
Hendrawan masih terkulai di kursi tamu. Bajunya
berantakan seperti orang mabuk. Bibirnya berdarah. Sedangkan Dewa masih sibuk
bersama teman-temannya yang lain. Berhaha-hihi, seperti tidak ada masalah. Menghabiskan
uang perusahaan dengan semena-mena. Hendrawan yang mendapat pukulan di beberapa
wajahnya, terlihat sangat memprihatinkan. Ponselnya bordering dan ia
mengangkatnya. Dari rumah sakit.
“Ya halo,” sapa Hendrawan dengan suara berat.
“Benar ini dengan pak Hendrawan? Ini dari rumah sakit,
Pak.” Kata suara dari ponsel.
“Apa? Rumah sakit? Apa anak saya kecelakaan?” tanya Hendrawan
penasaran.
“Tidak, Pak. Tenang dulu. Kami hanya ingin mengabarkan
kalau istri bapak berada di rumah sakit. Beliau meminta kami untuk menghubungi
anda. Keadaanya sudah sangat memprihatinkan, Pak.”
“Oh, terima kasih.” Ucap Hendrawan pendek. Kemudian ia
mematikan ponselnya. “Masalah apa lagi ini? Kenapa mama berada di rumah sakit. Mama
ada-ada saja.” Gumam Hendrawan tidak percaya..
Hendrawan bangkit dari tempat duduknya menuju kamar
mandi. Ia membasuh wajahnya, setelah itu mengganti pakaianya. Ponselnya berdering
lagi. Suaranya membahana di ruang tamu. Hendrawan berjalan dengan tergopoh dan
meraih ponselnya. Dari Titin.
“Ada apa lagi, Tin? Kamu ditilang lagi?” tanya Hendrawan
sebelum Titin sempat berbicara.
“Pa, mama di rumah sakit.” Kata Titin dengan suara
parau.
“Apa? Mamamu di rumah sakit? Ngapain?” Hendrawan
bertanya seperti tidak ada kejadian apa-apa.
“Mama sakit keras, Pa. Ini bukan saatnya bercanda, Pa.
Mama terserang tumor ganas di kepalanya!” Tutur Titin.
Hendrawan
terkejut. Selama ini Hartati tidak pernah mengeluh sakit. Kenapa tiba-tiba ia
terserang tumor otak?
“Ya udah, papa segera ke rumah sakit.” Kata Hendrawan
yang sibuk mencari kunci mobil. Hendrawan sedikit panik. Di depan pintu ia
bertemu dengan Dewa yang baru pulang mabuk-mabukan.
“Kamu dari mana saja, Wa? Mamamu ada di rumah sakit
dan kamu mabuk-mabukan?”
“Alaaa, biasanya mama juga holliday sama ibu-ibu
pejabat. Papa nggak usah khawatir lah. Mama baik-baik aja, palng cuma demam
biasa. Jangan didramatisir, Pa.” Kata Dewa sambil mabuk.
PLAAK! Hendrawan menampar wajah Dewa agar ia sadar
dari mabuknya. Dewa memegangi pipinya yang terasa sakit. Ia melotot ke Hendrawan.
“Apa yang papa lakukan? Papa menampar Dewa?!” Dewa
terlihat berang. “Kenapa, Pa? Papa sudah mulai peduli dengan mama?!”
“Kamu keterlaluan, Dewa. Kamu yang menghabiskan uang
papa dan kini kamu mabuk-mabukan. Mama kamu di rumah sakit karena terserang
kanker otak!”
“Di rumah sakit? Memangnya kenapa kalau mama di rumah
sakit? Mama mau holiday di rumah sakit?” Dewa masih terlihat teler. Ia belum
sepenuhnya sadar.
“Kamu keterlaluan, Wa! Sadar kamu, Dewa!” Bentak Hendrawan
sambil beranjak keluar dari rumah. Hendrawan menuju garasi dan menyalakan
mobilnya. Suara menderu keluar dari halaman rumah.
Titin dan Toni masih berharap-harap cemas di rumah
sakit. Titin tidak sampai hati melihat keadaan Hartati yang semakin sekarat. Semua
harapannya hancur di tengah jalan. Ia tidak menginginkan hal ini terjadi.
“Bagaimana ini, Bang? Titin takut, Titin tidak ingin
kehilangan mama.” Suara Titin berubah parau. Matanya memerah karena menangis.
“Kita berdoa saja, Tin, semoga mama mendapat
keajaiban. Mama segera sembuh.” Kata Toni menghibur hati Titin.
“Hik… hik…” Titin terisak di pelukan Toni. Ia merasa
menyesal selama ini menyia-nyiakan kebaikan Hartati. Selama ini ia telah
berburuk sangka kepada Hartati. Ia mengingat semua kesalahannya. Ia tidak bisa
__ADS_1
membayangkan hidup tanpa seorang mama. Titin melepaskan pelukan Toni dan
menghampiri Hartati. Ia mengecup kening perempuan itu dengan lembut. Sebening air
jatuh dari belupuk matanya. Air mata kesedihan.
“Mama bangun…” Gumamnya pelan. Titin merasa sangat iba
melihat perempuan yang kini terbaring di atas tempat tidur dengan selang infus
dan oksigen. Perempuan itu bergeming dan tertidur pulas. Setetes air bening
keluar dari matanya dan jatuh membasahi bantal di bawahnya. Titin menghapus air
bening itu dengan tangan gemetar.
“Maafkan Titin, Ma. Mama jangan menangis. Mama harus
kuat melawan penyakit mama.” Ucapnya sendu dan menangis.
Ketika bersamamu, aku teringat
kembali, kala sore itu kita duduk bersama di beranda depan rumah.
Angin berhembus semilir, sejuk
sekali…
Mentari mulai redup
Perlahan berjalan ke peraduannya
Tawa pun pecah seiring mengalirnya
cerita dan senda guarau
yang tak ada habisnya
menikmati soreitu
Ah… bertapa rindunya aku padamu,
mama…
Akankah kita bisa mengulang kembali
saat-saat seperti itu?
Menikmati sore di beranda rumah…
Titin beranjak dan berdiri di sudut jendela kamar. Ia membuka gorden
seraya menatap jauh sudut kota kelahirannya. Kota itu basah. Rintik hujan
membasahi pelataran dan membuat
kubangan-kubangan kecil di pinggir jalan.
Ruang
Hartati hening dan hanya isak Titin yang terdengar pilu. Hendrawan tiba dengan
wajah yang masih meninggalkan bilur luka kebiruan. Ia melihat Hartati dengan
tidak percaya.
“Mama.”
“Papa…”
Titin berhambur di pelukan Hendrawan. Ia menangis sejadi-jadinya. “Mama, Pa…”
isaknya sedih. Hendrawan melepaskan rengkuhan Titin dan menghampiri Hartati dengan perlahan.
Hartati koma. Sampai saat ini belum sadarkan diri.
“Ma,
apa yang terjadi dengan mama? Mengapa mama tidak pernah cerita ke papa? Mengapa mama menyimpan penyakit itu, Ma.” Ratap
Hendrawan sambil menggenggam jemari tangan Hartati yang mulai dingin. “Maafkan
papa, Ma. Papa tidak memperhatikan mama.” Isak Hendrawan sedih dengan suara
parau.
“Bangun,
Ma. Kita akan memperbaiki rumah tangga kita. Papa janji dan akan bertobat. Papa
ingin mama kembali.” Suara berat Hendrawan terdengar menyayat hati. Hendrawan
mulai terisak sedih dan membuat Titin semakin menangis. Toni berkali-kali
menghapus airmatanya dan menahan tangisnya.
“Ma…
kembali kepada papa. Maafkan papa, Ma…” Isak Hendrawan.
Dewa
akhirnya datang ketika semua larut dalam kesedihan. Ia melihat Hartati yang
sekarang terbaring di tempat tidur. Ia tidak percaya melihat keadaan mama yang
sangat mengharukan. Kemudian ia menghampiri Hartati dengan perlahan.
“Mama…”
Gumamnya pelan. “Mama kenapa? Kenapa mama tidur di sini?” Raut wajah Dewa berubah
menjadi sedih. Isak tangis Titin pun terdengar pilu.
Hujan
di luar sana semakin deras dan menambah kesedihan di hati Titin. Isakan Titin semakin
kencang begitu melihat dokter dan perawat menutup kain putih ke wajah Hartati. Selang
oksigen telah dicabut dan Hartati pergi untuk selamanya. Hartati menghembuskan
nafas terakhirnya tanpa ada sepata kata pun.
“Mamaaaaaa.” Jerit Titin
menangis sedih. “Jangan tinggali Titin, Ma.” Ratap Titin terus menangis. Toni memeluk
__ADS_1
Titin dengan erat dan mencegahnya agar Titin tidak berlari mengikuti suster yang
membawa mayat Hartati.
“Mama…
jangan tinggalin Titin, Maaa…” Tangis Titin pun meledak. Kini ia merasakan
betapa menyakitkan sebuah kehilangan.
“Mama.”
Pekik Hendrawan tertahan.
Papa… Mama masih mencintaimu, hari
ini dan sampai kapan pun ajal menjemput. Mama hanya ingin papa menjawi seorang
ayah yang bertanggung jawab. Jangan biarkan keluarga kita hancur karena
kesenangan sendiri. Itu tidak ada artinya, Pa…
Dewa…. Sebagai anak tertua. Kamu
harus menjaga adik-adikmu. Kamu harus
melindungi mereka. Jangan biarkan mereka berada di jalan yang sesat…
Titin… Mama tidak bisa mendampingi
kalian. Mama kalah… namun mama tak ingin melihat kalian terpecah belah. Mama
harap kalian tetap bersatu dalam cinta. Mama tidak mampu mewujudkan keluarga
yang utuh seperti harapanmu. Mama sudah tidak kuat lagi. Maaf kan mama…
Titin menangis sedih membaca tulisan Hartati. Kertas
itu terselip di tangan Hartati. Kertas itu sudah dipersiapkan sebelum ia pergi.
Hari itu Hendrawan mendapat sebuah pelajaran yang
sangat berharga. Kebahagiaan keluarga hanya ada jika mereka bersatu dan saling
sayang. Setelah kejadian yang menimpa keluarganya, Hendrawan berjanji akan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. Dalam
tangis dan mengharu biru ada sebuah pelajaran yang harus mereka jalani.
Toni yang melihat mereka berpelukan, perlahan
melangkahkan kakinya. Namun suara berat Hendrawan mengurungkan langkahnya.
“Kamu mau pergi juga, Ton? Apakah kamu tidak mau memaafkan papa? Apakah
kamu tidak ingin bergabung dengan keluarga papa?” tanya Hendrawan dengan suara
parau dan sedih.
Toni menghapus air matanya dan menoleh pelan. Tak
mampu menahan air matanya yang sempat jatuh di pipi. Ia bukan cowok cengeng,
tapi kesedihan itu menyergap ketika harus kehilangan seseorang yang sangat
disayanginya. Hendrawan mengulurkan tangannya, lalu memeluk Toni seperti
anaknya. Kini mereka benar-benar telah bersatu dan esok mereka akan memulai
kehidupan yang baru. Mereka berpelukan dalam haru di malam itu.
Pusara itu masih merah bertabur bunga-bunga. Terlihat Titin
dan Toni mengenakan baju serba hitam dan menabur bunga-bunga di atas makam Hartati.
Titin kembali menangis merasakan sebuah kehilangan. Begitu pahit dan
menyakitkan.
Papa yang berdiri di areal makam juga masih terlihat
sedih. Hendrawan merasa terpukul karena kehilangan orang yang dicintainya. Sebuah
awal baru yang harus mereka jalani dari nol.
Toni mengelus kepala Titin dan mengajaknya pulang. Meninggalkan
semua kesedihan dan jangan larut dalam kesedihan. Hendrawan menghapus air
matanya dan esok ia akan menerima Toni menjadi wakil direktur di perusahannya. Ia
akan menerima Toni sebagai anaknya.
Bimo yang berdiri tak jauh dari makan terlihat sedih
dan Bella yang juga ikut dalam pemakaman Hartati. Bellinda bersama Kevin. Mereka
terlihat sebagai pasangan serasi.
Bimo akan segera melamar Titin begitu mereka
menyelesaikan kuliahnya. Dan Titin akan mengenakan hijabnya samapai akhir
hayat.
Walau pun mama berada jauh di atas sana, tapi mama
tetap berada di hati Titin. Terima kasih atas semuanya selama ini. Maafkan Titin
yang belum bisa menjadi anak yang baik buat mama. Semoga kita bertemu lagi di
tempat yang lain. Ma… Titin sangat bahagia hari ini Titin selesai kuliah dan Titin
akan membina rumah tangga bersama Bimo. Mama tau, kalau Bimo kakak temenku. Dia
lucu dan menggemaskan.
Ma… Titin sangan merindukan mama.
Titin menulis kenangan itu dalam buku hariannya. Agar ia punya cerita kelak
untuk anak-anaknya.
TAMAT
__ADS_1