Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Empat (Seri II)


__ADS_3

Mobil


hitam Ellard berhenti tepat diluar pekarangan Gereja vatikan Roma. Dia baru


saja tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama 13 jam dengan jet


pribadi miliknya, sedang 6 jam selanjutnya disambung berkendara dengan mobil untuk


memasuki daerah pelosok ini. Begitu membaca data laporan mengenai hasil pemeriksaan


kandungan Aurora, jantungnya semakin memacu kencang tak kalah mendapati hasil


yang menyatakan dengan jelas disana bahwa Ara pada saat itu memang tengah positif hamil lima minggu. Hell, jadi selama empat tahun ini dia


telah ditipu oleh wanitanya sendiri.


Perlahan,


langkah kaki panjangnya melangkah mendekati area Gereja sambil matanya menatap


kesekeliling taman. Sekalipun kecil dan terlihat sederhana, namun sangat indah


karna ditata rapih sedemikian rupa. Jadi, disinilah anak dan istrinya tinggal


selama ini? jauh dari segala fasilitas mewah yang selama ini ia berikan.


Bagaimana bisa anaknya dapat tumbuh dan bertahan ditempat seperti ini? ya,


sekalipun tidak menampik bahwa tempat ini cukup memberi ketenangan dan hawa


udara disini juga masih jauh lebih segar dibandingkan area perkotaan. Tapi


tetap saja, anaknya harus menikmati fasilitas yang jauh lebih baik dari ini.


Bersama dengan anaknya yang lain. Clara.


Tanpa


Ellard sadari ditengah lamunannya, tiba-tiba pintu Gereja terbuka. Dan dari


sana beberapa anak berlarian dengan girangnya. Mereka baru selesai latihan.


Namun beberapa diantara anak yang keluar dengan riangnya itu, terdapat seorang


gadis kecil yang tengah menangis sambil mengucek-gucek matanya. Tangisannya


semakin keras, sedang anak lelaki disampingnya berusaha terus menenangkan


dengan mengelus-elus rambutnya.


“Aku


mau mama. Pokoknya antar aku sama mama, Athan!” rengek Nala dengan mata


berairnya


“No,


Nala. Mama lagi belanja ke kota. Sebentar lagi pasti pulang. Bagaimana kalau


kita beli es krim?” bujuk Nathan, berharap kali ini berhasil melunakkan


kembarannya yang sedikit keras kepala ini.


“Pokoknya


Nala mau sama Mama. Titik!” teriak Nala dengan mengentakkan kuat tangan Nathan


hingga elusannya terlepas. Gadis itu segera berlari kencang menjauhi


kembarannya.


“Nala!


Tunggu! Jangan lari…,” teriak Natahan seraya berusaha mengejar.


Nala


tidak mempedulikan teriakan kakaknya. Dia terus berlari lurus ke depan hingga…


BUKK


Nala


jatuh tersungkur ditanah karna menabarak sesuatu. Cukup keras, hingga membuat


tangisnya semakin kencang. Ia menangis dengan kepala tertunduk— memperhatikan


kedua lututnya yang kini berdarah.


Dari


jauh Nathan membulatkan matanya. “Nala!!” teriaknya dan langsung bersimpuh


begitu sampai dihadapan adiknya.


“Are


you ok?” tanya Nathan begitu cemas


“It’s


hurt brotha,” isak Nala sesenggukan


“Let


me see…” Nathan menunduk, memperhatikan darah yang mengalir dari lutut adiknya


kemudian meniupnya lembut.


Sementara


Ellard yang menyaksikannya tampak bergeming. Kakinya terasa berat untuk


dilangkahkan. Tadi dia tengah melamun dan baru tersadar ketika bocah kecil yang


tak jauh dari hadapannya menabraknya. Dia yang ditabrak sama sekali tidak


bergeser sedikit pun, melainkan gadis kecil tadi yang terpental. Ellard menepuk


kakinya keras, berharap kakinya tidak lagi kakuh untuk digerakkan. Dan berhasil. Ia melangkah


mendekati kedua bocah itu. Menunduk dan turut mensejajarkan tinggi dengan


keduanya yang masih fokus dengan luka tersebut.


“Apakah


sangat sakit?” Ellard bersuara, sarat akan kecemasan “Maafkan aku yang tidak


memperhatikan…”


Disaat


itulah kedua bocah itu menoleh ke arah Ellard, menatap dirinya dengan mata yang


mengerjap. Bahkan dalam seketika gadis kecil itu sudah berhenti menangis. Nala


dan Nathan membulatkan kedua matanya, seakan mereka baru saja menemukan hal


yang ditunggu-tunggu. Keduanya bahkan kompak berdiri dengan pandangan yang sama


sekali tidak teralihkan kemana pun kecuali ke arahnya.


“Papa…


is that you?” Nala yang pertama kali bersuara. Dia bahkan membingkai wajah


Ellard

__ADS_1


“You


are here, Papa? You come home?” sambung Nathan dengan mata yang berbinar, juga


turut meraba-raba wajah Ellard dengan antusiasnya.


Ellard


sendiri langsung membeku. Entah kenapa dia merasakan sesuatu berdesir di dalam


dadanya ketika Nala dan Nathan menyebutnya Papa. Seperti seolah dia merasakan


kerinduan besar yang tengah dicarinya selama ini. Ellard menatap keduanya tanpa


suara, terlihat sangat… shock.


“Pa-papa?”


ulang Ellard terbata dengan nada suara yang menyerak. Dan langsung dibalas


anggukan antusias keduanya.


Entah


kenapa, air mata begitu saja turun mengalir dari pelupuk matanya ketika menatap


dengan teliti raut kedua anak dihadapannya. Semuanya tampak tidak asing.


Keseluruhan kedua wajah ini sangat mirip dengan… Aurora?


Ellard


meraih kedua tangan mungil itu— menggenggamnya erat.


“Katakan,


siapa nama kalian?” tanyanya, seakan mencari kepastian yang kuat


“Nathaniel


Mateo Miller”


“Nala


Zanetta Miller”


DEG!


Sepuluh detik… dua


puluh detik…


Ellard


hanya diam memucat.


“Papa


tidak melupakan kita, kan?” tanya Nathan akhirnya, kesal karena didiamkan.


Sementara Nala justru kembali menangis. “You really forget us, Papa?” teriaknya


Ellard


tersadar begitu tangisan nyaring itu menggema. Dengan cepat ia segera memeluk


erat tubuh kedua anak-anaknya.


“No,


sayang. Papa tidak pernah melupakan kalian. Papa bahkan hampir mati jika tidak


berjumpa dengan kalian,” Ellard menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Bergantian,


ia menciumi menyeluruh wajah mungil kedua buah hatinya. “Papa mencintai kalian.


Sangat. I do really miss you so much kids,”


Ellard


sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya. Ellard terus menciumi puncak


kepala keduanya dengan sayang dan rindu yang teramat dalam. Nala dan Nathan


membalas pelukan Ellard tak kalah kencang. Hal tersebut membuat Ellard sangat


terharu bercampur bahagia.


“Jangan


pergi lagi, Papa” bisik Natahan


“Iya,


Papa enggak boleh pergi lagi” timpal Nala seraya menenggelamkan kepalanya pada


ceruk leher Ellard.


Ellard


mengangguk haru. Lagi, air matanya menetes. “Never. Papa tidak akan melepaskan


kalian lagi. Setelah ini kita akan selalu bersama selamanya.”


****


Aurora


melangkah tergesa-gesa memasuki rumah. Wajahnya tampak pias disertai


bulir-bulir keringat yang sejak tadi mengucur deras dikeningnya. Ia baru saja


pulang berbelanja beberapa perlengkapan natal dari kota bersama suster Anna.


Karna jarak yang cukup jauh mengakibatkan mereka tiba dirumah sampai malam


hari. Itupun mereka belum selesai sepenuhnya, mengingat tiba-tiba saja ia


mendapat telepon dari suster yang ia percayakan untuk menjaga anaknya.


Mengatakan bahwa kedua buah hatinya telah dibawa pergi oleh seorang pria yang


mengaku sebagai ayahnya. Kontan saja berita itu membuat dirinya sangat shock


dengan detak jantung yang berdentam hebat.


Segala


pikiran-pikiran buruk kian berkelana di kepalanya. Tubuhnya begitu tegang tak


kalah kerap kali pikirannya selalu menarik kesimpulan bahwa yang membawa kedua


anaknya pergi tidak lain dan tidak bukan adalah Ellard O’Neill Miller? Ayah sikembar. Mungkinkah Ayah mertuanya


telah memberitahukan Ellard keberadaan mereka disini? Terutama si kembar?


Hingga tanpa persetujuan darinya Ellard membawa pergi kedua buah hatinya begitu


saja. Tidak, tidak! anak-anaknya tidak boleh dibawa olehnya.


Sepanjang


perjalan kembali kerumah tadi Ara sama sekali tidak bisa tenang, sekalipun


suster Anna berulangkali berusaha menenangkannya. Tapi tetap tidak bisa. Ia


merutuki kebodohannya dulu karna telah menunjukkan kepada sikembar rupa gambar


ayah mereka. Kala itu, kedua bocah itu terus menangis, bersikeras ingin

__ADS_1


mengetahui bagaimana rupa ayah mereka. Dan dirinya, yang selalu tidak pernah


tahan melihat anak-anaknya menangis, terpaksa menunjukkan satu-satunya foto


dirinya dan Ellard yang masih tersimpan rapih dalam dompetnya.


“Dimana


anak-anakku?” todong Ara langsung pada  suster Gladis, yang ia suruh menjaga anaknya


“Ma-maafkan


saya, Nona” suster Gladis menangis dengan kepala tertunduk


Melihat


itu emosi Ara kian tersulut, ia menggamit dagu suster Gladis— mendongak


kearahnya.


“Aku


tidak butuh maafmu,” desis Ara “katakan saja DIMANA ANAKKU?!” jerit Ara dengan


tubuh yang bergetar hebat. Ia menangis. Buah hatinya telah dibawa pergi.


“Ara,”


tegur Leo, yang entah sejak kapan sudah berada disana. Ia segara meraih Ara dan


langsung memeluknya. “kumohon kendalikan dirimu” ucap Leo mengusap naik turun


punggung Ara yang bergetar


Ara


menggeleng tegas. Dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Leo hingga terlepas.


“Bagaimana


aku bisa tenang kak kalau anak-anakku tidak ada disini?!” teriak Ara, ia


menjambak rambutnya frustasi. Dipisahkan dari sikembar merupakan hal yang tidak


pernah dia inginkan, bahkan sampai mati pun.


“Nala


dan Natahan dibawa pergi oleh seorang Pria yang mengaku sebagai ayah mereka.”


tukas Pak Albert, penjaga Gereja


“Dan


kalian mempercayainya begitu saja?” desis Ara tajam


“Maaf


ibu, kami sudah mengecek untuk memastikan. Data yang diberikan beliau memang


benar adanya. Belum lagi tadi Tuan Holland, selaku kakek mereka yang sering


berkunjung ketempat ini— tadi menelepon dan turut mengiyakan semua informasi


tersebut. Bahwa Nala dan Natahan adalah anak kandung dari putranya, Ellard


O’Neill Miller. Jika sudah demikian kami tidak bisa menahan beliau membawa


sikembar” jelas Pak Albert


Ellard? Jadi benar…


lelaki itu yang telah membawa anak-anaknya?


Kenyataan


itu seketika membuat tubuh Ara lunglai dan hampir terjatuh jika saja tangan


kekar Leo tidak segera menahannya.


“Ara—“


“Kak…


di-dia… membawa anak-anakku?” lirih Ara dengan suara yang tercekat. Air matanya


kembali berlinang. Ara meremas kuat kemeja Leo, “a-aku yang melahirkan dan


membesarkan mereka tapi… dia dengan seenaknya membawa anak-anakku pergi. Aku


tidak bisa menerima ini kak… tidak bisa!”


“Ara,


tenanglah. Secepatnya, sikembar akan kembali padamu. Aku berjanji akan membawa


mereka kembali padamu,” ucap Leo seraya memeluk erat tubuh lemah Ara.


“Nala


dan Nathan harus kembali padaku kak. Mereka anak-anakku. Milikku,” Ara terisak


pilu didada Leo. Sungguh, anak-anaknya adalah sumber penyemangat hidupnya


hingga kini dapat bertahan. Dia masih bisa tetap kuat jika berpisah dari


keluarga dan lelaki yang dicintanya, tapi tidak dengan anak-anaknya. Ia tidak


sekuat itu untuk dapat bertahan.


Ruangan


itu seketika hening. Hanya ada isakan pilu Ara yang terdengar. Sementara para


suster yang lain turut memandang Ara prihatin. Dan ditengah isakan itu, ponsel


yang sejak tadi digenggam Ara berdering. Sontak hal itu langsung saja


menghentikan suara tangisnya. Menyeka air matanya, Ara menatap layar panggilan di


ponselnya. Nomor yang sangat tidak asing lagi baginya. Ragu, Ara mengangkat


panggilan tersebut.


“Ha-halo?”


Lima detik, sepuluh


detik…


“Hello, Wife”


Suara


berat nan rendah itu. Aurora mengenalnya dengan sangat jelas.


“Ellard…”


Ara mengepalkan tangan. Amarahnya langsung naik.


“Lama tidak mendengar suara merdumu, istriku


tercinta. Don’t you miss me, Honey?”


To be continued


Info TH ada di IG: rianitasitumorangg


see youu

__ADS_1


Kesayangan-nya Papa EL



__ADS_2