Touching Heart

Touching Heart
Sepuluh


__ADS_3

"Ayolah dad, ijinin Ara magang disini ya?" rengek Ara kesekian kali


Harris


memijit pangkal hidungnya. Sakit kepala sejak tadi mendengar rengekan


putrinya yang memaksa ingin magang di perusahaannya. Padahal sudah jelas


Harris menolak permintaan Ara. Namun gadis itu bersikeras.


"Sekali daddy bilang tidak, ya tetap tidak. Perusahaan suami kamu jauh lebih besar, sebaiknya kamu magang disana,"


"Tidak! Ara enggak mau,"


"Kenapa? Apa dia tidak mengijinkanmu juga?"


"Bu—bukan tidak di ijinin. Yah... Ara gak mau aja,"


"Kalau gitu daddy juga gak bisa,"


"Daddy mana boleh begitu. Ara kan putrinya daddy, tanggung jawabnya daddy"


"Sudah tidak. Setelah kamu menikah, kamu sudah menjadi tanggung jawab suami kamu,"


"Daddy jahat ihh—" Ara merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal


"Omaigattt


dekk... jangan hentakin kaki gitu! Bisa rubuh nanti gedung ini," heboh


Alex yang baru saja muncul dari balik pintu. Seperti biasa, nada


suaranya selalu mendramatisir. Ingin rasanya Ara melempar kakaknya itu


dengan buku yang sejak tadi dipegangnya, namun diurungkan ketika melihat


lelaki yang berada disebelahnya. Ellard?


"Bodo!" dengus Ara mengerucutkan bibirnya sembari kembali duduk di sofa ruangan tersebut.


"Ck, sama sekali gak berubah," decak Alex


"Kalian berdua duduklah dulu," suruh Harris


Alex


dan Ellard melangkah masuk. Alex duduk di single sofa, berhadapan


dengan ayahnya. Sementara Ellard mengambil tempat disebelah istrinya


yang masih cemberut.


"Bagaimana kerja sama dengan Mr. Douglas? kalian mendapatkannya?" tanya Harris


"Awalnya


tua Bangka itu sempat menolak, tapi begitu melihat kedatangan menantumu


dia berubah langsung setujuh. Ck, dasar penjilat" decih Alex masih


kesal mengingat penolakan Mr. Douglas terhadap semua penawaran kerjasama


yang diberikannya. Sebelum akhirnya merubah keputusannya setelah


kedatangan Ellard, penguasa kerajaan bisnis tersebut. Terlebih saat itu


Ellard mengenalkan dirinya adalah menantu dari keluarga Louis.


"Alex language," peringat Harris


"Itu kenyataannya dad,"


"sudahlah


jangan diingat lagi. Yang penting kerjasama ini terjalin. Dan Ellard,


terimakasih telah membantu meyakinkan Mr. Douglas," Harris tersenyum


hangat pada menantunya yang sejak tadi hanya diam mendengar.


"Itu bukan apa-apa dad. Aku senang membantu keluargaku sendiri," balas Ellard tak kalah ramah


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa muka boboho kita ini ditekuk gitu? Ellard tidak kasih kamu jatah ya" celetuk Alex mengerling nakal


Ara


melototkan matanya. Bersiap-siap kali ini akan melempar buku yang


dipegangnya namun lagi-lagi gagal karna Ellard lebih dulu mencekal


tangannya dan melayangkan tatapan tajamnya hingga membuat dirinya


menciut.


Melihat itu Alex terbahak.


"Rasain lu dek. Durhaka


sama kakak. Jadi Kena sama suami sendiri kan, hahaha" Alex tertawa puas


karna adiknya tidak bisa menyerang balik dirinya seperti biasa


"Alex—" tekan Harris


"Iya iya ahh," Alex berusaha meredam tawanya


"Emang kenapa kamu bisa disini?" kali ini Ellard yang bersuara. Bertanya langsung pada Ara yang tangannya masih dicekal.


"rindu


daddy. Jadi main kesini," kilah Ara memalingkan wajahnya. Dirinya masih


kesal pada suaminya itu. Pasalnya sejak Ellard bersikap dingin tidak


jelas dengannya, lelaki itu seakan menghindarinya selama tiga hari ini.


Ellard menaikkan sebelah alis. Tidak puas dengan jawaban istrinya.


"Dia


datang minta magang disini. Tapi daddy tidak kasih," ucap Harris "Daddy


bilang lebih baik dia magang di perusahaanmu. Supaya kalian bisa


berdekatan terus. Tapi istrimu itu menolak"


Ellard diam sejenak.


Menatap lama ke manik istrinya. Dia tahu alasan istrinya itu kenapa


tidak mau magang di perusahaannya. Pasti lagi-lagi karna tidak ingin


status mereka diketahui.


"Yaelah dek, sok banget sih nolak. Orang lain aja susah payah berlomba-lomba masuk ke Miller's Corporation.


Perusahaan raksasa yang sampai saat ini belum ada saingannya. Mereka


yang ingin masuk kesana juga harus ngikuti beberapa test seleksi yang


begitu ketat. Nah, lu dek tinggal masuk ajah. Gak perlu repot-repot ikut


seleksi. Kan, ownernya suami kamu sendiri," tutur Alex panjang lebar


"Justru karna itu aku gak mau jadi sorotan. Biar aku magang disini aj—"


"Kamu


akan magang ditempatku. Tidak ada penolakan," potong Ellard menyorot


tajam. Rahang pria itu sedikit mengeras. Tatapannya tak sedetik pun


beralih dari Ara yang langsung bungkam.


****


Ara


menatap jam di ponselnya. Sudah tengah malam, namun sepertinya Ellard


masih beta berada di ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Satu


tingkat dibawah kamar tidur mereka.


Setelah dari perusahaan


mertuanya, Ellard langsung membawa Ara kembali ke mansion mereka.


Keduanya masih dalam keadaan saling mendiamkan diri. Tidak ada yang


berniat memulai percakapan. Bahkan ketika sampai di mansion, Ellard


langsung keluar dari mobil tanpa menunggu istrinya. Berjalan menujuh


ruang kerjanya dan mengurung diri disana hingga selarut ini.


Ara


menyugar rambut panjangnya dengan kelima jarinya kebelakang. Mendesah

__ADS_1


lelah dengan sikap Ellard yang tiba-tiba dingin padanya. Ara bukan


cenayang yang bisa tahu penyebab Ellard mendiamkannya begini. Lelaki itu


sama sekali tidak membuka mulutnya. Ini bahkan sudah tiga hari.


Sebelumnya suaminya itu selalu bersikap hangat, santai dan konyol. Dan


itu membuat Ara merasa sangat nyaman.


Ara mengingat-ingat terakhir


kali sikap Ellard berubah dimulai setelah ke pulangan mereka dari


airport, saat melepas kepergian Axcel Leonard.


Wait... Airport??


Mata


Ara membulat ketika mengingat rentetan kejadian di airport. Dia ingat


betapa berlebihannya tingkah lakunya saat itu ketika berpisah dengan


Leo. Dia menangis, memeluk erat dan hampir mengejar Leo bahkan disaat


dirinya sudah berada dalam rangkulan Ellard.


Ara menelan ludahnya kasar. Jangan bilang kalo suaminya itu marah? cemburu? karna kelakuan absurbnya kemarin.


"Belum tidur?"


"Ehh?" Ara berjengit mendengar suara bariton itu.


Ellard


membuka kemeja putihnya hingga menampilkan tubuh berototnya. Menatap


kembali pada Ara yang juga menatapnya tidak berkedip.


"Tidurlah.


Besok kau akan memulai hari pertamamu magang. Aku tidak mentolerir


pekerja yang terlambat akibat telat bangun besok hari," ucap Ellard lalu


beranjak memasuki kamar mandi membersihkan tubuh.


Dia udah enggak marah?


15 menit kemudian


Ellard


keluar dengan hanya memakai celana bahan tanpa atasan. Seperti biasa


dia lebih suka tidur dengan bertelanjang dada. Ellard mengernyit menatap


istrinya yang bergerak-gerak diatas ranjang seakan mencari posisi


nyaman.


Kaki panjangnya langsung menujuh ranjang dan merebahkan


tubuhnya menyamping memandang tubuh Ara yang memunggunginya. Ck, dia


tidak suka tidur dipunggungi begini. Lalu tanpa aba-aba dalam satu


hentakan tangannya menarik pinggang Ara hingga gadis itu tidur menghadap


dirinya.


Ara yang memang belum bisa tidur langsung memekik


dengan tarikan kuat itu. Matanya menyorot kesal pada Ellard yang


menatapnya tanpa berdosa sedikit pun. Bahkan dengan santainya kakinya


membelit kaki Ara, mengurungnya agar tidak bisa menjauh.


"Ellard— aku gak bisa bernafas begini," keluh Ara berusaha melepas belitan Ellard.


"Butuh nafas buatan?" Tanyanya sarkas


Ck, mood mesumnya uda balik lagi


"Lupakan," Ara mendengkus. Namun hatinya legah karna pria konyolnya sudah kembali.


"Tapi sayangnya aku akan tetap melakukannya,"


Sedetik


setelah mengatakan itu Ellard menyatukan bibir keduanya. Menarik


sepenuhnya bibir istrinya. ******* dan menyesap bibir yang sudah tiga


hari ini tidak disentuhnya. Bahkan dengan sengaja dia menggigit bibir


bawah Ara hingga membuat gadis itu membuka mulutnya mengerang.


Kesempatan itu tidak dilewatkannya. Ellard memasukkan lidahnya menggoda


lidah istrinya, mengivansi keseluruhan dan saling bertukar saliva.


Ellard


baru melepaskan tautan mereka setelah dirasa Ara hampir kehilangan


pasokan udara. Ellard menyatukan kening mereka. Ibu jarinya mengusap


sisa saliva dibibir istrinya.


"Kau menyebalkan sayang-," desis


Ellard. Ara menatap iris tegas dihadapannya, nafasnya masih terengah.


Menunggu ucapan selanjutnya yang keluar dari suaminya. Mungkin inilah


waktunya Ellard akan bercerita.


"Berani-beraninya kau menangis


bahkan berpelukan dengan pria lain didepanku. kau istriku. Milikku.


Tidak boleh ada yang berani menyentuhmu selain aku. Kau tahu sayang—


hampir saja aku membunuh pria yang memelukmu,"


Ara membeku. Ibu jari Ellard berpindah mengusap lembut pipi mulus Ara.


"Kali


ini aku memaafkanmu sayang. Pastikan hal kemarin tidak terulang


kembali. Dan jika terjadi lagi, aku tidak menjamin hal gila apa yang


akan kulakukan. Ketahuilah sayang— aku pria egois. Milikku tidak boleh


disentuh oleh siapapun. Mengerti sayang?" suara rendah Ellard sarat akan


ancaman.


Ara tidak mampu berucap. Hanya anggukan lambat sebagai jawaban. Dia tahu sekarang kenapa sikap lelaki itu berubah. Ellard cemburu.


"Dan


satu lagi..." Ellard mengantung ucapannya. ******* kembali bibir


bengkak Ara lalu "Buang perasaan cintamu pada si Leonard itu, aku sangat


membencinya sayang,"


Deg!


Jadi selama ini Ellard mengetahui perasaan sukanya pada Leo? Sejak kapan?


"Aku suamimu. Cintai aku. Tidak pria lain. Hanya aku! Berjanjilah kau akan belajar mencintaiku,"


"El—"


"Ssttt... Ini perintah sayang, kau tidak boleh menolak,"


Mata Ara berkaca-kaca menatap iris tajam yang Ara tahu didalamnya terkandung luka. Oh Tuhan... apa yang sudah dilakukannya ini. Selama ini dia hanya mementingkan perasaannya tanpa mempedulikan statusnya yang kini telah berubah menjadi seorang istri.


"Maafkan aku—" air matanya jatuh. Tidak tahan, Ara membenamkan wajahnya didada bidang Ellard. Memeluk erat tubuh kokoh itu.


"Beri aku waktu. Aku akan belajar melakukannya-," sambung Ara serak.


Perasaan


hangat menyelimuti hati Ellard ketika mendengar ungkapan istrinya.


Setidaknya istrinya sudah mau belajar menerima dirinya. Ellard tersenyum


membalas memeluk istrinya lebih erat dan mengecup sayang puncak kepala


Ara.


****

__ADS_1


Miller’s International Exchange (IE) Corporation – New York



Miller’s International Exchange (IE) adalah perusahaan


teknologi global yang berpusat di kota Manhattan, Newyork. Perusahaan


ini beroperasi di 200 kota yang berada di 120 negara, ada lebih dari 330


ribu karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Penghasilan yang


didapatkan sendiri sebesar 40.8 Milyar dollar atau sekitar Rp599.5


Triliun. Kapitalisasi pasar yang dimilikinya mencapai 70.5 Milyar dollar


atau Rp1.036 Triliun. bisa disimpulkan kalau IE merupakan salah satu


perusahaan raksasa di dunia, yang memiliki pengaruh luar biasa.


Mulut


Ara mengangah membaca profil perusahaan milik suaminya itu. Sama sekali


tidak menduga sebelumnya kalau pria tersebut masuk dalam jajaran


pembisnis muda nomor dua didunia. Tidak heran memang mengingat betapa


sibuknya suaminya itu. Kini dirinya telah berada dikubikelnya tepatnya


didevisi keuangan. Tugasnya membantu asisten manager keuangan perusahaan


tersebut. Sebelum memulai tugasnya, Ara disuruh mempelajari data


perusahaan besar itu lebih dulu. Jangan tanyakan kenapa dirinya bisa


dengan mudahnya ditempatkan dibagian ini. semua karna ownernya sendiri


yang menempatkannya. Tidak ada yang tahu hubungan keduanya di perusahaan


kecuali sang manager keuangan.


PRAKK


Ara terperanjat mendengar suara dokumen yang dihempaskan kuat dimejanya.


“Hei


gendut, cepat susun balik laporan ini. Pastikan jangan ada satupun


angka yang salah ketik. Kalau tidak habis kamu,” titah Emma angkuh. Dia


adalah asisten manager atasan Ara selama magang disana.


Ara menatap horror tumpukan dokumen didepannya.


“Se-sebanyak— ini?” tanya Ara kaget


“itu


masih sedikit. Tugasmu hanya menyusun ulang. Dan pastikan laporan ini


sudah harus selesai hari ini, karna laporan ini akan dibawa kedalam


rapat para direksi besok. Mengerti?”


Ara menelan ludahnya. “Iya, me- mengerti,” sahutnya mengangguk lambat


“Bagus. Selamat bekerja,” Emma melenggang pergi dengan santainya.


Sebenarnya


menyusun ulang laporan itu adalah tugasnya. Tapi mengingat sekarang dia


memiliki bawahan, Emma dengan seenaknya melempar tugas itu pada pegawai


magang. Toh, gadis itu berada dibawah kuasanya yang kapan pun bisa


disuruh-suruhnya. Emma juga memiliki sedikit ketidaksukaan pada gadis


gendut itu. Bayangkan saja dia hanya pegawai magang, tapi bisa menempati


devisi keuangan yang jelas-jelas sangat susah mendapatkan bagian ini.


Bahkan dirinya harus berjuang mati-matian mengalahkan ribuan pelamar


untuk sampai diposisi ini. Emma mendecih sinis memandang punggung Ara


yang sudah mulai mengerjakan tugas barunya sebelum melangkah kembali


bersantai di kubikelnya.


****


“Hahh.. akhirnya selesai juga,”


Ara menghembuskan nafas lega. Mengerak-gerakkan badannya yang pegal akibat hampir seharian duduk didepan pc.


Kriuukkkk…


Bunyi


itu berasal dari perutnya. Sekali lagi tangannya menekan perutnya yang


sudah keroncongan karna sejak tadi belum diisi. Ara mengabaikannya karna


ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Tepat pukul delapan malam,


dirinya baru selesai. Kantor sudah sepih. Hanya tinggal dirinya.


Sementara karyawan yang lain sudah pulang sejak tadi, termasuk seniornya


Emma. Cih, padahal dirinya hanya magang, tapi pekerjaannya sudah


melebihi karyawan tetap di perusahaan ini.


Ara bergegas


membersihkan mejahnya lalu beranjak keluar. Kicauan perutnya sudah tidak


bisa ditolerir lagi. Ayolah, dirinya tidak pernah seterlambat ini


makan. Bahkan selama ini cacing didalam perutnya tidak pernah kelaparan


sedikit pun. Cacing-cacingnya itu akan minta diisi dua jam sekali. Belum


lagi mulutnya yang tidak akan berhenti mengunyah macam-macam cemilan.


Dan seharian ini dirinya bahkan belum memasukkan makanan apapun ke


mulutnya. Ini rekor terbesar sepanjang hidupnya.


Ara mempercepat


langkahnya tak sabar menimang berapa banyak makanan yang akan dia santap


nantinya. Namun langkahnya seketika terhenti begitu baru saja keluar


dari pintu masuk.


DEG!


Ara mematung menatap sepasang sosok


yang tidak jauh darinya berdiri. Kakinya membeku. Ara tidak bisa


menjelaskan apa yang tengah ia rasakan. Ia hanya merasa tidak bisa


bernafas, saking sesaknya. Ketika sepasang manusia itu berciuman. Tangan


gadis itu merangkul leher si pria dan berjinjit mensejajarkan kedudukan


tinggi mereka. Gadis itu semakin memperdalam ciumannya dan respon si


pria hanya diam menerima. Seharusnya dia tidak melihat pemandangan


apapun yang kini berhasil mengobrak-abrik hatinya. Tapi kakinya serasa


dipaku, melihat bibir mereka menyatu.


Gadis itu Clarissa dan pria yang sedang diciumnya adalah Ellard, suaminya.


Ara


menggeleng tak percaya. Bukankah keduanya bersahabat? Lalu kalau


sahabat kenapa bisa berciuman seperti pasangan kekasih? Ara bergetar.


Sungguh, mata Ara terasa panas sekarang. Seharusnya tubuhnya tidak


merespon sehebat ini. Bukankah dirinya tidak memiliki perasaan lebih


pada suaminya itu? Tapi kenapa sekarang rasanya sangat menyakitkan.


 


 


To be continued

__ADS_1


 


 


__ADS_2