Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Enam


__ADS_3

HAPPY READING


Ara melangkah gontai


keluar dari ruangan Ayah mertuanya. Ia baru saja membicarakan prihal


keputusannya yang mengijinkan suaminya menikahi Clarissa.


Ini adalah sebuah


keputusan besar yang pernah ia ambil. Sementara Holland sangat menentang ide


gilanya untuk menikahkan Ellard dengan Clarissa. Terlebih Holland sangat


mengkahwatirkan reaksi keluarga Louis jika mengetahui Ellard menduakan Ara di


pernikahan mereka yang belum genap setahun. Tapi Ara mencoba meyakinkan ayah


mertuanya, jika ia sendiri akan mencoba berbicara baik-baik dengan keluarganya


dan memastikan mereka akan menyetujui keputusannya ini.


Ara tidak punya


pilihan. Menurutnya pernikahan ini jalan terbaik untuk menolong psikis Clarissa


yang terguncang. Apalagi dokter menyatakan jika Clarissa mengalami depresi


berat sampai-sampai yang ada di benaknya hanyalah kematian. Ditambah dengan


kondisi penyakit lama Clarissa yang sebelumnya di perkirakan berangsur pulih,


kini kembali. Leukimia Clarissa kembali muncul dan kali ini dampaknya semakin


parah. Kembalinya penyakit itu membuat Clarissa difonis tidak akan mempunyai


umur yang lebih lama lagi.


Informasi itu diberitahukan


oleh ibu Clarissa sendiri padanya. Tadi, secara khusus Diana menariknya ke


taman rumah sakit untuk berbicara empat mata prihal yang menimpah putrinya. Diana


menangis, bersimpuh memohon pada Ara untuk sekali ini mewujudkan keinginan


terakhir putrinya untuk menikah dengan Ellard, sebelum gadis itu di panggil


Tuhan. Diana juga menarik Dokter yang menangani Clarissa ikut bersama mereka—


menjelaskan secara terperinci penyakit Clarissa.


Hati Ara hancur, ia


dilema berat. Disatu sisi, ia begitu mencintai suaminya dan tidak ingin


membaginya dengan perempuan lain. Ellard hanya miliknya. Namun disisi lain, ia


juga tidak bisa mengabaikan Clarissa. Gadis itu juga tak kalah menderita


darinya. Sekalipun cara Clarissa untuk mendapatkan suaminya begitu tidak masuk


akal, tapi Ara juga tidak bisa menampik jika semua telah terjadi dan rusak.


Clarissa mengandung anak Ellard dan hidupnya juga tidak lama lagi. Perkataan


tajam Oma sampai sekarang pun tidak bisa dilupakannya— mengatakan bahwa ia


belum juga bisa memberikan pewaris untuk meneruskan kerajaan bisnis keluarga


mereka.


Sejak pulang dari Rumah


Sakit, Ara terus berpikir keras hingga pada akhirnya ia sampai pada keputusan


akhirnya, yaitu memilih mundur dan merelakan suaminya untuk Clarissa. Gadis itu


dan calon anaknya lebih membutuhkan Ellard. Sekali lagi ia lebih memilih


menghancurkan diri sendiri sampai ke titik nadi.


“Semoga


keputusanmu tidak membuatmu menyesal di kemudian hari.”


Itulah ungkapan yang


terakhir Ara dengar dari mertuanya, yang kemudian meninggalkan Ara di ruangan


Holland dengan raut kecewa. Hanya selang satu detik Holland keluar, tubuh Ara


merosot kelantai. Diruangan sunyi itu, Ara mulai menangis meraung


sejadi-jadinya. Menumpahkan segala sesak yang sudah sejak lama ia tahan. Ia


terus memukuli dadanya yang berdentam hebat— begitu sakit. Menangisi segala


kehancurannya yang begitu nyata sekarang. Ia tidak bisa membayangkan dirinya,


melihat suaminya sendiri berdiri diatas altar mengucap janji suci pernikahan


dengan wanita lain. Sungguh, lebih baik ia menghilang saat itu juga.


Sekali


lagi… Aurora adalah perempuan yang paling munafik


****


Setelah berkunjung dari


rumah Ayah mertuanya, Ara tidak langsung pulang ke rumah. Saat ini dia butuh


ketenangan. Jika pulang ke rumah, yang ada dia hanya akan terus menangisi


keadaan rumah tangganya. Maka dari itu Ia memutuskan pergi menikmati angin sore


di taman kota. Ara mendudukkan dirinya dibangku taman dengan pandangan kosong.


Tanpa sengaja irisnya menatap pada sepasang suami istri yang tengah duduk


bersantai. Mereka menggelar tikar di atas rumput dengan sang suami yang


membaringkan kepala di paha istrinya— wajahnya menghadap pada perut buncit


istrinya yang tengah hamil besar. Mereka saling melempar senyum dan sesekali


tertawa bersama.  Terlihat sangat


bahagia, apalagi sejak tadi tak henti-hentinya mulut lelaki itu menciumi perut


istrinya sayang.


Dalam diam, Ara


menyaksikan semua adengan manis itu. Ia tersenyum getir, tiba-tiba membayangkan


jika sekarang yang berada di posisi mereka adalah dirinya dan Ellard. Terasa hangat


dan bahagia. Kehidupan rumah tangga mereka pasti akan sempurna jika adanya


seorang anak diantara mereka dan Ellard tidak melakukan tindakan yang


menjijikkan itu. Ara menunduk dengan hati yang remuk redam. Pelan, tangannya


meraba perutnya sendiri. Seandainya ia bisa hamil juga, ia pasti akan sangat


bahagia.  Setiap malam dalam doanya, ia


hanya meminta kepada sang pencipta agar diberi kesempatan untuk menjadi ibu dan


memiliki kehidupan rumah tangga yang damai. Namun melihat keadaannya sekarang


ini, justru berbanding terbalik dengan apa yang ia doakan. Takdir seolah-olah


tidak ingin berhenti bermain-main dengannya. Ara menggigit bibir bawahnya saat


isakan itu hampir keluar. Sial,


kenapa ia selalu secengeng ini.


“Apa kamu tidak lelah


menangis terus?”


Suara berat itu membuat


Ara terhenyak kaget. Ara mendongak menatap pemilik suara tersebut


“Kak Leo…”


Leo tidak membalas—

__ADS_1


memilih duduk berhadapan dengan Ara yang saat itu segera menyeka air matanya.


Leo menatapnya lama dengan pandangan yang sulit diartikan


“Ka-kak Leo ngapain


kesini?” tanya Ara basa-basi, gusar karna sejak tadi lelaki dihadapannya ini hanya


diam memperhatikan


“Sedang menangkap basah


gadis cantik yang selalu sok kuat” sahutnya datar


Ara meringis, jelas


sekali Leo tengah menyindirnya “Aku enggak nangis. Tadi mataku kena debuh,


terus aku kucek-kucek— eh, malah perih banget” dusta Ara sambil menyengir,


menekan-nekan matanya


“Mau sampai kapan kamu


akan berpura baik-baik saja, Ara?” tajam, pernuh penekanan “Aku kenal kamu


lebih dari siapapun. “kamu bodoh, sangat naïf dan sok kuat. Apa kamu sadar


itu?”


“Apa maksud kakak?”


tercekat, Ara merasa was-was jika ucapan Leo sudah begini


“Aku sudah tahu


semuanya” rendah, namun tajam “Apa kamu bahagia hidup seperti ini? Kamu dihina


karna tidak bisa memberikan keturunan. Kamu mengetahui fakta bahwa suami kamu


menghamili perempuan lain dan kini perempuan itu tengah dirawat di rumah sakit


akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Suami kamu juga ada disana


menemani, dan kamu disini terus menangis. Apa semua yang kuucapkan ini salah?”


Ara menegang, ucapan


itu seketika membuat wajahnya memucat. Tidak menyangka Leo akan secepat ini


mengetahui semua permasalahan yang menimpahnya.


“Da—darimana kakak tahu


semua itu?”


“Tidak peduli aku tahu


dari mana. Yang ingin kutanyakan sampai kapan kamu akan berpura-pura?”


Ara terdiam, lidahnya


keluh


“Kamu tidak baik-baik


saja, Ara. Tolong, berhenti bersikap menyedihkan. Aku muak Ara, tolong


berhenti!” suara Leo meninggi


Ara menunduk, menelan


ludahnya susah payah. “Kalau begitu berhenti memata-mataiku jika kakak tidak


ingin melihatku begini”


“Ara…” erang Leo. Ia


memegang kedua pundak Ara, kemudian mendongakkan wajahnya


“Karna aku begitu


peduli padamu. Aku selalu tidak ingin kamu terus terluka. Tidak dulu— tidak


sekarang. Aku tidak berharap kamu memendam luka itu sendiri. Kamu berhak


bahagia, Ara” parau Leo, matanya memerah.


itu kembali jatuh ketika selalu Leo yang mengatakan hal paling tulus itu.


Lelaki ini masih saja mempedulikannya. Selalu begitu.


“Aku tidak apa-apa. Ini


tidak menyakitkan, Kak. Aku sudah terbiasa”


“Terbiasa untukmu, tapi


aku tidak.” Leo kembali mendongakkan wajah Ara yang kini sudah berair. “Berhenti,


Ara. Kamu bisa lebih sekarat dari ini. Pergilah bersamaku— ke tempat dimana


tidak ada lagi orang-orang yang menyakitimu” pinta Leo, menarik tubuh Ara,


mendekapnya seerat yang ia mampu dengan kedua mata yang ikut menangis.


Ara membalas pelukan


Leo, tidak mengatakan apapun lagi kecuali menangis di dadanya. Pelukan hangat


seperti inilah yang ia butuhkan— menenangkan jiwanya yang lelah meskipun hanya


sementara.


****


Sementara ditempat


lain, Ellard terus bergerak gelisah. Sejak tadi ia berjalan mondar-mandir di


dalam ruang inap Clarissa. Clarissa telah sadar, kini gadis itu tengah duduk


bersandar di kepala ranjang Rumah Sakit— menatap datar Ellard yang begitu


kentara enggan berlama-lama berada satu ruangan dengannya. Jika bukan karna


paksaan Ayahnya yang menahannya disini untuk menjaga Clarissa, maka sudah sejak


lama ia pergi.


Setelah Ara mengatakan


kalimat yang begitu menyentaknya tadi, wanita itu langsung dibawah pergi oleh


Ayahnya untuk berbicara empat mata. Sedang dirinya ditahan ditempat ini bersama


Clarissa. Ia tadi sempat berontak, bersikeras ingin berbicara dengan Ara—


meminta penjelasan mengenai permintaan bodoh istrinya itu. Namun Holland justru


mengancamnya— mengatakan jika ia tidak segan-segan akan melaksanakan keinginan


Ara untuk menikahkannya dengan Clarissa.


Sialan,


berani sekali Ayah dan menantu itu mengatur hidupnya seenak jidat. Kemarahan


menggelegak dalam dirinya. Ingin menghancurkan apa saja demi meredam gejolak


emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Perkataan istrinya tadi begitu menyakiti


hatinya, tanpa beban wanita itu rela dimadu begitu saja. Hell,  sedikit pun tidak


pernah terlintas dalam pikirannya untuk menikah lagi. Cukup hanya Ara-nya. Dia


tidak menginginkan perempuan lain untuk mengisi hari-harinya selain istrinya, Ara.


Istrinya


itu…


benar-benar tidak bisa ia tolerir lagi. Bertekad, setelah pulang dari Rumah


Sakit sialan ini, ia akan menghukum wanita itu agar tidak seenaknya lagi


mengatakan kalimat-kalimat bodoh.


“Kenapa kalian


menyelamatkanku? Kenapa tidak membiarkanku mati saja?” pelan, Clarissa


bertanya. Sejak tadi dia memang sudah sadar namun enggan mengeluarkan suara.

__ADS_1


Memilih diam seperti patung.


Ellard berhenti—


menatap Clarissa sejenak sebelum menghela langkah mendekati ranjang gadis itu.


“Bagaimana perasaanmu?


Apakah masih sakit?” Ellard mengabaikan pertanyaan Clarissa sebelumnya


Clarissa menatap tidak


bersahabat iris tegas Ellard


“Untuk apa aku hidup,


El? kamu saja tidak mengakui anak yang kukandung ini. Jadi tidak ada gunanya


bukan aku dan anakku tetap hidup?” sarkas Clarissa


Ellard menghela nafas


berat. Ia meraih tangan Clarissa yang tidak diinfus lalu menggenggamnya


“Maafkan aku. Ini


kesalahanku. Aku hanya terlalu shock, tiba-tiba mengetahui kabar kalau kamu


hamil anakku. Aku sulit menerima kenyataan ini” Ellard menunduk, menatap jemari


Clarissa dalam genggaman


“Aku tidak butuh maafmu,


El” tekan Clarissa “aku hanya ingin kamu bertanggung jawab. Anak ini memerlukan


ayahnya”


Ellard mengangkat


wajahnya, “aku pasti akan bertanggung jawab pada anak itu. Setelah dia lahir


aku akan turut andil dalam merawatnya”


“Bukan seperti itu


tanggung jawab yang kumaksud”


“Apa?”


Cllarissa membasahi


bibirnya yang terasa kering,


“Nikahi aku. Itulah


tanggung jawab yang kuinginkan” ucap Clarissa begitu ringan hingga membuat genggamannya


pada Clarissa seketika terlepas.


Menatap nanar pada


Clarissa dengan tangannya yang terkepal keras guna meredam kemarahan yang kembali


tersulut karna kata menikah lagi-lagi


menjadi pembahasan.


“Maaf Cla, untuk yang


satu itu aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai istri, dan tidak akan pernah


menikah lagi” rendah, Ellard akhirnya mengeluarkan suara setelah sempat terdiam


beberapa saat.


Clarissa tertawa sinis “Kalau


begitu kenapa menyelamatkanku?! Biarkan saja aku mati!!” histeris Clarissa


tiba-tiba “aku ingin mati! Untuk apa aku hidup lagi kalau kamu tidak mau


menikahiku!”


Clarissa semakin


histeris, matanya memerah. Tanpa babibu gadis itu mencabut infus dari


pergelangan tangannya lalu susah payah hendak turun dari ranjang.


Ellard membulatkan mata


saat melihat darah Clarissa kembali menetes. Ia segera menghampiri, dengan


cepat menahan tubuh Clarissa untuk tidak turun dari ranjang. Clarissa


memberontak namun Ellard memeluknya kuat.


“Tenanglah Cla.


Kumohon. Kenapa kamu melakukan ini? Kumohon tenanglah…” Ellard berucap frustasi


dan semakin mengeratkan pelukannya pada Clarissa, meskipun gadis itu terus


berontak bahkan memberikan pukulannya di dada Ellard


“Aku tidak akan pernah


berhenti untuk berusaha mati, meskipun kamu menahanku beberapa kali” isak


Clarissa. Ia menangis histeris


“Apa yang kamu katakan?


Jangan bicara seperti itu” Ellard semakin mempererat pelukannya


“Aku ingin mati…” lirih


Clarissa kian melemah, dan sedetik kemudian ia jatuh tidak sadarkan diri.


Ellard menekan tombol


di dekat ranjang untuk memanggil dokter dan perawat agar segera datang ke


ruangannya. Menunggu dokter datang, Ellard kembali membaringkan tubuh lemah


Clarissa. Wajah gadis itu begitu pucat. Ellard berdiri di samping brangkar—


menatap nanar Clarissa yang mencoba kembali untuk mengakhiri hidupnya.


Semua terjadi begitu


cepat. Tidak menyangka jika kebodohannya satu malam itu berhasil membawa


malapetaka yang begitu besar dalam rumah tangganya. Clarissa bersikeras ingin


dinikahi olehnya demi anak dalam kandungannya. Sementara Ara, terlihat sudah


menyerah dengan pernikahan mereka hingga menyuruhnya untuk menikahi Clarissa,


dan terakhir diperparah dengan sikap Ayahnya yang terlihat seperti mendukung


permintaan istrinya itu.


Kepalanya terasa begitu


sakit jika mengingat semua ucapan-ucapan omong kosong mereka. Satu pun tidak


ada diantara mereka yang mengerti akan dilema yang dia hadapi sekarang.


Bukannya memberi solusi yang terbaik, mereka malah semakin menyudutkannya.


Ellard mengerang, menjambak rambutnya frustasi dan seakan tidak puas, ia


meninju dinding ruangan berulangkali hingga mengeluarkan banyak darah dari buku-buku


jarinya. Begitu marah saat tidak tahu mulai dari mana menguraikan benang kusut


yang kini terjalin. Ara memunggungi dan tidak lagi peduli. Itulah kenyataan


yang mau tidak mau harus Ellard hadapi.


Napas Ellard menderu


kasar, “Sialan Ara! Sialan!!” teriaknya frustasi


To be continued


Info dan *Spoiler cerita ini ada di IG: rianitasitumorangg ya..


Jangan lupa tinggalin vote, like dan komen yg banyak2 ✌*


__ADS_1


__ADS_2