Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

HAPPY READING


Hening.


Sunyi, itulah yang di lihat Ara saat ini begitu membuka pintu kamar yang


tamaram. Sendirian, ia masuk ke dalam dengan langkah gontai sepulangnya dari


rumah kedua orangtuanya. Menghempaskan tubuh di atas ranjang dengan pandangan


mengarah ke langit-langit kamar. Dia lelah, benar-benar lelah dengan semua


masalah yang menderahnya akhir-akhir ini. Keputusannya untuk meminta Ellard


menikahi Clarissa telah membuat semua orang kecewa padanya, termasuk kedua


orang tuanya.


Mamanya


menangis, sementara ayahnya sangat marah dan kecewa berat begitu mendengar


semua ceritanya. Dia tidak datang sendiri ke rumah orangtuanya, Ellard ikut


menemani— meski berakhir dengan beberapa pukulan keras dari Alex. Keluarganya


minta mereka bercerai, tapi Ellard dengan kepala batunya tetap tidak ingin


merealisasikan permintaan orangtuanya. Suaminya itu justru mengancam akan


mengakuisisi habis perusahaan keluarganya jika mereka berdua dipisahkan.


Alhasil, mereka disuruh pulang dan berkata tidak akan pernah sudi datang ke


pesta pernikahan Ellard yang kedua.


Ara


memiringkan tubuhnya membuat air matanya mengalir ke samping. Ia mengulurkan


tangannya ke sebelah ranjang yang ia tiduri— meraba tempat biasanya Ellard


berbaring. “Maaf…” lirihnya


Sudah


tiga hari mereka tidak tidur bersama. Ellard memilih tidur di ruang kerjanya.


Lelaki itu masih begitu marah dan mendiamkannya. Bahkan tadi saat pulang dari


rumah orangtuanya ia  diantar ke mansion


oleh Blake, sementara Ellard meneruskan perjalanan ke Rumah Sakit.  Hari ini Clarissa telah diperbolehkan pulang.


Dan sebagai calon suami yang baik sudah seharusnya Ellard yang mengurus segala


kepulangannya, bukan? Mengingat dalam beberapa hari kedepan mereka akan


melangsungkan pernikahan.


****


Di


ruang inap, Clarissa tengah bersiap-siap untuk pulang, dibantu oleh ibunya dan


oma. Sementara Ellard memilih duduk disofa menunggu sampai gadis itu selesai


berkemas.


“Apa


kalian bertengkar lagi? Ellard lebih banyak diam selama beberapa hari ini.”


tanya Diana, membuat oma dan Clarissa melirik Ellard yang duduk di kursi paling


pojok ruangan. “Dalam beberapa hari kedepan kalian akan segera menikah, jadi


mulai sekarang kamu harus bersikap lebih baik, Cla.” lanjut Diana


“Ibumu


benar, sayang. Kalau bisa sebelum pernikahan hubungan kalian sudah kembali


hangat seperti sebelumnya” timpal Oma


Mata


Clarissa beralih pada Ellard, menatapnya dalam diam disusul embusan napas


pelan. Setelah ucapan Ara tiga hari lalu, Ellard seperti mayat hidup yang tak


akan bicara jika ditanya. Bahkan jika ditanya pun, hanya sepatah dua kata yang


dijawabnya. Setelah kejadian itu, dia memang rutin datang ke Rumah Sakit


menjenguknya. Tapi, Clarissa tahu, pikirannya tidak pernah benar-benar ada


disini.


“El…,”


Clarissa berjalan menghampiri, mengelus lengannya yang dilapisi kemeja putih.


Tidak


ada respon.


“El?”


Clarissa mengguncang pelan lengannya, lalu menangkup satu sisi wajah Ellard


yang terlihat pucat dan memar? “El, muka kamu kenapa memar begini?” Clarissa


panik


Ellard


menepis tangan Clarissa dari pipinya, bangkit berdiri dari kursi “Bukan apa-apa”


“Tapi


itu perlu diobati. Muka kamu juga pucat banget—“


“Kamu


sudah selesai? Ayo kita berangkat” potong Ellard


“Ellard..”


tegur Oma “Clarissa benar, muka kamu harus diobati dulu. Terus belakangan ini


juga Oma perhatikan muka kamu selalu pucat. Kamu sakit?”


“Aku


baik-baik saja Oma. Hanya sedikit mual.” aku Ellard


“Jangan-jangan


itu efek morning sickness seperti


yang dialami Clarissa juga.” terka Diana


“Berarti


itu sindrom kehamilan simpatik, dimana apa yang dirasakan Clarissa juga


berimbas sama kamu” tutur Oma “Wah, itu berarti ikatan batin kalian dengan baby


sangat kuat” lanjut Oma berbinar


Ellard


menanggapinya datar, sementara Clarissa sudah tersipu malu.


“Sebaiknya


kita berangkat sekarang. Aku ingin segera pulang dan beristirahat” tandas


Ellard, tanpa menunggu jawaban mereka, dia sudah berjalan keluar begitu saja


dan langsung disusul cepat oleh Clarissa.


“Ck,


anak itu memang” Oma geleng-geleng kepala.


****


“Ara


sudah tidur, bik” tanya Ellard begitu mendudukkan dirinya di sofa duduk.


Kepalanya sakit sekali dan mual di perutnya juga tak kunjung redah. Ini begitu


menyiksa. Kerjanya sampai terbengkalai karna berulang kali keluar masuk toilet.


“Sudah,


Tuan” jawab Bi Desi “Tuan, sakit? perlu saya panggilkan dokter?” wanita


parubaya itu baru menyadari setelah memperhatikan lebih seksama wajah pucat


pasi majikannya


Ellard


mengibaskan tangan. “Tidak perlu. Cukup bawakan teh hangat saja”


“Baik,


Tuan” Bi Desi mengangguk, namun baru menghela langkah…


“Tunggu


bik” panggil Ellard


Bi


Desi menoleh. “Itu pakaian, Ara?” tunjuk Ellard pada beberapa helai pakaian


ditangan pelayannya


“Iya,


Tuan. Ini pakaian kotor nona”

__ADS_1


“Berikan


padaku satu, Bik” Ellard mengulurkan tangan


“Tapi


tuan, ini sudah kotor—”


“Tidak


apa, bi. Berikan saja padaku”


Ragu-ragu,


Bi Desi menyerahkan satu kaos milik Ara ke tangan Ellard.


“Terimakasih,


Bik” Ellard tersenyum kecil “nanti bawa saja minuman itu ke ruang kerjaku.”


Pesannya lalu berlalu pergi


Ellard


berbaring di sofa sambil terus menghidu kaos milik istrinya. Tidak tahu kenapa,


setiap kali dia mencium bau tubuh Ara, segala rasa mual yang bergejolak dalam


perutnya seketika membaik. Padahal yang dihirupnya ini adalah kaos bekas pakai


Ara, namun tetap saja terasa begitu wangi dan menenangkan.  Beberapa hari tidak tidur bersama, membuatnya


sangat rindu ingin memeluk tubuh Ara— menempelinya seerat mungkin. Beberapa


kali dia hendak menghampiri, tapi egonya masih terlalu kuat. Dia masih begitu


marah dengan keputusan sepihak Ara. Alhasil, kini dirinya sendiri yang


tersiksa.


“Bibi,


lagi buat apa?”


“Eh,


nona” Bik Desi sedikit terperanjat. Ara tiba-tiba saja muncul dengan gelas


kosong ditangannya. “saya pikir nona sudah tidur tadi”


Ara


tersenyum sembari mengisi air ke dalam gelas kosongnya.


“Haus,


bik” sahutnya setelah meneguk habis air di gelas


“Oh.


Ini minuman buat Tuan, non. Beberapa hari ini wajah tuan pucat sekali, trus


kalau di perhatikan Tuan juga agak kurusan”


Ara


terdiam. Ya, sejak pagi kemarin Ellard memang masih terus muntah dan wajahnya


selalu tampak pucat dan lemas. Melihat Ellard yang tersiksa begitu, ia tidak


tega. Ingin sekali dia merawat atau menyeret lelaki itu periksa ke dokter,


namun tidak bisa. Ellard masih marah dan menjaga jarak dengannya.


“Hm,


biar saya saja yang antar ke ruangannya, bik” sela Ara ketika pelayan itu


hendak berlalu


“Baiklah


nona” Bik Desi menyerahkan nampan minuman itu ke tangan Ara


Ara


tersenyum, “Terimakasih bik, saya ke atas dulu” pamit Ara dan langsung berlalu


dari sana


Ara


membuka lebar pintu ruang kerja Ellard dan langsung masuk setelah beberapa kali


mengetuk tak kunjung mendapat balasan. Tepat diatas sofa, Ellard berbaring


dengan lengan diletakkan diatas mata. Ia meletakkan teh ditangannya ke atas


meja sebelah sofa. Ara jongkok disisi sofa— memandangi Ellard yang sama sekali


tidak terusik. Ragu, ia menguncang pelan tubuh Ellard.


“El,


bangun. Ini minum dulu”


Tidak


Menghela nafas, ia bangkit berdiri dan mengambil selimut dari dalam lemari lalu


menyelimuti tubuh Ellard sebatas leher.


“Mimpi


yang indah,” lirih Ara seraya mengelus lembut rambut Ellard “Cepat sembuh.


Jangan sakit lagi” lanjutnya dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca, merasa


ikut sakit melihat keadaan Ellard yang begini.


Saat


Ara akan pergi, tiba-tiba Ellard sudah menahan tangannya. Tubuh Ara langsung


menegang kala merasa Ellard kian erat memegang tangannya.


“Jangan


pergi…” lirih Ellard


Dalam


keadaan tubuh yang masih tegang, perlahan Ara membalikkan badannya untuk bisa


berhadapan dengan Ellard yang kini menatapnya sayu.


Belum


sempat Ara mengatakan apapun, Ellard sudah lebih dulu menarik Ara hingga jatuh


tepat diatas tubuhnya. Membawa tubuh Ara kesamping, lalu langsung memeluknya


erat.


“El—“


“Biarkan


seperti ini. Jangan pergi…” desis Ellard mulai menghirup rakus aroma tubuh


istrinya


Ara


memilih diam, membiarkan Ellard dengan segala kelakuan anehnya yang belakangan


ini selalu mengendusi lehernya.


“El,


kamu minum tehnya dulu selagi masih hangat” suruh Ara setelah cukup lama mereka


diam


Ellard


mendongak, mengerut kening menatap Ara “Teh?”


Ara


mengangguk. “Iya, tadi kan kamu yang sama bibik dibuatin teh karna perut kamu


masih tidak enak”


Ellard


menoleh sesaat pada gelas yang ada di meja, lalu kembali menatap Ara


“Aku


uda gak mau teh” sahutnya ringan “Tapi… mau kelapa muda” sambungnya ragu


“Ha?”


cengoh Ara, matanya mengerjap tidak yakin “Ke---kelapa muda?”


Ellard


mengangguk antusias.


“Tap..tapi


kan ini udah mau tengah malam, El. Mana ada kelapa muda jam segini” keluh Ara,


menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“Makanya


kita harus pergi cari. Pasti ada, Ara” pinta Ellard memelas


“Tapi


kan kamu lagi sakit. Angin malam gak bagus buat tubuh kamu. Yaudah, biar aku


aja yang pergi cari  sama sopir”


Ellard

__ADS_1


menggeleng tegas. “Enggak bisa, Aku juga ikut. Bahaya biarin kamu pergi


sendirian”


“Kan


ada sopir. Lagian sebentar aja kok”


“Tetap


enggak bisa, Ara” kesal Ellard, nada suaranya mulai tidak senang


Ara


menghela nafas berat, “Yaudah, ayo lah, ayo.”


Binar


kesenangan terbit di wajah Ellard. Keduanya bangkit dari sofa dan bergegas


pergi keluar setelah sebelumnya, Ellard mengambil jaket lalu dipasangkan ke


tubuh Ara. Memastikan tubuh istrinya tetap hangat kemudian melanjutkan langkah


dengan tangan yang saling bertautan. Mereka bertingkah layaknya sepasang suami


istri yang harmonis, seolah lupa jika selama beberapa hari ini mereka sudah saling


membelakangi.


****


Membuka


mata di pagi hari, Ellard kesulitan bergerak ketika wajah Ara tenggelam nyaman


di dadanya dengan satu tangan yang terlingkar di pinggang. Embusan hangat napas


Ara menyapu kulit dengan kedua tubuh yang merapat—nyaris tak berjarak. Mereka saling


memeluk, meringsekkan tubuh satu sama lain di balik selimut. Saling menghangatkan


dan saling memberi kenyamanan. Lengan Ellard digunakan sebagai bantalan kepala


Ara yang masih terlelap nyaman.


Pemandangan


pagi hari yang selalu disukainya adalah melihat istrinya yang tidur begini


dengan dirinya yang dipeluk seperti bantal guling. Ellard menurunkan wajahnya,


lalu dengan lembut mengecup kening Ara lama. Selama beberapa hari tidak tidur


bersama membuatnya begitu rindu dan enggan beranjak dari kasur ini. Semalam mereka


baru pulang pukul tiga dini hari setelah berkeliling mencari kelapa muda yang


begitu susah ditemukan. Alhasil, sekitar jam dua mereka baru mendapat kelapa


muda itu di pasar induk dari pedangang yang mulai berdatangan. Ellard


menghabiskan lima buah kelapa lalu pulang kerumah.


Ellard


membelai halus pipi Ara. Tidak tahan cuma memperhatikan wajah tidurnya, ia


mendaratkan ciuman lembut di bibir Ara— menghisapnya pelan.


Ara


menggeliat begitu tidurnya diganggu. Pelan, netra coklat madu itu mulai terbuka


“Good


morning, wifey”


Ara


mengernyit dalam, “Kamu… kok tidur disini?”


“Memangnya


aku harus tidur dimana?” kini gantian Ellard yang mengerut kening— tak suka


“Bukannya


kamu lagi marah?” Ara hendak merenggangkan jarak mereka, namun dengan cepat


ditahan oleh Ellard lalu semakin mengencangkan pelukannya


“Tetap


seperti ini. Jangan menjauh” bisiknya “aku memang masih marah, tapi mau


bagaimana lagi… aku sudah terlalu rindu.”


Ara


berhenti bergerak, beralih menatap dalam iris tegas dihadapannya


“Disamping


itu, cuma dengan memeluk dan mencium aromamu seperti ini yang bisa membuatku


tidak mual lagi. kamu benar-benar obat terbaikku.” aku Ellard


“kamu


seperti orang mengidam saja” gerutu Ara


Ellard


tersenyum samar, “Sepertinya.”


“Itu


berarti efek dari kehamilan Clarissa. Kamu yang ngidam” ucap Ara, walau sedikit


sesak ketika mengucapkannya tapi dia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin


Ellard


diam sejenak, tampak berpikir. “Kalau ini efek ngidam dari kehamilan Cla,


kenapa saat didekatnya aku malah semakin mual? Dan aroma tubuhnya tiba-tiba


begitu sangat tidak enak kuhirup. Lain jika dengan kamu” tutur Ellard seraya


memperhatikan lekat Ara


“Ck,


itu Cuma perasaanmu saja” dengus Ara sembari mengibaskan tangannya


“Tidak,


Ara. Aku sudah membuktikannya.” Sanggah Ellard “Apa yang kurasakan dengan


Clarissa, berbanding terbalik denganmu.”


“Ya,


tetap saja itu enggak mung—“


“kalau


bukan Cla, berarti kamu…”


“Apa?


Maksudmu hamil?” Ara tertawa remeh “itu enggak mungkin”


“Kita


cek ke dokter ya? Siapa tahu kali ini beneran kamu lagi isi” Ellard tidak


mengindahkan ucapan remeh Ara sebelumnya. Ia mengusap naik turun perut Ara.


“Jangan


becanda. Waktu itu aku uda tes dan hasilnya negative” sangkal Ara, tidak ingin kecewa


lagi dengan tawaran untuk mengecek ke dokter.


Ellard


menangkup pipi Ara, mengisap bibirnya. “Tidak ada salahnya dicoba. Pokoknya nanti


kita harus cek kamu ke dokter”


“Ellard…”


desah Ara, ingin menangis


“No


debat, Ara. Keputusan final!” timpal Ellard seraya langsung membenamkan wajah


Ara di dadanya. Mengakhiri segala bentuk protesan dari mulut istrinya itu.


Entah kenapa, perasaannya kali ini begitu yakin jika di dalam perut Ara-nya sudah


ada nyawa. Mengingat selama beberapa hari ini, ia sudah mempelajari sedikit banyak


beberapa gejala kehamilan yang umumnya dialami oleh seorang wanita. *Ya, semoga saja kali ini Tuhan memberikan


mereka kesempatan menjadi orangtua.


~Dia yang benar-benar mencintai, tidak akan pernah tahan untuk membelakangi seorang yang dicintainya lebih lama, bahkan semarah apapun itu*.


To be continued


Masih adakah yg bertahan baca kisah mereka?? 🤭 Maaf sudah buat kalian marah dan kecewa.. yahh, mau bagaimana lagi.. beginilah kisah mereka. Manis2 pahitt 😜


Info detail cerita ada di IG: rianitasitumorangg


See youuuuuuu


Ellard O'Neill Miller



Aurora Beatrix Miller


__ADS_1


__ADS_2