Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Enam (Seri II)


__ADS_3

Pintu


nyaris tertutup beberapa senti lagi, dan dengan cepat Ara segera menahannya


menggunakan kaki dan tangannya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya yang kian


menipis akibat berlarian menerobos kerumunan orang dan jalanan yang macet


panjang. Wajahnya begitu pias dan sekujur tubuh telah dibanjiri oleh keringat.


Ia masih merasakan kengerian yang hebat, bagaimana jantungnya seperti ditarik


paksa keluar dari tubuh ketika pesan terakhir dari Ellard dibacanya. Dipisahkan


dengan kedua buah hatinya, ia tidak bisa lagi mendefinisikan sakit seperti apa


yang kini tengah mengobrak-abrik hatinya. Wajahnya memerah, netranya sudah


basah oleh jejak air mata.


“Astaga..


nyonya…” Blake terkesiap, karna posisinya yang saat itu berada tepat didekat


pintu


“Dimana-anak-anakku?”


tanya Ara, tidak menghiraukan raut terkejut Blake. Ngos-ngosan— netranya


menyapu kesekeliling ruangan.


“Mama!!”


Nala yang lebih dulu menyadari keberadaannya dimuka pintu. Gadis kecil itu


berteriak senang dan langsung beranjak dari kursi— berlari menujuh Ara


Ara


merentangkan tangan dan langsung mendekap kuat tubuh putrinya. Ia menangis


sambil menciumi seluruh wajah Nala.


“Mama,


you come!!” ucap Nathan dengan mata berbinar, yang kini telah berada tepat


didepannya.


Ara


berjongkok dengan Nala yang masih dalam gendongannya. Dengan penuh kasih


sayang, ia membelai wajah putranya “Maaf sayang… Mama terlambat”


“It’s


ok, Mom..” balas Nathan seraya memeluk leher Ara


Sementara


tak jauh dari mereka, Ellard memandang dengan senyum tipis yang penuh


kemenangan. Tadinya ia sudah sangat terpukul dengan ketidakmunculan Ara, namun


siapa sangka didetik yang tak diduga-duga wanita itu muncul dengan kepanikannya


yang luar biasa.


Ellard


mendekat, berdiri dengan sebelah tangan yang terulur kehadapan Ara “So, I own you now?”  ucap Ellard dengan nada rendah.


Ara


mendongak, merasa kesal melihat kilat kemenangan dimata Ellard. Mengabaikan


uluran tangan Ellard, ia segera berdiri dengan Nala yang masih menempel dalam


gendongannya.


“Ya,


kau memilikiku. Tapi tidak hatiku,” jawab Ara, dengan nada yang sama dan tanpa


ekspresi. Ia meraih tangan Nathan dan berlalu melewati Ellard begitu saja.


Ellard


terdiam. Jawaban singkat Ara sungguh sangat berhasil menyulutkan api kemarahan


yang sempat teredam. Wanita itu masih mengeraskan hati dengan sengajah


mengucapkan kalimat yang menyentil egonya.


****


Leo


menatap nanar siluet Jet yang kini telah terbang jauh. Pada akhirnya tetap ia


yang kalah. Aurora lebih memilih kembali pada lelaki yang menyakitinya. Tadinya


ia tidak mengijinkan Ara pergi, tapi melihat tangis menyedihkan Ara ketika


mendapat pesan ultimatum Ellard yang terakhir, ia menjadi tidak tega. Wanita


itu begitu menderita dipisahkan dengan kedua buah hatinya.


“Relakan


dia, Nak” ucap suster Anna, yang saat itu juga ikut mengantar Ara ke bandara


“Aku


sudah mencobanya suster. Tapi sedikit pun tidak pernah bisa” lirih Leo dengan


mata yang berkaca-kaca


“Coba


lagi, pasti kamu bisa” Suster Anna menepuk-nepuk pelan bahu Leo “saya yakin


kamu juga bisa melihat betapa sepasang suami istri itu masih saling mencintai.


Sekalipun Ara selalu menampik perasaannya. Terlebih sekarang ada anak yang


semakin membuat mereka sulit dipisahkan. Ara sangat menyayangi anak-anaknya,


begitupun Ellard yang tidak pernah mau melepas anak dan istrinya. Bahkan sudah


empat tahun mereka terpisah, tapi siapa sangka kini mereka dipertemukan kembali.


Tidakkah kamu berpikir kalau mereka adalah pasangan yang tidak pernah


diinginkan Tuhan berpisah?”


Leo


terdiam. Dia menunduk dengan tangan yang terkepal disisi. Jika memang Ara tidak

__ADS_1


ditakdirkan untuknya, kenapa sang pencipta juga tidak kunjung melenyapkan


perasaannya yang besar pada Ara? Bukankah ini sama sekali tidak adil untuknya?


Suster


Anna tersenyum lembut mendapati respon Leo yang hanya diam menunduk. Sekali


lagi ia mengusap bahu Leo dengan lembut.


“Percayalah,


diluar sana Tuhan sudah menyiapkan gadis yang jauh lebih baik dari Aurora


untukmu. Cepat atau lambat kamu pasti akan menemukannya. Semuanya hanya tentang


waktu, Nak”


Sebagai


jawaban Leo hanya tersenyum kecil, tidak mengeluarkan suara lagi. Tidak pernah


sama sekali terpikirkan olehnya membuka hati untuk perempuan lain lagi. cukup


hanya Aurora. Sementara untuk yang lainnya, ia sama sekali tidak yakin.


****


Miller’s Mansion –


9.15 pm || Manhattan


“Mau


sampai kapan kau akan berdiri disana?” suara Ellard terdengar penuh ancaman,


tetapi Aurora tidak peduli. Dia tetap kekeh berdiri diteras dengan Nala yang


tertidur dalam gendongannya. Sementara Nathan telah dibawa masuk lebih dulu ke


dalam rumah oleh Blake. Aurora menolak masuk sejak mobil Ellard membawanya


kemari— rumah yang ia tinggalkan dahulu empat tahun lalu sejak Clarissa masuk


kedalam rumah itu. Aurora sama sekali tidak sudi jika harus berada satu atap


kembali dengan istri Ellard yang lain.


Cuaca


udara diluar semakin dingin— salju sepertinya akan turun lagi.


Ellard


melewati pintu mansion, memasukkan kedua tangan ke saku celana— mengikis jarak


mereka. lalu tanpa aba-aba ia mengambil Nala yang sedang tertidur pulas dari


gendongan Ara. Ara hendak protes namun Ellard menatapnya tajam.


“Bu


Desi, tolong bawa putriku ke kamar yang sama tempat Nathan berada,” titahnya


dan segera dilakukan oleh wanita parubaya itu. dia mengambil alih Nala lalu


membawanya masuk, meninggalkan sepasang suami istri yang masih terlibat perang


dingin itu.


Ellard


menoleh, kembali menatap Aurora tajam. “Ara… masuklah,” geramnya rendah.


Aurora


Ara, membuat wanita itu menatapnya.


“Kau


lupa kesepakatan kita?”


“Aku


tahu, El!” sentak Ara, menghempaskan jemari Ellard. “tapi bukan berarti aku


akan tinggal disini. Kau bisa membawa kami tinggal ditempat lain, asalkan bukan


satu rumah dengan istrimu.”


“Ralat,


dari dulu Cuma kau yang menjadi istriku dan bahkan sampai selamanya,”


“Terserah


apa katamu. Kau tidak bisa memaksaku tinggal ditempat yang bukan tempatku.’


“Bukan


tempatmu?” Ellard tersenyum sinis, lalu mencekal pundaknya. “lalu dimana tempatmu?


Di pelukan lelaki itu?”


“Ellard!


Sudahlah… jangan membuat ini sulit!” pekik Ara kesal.


Mansion


ini memang dulu adalah tempatnya sebelum Clarissa datang dan menghancurkan


semuanya. Tapi sejak empat tahun lalu, tempat ini bukan lagi miliknya. Clarissa


lah yang telah menjadi nyonya dirumah ini. kembali berada ditempat yang sama,


itu sama saja hanya akan mengorek luka lamanya kembali.


“Aku


mohon, untuk yang satu ini jangan paksa aku tinggal disini. Biarkan kami berada


ditempat yang lain,” Ara menyatukan tangannya di depan dada, memohon dengan


mata yang berkaca-kaca


“Ara…”


Ellard berucap rendah. Jemarinya kembali meraih dagu Aurora, sementara


tangannya yang lain meraih pinggang Aurora, membawanya mendekat.


“Aku


membangun rumah ini khusus untukmu dan anak-anak kita. Hanya kau nyonya dirumah


ini. Oleh karena itu… kau tidak boleh tinggal dimana pun selain di istana yang telah


kubangun ini—“


“Persetan

__ADS_1


El!! itu dulu, jauh sebelum kau menodai pernikahan kita!” Ara berteriak dengan


wajah memerah. “Ini bukan tempatku lagi. Sampai mati pun aku tidak akan sudi


tinggal satu rumah dengan kalian!”


Ara


mendorong kuat tubuh Ellard hingga terlepas. Ia bersiap lari namun tangan


Ellard lebih cepat menahan pinggang Ara.


“Sepertinya


kau memang tidak bisa diajak bernegosiasi,” geram Ellard mengetatkan rahang.


“Lepaskan


aku, sialan!” rontah Ara sekuat tenaga


Ellard


terkekeh sinis, “In your dreams, honey”


bisik Ellard, tepat ditelinganya. Lalu dalam sekali hentakan, ia mengangkat


tubuh Ara— membopongnya bagai karung beras


“Elarrd!”


pekik Ara “Sialan, turunkan aku!” Ara merontah keras, menggerakkan kakinya


begitu bringas.


“Nanti.


Setelah aku memberi hukuman untuk istri pembangkang sepertimu” decih Ellard,


memasuki rumah begitu santai— rontaan Ara sama sekali tidak membuatnya kesulitan


untuk terus melangkah.


Ellard


menghempaskan Ara ditengah ranjang. Ia segera mengurung tubuh Ara ketika wanita


itu hendak kabur. Tanpa babibu, ia ******* bibir Ara tanpa ampun. Tidak peduli


dengan Ara yang terus berontak.


“Ellard,


sialan, lepaskan! Apa yang sedang kau lakukan?!” sentak Ara ketika tenaganya


tidak sebanding dengan Ellard


“Tentu


saja menghukummu, sayang” desis Ellard tersenyum miring bak iblis. Tangannya beralih


membuka gesper diikuti oleh suara ritsleting celananya yang membuat bulu kuduk


Ara seketika meremang.


Kembali


Ellard mendaratkan ciuman di tengkuk Ara. Walau tidak bisa diam, Ellard masih


bisa membuatnya tidak berkutik di tempat.


“Ellard!


Lepaskan!” Ara putus asa, saat Ellard dengan paksa melepaskan celana bahannya. Kakinya


terus menendang serampangan, berulangkali kepalanya membentur kepala ranjang.


“Ellard,


aku tidak mau. Kau bisa melakukannya dengan istrimu yang lain. Lepaskan!”


“Justru


hanya kau istriku, aku melakukannya” ucap Ellard dengan nada rendah. “karna


itu, biarkan aku masuk,” bisik Ellard, lalu menyatukan tubuh mereka— memenuhi


Aurora. “aku akan menguasaimu,” erang Ellard tertahan. Aurora menegang. Kepalanya


seketika pening ketika gelombang gairah itu mulai menguasai. Ia tidak lagi


bersuara kecuali yang terdengar hanya suara desahan ketika Ellard memacunya. Awalnya


pelan— lalu makin cepat. Aurora mengerang ketika Ellard dengan lihai kembali


menciumnya lebih keras. Ciuman Ellard membuatnya tenggelam, melumpuhkan dalam


arti sebenarnya.


Tubuh


Aurora menggelenyar— menerimanya. Ellard mendesak lebih keras, melempar Aurora


ke klimaksnya. Aurora menyerah, membiarkan Ellard menguasainya. Setelah semua


hal menyakitkan yang diberikan lelaki ini, tubuh Aurora kembali berkhianat—


masih saja tetap menerima sentuhannya.  Sialan,


kenapa tubuhnya bisa semurahan ini!


Ruangan


itu begitu hening, tak ada lagi yang bersuara kecuali bunyi dari tubuh mereka


yang saling bergesekan. Kamar yang ia biarkan kosong selama empat tahun ini,


sejak Ara meninggalkannya, menjadi saksi bisu percintaan panas mereka. Saat


pelepasan sudah diujung, Ellard menekan sampai ke titik terjauh Ara, lalu


cairan bening itu disemburkan sepenuhnya di dalamnya.


Ara


sudah sangat lelah ketika Ellard menjatuhkan tubuh diatasnya. Ia sudah tidak


memiliki tenaga untuk mendorong jauh tubuh besar Ellard dari atasnya. Ellard


melakukan itu berkali-kali. Sepertinya nanti Ara harus meminum pil pencegah


kehamilan. Ia tidak ingin mengandung bayi dari lelaki ini lagi. Tidak, ketika


si kembar saja sudah berhasil kembali membuatnya bersatu dengan Ellard secepat


ini.


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


See youuu

__ADS_1



__ADS_2