
Gadis berambut
sebahu yang dikuncir kuda duduk terpaku di bangku yang terletak di koridor. Ia
menyendiri dan melamun. Ia memperhatikan teman-teman lainnya yang tampak
bahagia. Tidak seperti dirinya. Meratapi nasibnya yang tidak seberuntung
teman-temannya. Gadis itu lebih sering mengeluarkan airmata dari pada mengumbar
senyum. Alisa mendesah berat, ketika seorang cowok duduk di sampingnya.
“Alisa, apa
yang kamu pikirkan?” suara itu membuyarkan lamunan Alisa. Alisa kenal betul
dengan suara itu, Kevin.
Alisa berusaha tersenyum sedapat mungkin.
“Aku gak mikirin
apa-apa kok.” Ucapnya sambil menghapus airmatanya.
“Aku turut
prihatin, Al. Aku tahu semua cerita tentangmu.”
Alisa menunduk
dan berusaha menutupi kesedihannya, namun gagal ketika air bening menetes di
pipinya.
“Nih, hapus
airmatamu.” Kata Kevin kemudian
sambil memberikan sapu tangan ke Alisa. Alis menerimanya, lalu menghapus
airmatanya.
“Makasih ya, Vin. Kamu mau perhatian
sama aku. Gak ada satu pun cowok yang seperti kamu.” Alisa berusaha tersenyum
sambil menghapus airmatanya.
Kevin memperhatikan
Alisa dengan lekat.
“Semuanya
berubah sejak papa memiliki wanita lain di hatinya. Papa sering marah dan ribut
dengan mama. Aku sedih ngelihat kehidupanku yang kacau balau, Vin. Andai saja aku punya
sayap dan terbang kemana pun aku mau, aku akan minta ama Tuhan agar aku
dijadikan seekor burung saja. Aku sudah gak kuat menghadapi kehidupan ini, Vin…”
“Kamu yang sabar
ya, Sa…. Setiap manusia punya cobaan masing-masing. Tapi kamu harus optimis.
Masa depanmu masih panjang. Setamat sekolah kamu bisa lepas dari semua
masalahmu.”
Alisa menunduk
kembali. Ia mengingat perlakukan mamanya yang seperti sosok tidak dikenal.
“Kita ke kantin
yuk.” Ajak Kevin kemudian.
__ADS_1
“Mmm….”
“Udah, aku yang
traktir. Yuk…” Kevinmengamit pergelangan Alisa dan mengajaknya ke kantin.
Alisa mengumbar
senyum manisnya dan mengangguk. Ia mengikuti langkah Kevin. Mereka beranjak dan
menuju kantin sekolah. Walau sejenak, tapi Alisa merasa terhibur.
“Kamu dari mana
aja?!” Sergah mama Alisa, ketika ia tiba saat matahari tak lagi bersinar. “Ini
sudah jam berapa, Alisa?! Kamu mau jadi wanita penghibur di luar sana?!” Bentak
mamanya.
Alisa terkejut
dan merasa direndahkan oleh mama.
“Mama kenapa sih
marah-marah mulu sama aku? Aku ini udah gadis, Ma…”
“Lantas, kamu
bertindak sesuka hatimu?”
“Ma…”
“Diam kamu!”
Alisa terdiam
dan tertunduk.
kamu seperti papamu! Jangan mempermalukan mama, Alisa!”
Alisa kembali
terisak, kemudian ia berlari masuk ke kamarnya. Alisa merebahkan tubuhnya di
atas tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Dunianya seperti neraka.
Penderitaan yang ia rasakan terlalu berat. Ia tidak merasakan bahagianya
menjadi seorang gadis remaja.
Ini bukan cerita tentang Cinderella atau seorang
putri yang bertemu dengan pangeran. Ini cerita tentang gadis remaja yang
kehilangan masa indahnya. Gadis itu adalah Alisa.
Andai
saja aku punya sayap dengan bulu-bulu lebat dan mengepak hingga aku terbang,
aku akan mengintari jagad raya. Aku akan pergi berkelana
kemana aku mau dan tak ingin kembali ke rumah. Rumah bagiku seperti neraka.
Papa bertengkar lagi dengan mama. (Alisa)
Gadis itu terpaku. Matanya berkaca-kaca dan air bening
mentes beberapa kali. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan hidup yang pahit.
__ADS_1
Mengapa cobaan itu harus ia hadapi disaat usianya masih muda belia. Alisa,
gadis remaja berusia enam belas tahun. Kini kekerasaan hidup harus ia jalani.
”Tuhan tidak adil pada diriku.” Gumam Alisa dengan bibir bergetar.
Alisa memperhatikan lebam di tangannya. Bekas itu
pertinggal dari kekerasan papa karena meluapkan emosinya. Papa menganggap Alisa
bukan anaknya dan menuduh mama berselingkuh dengan laki-laki lain. Betapa
hancur hati Alisa saat ini. Ia menutup kembali punggungnya dengan baju.
Alisa memperhatikan gadis-gadis remaja yang lain.
Mereka penuh tawa dan canda. Penuh kebahagian yang akan menjadi cerita dimasa
tua mereka. Alisa ingin seperti mereka, namun takdirnya justru membuat ia putus
asa.
Semuanya menjadi
kelam ketika papa mejalin kasih dengan seorang gadis muda. Papa ingin menikahi
gadis itu dan ingin hidup bersama. Mama yang juga menderita hanya bisa
menangis. Apa yang dituduhkan papa tidak benar. Alisa darah daging papa.
Sejak kepergian papa dengan perempuan lain, mama jadi apatis pada Alisa. Mama melecutinya dengan tali pinggang hingga tubuh Alisa penuh memar. Mama memukul Alisa seperti memukul ******** tengik
yang menipunya. Berkali-kali Alisa mengerang kesakitan yang mendera, namun mama tidak
perduli dengan keadaan Alisa.
“Ampuun, Ma...
Sakiit... Ampuun...” Alisa mengerang kesakitan.
“Anak kurang
ajar! Pergi saja kau!”
Alisa menangis
sedih dengan linangan airmata. Matanya sembab dan memerah.
"Tuhan
memang tidak adil!! Mengapa engkau memberiku hukuman ini. Tuhan, apa
salahku?” Bibir Alisa tampak pucat membiru.
Alisa
mengambil buku hariannya dan menulis semua kesedihan yang ia alami. Betapa
dunia tidak berpihak padanya, dimana keahagiaan juga berpaling darinya.
Aku melihat embun pagi terbang perlahan.
Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar dia memberiku sepasang sayap agar aku bisa
terbang. Mengintari dunia dan pergi jauh ke angkasa. Aku sudah tidak sanggup
menghadapi mama yang semakin hari semakin bengis. Tubuhku tak berdaya. (Alisa)
Saat bangun pagi aku terkejut melihat
punggungku. Ku dapati sebentuk daging tumbuh melengkung bersama bulu-bulu halus
berwarna keputihan. Aku menghapus mataku, mengacak-acak mataku beberapa kali.
Apakah ini hanya mimpi? Batinku. Gemetar tanganku menyentuh daging tumbuh itu.
Aku terkejut, daging itu benar-benar tumbuh bersama-bulu-bulu putih. Bak bulu
__ADS_1
seekor anak burung.