
HAPPY READING
Hening.
Sunyi, itulah yang di lihat Ara saat ini begitu membuka pintu kamar yang
tamaram. Sendirian, ia masuk ke dalam dengan langkah gontai sepulangnya dari
rumah kedua orangtuanya. Menghempaskan tubuh di atas ranjang dengan pandangan
mengarah ke langit-langit kamar. Dia lelah, benar-benar lelah dengan semua
masalah yang menderahnya akhir-akhir ini. Keputusannya untuk meminta Ellard
menikahi Clarissa telah membuat semua orang kecewa padanya, termasuk kedua
orang tuanya.
Mamanya
menangis, sementara ayahnya sangat marah dan kecewa berat begitu mendengar
semua ceritanya. Dia tidak datang sendiri ke rumah orangtuanya, Ellard ikut
menemani— meski berakhir dengan beberapa pukulan keras dari Alex. Keluarganya
minta mereka bercerai, tapi Ellard dengan kepala batunya tetap tidak ingin
merealisasikan permintaan orangtuanya. Suaminya itu justru mengancam akan
mengakuisisi habis perusahaan keluarganya jika mereka berdua dipisahkan.
Alhasil, mereka disuruh pulang dan berkata tidak akan pernah sudi datang ke
pesta pernikahan Ellard yang kedua.
Ara
memiringkan tubuhnya membuat air matanya mengalir ke samping. Ia mengulurkan
tangannya ke sebelah ranjang yang ia tiduri— meraba tempat biasanya Ellard
berbaring. “Maaf…” lirihnya
Sudah
tiga hari mereka tidak tidur bersama. Ellard memilih tidur di ruang kerjanya.
Lelaki itu masih begitu marah dan mendiamkannya. Bahkan tadi saat pulang dari
rumah orangtuanya ia diantar ke mansion
oleh Blake, sementara Ellard meneruskan perjalanan ke Rumah Sakit. Hari ini Clarissa telah diperbolehkan pulang.
Dan sebagai calon suami yang baik sudah seharusnya Ellard yang mengurus segala
kepulangannya, bukan? Mengingat dalam beberapa hari kedepan mereka akan
melangsungkan pernikahan.
****
Di
ruang inap, Clarissa tengah bersiap-siap untuk pulang, dibantu oleh ibunya dan
oma. Sementara Ellard memilih duduk disofa menunggu sampai gadis itu selesai
berkemas.
“Apa
kalian bertengkar lagi? Ellard lebih banyak diam selama beberapa hari ini.”
tanya Diana, membuat oma dan Clarissa melirik Ellard yang duduk di kursi paling
pojok ruangan. “Dalam beberapa hari kedepan kalian akan segera menikah, jadi
mulai sekarang kamu harus bersikap lebih baik, Cla.” lanjut Diana
“Ibumu
benar, sayang. Kalau bisa sebelum pernikahan hubungan kalian sudah kembali
hangat seperti sebelumnya” timpal Oma
Mata
Clarissa beralih pada Ellard, menatapnya dalam diam disusul embusan napas
pelan. Setelah ucapan Ara tiga hari lalu, Ellard seperti mayat hidup yang tak
akan bicara jika ditanya. Bahkan jika ditanya pun, hanya sepatah dua kata yang
dijawabnya. Setelah kejadian itu, dia memang rutin datang ke Rumah Sakit
menjenguknya. Tapi, Clarissa tahu, pikirannya tidak pernah benar-benar ada
disini.
“El…,”
Clarissa berjalan menghampiri, mengelus lengannya yang dilapisi kemeja putih.
Tidak
ada respon.
“El?”
Clarissa mengguncang pelan lengannya, lalu menangkup satu sisi wajah Ellard
yang terlihat pucat dan memar? “El, muka kamu kenapa memar begini?” Clarissa
panik
Ellard
menepis tangan Clarissa dari pipinya, bangkit berdiri dari kursi “Bukan apa-apa”
“Tapi
itu perlu diobati. Muka kamu juga pucat banget—“
“Kamu
sudah selesai? Ayo kita berangkat” potong Ellard
“Ellard..”
tegur Oma “Clarissa benar, muka kamu harus diobati dulu. Terus belakangan ini
juga Oma perhatikan muka kamu selalu pucat. Kamu sakit?”
“Aku
baik-baik saja Oma. Hanya sedikit mual.” aku Ellard
“Jangan-jangan
itu efek morning sickness seperti
yang dialami Clarissa juga.” terka Diana
“Berarti
itu sindrom kehamilan simpatik, dimana apa yang dirasakan Clarissa juga
berimbas sama kamu” tutur Oma “Wah, itu berarti ikatan batin kalian dengan baby
sangat kuat” lanjut Oma berbinar
Ellard
menanggapinya datar, sementara Clarissa sudah tersipu malu.
“Sebaiknya
kita berangkat sekarang. Aku ingin segera pulang dan beristirahat” tandas
Ellard, tanpa menunggu jawaban mereka, dia sudah berjalan keluar begitu saja
dan langsung disusul cepat oleh Clarissa.
“Ck,
anak itu memang” Oma geleng-geleng kepala.
****
“Ara
sudah tidur, bik” tanya Ellard begitu mendudukkan dirinya di sofa duduk.
Kepalanya sakit sekali dan mual di perutnya juga tak kunjung redah. Ini begitu
menyiksa. Kerjanya sampai terbengkalai karna berulang kali keluar masuk toilet.
“Sudah,
Tuan” jawab Bi Desi “Tuan, sakit? perlu saya panggilkan dokter?” wanita
parubaya itu baru menyadari setelah memperhatikan lebih seksama wajah pucat
pasi majikannya
Ellard
mengibaskan tangan. “Tidak perlu. Cukup bawakan teh hangat saja”
“Baik,
Tuan” Bi Desi mengangguk, namun baru menghela langkah…
“Tunggu
bik” panggil Ellard
Bi
Desi menoleh. “Itu pakaian, Ara?” tunjuk Ellard pada beberapa helai pakaian
ditangan pelayannya
“Iya,
Tuan. Ini pakaian kotor nona”
__ADS_1
“Berikan
padaku satu, Bik” Ellard mengulurkan tangan
“Tapi
tuan, ini sudah kotor—”
“Tidak
apa, bi. Berikan saja padaku”
Ragu-ragu,
Bi Desi menyerahkan satu kaos milik Ara ke tangan Ellard.
“Terimakasih,
Bik” Ellard tersenyum kecil “nanti bawa saja minuman itu ke ruang kerjaku.”
Pesannya lalu berlalu pergi
Ellard
berbaring di sofa sambil terus menghidu kaos milik istrinya. Tidak tahu kenapa,
setiap kali dia mencium bau tubuh Ara, segala rasa mual yang bergejolak dalam
perutnya seketika membaik. Padahal yang dihirupnya ini adalah kaos bekas pakai
Ara, namun tetap saja terasa begitu wangi dan menenangkan. Beberapa hari tidak tidur bersama, membuatnya
sangat rindu ingin memeluk tubuh Ara— menempelinya seerat mungkin. Beberapa
kali dia hendak menghampiri, tapi egonya masih terlalu kuat. Dia masih begitu
marah dengan keputusan sepihak Ara. Alhasil, kini dirinya sendiri yang
tersiksa.
“Bibi,
lagi buat apa?”
“Eh,
nona” Bik Desi sedikit terperanjat. Ara tiba-tiba saja muncul dengan gelas
kosong ditangannya. “saya pikir nona sudah tidur tadi”
Ara
tersenyum sembari mengisi air ke dalam gelas kosongnya.
“Haus,
bik” sahutnya setelah meneguk habis air di gelas
“Oh.
Ini minuman buat Tuan, non. Beberapa hari ini wajah tuan pucat sekali, trus
kalau di perhatikan Tuan juga agak kurusan”
Ara
terdiam. Ya, sejak pagi kemarin Ellard memang masih terus muntah dan wajahnya
selalu tampak pucat dan lemas. Melihat Ellard yang tersiksa begitu, ia tidak
tega. Ingin sekali dia merawat atau menyeret lelaki itu periksa ke dokter,
namun tidak bisa. Ellard masih marah dan menjaga jarak dengannya.
“Hm,
biar saya saja yang antar ke ruangannya, bik” sela Ara ketika pelayan itu
hendak berlalu
“Baiklah
nona” Bik Desi menyerahkan nampan minuman itu ke tangan Ara
Ara
tersenyum, “Terimakasih bik, saya ke atas dulu” pamit Ara dan langsung berlalu
dari sana
Ara
membuka lebar pintu ruang kerja Ellard dan langsung masuk setelah beberapa kali
mengetuk tak kunjung mendapat balasan. Tepat diatas sofa, Ellard berbaring
dengan lengan diletakkan diatas mata. Ia meletakkan teh ditangannya ke atas
meja sebelah sofa. Ara jongkok disisi sofa— memandangi Ellard yang sama sekali
tidak terusik. Ragu, ia menguncang pelan tubuh Ellard.
“El,
bangun. Ini minum dulu”
Tidak
Menghela nafas, ia bangkit berdiri dan mengambil selimut dari dalam lemari lalu
menyelimuti tubuh Ellard sebatas leher.
“Mimpi
yang indah,” lirih Ara seraya mengelus lembut rambut Ellard “Cepat sembuh.
Jangan sakit lagi” lanjutnya dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca, merasa
ikut sakit melihat keadaan Ellard yang begini.
Saat
Ara akan pergi, tiba-tiba Ellard sudah menahan tangannya. Tubuh Ara langsung
menegang kala merasa Ellard kian erat memegang tangannya.
“Jangan
pergi…” lirih Ellard
Dalam
keadaan tubuh yang masih tegang, perlahan Ara membalikkan badannya untuk bisa
berhadapan dengan Ellard yang kini menatapnya sayu.
Belum
sempat Ara mengatakan apapun, Ellard sudah lebih dulu menarik Ara hingga jatuh
tepat diatas tubuhnya. Membawa tubuh Ara kesamping, lalu langsung memeluknya
erat.
“El—“
“Biarkan
seperti ini. Jangan pergi…” desis Ellard mulai menghirup rakus aroma tubuh
istrinya
Ara
memilih diam, membiarkan Ellard dengan segala kelakuan anehnya yang belakangan
ini selalu mengendusi lehernya.
“El,
kamu minum tehnya dulu selagi masih hangat” suruh Ara setelah cukup lama mereka
diam
Ellard
mendongak, mengerut kening menatap Ara “Teh?”
Ara
mengangguk. “Iya, tadi kan kamu yang sama bibik dibuatin teh karna perut kamu
masih tidak enak”
Ellard
menoleh sesaat pada gelas yang ada di meja, lalu kembali menatap Ara
“Aku
uda gak mau teh” sahutnya ringan “Tapi… mau kelapa muda” sambungnya ragu
“Ha?”
cengoh Ara, matanya mengerjap tidak yakin “Ke---kelapa muda?”
Ellard
mengangguk antusias.
“Tap..tapi
kan ini udah mau tengah malam, El. Mana ada kelapa muda jam segini” keluh Ara,
menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“Makanya
kita harus pergi cari. Pasti ada, Ara” pinta Ellard memelas
“Tapi
kan kamu lagi sakit. Angin malam gak bagus buat tubuh kamu. Yaudah, biar aku
aja yang pergi cari sama sopir”
Ellard
__ADS_1
menggeleng tegas. “Enggak bisa, Aku juga ikut. Bahaya biarin kamu pergi
sendirian”
“Kan
ada sopir. Lagian sebentar aja kok”
“Tetap
enggak bisa, Ara” kesal Ellard, nada suaranya mulai tidak senang
Ara
menghela nafas berat, “Yaudah, ayo lah, ayo.”
Binar
kesenangan terbit di wajah Ellard. Keduanya bangkit dari sofa dan bergegas
pergi keluar setelah sebelumnya, Ellard mengambil jaket lalu dipasangkan ke
tubuh Ara. Memastikan tubuh istrinya tetap hangat kemudian melanjutkan langkah
dengan tangan yang saling bertautan. Mereka bertingkah layaknya sepasang suami
istri yang harmonis, seolah lupa jika selama beberapa hari ini mereka sudah saling
membelakangi.
****
Membuka
mata di pagi hari, Ellard kesulitan bergerak ketika wajah Ara tenggelam nyaman
di dadanya dengan satu tangan yang terlingkar di pinggang. Embusan hangat napas
Ara menyapu kulit dengan kedua tubuh yang merapat—nyaris tak berjarak. Mereka saling
memeluk, meringsekkan tubuh satu sama lain di balik selimut. Saling menghangatkan
dan saling memberi kenyamanan. Lengan Ellard digunakan sebagai bantalan kepala
Ara yang masih terlelap nyaman.
Pemandangan
pagi hari yang selalu disukainya adalah melihat istrinya yang tidur begini
dengan dirinya yang dipeluk seperti bantal guling. Ellard menurunkan wajahnya,
lalu dengan lembut mengecup kening Ara lama. Selama beberapa hari tidak tidur
bersama membuatnya begitu rindu dan enggan beranjak dari kasur ini. Semalam mereka
baru pulang pukul tiga dini hari setelah berkeliling mencari kelapa muda yang
begitu susah ditemukan. Alhasil, sekitar jam dua mereka baru mendapat kelapa
muda itu di pasar induk dari pedangang yang mulai berdatangan. Ellard
menghabiskan lima buah kelapa lalu pulang kerumah.
Ellard
membelai halus pipi Ara. Tidak tahan cuma memperhatikan wajah tidurnya, ia
mendaratkan ciuman lembut di bibir Ara— menghisapnya pelan.
Ara
menggeliat begitu tidurnya diganggu. Pelan, netra coklat madu itu mulai terbuka
“Good
morning, wifey”
Ara
mengernyit dalam, “Kamu… kok tidur disini?”
“Memangnya
aku harus tidur dimana?” kini gantian Ellard yang mengerut kening— tak suka
“Bukannya
kamu lagi marah?” Ara hendak merenggangkan jarak mereka, namun dengan cepat
ditahan oleh Ellard lalu semakin mengencangkan pelukannya
“Tetap
seperti ini. Jangan menjauh” bisiknya “aku memang masih marah, tapi mau
bagaimana lagi… aku sudah terlalu rindu.”
Ara
berhenti bergerak, beralih menatap dalam iris tegas dihadapannya
“Disamping
itu, cuma dengan memeluk dan mencium aromamu seperti ini yang bisa membuatku
tidak mual lagi. kamu benar-benar obat terbaikku.” aku Ellard
“kamu
seperti orang mengidam saja” gerutu Ara
Ellard
tersenyum samar, “Sepertinya.”
“Itu
berarti efek dari kehamilan Clarissa. Kamu yang ngidam” ucap Ara, walau sedikit
sesak ketika mengucapkannya tapi dia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin
Ellard
diam sejenak, tampak berpikir. “Kalau ini efek ngidam dari kehamilan Cla,
kenapa saat didekatnya aku malah semakin mual? Dan aroma tubuhnya tiba-tiba
begitu sangat tidak enak kuhirup. Lain jika dengan kamu” tutur Ellard seraya
memperhatikan lekat Ara
“Ck,
itu Cuma perasaanmu saja” dengus Ara sembari mengibaskan tangannya
“Tidak,
Ara. Aku sudah membuktikannya.” Sanggah Ellard “Apa yang kurasakan dengan
Clarissa, berbanding terbalik denganmu.”
“Ya,
tetap saja itu enggak mung—“
“kalau
bukan Cla, berarti kamu…”
“Apa?
Maksudmu hamil?” Ara tertawa remeh “itu enggak mungkin”
“Kita
cek ke dokter ya? Siapa tahu kali ini beneran kamu lagi isi” Ellard tidak
mengindahkan ucapan remeh Ara sebelumnya. Ia mengusap naik turun perut Ara.
“Jangan
becanda. Waktu itu aku uda tes dan hasilnya negative” sangkal Ara, tidak ingin kecewa
lagi dengan tawaran untuk mengecek ke dokter.
Ellard
menangkup pipi Ara, mengisap bibirnya. “Tidak ada salahnya dicoba. Pokoknya nanti
kita harus cek kamu ke dokter”
“Ellard…”
desah Ara, ingin menangis
“No
debat, Ara. Keputusan final!” timpal Ellard seraya langsung membenamkan wajah
Ara di dadanya. Mengakhiri segala bentuk protesan dari mulut istrinya itu.
Entah kenapa, perasaannya kali ini begitu yakin jika di dalam perut Ara-nya sudah
ada nyawa. Mengingat selama beberapa hari ini, ia sudah mempelajari sedikit banyak
beberapa gejala kehamilan yang umumnya dialami oleh seorang wanita. *Ya, semoga saja kali ini Tuhan memberikan
mereka kesempatan menjadi orangtua.
~Dia yang benar-benar mencintai, tidak akan pernah tahan untuk membelakangi seorang yang dicintainya lebih lama, bahkan semarah apapun itu*.
To be continued
Masih adakah yg bertahan baca kisah mereka?? 🤭 Maaf sudah buat kalian marah dan kecewa.. yahh, mau bagaimana lagi.. beginilah kisah mereka. Manis2 pahitt 😜
Info detail cerita ada di IG: rianitasitumorangg
See youuuuuuu
Ellard O'Neill Miller
Aurora Beatrix Miller
__ADS_1