Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

HAPPY READING


Pukul


sepuluh malam Ara baru tiba di mansion. Tadinya dia tidak ingin pulang,


berencana ingin menginap di rumah orangtuanya. Namun saat di pertengahan jalan


Blake meneleponnya dengan kepanikan yang luar biasa. Sekeretaris pribadi


suaminya itu memohon untuk dirinya segera pulang karna dirumah Ellard mengamuk


dan berakhir dengan meminum banyak alkohol. Dengan langkah tergesa-gesa Ara


naik ke lantai atas tempat dimana kamar mereka berada.


Tepat


setelah masuk ke dalam kamar, ia disuguhkan dengan keadaan kamar yang sudah


kacau balau. Ellard kembali menggila. Lampu kamar menyala terang, sedang Ellard


duduk bersandar pada kaki ranjang di lantai dengan satu kakinya ditekuk


sementara satu tangannya memegang sebotol whiskey. Pakaiannya sudah tak serapih


sebelumnya. Lengan kemejanya sudah digulung sebatas siku. Bahkan beberapa


kancing kemejanya sudah dilepas. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan


wajah yang sangat kusut.


Ara


segera melangkah masuk ke dalam dengan cepat ketika Ellard akan kembali  meneguk minuman ditangannya.


“Bisakah


kau berhenti meminum minuman sialan ini!” suara Ara meninggi, ia menarik paksa


botol itu dan meletakkannya di nakas


Kini


mata mereka saling beradu. Ellard menatapnya lekat dengan raut wajah yang sulit


diartikan. Sedetik kemudian lelaki itu tersenyum manis. Senyuman manis yang


justru mengerikan bagi Ara.


Sempoyongan,


Ellard bangkit berdiri, mendekati Ara yang masih terdiam kakuh. Ellard


menangkup wajah Ara lalu membelainya lembut.


“Akhirnya


kamu pulang, sayang” Ellard tersenyum lebar “hampir saja aku membunuh Blake


karna sampai malam kamu tidak pulang. Padahal tadi aku menyuruhnya untuk


menjagamu” celotehnya  ringan. Kini kedua


tangannya melingkari pinggang Ara begitu erat sementara kepalanya disandarkan


dibahu Ara.


“Aku


hampir gila karna saat aku pulang, kamu tidak dirumah. Aku begitu takut kamu


beneran pergi, sayang” serak Ellard dibahu Ara


Mendengar


kata yang diucapkan Ellard, tak ayal membuat Ara menunduk dimana kepala Ellard


sedang terbenam dibahunya dengan tubuh yang bergetar?


“Suatu


saat nanti aku memang akan pergi” lirih Ara nyaris tidak terdengar tapi entah


kenapa untuk ukuran orang mabuk seperti Ellard masih dapat mendengarnya. Dengan


cepat ia mendongak


“Kamu


bilang apa barusan?” desisnya dengan mata sayu


 Ara tidak langsung menjawab. Ia menatap lama


netra Ellard yang memerah akibat banyaknya minuman keras yang diteguknya. Lalu


tatapannya turun pada tangan Ellard. Disana ada luka sobekan dan darah yang mengering


di buku-buku jarinya.


“Kau


melukai dirimu lagi?” Ara bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari tangan


Ellard yang terluka


“Sekali


lagi kutanya, apa maksud ucapan kamu barusan?” Ellard tidak mengindahkan. Ia


kembali menangkup wajah Ara “katakan”


Ara


memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat keramat


itu, lalu membukanya kembali dan menemukan iris Ellard yang tajam


“Mari


berpisah dan menikahlah dengan Clarissa. Dia lebih membutuhkanmu…”


Ellard


terkekeh ditengah kalimat Ara. Raut wajahnya begitu tenang.


“Jadi…


kamu melakukan ini, untuk membuatku menceraikan kamu, sayang?” bisik Ellard,


terlihat diwajahnya kini sedang menahan senyum geli. Seolah ucapan Ara hanya


sebuah lelucon. “Aku tekankan sekali lagi, sayang. Itu tidak akan pernah


terjadi. Kita tidak akan pernah berpisah, Ara. Sama seperti sumpah pernikahan


kita. Kita akan terus bersama sampai kita mati. Dalam suka dan duka, sakit atau


sehat. Sampai maut memisahkan kita. Dan kamu tahu artinya, kan?”


Ara


terdiam. Dengan pembawaan yang begitu tenang, Ellard lebih mendekatkan wajahnya


ke telinga Ara.


“Artinya,


selama aku masih hidup. Apapun yang kamu katakan, atau apapun yang kamu lakukan


demi merealisasikan keinginan sialan kamu. Perpisahan sialan, apalagi


perceraian brengsek yang kamu inginkan itu, tidak akan pernah terjadi.”


Bisiknya begitu seduktif , tepat ditelinga Ara. Diiringi kekehan puas lantas


kembali berbisik


“Tunggu


aku mati, atau mungkin…” Ellard menjauhkan wajahnya, untuk kembali menatap mata


Ara langsung, tepat di depan wajahnya dengan jarak hidung mereka yang hanya


beberapa centi saja. “kamu harus membunuhku lebih dulu?” sambungnya sambil


memiringkan kepalanya di depan wajah Ara dengan seringaian puas “dan kamu harus


membunuhku dengan tangan kamu sendiri. Karna selama aku hidup, kamu akan tetap


dan selalu jadi istriku. Milikku, milik Ellard O’Neill Miller!”


Setelah


mengatakan itu, dengan tiba-tiba Ellard mengangkat tubuh Ara, lantas


menghempaskannya pelan ke tengah ranjang. Dengan cepat ia menaiki ranjang dan


menindih tubuh Ara dibawah kuasa tubuhnya yang begitu dominan


Ara


membulatkan mata, dan belum sempat protes, celana bahan yang dikenakannya telah


dibuka paksa dan teronggok mengenaskan di lantai.


“Ellard,


kamu…”


“Kamu


harus dihukum, sayang” Ellard merenggangkan kedua paha Ara, menekan kedua


pergelangan tangannya diatas kepala agar berhenti mencakarinya.


“Berhenti


El, aku tidak mau melakukannya,” pinta Ara memelas, menggelengkan kepala


“Tidak,


sayang. Kamu harus punya anak agar tidak bisa lari dariku” tolak Ellard sambil


meloloskan kemeja beserta dalaman, hingga tidak ada kain penghalang apapun diantara


mereka.


“AKU

__ADS_1


TIDAK BISA HAMIL EL, KALAU KAMU LUPA!!” jerit Ara, wajahnya memerah


Ellard


tersenyum samar, “Kamu bukan tidak bisa hamil, Ara. Tapi belum hamil. Maka dari


kita harus melakukannya sesering mungkin”


Dengan


keras, Ellard langsung menyatukan bibir mereka , mengisapnya dalam-dalam sampai


keduanya kehabisan napas. Sungguh, andai Ara mempunyai kekuatan lebih, tamparan


berkali-kali pasti telah mendarat dipipinya sekarang. Ia memalingkan wajahnya


ke samping, hanya selang beberapa detik sebelum kembali dihadapkan  dan diisapnya.


Tubuh


keduanya saling menyatu, deru napas keduanya terputus-putus, diiringi suara


percintaan mereka yang mengisi setiap sudut kamar. Tak berjeda, Ellard memompa


di atasnya, mengentakkan berulang kali dengan napas tersengal-sengal. Tangan


Ara ia loloskan, menghunuskan setiap kuku jemarinya ke punggung Ellard dengan


desah yang tak bisa dikendalikan.


****


Ara


menggeliat dalam tidurnya ketika telinganya berhasil menangkap samar suara seseorang


yang sedang muntah tak berkesudahan. Perlahan kedua netranya terbuka, menatap


langit-langit kamar seolah tengah mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Hal


terakhir yang ia ingat adalah percintaan gila-gilaan yang dilakukan Ellard


dengannya. Tidak menampik, ia juga menikmatinya. Mulutnya mungkin boleh


menolak, tapi tubuhnya justru bereaksi sebaliknya.


Ara


memijit kepalanya yang sedikit sakit. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam dan


ngilu di pangkal pahanya masih terasa. Sialan,


Ellard menggempurnya hingga dini hari. Ingatkan dia, untuk memaki pria itu


nanti karna membuat tubuhnya begitu kelelahan.


“Kamu


sudah bangun” Ellard baru keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Sambil menyeka rambutnya yang


masih basah dengan handuk, Ia mengampiri Ara yang masih terdiam menatapnya


dengan kerutan samar di dahi. Ellard mendudukkan diri disebelahnya lalu


Cup


“Morning kiss, baby”  Ellard tersenyum manis setelah menarik diri


“Kamu


sakit?”


“Ha?”


Ara


tidak langsung menjawab, dia mendudukkan diri sambil mengeratkan pegangan pada


selimut agar tidak terlepas dari tubuh polosnya.


Sekalipun


masih marah, ia sama sekali tidak bisa mengabaikan wajah pucat pasi suaminya


saat keluar dari kamar mandi. Tadi juga Ellard munta-muntah cukup lama di dalam


sana.


“Muka


kamu pucat” Ara meraba kening Ellard dan membandingkan dengan keningnya.


“Normal. Kamu ada salah makan apa?” tanpa sadar Ara mengurut tengkuk Ellard,


terlihat jelas saat ini ia begitu kahwatir. Ellard jarang sakit


Hati


Ellard menghangat melihat istrinya kembali perhatian begini.


“Enggak


tahu. Sejak bangun perut aku uda mual dan nyeri. Saat muntah tadi yang keluar


hanya cairan bening. Mungkin cuma masuk angin biasa” jelas Ellard


Ara


tidak teraliri darah. “Kamu pasti ada salah makan,” ucap Ara final. “Sebentar,


aku ambil obat dulu” sambungnya hendak bangkit


Ellard


menahan tangan Ara, menariknya untuk kembali berbaring bersama dengan dirinya.


Ellard masuk kedalam selimut yang sama dengan Ara, memeluknya erat.


“Kamu


obat terbaikku. Jangan pergi. Kita istirahat lagi” Ellard menyurukkan wajahnya


di leher Ara— menghidu aroma tubuh istrinya yang terasa begitu menenangkan.


“Kamu


wangi banget, sayang” cetusnya semakin gencar mengendus-endus leher Ara


Ara


memutar bola mata malas “Dari mana wanginya kalau aku saja belum mandi sejak


semalam. Hidung kamu bermasalah”


“Beneran


sayang. Tubuh kamu wangi banget” sahut Ellard tidak jelas karna masih gencar


mengendus


Jengah,


Ara mendorong pelan wajah Ellard “Berhenti. Aku mau mandi. Setelah itu ke


dokter. Kamu harus diobati”


Ellard


menggeleng keras, tidak membiarkan Ara lepas darinya.


“El—“


“Disini


aja, sayang” Ellard meraih sebelah tangan Ara kemudian di letakkan di atas


perutnya “kamu bantu elus-elus disini” pintanya memelas


Ara


berdecak namun tidak membantah. Memiringkan tubuh, Ia melakukan sesuai permintaan


Ellard. Mengelus perut liat Ellard naik turun.


Sekali


lagi kehangatan melingkupi hati Ellard. Ara-nya kembali menurut. Ia memejamkan


mata saat merasakan usapan tangan Ara yang begitu lembut dan menenangkan.


Perlahan rasa mual yang menderanya begitu hebat tadi seketika hilang.


“Apakah


sudah lebih baik?” tanya Ara saat melihat wajah Ellard kini tidak sepucat tadi.


Ellard


membuka mata, ia tersenyum hangat “Sedikit, sayang” dustanya. Berpikir, jika ia


mengaku sudah tidak merasa mual lagi, Ara-nya pasti akan menarik diri. No! itu tidak boleh terjadi.


Ara


kembali diam— memilih melanjutkan kegiatannya.


Ellard


memperhatikan lekat istrinya. Mengernyit saat menyadari sesuatu.


“Ara”


“Hm”


“Kamu


gemukan. Pinggangmu sedikit lebaran. Terus ukuran perut kamu juga beda. Dan…,”


tangan itu naik ke atas dadanya, meremasnya perlahan, “… disini juga bentuknya


berbeda dari terakhir kali kita bercinta. Apa yang kamu lakukan dengan


payudaramu? You’re so hot now” tanpa


aba-aba, Ellard mengisap bibir Ara dalam-dalam hingga tersedak salivanya


sendiri.


“El,

__ADS_1


berhenti atau aku tidak akan melanjutkan ini lagi” ancam Ara, berusaha


menjauhkan tangan Ellard yang mulai semakin liar menjelajahi tubuhnya. Ia sendiri


bahkan tidak menyadari semua perubahan yang terjadi.


“Iya,


iya sayangku. Jangan diberhentiin” Ellard menyengir sembari meraih kembali


tangan Ara untuk melanjutkan elusannya tadi.


Ara


menghembuskan napas kasar sebelum kembali dengan aktifitasnya. Sementara Ellard


terus menatapnya tanpa bosan.


“El”


“Apa,


sayang?” Ellard menyingkirkan rambut yang hampir menutupi mata istrinya.


“Bagaimana


keadaan Clarissa?”


Senyum


yang sejak tadi mengembang, perlahan memudar “Dia sudah lebih baik”


“Benarkah?”


Ara memicing tidak percaya


“Iya,”


sahutnya singkat


“Kalau


begitu nanti kita menjenguknya”


“Tubuhku


hari ini sedang tidak fit, Ara. Lain kali saja” tolak Ellard cepat


“Tapi—“


“Hoams..


ngantuk sekali.” Ellard menguap lebar, beralasan demi menghindari topik sensitive


ini lagi. Ia kembali meraih pinggang Ara kemudian memeluknya erat sambil


memejamkan mata “kita tidur lagi”


****


Wajah


Ellard ditekuk saat Ara bersikeras mengajaknya menjenguk Clarissa di Rumah


sakit. Hanya beberapa meter lagi menujuh ruangan Clarissa, langkah keduanya di


percepat karna mendengar gaung tangisan tak asing terdengar sampai keluar


kamar. Tanpa sadar Ellard berlari lebih cepat, meninggalkan Ara di belakang.


Langkah


Ara terhenti di depan pintu yang terbuka. Semua orang berkumpul disana, tubuh


Clarissa meronta-ronta tak terima, dia menangis, dan berusaha ditenangkan oleh


semua orang.


“Mom,


enggak mungkin penyakitku kembali lagi! Bagaimana mungkin?! Tolong, katakan pada


dokter untuk di cek ulang. Pasti ada kesalahan!” Clarissa terisak hebat,


tubuhnya dipeluk Ellard begitu erat, meski Clarissa terus mendorongnya. “El,


kamu pasti senang kan dengan kabar ini? Dengan begitu kamu tidak perlu


repot-repot untuk menyingkirkanku dari hidup kalian!”


“Cla,


tolong tenang, jangan seperti ini. aku tidak pernah berpikir sepicik itu. kamu


pasti sembuh” begitu lembut, Ellard mengusap-usap punggung Clarissa


“Bullshit


kamu!!” Clarissa mendorong jauh tubuh Ellard sekuat tenaga


“Aku


tidak bohong Cla. Kamu sahabatku, dan sejak dulu aku menyayangimu. Aku akan


berusaha mencari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu”


“Kalau


kamu menyayangiku, kenapa kamu menolak untuk menikahiku? Anakku tidak akan


punya kedua orangtuanya kalau aku sudah tiada nanti. Sementara kamu… dengan


teganya mencampakkan kami!”


“Cla,


tidak seperti itu—“


“Ellard


akan bertanggung jawab”


Ucapan


Ara mengudara, secara otomatis langsung membuat semua orang yang ada disana


menatapnya heran— membisu, dengan rasa tak percaya. Tidak ada yang menyangka


Ara akan menjawab begitu.


“Ara…


Please, jangan mulai lagi,” erang Ellard penuh penekanan


Ara


tidak menatap Ellard, tetap memandang Clarissa lurus-lurus. Pun, Clarissa juga


berhasil dibungkam oleh ucapannya


“Ellard


akan menikahimu. Satu minggu kemudian”


“ARA,


SUDAH KUBILANG BERHENTI MENGUCAPKAN OMONG KOSONG!! SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK


AKAN MENIKAH LAGI” gelegar Ellard dengan kemurkaan yang luar biasa. Rahangnya mengetat


marah, buku-buku jarinya memutih. “SIAPA KAMU HINGGA BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN


DALAM HIDUPKU?!”


Ara


sama sekali tidak terpengaruh. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia memandang


Ellard,


 “Kalau begitu ceraikan aku jika kamu tidak


bersedia menikahi Clarissa. That’s it”


Ellard


menjambak rambutnya sendiri. “FINE!!” bentaknya keras. Pertanda jika kesabarannya


sudah habis. “kalau itu memang yang kamu mau… dan jangan pernah menyesalinya”


geram Ellard sarat akan kekecewaan. Setelahnya, Ellard langsung beranjak keluar


tanpa mengatakan apapun lagi.


BRAKK


Semua


orang yang berada disana terlonjak kaget saat Ellard menutup pintu dengan


sangat keras.


Berusaha


tegar, Ara menyeka air mata di pipinya yang terjatuh begitu Ellard pada


akhirnya menyetujui. Sekuat tenaga Ara berusaha menghentikan air matanya, walau


ternyata sangat sulit.


“Sekarang


kamu bisa tenang, Cla. Pria yang kamu cintai akan segera menikahimu. Setelah


ini, berhenti membuat drama— seolah-olah kamu yang begitu menderita disini. Permisi”


tandas Ara kemudian pergi meninggalkan Clarissa yang masih terpaku beserta


orang-orang yang berada disana.


𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶...


To be continued


Info TH ada di IGS: rianitasitumorangg ya 😉


See youuu


__ADS_1


__ADS_2