
Mobil
hitam Ellard berhenti tepat diluar pekarangan Gereja vatikan Roma. Dia baru
saja tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama 13 jam dengan jet
pribadi miliknya, sedang 6 jam selanjutnya disambung berkendara dengan mobil untuk
memasuki daerah pelosok ini. Begitu membaca data laporan mengenai hasil pemeriksaan
kandungan Aurora, jantungnya semakin memacu kencang tak kalah mendapati hasil
yang menyatakan dengan jelas disana bahwa Ara pada saat itu memang tengah positif hamil lima minggu. Hell, jadi selama empat tahun ini dia
telah ditipu oleh wanitanya sendiri.
Perlahan,
langkah kaki panjangnya melangkah mendekati area Gereja sambil matanya menatap
kesekeliling taman. Sekalipun kecil dan terlihat sederhana, namun sangat indah
karna ditata rapih sedemikian rupa. Jadi, disinilah anak dan istrinya tinggal
selama ini? jauh dari segala fasilitas mewah yang selama ini ia berikan.
Bagaimana bisa anaknya dapat tumbuh dan bertahan ditempat seperti ini? ya,
sekalipun tidak menampik bahwa tempat ini cukup memberi ketenangan dan hawa
udara disini juga masih jauh lebih segar dibandingkan area perkotaan. Tapi
tetap saja, anaknya harus menikmati fasilitas yang jauh lebih baik dari ini.
Bersama dengan anaknya yang lain. Clara.
Tanpa
Ellard sadari ditengah lamunannya, tiba-tiba pintu Gereja terbuka. Dan dari
sana beberapa anak berlarian dengan girangnya. Mereka baru selesai latihan.
Namun beberapa diantara anak yang keluar dengan riangnya itu, terdapat seorang
gadis kecil yang tengah menangis sambil mengucek-gucek matanya. Tangisannya
semakin keras, sedang anak lelaki disampingnya berusaha terus menenangkan
dengan mengelus-elus rambutnya.
“Aku
mau mama. Pokoknya antar aku sama mama, Athan!” rengek Nala dengan mata
berairnya
“No,
Nala. Mama lagi belanja ke kota. Sebentar lagi pasti pulang. Bagaimana kalau
kita beli es krim?” bujuk Nathan, berharap kali ini berhasil melunakkan
kembarannya yang sedikit keras kepala ini.
“Pokoknya
Nala mau sama Mama. Titik!” teriak Nala dengan mengentakkan kuat tangan Nathan
hingga elusannya terlepas. Gadis itu segera berlari kencang menjauhi
kembarannya.
“Nala!
Tunggu! Jangan lari…,” teriak Natahan seraya berusaha mengejar.
Nala
tidak mempedulikan teriakan kakaknya. Dia terus berlari lurus ke depan hingga…
BUKK
Nala
jatuh tersungkur ditanah karna menabarak sesuatu. Cukup keras, hingga membuat
tangisnya semakin kencang. Ia menangis dengan kepala tertunduk— memperhatikan
kedua lututnya yang kini berdarah.
Dari
jauh Nathan membulatkan matanya. “Nala!!” teriaknya dan langsung bersimpuh
begitu sampai dihadapan adiknya.
“Are
you ok?” tanya Nathan begitu cemas
“It’s
hurt brotha,” isak Nala sesenggukan
“Let
me see…” Nathan menunduk, memperhatikan darah yang mengalir dari lutut adiknya
kemudian meniupnya lembut.
Sementara
Ellard yang menyaksikannya tampak bergeming. Kakinya terasa berat untuk
dilangkahkan. Tadi dia tengah melamun dan baru tersadar ketika bocah kecil yang
tak jauh dari hadapannya menabraknya. Dia yang ditabrak sama sekali tidak
bergeser sedikit pun, melainkan gadis kecil tadi yang terpental. Ellard menepuk
kakinya keras, berharap kakinya tidak lagi kakuh untuk digerakkan. Dan berhasil. Ia melangkah
mendekati kedua bocah itu. Menunduk dan turut mensejajarkan tinggi dengan
keduanya yang masih fokus dengan luka tersebut.
“Apakah
sangat sakit?” Ellard bersuara, sarat akan kecemasan “Maafkan aku yang tidak
memperhatikan…”
Disaat
itulah kedua bocah itu menoleh ke arah Ellard, menatap dirinya dengan mata yang
mengerjap. Bahkan dalam seketika gadis kecil itu sudah berhenti menangis. Nala
dan Nathan membulatkan kedua matanya, seakan mereka baru saja menemukan hal
yang ditunggu-tunggu. Keduanya bahkan kompak berdiri dengan pandangan yang sama
sekali tidak teralihkan kemana pun kecuali ke arahnya.
“Papa…
is that you?” Nala yang pertama kali bersuara. Dia bahkan membingkai wajah
Ellard
__ADS_1
“You
are here, Papa? You come home?” sambung Nathan dengan mata yang berbinar, juga
turut meraba-raba wajah Ellard dengan antusiasnya.
Ellard
sendiri langsung membeku. Entah kenapa dia merasakan sesuatu berdesir di dalam
dadanya ketika Nala dan Nathan menyebutnya Papa. Seperti seolah dia merasakan
kerinduan besar yang tengah dicarinya selama ini. Ellard menatap keduanya tanpa
suara, terlihat sangat… shock.
“Pa-papa?”
ulang Ellard terbata dengan nada suara yang menyerak. Dan langsung dibalas
anggukan antusias keduanya.
Entah
kenapa, air mata begitu saja turun mengalir dari pelupuk matanya ketika menatap
dengan teliti raut kedua anak dihadapannya. Semuanya tampak tidak asing.
Keseluruhan kedua wajah ini sangat mirip dengan… Aurora?
Ellard
meraih kedua tangan mungil itu— menggenggamnya erat.
“Katakan,
siapa nama kalian?” tanyanya, seakan mencari kepastian yang kuat
“Nathaniel
Mateo Miller”
“Nala
Zanetta Miller”
DEG!
Sepuluh detik… dua
puluh detik…
Ellard
hanya diam memucat.
“Papa
tidak melupakan kita, kan?” tanya Nathan akhirnya, kesal karena didiamkan.
Sementara Nala justru kembali menangis. “You really forget us, Papa?” teriaknya
Ellard
tersadar begitu tangisan nyaring itu menggema. Dengan cepat ia segera memeluk
erat tubuh kedua anak-anaknya.
“No,
sayang. Papa tidak pernah melupakan kalian. Papa bahkan hampir mati jika tidak
berjumpa dengan kalian,” Ellard menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Bergantian,
ia menciumi menyeluruh wajah mungil kedua buah hatinya. “Papa mencintai kalian.
Sangat. I do really miss you so much kids,”
Ellard
sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya. Ellard terus menciumi puncak
kepala keduanya dengan sayang dan rindu yang teramat dalam. Nala dan Nathan
membalas pelukan Ellard tak kalah kencang. Hal tersebut membuat Ellard sangat
terharu bercampur bahagia.
“Jangan
pergi lagi, Papa” bisik Natahan
“Iya,
Papa enggak boleh pergi lagi” timpal Nala seraya menenggelamkan kepalanya pada
ceruk leher Ellard.
Ellard
mengangguk haru. Lagi, air matanya menetes. “Never. Papa tidak akan melepaskan
kalian lagi. Setelah ini kita akan selalu bersama selamanya.”
****
Aurora
melangkah tergesa-gesa memasuki rumah. Wajahnya tampak pias disertai
bulir-bulir keringat yang sejak tadi mengucur deras dikeningnya. Ia baru saja
pulang berbelanja beberapa perlengkapan natal dari kota bersama suster Anna.
Karna jarak yang cukup jauh mengakibatkan mereka tiba dirumah sampai malam
hari. Itupun mereka belum selesai sepenuhnya, mengingat tiba-tiba saja ia
mendapat telepon dari suster yang ia percayakan untuk menjaga anaknya.
Mengatakan bahwa kedua buah hatinya telah dibawa pergi oleh seorang pria yang
mengaku sebagai ayahnya. Kontan saja berita itu membuat dirinya sangat shock
dengan detak jantung yang berdentam hebat.
Segala
pikiran-pikiran buruk kian berkelana di kepalanya. Tubuhnya begitu tegang tak
kalah kerap kali pikirannya selalu menarik kesimpulan bahwa yang membawa kedua
anaknya pergi tidak lain dan tidak bukan adalah Ellard O’Neill Miller? Ayah sikembar. Mungkinkah Ayah mertuanya
telah memberitahukan Ellard keberadaan mereka disini? Terutama si kembar?
Hingga tanpa persetujuan darinya Ellard membawa pergi kedua buah hatinya begitu
saja. Tidak, tidak! anak-anaknya tidak boleh dibawa olehnya.
Sepanjang
perjalan kembali kerumah tadi Ara sama sekali tidak bisa tenang, sekalipun
suster Anna berulangkali berusaha menenangkannya. Tapi tetap tidak bisa. Ia
merutuki kebodohannya dulu karna telah menunjukkan kepada sikembar rupa gambar
ayah mereka. Kala itu, kedua bocah itu terus menangis, bersikeras ingin
__ADS_1
mengetahui bagaimana rupa ayah mereka. Dan dirinya, yang selalu tidak pernah
tahan melihat anak-anaknya menangis, terpaksa menunjukkan satu-satunya foto
dirinya dan Ellard yang masih tersimpan rapih dalam dompetnya.
“Dimana
anak-anakku?” todong Ara langsung pada suster Gladis, yang ia suruh menjaga anaknya
“Ma-maafkan
saya, Nona” suster Gladis menangis dengan kepala tertunduk
Melihat
itu emosi Ara kian tersulut, ia menggamit dagu suster Gladis— mendongak
kearahnya.
“Aku
tidak butuh maafmu,” desis Ara “katakan saja DIMANA ANAKKU?!” jerit Ara dengan
tubuh yang bergetar hebat. Ia menangis. Buah hatinya telah dibawa pergi.
“Ara,”
tegur Leo, yang entah sejak kapan sudah berada disana. Ia segara meraih Ara dan
langsung memeluknya. “kumohon kendalikan dirimu” ucap Leo mengusap naik turun
punggung Ara yang bergetar
Ara
menggeleng tegas. Dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Leo hingga terlepas.
“Bagaimana
aku bisa tenang kak kalau anak-anakku tidak ada disini?!” teriak Ara, ia
menjambak rambutnya frustasi. Dipisahkan dari sikembar merupakan hal yang tidak
pernah dia inginkan, bahkan sampai mati pun.
“Nala
dan Natahan dibawa pergi oleh seorang Pria yang mengaku sebagai ayah mereka.”
tukas Pak Albert, penjaga Gereja
“Dan
kalian mempercayainya begitu saja?” desis Ara tajam
“Maaf
ibu, kami sudah mengecek untuk memastikan. Data yang diberikan beliau memang
benar adanya. Belum lagi tadi Tuan Holland, selaku kakek mereka yang sering
berkunjung ketempat ini— tadi menelepon dan turut mengiyakan semua informasi
tersebut. Bahwa Nala dan Natahan adalah anak kandung dari putranya, Ellard
O’Neill Miller. Jika sudah demikian kami tidak bisa menahan beliau membawa
sikembar” jelas Pak Albert
Ellard? Jadi benar…
lelaki itu yang telah membawa anak-anaknya?
Kenyataan
itu seketika membuat tubuh Ara lunglai dan hampir terjatuh jika saja tangan
kekar Leo tidak segera menahannya.
“Ara—“
“Kak…
di-dia… membawa anak-anakku?” lirih Ara dengan suara yang tercekat. Air matanya
kembali berlinang. Ara meremas kuat kemeja Leo, “a-aku yang melahirkan dan
membesarkan mereka tapi… dia dengan seenaknya membawa anak-anakku pergi. Aku
tidak bisa menerima ini kak… tidak bisa!”
“Ara,
tenanglah. Secepatnya, sikembar akan kembali padamu. Aku berjanji akan membawa
mereka kembali padamu,” ucap Leo seraya memeluk erat tubuh lemah Ara.
“Nala
dan Nathan harus kembali padaku kak. Mereka anak-anakku. Milikku,” Ara terisak
pilu didada Leo. Sungguh, anak-anaknya adalah sumber penyemangat hidupnya
hingga kini dapat bertahan. Dia masih bisa tetap kuat jika berpisah dari
keluarga dan lelaki yang dicintanya, tapi tidak dengan anak-anaknya. Ia tidak
sekuat itu untuk dapat bertahan.
Ruangan
itu seketika hening. Hanya ada isakan pilu Ara yang terdengar. Sementara para
suster yang lain turut memandang Ara prihatin. Dan ditengah isakan itu, ponsel
yang sejak tadi digenggam Ara berdering. Sontak hal itu langsung saja
menghentikan suara tangisnya. Menyeka air matanya, Ara menatap layar panggilan di
ponselnya. Nomor yang sangat tidak asing lagi baginya. Ragu, Ara mengangkat
panggilan tersebut.
“Ha-halo?”
Lima detik, sepuluh
detik…
“Hello, Wife”
Suara
berat nan rendah itu. Aurora mengenalnya dengan sangat jelas.
“Ellard…”
Ara mengepalkan tangan. Amarahnya langsung naik.
“Lama tidak mendengar suara merdumu, istriku
tercinta. Don’t you miss me, Honey?”
To be continued
Info TH ada di IG: rianitasitumorangg
see youu
__ADS_1
Kesayangan-nya Papa EL