Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Tiga (Seri II)


__ADS_3

Hari


beranjak larut ketika Leo mengantar pulang Ara dan anak-anaknya. Sepanjang hari


mereka memang menghabiskan banyak waktu, makan dan memainkan banyak permainan di


Mall— layaknya keluarga bahagia. Sikembar begitu antusias dan sangat aktif


sepanjang disana hingga membuat Ara dan Leo harus memusatkan perhatian lebih


pada kedua bocah kembar itu.


“Kakak


langsung pulang?” tanya Ara, ketika keduanya keluar dari kamar sikembar. Kedua


mahluk kecil itu sudah tertidur begitu lelapnya.


Leo


tersenyum mengangguk. “Besok aku harus pimpin rapat di Manhattan”


“Tapi


ini sudah larut. Apa tidak bisa ditunda?” cemas Ara


“Seandainya


bisa ditunda, sudah aku lakukan sejak tadi” Leo mendesah lesuh “aku juga masih


merindukan si kembar”


Ara


menatap dalam Leo. Hatinya menghangat— lelaki ini terlihat begitu jelas sangat


menyayangi anak-anaknya.


“Terimakasih


kak,” lirih Ara dengan mata yang memanas


“Untuk?”


dahi Leo berkerut


“Untuk


semua yang telah kakak lakukan buat kami. Terlebih anak-anakku. Sungguh, aku


tidak tahu bagaimana lagi harus membalas perbuatan baik kakak,”


Leo


tidak langsung menjawab. Dia meraih jemari Ara dan menggenggamnya erat.


“Kamu


ingin tahu bagaimana cara membalasnya?” tanya Leo, menatap lekat manik berair


Ara


Ara


terdiam, namun tatapannya seakan menantikan perkataan selanjutnya dari Leo


“Buka


hatimu untukku.” Ucap Leo dengan tatapan yang tak putus dari Ara “Ara, aku


masih menantikan jawabanmu”


Ara


menundukkan wajahnya. Ini adalah pembahasan yang selalu ingin dihindarinya. Ya,


tahun lalu… tepatnya waktu sikembar selesai merayakan pesta ulang tahun mereka


yang ketiga tahun, Leo mengutarakan perasaannya yang terpendam selama ini pada


Ara. Leo mencintainya. Suatu hal yang


tidak pernah disangka-sangkanya. Waktu itu Ara begitu shock, lidahnya mendadak


keluh hingga tidak mampu mengatakan apapun lagi setelahnya. Leo mengerti dan


tidak pernah membahasnya lagi, tapi malam ini…


“Kak,


aku tidak ingin mengecewakanmu.” Ara menatap Leo dengan serius.


“Apa


kamu sama sekali tidak ingin memberikanku kesempatan?”


“Asal


kakak tahu, sejak kakak mengatakan itu—


hampir setiap hari aku memberikan kesempatan untuk hatiku agar bisa menerimamu


atau pria lain. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin memaksakan sesuatu yang


tidak bisa kulakukan.” aku Ara “memang dulu, aku pernah menaruh perasaan pada


kakak… tapi itu berubah setelah aku menikah dengan Ellard. Aku… masih mencintainya. Maaf kak…” Ara


menunduk penuh rasa bersalah.


“Ara…”


“Dia


memang sudah sangat menyakitiku. Dan bahkan karna sakit itu, aku pernah memohon


kepada Tuhan bukan untuk menyatukan kami kembali, melainkan untuk melupakan.


Tapi… nyatanya sampai sekarang pun aku tetap tidak bisa membuangnya dari


hatiku.” Lanjut Ara dengan airmata yang mengalir di pipi. “andai waktu itu


kakak mengatakannya sebelum aku menikah, mungkin yang tetap kucintai sekarang


adalah kakak,”


Leo


terdiam tanpa melepaskan tatapannya dari Ara. Gadis kecilnya ini sama sekali


tidak memberinya kesempatan. Dia benar-benar telah kalah. Si berengsek Ellard


telah berhasil membuat Ara hanya jatuh padanya. Menahan sesaknya, tangan Leo


terangkat mengusap lembut bulir bening di pipi Ara.

__ADS_1


“Jadi,


kamu ingin kembali padanya?” pelan, Leo bertanya


Ara


bergeming. Lidahnya keluh untuk menjawab, namun didetik selanjutnya dia


menggeleng lemah.


“Lalu


apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba dia berhasil menemukan kalian? Ingat,


yang menyembunyikanmu adalah Ayahnya. Tidak akan selamanya dia akan


merahasiakan keberadaanmu dari anak yang dikasihinya— apalagi beliau tahu


cucunya sudah tumbuh sebesar ini. anak-anak itu juga memerlukan sosok seorang


ayah.” Jelas Leo dengan tangan yang tak lepas membelai pipi Ara.


“Jadi,


kalau kamu tidak ingin kembali pada Ellard, setidaknya belajarlah menerimaku.


Aku bisa menjadi ayah untuk sikembar. Terlebih, hubungan kami sejak dulu sudah


sangat dekat. Mereka sudah aku anggap menjadi anakku sendiri. Aku ingin menjaga


kalian dengan sebuah ikatan. Dengan begitu, suatu saat nanti  Ellard tidak akan dengan mudah dapat mengambil


sikembar darimu. Kamu juga bisa kembali pada keluargamu dengan tenang. Aku yang


akan menjamin kalian, sekalipun nyawaku sebagai taruhannya”


Aurora


terdiam, menatap gamang pada Leo. Cinta pertamanya. Lelaki yang selalu


melindungi dan ada disaat-saat terburuknya. Hidupnya memang terasa seperti


drama. Dimana terdapat seorang lelaki sebaik Leo yang tanpa lelah menantinya,


namun ia malah tetap mempertahankan perasaannya pada Ellard. Dan pada akhirnya,


takdirlah yang memaksa Ara untuk menyerah pada Ellard.


Mungkin


Leo benar, satu-satunya cara ialah menikah. Tapi… entahlah… hatinya belum siap.


Terlebih Leo sudah Aurora anggap sebagai seorang kakak seperti Alex. Tidak


lebih.


Aurora


menghela napasnya. Ia harus berpikir jernih. Bukan saatnya hanya memikirkan


perasaannya sendiri. Ada Nathan dan Nala yang harus ia pertahankan disisinya.


“Kalau


begitu berikan aku sedikit waktu lagi untuk berpikir, Kak…,” ucap Ara pada


akhirnya.


Leo


mencium puncaknya begitu dalam.


****


“Apa


kau akan terus tidak berbicara lagi denganku?”


Suara


berat dan rendah Holland memenuhi ruang rapat besar pimpinan begitu para dewan


direksi lain keluar dari ruangan. Langkah Ellard terhenti begitu mendengar


suara tersebut. Ia berbalik dan menoleh dengan tatapan datarnya.



“Iya” sahut


Ellard “sampai daddy mengatakan dimana keberadaan istriku”


Holland


menghela napas berat. Sudah tiga tahun ini Ellard bersikap dingin kepadanya


sejak Aurora ia sembunyikan dari Ellard.  Satu tahun pertama Ellard masih gencar terus memohon padanya untuk


memberitahu dimana Aurora, namun saat itu Holland masih enggan memberitahu.


Hingga setelah itu Ellard tidak lagi pernah menanyakannya lagi dan kini


berbalik mendiamkannya— menganggap keberadaannya tidak pernah ada sekalipun


keduanya tak jarang bertemu di setiap pertemuan rapat. Ellard menganggap


Ayahnya seperti orang asing.


“Apa


kau tidak berniat melepaskannya?” Holland menangkap perubahan sorot mata Ellard


yang kini berubah tajam. Kata melepaskan merupakan


ucapan terkutuk jika hal itu diperuntukkan pada Aurora.


“Sampai


mati pun aku tidak akan melepaskannya. dia masih istriku. ” rendah, namun sarat akan ketegasan


“Kau


sudah memiliki Clara. Carilah perempuan lain untuk menjadi ibu anak itu.


Lupakan Aurora”


“Jika


omong kosong ini yang daddy ingin bahas, maka aku tidak punya waktu.” Ellard


kembali berekspresi datar. “teruslah menyembunyikannya, hingga aku berhasil


menemukannya dengan caraku sendiri” lanjutnya kemudian berbalik, bersiap untuk


keluar namun…

__ADS_1


“Dia


ada di Roma.” Pelan, pada akhirnya Holland memberitahu. Ia sudah tidak tega lagi melihat Ellard yang seperti orang gila mencari Ara. pergi ke berbagai negara, mabuk-mabukan dan terakhir menjadi lebih gila kerja. Beruntung ada Clara yang sedikit berhasil menghibur anaknya ini.


Tubuh


Ellard menegang. Langkahnya seketika terhenti begitu kalimat yang selama empat


tahun ini ditunggunya terucap keluar dari mulut Ayahnya.


“Aku memberikanmu


kesempatan yang terakhir untuk memperbaiki rumah tangga kalian.


Temui dan bawa mereka pulang. Tapi jika sekali lagi kau melakukan kesalahan


yang sama, maka daddy tidak akan segan-segan memisahkanmu dari mereka


selamanya.” Tegas Holland


“Mereka?”


ulang Ellard seketika berbalik. Dari keseluruhan perkataan Ayahnya, telinganya


lebih sensitive menangkap kalimat ambigu itu


Pria


parubaya itu tidak langsung menjawab, melainkan menghela langka menghampiri


Ellard dengan kernyitan didahinya. Holand beridiri tepat disamping Ellard


dengan pandangan lurus ke pintu keluar. Menepuk-nepuk bahu putranya pelan, ia


berbisik “Fraternal twin. Double N. finally you got them”


Ellard


menoleh cepat dengan raut yang semakin pias “Ma-maksud daddy?”


“Pergi


kesana dan temukan jawabannya sendiri” Holland menyeringai— begitu puas menikmati


raut memucat Putranya.


“Dad—“


“Semoga


berhasil.” Potong Holland kemudian melangkah keluar dengan santainya.


Meninggalkan Ellard dengan tubuh yang kini bergetar dan dada yang berdebar


keras. Kalimat ambigu ayahnya sungguh sangat menganggu.


Franetal twin?


Double N?


Jantung


Ellard terasa berhenti, untuk sesaat ia membatu. Hingga didetik kemudian


kilasan-kilasan dirinya dulu yang sering mual parah,


menginginkan makanan yang aneh-aneh, lebih sensitif dan perubahan yang terjadi pada


bentuk tubuh istrinya serta pembahasan tentang nama anak di malam terakhir ia


bersama Ara dulu, kembali menggerayangi pikirannya.


Mungkinkah saat itu


Ara-nya benar-benar tengah hamil?


Tapi


bukankah istrinya itu telah check up pada dokter kandungan dan mengatakan bahwa


hasilnya masih negative? Atau malam


itu Aurora berbohong tentang hasilnya?


Sialan.


Betapa bodohnya ia karna percaya begitu saja. Tidak pernah berpikiran untuk


menanyakan langsung pada dokter kandungan yang menangani Ara.


Ellard


langsung mengeluarkan ponselnya begitu kesadarannya terkumpul. Tergesa, ia


men-dial nomor salah satu bawahannya.


“Temui


dokter kandungan yang memeriksa istriku empat tahun lalu. Dapatkan semua


informasi tentang hasil check up nya.” Titahnya dan langsung mengakhiri


sambungan.


Ellard


tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika ternyata saat itu Aurora-nya


benar-benar mengandung anak mereka. Wanita itu juga akan dia beri pelajaran


karna telah berhasil membohonginya selama empat tahun ini dan membawa serta


anak yang selama ini mereka nantikan.


Nadi


Ellard berpacu, helaan napasnya tidak beraturan. Pegangan pada ponsel semakin


mengetat diikuti tatapan pias yang terpeta nyata diwajahnya. Aurora-nya harus


segera ditemukan. Istrinya itu tidak akan ia biarkan kali ini lepas dan bertindak


sesuka hati lagi. kalau perlu ia akan mengurung wanita itu selamanya


bersamanya.


Auroranya.


Anak-anaknya. Mereka semua adalah miliknya dan harus kembali kesisinya.


To be continued


More info ada di IG: rianitasitumorangg


Lama? Hehe maaf ya. Keluarga lagi berduka...

__ADS_1


See you 😉


__ADS_2