TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 22


__ADS_3

Di kampus, Bimo


menemui Titin dan membentak-bentaknya. Titin yang tidak tahu permasalahan


menjadi bingung.


“Kamu jangan


mengganggu adikku. Lebih baik kamu jahui dia sebelum aku bertindak kasar sama


kamu!”


“Maksud kamu


apa?”


“Alaa… gak usah


berlagak lugu. Aku tahu niat burukmu!”


“Aku benar-benar


gak tahu apa maksud kamu?”


“Aku tidak suka


kamu dekat-dekat dengan Bellinda. Dia masih begitu polos,”


Titin


mengerutkan dahinya. “Lantas?”


“Kamu lesbian!”


Deg… Jantung


Titin bergemuruh kencang. Emosinya meledak-ledak. Bimo terang-terangan menuduh


Titin lesbian.


“Apa buktinya


kalau aku lesbian? Kamu jangan asal ngomong!”


“Buktinya kamu


selalu mengantar adikku pulang.”


“Apa itu salah?”


“Gayamu aja


seperti cowok!”


“Dan kamu


menuduhku mencintai adikmu? Kamu salah, Bimo! Aku hanya kasihan melihat


Bellinda yang memiliki pacar seorang gay! Punya kakak yang over protektif!”


Bimo terdiam.


Matanya memerah. “Kamu jangan mengada-ada. Aku tahu siapa pacar Bellinda, dia


temenku. Dan aku bukan over protektif!”


“Apa kamu tidak


tahu kalau temenmu itu seorang gay? Beeh… kasihan sekali.”


Titin beranjak


dari depan Bimo. Bimo hanya diam melihat kepergian Titin. Ugh… mengapa semua


orang di dunia ini selalu mengambil kesimpulan yang salah. Apakah cewek yang


berpenampilan tomboy selalu lesbian? Padahal masih banyak lagi cewek feminine


yang menyukai sesama jenis.



Berita


kematian Aditya membuat Titin terkejut dan syok. Aditya tewas bersimbah jalan


di dekat gudang kosong. Titin terlihat panik  dan tidak tahu harus berbuat apa. Kematian Aditya membuat genk motor


semakin was-was. Mereka bertanya-tanya siapa yang membunuh Aditya.


Titin


terduduk membaca berita itu dari Koran hari ini. Padahal malam itu mereka masih


bersama dan ketemu di sebuah café. Dan malam itu mereka berpisah setelah


nongkrong danberhaha-hihi. Titin menjadi khawatir dengan berita itu.

__ADS_1



Hartati duduk di


sudut Café bersama cowok muda yang asyik menghisap rokoknya. Perempuan baya itu


sesekali memperhatikan sosok cowok yang mirip dengan mantan kekasihnya.


“Ton… Mama harap


sama kamu, jangan berteman lagi dengan geng motor.” Hartati menasehati Tony.


“Mereka itu berandalan.”


“Mama tahu apa


sih dengan geng motor?”


“Mama tahu


sedikit tentang mereka. Mama khawatir


kamu ditembak polisi. Terkadang tingkah laku mereka itu


tidak manusiawi, Ton…” Hartati menarik nafas berat. “Ton… papamu juga meninggal


di balapan motor. Mama tidak mau kamu mengalami nasib yang sama.


“Sudahlah, Ma.


Jangan nasehati, Toni. Toni sudah dewasa dan Toni bisa jaga diri.”


“Mama tahu, tapi


keselamatan kamu itu harus diperhatikan.”


“Sudahlah, Ma.


Jangan banyakan khawatirnya. Toni gak punya siapa-siapa selain mama.”


Hartati


menunduk. “Dan mama tidak mau bertemu


kamu di luar begini, Ton… Apa nanti kata orang-orang?


Mereka pasti beranggapan negatif tentang mama…”


“Siapa yang


bilang begitu, Ma? Siapa? Biar Tony hajar dia!”


Hartati


berang, menyergah Hartati dengan kata-kata pedas.


“Pantas saja


mama betah keluar rumah. Mama punya cowok simpanan! Ingat, Ma. Mama sudah punya


keluarga. Punya anak yang sudah dewasa!” Sergah


Titin emosi.


Hartati terkejut


melihat kehadiran Titin. “Titin…?” Selahnya kebingungan.


“Sudahlah, Ma.


Titin sudah tahu semuanya!” Titin makin nyolot. Hartati berusaha menjelasakan


malasahnya.


“Dengar dulu


penjelasan mama, Tin… Ini tidak seperti yang kamu bayangkan.”


“Penjelasan


apalagi? Titin malu ma, punya orang tua seperti mama! Mama itu seperti


tante-tante girang!”


“Cukup!!!” Bentak Toni seketika. Ia


tidak terima Hartati diperlakukan begitu oleh Titin. Titin nyolot. Ia berang


dan merasa ada orang lain ikut campur masalah keluarganya.


“Eh, kamu gak


usah ikut campur! Ini urusan aku dan mamaku!”Sergah Titin emosi.


“Dan kamu sudah


menyakiti perasaan mamaku!” Sergah

__ADS_1


Toni emosi.


Titin terdiam.


Matanya membelalak kaget. Shock mendengar pengakuan cowok itu. Sementara


suasana café jadi ramai karena suara mereka.


“Apa?? Mamamu??


Oh… jadi kamu anak selingkuhan mamaku? Begitu?” Titin tertawa sinis. “Pantas


saja kamu seperti ayahmu!”


“Diam kamu!” Bentak


Toni berang.


“Sudah… sudah… Ton… Jangan buat


keributan… Mama mohon…” Hartati menangis. “Tiinn… dengerin mama sekali ini


aja…”


“Cukup, Ma!


Titin gak ada waktu untuk dengeri omong kosong mama!”


“Maaf, Mbak…


Demi ketenangan pelanggan sebaiknya masalah kalian dibicarakan di luar saja.” Seorang


pelayan memberi nasehat.


Titin keluar


sambil berlari. Ia benar-benar shock. Mama punya anak dari laki-laki lain. Mama


memanggilnya, namun


Titin tidak menggubris. Mama terduduk di kursi sambil menangis. Tubuhnya


terguncang.


“Maafkan Toni,


Ma. Tidak mendengarkan kata-kata mama.”


Hartati


menghapus air matanya.


“Sudahlah…” Gumamnya dengan suara berat. “Titin sudah mengetahuinya. Tidak ada


lagi yang perlu ditutupi.”


“Apa yang akan mama lalukan selanjutnya?”


“Mama akan


bicarakan hal ini baik-baik ke Titin. Semoga saja ia mau mengerti.”


“Ya, Ma…” Toni


berusaha menghibur perasaan Hartati.


Toni merasa


bersalah. Seharusnya ia tidak emosi dan memberi tahu kalau dia juga anak


Hartati. Sebelum menikah dengan Hendrawan, Hartati sudah berhubungan dangan


Rizlan. Laki-laki pembalap motor, ayah Toni. Rizlan kecelakaan dalam balap


motor dan meninggal di tempat. Saat itu Hartati sudah mengandung Toni dua


bulan. Karena cinta Hendrawan terlalu dalam, akhirnya Hendrawan menikahi


Hartati. Setelah melahirkan, Hartati menitip Toni ke ibunya. Hendrawan tidak


mau Toni tinggal bersama mereka.



Wajah Titin masih memerah. Sepanjang jalan ia terus memikirkan cowok yang


bersama mamanya? ’Itu anak mama? Dari mana?’ Pikirnya. Kepala Titin semakin


pusing. Konflik di keluarganya bertambah ribet saja. ’Sejak kapan mama punya


anak lain? Pantas saja kasih sayang mama kurang ke Titin dan Renold.’


”Ugh..!!” Titin menghela kesal sambil memukul setir kiri. Di cafe pinggir


jalan Titin menghentikan motornya. Dia ingin menenangkan pikirannya dengan


duduk santai sambil memandang orang yang lalu lalang. Titin membiarkan tubuhnya

__ADS_1


diterpa angin malam.



__ADS_2