
Love yahh
HAPPY READING
.
.
.
Dua
bulan berlalu. Semuanya berjalan dengan baik. Hubungan Ellard dan Ara semakin
harmonis setelah pertengkaran mereka yang terakhir. Terkadang keduanya memang
masih terlibat perbedaan pendapat namun perbedaan itu tidak sampai membuat
mereka bertengkar seperti sebelumnya. Hanya saja belakangan ini Ara sedikit
jengah dengan kelakuan suaminya. Penyakit posesif pria itu semakin hari semakin
luar biasa. Padahal sebelumnya Ellard selalu bersikap netral, membiarkaannya
bebas melakukan apa saja asal masih dalam tahap normal.
Keposesifan
Ellard akan meningkat tajam jika dirinya terlibat dengan lelaki asing selain
dirinya dan keluarga. Bahkan dua bulan belakangan ini Ara tidak pernah lagi bertemu
atau pun bertukar komunikasi dengan Leo. Suaminya itu sudah menganggap Leo
sebagai acaman terbesarnya dari sekian banyaknya lelaki. Ara pernah
memberikannya pengertian mengenai hubungannya dan Leo hanya sebatas sahabat dan
seorang kakak pada adik perempuannya, namun penjelasannya justru membuat lelaki
itu jadi mendiamkannya dan tidak akan bicara jika dirinya masih bertekad
berhubungan dengan Leo. Dan karna tidak ingin mereka bertengkar lagi, akhirnya
ia yang mengalah. Dalam hal ini Ellard terlalu keras menentangnya.
Seperti
dirinya yang diminta menjauhi Leo, hal yang sama juga berlaku terhadap hubungan
Ellard dan Clarissa. Yah, meskipun
Ara tidak seekstrim cara suaminya, untuk benar-benar langsung menjauhi
Clarissa. Ara hanya mengingatkannya untuk tidak melebihi batas, selain itu
mereka masih dapat bertemu setiap hari dan bekerja sama seperti biasanya.
Semenjak
kembali dari Italia, tak jarang Ellard selalu membawanya ke setiap acara
undangan para rekan bisnisnya. Ia lebih memilih istrinya yang menemani daripada
Blake, yang notabenenya adalah sekretaris utamanya. Bahkan saat melakukan
perjalan bisnis keluar pun, sebisa mungkin Ellard juga akan mengajak Ara untuk
menemaninya— karna setelah melakukan segala urusan pekerjaan, ia dapat
menikmati waktu berduaan lebih lama dengan Ara-nya. Budak cinta? Ia bahkan tidak peduli dengan sebutan yang beberapa orang
sematkan terhadap dirinya yang sekarang. Yang ia tahu, berduaan setiap hari
dengan istrinya adalah hal yang paling ia pedulikan.
Waktu
sudah mendekati pukul sepuluh malam, Ara baru selesai membereskan segala
persiapannya untuk menyambut hari kelulusannya besok hari. Tanpa terasa ia
telah menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan lancar. Ara menyandarkan kepala
pada kusen pintu dengan tangan bersidekap didada, memandang intens Ellard yang
masih tampak sibuk di depan laptop dengan kacamata baca yang bertengger pas di
hidung bangirnya. Semakin matang, fisik dan parasnya semakin menantang. Dia
begitu tampan, sampai setiap kali mereka jalan bersama, akan banyak perempuan
yang menjadikan Ellard pusat perhatian sekalipun saat itu tangan mereka saling bertaut
erat.
Lama
memandangi Ellard yang sama sekali tampak tidak menyadari kehadirannya, Ara
berjalan mendekat, memutari meja kerja suaminya lalu dari belakang kedua
tangannya melingkar di leher Ellard.
“Masih
sibuk banget, Tuan Ellard?” tegurnya seraya mengecup sekilas pipi Ellard—
membuat lelaki itu mendongak dan tersenyum hangat
“Iya,
buat bahan meeting besok” Ellard meraih pinggang Ara dan mendudukkannya di
pangkuan. “sudah mau tidur?”
Ara
mengangguk. Ia menguap kecil lau menyandarkan kepala pada dada bidang suaminya.
Ellard terkekeh kecil, ia mengecup pucuk kepala Ara.
“Sepuluh
menit lagi ya sayang. Ini sudah mau selesai” ucapnya lalu kembali mengetik
dengan Ara yang dibiarkannya tetap berada di pangkuan
“kamu
enggak datang besok ke acara wisudaku?”
“Mana
mungkin aku enggak datang ke acara penting istri kecilku ini” sekali lagi
Ellard mengecup gemas kepala Ara dan menyandarkan dagunya disana.
“Tapi
kamu kan lagi banyak kerjaan?”
“Karna
besok aku tidak masuk makanya bahan meeting ini harus selesai sekarang. Besok
biar Blake dan Clarissa yang handle di rapat”
Ara
mengangguk kecil, terdiam cukup lama dan Ellard membiarkan Ara yang menyandar
nyaman didadanya.
“El…”
“Hem?”
“Tadi
pagi aku tes, dan hasilnya… masih negatif” lirih Ara begitu pelan
Tadi pagi dia memang melakukan tes kehamilan
menggunakan test pack. Mengingat sudah lebih dari sepuluh hari ia terlambat datang
bulan. Namun hasilnya menunjukkan satu garis merah, dan hasil itu masih sama
dengan tes bulan lalu. Kekecewaan terlukis jelas diwajahnya ketika menatap alat
tes kehamilan tadi pagi. Ia mendesah lemas, bertanya-tanya mengapa sudah
delapan bulan menikah, Tuhan belum juga memberikan mereka kepercayaan untuk
memiliki anak. Sementara kehidupan seksual keduanya terbilang aktif. Dadanya berdentam
nyeri apalagi mengingat kelakuan Ellard setiap kali percintaan mereka selesai—
lelaki itu akan menciumi perutnya berlama-lama dan menggumamkan kalimat yang
tidak jelas disana. Dan tidak diragukan lagi, Ellard sudah sangat menginginkan
hadirnya seorang anak diantara mereka.
“Apa?”
Ellard menghentikan ketikannya, mendorong mundur tubuh Ara yang melekat lalu
menangkup wajahnya “Apa, katakan sekali lagi?”
“Maaf,
kita belum bisa jadi orang tua untuk saat ini,” Ara menggeleng, “aku belum bisa
hamil. Aku hanya terlambat seperti biasa” mata Ara berkaca-kaca, ia meraba
perutnya sendiri
“Terus,
kamu sedih karena ini?” ibu jari Ellard mengusap lembut air mata Ara yang kini
telah jatuh menetes, ia membingkai wajah istrinya yang terlihat begitu kecewa
“kita masih punya banyak waktu sayang. Jika bulan ini belum dikasih mungkin
bulan depan. Jika belum juga, bisa tahun depan. Demi Tuhan, sayang, kita masih
memiliki banyak waktu untuk terus berusaha. Jangan menaru kahwatir yang
berlebihan”
“Aku…
hanya takut.”
Kecupan
hangat tersemat cukup lama di dahinya, menyalurkan ketenangan pada hati Ara.
“Mungkin
Tuhan ingin kita berduaan lebih dulu dalam waktu yang cukup sampai kita
__ADS_1
benar-benar siap. Kita pasti akan memilikinya, hanya waktunya bukan sekarang. Don’t think too much baby.”
“Tapi…
kamu terlihat sudah sangat menginginkan seorang anak” cicit Ara
Ellard
mendekap tubuh kecil Ara dengan erat— menciumi puncaknya berkali-kali
“Aku
memang menginginkannya, tapi aku jauh lebih menginginkanmu sayang. Dan kalau
pun seandainya Tuhan tidak mengijinkan kita untuk memiliki anak, baiklah.. itu tidak
masalah bagiku. Kita masih bisa mengadopsi anak. Asalkan kamu selalu ada bersamaku—
sampai rambut kita memutih nanti”
Dan
detik itu juga isakan tertahan Ara mengudara, perkataan tulus yang keluar dari
mulut Ellard begitu menguatkannya disaat dia merasa gagal sebagai istri karna
belum bisa menghasilkan keturunan.
Ellard
menutup laptopnya, memangku tubuh Ara dan membawanya masuk kedalam kamar
mereka. Dengan lembut ia membaringkan tubuh Ara di tengah ranjang, menyanggah
tubuhnya dengan siku agar tidak menimpah tubuh istrinya. Ia mengusap air mata
Ara dengan ibu jarinya lalu mencium kedua netra itu bergantian,
“Please, don’t cry anymore, baby… I’m here
and always be here” bisik Ellard menenangkan
Ara
menghentikan tangisnya, ia menatap lekat wajah rupawan dihadapannya. Lelaki ini suaminya— miliknya. Ara membingkai
wajah rupawan Ellard, menatapnya cukup lama lalu dihitungan detik selanjutnya, ia
menyatukan bibirnya pada bibir tipis Ellard. Menciumnya begitu dalam. Sekali
lagi, bulir bening itu lolos begitu saja. Ellard tidak tinggal diam, ia
menyambut dan membalas ciuman istrinya dengan mengisap dan membelit lidah Ara
di dalam mulutnya— mencurahkan segala perasaan yang membungkus keduanya.
Mereka
memejamkan mata, berciuman panas sambil saling meremas. Seolah sudah sangat
lama sekali mereka tidak bersentuhan, kecapan demi kecapan tidak dapat
dihindarkan, padahal baru dua hari yang lalu mereka bercinta dari tengah malam
sampai dini hari. Dan kini malam panjang itu pun kembali dimulai.
****
Hari
kelulusan yang dinanti seluruh mahasiswa telah tiba. Ara berhasil lulus dengan
hasil cum laude. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat nilai sefantastik
itu, sedang selama ini dirinya tidak pernah bermimpi mendapat predikat
tersebut— boro-boro, berhasil lulus saja dari perguruan tinggi ini sudah
membuat dirinya senang. Tapi memang sejak ia menikah dengan Ellard, nilainya
meningkat drastis, mengingat master bisnis perusahaan raksasa ini sendiri yang
turun tangan langsung mengajarinya. Sebelum tidur lelaki itu setiap malam akan
membantunya belajar. Duduk bersisian di ranjang dengan tumpukan buku manajemen
miliknya. Memecahkan masalah keuangan yang terkadang masih sulit dicerna oleh otaknya.
Setelah
acara selesai, banyak buket bunga yang diterima Ara. Beberapa temannya meminta
berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.
“Wah
gila, aku gak nyangka sahabat mantan bulatku ini bakal dapat predikat cum
laude! Gila, gila, gila…” Angel mendramatisir sambil memeluknya begitu kencang
hingga membuat Ara langsung meronta minta dilepaskan.
“kenapa?
Bangga kan kamu sekarang punya sahabat kayak aku?” Ara pongah, senyumnya
tersungging lebar
“Ck, biasa aja keles” Angel menoyor kepala Ara
yang berbangga diri, bukannya marah, gadis itu malah makin tertawa. “Oya, suami
hotmu kemana?”
“Lagi
Tiba-tiba
bahunya dirangkul seseorang. Ara menoleh cepat.
“Hai,”
“Kak
Leo” kejut Ara, mengerjap berulang kali
“Buat
kamu. Happy graduation day…” Leo
memberikan sebuket bunga mawar merah
Ara
tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia menerima buket bunga itu,
menghirup aromanya dalam-dalam dengan senang
“Terima
kasih kak,” Ara menatap Leo lagi, senyumnya kian melebar di bibir merah muda
itu. Ia begitu senang karna sudah dua bulan ini tidak bertemu dengan lelaki
ini. “lama tidak bertemu, kak Leo kok makin ganteng aja sih” goda Ara mengerling
Leo
menarik pelan hidungnya, “Enggak usah ngeledek ya kamu”
“Aku
serius tahu!” Ara memukul perut Leo, mengusap hidungnya sendiri
Sementara
Angel yang menyaksikan kedua mahluk dihadapannya ini hanya bisa menggeleng
jengah. Ia terlalu bingung melihat hubungan kedua sahabat ini. Mereka
mengaku didepan semua orang kalau hubungan mereka hanya sebatas sahabat, namun
kelakuan keduanya tidak mencerminkan seperti sahabat pada umumnya, melainkan menjurus ke
pasangan kekasih. Angel tahu, Ara mencintai Leo, gadis itu sendiri yang mengaku. Tapi Leo, dia sama sekali sulit menebak perasaan lelaki datar
tersebut. Berulang kali Angel meyakini seratus persen, kalau Leo juga memiliki perasaan
yang sama dengan Ara namun lelaki itu sangat pintar menyembunyikannya. Otaknya menolak
menerima Leo murni menganggap Ara hanya sebagai sahabatnya.
Angel
membuang pandangannya ke arah lain, dan tanpa sengaja matanya menangkap sosok
yang tak asing lagi, berjalan ke arah mereka dengan wajah yang menunduk dan sebelah
tangan memegang ponsel, seperti tengah mengetikkan sesuatu disana sambil terus
melangkah.
“Oh
my God!” Angel membulatkan matanya— menoleh, Ara dan Leo masih larut dalam
perbincangan dengan tangan Leo yang masih setia melingkar di bahu Ara.
“Mampus!
Bakalan perang dunia kesekian lagi kalau kayak begini” gumam Angel
Tepat
didetik Ellard menegakkan kepala menatap ke arah mereka, dengan secepat kilat
Angel menarik lengan Ara kuat hingga bergeser ke sampingnya.
“Angel,
apa-apan sih—“ pekik Ara
“Woii,
ruba betina, kenapa lo? Kesambet?” gereget Leo, tidak terima dipisahkan
“Setelah
ini kamu akan berutang budi samaku, Ra” gumam Angel mendelik kesal pada Ara
yang sama sekali belum peka dengan situasi sekelilingnya
“Hutang
bud—“
“Apa
aku melewatkan sesuatu?” celetuk Ellard yang tiba-tiba saja sudah berada di
depan mereka
Ara
__ADS_1
meneguk saliva kasar. Iya baru mengerti apa yang dimaksud Angel barusan.
“Ah
tidak, kamu sudah selesai?” menyengir, Ara mengalihkan pembicaraan
“Hm,
tadi mommy telpon, minta kita setelah ini datang kerumah”
“Oh,
yaudah kita berangkat sekarang” seru Ara langsung menggelayut di lengan Ellard “Kak
Leo, Angel, kita balik duluan ya” pamit Ara tersenyum lebar
“Iya,
hati-hati dijalan. Titip salam buat om dan tante, Ra” Angel yang menjawab
Ara
mengangguk, kemudian keduanya menghela langkah beranjak dari sana
“Ara”
panggil Leo tiba-tiba
Langkah
Ara dan Ellard terhenti. Ara memutar badannya menatap balik ke arah kedua
sahabatnya, sementara Ellard bergeming, hanya menoleh lewat bahu.
“Mama
bilang rindu sama kamu. Kalau ada waktu datanglah kerumah. Mama nungguin disana”
ucap Leo ringan tanpa mempedulikan sorot tak bersahabat Ellard
Ara
tersenyum dan mengangguk cepat, “beritahu tante, lusa aku datang kerumah ya
kak. Aku juga rindu banget sama tante”
Leo
balas mengangguk sembari tersenyum kecil kemudian membiarkan kedua pasangan
suami istri itu berlalu pergi. Leo menatap nelangsa pada punggung Ara yang
perlahan mulai menghilang.
****
“Kamu
sudah pulang sayang,” sapa Ambar, bangkit dari sofa begitu melihat putra kesayangannya
muncul dari balik pintu utama.
Leo
tersenyum, ia langsung memeluk tubuh sang mama. “Iya ma,”
Ambar
menepuk sayang punggung anaknya. “Bagaimana acara wisuda Ara tadi?”
“Berjalan
lancar ma,” Leo menguraikan pelukannya “Gadis kecil mama itu, berhasil
menyelesaikan kuliahnya dengan hasil yang sangat memuaskan.”
“Oh
ya..” mata Ambar berbinar senang
“Hm,
dia hebat ma, bisa dapat predikat cum laude”
“Wah…
mama sangat senang sekali mendengarnya,” Ambar tersenyum lebar “Apa mama bilang,
putri kecil mama itu memang gadis yang pintar dan sangat manis”
Leo
tersenyum mengangguk mengiyakan. Mamanya selalu antusias jika membahas tentang
Ara. Sejak dulu Ambar sudah menganggap Ara seperti putri kandungnya.
“Lalu
kamu sudah bilang kan kalau mama sangat merindukannya? Mama ingin sekali
bertemu dengannya. Semenjak menikah Ara tidak pernah lagi datang main kerumah”
Ambar berujar sendu
Leo
menangkup wajah cantik mamanya. “Iya, aku udah bilang. katanya lusa dia akan
datang kerumah nemuin mama”
“Serius?
Kamu enggak lagi bohongin mama kan?” raut sendu Ambar dalam sekejap berubah
sumringah
“Iya,
mamaku sayang, Leo gak bohong” Leo menekan gemas pipi Ambar kemudian memeluk
tubuh wanita kesayangannya itu kembali. Sudah berulang kali Ambar memintanya
untuk mengajak Ara datang kerumah, dan baru sekarang ia berhasil mengatakannya pada
gadis itu.
Leo
memasuki kamarnya, ia berjalan menujuh kasur dan langsung menghempaskan
tubuhnya disana. Kedua netranya menerawang menatap langit-langit kamar. Sekali lagi
ia mendesah lelah. Pikirannya tak sekalipun berhasil mengenyahkan bayangan Ara
dan segala hal tentang gadis itu. Ia terlalu kesusahan jika menyangkut gadis
kecilnya tersebut.
Ara adalah adikmu,
kamu harus selalu menjaganya dari siapapun yang mencoba-coba menyakitinya.
Kalimat
yang diutarakan mamanya sewaktu dirinya kecil dulu masih terekam jelas dalam
ingatannya. Mamanya itu sangat menyangi Ara seperti dirinya dan adik
perempuannya yang telah tiada. Dia selalu diminta untuk menjadi pelindung gadis
itu. Mulanya ia tidak masalah dengan permintaan mamanya. Namun lambat laun
perasaan yang tidak biasa itu mulai muncul dan bertambah semakin besar hingga
sekarang.
Leo mencintai
Aurora…
Berulang
kali ia mencoba menampik perasaan itu, namun ia tetap tidak bisa. Malahan rasa
itu semakin mendalam setiap harinya. Dan satu kenyataan yang ia tahu bahwa Ara
juga mencintainya. Jika bukan karna permintaan mamanya— untuk menganggap Ara
sebagai adiknya, maka sudah sejak lama ia akan menyatakan perasaan terpendamnya
pada Ara.
Tuhan
seperti memang sengaja membuat dirinya untuk tidak berjodoh dengan Ara. Terbukti,
setelah permintaan dari mamanya, kini gadis yang dicintainya itu telah menjadi
istri orang lain. Sakit hati? Jangan ragukan
lagi mengenai itu. Belasan tahun ia mencintainya, tidaklah akan mudah bersikap
seolah-olah dirinya baik-baik saja. Ara adalah cinta pertamanya, nama gadis itu
seolah melekat sempurna dihatinya dan seakan tidak dapat digantikan oleh gadis
manapun. Bahkan seperti pengecut, akhirnya waktu itu ia melarikan diri, pergi
ke London demi menghilangkan rasa sakitnya pada gadis itu. Namun naas,
sekalipun berada di Negara yang berbeda, dia tetap tidak dapat melupakan Ara.
Dan
sekarang, Leo merindukan Ara. Sangat. Ia ingin memeluk lama tubuh gadis itu,
menggangunya, memasakkan makanan kesukaannya, jalan-jalan sore bersama sambil bersenda
gurau dan menghapus setiap air mata yang keluar dari netra Ara-nya, seperti dulu.
Tidak
ada yang muda dari melupakan. Tidak ada yang mudah dari berusaha mengikhlaskan.
Dan tidak ada yang mudah, untuk perlahan memunggungi dan mengalami bagaimana
rasanya berantakan.
Leo
mendudukkan dirinya, mengambil bingkai foto dirinya dan Ara dinakas. Leo
menatap nyeri foto itu. Disana ia merangkul erat bahu Ara dengan tatapan tertujuh
pada gadisnya— sedang Ara tersenyum lebar di depan kamera, menampilkan deretan gigi
putihnya yang rata.
“I love you, my little girl…”
To be continued
Seperti biasa Info dan spoiler seputar cerita ini aku posting di IG: rianitasitumorangg yahh ^^
__ADS_1
Mengenai kapan Up nya, aku kasih tahu disana...
See you next chapter...