
Love yahhh
HAPPY READING
.
.
.
Pagi
menyapa, Ara duduk termangu semalaman di sofa menunggu kedatangan
suaminya. Namun bahkan sampai detik ini, sosok yang ditunggunya tak
kunjung muncul. Ellard tidak pulang. Dan ia tahu dimana lelaki itu
sekarang berada. Tersenyum getir, Ara bangkit dari sofa bersiap-siap
untuk masuk kantor. Padahal ia nyaris tidak tidur semalaman penuh. Namun
karena tanggung jawab, dia harus tetap kerja.
Tiga puluh menit
kemudian dia telah selesai. Melewatkan sarapannya, ia langsung bergegas
masuk kedalam mobil. Blake, sang tangan kanan suaminya telah menunggu
kedatangannya disana.
"Selamat pagi nona" sapa Blake tersenyum kecil
Ara
hanya tersenyum mengangguk. Tangannya baru akan membuka handle pintu
mobil namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan
dengan hentakan sedikit kuat menarik tubuhnya berbalik lalu
PLAK
"Nona!" teriak Blake tak kalah terkejut
Kepala
Ara tertoleh ke samping akibat tamparan keras tersebut. Pipinya terasa
perih. Orang tersebut menamparnya sekuat tenaga. Ara memejamkan matanya,
menetralisir sakit di wajahnya. Setelah cukup ia berbalik menatap sosok
tersebut.
"O—ma" kejut Ara tercekat
"Nona anda baik-baik
saja?" Blake kahwatir. Ingin menyentuh namun ia tahu sampai dimana
batasannya. Alhasil Ara hanya mengangguk lemah, berusaha tetap
tersenyum.
"Ad—ada apa oma? Kenapa oma menamparku?"
"lihat
itu, hasil perbuatan memalukan yang kamu lakukan semalam" Oma melempar
kasar surat kabar ke tubuh Ara yang sejak tadi diremasnya kuat.
Ara
memungut surat kabar yang terjatuh itu lalu segera membaca berita yang
termuat dihalaman paling depan. Ia menelan ludah ketika berita itu
memuat tentang kejadian semalam saat dia mendorong Clarisa ke dalam
kolam renang. Disana dikabarkan kelakuannya yang bar-bar dan tidak
memiliki etika yang baik sebagai istri dari pengusaha konglomerat.
"Gara-gara
purbuatanmu citra baik Ellard dan keluarga ini tercoreng" sentak Oma,
sedang Ara masih membeku, masih menatap nanar surat kabar tersebut.
"Belum lagi dengan beraninya kau mendorong Clarisa ke kolam. Dimana
otakmu waktu melakukan itu hah? Dasar perempuan tidak tahu diri! Ellard
sudah baik menikahimu dan keluarga ini menerimamu dengan tangan terbuka.
Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah mempermalukan keluarga kami.
Asal kamu tahu Clarisa berlipat kali jauh lebih baik darimu tapi
nyatanya cucuku buta akan hal itu. Brengsek!"
Ara menunduk, tubuhnya bergetar. Memejamkan mata saat makian Oma kali ini benar-benar sangat menyakitinya.
"Nyonya tidak sepert—"
"Diam kamu Blake!" sentak Oma
"Saya
tidak mau tahu, kamu harus minta maaf pada Clarisa. Dan berhenti
bertingkah memuakkan di keluarga ini kalau kamu masih mau dianggap
dirumah ini. Jangan pernah lagi memunculkan dirimu di depan public
bersama Ellard."
Ara masih tetap diam. Mendongakkan wajah, setetes bulir bening jatuh membasahi pipinya.
"Terimakasih
untuk tamparannya Oma. Aku harap dengan ini perasaan Oma sudah lega.
Maaf sudah membuat keluarga ini malu. Lain kali aku akan lebih
berhati-hati lagi," Ara membuka handle pintu, mengangguk kecil. "Aku
pamit Oma, semoga hari Oma terlalui baik hari ini. Senang mendapat
kunjungan dari Oma pagi ini"
Ara mengusap kasar air matanya. Ia
segera masuk ke dalam mobil. Membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak
ketika mobil sudah mulai melajuh. Kepalanya tersandar lemah di kaca
jendela, menatap jalanan yang dilalui. Sekali lagi menguatkan diri.
Tidak apa-apa. Dia sudah terbiasa mendapat perlakuan begini.
****
Sesampainya
di kantor, dokumen sudah menumpuk di atas mejahnya. Ara menghembuskan
nafas kuat, mencoba menegarkan hati dan merubah raut wajahnya secerah
mungkin seperti tidak terjadi apa-apa. Dia harus fokus.
"Kamu baru datang Ra?" Emma bertanya disamping Ara
"Iya kak. Maaf sedikit telat," Ara nyengir
"Ah
bukan hal besar— ya ampun Ra, itu muka kamu kenapa memar begitu?" Emma
membulatkan matanya begitu menyadari wajah Ara yang memerah. Ia hendak
menyentuh namun dengan cepat ditahan oleh Ara.
"Tadi karna buru-buru enggak sengajah jatuh. Uda gak sakit kok" kilah Ara
"Tapi harus diobatin dulu itu"
"Iya nanti setelah ini selesai ya. Udah deh ini bukan apa-apa"
Emma memicing. "yakin?"
"Iya seriusan" Ara mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya
"yaudah deh— kalau begitu selamat bekerja,"
Ara menyunggingkan senyum. Kembali menatap layar computer ketika Emma sudah kembali ke kubikelnya.
Ting
Ponsel Ara berbunyi, pop up ponselnya menunjukkan pesan masuk dari Ellard
Jam makan siang nanti datang keruanganku.
Singkat tanpa ada embel-embel kata sayang seperti biasanya. Sepertinya lelaki itu masih marah, apalagi berita
mengenai kejadian semalam sudah beredar luas pagi ini. Tanpa membalas ia
memasukkan begitu saja ponselnya ke dalam tas selempangnya. Mulai
menekuni pekerjaannya sekalipun hati dan pikirannya tengah berantakan.
****
Tepat
memasuki jam makan siang, Ara menghentikan pekerjaannya. Emma sempat
__ADS_1
mengajaknya makan bersama tapi terpaksa ia tolak, mengingat dia harus
menemui Ellard di ruangannya. Di depan pintu dia lebih dahulu menarik
nafas lalu menghembuskannya pelan. Menegarkan hati, siap untuk
dipersalahkan lagi. Dan kali ini dari lelaki yang telah berhasil
memiliki hatinya. Yah, Ellard sudah berhasil membuatnya jatuh, jatuh sedalam-dalamnya. Ara mencintai Ellard. Ia telah kalah pada hatinya dan tidak bisa mengelak lagi.
Perlahan
Ara menekan knop pintu, memasuki ruangan besar itu lebih dalam dan
tidak jauh dari sofa sosok yang memiliki tubuh atletis itu tengah
berdiri membelakanginya, memandang hamparan gedung-gedung pencakar
langit yang terlihat menawan.
"Kamu memanggilku" Ara membuka percakapan
Ellard berbalik. Menatap Ara cukup lama hingga membuat gadis itu bergerak sedikit risih ditatap begitu intens.
"Kemarilah. Kita makan dulu" Ellard menunjuk dengan dagunya pada beberapa makanan yang sudah tertata rapih di atas meja.
Ara
mendekat dan menduduki sofa sebelum kemudian disusul oleh Ellard yang
langsung mengambil tempat disisinya. Tanpa disuruh Ara menyendokkan
makanan kedalam piring mereka berdua.
"Satu tempat saja. Aku mau disuap," celetuk Ellard santai
"Ha?" Ara cengoh, mengerjap beberapa kali. Benarkah dia tidak salah dengar?
"Kenapa? enggak mau suapin aku?" Ellard menaikkan alisnya
"Bukan begitu— ah baiklah" putus Ara tidak ingin memperpanjang.
Tanpa
Ara ketahui, Ellard mengulum senyum. Dalam diam mereka makan dengan
tenang. Ara menyuapi suaminya baru kemudian dirinya. Tidak ada yang
mengeluarkan suara. Namun kali ini Ara benar-benar gugup. Jantungnya
berdetak lebih cepat dari biasanya. Karna selama makan Ellard tak
sedetik pun mengalihkan pandangan dari dirinya. Hingga acara makan itu
berakhir, diam-diam ia menghela nafas lega. Segera merapikan kembali
tempat makan tersebut.
"Sudah selesai. Kalau begitu aku harus kembali keruangan—ku"
"Aku ngantuk" potong Ellard sebelum Ara menyelesaikan ucapannya sepenuhnya.
Ara menatapnya horor. "Kalau begitu istirahatlah. Aku—"
Ellard menangkap pergelangan tangan Ara. "Temani aku tidur" ujarnya begitu santai
"Tapi aku masih banyak pekerjaan," protes Ara
"Aku
bosnya kalau kamu lupa" pungkasnya, bangkit berdiri— membawa langkah
keduanya memasuki sebuah kamar, tempat dia biasa beristirahat sejenak
jika terlalu lelah bekerja. Ellard membawa Ara berbaring ditengah
ranjang. Ia segera memeluk erat tubuh Ara yang hendak melarikan diri.
Lalu dengan santainya ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Ara,
menciumi leher tersebut— menjilati dan menghisapnya pelan.
"El— apa-apan kamu ih. Aku harus balik kerja," Ara mendecak, mendorong dahi Ellard yang terus bergerak liar di lehernya.
"Kita
istirahat dulu sayang. Aku sudah beritahu Emma untuk menghandle
pekerjaanmu sementara. " Ellard menghentikan aksinya, menatap lekat pada
manik istrinya yang tampak begitu lelah. Lingkaran hitam di kedua
matanya begitu kentara.
"Tidur. Aku tahu semalaman kamu enggak ada tidur kan?"
"Sok tahu kamu" Ara mendengkus.
"Terlihat jelas sayang. Tuh lihat mata pandamu. Uda mirip zombie, beneran" tunjuknya seraya menghembus mata Ara bergantian
Ara terdiam, tidak menanggapi. Bagaimana mungkin pria ini bisa tahu? Apakah terlihat jelas?
Ellard
Ara tidak menatapnya lagi melainkan langit-langit kamar. Terlalu
canggung dengan situasi sekarang ini.
"Maaf" begitu pelan namun mampu mengalihkan perhatian penuh Ara padanya.
"apa?" Ara mengernyit
Tidak
menjawab, Ellard menangkup wajahnya lalu mencium dan menghisap bibirnya
begitu dalam. Blake sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa
istrinya semalam setelah ia meninggalkannya disana. Dari mulai Ara-nya
menangis dalam diam sepanjang perjalanan sampai kejadian tadi pagi waktu
Oma memaki istrinya dan menampar wajah bulat itu. Ia murka dan merasa
sangat bersalah. Sejak tadi dia tidak bisa focus bekerja ketika dirinya
tak berhenti memikirkan istrinya. Ia melupakan satu hal bahwa Ara tidak
akan pernah membela dirinya sekalipun dia benar. Mulut itu akan terus
mengatup rapat dan menahan sakitnya sendiri. Ellard menyatukan dahi
mereka setelah ciuman itu terlepas.
"Aku minta maaf telah
meninggalkanmu sendirian. Aku hanya terlalu shock dan tidak bisa
berpikir jerni. Kemarin juga saat mengantar Cla, dia jatuh sakit. Aku
tidak bisa meninggalkannya begitu saja," aku Ellard penuh penyesalan.
Matanya memerah.
"Aku mengerti. Jangan terlalu menyalahkan
dirimu" sahut Ara tersenyum kecil. Mengusap lembut pipi Ellard. Ia pikir
lelaki dihadapannya ini juga akan kembali menyalahkannya.
Ellard
membenamkan wajahnya di bahu Ara. "Aku tidak benar-benar marah padamu.
Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir. Namun nyatanya waktu yang
kuambil justru menyakitimu— aku tidak ada disana waktu mereka
merendahkanmu bahkan membelamu waktu Oma juga turut melakukan hal yang
sama. Maaf sayang,"
Hati Ara menghangat mendengar pengakuan jujur
suaminya. Mereka hanya saling salah paham. Ellard tidak menyalahkannya.
Pria itu hanya membutuhkan waktu untuk tidak meledakkan amarahnya yang
bisa saja salah sasaran. Ara mengelus lembut rambut legam suaminya, ia
tersenyum hangat.
"Sudahlah jangan diingat lagi. Semuanya telah berlalu"
Ellard mendongak, menatap bekas kemerahan yang masih terlihat samar diwajah putih istrinya.
"Apakah sakit?" tanya pelan seraya mengusap lembut sisi wajah Ara yang terkena tamparan.
Ara menggeleng cepat.
"Jangan bohong— aku akan membuat perhitungan pada Oma nanti," geramnya "Oma sudah keterlaluan"
"Jangan.
Biar bagaimana pun beliau orang tua. Oma hanya terlalu mengkahwatirkan
nama baik cucunya yang tercoreng karna perbuatanku. Jangan coba-coba
melakukan apapun" peringat Ara
Ellard mendecih namun semakin mengeratkan dekapannya hingga tak berjarak.
"El, aku susah bernafas kalo begini," gerutu Ara namun sama sekali tidak didengar.
"Berjanjilah satu hal"
Ara menarik mundur wajahnya, menatap iris tegas Ellard yang tengah menatapnya serius. "apa lagi?"
"Berhenti
__ADS_1
berpura-pura tetap baik-baik saja ketika kamu benar-benar terluka.
Berhenti bersikap bodoh dan naïf. Jika sakit katakan sakit, jika sudah
tidak kuat, menyerahlah. Jangan memendamnya sendiri. Datang padaku,
ceritakan semuanya. Aku suamimu. Kamu tidak perlu kuat ketika bersamaku,
biarkan aku yang menanggungnya. Mengerti?" ucap Ellard penuh penegasan.
Ia muak melihat sikap sok kuat istrinya itu.
Ara bergeming.
Sesekali ia mengerjap— kehilangan kata, kaget karna tidak menyangka
Ellard mengetahui kalau selama ini dia hanya berpura-pura tampak baik
diluar. Tapi tidak berapa lama kemudian dia mengangguk lambat dan
langsung dihadiai kecupan lama dikeningnya. "Good wifey"
"Tidurlah.
Kamu memerlukan banyak istirahat untuk mengganti energimu yang terkuras
karna menungguiku semalaman" Ellard mengulum senyum geli dan terang
saja langsung dihadiai cubitan di perut liatnya.
"Perasaan" Ara mendengkus, menyurukkan wajahnya sepenuhnya pada dada bidang suaminya. Terasa begitu nyaman dan menenangkan.
"El..."
"Hm"
"Bagaimana berita semalam yang sudah tersebar luas? Pasti sangat memalukanmu" lirih Ara
Ellard menunduk, meraih dagu Ara yang bersembunyi di dadanya, mendongak kearahnya
"Apa ini namanya bentuk kekahwatiran seorang istri?"
"Aku serius El" decak Ara
"It's
ok sayang. Semua baik-baik saja. Aku sudah menyuruh Blake untuk
menghapus pemberitaan itu." Ellard mengecup gemas pipi Ara bergantian.
"Apa
kamu tidak malu punya istri gendut sepertiku? Orang-orang akan terus
mencibirmu kalau kita jalan bersama. sepertinya aku harus mulai diet
ketat agar tidak mempermalukanmu—"
"Berhenti berbicara omong
kosong." Ellard memotong, tidak terima "Aku tidak pernah malu. Justru
aku sangat bahagia memilikimu. Enggak ada yang salah dengan tubuhmu.
Bagiku semua yang ada padamu uda sempurna. Aku suka, seriously"
"Tapi
kayaknya aku memang harus menurunkan berat badanku. Aku beneran enggak
percaya diri waktu muncul bersamamu" Ara mengigit bibir bagian dalam,
meredam isakan. Kali ini ia benar-benar sangat terusik dengan setiap
ejekan orang-orang padanya. Apalagi makian itu juga mempengaruhi citra
suaminya. Sungguh ia tidak ingin Ellard juga menanggungnya
Ellard
menangkup wajah bulat Ara, sepasang mata yang sudah berkaca-kaca dan
langsung diciumnya bergantian hingga bulir bening itu jatuh.
"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya" Ellard mengusap air mata Ara lalu menyematkan kecupan di pipinya lagi.
"Jika
kamu ingin lebih langsing atau apapun yang membuatmu terlihat lebih
baik, baiklah lakukan. Tapi ingatlah, dimataku kamu sudah sangat
sempurna. Aku lebih suka dirimu yang seperti ini. Namun kalau kamu tetap
tidak percaya diri dan selalu sedih begini, maka lakukanlah. Asalkan
hal itu bisa membuatmu bahagia dan tetap berada disisiku."
Sekali
lagi bulir bening itu kembali jatuh begitu saja. Entah mengapa tiba-tiba
semuanya terasa mellow. Apalagi ketika mendengar setiap perkataan
Ellard yang membuat hatinya begitu menghangat. Lelaki ini benar-benar
menerimanya tanpa melihat setiap kekurangannya. Selama pernikahan Ellard
selalu memperlakukannya begitu lembut, menghargainya dan membuat
dirinya senyaman mungkin. Setiap kali ada masalah atau hal-hal yang
tidak beres yang terjadi diantara mereka, Pillow talk seperti
inilah yang pada akhirnya akan meluruskan setiap kesalahpahaman mereka.
Ellard akan memeluknya seperti ini dan membicarakan semua unek-unek
diantara mereka berdua lalu mencari jalan keluar yang terbaik agar
hubungan mereka kembali hangat seperti semula.
Coba katakan,
bagaimana dia tidak bisa jatuh cinta pada lelaki ini? Disaat yang lain
menyakiti, Ellard akan mengobati. Sekalipun tidak menutup kemungkinan
juga jika suatu hari nanti Ellard akan menggoreskan luka, maka dapat
dipastikan luka dari lelaki inilah yang akan menjadi paling sakit
daripada luka-luka sebelumnya yang ia terima selama ini dari orang lain.
“Aku
punya teman yang bisa membantumu mengatasi masalah berat badan maupun
penampilan seperti ini. Nanti aku akan coba menghubunginya— uda jangan
nangis lagi” sekali lagi Ellard mengusap setetes air mata Ara yang
kembali jatuh.
“Terimakasih” Ara melingkarkan tangannya di leher Ellard “cium aku, sayang”
“Apa?”
Ellard mengerjap, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ara tidak
pernah meminta dicium, yang ada selama ini hanya dia yang melakukan
kehendaknya tanpa meminta persetujuan istrinya itu lebih dulu.
“I miss you. Just kiss me” pinta Ara begitu lembut
Bagai
mendapat air di padang gurun pasir, Ellard begitu bersemangat.
Merebahkan kepala Ara ke bantal dan merangkak ke atasnya untuk
menciumnya dengan benar dan lihai. Lidahnya diselipkan kedalam mulut
Ara, dan perempuan itu menghisap, menggigit pelan dan membelainya.
Bertukar saliva, mereka dalam posisi itu sangat intens dan benar-benar
berciuman selama beberapa menit tanpa jeda.
Sampai ******* panas
itu terhenti ketika Ara memintanya untuk lepas karna pasokan udara yang
mulai tidak cukup. Ellard menggulingkan kembali tubuhnya disamping Ara
dan kembali mendekap erat tubuh perempuan kesukaannya tersebut.
“Tidur. Jangan sampai aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi sayang,” saran Ellard dengan tatapan sayu penuh gairah
Ara
terkekeh, lebih memilih membalas pelukan Ellard dan memejamkan matanya.
Ellard mengecup puncak kepalanya seraya mengusap naik turun punggung
Ara sebelum kemudian ikut memejamkan mata.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
__ADS_1