
“Apa?? tiga bulan??” teriak Ellard tanpa sadar, ia
menggebrak meja
“Si sialan ini! Pelankan suaramu. Bayiku baru saja tidur”
sentak suara di sebrang sana
Ellard menghembuskan nafas kasar. Ia kembali menatap pada
panggilan video di laptopnya
“Ayolah Bella, enggak sampe tiga bulan juga kali. Aku enggak
bisa,”
“Itu sudah waktu yang tercepat. Tapi kalau kamu gak terima,
ya sudah. It doesn’t matter for me” Bella mengedikkan bahu santai
“Kami baru menikah, masa harus pisah dalam waktu selama itu.
aku enggak tahan ditinggal selama itu”
“Kamu yang gak tahan
atau adik kecilmu itu yang gak bisa jauh-jauh dari rumah barunya?” godah Bella menaik turunkan alisnya
“Ck, memang apa bedanya” decihnya malas. Teman perempuannya
yang satu ini memang selalu berucap frontal.
Bella terbahak keras. “Tidak ada cara lain. Aku memiliki
bayi yang tidak bisa kutinggal. Dan kalau kamu tetap menginginkan aku yang
melatih istrimu— yah cara satu-satunya adalah dengan mengirimnya kesini. Come
on dude, Cuma tiga bulan. Gak sampai setahun. Berkorban demi istri pahala tahu.
Lagi pula kamu juga yang akan untung kalau istrimu berubah semakin cantik “
Ellard mendesah malas. “Aku sebenarnya tidak menginginkan
dia melakukan ini. Tapi aku juga tidak bisa melihatnya bersedih ketika tiap
kali direndahkan,”
Bella menganguk-anggukkan kepala “Ya aku bisa mengerti apa
yang dirasakan istrimu. So, berarti kamu yang harus mengalah. Trust me, aku
bisa mengubahnya menjadi seperti bidadari dalam waktu tiga bulan.”
“Baiklah, nanti akan kukabari lagi.”
“Ok, I’ll wait. Byeee”
Sambungan berakhir. Ellard menyugar rambutnya kasar. Bella
adalah seorang Stylist pribadi yang kebanyakan di sewa oleh para artis ternama.
Salah satu teman dekatnya dulu di
Harvard. Ia lebih mempercayai Bella sebagai
pendamping program diet Ara dan melatinya dalam berpenampilan. Dia tidak ingin
mengambil resiko. Istrinya harus ditangani langsung oleh pakarnya. Namun yang
menjadi kendalanya adalah ia harus merelakan Ara-nya untuk tinggal selama tiga
bulan di Italy bersama Bella. Berhubung karna perempuan itu tidak bisa
meninggalkan bayinya yang baru saja lahir dua bulan lalu.
Arghh… kenapa jadi
rumit begini sih
****
Ara baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan
dirinya. Sementara Ellard berada di kasur— memangku laptopnya dengan kacamata
baca yang bertengger di hidung mancungnya. Ara menghela langkah ke arah ranjang
dan langsung berbaring disisi Ellard. Berbaring menyamping ke arahnya. Sebab
lelaki itu tidak suka dipunggungi.
Menyadari kehadiran istrinya, Ellard tersenyum kecil. Ia
segera mematikan laptop dan meletakkannya diatas nakas beserta kacamatanya. Ia
menaikkan selimut, bergerak kearah Ara, lalu mengecup keningnya sekilas sebelum kemudian memeluk
tubuhnya erat.
“Sayang”
Ara mendongak “Hm”
“Kamu serius mau ikut pelatihannya?”
Ara mengangguk “kenapa?”
“Tidak bisa dibatalkan?” masih mencoba peruntungan
Ara meraih alis tebal Ellard dan mengelusnya “Bisa. Kalau kamu
tidak mau muncul bersamaku di depan orang banyak” ungkapnya terlampau tenang
“Mana bisa!” protes Ellard tidak suka
“Kalau begitu aku harus melakukannya— tidak ada cara lain.
Aku sudah bertekad tidak ingin membuatmu lebih malu lagi dengan kemunculanku
bersamamu.”
“Tadi aku sudah bicara dengan Bella. Dia mau kamu yang harus
datang ke Milan. Karna dia punya bayi. selama menjadi pendamping program dietmu,
kamu akan tinggal disana selama tiga bulan. ”
“Terus?”
“Tiga bulan sayang? Bayangkan.. aku harus berpisah denganmu
selama itu. For God Shake, aku gak
sanggup berjauhan denganmu”
“Cuma tiga bulan. Bukan tiga tahun. ” Ara menatapnya geli
“Tapi aku tetap enggak bisa Ara” suara Ellard sedikit
meninggi. Apa-apan ini?! Kenapa hanya karna penilaian orang lain, ia harus
berpisah dengan istrinya untuk sementara hanya karna program diet sialan itu!
Ellard merasakan usapan lembut Ara didadanya, menenangkan
dirinya yang mulai tersulut emosi.
“El—Kamu lelaki yang memiliki pengaruh luar biasa besar.
Setiap hari kamu dikelilingi oleh orang-orang hebat lainnya. Sementara aku
hanyalah perempuan biasa yang memiliki banyak kekurangan. Dan yang kebetulan
bernasib baik menjadi istrimu. Dan kalau
boleh jujur, sebenarnya aku sangat tertekan dengan status ini. Dimata mereka
kita pasangan yang tidak sesuai. Itulah
sebabnya kenapa aku bersikeras memintamu merahasiakan pernikahan kita. Karna
yang kutakutkan selama ini nyatanya memang terjadi. Tapi aku juga tidak mungkin
terus menyembunyikan diri. semua sudah terjadi. Aku harus belajar menghadapi,
karna tidak selamanya bukan kamu berada didekatku untuk melindungi?” Ara
menjeda, menghentikan usapannya dan menatap lekat manik coklat madu suaminya
“Karna itu ijinkan aku pergi. Selama disana aku akan belajar
banyak hal,”
Ellard megalihkan pandangannya, lalu menarik nafasnya kasar
sebelum kembali menatap istrinya yang sedang menunggu jawaban darinya. Ia
menyerah, tidak ada jalan selain merelakan istrinya pergi. Ara terlihat sudah
sangat mantap dengan keputusannya. Ellard menangkup pipinya, mencium dengan
lembut dan hangat bibir Ara.
“Jaga diri baik-baik disana. Terus memberiku kabar dan
cepatlah kembali sebelum aku sendiri yang menyeretmu pulang ”
****
Segala persiapan mengenai kepergian Ara telah selesai
diurus. Termasuk penyambungan magang dirinya yang tinggal satu bulan lagi akan
selesai, terpaksa harus di mutasikan ke perusahaan cabang suaminya yang ada di
Italy. Selama seminggu ketika dalam masa persiapan, Ellard masih gencar
memanipulatif berbagai keadaan agar Ara mengurungkan niatnya untuk pergi. Namun
naas, istrinya itu sama sekali tidak goyah. Alhasil selama waktu yang masih
tersisa, Ellard terus menempeli istrinya bak prangko. Tidak dirumah, tidak di
kantor, lelaki itu selalu memiliki segala cara untuk bisa membuat Ara tidak
berlama-lama jauh darinya.
Mengingat semua usaha lelaki itu, membuat Ara hanya bisa
mengulum senyum geli. Mendadak Ellard berubah menjadi sosok yang sangat manja
ketika dengannya.
“Kudengar kamu akan pergi?”
Suara itu mengterupsi gerakan Ara yang sedang mengemasi
barang-barang di meja kerjanya. Ara menatapnya dengan seulas senyum. “Ya benar Cla”
“Kemana?”
__ADS_1
“Kupikir kamu tidak perlu mengetahuinya” Ara memiringkan
kepalanya
“Ah benar juga. Kepergianmu tidak masalah bagiku. Justru itu
bagus karna aku bisa leluasa dekat dengan El.” mulai memprovokasi
“Kamu tahu Cla, sejujurnya aku sangat kasihan padamu”
“Apa maksudmu?” matanya memicing tak suka.
“Aku kasihan padamu. Kamu cantik, pintar, jago masak dan
banyak kelebihan lainnya. Aku yakin ada banyak lelaki diluar sana yang
menyukaimu— mengejarmu. Namun disini kamu malah berlaku seperti perempuan murahan— mengejar-ngejar
lelaki yang sudah beristri dan mirisnya lelaki itu jelas-jelas tidak memiliki
perasaan lebih padamu. Kalau aku jadi kamu, aku akan melepaskan lelaki yang
kucintai dan membiarkan dia bahagia dengan kehidupan barunya. Sekalipun itu tidak
mudah but life must be go on, right? “
Ara menjeda, menatap manik Clarisa lekat “Jangan buat Tuhan yang telah
memberimu kesempatan untuk hidup lebih lama, menjadi kecewa karna obsesi
gilamu.” Sarkasnya begitu tenang namun menusuk.
Lidah Clarisa seketika kelu, ia benar-benar membisu. Disisi
tubuh tangannya terkepal. Tidak menyangkah gadis selemah Ara akan berucap
setajam itu.
“Tahu apa kau tentang hidupku?” geram Clarisa menekan
emosinya “Sejak dulu Ellard adalah milikku dan selamanya akan begitu. Kamulah yang
telah merebutnya dariku.” Sentak Clarisa
Ara menghela nafas, tidak tahu lagi bagaimana caranya
menyadarkan gadis ini. Perkataannya yang terucap tadi sebenarnya terlontar
begitu saja. Selama ini, tidak pernah dia akan repot-repot membalas perkataan
orang-orang yang menyakitinya. Namun kali ini dia sama sekali tidak bisa diam.
Gadis yang menjadi obsesi Clarisa adalah suaminya sendiri, lelaki yang sudah
mengikat janji pernikahan dengannya dihadapan Tuhan. Seandainya tidak, dia
pasti akan melepaskannya— sama seperti yang dia lakukan dulu pada Leo. Tapi
Clarisa justru bersikap semakin keras kepala.
Ara menghela langkanya hingga berdiri tepat disamping Clarisa
yang masih terlihat berang. Dengan bersahaja, ia menepuk bahu gadis itu.
“Teruslah berusaha lebih giat lagi. Tapi maaf Cla, kali ini
aku tidak akan tinggal diam. Lelaki yang menjadi obsesimu itu adalah suamiku—
milikku. Aku juga tidak akan melepaskannya. Sampai bertemu kembali,” ucapnya terakhir kali seraya menepuk-nepuk
bahu Clarisa pelan kemudian beranjak pergi dari sana meninggalkan Clarisa yang
membeku ditempatnya.
****
“El, pesawatku uda mau take off
loh” peringatan itu sudah kesekian kali, tapi bukannya melepas— pelukannya kian
mengerat.
“Kita balik kerumah aja ya. Kan kata
Pastor, suami istri itu enggak boleh tinggal berjauhan. Harus selalu bersama,”
gumam Ellard dengan kepalanya yang masih terbenam di ceruk leher Ara.
Ara memutar bola matanya malas.
Suaminya ini mulai lagi.
“Cuma tiga bulan El. Gak lama kok”
Ara berucap selembut mungkin
“Tiga bulan itu waktu yang sangat
lama bagiku. Nanti siapa yang akan kupeluk jika tidur? Kamu kan tahu aku susah
tidurnya kalo gak peluk kamu—guling
hidupku”
“Kan kita masih bisa video call,”
“Tapi tetap aja gak bisa sentuh
kamu”
Ara menghembuskan nafas pelan, ia mendorong
tubuh besar Ellard untuk memberi mereka jarak. Dengan tenang ia merapikan jaket
“Aku janji ini untuk yang pertama
dan terakhir kalinya kita berjauhan. Aku akan terus memberimu kabar” sekali
lagi Ara mencoba memberi pengertian.
Ellard menangkup wajah Ara, menekan
pipi bulatnya gemas “Disana jaga mata dan hati, jangan lirik-lirik lelaki lain.
Ingat status. Sekali saja aku dengar kamu dekat dengan lelaki lain, aku akan
seret kamu pulang dari sana,”
Ara terkekeh geli, “Yang ada aku
yang harusnya bilang gitu. Kamu—Banyak perempuan cantik yang memuja dan terus
mengodahmu bahkan ada juga yang menempelimu setiap saat. Seharusnya kamu yang—“
Ellard mencium bibir Ara begitu
dalam, tidak membiarkan ucapannya selesai. Ellard menyatukan dahi mereka.
“Listen, aku tidak peduli pada
mereka. for me they are nothing. All of them! Cuma kamu satu-satunya
perempuan yang paling penting bagiku. “
“Bagaimana dengan Clarisa?” pelan,
Ara bertanya
“Dia cuma sahabat. Aku
menyayanginya sudah seperti saudara perempuanku. Dia gadis polos yang lemah, namun dia selalu berhasil menutupinya
dengan bersikap sok ceria. Karna itu aku selalu berusaha melindunginya,”
Andai
kamu tahu dia tidak sepolos itu El, dia terobsesi padamu…
Ingin sekali Ara menyuarakan
kalimat tersebut, namun dia tidak bisa. Dia tidak memiliki bukti untuk
mengatakan niat terselubung gadis itu.
“Kalau aku minta— selama aku tidak
disini, bisakah kamu menjaga jarak dengannya?”
Ellard mengernyit, menaikkan
sebelah alis tebalnya. “Kenapa? Clarisa sekretaris keduaku. Bagaimana mungkin—”
“Hanya permintaan.” potong Ara
cepat, “Tapi kalau tidak bisa juga enggak apa-apa” Ara memalingkan wajahnya,
sesak tiba-tiba saat mendapati Ellard
yang sepertinya tidak setujuh atas permintaannya.
Hening sejenak. Ellard masih diam,
menikmati ekspresi istrinya yang sudah tidak menatapnya lagi. Sedetik kemudian
ia mengulas senyum ketika menyadari satu hal, meraih kembali dagu istrinya—
mendongak menatapnya.
“Cemburu, hm?”
Ara terdiam, dan… “Kalau iya kenapa?”
Mata Ellard berbinar, “Wah, tentu
saja aku sangat senang. Itu berarti aku sangat penting bagimu” Ellard terkekeh,
ia mengacak gemas rambut panjang Ara sebelum kemudian kembali memeluknya dan
menciumi puncak kepalanya berkali-kali.
“Baiklah sayangku kalau itu
keinginanmu. Aku ikut. I’m totally yours
and you’re mine too”
Ara hanya mengangguk haru dalam
dekapannya. Ia tersenyum, rasa hangat
membuncah dalam hatinya. Setidaknya
untuk sementara dia bisa meninggalkan
Ellard disini dengan perasaan lega.
Dengan setia Ellard mendampingi Ara
sampai istrinya itu benar-benar pergi dengan pesawatnya menujuh benua yang
berbeda dengan dirinya.
__ADS_1
****
Milan – Italy | 09.15 Pm
Hari sudah gelap ketika Ara sampai
di kediaman Bella— Milan. Ia disambut dengan ramah oleh Bella dan keluarga
kecilnya. Wanita itu masih kelihatan sangat cantik sekalipun hanya memakai
dress rumahan dan tanpa memakai riasan.
“Senang akhirnya kamu bisa sampai
disini Ara” Ujar Bella seraya memeluknya hangat
“Terimakasih kak. Aku juga sangat
senang bisa berkunjung ke rumah kakak,”
“Apa kamu tahu, sejak tadi Ellard
merecokiku karna kamu belum sampai-sampai juga. Ck, pria itu terlalu berlebihan
ketika menyangkut dirimu” gerutu Bella
Ara tersenyum kikuk, tidak menimpali.
“Ya sudah kita langsung saja ke
kamarmu. Kamu pasti lelah akibat Jet lag”
Ara hanya mengangguk kecil,
mengikuti langkah Bella yang membawanya masuk kedalam sebuah kamar tidur yang
sebelumnya sudah di persiapkan.
“Maaf kalau kamar ini tidak sebesar
dan senyaman kamar megah kalian di Manhattan”
“Ini sudah sangat nyaman kak.
Bahkan kamarku sebelum menikah dulu masih lebih kecil dari ini. Kalau terlalu
luas juga akan sangat melelahkan untuk membersihkannya” jelasnya Ara sambil
maniknya menjelajah ke setiap sudut kamar.
“Memangnya kamar kalian, kamu yang
bersihkan? Bukan pelayan?”
“Iya kak. El yang minta. Katanya kamar
adalah hal yang sangat privasi”
“Anak itu memang enggak berubah
ternyata,” kekeh Bella “Baiklah, kamu sebaiknya segera istirahat. Banyak hal
besok yang harus kita kerjakan. Night Ara” pamit Bella
“Night too kak”
Setelah kepergian Bella, Ara
langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Jet lag membuat tubuhnya terasa lelah
dan pegal. Baru saja matanya akan terpejam namun dentingan suara pesan masuk
menyadarkannya. Ia mengulas senyum ketika melihat siapa pengirm pesan tersebut
Mr. Bossy
Sayang,
uda sampai? I miss you too much already :(
Ia tidak membalas, melainkan segera
melakukan panggilan video call. Dan terang saja belum sampai satu detik, lelaki
itu sudah mengangkatnya. Menampilkan tubuh atletisnya yang shirtless, tengah
duduk bersandar pada kepala ranjang
“Sayang aku menunggu teleponmu
sejak tadi” sungutnya seraya menguap
“Maaf, aku baru saja sampai dan
buka hape” Ara mendudukkan dirinya. Memperhatikan wajah bantal suaminya yang
terlihat menggemaskan.
“Belum sampai 24 jam kamu pergi,
aku sudah begitu merindukanmu— apa aku nyusul kesana aja kali ya” bibirnya
mencebik
“Jangan konyol El,” Decak Ara namun
bibirnya tersenyum
“Ya habis gimana dong, aku sudah
rindu tidur berpelukan denganmu. Kasur ini rasanya sangat dingin tanpamu” aduh
Ellard sambil menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong
“I miss you too El,” satu kalimat
yang mampu menghentikan cicitan Ellard. “Uda dulu ya, aku ngantuk banget. Kamu
juga harus tidur. Besok kita sambung lagi”
“Baiklah sayangku. Kamu istirahat
yang cukup. I love you”
Deg
Tubuh Ara seakan membeku— terasa
kaku. Entah. Kalimat terakhir yang diucapkan Ellard membuat dadanya berdentam
keras tak karuan. Belum sempat ia hendak menjawab, panggilan telah berakhir. Jarinya
tanpa sengajah menyentuh icon end pada
ponselnya. Ara mendesah lemas— merasa kehilangan. Namun sedetik kemudian ia
tersenyum lebar sambil memeluk gemas guling. Ia bahagia. Untuk pertama kalinya
ia mendengar kalimat keramat itu keluar dari mulut suaminya. Tapi benar kan dia
tidak salah dengar tadi? Ah, semoga
saja tidak.
****
Keesokan paginya di ruang kerja Bella, Ara diberikan beberapa arahan mengenai
apa saja yang harus ia lakukan selama mengikuti program control diri, pola
makan di tempat ini. Jauh-jauh hari Bella sudah membuat list kegiatan untuk Ara
setiap harinya.
Di list itu disebutkan, dalam satu
hari Ara hanya di perbolehkan mengomsumsi kalori dengan batasan normal, sekita
1.800 kkal. Ia boleh makan apapun tapi tidak mongomsumsi tepung, gula, dan
minyak. Pagi makan roti gandum dua, tidak pakai selai, pakai keju low fat dengan Teh hijau . kalau lapar ngemil buah. Siangnya makan oatmeal kering, minum jus hijau (sayuran). Kemudian ia
juga harus berolahraga secara teratur dengan didampingi oleh Bella— melakukan
kardio dan latihan otot. Disamping itu,
Bella juga akan mengajarinya cara berpenampilan yang elegan dan memukau. Dari
mulai makeup hingga gaya busana keseharian.
Ara menelan ludah, jadwal itu
terlalu padat. Sementara dia masih menyelesaikan magangnya disini. Mampukah dia
melakukannya?
“Kamu siap Ara?” tanya Bella
mengulum senyum geli saat menangkap ekspresi tidak yakin istri sahabatnya itu.
“Se—sebanyak ini?”
“Hm, mengingat waktu yang kamu
habiskan disini hanya tiga bulan”
“Kakak yakin aku bisa berhasil
melakukan semua ini?” Ara tidak yakin, tubuhnya lemas membayangkan semua yang
akan dilakukannya nanti. Sementara selama magang saja, dia sudah merasa sangat
lelah dan kerap lapar setiap jam-nya. Ditambah lagi melakukan program control begini.
Astaga
Tuhan…
“Berhasil atau tidaknya, semua
tergantung bagaimana keseriusan kamu”
Ara speechless, untuk sesaat ia
terdiam. Ia sudah mengambil keputusan sejauh ini. Tidak mungkin ia kembali
dengan tidak membawa hasil. Yah, meskipun Ellard tidak pernah menuntutnya untuk
bisa berhasil mengikuti program ini. Bagi pria itu, setelah tiga bulan— ada
hasilnya atau tidak, Ara harus segera kembali ke sisinya. Tapi Ara sudah berjanji pada dirinya sendiri,
kali ini ia harus berubah agar layak berdiri disamping suaminya. Tidak
direndahkan lagi. Cuma tiga bulan kan? Baiklah ia akan berjuang.
“Baik kak, aku yakin pasti bisa”
putusnya mantap
To be continued
__ADS_1
IG: @rianitasitumorangg
Follow IG aku yahh... disana aku posting Spoiler cerita ini. Thank youuuuuuuu