
John F. Kennedy International Airport – Queens, NEW YORK | 10.00 Am
Suasana bandara yang begitu riuh menolong Aurora menyamarkan suara
isakannya yang saat ini tengah dipeluk oleh Leo. Gadis itu sesenggukan
dan tangan Leo dengan lembut terus mengusap puncak kepala gadis itu
memberi ketenangan.
"Uda ah, jangan nangis lagi. Malu tahu dilihat orang-orang," gurau Leo
"Biarin," Ara tidak peduli
"Cih, tapi setidaknya kamu ingat dong suamimu juga ada disini dari tadi liatin kayak mau nelan kita tuh," bisik Leo
Ara mengerjap. cepat-cepat melepas pelukannya lalu memutar tubuh
menghadap sosok lelaki yang sejak tadi berdiri disana dengan kedua
tangan dimasukkan kedalam saku. Tatapan lelaki itu sulit diartikan. Ara
tidak dapat memahaminya. Astaga, kenapa dia bisa melupakan
keberadaan suaminya itu. Padahal dia datang ke bandara ini bersama
dengannya. Ellard bersikeras ingin menemaninya ke bandara meskipun Ara
sudah berulangkali menolak karna dia tahu suaminya itu adalah lelaki
yang sangat sibuk. ditambah lagi dia takut kelepasan kendali seperti
saat ini contohnya.
Ara menelan ludahnya susah payah ketika mengingat tingkahnya yang sedikit atau memang berlebihan saat ingin melepas kepergian Leo. Dia bertingkah bak seorang
gadis yang tidak rela ditinggal pergi jauh oleh kekasihnya. Belum lagi
matanya yang masih sembap karna banyak menangis. Sementara kekasih Leo
yang sebenarnya tidak bersikap seberlebihan dirinya. Sara juga ada
disana. Tepatnya disamping Angel dan Ellard.
Ara semakin gugup ketika Ellard melangkah mendekat kearahnya. Ellard
menundukkan sedikit tubuhnya yang tinggi, mengusap jejak air mata
diwajah istrinya.
"ah lihatlah, istriku ini sudah seperti zombie sekarang karna
kebanyakan menangis. Ternyata Leo sebegitu berharganya hmm," ucap Ellard
santai namun menusuk
"Sa—sayang, ak—aku, aku..." Ara terbata dengan suaranya yang masih
serak. Mendadak kosakatanya habis begitu merasakan aura yang tidak biasa
dari lelaki yang biasanya selalu mengeluarkan seringain jenakanya.
Tanpa diduga, Ellard menarik tengkuk Ara lalu menyatukan bibir
keduanya sebelum kemudian ********** sedikit lama. Melihat kelakuan
sepasang suami istri itu, Angel menyeringai gelih. Sementara Sara
langsung mengalihkan tatapannya pada Leo yang saat itu sudah membuang
pandangannya ke samping. Sara bisa melihat salah satu tangan Leo yang
terkepal kuat menahan sesuatu dalam dirinya yang siap meledak ketika
melihat gadis yang dicintainya berciuman dengan lelaki lain didepan
matanya. Sara tahu Leo terluka lagi.
"Ssttt... aku mengerti. Kalian sudah bersama sejak kecil, jadi wajar
kalau kau berat melepas kepergian sahabatmu itu bukan?" Ellard tersenyum
manis setelah melepaskan bibir mereka. Kemudian menarik Ara kesisinya
dan merangkul erat bahu istrinya yang masih terlihat shock itu.
"Terimakasih selama ini sudah menjaga istriku. Sekarang kau tidak
perlu mengkahwatirkannya lagi karna sudah ada aku yang akan menjaganya,"
ujar Ellard disertai senyum tipisnya pada Leo
"Itu memang sudah seharusnya," sahut Leo datar.
Leo melirik jam tangannya. Setelahnya memandang kepada semua temannya yang mengantar kepergiannya.
"Sudah waktunya aku pergi. Pesawatku akan segera take off.
Terimakasih karna kalian telah meluangkan waktu mengantarku. Jaga diri
kalian baik-baik, dan sampai jumpa lagi" kata Leo sambil mengeratkan
pegangannya pada koper kecil ditangan kirinya.
Sara berlari kearah Leo sebelum kemudian memeluk lelaki itu erat dan disambut oleh Leo.
"Aku menunggumu disini. Jaga diri baik-baik disana dan terus beri
kabar," pinta Sara masih dalam pelukan. Leo tersenyum. Dia mengecup
hangat puncak kepala kekasihnya itu
"Pasti," jawabnya lalu melepaskan pelukan keduanya.
Leo melambaikan tangan kanannya pamit sebelum akhirnya berbalik melangkah masuk.
"Kak Leo—" panggil Ara serak. Dia ingin berlari kepelukan lelaki itu namun tertahan karna remasan tangan Ellard dibahunya.
Langkah Leo terhenti mendengar suara serak itu. sekali lagi
menguatkan hatinya untuk tidak menunjukkan kesedihannya dihadapan gadis
itu. Dia kembali berbalik menatap wajah Ara yang kembali berkaca-kaca.
"Ck, berhenti buat wajah menyebalkan begitu. Aku cuma pergi sementara, bukan mati" gerutu Leo
"Kak Leo enggak boleh ngomong gitu!" teriak Ara marah, nafasnya terengah
Sesaat Leo tertawa lepas melihat ekspresi menggemaskan itu.
"iihh aku serius kak!" masih dengan suara tinggi
"Iya, iya, makanya berhenti buat wajah jelek begitu. Uda ah, aku
harus pergi. Baik-baik disini sweety. Hah, aku pasti akan sangat
merindukan wajah bakpao-mu itu. Dahh sayangku," Leo mengerling sebelum
akhirnya meneruskan langkah masuk menujuh pesawat. Tangannya
melambai-lambai tanpa berbalik lagi hingga sosoknya hilang dari sana.
Aku juga pasti akan sangat merindukanmu kak...
****
"Kita makan siang dulu," ucap Ellard ditengah kegiatannya menyetir.
Tidak ada jawaban. Ellard mengalihkan tatapannya pada Ara yang
ternyata tengah melamun dengan pandangan yang terarah ke sepanjang
jalanan diluar. Sejak mereka keluar dari bandara, Ara memang kerap kali
didapatinya melamun. Gadis itu mendadak menjadi pendiam. Padahal
sebelumnya, dialah satu-satunya yang paling cerewet sepanjang acara
perpisahan dengan Leo tadi. istrinya itu bertingkah layaknya ditinggal
pergi oleh kekasih. Padahal dirinya, yang notabene-nya adalah suaminya
sama sekali hampir terabaikan.
__ADS_1
Ellard benci hal ini. Apalagi ketika melihat airmata dan
tatapan tidak rela melepaskan itu dari istrinya. Ingin rasanya detik
itu juga dia membunuh sosok lelaki yang menjadi sumber kesedihan
istrinya. Ellard tidak bodoh. Dia tahu tatapan penuh cinta itu tertujuh
hanya untuk satu orang. Bukan dirinya. Melainkan sahabat sialan
istrinya. Bahkan sejak tadi dia berusaha sekuat tenaga meredam
amarahnya. Oh ayolah, suami mana yang tidak murka melihat istri yang
dicintainya berpelukan mesra dengan lelaki lain didepan mata. Mungkin
hanya dirinya yang berhasil menampilkan topeng terbaiknya. Bersikap
tenang seolah drama sentimental dihadapannya bukanlah apa-apa.
"Ara—" panggilnya lagi
"Ha?" Ara berjengit, tersadar dari lamunannya. Dia menatap Ellard dengan tatapan bertanya
"Kita makan di restaurant dekat kantorku,"
"Hm, aku tidak lapar. Bisakah aku langsung pulang saja?" aku Ara
tidak enak. Sebenarnya bukan hanya karna dirinya sedang tidak lapar,
tapi mendadak moodnya juga tidak bersemangat sejak kepergian Leo.
"Tapi sejak keluar rumah tadi kau belum ada makan apapun,"
"Ntahlah. Hanya saja aku memang sedang tidak lapar,"
"Tidak ada penolakan. Kita akan tetap makan" putus Ellard sepihak
"Tapi aku memang—"
"Aku sedang tidak ingin dibantah Ara," tekan Ellard.
Ara terdiam. Dia tidak lagi mengeluarkan suara. Ada nada geraman
diakhir kalimat lelaki itu, hingga membuat Ara bungkam. Ada apa dengan
suaminya itu? kenapa mendadak dia terlihat seperti marah? Kalau benar, kesalahan apa yang telah dilakukannya hingga bisa memancing emosi lelaki itu?
Semua perkiraan-perkiraan itu, disimpannya didalam kepala. Tidak
berani untuk menanyakan lebih. Apalagi saat ini Ellard dengan
tiba-tibanya menambah laju kecepatan mobil mereka hingga membuat Ara
mengeratkan pegangannya pada seatbealt.
****
Dan disinilah mereka berakhir. Di salah satu restauran yang cukup
ramai dikunjungi para pekerja kantor yang datang untuk sekedar menikmati
makan siang mereka.
Dihadapan mereka telah tersaji makanan yang telah dipesan oleh
Ellard. Beberapa makanan khas prancis diantaranya beef burguignon, Soupe
a l'oignon, Langue de Boeuf dengan hidangan penutupnya adalah crepes
dan creme brulee. Makanan itu sangat menarik hati. Namun tidak dengan
Ara. Sejak tadi dia duduk gelisah disana. Ditambah lagi tatapan beberapa
pasang mata yang menatap mereka sejak tadi. Baiklah, mereka menatap
Ellard dengan penuh pemujaan. Tapi bagaimana dengan dirinya? samar-samar
Ara bisa mendengar bisikan mencemooh mereka terhadap dirinya. Ara
meremas ujung bajunya.
Ellard sadar ketidaknyamanan istrinya itu. Namun kali ini dia
berpura-pura seolah tidak tahu. Dia meneruskan kegiatannya memotong
"El— ellard...." cicit Ara
Ellard bergeming. Berpura-pura tidak mendengar. Ara menghembuskan
nafas. Dia lupa kalo suaminya itu tidak akan menyahut jika dia
memanggilnya dengan sebutan itu.
"Sayang—"
"Hm"
"Kita pindah ya"
"Kenapa?"
"Yang lain ngelihatin kesini"
Ellard mengangkat kepalanya yang sejak tadi sibuk dengan makanannya. Mengangkat alis menatap pada Ara
"Lalu apa masalahnya? mereka juga punya mata,"
"Ak—aku enggak nyaman dilihatin begitu. Kita ambil yang private room aja ya?"
Private room. Lagi-lagi ruangan itu. Kenapa saat bersamanya
istrinya itu selalu bertindak sembunyi-sembunyi. Seolah tidak ingin
orang lain mengetahui hubungan mereka sampai kapan pun. Padahal dia
suaminya. Lelaki yang paling berhak atas dirinya. Sementara dengan Leonard sialan itu, Ara tidak pernah malu muncul bersama didepan umum. Bahkan sampai acara berpelukan.
Sial!
Ellard mengetatkan genggamannya pada sendok ditangannya.
"Mulai sekarang tidak ada private room atau hal-hal yang berbau
sembunyi. Kau istriku. Dan dunia harus tahu itu," ujar Ellard dingin
"Tapi bukankah kita sudah sepakat dengan hal ini sebelumnya,"
"Sekarang tidak!"
"Ellard—"
"Makan. Ara." ucap Ellard penuh penekanan "atau perlu aku menciummu disini sekarang?"
Ara membeku. Benarkah yang dihadapannya ini adalah suaminya? kenapa
terlihat begitu asing? Ara memutuskan tatapannya pada Ellard. Menunduk
dan mulai mengunyah makanannya walaupun dia tidak berselerah.
Mereka akhirnya makan dalam diam. Tidak ada yang mengeluarkan suara.
Untuk pertama kalinya setelah menikah, mereka dalam suasana mencekam
begini. Biasanya mereka akan selalu berbincang hangat disertai guyonan
konyol Ellard yang tidak ada habis-habisnya.
"El—"
Suara lembut itu berhasil menarik perhatian pasangan suami istri yang tengah diam-diaman itu.
"Cla?" Ellard kaget. Dia berdiri dari duduknya
Gadis itu tersenyum manis. Lalu dengan semangatnya dia menghambur
kedalam pelukan Ellard yang sama sekali belum siap hingga hampir saja
dirinya terjungkal.
"Sudah lama sekali. Aku sangat merindukanmu El," kata Cla semakin mengencangkan pelukannya.
Ellard mengerjap. Tatapannya tanpa sengaja menatap Ara yang juga menatapnya melongoh.
"Eh, I—iya Cla," Ellard menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. "Ehem... sebaiknya kita duduk dulu Cla,"
__ADS_1
Cla melepaskan pelukannya tanpa memudarkan senyumnya yang mereka.
Keduanya kembali duduk dengan Cla yang sekarang berada ditengah.
"Kemana saja kau selama ini?" Tanya Ellard
"Aku di Rusia. Menjalani terapi disana,"
"Lalu bagaimana hasilnya sekarang?" Nada suara Ellard berubah kahwatir
"Jauh lebih baik. dokter yang menanganiku mengatakan aku berhasil
sembuh dari Leukimia setelah dua tahun penuh menjalani radioterapi,"
"Syukurlah. Aku turut bahagia mendengarnya," Ellard tersenyum mengusap puncak kepala Cla lembut.
Cla. Lebih tepatnya Clarissa Veronica Xander adalah sahabat Ellard
semasa menjalani kuliah di harvard hingga sekarang. Keduanya telah
menjadi sangat dekat. Dan Ellard menyayangi gadis itu. Selama beberapa
tahun mereka terpaksa berpisah karna penyakit serius yang diderita gadis
itu dulu. Hingga memerlukan pengobatan yang serius. Ellard tidak
sempat menengok sahabatnya itu ketika menjalani hari-hari terapinya
karna setelah menyelesaikan kuliahnya, dia langsung dibebankan tanggung
jawab meneruskan perusahaan raksasa milik keluarganya.
"Oya, kau makan sendiri disini?" Tanya Cla
"Tidak. Dengan gadis yang disebelahmu itu," tunjuk Ellard pada Ara dengan dagunya
"Oh, astaga! maaf kan aku, aku sama sekali tidak memperhatikanmu," kaget Cla tanpa sadar menguncang-guncang lengan Ara.
"Ah, bukan masalah" Ara tersenyum kikuk. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Percayalah, sebenarnya dia sudah mengambil ancang-ancang untuk lari
dari reuni kedua sahabat itu. Namun sayangnya, dewi fortuna sepertinya
tidak sedang berpihak padanya.
"Siapa gadis manis ini El? tanya Cla penasaran. Pasalnya setahunya El
tidak pernah mau makan ditemani wanita manapun selain dengan dirinya
dulu.
"Temannya—"
"Istriku—"
Sepasang suami itu menjawab serentak. Cla mengerutkan kening bingung. Sementara Ara menelan ludah susah payah.
Ellard mendecih. Sudah menduga lagi-lagi istrinya itu akan menyangkal.
"Sebenarnya siapa kalian yang benar ini?" gerutu Cla
"Dia Aurora Beatrix Miller, Istriku. Kami baru menikah dua minggu
lalu," jelas Ellard begitu lancar sambil melayangkan smirk penuh
kemenangannya pada Ara.
"Me—menikah? Kau sudah menikah?"kejut Cla
"Iya. Maaf tidak memberitahumu Cla, waktu itu aku terlalu sibuk"
"Oh, it's ok. Aku turut bahagia mendengarnya,"
"Terimakasih Cla," ellard mengacak gemas surai Cla "Baiklah berhubung
kau sudah disini, sebaiknya kita makan bersama. Dan tidak ada
penolakan," ultimatumnya langsung
"Tsk, dasar pemaksa" decih Cla
"I am" sahut Elllard santai mengedikkan bahunya.
Pada akhirnya ketiganya makan bersama. Ellard memesan makan lebih
banyak lagi. Suasana yang tadinya begitu dingin kini berubah ceria sejak
kehadiran Cla ditengah-tengah mereka. Gadis itu banyak bercerita
tentang hari-harinya selama menjalani perawatan di rusia. Namun
ketahuilah sebenarnya jauh didalam lubuk hati gadis berambut blonde itu,
hatinya merasakan sakit namun dia berhasil segera menutupinya dengan
keceriaan palsu yang dimilikinya.
Clarissa sudah lama memendam perasaan lebih untuk Ellard. Bukan
sebagai sahabat, tetapi sebagai seorang pria. Namun dia tidak berani
menyatakannya. Ditambah lagi penyakit yang pernah dideritanya dulu,
membuat dirinya langsung menutup perasaannya. Tidak ada harapan bagi
seorang pesakitan seperti dirinya. Sampai suatu ketika harapan akan
hidup itu mulai muncul. Orang tuanya membopongnya ke Rusia menjalani
terapi selama dua tahun penuh disana. Dan selama itu dirinya tidak
pernah sehari pun melewatkan berita tentang Ellard, lelaki yang menjadi
alasannya semangat untuk sembuh. Alhasil, setelah dua tahun dokter
memfonisnya telah sembuh total dari penyakit kanker darah tersebut.
Cla sangat bahagia mendengar berita kesembuhannya itu. Hingga tanpa
menunggu waktu yang lebih lama lagi, dia datang kembali ke NY untuk
menemui lelaki pujaannya dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada
lelaki itu. Namun baru saja bahagia itu menghampiri, kini hatinya
merasakan dua kali lebih sakit saat mendengar dari mulut Ellard sendiri
bahwa dirinya sudah menikah. Seketika mimpi yang Cla bangun hancur saat
itu juga.
Cla melirik pada Ara yang tengah meneguk minumannya. Gadis itu memang
gendut namun terlihat sangat manis. dan tidak akan pernah bosan
memandang wajah chubby itu berulangkali.
Haruskah dirinya menyerah secepat ini? Setelah perjuangannya yang mati-matian berhasil sembuh demi bersatu dengan Ellard. Tidak! Dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Ellard adalah miliknya. Dan
selamanya akan tetap menjadi miliknya. Anggaplah sekarang dirinya sudah
gila karna telah berencana merebut kembali lelaki itu dari sisi
istrinya. Tapi dirinya sudah tidak mempedulikan itu. Rencananya harus
berhasil.
Maafkan aku Ara. Aku tidak bisa merelakan Ellard begitu saja. Dia milikku...
To be continued
Ellard O'Neill Miller
Aurora Beatrix Louis
Axcel Gabriel Leonard
Clarissa Veronica Xander
__ADS_1