bulu-bulu halus


berwarna keputihan. Aku menghapus mataku, mengacak-acak mataku beberapa kali.


Apakah ini hanya mimpi? Batinku. Gemetar tanganku menyentuh daging tumbuh itu.


Aku terkejut, daging itu benar-benar tumbuh bersama-bulu-bulu putih. Bak bulu

__ADS_1


seekor anak burung.



__ADS_2