
"Kyaaa... bagaimana sih cara masaknya?" dengus Ara frustasi dengan tangan masih terus sibuk men-scroll layar handphone mengenai resep makanan. Beef Lasagna. Ara sedang mencoba memasak menu tersebut di akhir pekan ini. Pagi-pagi sekali dia sudah pergi belanja sendiri ke supermarket untuk membeli bahan yang diperlukan. Ara tidak meminta bantuan pelayan, ia ingin mencoba melakukannya sendiri. Ini adalah pertama kalinya dia belajar memasak, padahal selama ini tidak pernah sekalipun dia masuk dapur jika tidak mengambil makanan yang sudah siap sedia. Namun sudah satu jam lebih, makanan itu sampai sekarang tidak terlihat wujudnya. Sejak tadi ia hanya menontoni bagaimana cara memasak makanan tersebut dari Youtube. Ingin segera mencoba, namun entah kenapa dia selalu tidak percaya diri. lagi dan lagi dia menonton video itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Ehh ******!!!" kejut Ara, ponsel ditangannya hampir jatuh
Ellard mendekat, mengambil ponsel Ara yang masih memutar tutorial video seorang wanita yang sedang memasak lasagna. Ellard mengangkat sebelah alisnya, menatap Ara lalu bahan masakan yang masih berada di dalam plastic belanjaannya dari supermarket tadi.
"Lasagna— kau tidak tahu cara memasak makanan semudah ini?"
Ara nyengir, ia mengaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"E-enggak. Tapi ini mau belajar buatnya," cicit Ara
"Jadi kenapa belum mulai?"
Lagi, Ara menggaruk tengkuknya. "waktu liat videonya keliatan gampang gitu, tapi pas mau mulai... kok jadi ribet yahh,"
Ellard berdecak, "makanya langsung dicoba, bukannya diliatin terus. Gimana mau jadi,"
Ellard memasukkan ponsel Ara kedalam saku celananya lalu mengeluarkan satu per satu bahan yang masih berada di dalam plastic belanjaan istrinya. Dari belakang Ara memperhatikan apa yang dilakukan suaminya itu.
"Jangan cuma lihat, cepat cuci dangingnya biar aku yang siapkan bumbu,"
"Siap bos" seru Ara begitu bersemangat.
Ellard hanya bisa menggeleng melihat betapa antusiasnya Ara. Apalagi saat melihat wajah dan senyum polos istrinya itu. Sebenarnya sudah sejak tadi dia berdiri diruangan pembatas dapur sambil menyandarkan satu sisi kepala ke dinding. Ara sama sekali tidak menyadari kehadirannya disana yang sudah lama memperhatikan keseriusan gadis itu menonton Youtube sambil sesekali menggerutu kesal. Bibirnya tersenyum tipis setiap kali melihat bibir mungil itu komat-kamit hingga akhirnya ia tidak tahan lagi menunggu lalu menghampiri pekerjaan istrinya yang tak kunjung terselesaikan. Ia sangat tahu Ara sama sekali tidak bisa memasak.
****
Satu jam kemudian diatas meja telah tersaji Beef lasagna, spaghetti dan tortellini. Italian food. Dengan kemampuan memasaknya, Ellard menambah dua jenis menu lagi untuk makan siang mereka. Ara berdecak kagum ketika melihat semua makanan itu. Tatanannya rapih dan sangat mengugah selera.
"Woah... aku tidak menyangkah kalau kau ternyata sangat mahir memasak," puji Ara sambil bertepuk tangan bangga
Ellard menarik kursi kemudian duduk disebelah Ara yang telah menyendokkan makanan ke dalam piring mereka berdua.
"Hmm... makan dan pastikan ini semua harus habis,"
"Ohh itu pasti," Ara mengangguk semangat, segera melahap hidangan didepannya dengan antusias. "Hemm... ini enak sekali,"
Ellard menyunggingkan senyum, sebelah tangannya mengusap lembut puncak kepala istrinya yang begitu lahap sebelum kemudian ia juga ikut makan.
"Terimakasih buat makanannya, hari ini aku kenyang banget. Sering-sering ya masak seperti ini," celetuk Ara setelah menghabiskan semua makanan yang mereka masak tadi tanpa bersisa. Sementara Ellard hanya makan sedikit.
Pletakk
"Arrgghh..." ringis Ara mengusap dahinya yang dijitak Ellard "kok di sentil sihh?"
"Itu buat istri yang ngelunjak," sahut Ellard santai "Setelah ini aku mau kau harus ikut kursus memasak,"
"Kan uda ada koki yang tiap hari masakin,"
"Memangnya siapa sekarang yang jadi istriku? Kau atau koki dirumah ini?" Ellard mendelik tajam
"Ya a-aku sih, tapi kan—"
"Gak ada alasan. Kedepannya semua keperluan pribadiku dan sampai apa yang akan kumakan, kau yang harus mengerjakannya. Selebihnya biar pelayan yang kerjakan,"
Ara menghela nafas. Percuma membantah, "Ya baiklah tuan muda yang terhormat,"
"Coba katakan sekali lagi?" Ellard menyorot tajam
"Hehe, maksudnya... Baiklah sayangku" Ara cepat-cepat memperbaiki kalimatnya sebelum tanduk iblis suaminya itu muncul. Ia mengusap-usap bisep Ellard sambil nyengir.
Tiba-tiba suara ponsel terdengar, Ellard mengangkat panggilan langsung menempelkannya ditelinga. "Halo dad"
"Sore ini datanglah kerumah bersama Ara. Om, tante dan para sepupumu datang berkunjung kerumah. Mereka ingin kita semua makan malam bersama," sahut Holland
"Baiklah dad, nanti kami datang"
__ADS_1
"Ok son, titip salam buat menantu kesayanganku"
Ellard tersenyum tipis, "Salam diterima Dad"
"Daddy?" tanya Ara yang sejak tadi diam mendengar
"Hm, sore ini kita diminta datang kerumah. Adik daddy dan anak-anaknya datang berkunjung untuk dinner bersama. Family time"
Ara hanya mengangguk ber oh ria. Namun dalam hati ia sedikit meringis, makan malam keluarga berarti dia akan bertemu lagi dengan keluarga besar suaminya. Sewaktu pernikahan mereka, ia tak sempat bercakap-cakap langsung dengan para keluarga Ellard yang lainnya. Karna dirinya disibukan menyalami tamu-tamu yang hadir dan lagi keluarga besar suaminya itu pun juga tampak langsung pulang ke rumah masing-masing sesusai acara. Bahkan penolakan Oma Ela saja masih membekas, konon lagi malam ini mereka pasti akan bertemu lagi.
****
Acara makan malam itu berlangsung di belakang mansion. Mereka membuat api unggun di halaman dan mengadakan acara barbeque. Tidak seperti yang Ara perkirakan, ternyata om, tante dan para sepupu Ellard sangat ramah dan hangat. Mereka memperlakukan dirinya disana sangat baik. Dalam hati ia merasa sangat bersyukur karna apa yang dia kahwatirkan sama sekali tidak terjadi. Dia hanya takut dirinya tidak akan diterima atau bakalan dicibir namun sampai detik ini dia disambut dengan hangat. Kecuali sang Oma yang sejak tadi tidak mempedulikan kehadirannya sama sekali disana. Ara sempat menyalam Oma dan kali ini oma menyambutnya meski tatapan matanya masih tetap ketus. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya kali ini lebih baik daripada tidak direspon sama sekali.
"Jadi Ara masih kuliah ya?" tanya tante Maya, wanita paru baya yang terlihat masih cantik
Saat ini mereka tengah duduk bersantai menikmati beberapa cemilan dan anggur setelah sebelumnya menyantap makanan berat.
"Iya tante," jawab Ara sekenanya
"Woah, masih muda ternyata. Sayang banget tuh kamu langsung nikah. Kalo tante jadi kamu, tante akan meniti karir dulu daripada nikah diusia semuda ini,"
"Salahkan keponakanmu tuh sayang. Yang uda kebelet nikah," goda om Hans sambil melirik Ellard yang tengah meneguk winenya santai, tampak tidak terusik.
"Si El takut tuh, Ara keburu diambil orang," celetuk Aldrich
"Iya betul, kalo enggak kak El gak bakalan ngadaian pesta pernikahan secepat kemarin. Sementara selama ini kita tahu kalo kak El banyak digilai banyak perempuan cantik. mulai dari kalangan model sampai para wanita karir yang sukses. Mereka semua pengen dinikahin sama kak El tapi sayangnya Cuma Ara yang berhasil menyandang status nyonya Miller di keluarga kita. Hebat kamu Ra," Fera berucap bangga sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Ara.
Ara tersenyum kikuk. Melirik Ellard yang berada disebelahnya, masih beta diam sambil mengoyang pelan gelas winenya.
"Tapi wajar sih. Secara Ara masih muda dan manis banget. Mungkin kalo aku yang duluan ketemu dengan Ara— bakal ngelakuin hal yang sama juga. Jadi pebinor aku juga rela" tutur Aldrich sambil mengerlingkan matanya
BUG
"What the fuc—" Aldrich tidak meneruskan umpatannya ketika menatap pelaku yang melemparkan bantal sofa tepat ke wajahnya. Disana Ellard menatapnya tajam.
"Ini anak kayaknya pengen banget dikebiri. Jangan macam-macam lo," sinis Ellard seraya langsung merangkul bahu Ara
Akhirnya tawa semua yang ada disana pecah melihat aksi konyol kedua sepupu itu. Ellard yang sejak tadi tidak bereaksi menjadi ganas ketika mendengar ucapan frontal sepupunya yang terang-terangan menyuarakan keinginannya untuk merebut Ara darinya.
"Selamat malam semua"
Sapaan suara lembut itu sontak membuat mereka yang sedang tertawa seketika terhenti lalu mengalihkan pandangan pada sosok gadis cantik yang sedang berdiri dihiasi dengan senyum mempesonanya.
"Clarissa sayang, kau sudah datang" sergah Oma bersemangat. Ia menghampiri Clarissa dan menuntun tangan gadis itu untuk duduk disebelahnya.
"wahh.. kak Cla makin cantik aja" ucap Fani, saudara kembar Fera
"ngawur kamu. Perasaan dari dulu kakak begini-begini aja," Clarissa mengibaskan tangannya didepan wajah dengan senyuman yang masih terpatri
"Beneran lho kak. Aku gak bohong. Kakak memang makin cantik tahu" Fani tak mau kalah
Clarissa tertawa, "Yaya baiklah fani sayang. Makasih ya"
"Cla, kenapa kamu kesini?" tanya Ellard
"Aku—"
"Oma yang suruh datang. Kan Clarisaa uda seperti keluarga kita juga, jadi gak ada salahnya dong Oma suruh dia ikut gabung," Potong Oma sembari mengelus tangan Clarissa hangat.
"Apa itu Cla?" Aldrich menunjuk paper bag yang masih dipegang Clarissa
"Oh ini— tadi sebelum kemari aku buat macaroons. Gak tahu rasanya enak atau tidak," cengir Clarissa sambil meletakkan kotak yang dibawahnya diatas meja lalu membukanya
"Wahh, ini kan dessert kesukaan Ellard. Kita berdua pernah buat ini dulu. Kamu masih ingat ajah ternyata" ucap Oma sambil melirik Ellard
"Yahh... berarti ini buat si El aja dong," dengkus Aldrich
__ADS_1
"Bukan begitu, aku buat ini untuk dimakan semuanya kok" selah Clarissa
"Asikk.. aku cobain ya kak," Fera berbinar langsung mengambil satu macaroon dan mengunyahnya dengan lahap.
Setelah Fera, disusul yang lainnya mengambil dan mencicipi makanan tersebut. Ellard juga turut mengambilkan bagiannya dengan Ara. Mereka menikmati hidangan tersebut sambil tersenyum memuji kenikmatan macaroons buatan Clarissa.
"Ini enak sekali Cla, tante saranin sebaiknya kamu buka tokoh roti deh. Pasti bakalan laku keras" puji tante Maya "Selain cantik dan pintar, ternyata kamu juga jago masak. Beruntung banget nanti pria yang bisa dapatin kamu."
"Haha, bisa aja tante ini,"
"kalo dirumah Ara juga pasti jago masak kan?" tanya Maya pada Ara yang sejak tadi diam dan terlalu focus menyantap macaroon ditangannya.
Ara menghentikan kunyahannya, "Ara gak pintar masak tante," akunya jujur
Maya mengerjap, agak terkejut "oh begitu ya... enggak apa-apa Ara, nanti kamu bisa belajar sedikit demi sedikit."
"Ya ampun, memasak saja pun tidak bisa. Jadi apa yang bisa dibanggakan dari kamu kalau begitu?" sarkas Oma menusuk
"Ma—" peringat Holland. Sejak tadi ia sudah mewanti-wanti ucapan pedas yang keluar dari mulut mamanya
"Sejarahnya, sejak dulu para wanita di keluarga ini semuanya sangat mahir dalam hal memasak sekalipun sibuk. Tapi baru kali ini ada wanita di keluarga kita yang tidak tahu masak. Apa-apaan ini. Bikin malu saja,"
Semua orang yang berada ditempat itu seketika terdiam. Oma yang sejak tadi banyak diam sebelum kedatangan Clarissa kini banyak bersuara. Bahkan kali ini ucapannya lebih menusuk pada Ara.
"Oma, istriku tidak perlu harus tahu memasak. Aku sudah mempekerjakan banyak koki dirumah." Ellard yang menjawab. "Just simple, tugas istriku hanya mengurus keperluan pribadiku dan anak-anak kami nantinya. That's it" sambungnya rendah namun tak kalah tajam.
Ara yang sejak tadi menunduk karna mengalihkan matanya yang memanas, kini mendongak menatap Ellard yang begitu membelanya. Ellard mengenggam tangan Ara dan membawanya bangkit berdiri. Menatap menyeluruh kepada keluarganya.
"Sudah semakin larut, kami pamit pulang duluan." ucap Ellard dan langsung pergi membawa istrinya keluar dari sana meninggalkan keluarganya yang masih termanguh.
"Hm, that's my son" Holland tersenyum simpul
Sementara Clarissa melihat semuanya dengan perasaan ngilu. Bagaimana Ellard yang begitu melindungi Ara dan menggenggam tangannya seakan memberikan kekuatan lalu membawa gadis itu pergi bersamanya. Semua pemandangan itu sungguh terasa menyakitkan.
****
Ara tengah duduk ditepi tempat tidurnya dengan kaki menjuntai ke lantai, menghadap ke balkon kamar. Pikirannya melayang. Mengingat kejadian yang terjadi tadi. Sungguh hatinya sakit saat mengingat setiap perkataan Oma, terlebih sekarang didepan keluarga suaminya yang lain. Oma begitu menyayangi Clarissa, sementara dirinya terlihat begitu menjijikkan dimata sang oma. Ara cemburu, ia tidak memungkirinya. Clarissa terlihat begitu istimewa di keluarga Ellard, membuatnya merasa tersisih.
"jangan diingat lagi,"
Ara mendongak, itu Ellard yang baru saja selesai mandi. Ellard duduk disampingnya, mengambil telapak tangan Ara lalu meremasnya. Sesekali ia mempermainkan cincin yang tersemat dijari manis Ara.
"Bersabarlah. Oma cuma perlu waktu untuk melihat seberapa menggemaskannya cucu menantunya ini," Ellard menarik gemas pipi bulat Ara
"iihh sakit tahu. minggir sana-- aku mau tidur," Ara mendorong dada telanjang Ellard. Ia membaringkan tubuhnya setelah menarik selimutnya.
Ellard terkekeh sebelum kemudian menyusul istrinya masuk kedalam selimut dan memeluk erat tubuh Ara. ia menyematkan ciuman di kening Ara. tangannya membelai rambut istrinya.
"Kau mau kuberitahu sesuatu?"
"apa?" Ara mendongak
"Aku menyayangi Clarissa hanya sebagai sahabat. Jangan pernah salah paham. Oma juga menyayangi Cla dan sering membandingkanmu dengannya. Tapi aku harap kau jangan pernah terpengaruh."
"maksudmu?"
"Sebenarnya sejak dulu, gadis yang diinginkan Oma untuk menjadi istriku adalah Clarissa. Tapi aku menolaknya"
Ara bergeming. Menatap dalam manik tegas Ellard.
"Dengar, satu-satunya wanita yang ingin kujadikan pendamping hidupku adalah kau. Aku tidak pernah memilih wanita lain dari padamu. Karna itu apapun yang akan terjadi kedepannya, tetaplah bersamaku. jangan pernah pergi kemana pun. Berjanjilah kau akan memperjuangkanku sama seperti aku yang memperjuangkanmu. sekalipun aku tahu bahwa dihatimu sama sekali belum ada aku disana. Tapi aku akan tetap sabar menunggu sampai hatimu berbalik menginginkanku sebanyak aku menginginkanmu,"
Suara Ellard terdengar hangat di telinganya. Ellard tersenyum, kemudian secara perlahan pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir keduanya. Ellard menghisap bibir Ara bergantian hingga Ara pun secara perlahan membuka bibirnya untuk menerima dan membalas ciuman pria itu. keduanya saling berciuman intens, perlahan dan tidak terburu-buru. Namun lama kelamaan ciuman itu semakin dalam dan semakin panas.
Ara dan Ellard memisahkan tautan bibir mereka ketika napasnya mulai terasa pendek.
"Aku menginginkanmu," kata Ellard dengan suara parau. Menatap gelap pada iris milik Ara.
To be continued
__ADS_1
Olaaa...kelamaan up nya yahh 😅
Hehehe..