Touching Heart

Touching Heart
Sebelas


__ADS_3

Semangat kerjanya sayang


Sayang Kamu dimana? Uda makan?


Tunggu aku di parkiran ya, kita pulang bareng


Sayang ... Sibuk banget ya?


Sayang...


Ellard menghembus nafas


frustasi. Untuk kesekian kali rentetan pesannya tidak dibalas dan


panggilan telepon sama sekali tidak dijawab oleh Ara melainkan pihak


operator. Dia jadi bertanya-tanya sebenarnya sesibuk apa istrinya itu


sampai dirinya diabaikan seharian ini. Dia ingin berkunjung ke divisi


Ara namun diurungkan, mengingat gadisnya itu tidak akan suka. Bahkan


dirinya yang tidak pernah-pernahnya makan siang di Cafetaria perusahaan,


menyempatkan diri makan disana berharap bisa melihat sosok istrinya.


Namun Ara tidak berada disana.


Ellard melirik jam


tangannya. Sepuluh menit lagi menujuh angka delapan malam. Sampai


sekarang istrinya itu belum ada kabar. Ntah Ara sudah pulang atau belum.


Dan untuk memastikannya dia memutuskan untuk pulang. Baru saja dirinya


berada diluar gedung tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari


belakang. Dengan gerakan cepat Ellard memutar tubuhnya menatap siapa


pelaku yang telah berani memeluknya tanpa persetujuan.


"Cla—" kagetnya


"Kaget ya," racau Clarissa nyengir


"Kamu— mabuk?" terka Ellard saat hidungnya tanpa sengaja menghidu bau alkohol dari mulut gadis itu


"Cuma sedikit. Aku hanya ingin mencoba mencari pengalihan. Disini—" Clarissa menunjuk hatinya "rasanya sakit,"


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


"Kau mau dengar?"


"Katakan"


Clarissa menatap Ellard sayu.


"Kau masih ingat, dulu aku pernah cerita kalo aku jatuh hati pada seorang pria secara diam-diam?"


Ellard mengangguk. Dia ingat, Clarissa pernah menceritakan laki-laki yang disukainya itu.


"Dia baru saja menikah.


Bahkan sebelum aku sempat mengatakan perasaanku sebenarnya. Karna itu


hatiku sangat sakit sekarang—" serak Clarissa tak mampu menahan


airmatanya lagi


"Cla—" hati Ellard


terenyuh. Tidak tega melihat tatapan terluka sahabatnya itu. Dia


terbiasa melihat kecerian gadis itu, namun untuk malam ini sinar ceria


itu tidak ada. Ellard menarik Clarissa ke dalam pelukannya, seakan


memberikan ketenangan.


"Semua akan baik-baik saja. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dari dirinya," Tangan Ellard mengusap-usap punggung Clarissa


"El—bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" pinta Clarissa megurai pelukannya. Menatap Ellard lekat. Ia sangat mencintai pria ini.


"Apa itu?"


"Bolehkah aku menciummu? Sekali ini saja— " Clarissa seakan kehilangan kewarasannya


Ellard membeku ditempatnya. Tidak menyangka permintaan itu yang akan keluar dari sahabatnya.


"Apa kau sudah gila Cla? Aku sudah menikah. Lagipula kita adalah sahabat—"


"El, kau sangat mirip dengannya. Hanya sekali ini saja. Setidaknya aku bisa menganggap dia adalah dirimu,"


"Tetap saja aku bukan dirinya Cla. Berhenti membual" geram Ellard


"El—" Clarissa terisak pilu


Ellard menggeram. Dia paling tidak tahan melihat gadis itu menangis. Ia membuang nafas kasar


"Baiklah. Hanya sekali ini—" tangan Ellard terkepal saat mengatakannya.


Clarissa tersenyum.


Menyeka airmatanya lalu semakin mendekatkan diri pada Ellard. Dia


mengalungkan tangannya di leher Ellard kemudian berjinjit menyamakan


tingginya dengan Ellard yang sama sekali tidak berniat untuk menunduk.


Lalu sedetik kemudian dia menyatukan bibirnya pada milik Ellard yang


dingin. Lelaki itu bergeming. Clarissa menggerakkan bibirnya menyesap


bibir yang selama ini sangat ingin diciumnya itu. Sekalipun Ellard tidak


membalasnya sama sekali namun cukup membuat dirinya sangat puas.


Apalagi saat matanya menangkap sosok Ara yang diam mematung ketika


menyaksikan kegiatan mereka. Clarissa tersenyum penuh kemenangan


disela-sela ciumannya sampai akhirnya Ara memutuskan pergi dari sana.


****


Pandangan Ara kosong.


Menatap nyalang pada banyaknya makanan di atas meja yang dipesannya


melalui aplikasi online. Perutnya sudah terasa sangat perih meminta


diisi namun mulutnya kini seakan tidak ingin menyentuh semua makanan


kesukaannya itu. Sekelebat ingatan Ellard yang berciuman dengan Clarissa


kembali menghampirinya. Sial, setetes bening itu kembali menerobos


keluar tanpa bisa dicegah. Dadanya berdentam keras, sakitnya serasa


berkeliaran diseluruh tubuh. Seharusnya hatinya tidak begini bukan? Ara


meyakinkan diri. Menggeleng-geleng keras dan menyeka airmatanya. Dengan


masih bergetar dia mengambil sendok dan mulai mencicipi makanan yang


ada. Awalnya gerakan mengunyahnya lambat, namun kemudian semakin cepat


bahkan seperti kesetanan memasukkan semua makanan itu kedalam mulut yang


jelas-jelas masih belum tergiling dengan sempurna. Mulutnya penuh. Ara


terisak, dadanya naik turun karena sesak yang seakan menghimpit.


Jangan nangis Ara... kamu gak boleh nangis. Kamu gak mencintainya. Ingat, kamu hanya mencintai kak Leo...


Ara terus merapalkan kalimat itu didalam hatinya. Namun tetap saja dadanya masih sakit dan airmatanya tidak mau berhenti.


"Ara—"


Ara menegang. Ia


mengenal pemilik suara itu. Cepat-cepat dia menghapus airmatanya lalu


menegapkan punggung. Mengubah air mukanya menjadi biasa dan kembali


melanjutkan suapan makannya. Ellard semakin mendekat, menarik kursi dan


duduk disebelahnya. Aroma mint yang menyegarkan indra penciuman menguar


harum— tepat disebelahnya.


"Sudah lama pulang?" tanya Ellard menatap lekat istrinya yang sibuk mengunyah


"Hmm,"


"Dari tadi ku chat dan telpon kenapa gak dibalas ataupun diangkat?"


"Sibuk. Ponselku juga


mati karna batrenya habis," Ara tidak berbohong. Ponselnya memang mati


karna lupa mengisih baterainya semalam.


Ellard mengangguk. Gadis itu belum mau menatapnya.


"Lapar banget ya?"


"hm"


Ellard gemas melihat


mulut penuh itu. gadis itu melahap makanan seperti sudah tidak diberi


makan berhari-hari. Ah lihat, sekarang terdapat beberapa sisa makanan


yang menempel di sekitar mulutnya.


"Ara—"


Ara kesal. Dari tadi lelaki disebelahnya ini terus mengajaknya bicara. Menelan cepat makanannya lalu hendak memaki

__ADS_1


"Apa? Bisa tidak di—hmpptttt"


Terlambat. Ellard lebih


dulu membungkam mulutnya. Pria itu memagut bibirnya dan menjilat bersih


sisa makanan disudut bibirnya. Ara merontah namun pergerakannya dikunci.


Bahkan kini Ellard memiringkan kepalanya semakin memperdalam hisapannya


pada bibir atas dan bawah Ara. Ellard terus mempermainkan bibir merah


itu bahkan kini berhasil memasukkan lidahnya, menggoda lidah istrinya


disana. Ellard merasa bersalah. Yang dia inginkan sekarang adalah


menghapus jejak ciuman Clarissa dengan milik istrinya. Percayalah dia


hanya menginginkan sentuhan istrinya sendiri— bukan wanita lain,


sekalipun itu sahabatnya Clarissa.


Ara menggeram. Tangannya


mengepal kuat. Berani-beraninya pria ini menciumnya setelah puas


melakukannya dengan wanita lain. Hatinya sakit. Dengan sekuat tenaga Ara


mendorong dada Ellard dan— berhasil.


"Kau gila ya! Aku lagi makan," teriak Ara tersengal


Bukannya marah, Ellard malah terkekeh melihat wajah merah Ara yang marah.


"Iya— aku gila karna seharian ini istriku mengabaikanku" jawabnya mengangkat bahu santai


Bastard!!


"Sayang aku juga lapar,"


"Terus?" Ara mendelik


"Suapin"


"Gak bisa. Ini punyaku. Suruh pelayan sana buatkan," Ara acuh


"Sayang, kamu suapin aku— atau aku yang makan kamu sekarang juga," Ellard menyeringai "Aku tidak main-main sayang,"


Ara menghembus nafas


kesal. Ellard selalu mengancamnya begitu jika kemauannya tidak dituruti.


Bibirnya berucap komat kamit tanpa suara, mengeluarkan sumpah serapah


sambil tangannya bergerak menyendok nasi dan lauk pauk lainnya kedalam


piring.


"Tidak baik mengumpat suami begitu sayang," celetuk Ellard berusaha menahan tawa melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Buka mulut," katanya masih kesal, menyodorkan suapan


Ellard terkekeh sebelum kemudian menerima suapan istrinya. Ah ini adalah salah satu hal-hal yang ingin dilakukannya dengan Ara.


Hal-hal kecil yang semakin mendekatkan hubungan keduanya sebagai suami


istri.


****


Pagi ini Ara kembali


disuruh-suruh oleh Emma. Gadis itu menyuruhnya mengcopy beberapa


tumpukan dokumen ke lantai satu karna mesin fotocopy diruangan mereka


sedang banyak yang menggunakan. Sementara ruangan mereka berada dilantai


tiga puluh tiga. Belum lagi dia harus berdiri, sabar menunggu sambil


memangku beberapa dokumen yang cukup berat di depan lift yang sangat


ramai digunakan. Ara baru masuk kedalam lift disaat muatan didalam sana


tidak banyak.


Peluhnya mengucur setiap


kali bergerak. Ditambah lagi beban dokumen bertambah dua kali lipat


setelah difotocopy. Sial, dia lupa membawa trolly. Sambil terus


melangkah terseok Ara merutuki kebodohannya.


"Heh, itu ada Pak Ellard sama Clarissa, wah mereka sangat serasi sekali"


"wah Clarissa sudah kembali rupanya. Makin cantik lagi"


"Dengar-dengar ya, katanya Clarissa sekarang jadi sekretaris keduanya Pak Ellard,"


"uh, sepertinya mereka sudah mulai terang-terangan menunjukkan hubungan mereka,'


"Pak Ellard tampannya gak ketulungan trus Clarissa juga cantik. Mereka memang pasangan yang sempurna,"


terhenti saat mendengar pekikan antusias beberapa karyawan wanita


didekatnya. Mata Ara menangkap sosok Ellard dan Clarissa yang berjalan


beriringan. Keduanya tampak akrab dan sesekali mereka saling melempar


senyum manis satu dengan yang lain. Sungguh pemandangan yang berhasil


membuat moodnya jelek. Belum lagi ucapan-ucapan beberapa wanita tadi


yang begitu mengagumi sosok keduanya. Ah, ternyata mereka sudah


seterkenal itu.


Ara mengatur nafas


pelan, dan kembali meneruskan langkahnya yang tertundah. Namun baru


beberapa langkah, ntah dirinya yang tidak focus— tiba-tiba dia


bertubrukan dengan seorang.


BRAKKK


Keduanya jatuh tersimpuh dilantai dengan beberapa lembar dokumen yang berhamburan dilantai.


"Arrrgghhh..." Ara memejamkan mata, meringis mengusap-usap bokongnya yang tercium lantai


"kau tidak apa-apa? Ah, maafkan aku—" pria itu segera berdiri menyodorkan tangannya membantu Ara berdiri.


Ara menatap raut cemas pria dihadapannya. Menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri.


"Ah tidak apa-apa. Aku yang kurang hati-hati," Ara tersenyum ramah lalu mengarahkan matanya pada kertas-kertas yang berhamburan


"biar kubantu—" ucap pria itu langsung memungut satu per satu kertas itu, disusul oleh Ara yang turut membantu.


"Sekali lagi aku minta maaf," pria itu masih merasa bersalah


"It's ok, bukan masalah besar juga" Ara merapikan dokumen ditangannya


"Perkenalkan namaku Richard, karyawan baru di divisi marketing," Richard tersenyum kembali mengulurkan tangannya


"Aurora— senang bisa mengenalmu" balas Ara


"Baiklah sekarang kita


adalah teman. Dan sebagai temanmu, aku akan membantu mengantarkan


benda-benda berat ini," Ricahard langsung mengambil semua dokumen berat


itu tanpa persetujuan Ara


"Ah tidak perlu, aku bisa melakukannya—" cegah Ara namun tidak digubris. Dengan santainya Richard melangkah menujuh lift


"Ara, ayo tunjukin jalannya—" seru Richard ketika gadis itu hanya diam saja.


"Ah baik," sahut Ara melangkah cepat hingga keduanya memasuki lift.


****


Mr. Bossy


Sayang, hari ini oma


datang. Oma minta kita makan malam bareng dirumah daddy. Nanti tunggu


aku ditempat biasa. Kita berangkat sama.


Pesan dari suaminya itu


dikirim saat dirinya tadi sedang makan siang bersama Richard, teman


barunya. Mengirim pesan padahal saat itu mereka berdua berada di


cafeteria perusahaan yang sama. Mereka hanya berjarak beberapa meja.


Ellard makan bersama Clarissa. Ara mendengkus, gadis itu selalu


menempeli suaminya kemanapun. Bahkan saat ini pun kekesalannya bertambah


dua kali lipat saat mendapati Clarissa pun turut ikut semobil dengan


mereka. Gadis itu duduk manis di jok belakang, tersenyum menatap


kearahnya yang baru saja duduk di jok depan disamping Ellard.


"Oma juga minta Cla ikut makan malam bareng kita. Katanya kangen," Ellard menjelaskan sambil tangannya mulai menyetir.


"Aku jadi enggak ganggu kalian kan?" Clarissa tersenyum


"Sama sekali tidak kak,"


balas Ara tak kalah ramah, menampilkan senyum palsunya. Entah kenapa


dia selalu merasa kehadiran Clarissa seakan suatu ancaman untuknya.


"Dulu Cla sering main

__ADS_1


kerumah bahkan sampe nginap. Bantuin oma masak dan curhat gak jelas


sampai seharian," ucap Ellard mengingat kenangan ketika sahabatnya itu


sangat lengket dengan omanya bak perangko.


"Itu karna oma orangnya


seru tahu. Bayangkan saja, sekalipun sudah setua itu tapi sangat enerjik


dan jiwa anak mudanya masih kental. Salut banget aku—" kekeh Clarissa


"Ck, karna itulah kamu selalu merengek minta dianterin kerumah," decih Ellard tak urung tersenyum


"dan kamu tetap gak bisa nolak—"


Keduanya tertawa


mengingat masa-masa itu. Ara hanya diam, menyaksikan betapa hangatnya


perbincangan mereka. Dadanya kembali terasa sesak. Mereka tertawa,


mengobrol, dan ia hanya bisa pasang telinga mendengarkan dengan


nelangsa.


Merasa Ara-nya banyak


diam, Ellard menoleh lalu sebelah tangannya mengenggam tangan Ara.


meremasnya sebelum mengangkat tautan tangan mereka lalu mengecup lama


punggung tangan istrinya.


"Pria yang makan bersamamu tadi siang siapa?" tanyanya tanpa melepaskan tautan tangan mereka


"Richard," jawab Ara sekenanya


"Richard?"


"Hm, dia karyawan baru juga,"


"Pria itu tampan juga. Tampaknya kalian terlihat sudah sangat dekat," Clarissa nimbrung


Ara mengangkat bahu, "Begitulah. Dia baik dan sangat ramah,"


"Jangan memuji pria lain didepan suamimu sayang—" ucap Ellard dengan nada tak suka


"Itu kenyataan," kilah Ara


"Sekalipun itu benar, tetap saja aku tidak ingin mendengar kau memujinya,"


Ara memutar bola matanya malas. "Ck, bossy"


"Aku mendengarnya sayang," senyum Ellard kembali mencium punggung tangan Ara.


Sementara


Clarissa cuma menjadi penonton atas sikap manis Ellard pada Ara.


Seperti ribuan pisau yang tertancap dalam, ia kesakitan. Tidak tahan,


Clarissa membuang mukanya menatap jalanan malam.


****


"Kalian sudah datang," Seru seorang wanita tua yang terlihat masih sangat sehat sekalipun seluruh rambutnya sudah memutih


"Oma--" Ellard tak kalah antusias. Dia menundukkan sedikit badannya yang tinggi untuk memeluk erat sang oma.


"Ah cucu tampanku," oma menepuk-nepuk punggung cucunya


"I miss you badly oma,"


"Me too son," Oma mengurai pelukannya tanpa memudarkan senyum hangatnya


"Kudengar kau sudah menikah. Dimana dia?"


Ellard


tersenyum. Dia menggeser tubuhnya yang sejak tadi menghalangi


pemandangan oma dari kedua gadis yang masih berdiri di depan pintu.


"Itu dia, cucu menantumu oma" tunjuk Ellard pada Ara yang masih berdiri mematung.


Oma


Ela mengikuti arah tunjukkan Ellard. Disana dia melihat ada dua gadis


berdiri. Mereka sama-sama tersenyum. Salah satu dari gadis itu, ia


mengenalnya dengan baik. Clarissa, gadis yang sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri. Dia juga menyayangi gadis itu.


Kemudian


tatapannya beralih pada gadis disebelah Clarissa. Matanya menilik dari


bawah ke atas, Gadis gendut dengan penampilan sederhana yang menurut


ukurannya  sangat jauh tidak cocok untuk menjadi pendamping cucunya


Ellard yang notabenenya adalah lelaki yang nyaris sempurna dan owner


perusahaan besar Miller IE Corp. Yah sekalipun gadis itu terlihat manis, tapi tetap saja dia tidak menyukainya


Lelucon apa ini? kenapa Holland bisa membiarkan cucuku menikah dengan gadis seperti itu! apa pandangan orang-orang diluar sana.


"Sayang kemarilah," panggil Ellard.


Ara mendekat dan berdiri tepat disisi Ellard yang langsung merangkul bahunya.


"Oma kenalkan, ini istriku Aurora Beatrix Miller,"


"Senang bertemu dengan--"


"Clarissa sayang-- kau datang nak,"


Oma Ela berjalan melewati Ara begitu saja tanpa menghiraukan uluran tangan Ara yang mengambang diudara.


Ara


mematung. Mengerjap tidak percaya atas penolakan yang nyata-nyata oleh


Oma Ela. Tidak tersenyum ataupun membalas jabatan tangannya melainkan


melewatinya begitu saja dan kini wanita tua itu tengah berpelukan hangat


dengan Clarissa. Apa? ada apa ini? apakah dirinya sudah melakukan


kesalahan? bukankah ini pertama kalinya mereka bertemu?


Sementara


reaksi Ellard tak kalah sama terkejutnya atas penolakan omanya itu. Dia


menggeleng tidak percaya. Benarkah ini omanya? bukankah oma yang


dikenalnya selama ini adalah wanita tua yang sangat hangat dan


menjunjung tinggi kesopan santunan? lalu kenapa sekarang omanya


melakukan hal yang tidak sopan begini pada istrinya?


Ellard


melarikan tatapannya pada Ara yang masih mematung. Wajah gadis itu


tampak memucat. Dengan lembut Ellard menyambut uluran tangan istrinya


dan menggengamnya lembut. Ara menatap tangannya yang kini menyatu dengan


Ellard. Menatap suaminya seakan meminta penjelasan. Namun Ellard hanya


menerbitkan senyum hangatnya dan mencium punggung tangan istrinya seolah


berkata tidak apa-apa.


"Oma..." Peringat Ellard menyorot tajam pada omanya yang tampak tenang saja seperti tidak terjadi apapun.


"Sebaiknya


kita segera makan. Oma sudah menyiapkan banyak makanan. Ayo sayang-,"


Oma sama sekali tidak mengindahkan tatapan mengingatkan cucunya. Dengan


santainya dia membimbing tangan Clarissa masuk menujuh ruang makan


keluarga.


Hati


Ara mencelos melihat sikap oma Ela yang semakin meyakinkan dirinya


bahwa wanita tua itu benar-benar tidak menyukainya sejak awal pertemuan


mereka. Ara mengigit bibir bagian dalamnya berusaha menahan airmatanya


yang siap jatuh.


Tidak.. dirinya tidak boleh secengeng ini sekarang...


Ara menghembuskan nafasnya pelan lalu merubah air mukanya yang sempat mendung menjadi tersenyum.


"Sayang, ayo kita masuk" ucap Ellard lembut


"Iya," sahut Ara tersenyum.


Ellard tersenyum. Mengecup sayang kening istrinya sebelum kemudian ikut masuk dengan tangan yang saling bertautan.


 


 


To be continued


Haii semua...


Gimana part ini? vote dan komen yang ramai ya... hehehe


See you di next part yang lebih mengesalkan lagi 😉😉😉

__ADS_1


 


 


__ADS_2