Touching Heart

Touching Heart
Delapan


__ADS_3

Sreekkkk


Ellard mengerang pelan ketika pantulan sinar matahari pagi langsung mengenai kelopak matanya karna Ara yang membuka gorden jendela kamar lebar-lebar. Namun karna masih ngantuk, Ellard memutar posisi tubuhnya jadi menelungkup, memeluk erat guling.


Melihat itu Ara mengeleng-geleng kepala. Oh ayolah, ini sudah pukul tujuh pagi. Namun suaminya itu dengan santainya masih bergelung nikmat dibawah selimut.


"Ellard bangun,"


"Lima belas menit lagi sayang," masih terpejam, enggan membuka mata


"Ck, ini uda jam tujuh. Kamu bilang kemarin ada meeting penting pagi ini"


"Tidak masalah. Aku bos-nya sayang,"


"Tidak bisa begitu. Ayo bangun!" Ara mengguncang bahu telanjang Ellard. Namun nihil. Lelaki itu tak kunjung bergerak.


Ara membuang nafasnya kasar


"Ya sudah terserah kau saja. Aku mau berangkat kuliah," putus Ara menyerah.


Namun baru hendak bangkit, tubuh Ara terhuyung jatuh tepat diatas ranjang akibat tarikan kuat Ellard pada tangannya.


"Ellarddd" Ara memekik


Ellard memerangkap dan mengunci pergerakannya. Maniknya bertemu langsung dengan Ara yang masih mengatur nafas karna terkejut.


"Mulai tidak sopan dengan suami eh? Panggil apa tadi? Ellard, kau?" Ellard memicingkan matanya tidak suka


Ara menyengir, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Bu—bukan begitu. Tad-tadi aku hanya refleks mengucapkannya. Habisnya sa—sayang gak mau bangun. Jadi aku kesal," Ara mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal demi mencari aman


"Kau tahu peraturannya kan sayang. Setiap kali salah mengucap maka ada hukumannya"


"Hehe, sayang jangan begitu dong. Ayo cepetan mandi, nanti sayang terlambat lho," Ara berusaha mengalihkan topic


"Tsk, tidak semudah itu sayangku. Kau harus mendapatkan hukumanmu lebih dahulu." Ellard mulai mengusap bibir bawah Ara dengan ibu jarinya


Si mesum maniak ini!


Ellard menghembus pelan wajah Ara sebelum kemudian menyatukan dahi mereka.


"Kiss me. That's your punishment" bisiknya


Ara sudah menduga. Ujung-ujungnya suami mesumnya ini pasti akan meminta hal yang satu itu lagi. Selama di Maldavis, bibir lelaki itu tidak akan pernah diam sehari saja untuk tidak menyentuhnya. Menempelinya bak perangko. Dan Ara mulai terbiasa dengan itu. Tapi tenanglah, mesumnya Ellard hanya sebatas itu saja. Tidak sampai melanjutkan ke hal yang lebih intim. Ellard menghormati keputusannya dan tidak menyentuhnya selama dirinya belum bersedia. Mengingat hal itu hati Ara menghangat, sangat bersyukur mendapatkan suami yang begitu memperhatikan kenyamanannya.


Tangan Ara merangkul leher Ellard. Kemudian dengan lembut menyatukan bibir keduanya. ******* dan menyesap bibir Ellard yang disambut antusias. Lelaki itu membuka mulutnya memberikan akses bagi Ara untuk menelusupkan lidahnya masuk berperang melawan lidah Ellard. French kiss. Jangan tanya bagaimana Ara bisa menjadi selihai ini sekarang. Salahkan saja suami mesumnya itu yang mengajarkan untuk melakukan itu. Tapi tetap dengan catatan, hanya bisa melakukan hal tersebut dengan dirinya. Tidak boleh ada lelaki lain.


****


"Belajar yang benar sayang. Jangan nakal" titah Ellard mencubit gemas pipi chubby Ara yang sejak tadi manyun.


"iih sakit tahu—" gerutu Ara mengusap bekas cubitan Ellard yang sebenarnya tidak sakit.


"Uda dong jangan cemberut gitu. Hilang cantiknya tuh" telunjuknya menoel-noel pipi Ara


"Siapa yang enggak kesal? Kamu buat banyak banget kissmark di leher aku," sembur Ara sambil merapikan letak syalnya agar tanda kemerahan dilehernya tidak terlihat. Bersyukur saat ini adalah musim dingin. Jadi tidak akan membuatnya terlihat aneh jika memakai syal.


Ellard menahan tawanya yang hampir meledak.


"Yah enggak usah ditutupin juga sayang. Itu hasil kerja keras aku lho— Capek tahu buatnya. kamu gak kasihan apa karya aku jadi sia-sia begitu" masih gencar menggoda


"Tapi kamu buatnya kebanyakan ini. Lihat aja punyamu bersih begitu"


Ellard menilik lehernya melalui kaca mobil. Bersih memang. Tidak ada satu pun jejak kepemilikan disana. Lalu sedetik kemudian dia mendekatkan kepalanya dan menghadapkan lehernya ke depan mulut Ara, yang refleks langsung memundurkan kepalanya.


"Ka—kamu ngapain?"


"Isap sayang, biar kita jadi sama. Kalau bisa gigitnya yang banyak ya, biar bisa aku pamerin" suruhnya enteng


Dukk


"Arrgghhh..." ringis Ellard mengusap-usap kepalanya yang tiba-tiba saja ditonjok


"Kok dipukul sih? Aku kan nyuruh gigit leher. Bukan pukul kepala"


"Gila kamu," dengus Ara

__ADS_1


"loh kan tadi kamu gak terima kalo leher aku bersih-bersih aja, yaudah aku kasih"


Ara memutar bola mata malas. Percuma mendebat suaminya. Ujung-ujungnya dia juga yang semakin dibuat kesal. Dua minggu menjabat sebagai istrinya membuat Ara harus belajar lebih menebalkan kesabarannya lagi. Pasalnya lelaki yang dinikahinya ini adalah mahluk yang sangat menyebalkan dan suka sekali menggodanya "Bukain pintunya. Uda mau masuk"


"Peluk dulu sayang baru aku buka" Ellard merentangkan tangannya menunggu dipeluk


"Sa-yang jangan becanda. Aku uda telat ini. Angel uda nelpon dari tadi,"


"Peluk atau tidak keluar sama sekali"


Ara menghela nafas panjang sebelum kemudian masuk kedalam dekapan hangat sang suami yang dibalas sangat erat. Ellard tersenyum. Mengecup lama pucuk kepala istrinya.


"Sampai jumpa nanti dirumah sayang. Jangan lupa makan banyak dan hubungi aku" ucapnya lalu melepaskan pelukan mereka serta membuka kuncian pintu mobil.


"Iya. Semangat kerjanya" balas Ara segera berlalu keluar dengan cepat karna dirinya sudah sangat terlambat akibat Ellard yang menahannya begitu lama. Ellard melambaikan tangan dan baru menjalankan mobilnya setelah sosok istrinya tidak terlihat lagi.


****


"Woii Ra, sini" seru Angel melambaikan tangan ketika melihat kemunculan sang sahabat didepan pintu kelas. Tepat saat Ara mendudukkan bokongnya, dosen yang mengajar mereka pagi ini belum muncul. Melihat itu Ara mendesah lega.


"Buset dahh, ngapain aja kalian di dalam mobil— lama banget. Jangan bilang kalian buat baby dulu disana ya?" celetuk Angel begitu frontal hingga membuat Ara langsung membekap mulutnya.


"Hmmpppttt" ronta Angel menepuk-nepuk tangan Ara yang membekapnya kuat


"Hahh..hah..hahhh! gila, kau mau buat aku mati ya"


"Masih rencana. Soalnya mulutmu itu kalo bicara gak ada saringannya" cibir Ara kembali duduk dengan benar


"Cih, memang benar kan. Kalian ehem-ehem dulu di mobil. Ayo ngaku deh"


"Angel—" peringat Ara melototkan mata


Dengan santai Angel memajukan kepalanya dekat telinga Ara


"Ada buktinya kok sayangku. Nih lehermu masih kelihatan jelas lho bekas kissmark-nya," bisik Angel. "Semalam main berapa ronde? Kayaknya suami hot-mu itu ganas banget ya di ranjang?"


Wajah Ara memerah padam mendengar bisikan yang hampir menyerupai desahan itu. Sontak dia langsung mendorong jauh wajah Angel. Cepat-cepat membenarkan kembali letak syal yang sialnya memang sudah bergeser akibat berlarian tadi.


Pletakk


"Aww— shhh" ringis Angel mengusap keningnya yang dijitak Ara "Sakit ****!"


"Idih, sombongnya mentang-mentang udah nikah"


Ara mengedikkan bahu santai "Emang"


Baru saja Angel akan menyerang balik, Ara lebih dulu menghentikannya dengan menempelkan telunjuk tangannya dimulut Angel sementara tangannya yang sebelah membaca pesan yang masuk diponselnya yang sejak tadi diabaikan.


Kak Leo


Ra, nanti temuin aku ya di taman. Ada yang ingin kubicarakan


Me


Ok kak


Ara menyimpan kembali ponselnya usai membalas pesan singkat itu. Bicara tentang Leo, sudah dua minggu ini dia tidak melihat sosok yang masih menempati hatinya itu. Ingin menanyakan keberadaannya namun Ellard selalu menempelinya. Hingga membuatnya lupa akan hal tersebut.


"Siapa?" Tanyaa Angel


"Kak Leo. Uda dua minggu ini aku enggak lihat dia,"


"Wajar aja. Si beruang kutub itu kan lagi sibuk nyiapin keberangkatannya ke London"


"Apa? London? ka- kak leo mau pergi?" Suara Ara naik satu oktaf


"Lah, bukannya kamu uda tahu?"


Ara menggeleng cepat


"Tumben. Biasanya kalo sesuatu yang menyangkut dia, kamu yang duluan dikabarin,"


"Kak Leo gak ada hubungi aku. Baru tadi aja"


"Hmm, dia maklum kali. Gak mau ganggu pengantin baru. Yaudah nanti temuin aja dia"


Ara hanya mengangguk lemah. Dan saat itu barulah dosen yang mereka tunggu-tunggu datang dengan tergesa-gesa. Meminta maaf prihal keterlambatannya. Sementara fokus Ara sudah terpecah sejak mendengar kabar Leo yang akan pergi jauh. Mendadak mood belajarnya hilang. Berharap kelas yang dilaluinya ini segera berlalu.

__ADS_1


****


"Kak Leo beneran mau pergi?" Tanya Ara begitu mereka sudah berada ditaman belakang kampus


"Ck, cepat banget beritanya tersebar" gerutu Leo


"Jadi?" Tuntut Ara


"Iya, lusa aku berangkat,"


"Kok mendadak gitu sih?"


"Papa minta bantuan aku buat handle perusahaan disana."


"Berapa lama?"


"enam bulan,"


Ara menunduk, Meremas ujung bajunya. Matanya sudah berkaca-kaca begitu mendengar lamanya kepergian lelaki itu.


"Jad-jadi karna itu kakak meminta bertemu disini," serak Ara


"Hei, kok malah jadi nangis?" Leo menangkup wajah Ara, membuatnya mendongak. Dan benar saja mata gadis dihadapannya itu sudah memerah.


"Gimana gak nangis- kakak mendadak pergi ninggalin aku," Ara mulai senggugukan


"Cih, cuma enam bulan doang bukan selamanya," jelas Leo sembari menyeka airmata Ara dengan lembut. "Lagian kamu sekarang gak sendirian lagi. Udah nikah dan punya suami. apa lagi coba yang kurang,"


"Ya tetap aja beda. Ellard cuma temanin aku dirumah. Kalau diluar kan ada kakak dan Angel. Tapi sekarang kakak juga mau pergi,"


"Widih seraka bener ini big bearku" Leo mengacak gemas surai Ara hingga berantakan. Membuat sang empunya semakin menangis keras bak anak kecil. Leo tertawa lepas melihat hal itu. Ditariknya Ara kedalam dekapannya dan mengelus lembut rambut yang sempat dia berantakin tadi. Ara masih senggugukan didalam pelukan Leo.


"Uda jangan nangis lagi. Gak malu apa— udah nikah tapi masih cengeng kayak anak umur tiga tahun,"


"Kak Leo meluk aku sebenarnya mau nenangin atau mau buat aku semakin kesal sih?" rengeknya.


"Dua-duanya sih" celetuk Leo


"Yaudah lepasin kalo git—"


Leo semakin tertawa lebar "Becanda sayang. Ihh ngambekan banget sih" sela Leo tidak membiarkan Ara lepas justru semakin mengeratkan pelukannya.


Sayang


Hati Ara berdesir mendengar Leo mengucapkan kata itu. wajahnya mendadak merona hingga dia berusaha semakin menyembunyikan wajahnya di dada Leo agar tidak terlihat.


Hening beberapa saat. Keduanya masih beta saling memeluk. Menyelami perasaan masing-masing saat perpisahan keduanya semakin mendekat. Bagi Leo, sebenarnya dia sangat berat berada jauh dari gadis kecilnya itu. Namun keadaan seakan mendukungnya untuk pergi. Ditambah lagi gadis kecilnya kini sudah menikah. Tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal disisi gadis itu. kalau pun dia tetap bertahan disisi Ara, maka dialah satu-satunya yang akan semakin terluka menyaksikan Ara-nya bersama dengan pria lain setiap hari.


"Ara" panggil Leo pelan tanpa melepaskan pelukannnya


"Hm"


"Berjanjilah selama aku pergi kau tidak akan menangis lagi. Kau harus tetap tersenyum dan bahagia," lirih Leo


Ara terdiam beberapa saat, namun sedetik kemudian dijawabnya dengan anggukan didada Leo.


"Kakak juga harus bahagia disana. Dan pastikan kakak akan selalu mengabariku,"


"hm, akan usahakan,"


Ara mengernyit mendengar jawaban yang tidak pasti menurutnya itu. dia mendongak menatap mata Leo yang saat itu juga menatapnya.


"Pokoknya harus. Tidak boleh tidak. Aku menunggu," Ara mengerucutkan bibirnya.


Lagi-lagi Leo tersenyum lalu secepat kilat mengecup kening gadis itu.


"Iya bawel ah" balasnya kembali memeluk Ara yang dibalas tak kalah erat oleh gadis itu.


Untuk yang terakhir kalinya biarlah begini...


To be continued


Bonus pic si abang yang gak mau bangun sebelum dikasih jatah pagi😅



See you next part...

__ADS_1


Jangan lupa sertakan vote dan komennya ya di part ini 😉


__ADS_2