
"Ayolah dad, ijinin Ara magang disini ya?" rengek Ara kesekian kali
Harris
memijit pangkal hidungnya. Sakit kepala sejak tadi mendengar rengekan
putrinya yang memaksa ingin magang di perusahaannya. Padahal sudah jelas
Harris menolak permintaan Ara. Namun gadis itu bersikeras.
"Sekali daddy bilang tidak, ya tetap tidak. Perusahaan suami kamu jauh lebih besar, sebaiknya kamu magang disana,"
"Tidak! Ara enggak mau,"
"Kenapa? Apa dia tidak mengijinkanmu juga?"
"Bu—bukan tidak di ijinin. Yah... Ara gak mau aja,"
"Kalau gitu daddy juga gak bisa,"
"Daddy mana boleh begitu. Ara kan putrinya daddy, tanggung jawabnya daddy"
"Sudah tidak. Setelah kamu menikah, kamu sudah menjadi tanggung jawab suami kamu,"
"Daddy jahat ihh—" Ara merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal
"Omaigattt
dekk... jangan hentakin kaki gitu! Bisa rubuh nanti gedung ini," heboh
Alex yang baru saja muncul dari balik pintu. Seperti biasa, nada
suaranya selalu mendramatisir. Ingin rasanya Ara melempar kakaknya itu
dengan buku yang sejak tadi dipegangnya, namun diurungkan ketika melihat
lelaki yang berada disebelahnya. Ellard?
"Bodo!" dengus Ara mengerucutkan bibirnya sembari kembali duduk di sofa ruangan tersebut.
"Ck, sama sekali gak berubah," decak Alex
"Kalian berdua duduklah dulu," suruh Harris
Alex
dan Ellard melangkah masuk. Alex duduk di single sofa, berhadapan
dengan ayahnya. Sementara Ellard mengambil tempat disebelah istrinya
yang masih cemberut.
"Bagaimana kerja sama dengan Mr. Douglas? kalian mendapatkannya?" tanya Harris
"Awalnya
tua Bangka itu sempat menolak, tapi begitu melihat kedatangan menantumu
dia berubah langsung setujuh. Ck, dasar penjilat" decih Alex masih
kesal mengingat penolakan Mr. Douglas terhadap semua penawaran kerjasama
yang diberikannya. Sebelum akhirnya merubah keputusannya setelah
kedatangan Ellard, penguasa kerajaan bisnis tersebut. Terlebih saat itu
Ellard mengenalkan dirinya adalah menantu dari keluarga Louis.
"Alex language," peringat Harris
"Itu kenyataannya dad,"
"sudahlah
jangan diingat lagi. Yang penting kerjasama ini terjalin. Dan Ellard,
terimakasih telah membantu meyakinkan Mr. Douglas," Harris tersenyum
hangat pada menantunya yang sejak tadi hanya diam mendengar.
"Itu bukan apa-apa dad. Aku senang membantu keluargaku sendiri," balas Ellard tak kalah ramah
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa muka boboho kita ini ditekuk gitu? Ellard tidak kasih kamu jatah ya" celetuk Alex mengerling nakal
Ara
melototkan matanya. Bersiap-siap kali ini akan melempar buku yang
dipegangnya namun lagi-lagi gagal karna Ellard lebih dulu mencekal
tangannya dan melayangkan tatapan tajamnya hingga membuat dirinya
menciut.
Melihat itu Alex terbahak.
"Rasain lu dek. Durhaka
sama kakak. Jadi Kena sama suami sendiri kan, hahaha" Alex tertawa puas
karna adiknya tidak bisa menyerang balik dirinya seperti biasa
"Alex—" tekan Harris
"Iya iya ahh," Alex berusaha meredam tawanya
"Emang kenapa kamu bisa disini?" kali ini Ellard yang bersuara. Bertanya langsung pada Ara yang tangannya masih dicekal.
"rindu
daddy. Jadi main kesini," kilah Ara memalingkan wajahnya. Dirinya masih
kesal pada suaminya itu. Pasalnya sejak Ellard bersikap dingin tidak
jelas dengannya, lelaki itu seakan menghindarinya selama tiga hari ini.
Ellard menaikkan sebelah alis. Tidak puas dengan jawaban istrinya.
"Dia
datang minta magang disini. Tapi daddy tidak kasih," ucap Harris "Daddy
bilang lebih baik dia magang di perusahaanmu. Supaya kalian bisa
berdekatan terus. Tapi istrimu itu menolak"
Ellard diam sejenak.
Menatap lama ke manik istrinya. Dia tahu alasan istrinya itu kenapa
tidak mau magang di perusahaannya. Pasti lagi-lagi karna tidak ingin
status mereka diketahui.
"Yaelah dek, sok banget sih nolak. Orang lain aja susah payah berlomba-lomba masuk ke Miller's Corporation.
Perusahaan raksasa yang sampai saat ini belum ada saingannya. Mereka
yang ingin masuk kesana juga harus ngikuti beberapa test seleksi yang
begitu ketat. Nah, lu dek tinggal masuk ajah. Gak perlu repot-repot ikut
seleksi. Kan, ownernya suami kamu sendiri," tutur Alex panjang lebar
"Justru karna itu aku gak mau jadi sorotan. Biar aku magang disini aj—"
"Kamu
akan magang ditempatku. Tidak ada penolakan," potong Ellard menyorot
tajam. Rahang pria itu sedikit mengeras. Tatapannya tak sedetik pun
beralih dari Ara yang langsung bungkam.
****
Ara
menatap jam di ponselnya. Sudah tengah malam, namun sepertinya Ellard
masih beta berada di ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Satu
tingkat dibawah kamar tidur mereka.
Setelah dari perusahaan
mertuanya, Ellard langsung membawa Ara kembali ke mansion mereka.
Keduanya masih dalam keadaan saling mendiamkan diri. Tidak ada yang
berniat memulai percakapan. Bahkan ketika sampai di mansion, Ellard
langsung keluar dari mobil tanpa menunggu istrinya. Berjalan menujuh
ruang kerjanya dan mengurung diri disana hingga selarut ini.
Ara
menyugar rambut panjangnya dengan kelima jarinya kebelakang. Mendesah
__ADS_1
lelah dengan sikap Ellard yang tiba-tiba dingin padanya. Ara bukan
cenayang yang bisa tahu penyebab Ellard mendiamkannya begini. Lelaki itu
sama sekali tidak membuka mulutnya. Ini bahkan sudah tiga hari.
Sebelumnya suaminya itu selalu bersikap hangat, santai dan konyol. Dan
itu membuat Ara merasa sangat nyaman.
Ara mengingat-ingat terakhir
kali sikap Ellard berubah dimulai setelah ke pulangan mereka dari
airport, saat melepas kepergian Axcel Leonard.
Wait... Airport??
Mata
Ara membulat ketika mengingat rentetan kejadian di airport. Dia ingat
betapa berlebihannya tingkah lakunya saat itu ketika berpisah dengan
Leo. Dia menangis, memeluk erat dan hampir mengejar Leo bahkan disaat
dirinya sudah berada dalam rangkulan Ellard.
Ara menelan ludahnya kasar. Jangan bilang kalo suaminya itu marah? cemburu? karna kelakuan absurbnya kemarin.
"Belum tidur?"
"Ehh?" Ara berjengit mendengar suara bariton itu.
Ellard
membuka kemeja putihnya hingga menampilkan tubuh berototnya. Menatap
kembali pada Ara yang juga menatapnya tidak berkedip.
"Tidurlah.
Besok kau akan memulai hari pertamamu magang. Aku tidak mentolerir
pekerja yang terlambat akibat telat bangun besok hari," ucap Ellard lalu
beranjak memasuki kamar mandi membersihkan tubuh.
Dia udah enggak marah?
15 menit kemudian
Ellard
keluar dengan hanya memakai celana bahan tanpa atasan. Seperti biasa
dia lebih suka tidur dengan bertelanjang dada. Ellard mengernyit menatap
istrinya yang bergerak-gerak diatas ranjang seakan mencari posisi
nyaman.
Kaki panjangnya langsung menujuh ranjang dan merebahkan
tubuhnya menyamping memandang tubuh Ara yang memunggunginya. Ck, dia
tidak suka tidur dipunggungi begini. Lalu tanpa aba-aba dalam satu
hentakan tangannya menarik pinggang Ara hingga gadis itu tidur menghadap
dirinya.
Ara yang memang belum bisa tidur langsung memekik
dengan tarikan kuat itu. Matanya menyorot kesal pada Ellard yang
menatapnya tanpa berdosa sedikit pun. Bahkan dengan santainya kakinya
membelit kaki Ara, mengurungnya agar tidak bisa menjauh.
"Ellard— aku gak bisa bernafas begini," keluh Ara berusaha melepas belitan Ellard.
"Butuh nafas buatan?" Tanyanya sarkas
Ck, mood mesumnya uda balik lagi
"Lupakan," Ara mendengkus. Namun hatinya legah karna pria konyolnya sudah kembali.
"Tapi sayangnya aku akan tetap melakukannya,"
Sedetik
setelah mengatakan itu Ellard menyatukan bibir keduanya. Menarik
sepenuhnya bibir istrinya. ******* dan menyesap bibir yang sudah tiga
hari ini tidak disentuhnya. Bahkan dengan sengaja dia menggigit bibir
bawah Ara hingga membuat gadis itu membuka mulutnya mengerang.
Kesempatan itu tidak dilewatkannya. Ellard memasukkan lidahnya menggoda
lidah istrinya, mengivansi keseluruhan dan saling bertukar saliva.
Ellard
baru melepaskan tautan mereka setelah dirasa Ara hampir kehilangan
pasokan udara. Ellard menyatukan kening mereka. Ibu jarinya mengusap
sisa saliva dibibir istrinya.
"Kau menyebalkan sayang-," desis
Ellard. Ara menatap iris tegas dihadapannya, nafasnya masih terengah.
Menunggu ucapan selanjutnya yang keluar dari suaminya. Mungkin inilah
waktunya Ellard akan bercerita.
"Berani-beraninya kau menangis
bahkan berpelukan dengan pria lain didepanku. kau istriku. Milikku.
Tidak boleh ada yang berani menyentuhmu selain aku. Kau tahu sayang—
hampir saja aku membunuh pria yang memelukmu,"
Ara membeku. Ibu jari Ellard berpindah mengusap lembut pipi mulus Ara.
"Kali
ini aku memaafkanmu sayang. Pastikan hal kemarin tidak terulang
kembali. Dan jika terjadi lagi, aku tidak menjamin hal gila apa yang
akan kulakukan. Ketahuilah sayang— aku pria egois. Milikku tidak boleh
disentuh oleh siapapun. Mengerti sayang?" suara rendah Ellard sarat akan
ancaman.
Ara tidak mampu berucap. Hanya anggukan lambat sebagai jawaban. Dia tahu sekarang kenapa sikap lelaki itu berubah. Ellard cemburu.
"Dan
satu lagi..." Ellard mengantung ucapannya. ******* kembali bibir
bengkak Ara lalu "Buang perasaan cintamu pada si Leonard itu, aku sangat
membencinya sayang,"
Deg!
Jadi selama ini Ellard mengetahui perasaan sukanya pada Leo? Sejak kapan?
"Aku suamimu. Cintai aku. Tidak pria lain. Hanya aku! Berjanjilah kau akan belajar mencintaiku,"
"El—"
"Ssttt... Ini perintah sayang, kau tidak boleh menolak,"
Mata Ara berkaca-kaca menatap iris tajam yang Ara tahu didalamnya terkandung luka. Oh Tuhan... apa yang sudah dilakukannya ini. Selama ini dia hanya mementingkan perasaannya tanpa mempedulikan statusnya yang kini telah berubah menjadi seorang istri.
"Maafkan aku—" air matanya jatuh. Tidak tahan, Ara membenamkan wajahnya didada bidang Ellard. Memeluk erat tubuh kokoh itu.
"Beri aku waktu. Aku akan belajar melakukannya-," sambung Ara serak.
Perasaan
hangat menyelimuti hati Ellard ketika mendengar ungkapan istrinya.
Setidaknya istrinya sudah mau belajar menerima dirinya. Ellard tersenyum
membalas memeluk istrinya lebih erat dan mengecup sayang puncak kepala
Ara.
****
__ADS_1
Miller’s International Exchange (IE) Corporation – New York
Miller’s International Exchange (IE) adalah perusahaan
teknologi global yang berpusat di kota Manhattan, Newyork. Perusahaan
ini beroperasi di 200 kota yang berada di 120 negara, ada lebih dari 330
ribu karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Penghasilan yang
didapatkan sendiri sebesar 40.8 Milyar dollar atau sekitar Rp599.5
Triliun. Kapitalisasi pasar yang dimilikinya mencapai 70.5 Milyar dollar
atau Rp1.036 Triliun. bisa disimpulkan kalau IE merupakan salah satu
perusahaan raksasa di dunia, yang memiliki pengaruh luar biasa.
Mulut
Ara mengangah membaca profil perusahaan milik suaminya itu. Sama sekali
tidak menduga sebelumnya kalau pria tersebut masuk dalam jajaran
pembisnis muda nomor dua didunia. Tidak heran memang mengingat betapa
sibuknya suaminya itu. Kini dirinya telah berada dikubikelnya tepatnya
didevisi keuangan. Tugasnya membantu asisten manager keuangan perusahaan
tersebut. Sebelum memulai tugasnya, Ara disuruh mempelajari data
perusahaan besar itu lebih dulu. Jangan tanyakan kenapa dirinya bisa
dengan mudahnya ditempatkan dibagian ini. semua karna ownernya sendiri
yang menempatkannya. Tidak ada yang tahu hubungan keduanya di perusahaan
kecuali sang manager keuangan.
PRAKK
Ara terperanjat mendengar suara dokumen yang dihempaskan kuat dimejanya.
“Hei
gendut, cepat susun balik laporan ini. Pastikan jangan ada satupun
angka yang salah ketik. Kalau tidak habis kamu,” titah Emma angkuh. Dia
adalah asisten manager atasan Ara selama magang disana.
Ara menatap horror tumpukan dokumen didepannya.
“Se-sebanyak— ini?” tanya Ara kaget
“itu
masih sedikit. Tugasmu hanya menyusun ulang. Dan pastikan laporan ini
sudah harus selesai hari ini, karna laporan ini akan dibawa kedalam
rapat para direksi besok. Mengerti?”
Ara menelan ludahnya. “Iya, me- mengerti,” sahutnya mengangguk lambat
“Bagus. Selamat bekerja,” Emma melenggang pergi dengan santainya.
Sebenarnya
menyusun ulang laporan itu adalah tugasnya. Tapi mengingat sekarang dia
memiliki bawahan, Emma dengan seenaknya melempar tugas itu pada pegawai
magang. Toh, gadis itu berada dibawah kuasanya yang kapan pun bisa
disuruh-suruhnya. Emma juga memiliki sedikit ketidaksukaan pada gadis
gendut itu. Bayangkan saja dia hanya pegawai magang, tapi bisa menempati
devisi keuangan yang jelas-jelas sangat susah mendapatkan bagian ini.
Bahkan dirinya harus berjuang mati-matian mengalahkan ribuan pelamar
untuk sampai diposisi ini. Emma mendecih sinis memandang punggung Ara
yang sudah mulai mengerjakan tugas barunya sebelum melangkah kembali
bersantai di kubikelnya.
****
“Hahh.. akhirnya selesai juga,”
Ara menghembuskan nafas lega. Mengerak-gerakkan badannya yang pegal akibat hampir seharian duduk didepan pc.
Kriuukkkk…
Bunyi
itu berasal dari perutnya. Sekali lagi tangannya menekan perutnya yang
sudah keroncongan karna sejak tadi belum diisi. Ara mengabaikannya karna
ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Tepat pukul delapan malam,
dirinya baru selesai. Kantor sudah sepih. Hanya tinggal dirinya.
Sementara karyawan yang lain sudah pulang sejak tadi, termasuk seniornya
Emma. Cih, padahal dirinya hanya magang, tapi pekerjaannya sudah
melebihi karyawan tetap di perusahaan ini.
Ara bergegas
membersihkan mejahnya lalu beranjak keluar. Kicauan perutnya sudah tidak
bisa ditolerir lagi. Ayolah, dirinya tidak pernah seterlambat ini
makan. Bahkan selama ini cacing didalam perutnya tidak pernah kelaparan
sedikit pun. Cacing-cacingnya itu akan minta diisi dua jam sekali. Belum
lagi mulutnya yang tidak akan berhenti mengunyah macam-macam cemilan.
Dan seharian ini dirinya bahkan belum memasukkan makanan apapun ke
mulutnya. Ini rekor terbesar sepanjang hidupnya.
Ara mempercepat
langkahnya tak sabar menimang berapa banyak makanan yang akan dia santap
nantinya. Namun langkahnya seketika terhenti begitu baru saja keluar
dari pintu masuk.
DEG!
Ara mematung menatap sepasang sosok
yang tidak jauh darinya berdiri. Kakinya membeku. Ara tidak bisa
menjelaskan apa yang tengah ia rasakan. Ia hanya merasa tidak bisa
bernafas, saking sesaknya. Ketika sepasang manusia itu berciuman. Tangan
gadis itu merangkul leher si pria dan berjinjit mensejajarkan kedudukan
tinggi mereka. Gadis itu semakin memperdalam ciumannya dan respon si
pria hanya diam menerima. Seharusnya dia tidak melihat pemandangan
apapun yang kini berhasil mengobrak-abrik hatinya. Tapi kakinya serasa
dipaku, melihat bibir mereka menyatu.
Gadis itu Clarissa dan pria yang sedang diciumnya adalah Ellard, suaminya.
Ara
menggeleng tak percaya. Bukankah keduanya bersahabat? Lalu kalau
sahabat kenapa bisa berciuman seperti pasangan kekasih? Ara bergetar.
Sungguh, mata Ara terasa panas sekarang. Seharusnya tubuhnya tidak
merespon sehebat ini. Bukankah dirinya tidak memiliki perasaan lebih
pada suaminya itu? Tapi kenapa sekarang rasanya sangat menyakitkan.
To be continued
__ADS_1