
HAPPY READING
Rencana
untuk check up bersama ke dokter kandungan terpaksa harus gagal karna tiba-tiba
saja Ellard mendapat panggilan untuk mengikuti meeting mendadak di kantor.
Rapat kali ini tidak bisa diwakilkan, mengingat kontrak kerjasama yang akan
terjalin nanti bernilai jutaan dollar. Namun walaupun demikian, Ellard
menyuruhnya untuk tetap pergi check up dengan diantarkan oleh sopir pribadinya.
Dan
disinilah Ara berada— duduk di depan meja dokter yang saat ini masih menatap
serius hasil dari serangkaian test yang baru saja selesai dia dilakukan. Ara
memilin ujung kemejanya, kahwatir jika hasilnya kali ini pun kembali
mengecewakan. Padahal sebelum berangkat kesini berulangkali dia membuat alasan
agar tidak mengikuti check up hari ini. Tapi tetap saja Ellard enggan
mendengarkan segala alasannya.
“Ba—bagaimana
hasilnya, dok?” Ara terbata “Masih belum ada tanda-tanda, kan? Saya sudah berulangkali
bilang sama suami, bahwa saya masih belum hamil. Karna dua minggu lalu saya telah
melakukan tes di pagi hari dengan alat bantu testpack. Dan hasilnya… masih
negatif”
Dokter
itu melepaskan kacamatanya, tersenyum mendengarkan penjelasan Ara yang terlihat
sangat putus asa.
“Selamat
nyonya anda berhasil hamil. Usia kandungan anda sudah memasuki minggu ke-lima.”
Dokter mengulum senyum— mengabaikan penjelasan Ara sebelumnya
“A-apa?
Maksud… maksud dokter?” seperti orang linglung, Ara mengerjap tidak yakin “Aku…
hamil?”
Sekali
lagi dokter tersebut tersenyum mengangguk. “Iya, nyonya. Anda hamil”
“Bagaimana…
bisa? Sementara dua minggu lalu—” masih memandang dokter tidak yakin
“Mungkin
bisa jadi anda terlalu cepat mengangkat tespack itu dari air seni anda sebelum
waktunya. Atau anda langsung membuangnya sebelum mendapat hasilnya. Dan di
beberapa kasus, ada juga garis samar yang nyaris tidak terlihat di dekat garis
yang lebih jelas. Saya jamin, anda memang positif tengah berbadan dua sekarang”
Ara
masih berusaha mengumpulkan kesadaran, ia terkejut sekaligus senang luar biasa.
Tidak ada kata yang cukup baik untuk mendefinisikan kebahagiaannya sekarang.
Tak lama. Ia mulai terisak, semakin hebat dan tak terkendali saat dokter
menyerahkan foto USG ke tangan Ara— memandangnya dengan mata berair dan
langsung mendekapnya di dada erat-erat.
“Ya,
Tuhan… Aku hamil!” Ara menepuk perutnya sayang “sayang, bagaimana mungkin Mama
tidak tahu kamu telah tumbuh dalam rahim Mama. Maaf, Mama telat mengetahui kehadiranmu.”
Kembali tetes bening itu meluncur jatuh. Senyuman terpeta di rautnya yang
memancarkan kebahagiaan.
****
Sepanjang
perjalanan senyum Ara tak sedetik pun pudar. Wajahnya berseri-seri sejak
mengetahui dirinya hamil— tidak sabar ingin menyampaikan kabar menggembirakan
ini pada Ellard, melihat bagaimana ekspresi terkejut suaminya itu nantinya. Namun
senyum manis itu seketika memudar kala dirinya memasuki ruang tengah mansion
dan mendapati Oma, Clarissa serta Ellard ada disana.
“Ara,
kamu sudah pulang” Clarissa lah yang pertama kali menyadari kehadirannya dengan
senyum mengembang.
“Ha-hai…”
Ara terbata mengucapkan sapaannya. Matanya menatap nanar koper-koper yang masih
berada diantara mereka
Sementara
mata Ellard tak sedetik pun lepas menatap Ara yang telah digelayuti beratus
pertanyaan. Wajahnya pias, jakun Ellard naik turun.
“Mulai
sekarang Clarissa akan tinggal disini. Bersama kalian. Oma harap kamu tidak
keberatan dan mulai membiasakan diri,” ucap Oma ringan, tidak terpengaruh dengan
suasana yang kini menegangkan.
“Clarissa…
akan tinggal… di sini?” terputus-putus Ara menanyakan
“Iya,
dia akan tinggal disini.” Jawab Oma lantang “kamu keberatan?”
Ara
menghirup udara sebanyak yang ia mampu, tersenyum palsu lalu menggeleng.
“Tidak. Tentu saja Clarissa sudah seharusnya tinggal disini, mengingat lusa
adalah pernikahan mereka, bukan?”
Clarissa
tersenyum lalu bergelayut di lengan Ellard yang masih diam ditempat, tanpa
ekspresi tapi netranya sejak tadi enggan beralih dari Ara. “Ya, itu benar.
Syukurlah kamu bisa dengan cepat menerima. Anak kami ingin berdekatan terus dengan
ayahnya.”
Ara
mengangguk dan tersenyum. “Iya, semoga kamu betah ya disini.” Ara melangkahkan
kaki menjauh dari mereka. “Selamat malam semuanya” pamitnya tersenyum sebelum
memasuki lift ke lantai atas.
Sekuat
tenaga Ara menggeret langkahnya yang seakan tiba-tiba sangat susah untuk di
gerakkan. Tidak. Ia tidak boleh menangis. Bukankah memang sudah seharusnya
begini? Dia bahkan sudah memprediksi cepat atau lambat Clarissa akan tinggal
dirumah ini. Dan siapa sangka jika waktu itu jatuhnya sekarang. Sial, kenapa harus
sekarang? Disaat dirinya baru sebentar saja merasa bahagia, namun selanjutnya
dia kembali dijatuhkan sampai ke dasar jurang yang paling dalam. Karna terlalu
bahagia dengan berita kehamilannya, Ia nyaris melupakan keberadaan Clarissa
dalam rumah tangganya.
Tuhan… ini sangat
menyakitkan…
****
Didalam
kamar mandi, Ara membekap mulut sekuat-kuatnya agar isakan kesakitannya tidak
terdengar keluar. Ya, dia memutuskan mengeluarkan tangis yang sejak tadi
mati-matian ditahannya. Ia terus berusaha mengatur napas, saat sesak itu tak
kunjung hilang juga. Ternyata dia tidak sekuat itu. Dia ambruk oleh
keputusannya sendiri.
Dibawah
guyuran air shower, Ara memegang perut yang kini terdapat nyawa disana—
mengelusnya dengan tangan yang hampir tak bertenaga.
__ADS_1
“Maafkan
Mama sayang… Mama sudah membagi Papamu dengan yang lain. Mama udah enggak kuat
lagi untuk bertahan. Kita pergi saja ya sayang… kamu mau kan ikut sama mama?”
Dug,
Dug, Dug
“Ara,
buka pintunya. Kamu sudah sangat lama didalam sana” Ellard menggedor kuat pintu
kamar mandi karna hampir dua jam ia menunggu, wanita itu tak kunjung keluar.
Pikiran-pikiran buruk sejak tadi bersarang dikepalanya. “Kalau kamu tidak
keluar juga, aku akan menghancurkan pintu sialan ini!” ancam Ellard dengan
suara meninggi.
Hening.
Tidak ada sahutan.
“Ara,
aku hitung sampai tiga. Kalau kamu—“
Ellard
tersentak mundur saat pintu dihadapannya tiba-tiba dibuka. Ara keluar
berbalutkan jubah mandi dengan rambut basah. Mata Ellard membulat begitu
melihat wajah pucat menghiasi parasnya.
“Ara,
kenapa kamu mandi selarut ini?” geram Ellard, begitu kahwatir.
Ara
bergeming. Ellard menggamit lengan Ara dan membawanya duduk di tepi ranjang,
lalu bergegas mengambil hair dryer. Segera ia mengeringkan rambut basah Ara
yang masih betah dalam kebisuannya. Setelahnya ia mengambil piyama di walk in
closet.
“Aku
bisa memakainya sendiri” tolak Ara, pada akhirnya mengeluarkan suara ketika
Ellard hendak memakaikannya baju.
“Diam”
dingin Ellard— menepis pelan tangan Ara
Ara
menghela napas pasrah, membiarkan Ellard dengan segala tindakannya. Tenaganya
sudah menipis untuk sekedar berdebat. Tidak hanya mengeringkan rambut dan
memakaikan piyama, Ellard juga menyuapinya makan dan minum obat. Terakhir,
keduanya sama-sama berbaring dengan kepala Ara yang berbantalkan lengan Ellard.
“Apa
hasilnya kata dokter?” tanya Ellard, memecah kesunyian diantara mereka
Tubuh
Ara sempat menegang dengan pertanyaan itu, namun dengan cepat ia kembali
menguasainya. Ellard menanyakan hasil pemeriksaannya tadi. Haruskah dia jujur?
“Masih
sama… negative” pelan, Ara memilih berbohong. Bukan tanpa alasan, karna jika ia
mengaku jujur mengenai dirinya yang kini mengandung, maka dengan cepat Ellard
akan membatalkan pernikahannya dengan Clarissa. Menjadikan bayi mereka sebagai
alasan yang kuat— kemudian berakhir dengan Clarissa yang lagi-lagi akan
menggila.
Ellard
menundukkan wajahnya, menangkup dagu Ara mendongak ke arahnya. Lama, Ellard menatapnya.
“Benarkah?
Kamu tidak sedang membohongiku, kan?”
Ara
menelan ludah kasar. Apakah terlihat begitu jelas jika dia tengah berdusta?
“Tentu
saja. Apa untungnya aku membohongimu?” sahut Ara sesantai mungkin
Ellard
“Kalau
tidak percaya kamu bisa menayakan sendiri pada dokter yang memeriksaku tadi”
timpal Ara, was-was jika Ellard akan menuruti ucapannya.
Ellard
menghela nafas berat, “Aku percaya padamu. Hanya saja… yang membuatku sedikit
tidak yakin adalah sikapmu yang tampak biasa-biasa saja saat mengetahui kamu
belum hamil. Sedang sebelumnya, kamu sangat sedih”
“Aku
sudah bisa menerimanya” Ara meremas kuat selimut— lagi-lagi ia berdusta
Ellard
mengecup kening Ara, lalu membelai pipinya dengan ibu jari. “kita akan terus
berusaha. Aku yakin… suatu saat nanti kita akan memilikinya” bisik Ellard, menghibur.
Ara
hanya mengangguk samar. Sementara sebelah tangan mengelus lembut perutnya.
Maafkan aku El…
anak yang kita nantikan tengah bertumbuh sekarang di dalam sini…
“El…”
“Hm”
“Kalau
misalnya kita punya anak, kamu mau anak laki-laki atau perempuan?” ragu, Ara
bertanya
“Laki-laki
atau perempuan bagiku sama saja, sayang. Mereka tetap akan menjadi anak-anak
yang paling kukasihi— terlebih mereka lahir dari rahim istri yang paling
kucintai” jawab Ellard disertai kerlingan— membuat rona merah diwajah Ara
muncul
“Ck,
dasar perayu” decih Ara, berbanding terbalik dengan wajahnya yang kian merona.
“Aku
serius, sayang” kekeh Ellard
“Terus,
kalau mereka lahir, kamu mau kasih mereka nama apa?” pertanyaan Ara selanjutnya
Ellard
diam sejenak, tampak berpikir. “Kalau laki-laki namanya Nathan Mateo Miller. Kalau
perempuan namanya Nala Zanetta Miller”
“Yang
artinya?”
“Hadia
dan karunia dari Tuhan, sayang” sahut Ellard tersenyum hangat. Tangannya menyelinap
masuk ke dalam piyama Ara, lalu mengelusnya lembut. “karna mereka benar-benar
akan menjadi hadia dan karunia terindah yang Tuhan berikan untukku— jika suatu
saat nanti mereka tumbuh di dalam sini”
Ara
sungguh tidak mampu lagi membendung air matanya yang kini telah lolos begitu
saja. Ucapan Ellard membuatnya begitu terharu sekaligus merasa kian bersalah
karna telah tega membohongi keberadaan janin yang dikandungnya dari lelaki
dihadapannya ini.
“El…”
isak Ara
“Sstttt…
__ADS_1
kenapa jadi nangis begini, hm?” Ellard menangkup wajah Ara seraya menyeka
lembut bulir bening tersebut
“El…
maaf… maaf…” Ara semakin terguguh
“Maaf
untuk apa? Kamu enggak buat kesalahan”
Ara
menggeleng lemah, “Maaf…”
Ellard
mengecup bergantian netra berair istrinya dengan penuh kelembutan, lalu
menyatukan kening keduanya.
“Ara,
dengar. Jangan pernah minta maaf untuk hal ini. Kamu sama sekali tidak
bersalah. Aku udah katakan sebelumnya, seandainya pun kita tidak memilikinya,
aku tidak masalah dengan itu. kita bisa mengadopsi anak. Ingat, sayang.. Anak itu
buah dari cinta, bukan alasan untuk cinta. Karna itu, ada atau tidak ada anak,
tidak akan pernah mengurangi rasa cintaku untukmu. Mengerti?” nada suara Ellard
turut serak ketika mengatakannya. Ia juga merasakan kesedihan yang sama seperti
yang dirasakan istrinya. Demi apapun, satu-satunya yang tidak ingin dilihatnya
adalah air mata kesedihan dari wanitanya ini.
Tak
kuasa menjawab, Ara memilih mengangguk dan menenggelamkan wajah di dada bidang
suaminya. Ellard mendekap tubuh Ara seerat mungkin dan menciumi puncak
kepalanya berkali-kali. Sungguh, wanita ini sangat berharga baginya.
****
Ara
membantu Ellard memasangkan dasi pada kerah kemejanya kemudian memakaikan jas. Ia
membantu Ellard bersiap dengan telaten. Hari ini adalah hari dimana Ara
melepaskan suaminya— membaginya dengan perempuan lain dengan alasan
kemanusiaan.
“Tampan
sekali suamiku ini” puji Ara dengan senyum mengembang di wajah cantiknya, setelah
membantu Ellard selesai memakai seluruh pakaian.
Ellard
tidak menanggapi pujian Ara. Ia hanya menatap Ara dengan tatapan yang sulit
diartikan. Ellard menangkup pipi Ara dengan kedua tangannya.
“Masih
ada waktu untuk membatalkan pernikahan bodoh ini. Hanya katakan… katakan kamu
menolaknya Ara. Katakan… maka aku akan—“
“Shuuu…
bukankah kita sudah sepakat?” potong Ara dengan telunjuk yang menempel di bibir
Ellard
“Ara…”
erang Ellard “tidak bisakah kamu bersikap egois sekali ini saja?”
Andai aku bisa El…
maka sudah sejak dulu aku melakukannya
Ara
tersenyum lembut. Ia menarik wajah Ellard untuk mendaratkan ciumannya di bibir
Ellard. Ciuman yang begitu dalam, mendayu dan lembut.
“Pergilah,
nanti aku akan menyusul” ujar Ara kemudian, setelah melepaskan ciuman mereka
berdua.
Ellard
menggeleng tegas. “Tidak, kita berangkat bersama”
Ara
menghela nafas lelah, “El, aku perlu bersiap-siap. Kamu tidak mungkinkan
membawaku kesana dengan pakaian rumahan begini” keluh Ara seraya menunjuk
dirinya sendiri
Ellard
tidak merespon, membuat Ara kembali memeluknya dan menepuk-nepuk pelan punggung
kokohnya. “Percayalah, semua akan baik-baik saja.” hibur Ara
Ellard
tidak menyahut, memilih membalas pelukan istrinya tak kalah erat.
Cukup
lama mereka berpelukan, hingga Ara yang memilih memutuskan pelukan mereka. “Pergilah,
El. semua sudah menunggumu disana”
“Aku
tunggu. Jika kamu tidak muncul, kupastikan pernikahan ini tidak akan terlaksana—
sampai kamu datang.” ancam Ellard tegas
Ara
hanya mengangguk dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Perlahan punggung
tegap itu mulai menjauh. Ara mencengkram kuat ujung bajunya dengan dada yang
berdentam nyeri luar biasa. Air matanya lolos begitu saja setelah sosok itu
tidak lagi terlihat. Ia hancur. Dan kehancuran itu disebabkan oleh rasa
kemanusiaannya terhadap orang lain. Hampir saja tubuhnya meluruh ke lantai jika
saja tangan seseorang tidak menahan tubuhnya. Ara mendongak…
“Kak
Leo…” lirih Ara nyaris tidak terdengar
“Jangan
menangis terlalu banyak, Ara” Leo menatapnya sendu dengan mata yang
berkaca-kaca. Tidak sanggup melihat kehancuran wanita yang sangat dicintainya
ini.
“Kak
Leo.. El—Ellard sudah pergi. Dia pergi kak…” isak Ara penuh kesakitan, tubuhnya
bergetar hebat. bahkan ia mencengkram kuat lengan Leo.
Leo
segera membawa tubuh rapuh Ara kedalam dekapannya. Memeluknya kuat ditengah
isakan Ara yang kian hebat. Dia menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua
perasaan yang berkecamuk di hatinya. Sejak tadi Leo sudah ada disana— berdiri
di balik tembok, menyaksikan suasana sedu sedan Ara dan Ellard. Tadi, gadis
kecilnya ini masih begitu kuat saat di depan Ellard, namun ketika lelaki itu
sudah pergi, topeng ketegaran yang sejak tadi terpasang seketika hancur.
Subuh
tadi Ara meneleponnya, mengambil tawaran Leo untuk membawanya pergi sejauh
mungkin dari Ellard. Ara memang meminta Ellard menikahi Clarissa, namun tetap
saja dia tidak sekuat itu untuk berada satu atap dan berbagi suami dengan
Clarissa. Ini terlalu menyakitkan untuknya. Ia tahu kalau dirinya terlalu
munafik untuk menampilkan dirinya baik-baik saja, nyatanya tidak.
Biarkan
dirinya yang mengalah dan pergi menjauh, bersama anak dalam kandungannya— buah
cintanya dengan Ellard.
“Bawa
aku pergi kak…”
To be continued
Info kapan Up aku share di IG: rianitasitumorangg ^^
Okee... silahkan komen dan curhat sebanyak2nya yahhh 😂✌ yakin dehhh... komennya pada marah2 🤣
__ADS_1
Kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrr
See youuuu 😘