
Pintu
nyaris tertutup beberapa senti lagi, dan dengan cepat Ara segera menahannya
menggunakan kaki dan tangannya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya yang kian
menipis akibat berlarian menerobos kerumunan orang dan jalanan yang macet
panjang. Wajahnya begitu pias dan sekujur tubuh telah dibanjiri oleh keringat.
Ia masih merasakan kengerian yang hebat, bagaimana jantungnya seperti ditarik
paksa keluar dari tubuh ketika pesan terakhir dari Ellard dibacanya. Dipisahkan
dengan kedua buah hatinya, ia tidak bisa lagi mendefinisikan sakit seperti apa
yang kini tengah mengobrak-abrik hatinya. Wajahnya memerah, netranya sudah
basah oleh jejak air mata.
“Astaga..
nyonya…” Blake terkesiap, karna posisinya yang saat itu berada tepat didekat
pintu
“Dimana-anak-anakku?”
tanya Ara, tidak menghiraukan raut terkejut Blake. Ngos-ngosan— netranya
menyapu kesekeliling ruangan.
“Mama!!”
Nala yang lebih dulu menyadari keberadaannya dimuka pintu. Gadis kecil itu
berteriak senang dan langsung beranjak dari kursi— berlari menujuh Ara
Ara
merentangkan tangan dan langsung mendekap kuat tubuh putrinya. Ia menangis
sambil menciumi seluruh wajah Nala.
“Mama,
you come!!” ucap Nathan dengan mata berbinar, yang kini telah berada tepat
didepannya.
Ara
berjongkok dengan Nala yang masih dalam gendongannya. Dengan penuh kasih
sayang, ia membelai wajah putranya “Maaf sayang… Mama terlambat”
“It’s
ok, Mom..” balas Nathan seraya memeluk leher Ara
Sementara
tak jauh dari mereka, Ellard memandang dengan senyum tipis yang penuh
kemenangan. Tadinya ia sudah sangat terpukul dengan ketidakmunculan Ara, namun
siapa sangka didetik yang tak diduga-duga wanita itu muncul dengan kepanikannya
yang luar biasa.
Ellard
mendekat, berdiri dengan sebelah tangan yang terulur kehadapan Ara “So, I own you now?” ucap Ellard dengan nada rendah.
Ara
mendongak, merasa kesal melihat kilat kemenangan dimata Ellard. Mengabaikan
uluran tangan Ellard, ia segera berdiri dengan Nala yang masih menempel dalam
gendongannya.
“Ya,
kau memilikiku. Tapi tidak hatiku,” jawab Ara, dengan nada yang sama dan tanpa
ekspresi. Ia meraih tangan Nathan dan berlalu melewati Ellard begitu saja.
Ellard
terdiam. Jawaban singkat Ara sungguh sangat berhasil menyulutkan api kemarahan
yang sempat teredam. Wanita itu masih mengeraskan hati dengan sengajah
mengucapkan kalimat yang menyentil egonya.
****
Leo
menatap nanar siluet Jet yang kini telah terbang jauh. Pada akhirnya tetap ia
yang kalah. Aurora lebih memilih kembali pada lelaki yang menyakitinya. Tadinya
ia tidak mengijinkan Ara pergi, tapi melihat tangis menyedihkan Ara ketika
mendapat pesan ultimatum Ellard yang terakhir, ia menjadi tidak tega. Wanita
itu begitu menderita dipisahkan dengan kedua buah hatinya.
“Relakan
dia, Nak” ucap suster Anna, yang saat itu juga ikut mengantar Ara ke bandara
“Aku
sudah mencobanya suster. Tapi sedikit pun tidak pernah bisa” lirih Leo dengan
mata yang berkaca-kaca
“Coba
lagi, pasti kamu bisa” Suster Anna menepuk-nepuk pelan bahu Leo “saya yakin
kamu juga bisa melihat betapa sepasang suami istri itu masih saling mencintai.
Sekalipun Ara selalu menampik perasaannya. Terlebih sekarang ada anak yang
semakin membuat mereka sulit dipisahkan. Ara sangat menyayangi anak-anaknya,
begitupun Ellard yang tidak pernah mau melepas anak dan istrinya. Bahkan sudah
empat tahun mereka terpisah, tapi siapa sangka kini mereka dipertemukan kembali.
Tidakkah kamu berpikir kalau mereka adalah pasangan yang tidak pernah
diinginkan Tuhan berpisah?”
Leo
terdiam. Dia menunduk dengan tangan yang terkepal disisi. Jika memang Ara tidak
__ADS_1
ditakdirkan untuknya, kenapa sang pencipta juga tidak kunjung melenyapkan
perasaannya yang besar pada Ara? Bukankah ini sama sekali tidak adil untuknya?
Suster
Anna tersenyum lembut mendapati respon Leo yang hanya diam menunduk. Sekali
lagi ia mengusap bahu Leo dengan lembut.
“Percayalah,
diluar sana Tuhan sudah menyiapkan gadis yang jauh lebih baik dari Aurora
untukmu. Cepat atau lambat kamu pasti akan menemukannya. Semuanya hanya tentang
waktu, Nak”
Sebagai
jawaban Leo hanya tersenyum kecil, tidak mengeluarkan suara lagi. Tidak pernah
sama sekali terpikirkan olehnya membuka hati untuk perempuan lain lagi. cukup
hanya Aurora. Sementara untuk yang lainnya, ia sama sekali tidak yakin.
****
Miller’s Mansion –
9.15 pm || Manhattan
“Mau
sampai kapan kau akan berdiri disana?” suara Ellard terdengar penuh ancaman,
tetapi Aurora tidak peduli. Dia tetap kekeh berdiri diteras dengan Nala yang
tertidur dalam gendongannya. Sementara Nathan telah dibawa masuk lebih dulu ke
dalam rumah oleh Blake. Aurora menolak masuk sejak mobil Ellard membawanya
kemari— rumah yang ia tinggalkan dahulu empat tahun lalu sejak Clarissa masuk
kedalam rumah itu. Aurora sama sekali tidak sudi jika harus berada satu atap
kembali dengan istri Ellard yang lain.
Cuaca
udara diluar semakin dingin— salju sepertinya akan turun lagi.
Ellard
melewati pintu mansion, memasukkan kedua tangan ke saku celana— mengikis jarak
mereka. lalu tanpa aba-aba ia mengambil Nala yang sedang tertidur pulas dari
gendongan Ara. Ara hendak protes namun Ellard menatapnya tajam.
“Bu
Desi, tolong bawa putriku ke kamar yang sama tempat Nathan berada,” titahnya
dan segera dilakukan oleh wanita parubaya itu. dia mengambil alih Nala lalu
membawanya masuk, meninggalkan sepasang suami istri yang masih terlibat perang
dingin itu.
Ellard
menoleh, kembali menatap Aurora tajam. “Ara… masuklah,” geramnya rendah.
Aurora
Ara, membuat wanita itu menatapnya.
“Kau
lupa kesepakatan kita?”
“Aku
tahu, El!” sentak Ara, menghempaskan jemari Ellard. “tapi bukan berarti aku
akan tinggal disini. Kau bisa membawa kami tinggal ditempat lain, asalkan bukan
satu rumah dengan istrimu.”
“Ralat,
dari dulu Cuma kau yang menjadi istriku dan bahkan sampai selamanya,”
“Terserah
apa katamu. Kau tidak bisa memaksaku tinggal ditempat yang bukan tempatku.’
“Bukan
tempatmu?” Ellard tersenyum sinis, lalu mencekal pundaknya. “lalu dimana tempatmu?
Di pelukan lelaki itu?”
“Ellard!
Sudahlah… jangan membuat ini sulit!” pekik Ara kesal.
Mansion
ini memang dulu adalah tempatnya sebelum Clarissa datang dan menghancurkan
semuanya. Tapi sejak empat tahun lalu, tempat ini bukan lagi miliknya. Clarissa
lah yang telah menjadi nyonya dirumah ini. kembali berada ditempat yang sama,
itu sama saja hanya akan mengorek luka lamanya kembali.
“Aku
mohon, untuk yang satu ini jangan paksa aku tinggal disini. Biarkan kami berada
ditempat yang lain,” Ara menyatukan tangannya di depan dada, memohon dengan
mata yang berkaca-kaca
“Ara…”
Ellard berucap rendah. Jemarinya kembali meraih dagu Aurora, sementara
tangannya yang lain meraih pinggang Aurora, membawanya mendekat.
“Aku
membangun rumah ini khusus untukmu dan anak-anak kita. Hanya kau nyonya dirumah
ini. Oleh karena itu… kau tidak boleh tinggal dimana pun selain di istana yang telah
kubangun ini—“
“Persetan
__ADS_1
El!! itu dulu, jauh sebelum kau menodai pernikahan kita!” Ara berteriak dengan
wajah memerah. “Ini bukan tempatku lagi. Sampai mati pun aku tidak akan sudi
tinggal satu rumah dengan kalian!”
Ara
mendorong kuat tubuh Ellard hingga terlepas. Ia bersiap lari namun tangan
Ellard lebih cepat menahan pinggang Ara.
“Sepertinya
kau memang tidak bisa diajak bernegosiasi,” geram Ellard mengetatkan rahang.
“Lepaskan
aku, sialan!” rontah Ara sekuat tenaga
Ellard
terkekeh sinis, “In your dreams, honey”
bisik Ellard, tepat ditelinganya. Lalu dalam sekali hentakan, ia mengangkat
tubuh Ara— membopongnya bagai karung beras
“Elarrd!”
pekik Ara “Sialan, turunkan aku!” Ara merontah keras, menggerakkan kakinya
begitu bringas.
“Nanti.
Setelah aku memberi hukuman untuk istri pembangkang sepertimu” decih Ellard,
memasuki rumah begitu santai— rontaan Ara sama sekali tidak membuatnya kesulitan
untuk terus melangkah.
Ellard
menghempaskan Ara ditengah ranjang. Ia segera mengurung tubuh Ara ketika wanita
itu hendak kabur. Tanpa babibu, ia ******* bibir Ara tanpa ampun. Tidak peduli
dengan Ara yang terus berontak.
“Ellard,
sialan, lepaskan! Apa yang sedang kau lakukan?!” sentak Ara ketika tenaganya
tidak sebanding dengan Ellard
“Tentu
saja menghukummu, sayang” desis Ellard tersenyum miring bak iblis. Tangannya beralih
membuka gesper diikuti oleh suara ritsleting celananya yang membuat bulu kuduk
Ara seketika meremang.
Kembali
Ellard mendaratkan ciuman di tengkuk Ara. Walau tidak bisa diam, Ellard masih
bisa membuatnya tidak berkutik di tempat.
“Ellard!
Lepaskan!” Ara putus asa, saat Ellard dengan paksa melepaskan celana bahannya. Kakinya
terus menendang serampangan, berulangkali kepalanya membentur kepala ranjang.
“Ellard,
aku tidak mau. Kau bisa melakukannya dengan istrimu yang lain. Lepaskan!”
“Justru
hanya kau istriku, aku melakukannya” ucap Ellard dengan nada rendah. “karna
itu, biarkan aku masuk,” bisik Ellard, lalu menyatukan tubuh mereka— memenuhi
Aurora. “aku akan menguasaimu,” erang Ellard tertahan. Aurora menegang. Kepalanya
seketika pening ketika gelombang gairah itu mulai menguasai. Ia tidak lagi
bersuara kecuali yang terdengar hanya suara desahan ketika Ellard memacunya. Awalnya
pelan— lalu makin cepat. Aurora mengerang ketika Ellard dengan lihai kembali
menciumnya lebih keras. Ciuman Ellard membuatnya tenggelam, melumpuhkan dalam
arti sebenarnya.
Tubuh
Aurora menggelenyar— menerimanya. Ellard mendesak lebih keras, melempar Aurora
ke klimaksnya. Aurora menyerah, membiarkan Ellard menguasainya. Setelah semua
hal menyakitkan yang diberikan lelaki ini, tubuh Aurora kembali berkhianat—
masih saja tetap menerima sentuhannya. Sialan,
kenapa tubuhnya bisa semurahan ini!
Ruangan
itu begitu hening, tak ada lagi yang bersuara kecuali bunyi dari tubuh mereka
yang saling bergesekan. Kamar yang ia biarkan kosong selama empat tahun ini,
sejak Ara meninggalkannya, menjadi saksi bisu percintaan panas mereka. Saat
pelepasan sudah diujung, Ellard menekan sampai ke titik terjauh Ara, lalu
cairan bening itu disemburkan sepenuhnya di dalamnya.
Ara
sudah sangat lelah ketika Ellard menjatuhkan tubuh diatasnya. Ia sudah tidak
memiliki tenaga untuk mendorong jauh tubuh besar Ellard dari atasnya. Ellard
melakukan itu berkali-kali. Sepertinya nanti Ara harus meminum pil pencegah
kehamilan. Ia tidak ingin mengandung bayi dari lelaki ini lagi. Tidak, ketika
si kembar saja sudah berhasil kembali membuatnya bersatu dengan Ellard secepat
ini.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
See youuu
__ADS_1