Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

HAPPY READING


Rencana


untuk check up bersama ke dokter kandungan terpaksa harus gagal karna tiba-tiba


saja Ellard mendapat panggilan untuk mengikuti meeting mendadak di kantor.


Rapat kali ini tidak bisa diwakilkan, mengingat kontrak kerjasama yang akan


terjalin nanti bernilai jutaan dollar. Namun walaupun demikian, Ellard


menyuruhnya untuk tetap pergi check up dengan diantarkan oleh sopir pribadinya.


Dan


disinilah Ara berada— duduk di depan meja dokter yang saat ini masih menatap


serius hasil dari serangkaian test yang baru saja selesai dia dilakukan. Ara


memilin ujung kemejanya, kahwatir jika hasilnya kali ini pun kembali


mengecewakan. Padahal sebelum berangkat kesini berulangkali dia membuat alasan


agar tidak mengikuti check up hari ini. Tapi tetap saja Ellard enggan


mendengarkan segala alasannya.


“Ba—bagaimana


hasilnya, dok?” Ara terbata “Masih belum ada tanda-tanda, kan? Saya sudah berulangkali


bilang sama suami, bahwa saya masih belum hamil. Karna dua minggu lalu saya telah


melakukan tes di pagi hari dengan alat bantu testpack. Dan hasilnya… masih


negatif”


Dokter


itu melepaskan kacamatanya, tersenyum mendengarkan penjelasan Ara yang terlihat


sangat putus asa.


“Selamat


nyonya anda berhasil hamil. Usia kandungan anda sudah memasuki minggu ke-lima.”


Dokter mengulum senyum— mengabaikan penjelasan Ara sebelumnya


“A-apa?


Maksud… maksud dokter?” seperti orang linglung, Ara mengerjap tidak yakin “Aku…


hamil?”


Sekali


lagi dokter tersebut tersenyum mengangguk. “Iya, nyonya. Anda hamil”


“Bagaimana…


bisa? Sementara dua minggu lalu—” masih memandang dokter tidak yakin


“Mungkin


bisa jadi anda terlalu cepat mengangkat tespack itu dari air seni anda sebelum


waktunya. Atau anda langsung membuangnya sebelum mendapat hasilnya. Dan di


beberapa kasus, ada juga garis samar yang nyaris tidak terlihat di dekat garis


yang lebih jelas. Saya jamin, anda memang positif tengah berbadan dua sekarang”


Ara


masih berusaha mengumpulkan kesadaran, ia terkejut sekaligus senang luar biasa.


Tidak ada kata yang cukup baik untuk mendefinisikan kebahagiaannya sekarang.


Tak lama. Ia mulai terisak, semakin hebat dan tak terkendali saat dokter


menyerahkan foto USG ke tangan Ara— memandangnya dengan mata berair dan


langsung mendekapnya di dada erat-erat.


“Ya,


Tuhan… Aku hamil!” Ara menepuk perutnya sayang “sayang, bagaimana mungkin Mama


tidak tahu kamu telah tumbuh dalam rahim Mama. Maaf, Mama telat mengetahui kehadiranmu.”


Kembali tetes bening itu meluncur jatuh. Senyuman terpeta di rautnya yang


memancarkan kebahagiaan.


****


Sepanjang


perjalanan senyum Ara tak sedetik pun pudar. Wajahnya berseri-seri sejak


mengetahui dirinya hamil— tidak sabar ingin menyampaikan kabar menggembirakan


ini pada Ellard, melihat bagaimana ekspresi terkejut suaminya itu nantinya. Namun


senyum manis itu seketika memudar kala dirinya memasuki ruang tengah mansion


dan mendapati Oma, Clarissa serta Ellard ada disana.


“Ara,


kamu sudah pulang” Clarissa lah yang pertama kali menyadari kehadirannya dengan


senyum mengembang.


“Ha-hai…”


Ara terbata mengucapkan sapaannya. Matanya menatap nanar koper-koper yang masih


berada diantara mereka


Sementara


mata Ellard tak sedetik pun lepas menatap Ara yang telah digelayuti beratus


pertanyaan. Wajahnya pias, jakun Ellard naik turun.


“Mulai


sekarang Clarissa akan tinggal disini. Bersama kalian. Oma harap kamu tidak


keberatan dan mulai membiasakan diri,” ucap Oma ringan, tidak terpengaruh dengan


suasana yang kini menegangkan.


“Clarissa…


akan tinggal… di sini?” terputus-putus Ara menanyakan


“Iya,


dia akan tinggal disini.” Jawab Oma lantang “kamu keberatan?”


Ara


menghirup udara sebanyak yang ia mampu, tersenyum palsu lalu menggeleng.


“Tidak. Tentu saja Clarissa sudah seharusnya tinggal disini, mengingat lusa


adalah pernikahan mereka, bukan?”


Clarissa


tersenyum lalu bergelayut di lengan Ellard yang masih diam ditempat, tanpa


ekspresi tapi netranya sejak tadi enggan beralih dari Ara. “Ya, itu benar.


Syukurlah kamu bisa dengan cepat menerima. Anak kami ingin berdekatan terus dengan


ayahnya.”


Ara


mengangguk dan tersenyum. “Iya, semoga kamu betah ya disini.” Ara melangkahkan


kaki menjauh dari mereka. “Selamat malam semuanya” pamitnya tersenyum sebelum


memasuki lift ke lantai atas.


Sekuat


tenaga Ara menggeret langkahnya yang seakan tiba-tiba sangat susah untuk di


gerakkan. Tidak. Ia tidak boleh menangis. Bukankah memang sudah seharusnya


begini? Dia bahkan sudah memprediksi cepat atau lambat Clarissa akan tinggal


dirumah ini. Dan siapa sangka jika waktu itu jatuhnya sekarang. Sial, kenapa harus


sekarang? Disaat dirinya baru sebentar saja merasa bahagia, namun selanjutnya


dia kembali dijatuhkan sampai ke dasar jurang yang paling dalam. Karna terlalu


bahagia dengan berita kehamilannya, Ia nyaris melupakan keberadaan Clarissa


dalam rumah tangganya.


Tuhan… ini sangat


menyakitkan…


****


Didalam


kamar mandi, Ara membekap mulut sekuat-kuatnya agar isakan kesakitannya tidak


terdengar keluar. Ya, dia memutuskan mengeluarkan tangis yang sejak tadi


mati-matian ditahannya. Ia terus berusaha mengatur napas, saat sesak itu tak


kunjung hilang juga. Ternyata dia tidak sekuat itu. Dia ambruk oleh


keputusannya sendiri.


Dibawah


guyuran air shower, Ara memegang perut yang kini terdapat nyawa disana—


mengelusnya dengan tangan yang hampir tak bertenaga.

__ADS_1


“Maafkan


Mama sayang… Mama sudah membagi Papamu dengan yang lain. Mama udah enggak kuat


lagi untuk bertahan. Kita pergi saja ya sayang… kamu mau kan ikut sama mama?”


Dug,


Dug, Dug


“Ara,


buka pintunya. Kamu sudah sangat lama didalam sana” Ellard menggedor kuat pintu


kamar mandi karna hampir dua jam ia menunggu, wanita itu tak kunjung keluar.


Pikiran-pikiran buruk sejak tadi bersarang dikepalanya. “Kalau kamu tidak


keluar juga, aku akan menghancurkan pintu sialan ini!” ancam Ellard dengan


suara meninggi.


Hening.


Tidak ada sahutan.


“Ara,


aku hitung sampai tiga. Kalau kamu—“


Ellard


tersentak mundur saat pintu dihadapannya tiba-tiba dibuka. Ara keluar


berbalutkan jubah mandi dengan rambut basah. Mata Ellard membulat begitu


melihat wajah pucat menghiasi parasnya.


“Ara,


kenapa kamu mandi selarut ini?” geram Ellard, begitu kahwatir.


Ara


bergeming. Ellard menggamit lengan Ara dan membawanya duduk di tepi ranjang,


lalu bergegas mengambil hair dryer. Segera ia mengeringkan rambut basah Ara


yang masih betah dalam kebisuannya. Setelahnya ia mengambil piyama di walk in


closet.


“Aku


bisa memakainya sendiri” tolak Ara, pada akhirnya mengeluarkan suara ketika


Ellard hendak memakaikannya baju.


“Diam”


dingin Ellard— menepis pelan tangan Ara


Ara


menghela napas pasrah, membiarkan Ellard dengan segala tindakannya. Tenaganya


sudah menipis untuk sekedar berdebat. Tidak hanya mengeringkan rambut dan


memakaikan piyama, Ellard juga menyuapinya makan dan minum obat. Terakhir,


keduanya sama-sama berbaring dengan kepala Ara yang berbantalkan lengan Ellard.


“Apa


hasilnya kata dokter?” tanya Ellard, memecah kesunyian diantara mereka


Tubuh


Ara sempat menegang dengan pertanyaan itu, namun dengan cepat ia kembali


menguasainya. Ellard menanyakan hasil pemeriksaannya tadi. Haruskah dia jujur?


“Masih


sama… negative” pelan, Ara memilih berbohong. Bukan tanpa alasan, karna jika ia


mengaku jujur mengenai dirinya yang kini mengandung, maka dengan cepat Ellard


akan membatalkan pernikahannya dengan Clarissa. Menjadikan bayi mereka sebagai


alasan yang kuat— kemudian berakhir dengan Clarissa yang lagi-lagi akan


menggila.


Ellard


menundukkan wajahnya, menangkup dagu Ara mendongak ke arahnya. Lama, Ellard menatapnya.


“Benarkah?


Kamu tidak sedang membohongiku, kan?”


Ara


menelan ludah kasar. Apakah terlihat begitu jelas jika dia tengah berdusta?


“Tentu


saja. Apa untungnya aku membohongimu?” sahut Ara sesantai mungkin


Ellard


“Kalau


tidak percaya kamu bisa menayakan sendiri pada dokter yang memeriksaku tadi”


timpal Ara, was-was jika Ellard akan menuruti ucapannya.


Ellard


menghela nafas berat, “Aku percaya padamu. Hanya saja… yang membuatku sedikit


tidak yakin adalah sikapmu yang tampak biasa-biasa saja saat mengetahui kamu


belum hamil. Sedang sebelumnya, kamu sangat sedih”


“Aku


sudah bisa menerimanya” Ara meremas kuat selimut— lagi-lagi ia berdusta


Ellard


mengecup kening Ara, lalu membelai pipinya dengan ibu jari. “kita akan terus


berusaha. Aku yakin… suatu saat nanti kita akan memilikinya” bisik Ellard, menghibur.


Ara


hanya mengangguk samar. Sementara sebelah tangan mengelus lembut perutnya.


Maafkan aku El…


anak yang kita nantikan tengah bertumbuh sekarang di dalam  sini…


“El…”


“Hm”


“Kalau


misalnya kita punya anak, kamu mau anak laki-laki atau perempuan?” ragu, Ara


bertanya


“Laki-laki


atau perempuan bagiku sama saja, sayang. Mereka tetap akan menjadi anak-anak


yang paling kukasihi— terlebih mereka lahir dari rahim istri yang paling


kucintai” jawab Ellard disertai kerlingan— membuat rona merah diwajah Ara


muncul


“Ck,


dasar perayu” decih Ara, berbanding terbalik dengan wajahnya yang kian merona.


“Aku


serius, sayang” kekeh Ellard


“Terus,


kalau mereka lahir, kamu mau kasih mereka nama apa?” pertanyaan Ara selanjutnya


Ellard


diam sejenak, tampak berpikir. “Kalau laki-laki namanya Nathan Mateo Miller. Kalau


perempuan namanya Nala Zanetta Miller”


“Yang


artinya?”


“Hadia


dan karunia dari Tuhan, sayang” sahut Ellard tersenyum hangat. Tangannya menyelinap


masuk ke dalam piyama Ara, lalu mengelusnya lembut. “karna mereka benar-benar


akan menjadi hadia dan karunia terindah yang Tuhan berikan untukku— jika suatu


saat nanti mereka tumbuh di dalam sini”


Ara


sungguh tidak mampu lagi membendung air matanya yang kini telah lolos begitu


saja. Ucapan Ellard membuatnya begitu terharu sekaligus merasa kian bersalah


karna telah tega membohongi keberadaan janin yang dikandungnya dari lelaki


dihadapannya ini.


“El…”


isak Ara


“Sstttt…

__ADS_1


kenapa jadi nangis begini, hm?” Ellard menangkup wajah Ara seraya menyeka


lembut bulir bening tersebut


“El…


maaf… maaf…” Ara semakin terguguh


“Maaf


untuk apa? Kamu enggak buat kesalahan”


Ara


menggeleng lemah, “Maaf…”


Ellard


mengecup bergantian netra berair istrinya dengan penuh kelembutan, lalu


menyatukan kening keduanya.


“Ara,


dengar. Jangan pernah minta maaf untuk hal ini. Kamu sama sekali tidak


bersalah. Aku udah katakan sebelumnya, seandainya pun kita tidak memilikinya,


aku tidak masalah dengan itu. kita bisa mengadopsi anak. Ingat, sayang.. Anak itu


buah dari cinta, bukan alasan untuk cinta. Karna itu, ada atau tidak ada anak,


tidak akan pernah mengurangi rasa cintaku untukmu. Mengerti?” nada suara Ellard


turut serak ketika mengatakannya. Ia juga merasakan kesedihan yang sama seperti


yang dirasakan istrinya. Demi apapun, satu-satunya yang tidak ingin dilihatnya


adalah air mata kesedihan dari wanitanya ini.


Tak


kuasa menjawab, Ara memilih mengangguk dan menenggelamkan wajah di dada bidang


suaminya. Ellard mendekap tubuh Ara seerat mungkin dan menciumi puncak


kepalanya berkali-kali. Sungguh, wanita ini sangat berharga baginya.


****


Ara


membantu Ellard memasangkan dasi pada kerah kemejanya kemudian memakaikan jas. Ia


membantu Ellard bersiap dengan telaten. Hari ini adalah hari dimana Ara


melepaskan suaminya— membaginya dengan perempuan lain dengan alasan


kemanusiaan.


“Tampan


sekali suamiku ini” puji Ara dengan senyum mengembang di wajah cantiknya, setelah


membantu Ellard selesai memakai seluruh pakaian.


Ellard


tidak menanggapi pujian Ara. Ia hanya menatap Ara dengan tatapan yang sulit


diartikan. Ellard menangkup pipi Ara dengan kedua tangannya.


“Masih


ada waktu untuk membatalkan pernikahan bodoh ini. Hanya katakan… katakan kamu


menolaknya Ara. Katakan… maka aku akan—“


“Shuuu…


bukankah kita sudah sepakat?” potong Ara dengan telunjuk yang menempel di bibir


Ellard


“Ara…”


erang Ellard “tidak bisakah kamu bersikap egois sekali ini saja?”


Andai aku bisa El…


maka sudah sejak dulu aku melakukannya


Ara


tersenyum lembut. Ia menarik wajah Ellard untuk mendaratkan ciumannya di bibir


Ellard. Ciuman yang begitu dalam, mendayu dan lembut.


“Pergilah,


nanti aku akan menyusul” ujar Ara kemudian, setelah melepaskan ciuman mereka


berdua.


Ellard


menggeleng tegas. “Tidak, kita berangkat bersama”


Ara


menghela nafas lelah, “El, aku perlu bersiap-siap. Kamu tidak mungkinkan


membawaku kesana dengan pakaian rumahan begini” keluh Ara seraya menunjuk


dirinya sendiri


Ellard


tidak merespon, membuat Ara kembali memeluknya dan menepuk-nepuk pelan punggung


kokohnya. “Percayalah, semua akan baik-baik saja.” hibur Ara


Ellard


tidak menyahut, memilih membalas pelukan istrinya tak kalah erat.


Cukup


lama mereka berpelukan, hingga Ara yang memilih memutuskan pelukan mereka. “Pergilah,


El. semua sudah menunggumu disana”


“Aku


tunggu. Jika kamu tidak muncul, kupastikan pernikahan ini tidak akan terlaksana—


sampai kamu datang.” ancam Ellard tegas


Ara


hanya mengangguk dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Perlahan punggung


tegap itu mulai menjauh. Ara mencengkram kuat ujung bajunya dengan dada yang


berdentam nyeri luar biasa. Air matanya lolos begitu saja setelah sosok itu


tidak lagi terlihat. Ia hancur. Dan kehancuran itu disebabkan oleh rasa


kemanusiaannya terhadap orang lain. Hampir saja tubuhnya meluruh ke lantai jika


saja tangan seseorang tidak menahan tubuhnya. Ara mendongak…


“Kak


Leo…” lirih Ara nyaris tidak terdengar


“Jangan


menangis terlalu banyak, Ara” Leo menatapnya sendu dengan mata yang


berkaca-kaca. Tidak sanggup melihat kehancuran wanita yang sangat dicintainya


ini.


“Kak


Leo.. El—Ellard sudah pergi. Dia pergi kak…” isak Ara penuh kesakitan, tubuhnya


bergetar hebat. bahkan ia mencengkram kuat lengan Leo.


Leo


segera membawa tubuh rapuh Ara kedalam dekapannya. Memeluknya kuat ditengah


isakan Ara yang kian hebat. Dia menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua


perasaan yang berkecamuk di hatinya. Sejak tadi Leo sudah ada disana— berdiri


di balik tembok, menyaksikan suasana sedu sedan Ara dan Ellard. Tadi, gadis


kecilnya ini masih begitu kuat saat di depan Ellard, namun ketika lelaki itu


sudah pergi, topeng ketegaran yang sejak tadi terpasang seketika hancur.


Subuh


tadi Ara meneleponnya, mengambil tawaran Leo untuk membawanya pergi sejauh


mungkin dari Ellard. Ara memang meminta Ellard menikahi Clarissa, namun tetap


saja dia tidak sekuat itu untuk berada satu atap dan berbagi suami dengan


Clarissa. Ini terlalu menyakitkan untuknya. Ia tahu kalau dirinya terlalu


munafik untuk menampilkan dirinya baik-baik saja, nyatanya tidak.


Biarkan


dirinya yang mengalah dan pergi menjauh, bersama anak dalam kandungannya— buah


cintanya dengan Ellard.


“Bawa


aku pergi kak…”


To be continued


Info kapan Up aku share di IG: rianitasitumorangg ^^


Okee... silahkan komen dan curhat sebanyak2nya yahhh 😂✌ yakin dehhh... komennya pada marah2 🤣

__ADS_1


Kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrr


See youuuu 😘


__ADS_2