TOUCH MY HEART

TOUCH MY HEART
Episode 37


__ADS_3

Hendrawan masih terkulai di kursi tamu. Bajunya


berantakan seperti orang mabuk. Bibirnya berdarah. Sedangkan Dewa masih sibuk


bersama teman-temannya yang lain. Berhaha-hihi, seperti tidak ada masalah. Menghabiskan


uang perusahaan dengan semena-mena. Hendrawan yang mendapat pukulan di beberapa


wajahnya, terlihat sangat memprihatinkan. Ponselnya bordering dan ia


mengangkatnya. Dari rumah sakit.


“Ya halo,” sapa Hendrawan dengan suara berat.


“Benar ini dengan pak Hendrawan? Ini dari rumah sakit,


Pak.” Kata suara dari ponsel.


“Apa? Rumah sakit? Apa anak saya kecelakaan?” tanya Hendrawan


penasaran.


“Tidak, Pak. Tenang dulu. Kami hanya ingin mengabarkan


kalau istri bapak berada di rumah sakit. Beliau meminta kami untuk menghubungi


anda. Keadaanya sudah sangat memprihatinkan, Pak.”


“Oh, terima kasih.” Ucap Hendrawan pendek. Kemudian ia


mematikan ponselnya. “Masalah apa lagi ini? Kenapa mama berada di rumah sakit. Mama


ada-ada saja.” Gumam Hendrawan tidak percaya..


Hendrawan bangkit dari tempat duduknya menuju kamar


mandi. Ia membasuh wajahnya, setelah itu mengganti pakaianya. Ponselnya berdering


lagi. Suaranya membahana di ruang tamu. Hendrawan berjalan dengan tergopoh dan


meraih ponselnya. Dari Titin.


“Ada apa lagi, Tin? Kamu ditilang lagi?” tanya Hendrawan


sebelum Titin sempat berbicara.


“Pa, mama di rumah sakit.” Kata Titin dengan suara


parau.


“Apa? Mamamu di rumah sakit? Ngapain?” Hendrawan


bertanya seperti tidak ada kejadian apa-apa.


“Mama sakit keras, Pa. Ini bukan saatnya bercanda, Pa.


Mama terserang tumor ganas di kepalanya!” Tutur Titin.


 Hendrawan


terkejut. Selama ini Hartati tidak pernah mengeluh sakit. Kenapa tiba-tiba ia


terserang tumor otak?


“Ya udah, papa segera ke rumah sakit.” Kata Hendrawan


yang sibuk mencari kunci mobil. Hendrawan sedikit panik. Di depan pintu ia


bertemu dengan Dewa yang baru pulang mabuk-mabukan.


“Kamu dari mana saja, Wa? Mamamu ada di rumah sakit


dan kamu mabuk-mabukan?”


“Alaaa, biasanya mama juga holliday sama ibu-ibu


pejabat. Papa nggak usah khawatir lah. Mama baik-baik aja, palng cuma demam


biasa. Jangan didramatisir, Pa.” Kata Dewa sambil mabuk.


PLAAK! Hendrawan menampar wajah Dewa agar ia sadar


dari mabuknya. Dewa memegangi pipinya yang terasa sakit. Ia melotot ke Hendrawan.


“Apa yang papa lakukan? Papa menampar Dewa?!” Dewa


terlihat berang. “Kenapa, Pa? Papa sudah mulai peduli dengan mama?!”


“Kamu keterlaluan, Dewa. Kamu yang menghabiskan uang


papa dan kini kamu mabuk-mabukan. Mama kamu di rumah sakit karena terserang


kanker otak!”


“Di rumah sakit? Memangnya kenapa kalau mama di rumah


sakit? Mama mau holiday di rumah sakit?” Dewa masih terlihat teler. Ia belum


sepenuhnya sadar.


“Kamu keterlaluan, Wa! Sadar kamu, Dewa!” Bentak Hendrawan


sambil beranjak keluar dari rumah. Hendrawan menuju garasi dan menyalakan


mobilnya. Suara menderu keluar dari halaman rumah.



Titin dan Toni masih berharap-harap cemas di rumah


sakit. Titin tidak sampai hati melihat keadaan Hartati yang semakin sekarat. Semua


harapannya hancur di tengah jalan. Ia tidak menginginkan hal ini terjadi.


“Bagaimana ini, Bang? Titin takut, Titin tidak ingin


kehilangan mama.” Suara Titin berubah parau.  Matanya memerah karena menangis.


“Kita berdoa saja, Tin, semoga mama mendapat


keajaiban. Mama segera sembuh.” Kata Toni menghibur hati Titin.


“Hik… hik…” Titin terisak di pelukan Toni. Ia merasa


menyesal selama ini menyia-nyiakan kebaikan Hartati. Selama ini ia telah


berburuk sangka kepada Hartati. Ia mengingat semua kesalahannya. Ia tidak bisa

__ADS_1


membayangkan hidup tanpa seorang mama. Titin melepaskan pelukan Toni dan


menghampiri Hartati. Ia mengecup kening perempuan itu dengan lembut. Sebening air


jatuh dari belupuk matanya. Air mata kesedihan.


“Mama bangun…” Gumamnya pelan. Titin merasa sangat iba


melihat perempuan yang kini terbaring di atas tempat tidur dengan selang infus


dan oksigen. Perempuan itu bergeming dan tertidur pulas. Setetes air bening


keluar dari matanya dan jatuh membasahi bantal di bawahnya. Titin menghapus air


bening itu dengan tangan gemetar.


“Maafkan Titin, Ma. Mama jangan menangis. Mama harus


kuat melawan penyakit mama.” Ucapnya sendu dan menangis.


Ketika bersamamu, aku teringat


kembali, kala sore itu kita duduk bersama di beranda depan rumah.


Angin berhembus semilir, sejuk


sekali…


Mentari mulai redup


Perlahan berjalan ke peraduannya


Tawa pun pecah seiring mengalirnya


cerita dan senda guarau


yang tak ada habisnya


menikmati soreitu


Ah… bertapa rindunya aku padamu,


mama…


Akankah kita bisa mengulang kembali


saat-saat seperti itu?


Menikmati sore di beranda rumah…


Titin beranjak dan berdiri di sudut jendela kamar. Ia membuka gorden


seraya menatap jauh sudut kota kelahirannya. Kota itu basah. Rintik hujan


membasahi pelataran  dan membuat


kubangan-kubangan kecil di pinggir jalan.


Ruang


Hartati hening dan hanya isak Titin yang terdengar pilu. Hendrawan tiba dengan


wajah yang masih meninggalkan bilur luka kebiruan. Ia melihat Hartati dengan


tidak percaya.


“Mama.”


“Papa…”


Titin berhambur di pelukan Hendrawan. Ia menangis sejadi-jadinya. “Mama, Pa…”


isaknya sedih. Hendrawan melepaskan rengkuhan Titin  dan menghampiri Hartati dengan perlahan.


Hartati koma. Sampai saat ini belum sadarkan diri.


“Ma,


apa yang terjadi dengan mama? Mengapa mama tidak pernah cerita ke papa?  Mengapa mama menyimpan penyakit itu, Ma.” Ratap


Hendrawan sambil menggenggam jemari tangan Hartati yang mulai dingin. “Maafkan


papa, Ma. Papa tidak memperhatikan mama.” Isak Hendrawan sedih dengan suara


parau.


“Bangun,


Ma. Kita akan memperbaiki rumah tangga kita. Papa janji dan akan bertobat. Papa


ingin mama kembali.” Suara berat Hendrawan terdengar menyayat hati. Hendrawan


mulai terisak sedih dan membuat Titin semakin menangis. Toni berkali-kali


menghapus airmatanya dan menahan tangisnya.


“Ma…


kembali kepada papa. Maafkan papa, Ma…” Isak Hendrawan.


Dewa


akhirnya datang ketika semua larut dalam kesedihan. Ia melihat Hartati yang


sekarang terbaring di tempat tidur. Ia tidak percaya melihat keadaan mama yang


sangat mengharukan. Kemudian ia menghampiri Hartati dengan perlahan.


“Mama…”


Gumamnya pelan. “Mama kenapa? Kenapa mama tidur di sini?” Raut wajah Dewa berubah


menjadi sedih. Isak tangis Titin pun terdengar pilu.


Hujan


di luar sana semakin deras dan menambah kesedihan di hati Titin. Isakan Titin semakin


kencang begitu melihat dokter dan perawat menutup kain putih ke wajah Hartati. Selang


oksigen telah dicabut dan Hartati pergi untuk selamanya. Hartati menghembuskan


nafas terakhirnya tanpa ada sepata kata pun.


“Mamaaaaaa.” Jerit Titin


menangis sedih. “Jangan tinggali Titin, Ma.” Ratap Titin terus menangis. Toni memeluk

__ADS_1


Titin dengan erat dan mencegahnya agar Titin tidak berlari mengikuti suster yang


membawa mayat Hartati.


“Mama…


jangan tinggalin Titin, Maaa…” Tangis Titin pun meledak. Kini ia merasakan


betapa menyakitkan sebuah kehilangan.


“Mama.”


Pekik Hendrawan tertahan.


Papa… Mama masih mencintaimu, hari


ini dan sampai kapan pun ajal menjemput. Mama hanya ingin papa menjawi seorang


ayah yang bertanggung jawab. Jangan biarkan keluarga kita hancur karena


kesenangan sendiri. Itu tidak ada artinya, Pa…


Dewa…. Sebagai anak tertua. Kamu


harus menjaga adik-adikmu. Kamu harus


melindungi mereka. Jangan biarkan mereka berada di jalan yang sesat…


Titin… Mama tidak bisa mendampingi


kalian. Mama kalah… namun mama tak ingin melihat kalian terpecah belah. Mama


harap kalian tetap bersatu dalam cinta. Mama tidak mampu mewujudkan keluarga


yang utuh seperti harapanmu. Mama sudah tidak kuat lagi. Maaf kan mama…


Titin menangis sedih membaca tulisan Hartati. Kertas


itu terselip di tangan Hartati. Kertas itu sudah dipersiapkan sebelum ia pergi.


Hari itu Hendrawan mendapat sebuah pelajaran yang


sangat berharga. Kebahagiaan keluarga hanya ada jika mereka bersatu dan saling


sayang. Setelah kejadian yang menimpa keluarganya, Hendrawan berjanji akan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. Dalam


tangis dan mengharu biru ada sebuah pelajaran yang harus mereka jalani.


Toni yang melihat mereka berpelukan, perlahan


melangkahkan kakinya. Namun suara berat Hendrawan mengurungkan langkahnya.


“Kamu mau pergi juga, Ton?  Apakah kamu tidak mau memaafkan papa? Apakah


kamu tidak ingin bergabung dengan keluarga papa?” tanya Hendrawan dengan suara


parau dan sedih.


Toni menghapus air matanya dan menoleh pelan. Tak


mampu menahan air matanya yang sempat jatuh di pipi. Ia bukan cowok cengeng,


tapi kesedihan itu menyergap ketika harus kehilangan seseorang yang sangat


disayanginya. Hendrawan mengulurkan tangannya, lalu memeluk Toni seperti


anaknya. Kini mereka benar-benar telah bersatu dan esok mereka akan memulai


kehidupan yang baru. Mereka berpelukan dalam haru di malam itu.



Pusara itu masih merah bertabur bunga-bunga. Terlihat Titin


dan Toni mengenakan baju serba hitam dan menabur bunga-bunga di atas makam Hartati.


Titin kembali menangis merasakan sebuah kehilangan. Begitu pahit dan


menyakitkan.


Papa yang berdiri di areal makam juga masih terlihat


sedih. Hendrawan merasa terpukul karena kehilangan orang yang dicintainya. Sebuah


awal baru yang harus mereka jalani dari nol.


Toni mengelus kepala Titin dan mengajaknya pulang. Meninggalkan


semua kesedihan dan jangan larut dalam kesedihan. Hendrawan menghapus air


matanya dan esok ia akan menerima Toni menjadi wakil direktur di perusahannya. Ia


akan menerima Toni sebagai anaknya.


Bimo yang berdiri tak jauh dari makan terlihat sedih


dan Bella yang juga ikut dalam pemakaman Hartati. Bellinda bersama Kevin. Mereka


terlihat sebagai pasangan serasi.


Bimo akan segera melamar Titin begitu mereka


menyelesaikan kuliahnya. Dan Titin akan mengenakan hijabnya samapai akhir


hayat.



Walau pun mama berada jauh di atas sana, tapi mama


tetap berada di hati Titin. Terima kasih atas semuanya selama ini. Maafkan Titin


yang belum bisa menjadi anak yang baik buat mama. Semoga kita bertemu lagi di


tempat yang lain. Ma… Titin sangat bahagia hari ini Titin selesai kuliah dan Titin


akan membina rumah tangga bersama Bimo. Mama tau, kalau Bimo kakak temenku. Dia


lucu dan menggemaskan.


Ma… Titin sangan merindukan mama.


Titin menulis kenangan itu dalam  buku hariannya. Agar ia punya cerita kelak


untuk anak-anaknya.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2