
Di kampus, Bimo
menemui Titin dan membentak-bentaknya. Titin yang tidak tahu permasalahan
menjadi bingung.
“Kamu jangan
mengganggu adikku. Lebih baik kamu jahui dia sebelum aku bertindak kasar sama
kamu!”
“Maksud kamu
apa?”
“Alaa… gak usah
berlagak lugu. Aku tahu niat burukmu!”
“Aku benar-benar
gak tahu apa maksud kamu?”
“Aku tidak suka
kamu dekat-dekat dengan Bellinda. Dia masih begitu polos,”
Titin
mengerutkan dahinya. “Lantas?”
“Kamu lesbian!”
Deg… Jantung
Titin bergemuruh kencang. Emosinya meledak-ledak. Bimo terang-terangan menuduh
Titin lesbian.
“Apa buktinya
kalau aku lesbian? Kamu jangan asal ngomong!”
“Buktinya kamu
selalu mengantar adikku pulang.”
“Apa itu salah?”
“Gayamu aja
seperti cowok!”
“Dan kamu
menuduhku mencintai adikmu? Kamu salah, Bimo! Aku hanya kasihan melihat
Bellinda yang memiliki pacar seorang gay! Punya kakak yang over protektif!”
Bimo terdiam.
Matanya memerah. “Kamu jangan mengada-ada. Aku tahu siapa pacar Bellinda, dia
temenku. Dan aku bukan over protektif!”
“Apa kamu tidak
tahu kalau temenmu itu seorang gay? Beeh… kasihan sekali.”
Titin beranjak
dari depan Bimo. Bimo hanya diam melihat kepergian Titin. Ugh… mengapa semua
orang di dunia ini selalu mengambil kesimpulan yang salah. Apakah cewek yang
berpenampilan tomboy selalu lesbian? Padahal masih banyak lagi cewek feminine
yang menyukai sesama jenis.
Berita
kematian Aditya membuat Titin terkejut dan syok. Aditya tewas bersimbah jalan
di dekat gudang kosong. Titin terlihat panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Kematian Aditya membuat genk motor
semakin was-was. Mereka bertanya-tanya siapa yang membunuh Aditya.
Titin
terduduk membaca berita itu dari Koran hari ini. Padahal malam itu mereka masih
bersama dan ketemu di sebuah café. Dan malam itu mereka berpisah setelah
nongkrong danberhaha-hihi. Titin menjadi khawatir dengan berita itu.
__ADS_1
Hartati duduk di
sudut Café bersama cowok muda yang asyik menghisap rokoknya. Perempuan baya itu
sesekali memperhatikan sosok cowok yang mirip dengan mantan kekasihnya.
“Ton… Mama harap
sama kamu, jangan berteman lagi dengan geng motor.” Hartati menasehati Tony.
“Mereka itu berandalan.”
“Mama tahu apa
sih dengan geng motor?”
“Mama tahu
sedikit tentang mereka. Mama khawatir
kamu ditembak polisi. Terkadang tingkah laku mereka itu
tidak manusiawi, Ton…” Hartati menarik nafas berat. “Ton… papamu juga meninggal
di balapan motor. Mama tidak mau kamu mengalami nasib yang sama.
“Sudahlah, Ma.
Jangan nasehati, Toni. Toni sudah dewasa dan Toni bisa jaga diri.”
“Mama tahu, tapi
keselamatan kamu itu harus diperhatikan.”
“Sudahlah, Ma.
Jangan banyakan khawatirnya. Toni gak punya siapa-siapa selain mama.”
Hartati
menunduk. “Dan mama tidak mau bertemu
kamu di luar begini, Ton… Apa nanti kata orang-orang?
Mereka pasti beranggapan negatif tentang mama…”
“Siapa yang
bilang begitu, Ma? Siapa? Biar Tony hajar dia!”
Hartati
berang, menyergah Hartati dengan kata-kata pedas.
“Pantas saja
mama betah keluar rumah. Mama punya cowok simpanan! Ingat, Ma. Mama sudah punya
keluarga. Punya anak yang sudah dewasa!” Sergah
Titin emosi.
Hartati terkejut
melihat kehadiran Titin. “Titin…?” Selahnya kebingungan.
“Sudahlah, Ma.
Titin sudah tahu semuanya!” Titin makin nyolot. Hartati berusaha menjelasakan
malasahnya.
“Dengar dulu
penjelasan mama, Tin… Ini tidak seperti yang kamu bayangkan.”
“Penjelasan
apalagi? Titin malu ma, punya orang tua seperti mama! Mama itu seperti
tante-tante girang!”
“Cukup!!!” Bentak Toni seketika. Ia
tidak terima Hartati diperlakukan begitu oleh Titin. Titin nyolot. Ia berang
dan merasa ada orang lain ikut campur masalah keluarganya.
“Eh, kamu gak
usah ikut campur! Ini urusan aku dan mamaku!”Sergah Titin emosi.
“Dan kamu sudah
menyakiti perasaan mamaku!” Sergah
__ADS_1
Toni emosi.
Titin terdiam.
Matanya membelalak kaget. Shock mendengar pengakuan cowok itu. Sementara
suasana café jadi ramai karena suara mereka.
“Apa?? Mamamu??
Oh… jadi kamu anak selingkuhan mamaku? Begitu?” Titin tertawa sinis. “Pantas
saja kamu seperti ayahmu!”
“Diam kamu!” Bentak
Toni berang.
“Sudah… sudah… Ton… Jangan buat
keributan… Mama mohon…” Hartati menangis. “Tiinn… dengerin mama sekali ini
aja…”
“Cukup, Ma!
Titin gak ada waktu untuk dengeri omong kosong mama!”
“Maaf, Mbak…
Demi ketenangan pelanggan sebaiknya masalah kalian dibicarakan di luar saja.” Seorang
pelayan memberi nasehat.
Titin keluar
sambil berlari. Ia benar-benar shock. Mama punya anak dari laki-laki lain. Mama
memanggilnya, namun
Titin tidak menggubris. Mama terduduk di kursi sambil menangis. Tubuhnya
terguncang.
“Maafkan Toni,
Ma. Tidak mendengarkan kata-kata mama.”
Hartati
menghapus air matanya.
“Sudahlah…” Gumamnya dengan suara berat. “Titin sudah mengetahuinya. Tidak ada
lagi yang perlu ditutupi.”
“Apa yang akan mama lalukan selanjutnya?”
“Mama akan
bicarakan hal ini baik-baik ke Titin. Semoga saja ia mau mengerti.”
“Ya, Ma…” Toni
berusaha menghibur perasaan Hartati.
Toni merasa
bersalah. Seharusnya ia tidak emosi dan memberi tahu kalau dia juga anak
Hartati. Sebelum menikah dengan Hendrawan, Hartati sudah berhubungan dangan
Rizlan. Laki-laki pembalap motor, ayah Toni. Rizlan kecelakaan dalam balap
motor dan meninggal di tempat. Saat itu Hartati sudah mengandung Toni dua
bulan. Karena cinta Hendrawan terlalu dalam, akhirnya Hendrawan menikahi
Hartati. Setelah melahirkan, Hartati menitip Toni ke ibunya. Hendrawan tidak
mau Toni tinggal bersama mereka.
Wajah Titin masih memerah. Sepanjang jalan ia terus memikirkan cowok yang
bersama mamanya? ’Itu anak mama? Dari mana?’ Pikirnya. Kepala Titin semakin
pusing. Konflik di keluarganya bertambah ribet saja. ’Sejak kapan mama punya
anak lain? Pantas saja kasih sayang mama kurang ke Titin dan Renold.’
”Ugh..!!” Titin menghela kesal sambil memukul setir kiri. Di cafe pinggir
jalan Titin menghentikan motornya. Dia ingin menenangkan pikirannya dengan
duduk santai sambil memandang orang yang lalu lalang. Titin membiarkan tubuhnya
__ADS_1
diterpa angin malam.