
HAPPY READING
Ara melangkah gontai
keluar dari ruangan Ayah mertuanya. Ia baru saja membicarakan prihal
keputusannya yang mengijinkan suaminya menikahi Clarissa.
Ini adalah sebuah
keputusan besar yang pernah ia ambil. Sementara Holland sangat menentang ide
gilanya untuk menikahkan Ellard dengan Clarissa. Terlebih Holland sangat
mengkahwatirkan reaksi keluarga Louis jika mengetahui Ellard menduakan Ara di
pernikahan mereka yang belum genap setahun. Tapi Ara mencoba meyakinkan ayah
mertuanya, jika ia sendiri akan mencoba berbicara baik-baik dengan keluarganya
dan memastikan mereka akan menyetujui keputusannya ini.
Ara tidak punya
pilihan. Menurutnya pernikahan ini jalan terbaik untuk menolong psikis Clarissa
yang terguncang. Apalagi dokter menyatakan jika Clarissa mengalami depresi
berat sampai-sampai yang ada di benaknya hanyalah kematian. Ditambah dengan
kondisi penyakit lama Clarissa yang sebelumnya di perkirakan berangsur pulih,
kini kembali. Leukimia Clarissa kembali muncul dan kali ini dampaknya semakin
parah. Kembalinya penyakit itu membuat Clarissa difonis tidak akan mempunyai
umur yang lebih lama lagi.
Informasi itu diberitahukan
oleh ibu Clarissa sendiri padanya. Tadi, secara khusus Diana menariknya ke
taman rumah sakit untuk berbicara empat mata prihal yang menimpah putrinya. Diana
menangis, bersimpuh memohon pada Ara untuk sekali ini mewujudkan keinginan
terakhir putrinya untuk menikah dengan Ellard, sebelum gadis itu di panggil
Tuhan. Diana juga menarik Dokter yang menangani Clarissa ikut bersama mereka—
menjelaskan secara terperinci penyakit Clarissa.
Hati Ara hancur, ia
dilema berat. Disatu sisi, ia begitu mencintai suaminya dan tidak ingin
membaginya dengan perempuan lain. Ellard hanya miliknya. Namun disisi lain, ia
juga tidak bisa mengabaikan Clarissa. Gadis itu juga tak kalah menderita
darinya. Sekalipun cara Clarissa untuk mendapatkan suaminya begitu tidak masuk
akal, tapi Ara juga tidak bisa menampik jika semua telah terjadi dan rusak.
Clarissa mengandung anak Ellard dan hidupnya juga tidak lama lagi. Perkataan
tajam Oma sampai sekarang pun tidak bisa dilupakannya— mengatakan bahwa ia
belum juga bisa memberikan pewaris untuk meneruskan kerajaan bisnis keluarga
mereka.
Sejak pulang dari Rumah
Sakit, Ara terus berpikir keras hingga pada akhirnya ia sampai pada keputusan
akhirnya, yaitu memilih mundur dan merelakan suaminya untuk Clarissa. Gadis itu
dan calon anaknya lebih membutuhkan Ellard. Sekali lagi ia lebih memilih
menghancurkan diri sendiri sampai ke titik nadi.
“Semoga
keputusanmu tidak membuatmu menyesal di kemudian hari.”
Itulah ungkapan yang
terakhir Ara dengar dari mertuanya, yang kemudian meninggalkan Ara di ruangan
Holland dengan raut kecewa. Hanya selang satu detik Holland keluar, tubuh Ara
merosot kelantai. Diruangan sunyi itu, Ara mulai menangis meraung
sejadi-jadinya. Menumpahkan segala sesak yang sudah sejak lama ia tahan. Ia
terus memukuli dadanya yang berdentam hebat— begitu sakit. Menangisi segala
kehancurannya yang begitu nyata sekarang. Ia tidak bisa membayangkan dirinya,
melihat suaminya sendiri berdiri diatas altar mengucap janji suci pernikahan
dengan wanita lain. Sungguh, lebih baik ia menghilang saat itu juga.
Sekali
lagi… Aurora adalah perempuan yang paling munafik
****
Setelah berkunjung dari
rumah Ayah mertuanya, Ara tidak langsung pulang ke rumah. Saat ini dia butuh
ketenangan. Jika pulang ke rumah, yang ada dia hanya akan terus menangisi
keadaan rumah tangganya. Maka dari itu Ia memutuskan pergi menikmati angin sore
di taman kota. Ara mendudukkan dirinya dibangku taman dengan pandangan kosong.
Tanpa sengaja irisnya menatap pada sepasang suami istri yang tengah duduk
bersantai. Mereka menggelar tikar di atas rumput dengan sang suami yang
membaringkan kepala di paha istrinya— wajahnya menghadap pada perut buncit
istrinya yang tengah hamil besar. Mereka saling melempar senyum dan sesekali
tertawa bersama. Terlihat sangat
bahagia, apalagi sejak tadi tak henti-hentinya mulut lelaki itu menciumi perut
istrinya sayang.
Dalam diam, Ara
menyaksikan semua adengan manis itu. Ia tersenyum getir, tiba-tiba membayangkan
jika sekarang yang berada di posisi mereka adalah dirinya dan Ellard. Terasa hangat
dan bahagia. Kehidupan rumah tangga mereka pasti akan sempurna jika adanya
seorang anak diantara mereka dan Ellard tidak melakukan tindakan yang
menjijikkan itu. Ara menunduk dengan hati yang remuk redam. Pelan, tangannya
meraba perutnya sendiri. Seandainya ia bisa hamil juga, ia pasti akan sangat
bahagia. Setiap malam dalam doanya, ia
hanya meminta kepada sang pencipta agar diberi kesempatan untuk menjadi ibu dan
memiliki kehidupan rumah tangga yang damai. Namun melihat keadaannya sekarang
ini, justru berbanding terbalik dengan apa yang ia doakan. Takdir seolah-olah
tidak ingin berhenti bermain-main dengannya. Ara menggigit bibir bawahnya saat
isakan itu hampir keluar. Sial,
kenapa ia selalu secengeng ini.
“Apa kamu tidak lelah
menangis terus?”
Suara berat itu membuat
Ara terhenyak kaget. Ara mendongak menatap pemilik suara tersebut
“Kak Leo…”
Leo tidak membalas—
__ADS_1
memilih duduk berhadapan dengan Ara yang saat itu segera menyeka air matanya.
Leo menatapnya lama dengan pandangan yang sulit diartikan
“Ka-kak Leo ngapain
kesini?” tanya Ara basa-basi, gusar karna sejak tadi lelaki dihadapannya ini hanya
diam memperhatikan
“Sedang menangkap basah
gadis cantik yang selalu sok kuat” sahutnya datar
Ara meringis, jelas
sekali Leo tengah menyindirnya “Aku enggak nangis. Tadi mataku kena debuh,
terus aku kucek-kucek— eh, malah perih banget” dusta Ara sambil menyengir,
menekan-nekan matanya
“Mau sampai kapan kamu
akan berpura baik-baik saja, Ara?” tajam, pernuh penekanan “Aku kenal kamu
lebih dari siapapun. “kamu bodoh, sangat naïf dan sok kuat. Apa kamu sadar
itu?”
“Apa maksud kakak?”
tercekat, Ara merasa was-was jika ucapan Leo sudah begini
“Aku sudah tahu
semuanya” rendah, namun tajam “Apa kamu bahagia hidup seperti ini? Kamu dihina
karna tidak bisa memberikan keturunan. Kamu mengetahui fakta bahwa suami kamu
menghamili perempuan lain dan kini perempuan itu tengah dirawat di rumah sakit
akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Suami kamu juga ada disana
menemani, dan kamu disini terus menangis. Apa semua yang kuucapkan ini salah?”
Ara menegang, ucapan
itu seketika membuat wajahnya memucat. Tidak menyangka Leo akan secepat ini
mengetahui semua permasalahan yang menimpahnya.
“Da—darimana kakak tahu
semua itu?”
“Tidak peduli aku tahu
dari mana. Yang ingin kutanyakan sampai kapan kamu akan berpura-pura?”
Ara terdiam, lidahnya
keluh
“Kamu tidak baik-baik
saja, Ara. Tolong, berhenti bersikap menyedihkan. Aku muak Ara, tolong
berhenti!” suara Leo meninggi
Ara menunduk, menelan
ludahnya susah payah. “Kalau begitu berhenti memata-mataiku jika kakak tidak
ingin melihatku begini”
“Ara…” erang Leo. Ia
memegang kedua pundak Ara, kemudian mendongakkan wajahnya
“Karna aku begitu
peduli padamu. Aku selalu tidak ingin kamu terus terluka. Tidak dulu— tidak
sekarang. Aku tidak berharap kamu memendam luka itu sendiri. Kamu berhak
bahagia, Ara” parau Leo, matanya memerah.
itu kembali jatuh ketika selalu Leo yang mengatakan hal paling tulus itu.
Lelaki ini masih saja mempedulikannya. Selalu begitu.
“Aku tidak apa-apa. Ini
tidak menyakitkan, Kak. Aku sudah terbiasa”
“Terbiasa untukmu, tapi
aku tidak.” Leo kembali mendongakkan wajah Ara yang kini sudah berair. “Berhenti,
Ara. Kamu bisa lebih sekarat dari ini. Pergilah bersamaku— ke tempat dimana
tidak ada lagi orang-orang yang menyakitimu” pinta Leo, menarik tubuh Ara,
mendekapnya seerat yang ia mampu dengan kedua mata yang ikut menangis.
Ara membalas pelukan
Leo, tidak mengatakan apapun lagi kecuali menangis di dadanya. Pelukan hangat
seperti inilah yang ia butuhkan— menenangkan jiwanya yang lelah meskipun hanya
sementara.
****
Sementara ditempat
lain, Ellard terus bergerak gelisah. Sejak tadi ia berjalan mondar-mandir di
dalam ruang inap Clarissa. Clarissa telah sadar, kini gadis itu tengah duduk
bersandar di kepala ranjang Rumah Sakit— menatap datar Ellard yang begitu
kentara enggan berlama-lama berada satu ruangan dengannya. Jika bukan karna
paksaan Ayahnya yang menahannya disini untuk menjaga Clarissa, maka sudah sejak
lama ia pergi.
Setelah Ara mengatakan
kalimat yang begitu menyentaknya tadi, wanita itu langsung dibawah pergi oleh
Ayahnya untuk berbicara empat mata. Sedang dirinya ditahan ditempat ini bersama
Clarissa. Ia tadi sempat berontak, bersikeras ingin berbicara dengan Ara—
meminta penjelasan mengenai permintaan bodoh istrinya itu. Namun Holland justru
mengancamnya— mengatakan jika ia tidak segan-segan akan melaksanakan keinginan
Ara untuk menikahkannya dengan Clarissa.
Sialan,
berani sekali Ayah dan menantu itu mengatur hidupnya seenak jidat. Kemarahan
menggelegak dalam dirinya. Ingin menghancurkan apa saja demi meredam gejolak
emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Perkataan istrinya tadi begitu menyakiti
hatinya, tanpa beban wanita itu rela dimadu begitu saja. Hell, sedikit pun tidak
pernah terlintas dalam pikirannya untuk menikah lagi. Cukup hanya Ara-nya. Dia
tidak menginginkan perempuan lain untuk mengisi hari-harinya selain istrinya, Ara.
Istrinya
itu…
benar-benar tidak bisa ia tolerir lagi. Bertekad, setelah pulang dari Rumah
Sakit sialan ini, ia akan menghukum wanita itu agar tidak seenaknya lagi
mengatakan kalimat-kalimat bodoh.
“Kenapa kalian
menyelamatkanku? Kenapa tidak membiarkanku mati saja?” pelan, Clarissa
bertanya. Sejak tadi dia memang sudah sadar namun enggan mengeluarkan suara.
__ADS_1
Memilih diam seperti patung.
Ellard berhenti—
menatap Clarissa sejenak sebelum menghela langkah mendekati ranjang gadis itu.
“Bagaimana perasaanmu?
Apakah masih sakit?” Ellard mengabaikan pertanyaan Clarissa sebelumnya
Clarissa menatap tidak
bersahabat iris tegas Ellard
“Untuk apa aku hidup,
El? kamu saja tidak mengakui anak yang kukandung ini. Jadi tidak ada gunanya
bukan aku dan anakku tetap hidup?” sarkas Clarissa
Ellard menghela nafas
berat. Ia meraih tangan Clarissa yang tidak diinfus lalu menggenggamnya
“Maafkan aku. Ini
kesalahanku. Aku hanya terlalu shock, tiba-tiba mengetahui kabar kalau kamu
hamil anakku. Aku sulit menerima kenyataan ini” Ellard menunduk, menatap jemari
Clarissa dalam genggaman
“Aku tidak butuh maafmu,
El” tekan Clarissa “aku hanya ingin kamu bertanggung jawab. Anak ini memerlukan
ayahnya”
Ellard mengangkat
wajahnya, “aku pasti akan bertanggung jawab pada anak itu. Setelah dia lahir
aku akan turut andil dalam merawatnya”
“Bukan seperti itu
tanggung jawab yang kumaksud”
“Apa?”
Cllarissa membasahi
bibirnya yang terasa kering,
“Nikahi aku. Itulah
tanggung jawab yang kuinginkan” ucap Clarissa begitu ringan hingga membuat genggamannya
pada Clarissa seketika terlepas.
Menatap nanar pada
Clarissa dengan tangannya yang terkepal keras guna meredam kemarahan yang kembali
tersulut karna kata menikah lagi-lagi
menjadi pembahasan.
“Maaf Cla, untuk yang
satu itu aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai istri, dan tidak akan pernah
menikah lagi” rendah, Ellard akhirnya mengeluarkan suara setelah sempat terdiam
beberapa saat.
Clarissa tertawa sinis “Kalau
begitu kenapa menyelamatkanku?! Biarkan saja aku mati!!” histeris Clarissa
tiba-tiba “aku ingin mati! Untuk apa aku hidup lagi kalau kamu tidak mau
menikahiku!”
Clarissa semakin
histeris, matanya memerah. Tanpa babibu gadis itu mencabut infus dari
pergelangan tangannya lalu susah payah hendak turun dari ranjang.
Ellard membulatkan mata
saat melihat darah Clarissa kembali menetes. Ia segera menghampiri, dengan
cepat menahan tubuh Clarissa untuk tidak turun dari ranjang. Clarissa
memberontak namun Ellard memeluknya kuat.
“Tenanglah Cla.
Kumohon. Kenapa kamu melakukan ini? Kumohon tenanglah…” Ellard berucap frustasi
dan semakin mengeratkan pelukannya pada Clarissa, meskipun gadis itu terus
berontak bahkan memberikan pukulannya di dada Ellard
“Aku tidak akan pernah
berhenti untuk berusaha mati, meskipun kamu menahanku beberapa kali” isak
Clarissa. Ia menangis histeris
“Apa yang kamu katakan?
Jangan bicara seperti itu” Ellard semakin mempererat pelukannya
“Aku ingin mati…” lirih
Clarissa kian melemah, dan sedetik kemudian ia jatuh tidak sadarkan diri.
Ellard menekan tombol
di dekat ranjang untuk memanggil dokter dan perawat agar segera datang ke
ruangannya. Menunggu dokter datang, Ellard kembali membaringkan tubuh lemah
Clarissa. Wajah gadis itu begitu pucat. Ellard berdiri di samping brangkar—
menatap nanar Clarissa yang mencoba kembali untuk mengakhiri hidupnya.
Semua terjadi begitu
cepat. Tidak menyangka jika kebodohannya satu malam itu berhasil membawa
malapetaka yang begitu besar dalam rumah tangganya. Clarissa bersikeras ingin
dinikahi olehnya demi anak dalam kandungannya. Sementara Ara, terlihat sudah
menyerah dengan pernikahan mereka hingga menyuruhnya untuk menikahi Clarissa,
dan terakhir diperparah dengan sikap Ayahnya yang terlihat seperti mendukung
permintaan istrinya itu.
Kepalanya terasa begitu
sakit jika mengingat semua ucapan-ucapan omong kosong mereka. Satu pun tidak
ada diantara mereka yang mengerti akan dilema yang dia hadapi sekarang.
Bukannya memberi solusi yang terbaik, mereka malah semakin menyudutkannya.
Ellard mengerang, menjambak rambutnya frustasi dan seakan tidak puas, ia
meninju dinding ruangan berulangkali hingga mengeluarkan banyak darah dari buku-buku
jarinya. Begitu marah saat tidak tahu mulai dari mana menguraikan benang kusut
yang kini terjalin. Ara memunggungi dan tidak lagi peduli. Itulah kenyataan
yang mau tidak mau harus Ellard hadapi.
Napas Ellard menderu
kasar, “Sialan Ara! Sialan!!” teriaknya frustasi
To be continued
Info dan *Spoiler cerita ini ada di IG: rianitasitumorangg ya..
Jangan lupa tinggalin vote, like dan komen yg banyak2 ✌*
__ADS_1