
Semangat kerjanya sayang
Sayang Kamu dimana? Uda makan?
Tunggu aku di parkiran ya, kita pulang bareng
Sayang ... Sibuk banget ya?
Sayang...
Ellard menghembus nafas
frustasi. Untuk kesekian kali rentetan pesannya tidak dibalas dan
panggilan telepon sama sekali tidak dijawab oleh Ara melainkan pihak
operator. Dia jadi bertanya-tanya sebenarnya sesibuk apa istrinya itu
sampai dirinya diabaikan seharian ini. Dia ingin berkunjung ke divisi
Ara namun diurungkan, mengingat gadisnya itu tidak akan suka. Bahkan
dirinya yang tidak pernah-pernahnya makan siang di Cafetaria perusahaan,
menyempatkan diri makan disana berharap bisa melihat sosok istrinya.
Namun Ara tidak berada disana.
Ellard melirik jam
tangannya. Sepuluh menit lagi menujuh angka delapan malam. Sampai
sekarang istrinya itu belum ada kabar. Ntah Ara sudah pulang atau belum.
Dan untuk memastikannya dia memutuskan untuk pulang. Baru saja dirinya
berada diluar gedung tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari
belakang. Dengan gerakan cepat Ellard memutar tubuhnya menatap siapa
pelaku yang telah berani memeluknya tanpa persetujuan.
"Cla—" kagetnya
"Kaget ya," racau Clarissa nyengir
"Kamu— mabuk?" terka Ellard saat hidungnya tanpa sengaja menghidu bau alkohol dari mulut gadis itu
"Cuma sedikit. Aku hanya ingin mencoba mencari pengalihan. Disini—" Clarissa menunjuk hatinya "rasanya sakit,"
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Kau mau dengar?"
"Katakan"
Clarissa menatap Ellard sayu.
"Kau masih ingat, dulu aku pernah cerita kalo aku jatuh hati pada seorang pria secara diam-diam?"
Ellard mengangguk. Dia ingat, Clarissa pernah menceritakan laki-laki yang disukainya itu.
"Dia baru saja menikah.
Bahkan sebelum aku sempat mengatakan perasaanku sebenarnya. Karna itu
hatiku sangat sakit sekarang—" serak Clarissa tak mampu menahan
airmatanya lagi
"Cla—" hati Ellard
terenyuh. Tidak tega melihat tatapan terluka sahabatnya itu. Dia
terbiasa melihat kecerian gadis itu, namun untuk malam ini sinar ceria
itu tidak ada. Ellard menarik Clarissa ke dalam pelukannya, seakan
memberikan ketenangan.
"Semua akan baik-baik saja. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dari dirinya," Tangan Ellard mengusap-usap punggung Clarissa
"El—bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" pinta Clarissa megurai pelukannya. Menatap Ellard lekat. Ia sangat mencintai pria ini.
"Apa itu?"
"Bolehkah aku menciummu? Sekali ini saja— " Clarissa seakan kehilangan kewarasannya
Ellard membeku ditempatnya. Tidak menyangka permintaan itu yang akan keluar dari sahabatnya.
"Apa kau sudah gila Cla? Aku sudah menikah. Lagipula kita adalah sahabat—"
"El, kau sangat mirip dengannya. Hanya sekali ini saja. Setidaknya aku bisa menganggap dia adalah dirimu,"
"Tetap saja aku bukan dirinya Cla. Berhenti membual" geram Ellard
"El—" Clarissa terisak pilu
Ellard menggeram. Dia paling tidak tahan melihat gadis itu menangis. Ia membuang nafas kasar
"Baiklah. Hanya sekali ini—" tangan Ellard terkepal saat mengatakannya.
Clarissa tersenyum.
Menyeka airmatanya lalu semakin mendekatkan diri pada Ellard. Dia
mengalungkan tangannya di leher Ellard kemudian berjinjit menyamakan
tingginya dengan Ellard yang sama sekali tidak berniat untuk menunduk.
Lalu sedetik kemudian dia menyatukan bibirnya pada milik Ellard yang
dingin. Lelaki itu bergeming. Clarissa menggerakkan bibirnya menyesap
bibir yang selama ini sangat ingin diciumnya itu. Sekalipun Ellard tidak
membalasnya sama sekali namun cukup membuat dirinya sangat puas.
Apalagi saat matanya menangkap sosok Ara yang diam mematung ketika
menyaksikan kegiatan mereka. Clarissa tersenyum penuh kemenangan
disela-sela ciumannya sampai akhirnya Ara memutuskan pergi dari sana.
****
Pandangan Ara kosong.
Menatap nyalang pada banyaknya makanan di atas meja yang dipesannya
melalui aplikasi online. Perutnya sudah terasa sangat perih meminta
diisi namun mulutnya kini seakan tidak ingin menyentuh semua makanan
kesukaannya itu. Sekelebat ingatan Ellard yang berciuman dengan Clarissa
kembali menghampirinya. Sial, setetes bening itu kembali menerobos
keluar tanpa bisa dicegah. Dadanya berdentam keras, sakitnya serasa
berkeliaran diseluruh tubuh. Seharusnya hatinya tidak begini bukan? Ara
meyakinkan diri. Menggeleng-geleng keras dan menyeka airmatanya. Dengan
masih bergetar dia mengambil sendok dan mulai mencicipi makanan yang
ada. Awalnya gerakan mengunyahnya lambat, namun kemudian semakin cepat
bahkan seperti kesetanan memasukkan semua makanan itu kedalam mulut yang
jelas-jelas masih belum tergiling dengan sempurna. Mulutnya penuh. Ara
terisak, dadanya naik turun karena sesak yang seakan menghimpit.
Jangan nangis Ara... kamu gak boleh nangis. Kamu gak mencintainya. Ingat, kamu hanya mencintai kak Leo...
Ara terus merapalkan kalimat itu didalam hatinya. Namun tetap saja dadanya masih sakit dan airmatanya tidak mau berhenti.
"Ara—"
Ara menegang. Ia
mengenal pemilik suara itu. Cepat-cepat dia menghapus airmatanya lalu
menegapkan punggung. Mengubah air mukanya menjadi biasa dan kembali
melanjutkan suapan makannya. Ellard semakin mendekat, menarik kursi dan
duduk disebelahnya. Aroma mint yang menyegarkan indra penciuman menguar
harum— tepat disebelahnya.
"Sudah lama pulang?" tanya Ellard menatap lekat istrinya yang sibuk mengunyah
"Hmm,"
"Dari tadi ku chat dan telpon kenapa gak dibalas ataupun diangkat?"
"Sibuk. Ponselku juga
mati karna batrenya habis," Ara tidak berbohong. Ponselnya memang mati
karna lupa mengisih baterainya semalam.
Ellard mengangguk. Gadis itu belum mau menatapnya.
"Lapar banget ya?"
"hm"
Ellard gemas melihat
mulut penuh itu. gadis itu melahap makanan seperti sudah tidak diberi
makan berhari-hari. Ah lihat, sekarang terdapat beberapa sisa makanan
yang menempel di sekitar mulutnya.
"Ara—"
Ara kesal. Dari tadi lelaki disebelahnya ini terus mengajaknya bicara. Menelan cepat makanannya lalu hendak memaki
__ADS_1
"Apa? Bisa tidak di—hmpptttt"
Terlambat. Ellard lebih
dulu membungkam mulutnya. Pria itu memagut bibirnya dan menjilat bersih
sisa makanan disudut bibirnya. Ara merontah namun pergerakannya dikunci.
Bahkan kini Ellard memiringkan kepalanya semakin memperdalam hisapannya
pada bibir atas dan bawah Ara. Ellard terus mempermainkan bibir merah
itu bahkan kini berhasil memasukkan lidahnya, menggoda lidah istrinya
disana. Ellard merasa bersalah. Yang dia inginkan sekarang adalah
menghapus jejak ciuman Clarissa dengan milik istrinya. Percayalah dia
hanya menginginkan sentuhan istrinya sendiri— bukan wanita lain,
sekalipun itu sahabatnya Clarissa.
Ara menggeram. Tangannya
mengepal kuat. Berani-beraninya pria ini menciumnya setelah puas
melakukannya dengan wanita lain. Hatinya sakit. Dengan sekuat tenaga Ara
mendorong dada Ellard dan— berhasil.
"Kau gila ya! Aku lagi makan," teriak Ara tersengal
Bukannya marah, Ellard malah terkekeh melihat wajah merah Ara yang marah.
"Iya— aku gila karna seharian ini istriku mengabaikanku" jawabnya mengangkat bahu santai
Bastard!!
"Sayang aku juga lapar,"
"Terus?" Ara mendelik
"Suapin"
"Gak bisa. Ini punyaku. Suruh pelayan sana buatkan," Ara acuh
"Sayang, kamu suapin aku— atau aku yang makan kamu sekarang juga," Ellard menyeringai "Aku tidak main-main sayang,"
Ara menghembus nafas
kesal. Ellard selalu mengancamnya begitu jika kemauannya tidak dituruti.
Bibirnya berucap komat kamit tanpa suara, mengeluarkan sumpah serapah
sambil tangannya bergerak menyendok nasi dan lauk pauk lainnya kedalam
piring.
"Tidak baik mengumpat suami begitu sayang," celetuk Ellard berusaha menahan tawa melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Buka mulut," katanya masih kesal, menyodorkan suapan
Ellard terkekeh sebelum kemudian menerima suapan istrinya. Ah ini adalah salah satu hal-hal yang ingin dilakukannya dengan Ara.
Hal-hal kecil yang semakin mendekatkan hubungan keduanya sebagai suami
istri.
****
Pagi ini Ara kembali
disuruh-suruh oleh Emma. Gadis itu menyuruhnya mengcopy beberapa
tumpukan dokumen ke lantai satu karna mesin fotocopy diruangan mereka
sedang banyak yang menggunakan. Sementara ruangan mereka berada dilantai
tiga puluh tiga. Belum lagi dia harus berdiri, sabar menunggu sambil
memangku beberapa dokumen yang cukup berat di depan lift yang sangat
ramai digunakan. Ara baru masuk kedalam lift disaat muatan didalam sana
tidak banyak.
Peluhnya mengucur setiap
kali bergerak. Ditambah lagi beban dokumen bertambah dua kali lipat
setelah difotocopy. Sial, dia lupa membawa trolly. Sambil terus
melangkah terseok Ara merutuki kebodohannya.
"Heh, itu ada Pak Ellard sama Clarissa, wah mereka sangat serasi sekali"
"wah Clarissa sudah kembali rupanya. Makin cantik lagi"
"Dengar-dengar ya, katanya Clarissa sekarang jadi sekretaris keduanya Pak Ellard,"
"uh, sepertinya mereka sudah mulai terang-terangan menunjukkan hubungan mereka,'
"Pak Ellard tampannya gak ketulungan trus Clarissa juga cantik. Mereka memang pasangan yang sempurna,"
terhenti saat mendengar pekikan antusias beberapa karyawan wanita
didekatnya. Mata Ara menangkap sosok Ellard dan Clarissa yang berjalan
beriringan. Keduanya tampak akrab dan sesekali mereka saling melempar
senyum manis satu dengan yang lain. Sungguh pemandangan yang berhasil
membuat moodnya jelek. Belum lagi ucapan-ucapan beberapa wanita tadi
yang begitu mengagumi sosok keduanya. Ah, ternyata mereka sudah
seterkenal itu.
Ara mengatur nafas
pelan, dan kembali meneruskan langkahnya yang tertundah. Namun baru
beberapa langkah, ntah dirinya yang tidak focus— tiba-tiba dia
bertubrukan dengan seorang.
BRAKKK
Keduanya jatuh tersimpuh dilantai dengan beberapa lembar dokumen yang berhamburan dilantai.
"Arrrgghhh..." Ara memejamkan mata, meringis mengusap-usap bokongnya yang tercium lantai
"kau tidak apa-apa? Ah, maafkan aku—" pria itu segera berdiri menyodorkan tangannya membantu Ara berdiri.
Ara menatap raut cemas pria dihadapannya. Menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri.
"Ah tidak apa-apa. Aku yang kurang hati-hati," Ara tersenyum ramah lalu mengarahkan matanya pada kertas-kertas yang berhamburan
"biar kubantu—" ucap pria itu langsung memungut satu per satu kertas itu, disusul oleh Ara yang turut membantu.
"Sekali lagi aku minta maaf," pria itu masih merasa bersalah
"It's ok, bukan masalah besar juga" Ara merapikan dokumen ditangannya
"Perkenalkan namaku Richard, karyawan baru di divisi marketing," Richard tersenyum kembali mengulurkan tangannya
"Aurora— senang bisa mengenalmu" balas Ara
"Baiklah sekarang kita
adalah teman. Dan sebagai temanmu, aku akan membantu mengantarkan
benda-benda berat ini," Ricahard langsung mengambil semua dokumen berat
itu tanpa persetujuan Ara
"Ah tidak perlu, aku bisa melakukannya—" cegah Ara namun tidak digubris. Dengan santainya Richard melangkah menujuh lift
"Ara, ayo tunjukin jalannya—" seru Richard ketika gadis itu hanya diam saja.
"Ah baik," sahut Ara melangkah cepat hingga keduanya memasuki lift.
****
Mr. Bossy
Sayang, hari ini oma
datang. Oma minta kita makan malam bareng dirumah daddy. Nanti tunggu
aku ditempat biasa. Kita berangkat sama.
Pesan dari suaminya itu
dikirim saat dirinya tadi sedang makan siang bersama Richard, teman
barunya. Mengirim pesan padahal saat itu mereka berdua berada di
cafeteria perusahaan yang sama. Mereka hanya berjarak beberapa meja.
Ellard makan bersama Clarissa. Ara mendengkus, gadis itu selalu
menempeli suaminya kemanapun. Bahkan saat ini pun kekesalannya bertambah
dua kali lipat saat mendapati Clarissa pun turut ikut semobil dengan
mereka. Gadis itu duduk manis di jok belakang, tersenyum menatap
kearahnya yang baru saja duduk di jok depan disamping Ellard.
"Oma juga minta Cla ikut makan malam bareng kita. Katanya kangen," Ellard menjelaskan sambil tangannya mulai menyetir.
"Aku jadi enggak ganggu kalian kan?" Clarissa tersenyum
"Sama sekali tidak kak,"
balas Ara tak kalah ramah, menampilkan senyum palsunya. Entah kenapa
dia selalu merasa kehadiran Clarissa seakan suatu ancaman untuknya.
"Dulu Cla sering main
__ADS_1
kerumah bahkan sampe nginap. Bantuin oma masak dan curhat gak jelas
sampai seharian," ucap Ellard mengingat kenangan ketika sahabatnya itu
sangat lengket dengan omanya bak perangko.
"Itu karna oma orangnya
seru tahu. Bayangkan saja, sekalipun sudah setua itu tapi sangat enerjik
dan jiwa anak mudanya masih kental. Salut banget aku—" kekeh Clarissa
"Ck, karna itulah kamu selalu merengek minta dianterin kerumah," decih Ellard tak urung tersenyum
"dan kamu tetap gak bisa nolak—"
Keduanya tertawa
mengingat masa-masa itu. Ara hanya diam, menyaksikan betapa hangatnya
perbincangan mereka. Dadanya kembali terasa sesak. Mereka tertawa,
mengobrol, dan ia hanya bisa pasang telinga mendengarkan dengan
nelangsa.
Merasa Ara-nya banyak
diam, Ellard menoleh lalu sebelah tangannya mengenggam tangan Ara.
meremasnya sebelum mengangkat tautan tangan mereka lalu mengecup lama
punggung tangan istrinya.
"Pria yang makan bersamamu tadi siang siapa?" tanyanya tanpa melepaskan tautan tangan mereka
"Richard," jawab Ara sekenanya
"Richard?"
"Hm, dia karyawan baru juga,"
"Pria itu tampan juga. Tampaknya kalian terlihat sudah sangat dekat," Clarissa nimbrung
Ara mengangkat bahu, "Begitulah. Dia baik dan sangat ramah,"
"Jangan memuji pria lain didepan suamimu sayang—" ucap Ellard dengan nada tak suka
"Itu kenyataan," kilah Ara
"Sekalipun itu benar, tetap saja aku tidak ingin mendengar kau memujinya,"
Ara memutar bola matanya malas. "Ck, bossy"
"Aku mendengarnya sayang," senyum Ellard kembali mencium punggung tangan Ara.
Sementara
Clarissa cuma menjadi penonton atas sikap manis Ellard pada Ara.
Seperti ribuan pisau yang tertancap dalam, ia kesakitan. Tidak tahan,
Clarissa membuang mukanya menatap jalanan malam.
****
"Kalian sudah datang," Seru seorang wanita tua yang terlihat masih sangat sehat sekalipun seluruh rambutnya sudah memutih
"Oma--" Ellard tak kalah antusias. Dia menundukkan sedikit badannya yang tinggi untuk memeluk erat sang oma.
"Ah cucu tampanku," oma menepuk-nepuk punggung cucunya
"I miss you badly oma,"
"Me too son," Oma mengurai pelukannya tanpa memudarkan senyum hangatnya
"Kudengar kau sudah menikah. Dimana dia?"
Ellard
tersenyum. Dia menggeser tubuhnya yang sejak tadi menghalangi
pemandangan oma dari kedua gadis yang masih berdiri di depan pintu.
"Itu dia, cucu menantumu oma" tunjuk Ellard pada Ara yang masih berdiri mematung.
Oma
Ela mengikuti arah tunjukkan Ellard. Disana dia melihat ada dua gadis
berdiri. Mereka sama-sama tersenyum. Salah satu dari gadis itu, ia
mengenalnya dengan baik. Clarissa, gadis yang sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri. Dia juga menyayangi gadis itu.
Kemudian
tatapannya beralih pada gadis disebelah Clarissa. Matanya menilik dari
bawah ke atas, Gadis gendut dengan penampilan sederhana yang menurut
ukurannya sangat jauh tidak cocok untuk menjadi pendamping cucunya
Ellard yang notabenenya adalah lelaki yang nyaris sempurna dan owner
perusahaan besar Miller IE Corp. Yah sekalipun gadis itu terlihat manis, tapi tetap saja dia tidak menyukainya
Lelucon apa ini? kenapa Holland bisa membiarkan cucuku menikah dengan gadis seperti itu! apa pandangan orang-orang diluar sana.
"Sayang kemarilah," panggil Ellard.
Ara mendekat dan berdiri tepat disisi Ellard yang langsung merangkul bahunya.
"Oma kenalkan, ini istriku Aurora Beatrix Miller,"
"Senang bertemu dengan--"
"Clarissa sayang-- kau datang nak,"
Oma Ela berjalan melewati Ara begitu saja tanpa menghiraukan uluran tangan Ara yang mengambang diudara.
Ara
mematung. Mengerjap tidak percaya atas penolakan yang nyata-nyata oleh
Oma Ela. Tidak tersenyum ataupun membalas jabatan tangannya melainkan
melewatinya begitu saja dan kini wanita tua itu tengah berpelukan hangat
dengan Clarissa. Apa? ada apa ini? apakah dirinya sudah melakukan
kesalahan? bukankah ini pertama kalinya mereka bertemu?
Sementara
reaksi Ellard tak kalah sama terkejutnya atas penolakan omanya itu. Dia
menggeleng tidak percaya. Benarkah ini omanya? bukankah oma yang
dikenalnya selama ini adalah wanita tua yang sangat hangat dan
menjunjung tinggi kesopan santunan? lalu kenapa sekarang omanya
melakukan hal yang tidak sopan begini pada istrinya?
Ellard
melarikan tatapannya pada Ara yang masih mematung. Wajah gadis itu
tampak memucat. Dengan lembut Ellard menyambut uluran tangan istrinya
dan menggengamnya lembut. Ara menatap tangannya yang kini menyatu dengan
Ellard. Menatap suaminya seakan meminta penjelasan. Namun Ellard hanya
menerbitkan senyum hangatnya dan mencium punggung tangan istrinya seolah
berkata tidak apa-apa.
"Oma..." Peringat Ellard menyorot tajam pada omanya yang tampak tenang saja seperti tidak terjadi apapun.
"Sebaiknya
kita segera makan. Oma sudah menyiapkan banyak makanan. Ayo sayang-,"
Oma sama sekali tidak mengindahkan tatapan mengingatkan cucunya. Dengan
santainya dia membimbing tangan Clarissa masuk menujuh ruang makan
keluarga.
Hati
Ara mencelos melihat sikap oma Ela yang semakin meyakinkan dirinya
bahwa wanita tua itu benar-benar tidak menyukainya sejak awal pertemuan
mereka. Ara mengigit bibir bagian dalamnya berusaha menahan airmatanya
yang siap jatuh.
Tidak.. dirinya tidak boleh secengeng ini sekarang...
Ara menghembuskan nafasnya pelan lalu merubah air mukanya yang sempat mendung menjadi tersenyum.
"Sayang, ayo kita masuk" ucap Ellard lembut
"Iya," sahut Ara tersenyum.
Ellard tersenyum. Mengecup sayang kening istrinya sebelum kemudian ikut masuk dengan tangan yang saling bertautan.
To be continued
Haii semua...
Gimana part ini? vote dan komen yang ramai ya... hehehe
See you di next part yang lebih mengesalkan lagi 😉😉😉
__ADS_1