Touching Heart

Touching Heart
Enam Belas


__ADS_3

Love yahhh


HAPPY READING


.


.


.


Pagi


menyapa, Ara duduk termangu semalaman di sofa menunggu kedatangan


suaminya. Namun bahkan sampai detik ini, sosok yang ditunggunya tak


kunjung muncul. Ellard tidak pulang. Dan ia tahu dimana lelaki itu


sekarang berada. Tersenyum getir, Ara bangkit dari sofa bersiap-siap


untuk masuk kantor. Padahal ia nyaris tidak tidur semalaman penuh. Namun


karena tanggung jawab, dia harus tetap kerja.


Tiga puluh menit


kemudian dia telah selesai. Melewatkan sarapannya, ia langsung bergegas


masuk kedalam mobil. Blake, sang tangan kanan suaminya telah menunggu


kedatangannya disana.


"Selamat pagi nona" sapa Blake tersenyum kecil


Ara


hanya tersenyum mengangguk. Tangannya baru akan membuka handle pintu


mobil namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan


dengan hentakan sedikit kuat menarik tubuhnya berbalik lalu


PLAK


"Nona!" teriak Blake tak kalah terkejut


Kepala


Ara tertoleh ke samping akibat tamparan keras tersebut. Pipinya terasa


perih. Orang tersebut menamparnya sekuat tenaga. Ara memejamkan matanya,


menetralisir sakit di wajahnya. Setelah cukup ia berbalik menatap sosok


tersebut.


"O—ma" kejut Ara tercekat


"Nona anda baik-baik


saja?" Blake kahwatir. Ingin menyentuh namun ia tahu sampai dimana


batasannya. Alhasil Ara hanya mengangguk lemah, berusaha tetap


tersenyum.


"Ad—ada apa oma? Kenapa oma menamparku?"


"lihat


itu, hasil perbuatan memalukan yang kamu lakukan semalam" Oma melempar


kasar surat kabar ke tubuh Ara yang sejak tadi diremasnya kuat.


Ara


memungut surat kabar yang terjatuh itu lalu segera membaca berita yang


termuat dihalaman paling depan. Ia menelan ludah ketika berita itu


memuat tentang kejadian semalam saat dia mendorong Clarisa ke dalam


kolam renang. Disana dikabarkan kelakuannya yang bar-bar dan tidak


memiliki etika yang baik sebagai istri dari pengusaha konglomerat.


"Gara-gara


purbuatanmu citra baik Ellard dan keluarga ini tercoreng" sentak Oma,


sedang Ara masih membeku, masih menatap nanar surat kabar tersebut.


"Belum lagi dengan beraninya kau mendorong Clarisa ke kolam. Dimana


otakmu waktu melakukan itu hah? Dasar perempuan tidak tahu diri! Ellard


sudah baik menikahimu dan keluarga ini menerimamu dengan tangan terbuka.


Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah mempermalukan keluarga kami.


Asal kamu tahu Clarisa berlipat kali jauh lebih baik darimu tapi


nyatanya cucuku buta akan hal itu. Brengsek!"


Ara menunduk, tubuhnya bergetar. Memejamkan mata saat makian Oma kali ini benar-benar sangat menyakitinya.


"Nyonya tidak sepert—"


"Diam kamu Blake!" sentak Oma


"Saya


tidak mau tahu, kamu harus minta maaf pada Clarisa. Dan berhenti


bertingkah memuakkan di keluarga ini kalau kamu masih mau dianggap


dirumah ini. Jangan pernah lagi memunculkan dirimu di depan public


bersama Ellard."


Ara masih tetap diam. Mendongakkan wajah, setetes bulir bening jatuh membasahi pipinya.


"Terimakasih


untuk tamparannya Oma. Aku harap dengan ini perasaan Oma sudah lega.


Maaf sudah membuat keluarga ini malu. Lain kali aku akan lebih


berhati-hati lagi," Ara membuka handle pintu, mengangguk kecil. "Aku


pamit Oma, semoga hari Oma terlalui baik hari ini. Senang mendapat


kunjungan dari Oma pagi ini"


Ara mengusap kasar air matanya. Ia


segera masuk ke dalam mobil. Membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak


ketika mobil sudah mulai melajuh. Kepalanya tersandar lemah di kaca


jendela, menatap jalanan yang dilalui. Sekali lagi menguatkan diri.


Tidak apa-apa. Dia sudah terbiasa mendapat perlakuan begini.


****


Sesampainya


di kantor, dokumen sudah menumpuk di atas mejahnya. Ara menghembuskan


nafas kuat, mencoba menegarkan hati dan merubah raut wajahnya secerah


mungkin seperti tidak terjadi apa-apa. Dia harus fokus.


"Kamu baru datang Ra?" Emma bertanya disamping Ara


"Iya kak. Maaf sedikit telat," Ara nyengir


"Ah


bukan hal besar— ya ampun Ra, itu muka kamu kenapa memar begitu?" Emma


membulatkan matanya begitu menyadari wajah Ara yang memerah. Ia hendak


menyentuh namun dengan cepat ditahan oleh Ara.


"Tadi karna buru-buru enggak sengajah jatuh. Uda gak sakit kok" kilah Ara


"Tapi harus diobatin dulu itu"


"Iya nanti setelah ini selesai ya. Udah deh ini bukan apa-apa"


Emma memicing. "yakin?"


"Iya seriusan" Ara mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya


"yaudah deh— kalau begitu selamat bekerja,"


Ara menyunggingkan senyum. Kembali menatap layar computer ketika Emma sudah kembali ke kubikelnya.


Ting


Ponsel Ara berbunyi, pop up ponselnya menunjukkan pesan masuk dari Ellard


Jam makan siang nanti datang keruanganku.


Singkat tanpa ada embel-embel kata sayang seperti biasanya. Sepertinya lelaki itu masih marah, apalagi berita


mengenai kejadian semalam sudah beredar luas pagi ini. Tanpa membalas ia


memasukkan begitu saja ponselnya ke dalam tas selempangnya. Mulai


menekuni pekerjaannya sekalipun hati dan pikirannya tengah berantakan.


****


Tepat


memasuki jam makan siang, Ara menghentikan pekerjaannya. Emma sempat

__ADS_1


mengajaknya makan bersama tapi terpaksa ia tolak, mengingat dia harus


menemui Ellard di ruangannya. Di depan pintu dia lebih dahulu menarik


nafas lalu menghembuskannya pelan. Menegarkan hati, siap untuk


dipersalahkan lagi. Dan kali ini dari lelaki yang telah berhasil


memiliki hatinya. Yah, Ellard sudah berhasil membuatnya jatuh, jatuh sedalam-dalamnya. Ara mencintai Ellard. Ia telah kalah pada hatinya dan tidak bisa mengelak lagi.


Perlahan


Ara menekan knop pintu, memasuki ruangan besar itu lebih dalam dan


tidak jauh dari sofa sosok yang memiliki tubuh atletis itu tengah


berdiri membelakanginya, memandang hamparan gedung-gedung pencakar


langit yang terlihat menawan.


"Kamu memanggilku" Ara membuka percakapan


Ellard berbalik. Menatap Ara cukup lama hingga membuat gadis itu bergerak sedikit risih ditatap begitu intens.


"Kemarilah. Kita makan dulu" Ellard menunjuk dengan dagunya pada beberapa makanan yang sudah tertata rapih di atas meja.


Ara


mendekat dan menduduki sofa sebelum kemudian disusul oleh Ellard yang


langsung mengambil tempat disisinya. Tanpa disuruh Ara menyendokkan


makanan kedalam piring mereka berdua.


"Satu tempat saja. Aku mau disuap," celetuk Ellard santai


"Ha?" Ara cengoh, mengerjap beberapa kali. Benarkah dia tidak salah dengar?


"Kenapa? enggak mau suapin aku?" Ellard menaikkan alisnya


"Bukan begitu— ah baiklah" putus Ara tidak ingin memperpanjang.


Tanpa


Ara ketahui, Ellard mengulum senyum. Dalam diam mereka makan dengan


tenang. Ara menyuapi suaminya baru kemudian dirinya. Tidak ada yang


mengeluarkan suara. Namun kali ini Ara benar-benar gugup. Jantungnya


berdetak lebih cepat dari biasanya. Karna selama makan Ellard tak


sedetik pun mengalihkan pandangan dari dirinya. Hingga acara makan itu


berakhir, diam-diam ia menghela nafas lega. Segera merapikan kembali


tempat makan tersebut.


"Sudah selesai. Kalau begitu aku harus kembali keruangan—ku"


"Aku ngantuk" potong Ellard sebelum Ara menyelesaikan ucapannya sepenuhnya.


Ara menatapnya horor. "Kalau begitu istirahatlah. Aku—"


Ellard menangkap pergelangan tangan Ara. "Temani aku tidur" ujarnya begitu santai


"Tapi aku masih banyak pekerjaan," protes Ara


"Aku


bosnya kalau kamu lupa" pungkasnya, bangkit berdiri— membawa langkah


keduanya memasuki sebuah kamar, tempat dia biasa beristirahat sejenak


jika terlalu lelah bekerja. Ellard membawa Ara berbaring ditengah


ranjang. Ia segera memeluk erat tubuh Ara yang hendak melarikan diri.


Lalu dengan santainya ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Ara,


menciumi leher tersebut— menjilati dan menghisapnya pelan.


"El— apa-apan kamu ih. Aku harus balik kerja," Ara mendecak, mendorong dahi Ellard yang terus bergerak liar di lehernya.


"Kita


istirahat dulu sayang. Aku sudah beritahu Emma untuk menghandle


pekerjaanmu sementara. " Ellard menghentikan aksinya, menatap lekat pada


manik istrinya yang tampak begitu lelah. Lingkaran hitam di kedua


matanya begitu kentara.


"Tidur. Aku tahu semalaman kamu enggak ada tidur kan?"


"Sok tahu kamu" Ara mendengkus.


"Terlihat jelas sayang. Tuh lihat mata pandamu. Uda mirip zombie, beneran" tunjuknya seraya menghembus mata Ara bergantian


Ara terdiam, tidak menanggapi. Bagaimana mungkin pria ini bisa tahu? Apakah terlihat jelas?


Ellard


Ara tidak menatapnya lagi melainkan langit-langit kamar. Terlalu


canggung dengan situasi sekarang ini.


"Maaf" begitu pelan namun mampu mengalihkan perhatian penuh Ara padanya.


"apa?" Ara mengernyit


Tidak


menjawab, Ellard menangkup wajahnya lalu mencium dan menghisap bibirnya


begitu dalam. Blake sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa


istrinya semalam setelah ia meninggalkannya disana. Dari mulai Ara-nya


menangis dalam diam sepanjang perjalanan sampai kejadian tadi pagi waktu


Oma memaki istrinya dan menampar wajah bulat itu. Ia murka dan merasa


sangat bersalah. Sejak tadi dia tidak bisa focus bekerja ketika dirinya


tak berhenti memikirkan istrinya. Ia melupakan satu hal bahwa Ara tidak


akan pernah membela dirinya sekalipun dia benar. Mulut itu akan terus


mengatup rapat dan menahan sakitnya sendiri. Ellard menyatukan dahi


mereka setelah ciuman itu terlepas.


"Aku minta maaf telah


meninggalkanmu sendirian. Aku hanya terlalu shock dan tidak bisa


berpikir jerni. Kemarin juga saat mengantar Cla, dia jatuh sakit. Aku


tidak bisa meninggalkannya begitu saja," aku Ellard penuh penyesalan.


Matanya memerah.


"Aku mengerti. Jangan terlalu menyalahkan


dirimu" sahut Ara tersenyum kecil. Mengusap lembut pipi Ellard. Ia pikir


lelaki dihadapannya ini juga akan kembali menyalahkannya.


Ellard


membenamkan wajahnya di bahu Ara. "Aku tidak benar-benar marah padamu.


Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir. Namun nyatanya waktu yang


kuambil justru menyakitimu— aku tidak ada disana waktu mereka


merendahkanmu bahkan membelamu waktu Oma juga turut melakukan hal yang


sama. Maaf sayang,"


Hati Ara menghangat mendengar pengakuan jujur


suaminya. Mereka hanya saling salah paham. Ellard tidak menyalahkannya.


Pria itu hanya membutuhkan waktu untuk tidak meledakkan amarahnya yang


bisa saja salah sasaran. Ara mengelus lembut rambut legam suaminya, ia


tersenyum hangat.


"Sudahlah jangan diingat lagi. Semuanya telah berlalu"


Ellard mendongak, menatap bekas kemerahan yang masih terlihat samar diwajah putih istrinya.


"Apakah sakit?" tanya pelan seraya mengusap lembut sisi wajah Ara yang terkena tamparan.


Ara menggeleng cepat.


"Jangan bohong— aku akan membuat perhitungan pada Oma nanti," geramnya "Oma sudah keterlaluan"


"Jangan.


Biar bagaimana pun beliau orang tua. Oma hanya terlalu mengkahwatirkan


nama baik cucunya yang tercoreng karna perbuatanku. Jangan coba-coba


melakukan apapun" peringat Ara


Ellard mendecih namun semakin mengeratkan dekapannya hingga tak berjarak.


"El, aku susah bernafas kalo begini," gerutu Ara namun sama sekali tidak didengar.


"Berjanjilah satu hal"


Ara menarik mundur wajahnya, menatap iris tegas Ellard yang tengah menatapnya serius. "apa lagi?"


"Berhenti

__ADS_1


berpura-pura tetap baik-baik saja ketika kamu benar-benar terluka.


Berhenti bersikap bodoh dan naïf. Jika sakit katakan sakit, jika sudah


tidak kuat, menyerahlah. Jangan memendamnya sendiri. Datang padaku,


ceritakan semuanya. Aku suamimu. Kamu tidak perlu kuat ketika bersamaku,


biarkan aku yang menanggungnya. Mengerti?" ucap Ellard penuh penegasan.


Ia muak melihat sikap sok kuat istrinya itu.


Ara bergeming.


Sesekali ia mengerjap— kehilangan kata, kaget karna tidak menyangka


Ellard mengetahui kalau selama ini dia hanya berpura-pura tampak baik


diluar. Tapi tidak berapa lama kemudian dia mengangguk lambat dan


langsung dihadiai kecupan lama dikeningnya. "Good wifey"


"Tidurlah.


Kamu memerlukan banyak istirahat untuk mengganti energimu yang terkuras


karna menungguiku semalaman" Ellard mengulum senyum geli dan terang


saja langsung dihadiai cubitan di perut liatnya.


"Perasaan" Ara mendengkus, menyurukkan wajahnya sepenuhnya pada dada bidang suaminya. Terasa begitu nyaman dan menenangkan.


"El..."


"Hm"


"Bagaimana berita semalam yang sudah tersebar luas? Pasti sangat memalukanmu" lirih Ara


Ellard menunduk, meraih dagu Ara yang bersembunyi di dadanya, mendongak kearahnya


"Apa ini namanya bentuk kekahwatiran seorang istri?"


"Aku serius El" decak Ara


"It's


ok sayang. Semua baik-baik saja. Aku sudah menyuruh Blake untuk


menghapus pemberitaan itu." Ellard mengecup gemas pipi Ara bergantian.


"Apa


kamu tidak malu punya istri gendut sepertiku? Orang-orang akan terus


mencibirmu kalau kita jalan bersama. sepertinya aku harus mulai diet


ketat agar tidak mempermalukanmu—"


"Berhenti berbicara omong


kosong." Ellard memotong, tidak terima "Aku tidak pernah malu. Justru


aku sangat bahagia memilikimu. Enggak ada yang salah dengan tubuhmu.


Bagiku semua yang ada padamu uda sempurna. Aku suka, seriously"


"Tapi


kayaknya aku memang harus menurunkan berat badanku. Aku beneran enggak


percaya diri waktu muncul bersamamu" Ara mengigit bibir bagian dalam,


meredam isakan. Kali ini ia benar-benar sangat terusik dengan setiap


ejekan orang-orang padanya. Apalagi makian itu juga mempengaruhi citra


suaminya. Sungguh ia tidak ingin Ellard juga menanggungnya


Ellard


menangkup wajah bulat Ara, sepasang mata yang sudah berkaca-kaca dan


langsung diciumnya bergantian hingga bulir bening itu jatuh.


"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya" Ellard mengusap air mata Ara lalu menyematkan kecupan di pipinya lagi.


"Jika


kamu ingin lebih langsing atau apapun yang membuatmu terlihat lebih


baik, baiklah lakukan. Tapi ingatlah, dimataku kamu sudah sangat


sempurna. Aku lebih suka dirimu yang seperti ini. Namun kalau kamu tetap


tidak percaya diri dan selalu sedih begini, maka lakukanlah. Asalkan


hal itu bisa membuatmu bahagia dan tetap berada disisiku."


Sekali


lagi bulir bening itu kembali jatuh begitu saja. Entah mengapa tiba-tiba


semuanya terasa mellow. Apalagi ketika mendengar setiap perkataan


Ellard yang membuat hatinya begitu menghangat. Lelaki ini benar-benar


menerimanya tanpa melihat setiap kekurangannya. Selama pernikahan Ellard


selalu memperlakukannya begitu lembut, menghargainya dan membuat


dirinya senyaman mungkin. Setiap kali ada masalah atau hal-hal yang


tidak beres yang terjadi diantara mereka, Pillow talk seperti


inilah yang pada akhirnya akan meluruskan setiap kesalahpahaman mereka.


Ellard akan memeluknya seperti ini dan membicarakan semua unek-unek


diantara mereka berdua lalu mencari jalan keluar yang terbaik agar


hubungan mereka kembali hangat seperti semula.


Coba katakan,


bagaimana dia tidak bisa jatuh cinta pada lelaki ini? Disaat yang lain


menyakiti, Ellard akan mengobati. Sekalipun tidak menutup kemungkinan


juga jika suatu hari nanti Ellard akan menggoreskan luka, maka dapat


dipastikan luka dari lelaki inilah yang akan menjadi paling sakit


daripada luka-luka sebelumnya yang ia terima selama ini dari orang lain.


“Aku


punya teman yang bisa membantumu mengatasi masalah berat badan maupun


penampilan seperti ini. Nanti aku akan coba menghubunginya— uda jangan


nangis lagi” sekali lagi Ellard mengusap setetes air mata Ara yang


kembali jatuh.


“Terimakasih” Ara melingkarkan tangannya di leher Ellard “cium aku, sayang”


“Apa?”


Ellard mengerjap, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ara tidak


pernah meminta dicium, yang ada selama ini hanya dia yang melakukan


kehendaknya tanpa meminta persetujuan istrinya itu lebih dulu.


“I miss you. Just kiss me” pinta Ara begitu lembut


Bagai


mendapat air di padang gurun pasir, Ellard begitu bersemangat.


Merebahkan kepala Ara ke bantal dan merangkak ke atasnya untuk


menciumnya dengan benar dan lihai. Lidahnya diselipkan kedalam mulut


Ara, dan perempuan itu menghisap, menggigit pelan dan membelainya.


Bertukar saliva, mereka dalam posisi itu sangat intens dan benar-benar


berciuman selama beberapa menit tanpa jeda.


Sampai ******* panas


itu terhenti ketika Ara memintanya untuk lepas karna pasokan udara yang


mulai tidak cukup. Ellard menggulingkan kembali tubuhnya disamping Ara


dan kembali mendekap erat tubuh perempuan kesukaannya tersebut.


“Tidur. Jangan sampai aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi sayang,” saran Ellard dengan tatapan sayu penuh gairah


Ara


terkekeh, lebih memilih membalas pelukan Ellard dan memejamkan matanya.


Ellard mengecup puncak kepalanya seraya mengusap naik turun punggung


Ara sebelum kemudian ikut memejamkan mata.


 


 


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


 


 

__ADS_1


__ADS_2