
Hari
beranjak larut ketika Leo mengantar pulang Ara dan anak-anaknya. Sepanjang hari
mereka memang menghabiskan banyak waktu, makan dan memainkan banyak permainan di
Mall— layaknya keluarga bahagia. Sikembar begitu antusias dan sangat aktif
sepanjang disana hingga membuat Ara dan Leo harus memusatkan perhatian lebih
pada kedua bocah kembar itu.
“Kakak
langsung pulang?” tanya Ara, ketika keduanya keluar dari kamar sikembar. Kedua
mahluk kecil itu sudah tertidur begitu lelapnya.
Leo
tersenyum mengangguk. “Besok aku harus pimpin rapat di Manhattan”
“Tapi
ini sudah larut. Apa tidak bisa ditunda?” cemas Ara
“Seandainya
bisa ditunda, sudah aku lakukan sejak tadi” Leo mendesah lesuh “aku juga masih
merindukan si kembar”
Ara
menatap dalam Leo. Hatinya menghangat— lelaki ini terlihat begitu jelas sangat
menyayangi anak-anaknya.
“Terimakasih
kak,” lirih Ara dengan mata yang memanas
“Untuk?”
dahi Leo berkerut
“Untuk
semua yang telah kakak lakukan buat kami. Terlebih anak-anakku. Sungguh, aku
tidak tahu bagaimana lagi harus membalas perbuatan baik kakak,”
Leo
tidak langsung menjawab. Dia meraih jemari Ara dan menggenggamnya erat.
“Kamu
ingin tahu bagaimana cara membalasnya?” tanya Leo, menatap lekat manik berair
Ara
Ara
terdiam, namun tatapannya seakan menantikan perkataan selanjutnya dari Leo
“Buka
hatimu untukku.” Ucap Leo dengan tatapan yang tak putus dari Ara “Ara, aku
masih menantikan jawabanmu”
Ara
menundukkan wajahnya. Ini adalah pembahasan yang selalu ingin dihindarinya. Ya,
tahun lalu… tepatnya waktu sikembar selesai merayakan pesta ulang tahun mereka
yang ketiga tahun, Leo mengutarakan perasaannya yang terpendam selama ini pada
Ara. Leo mencintainya. Suatu hal yang
tidak pernah disangka-sangkanya. Waktu itu Ara begitu shock, lidahnya mendadak
keluh hingga tidak mampu mengatakan apapun lagi setelahnya. Leo mengerti dan
tidak pernah membahasnya lagi, tapi malam ini…
“Kak,
aku tidak ingin mengecewakanmu.” Ara menatap Leo dengan serius.
“Apa
kamu sama sekali tidak ingin memberikanku kesempatan?”
“Asal
kakak tahu, sejak kakak mengatakan itu—
hampir setiap hari aku memberikan kesempatan untuk hatiku agar bisa menerimamu
atau pria lain. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin memaksakan sesuatu yang
tidak bisa kulakukan.” aku Ara “memang dulu, aku pernah menaruh perasaan pada
kakak… tapi itu berubah setelah aku menikah dengan Ellard. Aku… masih mencintainya. Maaf kak…” Ara
menunduk penuh rasa bersalah.
“Ara…”
“Dia
memang sudah sangat menyakitiku. Dan bahkan karna sakit itu, aku pernah memohon
kepada Tuhan bukan untuk menyatukan kami kembali, melainkan untuk melupakan.
Tapi… nyatanya sampai sekarang pun aku tetap tidak bisa membuangnya dari
hatiku.” Lanjut Ara dengan airmata yang mengalir di pipi. “andai waktu itu
kakak mengatakannya sebelum aku menikah, mungkin yang tetap kucintai sekarang
adalah kakak,”
Leo
terdiam tanpa melepaskan tatapannya dari Ara. Gadis kecilnya ini sama sekali
tidak memberinya kesempatan. Dia benar-benar telah kalah. Si berengsek Ellard
telah berhasil membuat Ara hanya jatuh padanya. Menahan sesaknya, tangan Leo
terangkat mengusap lembut bulir bening di pipi Ara.
__ADS_1
“Jadi,
kamu ingin kembali padanya?” pelan, Leo bertanya
Ara
bergeming. Lidahnya keluh untuk menjawab, namun didetik selanjutnya dia
menggeleng lemah.
“Lalu
apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba dia berhasil menemukan kalian? Ingat,
yang menyembunyikanmu adalah Ayahnya. Tidak akan selamanya dia akan
merahasiakan keberadaanmu dari anak yang dikasihinya— apalagi beliau tahu
cucunya sudah tumbuh sebesar ini. anak-anak itu juga memerlukan sosok seorang
ayah.” Jelas Leo dengan tangan yang tak lepas membelai pipi Ara.
“Jadi,
kalau kamu tidak ingin kembali pada Ellard, setidaknya belajarlah menerimaku.
Aku bisa menjadi ayah untuk sikembar. Terlebih, hubungan kami sejak dulu sudah
sangat dekat. Mereka sudah aku anggap menjadi anakku sendiri. Aku ingin menjaga
kalian dengan sebuah ikatan. Dengan begitu, suatu saat nanti Ellard tidak akan dengan mudah dapat mengambil
sikembar darimu. Kamu juga bisa kembali pada keluargamu dengan tenang. Aku yang
akan menjamin kalian, sekalipun nyawaku sebagai taruhannya”
Aurora
terdiam, menatap gamang pada Leo. Cinta pertamanya. Lelaki yang selalu
melindungi dan ada disaat-saat terburuknya. Hidupnya memang terasa seperti
drama. Dimana terdapat seorang lelaki sebaik Leo yang tanpa lelah menantinya,
namun ia malah tetap mempertahankan perasaannya pada Ellard. Dan pada akhirnya,
takdirlah yang memaksa Ara untuk menyerah pada Ellard.
Mungkin
Leo benar, satu-satunya cara ialah menikah. Tapi… entahlah… hatinya belum siap.
Terlebih Leo sudah Aurora anggap sebagai seorang kakak seperti Alex. Tidak
lebih.
Aurora
menghela napasnya. Ia harus berpikir jernih. Bukan saatnya hanya memikirkan
perasaannya sendiri. Ada Nathan dan Nala yang harus ia pertahankan disisinya.
“Kalau
begitu berikan aku sedikit waktu lagi untuk berpikir, Kak…,” ucap Ara pada
akhirnya.
Leo
mencium puncaknya begitu dalam.
****
“Apa
kau akan terus tidak berbicara lagi denganku?”
Suara
berat dan rendah Holland memenuhi ruang rapat besar pimpinan begitu para dewan
direksi lain keluar dari ruangan. Langkah Ellard terhenti begitu mendengar
suara tersebut. Ia berbalik dan menoleh dengan tatapan datarnya.
“Iya” sahut
Ellard “sampai daddy mengatakan dimana keberadaan istriku”
Holland
menghela napas berat. Sudah tiga tahun ini Ellard bersikap dingin kepadanya
sejak Aurora ia sembunyikan dari Ellard. Satu tahun pertama Ellard masih gencar terus memohon padanya untuk
memberitahu dimana Aurora, namun saat itu Holland masih enggan memberitahu.
Hingga setelah itu Ellard tidak lagi pernah menanyakannya lagi dan kini
berbalik mendiamkannya— menganggap keberadaannya tidak pernah ada sekalipun
keduanya tak jarang bertemu di setiap pertemuan rapat. Ellard menganggap
Ayahnya seperti orang asing.
“Apa
kau tidak berniat melepaskannya?” Holland menangkap perubahan sorot mata Ellard
yang kini berubah tajam. Kata melepaskan merupakan
ucapan terkutuk jika hal itu diperuntukkan pada Aurora.
“Sampai
mati pun aku tidak akan melepaskannya. dia masih istriku. ” rendah, namun sarat akan ketegasan
“Kau
sudah memiliki Clara. Carilah perempuan lain untuk menjadi ibu anak itu.
Lupakan Aurora”
“Jika
omong kosong ini yang daddy ingin bahas, maka aku tidak punya waktu.” Ellard
kembali berekspresi datar. “teruslah menyembunyikannya, hingga aku berhasil
menemukannya dengan caraku sendiri” lanjutnya kemudian berbalik, bersiap untuk
keluar namun…
__ADS_1
“Dia
ada di Roma.” Pelan, pada akhirnya Holland memberitahu. Ia sudah tidak tega lagi melihat Ellard yang seperti orang gila mencari Ara. pergi ke berbagai negara, mabuk-mabukan dan terakhir menjadi lebih gila kerja. Beruntung ada Clara yang sedikit berhasil menghibur anaknya ini.
Tubuh
Ellard menegang. Langkahnya seketika terhenti begitu kalimat yang selama empat
tahun ini ditunggunya terucap keluar dari mulut Ayahnya.
“Aku memberikanmu
kesempatan yang terakhir untuk memperbaiki rumah tangga kalian.
Temui dan bawa mereka pulang. Tapi jika sekali lagi kau melakukan kesalahan
yang sama, maka daddy tidak akan segan-segan memisahkanmu dari mereka
selamanya.” Tegas Holland
“Mereka?”
ulang Ellard seketika berbalik. Dari keseluruhan perkataan Ayahnya, telinganya
lebih sensitive menangkap kalimat ambigu itu
Pria
parubaya itu tidak langsung menjawab, melainkan menghela langka menghampiri
Ellard dengan kernyitan didahinya. Holand beridiri tepat disamping Ellard
dengan pandangan lurus ke pintu keluar. Menepuk-nepuk bahu putranya pelan, ia
berbisik “Fraternal twin. Double N. finally you got them”
Ellard
menoleh cepat dengan raut yang semakin pias “Ma-maksud daddy?”
“Pergi
kesana dan temukan jawabannya sendiri” Holland menyeringai— begitu puas menikmati
raut memucat Putranya.
“Dad—“
“Semoga
berhasil.” Potong Holland kemudian melangkah keluar dengan santainya.
Meninggalkan Ellard dengan tubuh yang kini bergetar dan dada yang berdebar
keras. Kalimat ambigu ayahnya sungguh sangat menganggu.
Franetal twin?
Double N?
Jantung
Ellard terasa berhenti, untuk sesaat ia membatu. Hingga didetik kemudian
kilasan-kilasan dirinya dulu yang sering mual parah,
menginginkan makanan yang aneh-aneh, lebih sensitif dan perubahan yang terjadi pada
bentuk tubuh istrinya serta pembahasan tentang nama anak di malam terakhir ia
bersama Ara dulu, kembali menggerayangi pikirannya.
Mungkinkah saat itu
Ara-nya benar-benar tengah hamil?
Tapi
bukankah istrinya itu telah check up pada dokter kandungan dan mengatakan bahwa
hasilnya masih negative? Atau malam
itu Aurora berbohong tentang hasilnya?
Sialan.
Betapa bodohnya ia karna percaya begitu saja. Tidak pernah berpikiran untuk
menanyakan langsung pada dokter kandungan yang menangani Ara.
Ellard
langsung mengeluarkan ponselnya begitu kesadarannya terkumpul. Tergesa, ia
men-dial nomor salah satu bawahannya.
“Temui
dokter kandungan yang memeriksa istriku empat tahun lalu. Dapatkan semua
informasi tentang hasil check up nya.” Titahnya dan langsung mengakhiri
sambungan.
Ellard
tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika ternyata saat itu Aurora-nya
benar-benar mengandung anak mereka. Wanita itu juga akan dia beri pelajaran
karna telah berhasil membohonginya selama empat tahun ini dan membawa serta
anak yang selama ini mereka nantikan.
Nadi
Ellard berpacu, helaan napasnya tidak beraturan. Pegangan pada ponsel semakin
mengetat diikuti tatapan pias yang terpeta nyata diwajahnya. Aurora-nya harus
segera ditemukan. Istrinya itu tidak akan ia biarkan kali ini lepas dan bertindak
sesuka hati lagi. kalau perlu ia akan mengurung wanita itu selamanya
bersamanya.
Auroranya.
Anak-anaknya. Mereka semua adalah miliknya dan harus kembali kesisinya.
To be continued
More info ada di IG: rianitasitumorangg
Lama? Hehe maaf ya. Keluarga lagi berduka...
__ADS_1
See you 😉