Touching Heart

Touching Heart
Sembilan


__ADS_3

John F. Kennedy International Airport – Queens, NEW YORK | 10.00 Am



Suasana bandara yang begitu riuh menolong Aurora menyamarkan suara


isakannya yang saat ini tengah dipeluk oleh Leo. Gadis itu sesenggukan


dan tangan Leo dengan lembut terus mengusap puncak kepala gadis itu


memberi ketenangan.


"Uda ah, jangan nangis lagi. Malu tahu dilihat orang-orang," gurau Leo


"Biarin," Ara tidak peduli


"Cih, tapi setidaknya kamu ingat dong suamimu juga ada disini dari tadi liatin kayak mau nelan kita tuh," bisik Leo


Ara mengerjap. cepat-cepat melepas pelukannya lalu memutar tubuh


menghadap sosok lelaki yang sejak tadi berdiri disana dengan kedua


tangan dimasukkan kedalam saku. Tatapan lelaki itu sulit diartikan. Ara


tidak dapat memahaminya. Astaga, kenapa dia bisa melupakan


keberadaan suaminya itu. Padahal dia datang ke bandara ini bersama


dengannya. Ellard bersikeras ingin menemaninya ke bandara meskipun Ara


sudah berulangkali menolak karna dia tahu suaminya itu adalah lelaki


yang sangat sibuk. ditambah lagi dia takut kelepasan kendali seperti


saat ini contohnya.


Ara menelan ludahnya susah payah ketika mengingat tingkahnya yang sedikit atau memang berlebihan saat ingin melepas kepergian Leo. Dia bertingkah bak seorang


gadis yang tidak rela ditinggal pergi jauh oleh kekasihnya. Belum lagi


matanya yang masih sembap karna banyak menangis. Sementara kekasih Leo


yang sebenarnya tidak bersikap seberlebihan dirinya. Sara juga ada


disana. Tepatnya disamping Angel dan Ellard.


Ara semakin gugup ketika Ellard melangkah mendekat kearahnya. Ellard


menundukkan sedikit tubuhnya yang tinggi, mengusap jejak air mata


diwajah istrinya.


"ah lihatlah, istriku ini sudah seperti zombie sekarang karna


kebanyakan menangis. Ternyata Leo sebegitu berharganya hmm," ucap Ellard


santai namun menusuk


"Sa—sayang, ak—aku, aku..." Ara terbata dengan suaranya yang masih


serak. Mendadak kosakatanya habis begitu merasakan aura yang tidak biasa


dari lelaki yang biasanya selalu mengeluarkan seringain jenakanya.


Tanpa diduga, Ellard menarik tengkuk Ara lalu menyatukan bibir


keduanya sebelum kemudian ********** sedikit lama. Melihat kelakuan


sepasang suami istri itu, Angel menyeringai gelih. Sementara Sara


langsung mengalihkan tatapannya pada Leo yang saat itu sudah membuang


pandangannya ke samping. Sara bisa melihat salah satu tangan Leo yang


terkepal kuat menahan sesuatu dalam dirinya yang siap meledak ketika


melihat gadis yang dicintainya berciuman dengan lelaki lain didepan


matanya. Sara tahu Leo terluka lagi.


"Ssttt... aku mengerti. Kalian sudah bersama sejak kecil, jadi wajar


kalau kau berat melepas kepergian sahabatmu itu bukan?" Ellard tersenyum


manis setelah melepaskan bibir mereka. Kemudian menarik Ara kesisinya


dan merangkul erat bahu istrinya yang masih terlihat shock itu.


"Terimakasih selama ini sudah menjaga istriku. Sekarang kau tidak


perlu mengkahwatirkannya lagi karna sudah ada aku yang akan menjaganya,"


ujar Ellard disertai senyum tipisnya pada Leo


"Itu memang sudah seharusnya," sahut Leo datar.


Leo melirik jam tangannya. Setelahnya memandang kepada semua temannya yang mengantar kepergiannya.


"Sudah waktunya aku pergi. Pesawatku akan segera take off.


Terimakasih karna kalian telah meluangkan waktu mengantarku. Jaga diri


kalian baik-baik, dan sampai jumpa lagi" kata Leo sambil mengeratkan


pegangannya pada koper kecil ditangan kirinya.


Sara berlari kearah Leo sebelum kemudian memeluk lelaki itu erat dan disambut oleh Leo.


"Aku menunggumu disini. Jaga diri baik-baik disana dan terus beri


kabar," pinta Sara masih dalam pelukan. Leo tersenyum. Dia mengecup


hangat puncak kepala kekasihnya itu


"Pasti," jawabnya lalu melepaskan pelukan keduanya.


Leo melambaikan tangan kanannya pamit sebelum akhirnya berbalik melangkah masuk.


"Kak Leo—" panggil Ara serak. Dia ingin berlari kepelukan lelaki itu namun tertahan karna remasan tangan Ellard dibahunya.


Langkah Leo terhenti mendengar suara serak itu. sekali lagi


menguatkan hatinya untuk tidak menunjukkan kesedihannya dihadapan gadis


itu. Dia kembali berbalik menatap wajah Ara yang kembali berkaca-kaca.


"Ck, berhenti buat wajah menyebalkan begitu. Aku cuma pergi sementara, bukan mati" gerutu Leo


"Kak Leo enggak boleh ngomong gitu!" teriak Ara marah, nafasnya terengah


Sesaat Leo tertawa lepas melihat ekspresi menggemaskan itu.


"iihh aku serius kak!" masih dengan suara tinggi


"Iya, iya, makanya berhenti buat wajah jelek begitu. Uda ah, aku


harus pergi. Baik-baik disini sweety. Hah, aku pasti akan sangat


merindukan wajah bakpao-mu itu. Dahh sayangku," Leo mengerling sebelum


akhirnya meneruskan langkah masuk menujuh pesawat. Tangannya


melambai-lambai tanpa berbalik lagi hingga sosoknya hilang dari sana.


Aku juga pasti akan sangat merindukanmu kak...


****


"Kita makan siang dulu," ucap Ellard ditengah kegiatannya menyetir.


Tidak ada jawaban. Ellard mengalihkan tatapannya pada Ara yang


ternyata tengah melamun dengan pandangan yang terarah ke sepanjang


jalanan diluar. Sejak mereka keluar dari bandara, Ara memang kerap kali


didapatinya melamun. Gadis itu mendadak menjadi pendiam. Padahal


sebelumnya, dialah satu-satunya yang paling cerewet sepanjang acara


perpisahan dengan Leo tadi. istrinya itu bertingkah layaknya ditinggal


pergi oleh kekasih. Padahal dirinya, yang notabene-nya adalah suaminya


sama sekali hampir terabaikan.

__ADS_1


Ellard benci hal ini. Apalagi ketika melihat airmata dan


tatapan tidak rela melepaskan itu dari istrinya. Ingin rasanya detik


itu juga dia membunuh sosok lelaki yang menjadi sumber kesedihan


istrinya. Ellard tidak bodoh. Dia tahu tatapan penuh cinta itu tertujuh


hanya untuk satu orang. Bukan dirinya. Melainkan sahabat sialan


istrinya. Bahkan sejak tadi dia berusaha sekuat tenaga meredam


amarahnya. Oh ayolah, suami mana yang tidak murka melihat istri yang


dicintainya berpelukan mesra dengan lelaki lain didepan mata. Mungkin


hanya dirinya yang berhasil menampilkan topeng terbaiknya. Bersikap


tenang seolah drama sentimental dihadapannya bukanlah apa-apa.


"Ara—" panggilnya lagi


"Ha?" Ara berjengit, tersadar dari lamunannya. Dia menatap Ellard dengan tatapan bertanya


"Kita makan di restaurant dekat kantorku,"


"Hm, aku tidak lapar. Bisakah aku langsung pulang saja?" aku Ara


tidak enak. Sebenarnya bukan hanya karna dirinya sedang tidak lapar,


tapi mendadak moodnya juga tidak bersemangat sejak kepergian Leo.


"Tapi sejak keluar rumah tadi kau belum ada makan apapun,"


"Ntahlah. Hanya saja aku memang sedang tidak lapar,"


"Tidak ada penolakan. Kita akan tetap makan" putus Ellard sepihak


"Tapi aku memang—"


"Aku sedang tidak ingin dibantah Ara," tekan Ellard.


Ara terdiam. Dia tidak lagi mengeluarkan suara. Ada nada geraman


diakhir kalimat lelaki itu, hingga membuat Ara bungkam. Ada apa dengan


suaminya itu? kenapa mendadak dia terlihat seperti marah? Kalau benar, kesalahan apa yang telah dilakukannya hingga bisa memancing emosi lelaki itu?


Semua perkiraan-perkiraan itu, disimpannya didalam kepala. Tidak


berani untuk menanyakan lebih. Apalagi saat ini Ellard dengan


tiba-tibanya menambah laju kecepatan mobil mereka hingga membuat Ara


mengeratkan pegangannya pada seatbealt.


****


Dan disinilah mereka berakhir. Di salah satu restauran yang cukup


ramai dikunjungi para pekerja kantor yang datang untuk sekedar menikmati


makan siang mereka.


Dihadapan mereka telah tersaji makanan yang telah dipesan oleh


Ellard. Beberapa makanan khas prancis diantaranya beef burguignon, Soupe


a l'oignon, Langue de Boeuf dengan hidangan penutupnya adalah crepes


dan creme brulee. Makanan itu sangat menarik hati. Namun tidak dengan


Ara. Sejak tadi dia duduk gelisah disana. Ditambah lagi tatapan beberapa


pasang mata yang menatap mereka sejak tadi. Baiklah, mereka menatap


Ellard dengan penuh pemujaan. Tapi bagaimana dengan dirinya? samar-samar


Ara bisa mendengar bisikan mencemooh mereka terhadap dirinya. Ara


meremas ujung bajunya.


Ellard sadar ketidaknyamanan istrinya itu. Namun kali ini dia


berpura-pura seolah tidak tahu. Dia meneruskan kegiatannya memotong


"El— ellard...." cicit Ara


Ellard bergeming. Berpura-pura tidak mendengar. Ara menghembuskan


nafas. Dia lupa kalo suaminya itu tidak akan menyahut jika dia


memanggilnya dengan sebutan itu.


"Sayang—"


"Hm"


"Kita pindah ya"


"Kenapa?"


"Yang lain ngelihatin kesini"


Ellard mengangkat kepalanya yang sejak tadi sibuk dengan makanannya. Mengangkat alis menatap pada Ara


"Lalu apa masalahnya? mereka juga punya mata,"


"Ak—aku enggak nyaman dilihatin begitu. Kita ambil yang private room aja ya?"


Private room. Lagi-lagi ruangan itu. Kenapa saat bersamanya


istrinya itu selalu bertindak sembunyi-sembunyi. Seolah tidak ingin


orang lain mengetahui hubungan mereka sampai kapan pun. Padahal dia


suaminya. Lelaki yang paling berhak atas dirinya. Sementara dengan Leonard sialan itu, Ara tidak pernah malu muncul bersama didepan umum. Bahkan sampai acara berpelukan.


Sial!


Ellard mengetatkan genggamannya pada sendok ditangannya.


"Mulai sekarang tidak ada private room atau hal-hal yang berbau


sembunyi. Kau istriku. Dan dunia harus tahu itu," ujar Ellard dingin


"Tapi bukankah kita sudah sepakat dengan hal ini sebelumnya,"


"Sekarang tidak!"


"Ellard—"


"Makan. Ara." ucap Ellard penuh penekanan "atau perlu aku menciummu disini sekarang?"


Ara membeku. Benarkah yang dihadapannya ini adalah suaminya? kenapa


terlihat begitu asing? Ara memutuskan tatapannya pada Ellard. Menunduk


dan mulai mengunyah makanannya walaupun dia tidak berselerah.


Mereka akhirnya makan dalam diam. Tidak ada yang mengeluarkan suara.


Untuk pertama kalinya setelah menikah, mereka dalam suasana mencekam


begini. Biasanya mereka akan selalu berbincang hangat disertai guyonan


konyol Ellard yang tidak ada habis-habisnya.


"El—"


Suara lembut itu berhasil menarik perhatian pasangan suami istri yang tengah diam-diaman itu.


"Cla?" Ellard kaget. Dia berdiri dari duduknya


Gadis itu tersenyum manis. Lalu dengan semangatnya dia menghambur


kedalam pelukan Ellard yang sama sekali belum siap hingga hampir saja


dirinya terjungkal.


"Sudah lama sekali. Aku sangat merindukanmu El," kata Cla semakin mengencangkan pelukannya.


Ellard mengerjap. Tatapannya tanpa sengaja menatap Ara yang juga menatapnya melongoh.


"Eh, I—iya Cla," Ellard menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. "Ehem... sebaiknya kita duduk dulu Cla,"

__ADS_1


Cla melepaskan pelukannya tanpa memudarkan senyumnya yang mereka.


Keduanya kembali duduk dengan Cla yang sekarang berada ditengah.


"Kemana saja kau selama ini?" Tanya Ellard


"Aku di Rusia. Menjalani terapi disana,"


"Lalu bagaimana hasilnya sekarang?" Nada suara Ellard berubah kahwatir


"Jauh lebih baik. dokter yang menanganiku mengatakan aku berhasil


sembuh dari Leukimia setelah dua tahun penuh menjalani radioterapi,"


"Syukurlah. Aku turut bahagia mendengarnya," Ellard tersenyum mengusap puncak kepala Cla lembut.


Cla. Lebih tepatnya Clarissa Veronica Xander adalah sahabat Ellard


semasa menjalani kuliah di harvard hingga sekarang. Keduanya telah


menjadi sangat dekat. Dan Ellard menyayangi gadis itu. Selama beberapa


tahun mereka terpaksa berpisah karna penyakit serius yang diderita gadis


itu dulu. Hingga memerlukan pengobatan yang serius. Ellard tidak


sempat menengok sahabatnya itu ketika menjalani hari-hari terapinya


karna setelah menyelesaikan kuliahnya, dia langsung dibebankan tanggung


jawab meneruskan perusahaan raksasa milik keluarganya.


"Oya, kau makan sendiri disini?" Tanya Cla


"Tidak. Dengan gadis yang disebelahmu itu," tunjuk Ellard pada Ara dengan dagunya


"Oh, astaga! maaf kan aku, aku sama sekali tidak memperhatikanmu," kaget Cla tanpa sadar menguncang-guncang lengan Ara.


"Ah, bukan masalah" Ara tersenyum kikuk. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Percayalah, sebenarnya dia sudah mengambil ancang-ancang untuk lari


dari reuni kedua sahabat itu. Namun sayangnya, dewi fortuna sepertinya


tidak sedang berpihak padanya.


"Siapa gadis manis ini El? tanya Cla penasaran. Pasalnya setahunya El


tidak pernah mau makan ditemani wanita manapun selain dengan dirinya


dulu.


"Temannya—"


"Istriku—"


Sepasang suami itu menjawab serentak. Cla mengerutkan kening bingung. Sementara Ara menelan ludah susah payah.


Ellard mendecih. Sudah menduga lagi-lagi istrinya itu akan menyangkal.


"Sebenarnya siapa kalian yang benar ini?" gerutu Cla


"Dia Aurora Beatrix Miller, Istriku. Kami baru menikah dua minggu


lalu," jelas Ellard begitu lancar sambil melayangkan smirk penuh


kemenangannya pada Ara.


"Me—menikah? Kau sudah menikah?"kejut Cla


"Iya. Maaf tidak memberitahumu Cla, waktu itu aku terlalu sibuk"


"Oh, it's ok. Aku turut bahagia mendengarnya,"


"Terimakasih Cla," ellard mengacak gemas surai Cla "Baiklah berhubung


kau sudah disini, sebaiknya kita makan bersama. Dan tidak ada


penolakan," ultimatumnya langsung


"Tsk, dasar pemaksa" decih Cla


"I am" sahut Elllard santai mengedikkan bahunya.


Pada akhirnya ketiganya makan bersama. Ellard memesan makan lebih


banyak lagi. Suasana yang tadinya begitu dingin kini berubah ceria sejak


kehadiran Cla ditengah-tengah mereka. Gadis itu banyak bercerita


tentang hari-harinya selama menjalani perawatan di rusia. Namun


ketahuilah sebenarnya jauh didalam lubuk hati gadis berambut blonde itu,


hatinya merasakan sakit namun dia berhasil segera menutupinya dengan


keceriaan palsu yang dimilikinya.


Clarissa sudah lama memendam perasaan lebih untuk Ellard. Bukan


sebagai sahabat, tetapi sebagai seorang pria. Namun dia tidak berani


menyatakannya. Ditambah lagi penyakit yang pernah dideritanya dulu,


membuat dirinya langsung menutup perasaannya. Tidak ada harapan bagi


seorang pesakitan seperti dirinya. Sampai suatu ketika harapan akan


hidup itu mulai muncul. Orang tuanya membopongnya ke Rusia menjalani


terapi selama dua tahun penuh disana. Dan selama itu dirinya tidak


pernah sehari pun melewatkan berita tentang Ellard, lelaki yang menjadi


alasannya semangat untuk sembuh. Alhasil, setelah dua tahun dokter


memfonisnya telah sembuh total dari penyakit kanker darah tersebut.


Cla sangat bahagia mendengar berita kesembuhannya itu. Hingga tanpa


menunggu waktu yang lebih lama lagi, dia datang kembali ke NY untuk


menemui lelaki pujaannya dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada


lelaki itu. Namun baru saja bahagia itu menghampiri, kini hatinya


merasakan dua kali lebih sakit saat mendengar dari mulut Ellard sendiri


bahwa dirinya sudah menikah. Seketika mimpi yang Cla bangun hancur saat


itu juga.


Cla melirik pada Ara yang tengah meneguk minumannya. Gadis itu memang


gendut namun terlihat sangat manis. dan tidak akan pernah bosan


memandang wajah chubby itu berulangkali.


Haruskah dirinya menyerah secepat ini? Setelah perjuangannya yang mati-matian berhasil sembuh demi bersatu dengan Ellard. Tidak! Dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Ellard adalah miliknya. Dan


selamanya akan tetap menjadi miliknya. Anggaplah sekarang dirinya sudah


gila karna telah berencana merebut kembali lelaki itu dari sisi


istrinya. Tapi dirinya sudah tidak mempedulikan itu. Rencananya harus


berhasil.


Maafkan aku Ara. Aku tidak bisa merelakan Ellard begitu saja. Dia milikku...


To be continued


Ellard O'Neill Miller



Aurora Beatrix Louis



Axcel Gabriel Leonard



Clarissa Veronica Xander

__ADS_1



__ADS_2