
HAPPY READING
Pukul
sepuluh malam Ara baru tiba di mansion. Tadinya dia tidak ingin pulang,
berencana ingin menginap di rumah orangtuanya. Namun saat di pertengahan jalan
Blake meneleponnya dengan kepanikan yang luar biasa. Sekeretaris pribadi
suaminya itu memohon untuk dirinya segera pulang karna dirumah Ellard mengamuk
dan berakhir dengan meminum banyak alkohol. Dengan langkah tergesa-gesa Ara
naik ke lantai atas tempat dimana kamar mereka berada.
Tepat
setelah masuk ke dalam kamar, ia disuguhkan dengan keadaan kamar yang sudah
kacau balau. Ellard kembali menggila. Lampu kamar menyala terang, sedang Ellard
duduk bersandar pada kaki ranjang di lantai dengan satu kakinya ditekuk
sementara satu tangannya memegang sebotol whiskey. Pakaiannya sudah tak serapih
sebelumnya. Lengan kemejanya sudah digulung sebatas siku. Bahkan beberapa
kancing kemejanya sudah dilepas. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan
wajah yang sangat kusut.
Ara
segera melangkah masuk ke dalam dengan cepat ketika Ellard akan kembali meneguk minuman ditangannya.
“Bisakah
kau berhenti meminum minuman sialan ini!” suara Ara meninggi, ia menarik paksa
botol itu dan meletakkannya di nakas
Kini
mata mereka saling beradu. Ellard menatapnya lekat dengan raut wajah yang sulit
diartikan. Sedetik kemudian lelaki itu tersenyum manis. Senyuman manis yang
justru mengerikan bagi Ara.
Sempoyongan,
Ellard bangkit berdiri, mendekati Ara yang masih terdiam kakuh. Ellard
menangkup wajah Ara lalu membelainya lembut.
“Akhirnya
kamu pulang, sayang” Ellard tersenyum lebar “hampir saja aku membunuh Blake
karna sampai malam kamu tidak pulang. Padahal tadi aku menyuruhnya untuk
menjagamu” celotehnya ringan. Kini kedua
tangannya melingkari pinggang Ara begitu erat sementara kepalanya disandarkan
dibahu Ara.
“Aku
hampir gila karna saat aku pulang, kamu tidak dirumah. Aku begitu takut kamu
beneran pergi, sayang” serak Ellard dibahu Ara
Mendengar
kata yang diucapkan Ellard, tak ayal membuat Ara menunduk dimana kepala Ellard
sedang terbenam dibahunya dengan tubuh yang bergetar?
“Suatu
saat nanti aku memang akan pergi” lirih Ara nyaris tidak terdengar tapi entah
kenapa untuk ukuran orang mabuk seperti Ellard masih dapat mendengarnya. Dengan
cepat ia mendongak
“Kamu
bilang apa barusan?” desisnya dengan mata sayu
Ara tidak langsung menjawab. Ia menatap lama
netra Ellard yang memerah akibat banyaknya minuman keras yang diteguknya. Lalu
tatapannya turun pada tangan Ellard. Disana ada luka sobekan dan darah yang mengering
di buku-buku jarinya.
“Kau
melukai dirimu lagi?” Ara bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari tangan
Ellard yang terluka
“Sekali
lagi kutanya, apa maksud ucapan kamu barusan?” Ellard tidak mengindahkan. Ia
kembali menangkup wajah Ara “katakan”
Ara
memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat keramat
itu, lalu membukanya kembali dan menemukan iris Ellard yang tajam
“Mari
berpisah dan menikahlah dengan Clarissa. Dia lebih membutuhkanmu…”
Ellard
terkekeh ditengah kalimat Ara. Raut wajahnya begitu tenang.
“Jadi…
kamu melakukan ini, untuk membuatku menceraikan kamu, sayang?” bisik Ellard,
terlihat diwajahnya kini sedang menahan senyum geli. Seolah ucapan Ara hanya
sebuah lelucon. “Aku tekankan sekali lagi, sayang. Itu tidak akan pernah
terjadi. Kita tidak akan pernah berpisah, Ara. Sama seperti sumpah pernikahan
kita. Kita akan terus bersama sampai kita mati. Dalam suka dan duka, sakit atau
sehat. Sampai maut memisahkan kita. Dan kamu tahu artinya, kan?”
Ara
terdiam. Dengan pembawaan yang begitu tenang, Ellard lebih mendekatkan wajahnya
ke telinga Ara.
“Artinya,
selama aku masih hidup. Apapun yang kamu katakan, atau apapun yang kamu lakukan
demi merealisasikan keinginan sialan kamu. Perpisahan sialan, apalagi
perceraian brengsek yang kamu inginkan itu, tidak akan pernah terjadi.”
Bisiknya begitu seduktif , tepat ditelinga Ara. Diiringi kekehan puas lantas
kembali berbisik
“Tunggu
aku mati, atau mungkin…” Ellard menjauhkan wajahnya, untuk kembali menatap mata
Ara langsung, tepat di depan wajahnya dengan jarak hidung mereka yang hanya
beberapa centi saja. “kamu harus membunuhku lebih dulu?” sambungnya sambil
memiringkan kepalanya di depan wajah Ara dengan seringaian puas “dan kamu harus
membunuhku dengan tangan kamu sendiri. Karna selama aku hidup, kamu akan tetap
dan selalu jadi istriku. Milikku, milik Ellard O’Neill Miller!”
Setelah
mengatakan itu, dengan tiba-tiba Ellard mengangkat tubuh Ara, lantas
menghempaskannya pelan ke tengah ranjang. Dengan cepat ia menaiki ranjang dan
menindih tubuh Ara dibawah kuasa tubuhnya yang begitu dominan
Ara
membulatkan mata, dan belum sempat protes, celana bahan yang dikenakannya telah
dibuka paksa dan teronggok mengenaskan di lantai.
“Ellard,
kamu…”
“Kamu
harus dihukum, sayang” Ellard merenggangkan kedua paha Ara, menekan kedua
pergelangan tangannya diatas kepala agar berhenti mencakarinya.
“Berhenti
El, aku tidak mau melakukannya,” pinta Ara memelas, menggelengkan kepala
“Tidak,
sayang. Kamu harus punya anak agar tidak bisa lari dariku” tolak Ellard sambil
meloloskan kemeja beserta dalaman, hingga tidak ada kain penghalang apapun diantara
mereka.
“AKU
__ADS_1
TIDAK BISA HAMIL EL, KALAU KAMU LUPA!!” jerit Ara, wajahnya memerah
Ellard
tersenyum samar, “Kamu bukan tidak bisa hamil, Ara. Tapi belum hamil. Maka dari
kita harus melakukannya sesering mungkin”
Dengan
keras, Ellard langsung menyatukan bibir mereka , mengisapnya dalam-dalam sampai
keduanya kehabisan napas. Sungguh, andai Ara mempunyai kekuatan lebih, tamparan
berkali-kali pasti telah mendarat dipipinya sekarang. Ia memalingkan wajahnya
ke samping, hanya selang beberapa detik sebelum kembali dihadapkan dan diisapnya.
Tubuh
keduanya saling menyatu, deru napas keduanya terputus-putus, diiringi suara
percintaan mereka yang mengisi setiap sudut kamar. Tak berjeda, Ellard memompa
di atasnya, mengentakkan berulang kali dengan napas tersengal-sengal. Tangan
Ara ia loloskan, menghunuskan setiap kuku jemarinya ke punggung Ellard dengan
desah yang tak bisa dikendalikan.
****
Ara
menggeliat dalam tidurnya ketika telinganya berhasil menangkap samar suara seseorang
yang sedang muntah tak berkesudahan. Perlahan kedua netranya terbuka, menatap
langit-langit kamar seolah tengah mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Hal
terakhir yang ia ingat adalah percintaan gila-gilaan yang dilakukan Ellard
dengannya. Tidak menampik, ia juga menikmatinya. Mulutnya mungkin boleh
menolak, tapi tubuhnya justru bereaksi sebaliknya.
Ara
memijit kepalanya yang sedikit sakit. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam dan
ngilu di pangkal pahanya masih terasa. Sialan,
Ellard menggempurnya hingga dini hari. Ingatkan dia, untuk memaki pria itu
nanti karna membuat tubuhnya begitu kelelahan.
“Kamu
sudah bangun” Ellard baru keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Sambil menyeka rambutnya yang
masih basah dengan handuk, Ia mengampiri Ara yang masih terdiam menatapnya
dengan kerutan samar di dahi. Ellard mendudukkan diri disebelahnya lalu
Cup
“Morning kiss, baby” Ellard tersenyum manis setelah menarik diri
“Kamu
sakit?”
“Ha?”
Ara
tidak langsung menjawab, dia mendudukkan diri sambil mengeratkan pegangan pada
selimut agar tidak terlepas dari tubuh polosnya.
Sekalipun
masih marah, ia sama sekali tidak bisa mengabaikan wajah pucat pasi suaminya
saat keluar dari kamar mandi. Tadi juga Ellard munta-muntah cukup lama di dalam
sana.
“Muka
kamu pucat” Ara meraba kening Ellard dan membandingkan dengan keningnya.
“Normal. Kamu ada salah makan apa?” tanpa sadar Ara mengurut tengkuk Ellard,
terlihat jelas saat ini ia begitu kahwatir. Ellard jarang sakit
Hati
Ellard menghangat melihat istrinya kembali perhatian begini.
“Enggak
tahu. Sejak bangun perut aku uda mual dan nyeri. Saat muntah tadi yang keluar
hanya cairan bening. Mungkin cuma masuk angin biasa” jelas Ellard
Ara
tidak teraliri darah. “Kamu pasti ada salah makan,” ucap Ara final. “Sebentar,
aku ambil obat dulu” sambungnya hendak bangkit
Ellard
menahan tangan Ara, menariknya untuk kembali berbaring bersama dengan dirinya.
Ellard masuk kedalam selimut yang sama dengan Ara, memeluknya erat.
“Kamu
obat terbaikku. Jangan pergi. Kita istirahat lagi” Ellard menyurukkan wajahnya
di leher Ara— menghidu aroma tubuh istrinya yang terasa begitu menenangkan.
“Kamu
wangi banget, sayang” cetusnya semakin gencar mengendus-endus leher Ara
Ara
memutar bola mata malas “Dari mana wanginya kalau aku saja belum mandi sejak
semalam. Hidung kamu bermasalah”
“Beneran
sayang. Tubuh kamu wangi banget” sahut Ellard tidak jelas karna masih gencar
mengendus
Jengah,
Ara mendorong pelan wajah Ellard “Berhenti. Aku mau mandi. Setelah itu ke
dokter. Kamu harus diobati”
Ellard
menggeleng keras, tidak membiarkan Ara lepas darinya.
“El—“
“Disini
aja, sayang” Ellard meraih sebelah tangan Ara kemudian di letakkan di atas
perutnya “kamu bantu elus-elus disini” pintanya memelas
Ara
berdecak namun tidak membantah. Memiringkan tubuh, Ia melakukan sesuai permintaan
Ellard. Mengelus perut liat Ellard naik turun.
Sekali
lagi kehangatan melingkupi hati Ellard. Ara-nya kembali menurut. Ia memejamkan
mata saat merasakan usapan tangan Ara yang begitu lembut dan menenangkan.
Perlahan rasa mual yang menderanya begitu hebat tadi seketika hilang.
“Apakah
sudah lebih baik?” tanya Ara saat melihat wajah Ellard kini tidak sepucat tadi.
Ellard
membuka mata, ia tersenyum hangat “Sedikit, sayang” dustanya. Berpikir, jika ia
mengaku sudah tidak merasa mual lagi, Ara-nya pasti akan menarik diri. No! itu tidak boleh terjadi.
Ara
kembali diam— memilih melanjutkan kegiatannya.
Ellard
memperhatikan lekat istrinya. Mengernyit saat menyadari sesuatu.
“Ara”
“Hm”
“Kamu
gemukan. Pinggangmu sedikit lebaran. Terus ukuran perut kamu juga beda. Dan…,”
tangan itu naik ke atas dadanya, meremasnya perlahan, “… disini juga bentuknya
berbeda dari terakhir kali kita bercinta. Apa yang kamu lakukan dengan
payudaramu? You’re so hot now” tanpa
aba-aba, Ellard mengisap bibir Ara dalam-dalam hingga tersedak salivanya
sendiri.
“El,
__ADS_1
berhenti atau aku tidak akan melanjutkan ini lagi” ancam Ara, berusaha
menjauhkan tangan Ellard yang mulai semakin liar menjelajahi tubuhnya. Ia sendiri
bahkan tidak menyadari semua perubahan yang terjadi.
“Iya,
iya sayangku. Jangan diberhentiin” Ellard menyengir sembari meraih kembali
tangan Ara untuk melanjutkan elusannya tadi.
Ara
menghembuskan napas kasar sebelum kembali dengan aktifitasnya. Sementara Ellard
terus menatapnya tanpa bosan.
“El”
“Apa,
sayang?” Ellard menyingkirkan rambut yang hampir menutupi mata istrinya.
“Bagaimana
keadaan Clarissa?”
Senyum
yang sejak tadi mengembang, perlahan memudar “Dia sudah lebih baik”
“Benarkah?”
Ara memicing tidak percaya
“Iya,”
sahutnya singkat
“Kalau
begitu nanti kita menjenguknya”
“Tubuhku
hari ini sedang tidak fit, Ara. Lain kali saja” tolak Ellard cepat
“Tapi—“
“Hoams..
ngantuk sekali.” Ellard menguap lebar, beralasan demi menghindari topik sensitive
ini lagi. Ia kembali meraih pinggang Ara kemudian memeluknya erat sambil
memejamkan mata “kita tidur lagi”
****
Wajah
Ellard ditekuk saat Ara bersikeras mengajaknya menjenguk Clarissa di Rumah
sakit. Hanya beberapa meter lagi menujuh ruangan Clarissa, langkah keduanya di
percepat karna mendengar gaung tangisan tak asing terdengar sampai keluar
kamar. Tanpa sadar Ellard berlari lebih cepat, meninggalkan Ara di belakang.
Langkah
Ara terhenti di depan pintu yang terbuka. Semua orang berkumpul disana, tubuh
Clarissa meronta-ronta tak terima, dia menangis, dan berusaha ditenangkan oleh
semua orang.
“Mom,
enggak mungkin penyakitku kembali lagi! Bagaimana mungkin?! Tolong, katakan pada
dokter untuk di cek ulang. Pasti ada kesalahan!” Clarissa terisak hebat,
tubuhnya dipeluk Ellard begitu erat, meski Clarissa terus mendorongnya. “El,
kamu pasti senang kan dengan kabar ini? Dengan begitu kamu tidak perlu
repot-repot untuk menyingkirkanku dari hidup kalian!”
“Cla,
tolong tenang, jangan seperti ini. aku tidak pernah berpikir sepicik itu. kamu
pasti sembuh” begitu lembut, Ellard mengusap-usap punggung Clarissa
“Bullshit
kamu!!” Clarissa mendorong jauh tubuh Ellard sekuat tenaga
“Aku
tidak bohong Cla. Kamu sahabatku, dan sejak dulu aku menyayangimu. Aku akan
berusaha mencari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu”
“Kalau
kamu menyayangiku, kenapa kamu menolak untuk menikahiku? Anakku tidak akan
punya kedua orangtuanya kalau aku sudah tiada nanti. Sementara kamu… dengan
teganya mencampakkan kami!”
“Cla,
tidak seperti itu—“
“Ellard
akan bertanggung jawab”
Ucapan
Ara mengudara, secara otomatis langsung membuat semua orang yang ada disana
menatapnya heran— membisu, dengan rasa tak percaya. Tidak ada yang menyangka
Ara akan menjawab begitu.
“Ara…
Please, jangan mulai lagi,” erang Ellard penuh penekanan
Ara
tidak menatap Ellard, tetap memandang Clarissa lurus-lurus. Pun, Clarissa juga
berhasil dibungkam oleh ucapannya
“Ellard
akan menikahimu. Satu minggu kemudian”
“ARA,
SUDAH KUBILANG BERHENTI MENGUCAPKAN OMONG KOSONG!! SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK
AKAN MENIKAH LAGI” gelegar Ellard dengan kemurkaan yang luar biasa. Rahangnya mengetat
marah, buku-buku jarinya memutih. “SIAPA KAMU HINGGA BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN
DALAM HIDUPKU?!”
Ara
sama sekali tidak terpengaruh. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia memandang
Ellard,
“Kalau begitu ceraikan aku jika kamu tidak
bersedia menikahi Clarissa. That’s it”
Ellard
menjambak rambutnya sendiri. “FINE!!” bentaknya keras. Pertanda jika kesabarannya
sudah habis. “kalau itu memang yang kamu mau… dan jangan pernah menyesalinya”
geram Ellard sarat akan kekecewaan. Setelahnya, Ellard langsung beranjak keluar
tanpa mengatakan apapun lagi.
BRAKK
Semua
orang yang berada disana terlonjak kaget saat Ellard menutup pintu dengan
sangat keras.
Berusaha
tegar, Ara menyeka air mata di pipinya yang terjatuh begitu Ellard pada
akhirnya menyetujui. Sekuat tenaga Ara berusaha menghentikan air matanya, walau
ternyata sangat sulit.
“Sekarang
kamu bisa tenang, Cla. Pria yang kamu cintai akan segera menikahimu. Setelah
ini, berhenti membuat drama— seolah-olah kamu yang begitu menderita disini. Permisi”
tandas Ara kemudian pergi meninggalkan Clarissa yang masih terpaku beserta
orang-orang yang berada disana.
𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶...
To be continued
Info TH ada di IGS: rianitasitumorangg ya 😉
See youuu
__ADS_1