
"Kenapa oma bersikap acuh pada istriku?" tanya Ellard tanpa berbasa basi
Pagi ini ia bergegas pulang ke rumah orangtuanya seusai mengantar Ara lebih dahulu ke perusahaan. Gadis itu tidak tahu kedatangannya kerumah ini. Hatinya masih kesal dengan sikap omanya yang begitu terang-terangan tidak menganggap kehadiran istrinya. Sepanjang makan semalam Ara diacuhkan seperti tak kasat mata. Memang gadis itu memasang wajah tampak biasa, tidak merasa terganggu dan terus menekuni makannya. Tapi Ellard tahu istrinya itu pasti terluka. Sementara didepan mereka Oma asik bercengkrama dengan clarissa, membuat dirinya semakin geram.
"Karna oma tidak suka," sahut oma teramat santai sambil meneguk teh hijaunya
"Kenapa?"
"Dia tidak sesuai denganmu," Oma menatap lekat Ellard "Kau cucu yang oma bangga-banggakan. Dalam segala hal kau sempurna. Dan sudah sepatutnya bersanding dengan gadis yang sempurna juga. Sementara gadis itu-" oma menjeda
Sorot mata Ellard menatap dingin. Rahangnya mengetat namun dia tetap diam, menunggu oma menyelesaikan penilaiannya.
"Dia sama sekali tidak cocok. Mulai dari bentuk tubuh, dia gendut. Tidak tahu cara berpenampilan elegan seperti istri para pengusaha lainnya. Bahkan dia masih kuliah dan prestasinya biasa-biasa saja. Skill, dia tidak memiliki kemampuan yang bisa menunjang layak berdiri disampingmu, lalu jika kau membawanya ke salah satu pertemuan kolega bisnismu, apa yang bisa kau banggakan di depan mereka? nyaris tidak ada Ellard. Sekilas oma juga bisa melihat sikapnya yang masih gagap ketika berhadapan dengan orang-orang besar lainnya. Bagi oma Clarissa lebih pantas menjadi istrimu" cecar oma
Ellard diam sejenak. Menundukkan wajahnya yang mulai memerah. Buku-buku jarinya memutih. Percayalah emosinya sudah diubun-ubun saat mendengar semua penilaian mencemooh oma terhadap istrinya. Astaga, jika saja yang mengatakan semua kalimat itu bukan omanya sendiri, dia pasti sudah sejak tadi menghancurkan orang itu.
"Sudah oma?" tanyanya rendah setelah berhasil menahan gejolak emosinya
Oma tidak menjawab melainkan mengangkat dagu memandang cucunya.
"Dengar oma, aku tidak peduli dengan itu semua. Persetan dengan penilaian orang-orang! Aurora adalah istriku. Gadis yang kupilih sejak awal. Aku menikahinya tidak untuk dipamerkan ke orang-orang dan dia tidak perlu sempurna. Dia hanya perlu tetap disisiku, menjadi ibu dari anak-anakku sampai kematian yang memisahkan kami. Jangan pernah membandingkannya dengan wanita manapun termasuk Clarissa. Karna aku mencintainya oma..." diakhir kalimat suara Ellard mengecil. Kecewa dengan sang oma yang selama ini sangat dihormatinya.
"Sampai kapanpun Oma tidak menganggap dia menjadi cucu menantu dikeluarga ini. Dia sama sekali tidak pantas Ellard!" berang Oma, suaranya meninggi dan tatapannya tak kalah menyorot tajam
Ellard bangkit dari duduknya
"Terserah apa kata oma. Bagiku selamanya dia akan tetap menyandang status nyonya Miller dikeluarga kita. Aku pamit oma," putus Ellard segera melangkah keluar, tidak ingin emosinya semakin tersulut dan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"ELLARD O'NEILL MILLER! BERHENTI, OMA BELUM SELESAI!!" gelegar oma. Pundaknya naik turun.
Ellard menulikan pendengarannya, dia terus berjalan keluar tanpa menoleh kebelakang sedikit pun. Bahkan ketika berpapasan dengan ayahnya, dia tetap melangkah dengan rahang mengeras hingga membuat Holland menatapnya bingung. Tidak biasanya putranya itu menampilkan ekspresi sekeras itu.
"Ada apa ini ma?" tanya Holland to the point. Pria parubaya itu baru kembali dari perjalanan bisnisnya
Oma memegang dadanya yang sempat berdenyut sakit, dia memiliki riwayat penyakit jantung. Mengatur nafasnya perlahan hingga berangsur tenang. Oma kembali mendudukkan dirinya.
"Mama bilang tidak menyukai istrinya dan tidak akan pernah menganggapnya sebagai cucu menantu di keluarga kita," aku oma
"apa mama sudah mulai tidak waras lagi?" sarkas Holland terlihat tenang. Dia mendudukkan dirinya disofa, melongarkan simpul dasinya.
"Kau bilang apa? Mama tidak waras?" delik Oma menatap tajam
"Hm,"
"Berani-beraninya ka-"
"Itu kenyataannya ma," potong Holland "Dulu terhadap mamanya El mama juga mengatakan demikian,"
Oma terdiam. Putranya mengungkit masa lalu yang dulu pernah diperbuatnya.
"Ingat ma, El sama sekali tidak mengetahui ini. Dan aku tidak tahu bagaimana kecewanya anak itu ketika tahu kalau Oma yang sangat dihormatinya selama ini pernah menghina mamanya dan membuat orangtuanya berpisah dalam waktu yang cukup lama hanya karna ketidaksukaan oma," Holand berucap rendah namun sarat intimidasi.
Oma menegang, wajahnya kian memucat.
"Mungkin kalau Carina masih hidup, dia akan melindungi menantunya dan menentang mama mati-matian. Karna dia pun pernah berada dalam posisi demikian," Holland bangkit berdiri
"Make it simple ma, jangan ulangi kesalahan yang sama. Cukup hanya aku dan Carina yang pernah merasakannya, tidak dengan putra dan menantuku. Dan kalau mama berencana merusak hubungan mereka-" Holland menjeda, menunduk dan mengecup singkat kening sang mama lembut lalu berucap rendah "maka aku tidak akan tinggal diam,"
Holland tersenyum simpul lalu beranjak dari sana. Namun sebelum langkahnya semakin jauh ia berhenti.
"Oya, mengenai Clarissa- berhentilah menjadikannya kandidat sebagai pengganti menantuku ma. Putraku tidak pernah menaruh rasa sedikit pun pada gadis itu selain sahabat," peringat Holland dibalik bahu kemudian meneruskan langkahnya yang tertunda.
****
Ellard sampai dikantor masih dengan amarah yang belum sepenuhnya redah. Bahkan sepanjang dia melangkah menujuh ruangan miliknya, aura dinginnya terlihat jelas. Sapaan para karyawan tak satu pun dijawab, dia terus melangkah dengan arogannya hingga membuat para karyawan disana menatap bos besar mereka sedikit takut. Selama ini Ellard tidak pernah bersikap sedingin demikian. Pembawaan pria itu selalu hangat dan sangat ramah terhadap semua karyawannya. Namun tidak demikian hari ini.
Ellard memasuki ruangannya, menghempaskan bokong di kursi kebesarannya dengan kasar. Melonggarkan dasinya yang terasa mencekik dengan asal. Nafasnya menderu kasar. Mood-nya sedang tidak terlalu baik gara-gara ucapan sang oma. Ia tidak menyangka kalau omanya sangat tidak menyukai Ara. Bahkan memberikan penilaian yang begitu rendah. Hatinya turut sakit mendengarnya. Dia pikir oma akan menerima istrinya dengan sukarela, memeluk hangat gadis itu dan menyanyangi Ara seperti dirinya.
Ting
Suara itu berasal dari ponselnya yang ada disaku celana. Ellard mengambil ponselnya. Sedetik kemudian senyumnya tersungging melihat pop up di layar menunjukkan pesan dari Ara, segera ia membukanya.
My Panda❤
Dimana?
Aku tadi datang keruanganmu antar dokumen buat tanda tangan tapi kau gak ada. Jadi aku bawa balik.
Ellard mengetikkan balasan tanpa menyurutkan senyumnya.
Tadi ada urusan keluar bentar sayang. Yaudah bawa kemari sekarang dokumennya. Aku uda diruangan.
__ADS_1
Ellard menutup obrolan setelah beberapa saat menunggu tak kunjung ada balasan dari Ara. Mungkin gadis itu lagi sibuk.
Ajaib. Mendapat sepenggal pesan dari Ara, membuat moodnya sedikit membaik. Ellard menghembuskan nafas pelan sebelum kembali memeriksa bebarapa dokumen di atas mejanya.
"Kau baru datang?"
Ellard mendongak menatap si pemilik suara.
"Iya. Apa ada masalah selama aku pergi?"
"Tidak juga. Hanya saja tadi sempat sedikit terkendala karna Mr. Rosandik tidak mau tanda tangan kontrak mengenai peluncuran teknologi baru di Swiss karna kau tidak turut hadir dalam pertemuan tadi. Tapi aku dan blake berhasil meyakinkan beliau,"
"kerja bagus. Aku yakin kalian berdua bisa menangani hal kecil seperti itu," Ellard tersenyum puas
"Oya, mengenai semalam- aku minta maaf. Aku jadi tidak enak, karna kehadiranku disana membuat suasana makan malam kalian menjadi kacau," lirih Clarissa
"Sudahlah, itu bukan kesalahanmu. Mungkin oma perlu sedikit waktu lagi untuk bisa menerima kehadiran Ara,"
"Tapi tetap saja karna ak-"
"Cla, enough. Aku tidak ingin membahasnya lagi," sela Ellard tak suka. Moodnya yang sempat membaik kembali buruk ketika pembahasan itu diungkit lagi. Ellard kembali semakin melonggarkan dasinya yang sudah tidak rapih lagi. Membuka dua kancing teratas kemejanya.
Clarissa menatap lekat penampilan pria dihadapannya yang sudah sedikit berantakan. Dasi itu sudah tidak pada tempatnya lagi.
"El-"
"hm"
"Setengah jam lagi kita ada rapat diluar,"
"Aku tahu,"
"Sebaiknya kau segera merapikan penampilanmu. Pakai lagi dengan benar dasimu,"
"nanti saja," Ellard acuh. Tangannya asik menilik isi chat-nya dengan Ara, namun istrinya itu sama sekali belum membalas pesannya.
Clarissa mendengkus. Lalu dengan santainya dia berjalan mengitari meja Ellard dan tanpa aba-aba tangannya bergerak menarik dasi lelaki itu kemudian memasangkannya dengan benar.
"Cla- apa yang kau lakukan?" Ellard memekik, melebarkan matanya melihat sikap spontanitas gadis itu. posisi mereka begitu intim, dengan Ellard yang masih duduk dan Clarissa yang membungkukkan tubuh semakin dekat agar leluasa mengikat dasi itu. wajah mereka hanya berjarak 5cm.
"Diamlah, jangan bergerak-tidak perlu memasang ekspresi berlebihan begitu. Ini bukan pertama kalinya aku memasang dasimu," ujar Clarissa santai
"Iya tapi tidak setelah aku sudah menikah. Orang yang melihat akan salah paham-" geram Ellard
PRAKKK
Bunyi dentuman dokumen yang terjatuh itu menghentikan ucapan Clarissa. Keduanya langsung menoleh ke sumber suara. Disana, tepatnya dipintu ruangannya- Ellard menemukan Ara yang tengah berdiri kaku menatap mereka berdua.
"Ah, maaf aku masuk begitu saja. Tidak tahu kalau kalian sedang sibuk,"
Ara segera membungkuk, mengambil dokumennya yang terjatuh. Tangannya benar-benar gemetar, dan berusaha sesekali ia kepalkan untuk menyamarkan. Sial, kenapa dia selalu mendapatkan pemandangan seperti ini.
Ellard terhenyak. Dengan cepat ia mendorong tubuh Clarissa menjauh darinya. Tanpa mempedulikan Clarissa yang hampir terjungkal ke lantai, dia bergegas menghampiri Ara yang hendak pergi dari sana dan dengan cepat tangan gadis itu berhasil ditangkapnya.
"Sa-sayang ini tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa jelaskan," Ellard panik, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak ingin Ara salah paham.
"Iya Ra, kamu jangan berpikiran negative ya. Tadi aku cuma benerin dasi El yang berantakan," sambung Clarissa.
Ara menatap Ellard dan Clarissa bergantian. Wajah suaminya terlihat jelas panik, namun tidak dengan Clarissa yang justru terlihat begitu santai.
Ara tersenyum, mengibaskan tangan seolah bukan hal besar.
"It's okay. Santai aja. Aku juga yang salah, masuk begitu saja. Aku pikir bapak sedang sendiri tadi," Ara berucap formal
Ellard diam. Benar-benar diam saat mendengar Ara mengatakannya begitu enteng. Ia pikir istrinya itu akan salah paham dan marah besar padanya. Bukankah seorang istri akan marah saat melihat wanita lain memasangkan dasi untuk suaminya didepan mata? Tapi lihatlah istrinya itu justru bisa tersenyum santai. Tidakkah Ara merasakan sedikit saja rasa cemburu?
Ara melepaskan tangannya dari genggaman erat Ellard. Sekali lagi ia dipaksa untuk berpura-pura walau rasanya ingin memaki saja. Ia tidak bisa.
"Oya, ini dokumen yang harus bapak tanda tangani," Ara menyerahkan dokumen itu ketangan Ellard yang masih menatapnya lekat. "Kalau begitu saya permisi dulu,"
"Ara, kita perlu bicara-"
"Nanti saja pak. Saya lagi banyak pekerjaan. Permisi," senyum Ara, menunduk hormat sebelum berjalan keluar
Ara terus melangkah jauh. Senyum yang sejak tadi dipasangnya seketika menghilang digantikan tatapan kosong. Dia tidak kembali keruangannya melainkan menekan lift menujuh rooftop. Dan tiba disana ia lunglai, benar-benar gemetaran . Ia mengambil tempat yang memungkinkan orang lain tidak bisa melihat kerapuhannya saat ini. Ia merosotkan diri ke lantai sambil menekuk lutut. Air matanya kini mulai mengalir deras tanpa malu. Dadanya yang sedari tadi seakan tengah dicengkram, rasanya terasa semakin ngiluh. Ara menutup mulutnya lalu menangis sejadi-jadinya dalam bekapan tangannya.
Ara adalah gadis munafik
Ia bersikap biasa didepan mereka padahal keduanya telah memberi luka. Luka penolakan oma semalam saja belum terobati kini ditambah lagi perlakuan intim Ellard dan Clarissa didepan matanya. Ia memang belum dapat memastikan bagaimana perasaanya yang sebenarnya pada Ellard, tapi setidaknya lelaki itu adalah suaminya. miliknya. Hati istri mana yang tidak sakit melihat suaminya, membiarkan wanita lain menyentuh tubuhnya sebebas itu tanpa perlawanan.
****
__ADS_1
Richard
Ra, jangan lupa malam ini datang ke pesta ulang tahunku. Pokoknya tidak terima penolakan!
Ara membaca kembali pesan yang dikirim sore tadi. Lelaki itu akan merayakan ulang tahunnya di sebuah Café . Ara menghela nafas. Dia sama sekali tidak ada mood untuk pergi. Namun Richard bersikeras menyuruhnya untuk datang. Dan mengancam pesta itu tidak akan dimulai sebelum dirinya muncul disana. Keduanya memang sudah sangat dekat. Richard adalah tipe pria yang mudah bergaul dan hangat. Richard sering membantunya apabila ia mendapatkan pekerjaan berat. Seperti mengangkat dokumen-dokumen berat. Emma, gadis itu seakan sengaja memberikan pekerjaan yang seharusnya bukan bagiannya. Namun sekalipun kesal, Ara tetap mengerjakannya dan tidak melaporkan perbuatan seniornya yang diluar batas itu.
Ara masih menimang ajakan Richard sebelum kemudian ponselnya berbunyi menampilkan notifikasi pesan dari Ellard. Ara membukanya.
Mr. Bossy
Sayang, malam ini aku terlambat lagi pulang. Ada dinner diluar dengan kolegaku. Makan yang banyak dan jangan tidur terlalu larut.
Ara tidak heran lagi mendapat pesan dari suaminya yang memberitahukan bahwa dia akan pulang terlambat. Hal itu sudah dianggap biasa baginya. Sebulan sejak kejadian dia menangkap basah Ellard dan Clarissa, hubungan keduanya sedikit dingin. Ellard yang sering pulang larut dan dirinya terus memasang topeng acuh. Padahal sebenarnya Ara merindukan Ellard. Sikap manis dan kekonyolan pria itu. Namun sepertinya rasa rindu itu hanya dirasakannya sepihak. Tidak dengan Ellard. Bahkan sekarang tempatnya seakan tergantikan sepenuhnya oleh Clarissa. Keduanya sering bepergian dan muncul bersama di depan publik. Dan tidak sedikit publik menyimpulkan bahwa Ellard dan Clarissa adalah sepasang kekasih yang sangat serasi.
Ara ingin marah dengan pemberitaan itu, tapi disatu sisi dia tidak bisa. Ellard sama sekali tidak membenarkan ataupun menyalahkan berita itu. Pria itu terus diam. Seolah tidak terusik. Tapi Ellard tidak salah. Salahkan saja dirinya yang selalu memaksa Ellard untuk menyembunyikan status hubungan mereka dari public.
Ara memejamkan mata berusaha menetralkan perasaannya yang kacau. Sudahlah, daripada dia hanya berdiam diri dirumah dan terus memikirkan nasib pernikahannya, lebih baik ia menghadiri ulang tahun Richard. Lelaki itu pasti sedang menunggunya.
****
Pada akhirnya disinilah dirinya berakhir. Berdiri tak jauh dari Richard yang tengah menerima ucapan selamat ulang tahun daripada teman-teman kantornya yang lain. Suasana kafe tempat ulang tahun itu diselenggarakan agak remang diiringi suara band yang tengah memainkan music dipanggung . Ara mendekat setelah tidak ada lagi yang memberikan ucapan selamat.
"Happy birthday Richard," Ara mengulurkan tangannya yang disambut langsung oleh Richard
Ara melotot. Richard membawanya kedalam pelukannya.
"Terimakasih Ra. Akhirnya kau datang juga," Richard berucap senang
"Kalau enggak datang nanti ada orang yang katanya gak mau mulai pestanya," cibir Ara.
Ricahard tertawa lepas. "Rencananya. tapi untungnya kau berhasil datang," Richard melepas pelukannya, mengacak gemas rambut Ara
"Ck, dasar-" decih Ara namun bibirnya tersenyum
"Heh, ada Pak Ellard dan Clarissa juga disini," pekik antusias salah seorang wanita.
"Mana? Dimana?"
"Itu disana bego-"
"Gila itu beneran mereka. Gak dimana-mana mereka berdua selalu sama. Tapi perfect banget mereka,"
Ara mengalihkan tatapannya memandang sosok yang sedang dibicarakan itu. Benar saja, disana ada Ellard yang tengah berjabat tangan dengan salah seorang pria yang tampak seusianya, yang Ara yakini adalah rekan bisnis yang malam ini makan malam bersama mereka. Sementara disisi Ellard ada Clarissa yang tampak anggun dengan busananya yang elegan. Sepertinya acara dinner mereka telah selesai karna setelah itu, pria tersebut langsung pergi.
Ara menatap piluh kedua pasangan sempurna itu. Ia berusaha bersikap biasa seakan tidak terpengaruh. Padahal di dalam hati siapa yang tahu?
Sesaat kemudian tanpa sengajah pandangannya bertemu tatap dengan iris Ellard. Dari jarak beberapa meter, Ara bisa melihat Lelaki itu menatap tajam kearahnya. Disusul dengan Clarissa yang turut memandang kearahnya. Gadis itu tampak terkejut melihat kehadiran dirinya ditempat ini. Ada apa ini? Kenapa kesannya jadi ia yang tertangkap basah sedang selingkuh dengan lelaki lain-
Sial!
Sekarang Ellard berjalan mendekat ke tempat dirinya berada. Ara menegang. Tatapan itu menyorot tajam tepat kearahnya. Semakin dekat Ara bisa melihat rahang Ellard yang mengeras. Refleks, Ara bergerak mundur hingga membentur dada Richard, saat jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa langkah saja. Namun tak berlangsung lama karna dengan cepat Ellard menarik tangan Ara hingga terperosok kedalam dekapannya.
"Arghhh" ringis Ara ketika hidung mancungnya membentur dada keras Ellard
"Pulang" pelan, suara Ellard malah terdengar mengerikan.
"Tap--"
Tanpa menunggu ucapan istrinya selesai, Ellard langsung menariknya keluar hingga membuat langkah Ara terseok, berusaha mengimbangi.
"Ara!" panggil Richard, dengan cepat menarik sebelah tangan Ara yang bebas. Kini kedua tangannya sama-sama ditarik oleh kedua pria itu.
Langkah Ellard terhenti. Ia menatap berang tangan Richard yang menyentuh istrinya.
"Lepaskan," ucapnya rendah namun giginya sudah menggeletuk geram
"Bukan saya- tapi bapak yang harus melepaskan. Ini acara saya tapi Bapak malah membuat kekacauan. Bapak memang bos ditempat kami bekerja, tapi tidak seharusnya bapak memperlakukan karyawan begini. Bahkan ini sama sekali bukan di jam kerja. Sikap anda sama sekali tidak pantas," ucap Richard tak kalah tajam.
"Siapa yang kau sebut tidak pantas?" Ellard mengangkat sebelah alisnya, " DIA ISTRIKU SIALAN!" gelegarnya murka
Hening. Suara Ellard yang menggelegar sontak langsung membuat keadaan disana mendadak menjadi sunyi senyap. Tidak ada yang bersuara. Bahkan Richard sampai melepaskan pegangannya pada tangan Ara karna terkejut dengan ucapan lantang bosnya. Ellard yang terkenal sangat berwibawa dan hangat, siapa sangka bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan ketika istrinya disentuh oleh pria lain. Tidak ada yang menyangkah kalau gadis gendut yang berada ditengah-tengah kedua lelaki tampan itu adalah istri dari pemilik Miller IE Corp. Selama ini mereka berpikir bahwa yang menjadi kekasih bos besar mereka itu adalah Clarissa sang sekretaris, dan public juga mengetahuinya.
Ellard tidak mempedulikan ekspresi terkejut orang-orang yang ada di dalam kafe tersebut. Dengan ringan dia kembali membawa istrinya pergi menjauh dari sana. Sementara Clarissa mengepalkan tangan ditempatnya. Tidak menyangka Ellard akan mengatakan selantang itu status mereka. Padahal sebelumnya dia sudah berhasil membuat hubungan suami istri itu sempat merenggang.
To be continued
Haii semuaa, sekedar mengingatkan kalo kedepannya cerita ini akan agak sedikit mendrama. So, bagi yang setia baca banyak2lah tarik nafass... 🤭✌
Then, kalo kalian pengen cerita ini cepat2 di update, kasih dong vote, like dan komen yg banyak2 yahh... biar semangat akunya. hehehe 😅 See you next chapter ^^
Ciee.. Singa tidurnya si abang akhirnya bangun waktu liat Ara-nya sama laki2 lain 🤭
__ADS_1