Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Lima


__ADS_3

HAPPY READING


.


.


Di pagi hari, Ellard disibukkan


dengan bahan-bahan masakan yang telah disediakan pelayannya untuk dimasak. Ia


bangun pagi-pagi sekali. Bekerja sebentar, olahraga, setelahnya mandi lalu


turun ke bawah dengan bertelanjang dada— sedang bawahannya mengenakan celana


sweatpants. Ia turun tangan sendiri memasak sarapan pagi untuk dirinya dan


istrinya. Hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Ketakutan akan


Ara yang akan pergi darinya masih terus menghantui.


Setelah cukup lama ia berkutat


dengan masakan, akhirnya semua selesai dan langsung dihidangkan di atas meja.


Derap langkah yang terdengar menghampiri dapur membuat Ellard menyunggingkan


senyum. Ara masih memakai piyama tidur dan rambutnya di cepol sembarang.


Kentara sekali perempuan itu belum mandi. Hanya membasuh wajah dan gosok gigi.


Kebiasaan Ara jika hanya di rumah.


“Morning sayang” sapa Ellard


Ara tidak menyahut. Ia mengambil


jus kemasan di kulkas, menuangkannya dalam gelas lalu meminumnya sampai habis.


Wajahnya tertata datar tanpa mempedulikan keberadaan Ellard di sana. Merasa


tidak diacuhkan, Ellard menghampiri lalu menarik sikunya pelan hingga tatapan


Ara menatapnya sepenuhnya.


“Aku sudah masak. Kita sarapan


bersama” ucap Ellard lembut sembari membawanya keluar meninggalkan dapur dan


langsung mendudukkannya di kursi tepat dihadapan meja makan.


“Aku enggak lapar” tolak Ara,


segera bangkit dari kursi hendak pergi namun dengan sigap Ellard menahan


bahunya dan kembali membuatnya terduduk.


“Jangan berbohong. Semalam kamu


belum ada makan sama sekali. Sekarang makan dulu. aku enggak mau kamu sakit”


sergah Ellard, mulai menyendokkan nasi ke dalam piring


“Aku sudah sakit” pelan, namun


sanggup membuat gerakan tangan Ellard yang hendak mengambilkan lauk-pauk


terhenti. Ia menoleh dan mendapati Ara bergeming menatap hidangan di depannya


tanpa ekspresi.


Ia jelas mengerti makna kata sakit yang diucapkan Ara. Wanita itu


sama sekali belum melupakan kejadian semalam. Tentu saja, Ara tidak akan lupa


atau pun memang tidak akan pernah melupakan— mengingat luka yang ia torehkan


sangat besar.


“Aku tahu,” tercekat, Ellard


berucap lirih. Dia kembali melanjutkan meletakkan jenis makanan kedalam piring,


menggeser rapat kursinya dengan Ara. Ellard menyendokkan makanan lalu


mengarahkan suapan itu tepat di depan mulut Ara yang masih tertutup


“Sayang, buka mulutnya” pintanya


menunggu


Ara masih bergeming. Ellard


menghela nafas, “atau kamu mau kusuapi pakai mulutku saja?” ucapnya, mencoba


peruntungan “kedengarannya cara itu lebih menarik. Lagipula sudah lama kita


tidak melakukannya. Transfer makanan dari mulut ke mul—“


“Aku bisa makan sendiri” potong


Ara cepat seraya menarik piring dari tangan Ellard dan langsung memakannya.


Ellard mengulum senyum. Gadisnya


ini ternyata masih takut dengan ancamannya yang begituan.


“Good wifey” kekeh Ellard


mengusap-usap puncak kepala Ara


Ellard memangku dagunya,


menikmati pemandangan istrinya yang makan dengan santai tanpa mempedulikan


kehadirannya di sebelah.


“Kamu enggak makan?” Ara


menautkan alis saat Ellard hanya memandanginya sejak tadi


“Gimana mau makan kalo jatah aku


udah kamu makan sendiri semua” sahutnya sambil menunjuk dengan dagu piring Ara


Ara mengangkat sebelah alis, “Itu


disana masih banyak. Kamu ambil lagi”


“Ck, enggak bisa sayang. Aku uda


sendokin dipiring kamu untuk kita berdua.” Decak Ellard “malas mau ambil lagi”


lanjutnya mengerucutkan bibir


Ara menghembuskan nafas kasar,


ingin mengabaikan lelaki yang telah menyakitinya ini namun hatinya yang lain


tidak tega. Biar bagaimana pun ia masih berstatus sebagai istrinya dan sudah


seharusnya dialah yang melayani suaminya ini.


“Buka mulut” suruh Ara pada


akhirnya— dengan nada yang masih dingin


kontan Ellard langsung menegakkan


tubuhnya mendengar perintah itu. ia tersenyum samar, karna pada akhirnya


istrinya ini tetap tidak akan benar-benar tega mengabaikan kebutuhan makannya.


Mereka makan dalam diam. Ara


terus menyuapinya sambil ikut memakan semua hidangan yang tersaji, sedang


lelaki itu terus menatap fokus padanya tanpa sudi mengalihkan pandangan ke arah


lain. Ditatap sebegitu intens membuat Ara jadi kikuk sendiri, wajahnya memanas.


Demi apapun, ia mati-matian mempertahankan ekspresinya agar tetap datar namun


sial, kini gentian malah jantungnya yang berdebar tak karuan.


“Wajah kamu memerah” celetuk


Ellard setelah suapan Ara yang terakhir.


Ara tidak mengubris. Ia memilih membawa


semua piring bekas makan mereka ke kitchen sink dan mencucinya disana. Merasa


lagi-lagi diabaikan, Ellard menghampiri Ara lalu dengan santainya ia memeluk


wanita itu dari belakang. Ellard menciumi leher wanitanya dengan intens.


“Hentikan, aku sedang mencuci


piring” peringat Ara dingin


Ellard mengecup leher Ara,


sebelum berucap “Please, Jangan mengabaikanku lagi, sayang” pintanya dengan


menyandarkan dagu pada bahunya

__ADS_1


“hubungan kita tidak sedang tidak


sebaik itu, kalau kamu lupa” tekan Ara, dengan tangan yang tetap membersihkan


piring bekas sarapan mereka.


“Aku tahu. Tapi bisakah kamu


memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semua kerusakan yang kuperbuat? Akan


kupastikan semua akan kembali baik-baik lagi seperti semula”


“Dan apa kamu pikir semua akan


kembali seperti sedia kala dengan semudah itu?”


“Akan kucoba semampuku, Ara.


Segala cara akan kulakukan agar hubungan kita membaik”


Ara membilas gelas terakhir lalu


melepaskan hand glove dan dengan


cepat berbalik hingga membuat lingkaran tangan Ellard di pinggangnya terlepas,


netranya menyorot Ellard tajam. “Termasuk menikahi Clarissa?”


“A-apa?” Ellard tercekat, “berhenti


bicara omong kosong, Ara”


“Itu bukan omong kosong,


melainkan fakta. Apalagi sekarang dia sedang mengandung bayimu. Jadi, dimana


letak omong kosongnya?”


Untuk sesaat Ellard terdiam.


Kata-kata Ara kembali menyadarkannya akan dosa hasil perbuatannya. Ia


mengepalkan kedua tangan disisi. Rahangnya mengetat.


“Sampai kapan pun aku tidak akan


menikah lagi. Selamanya hanya kamu yang akan menjadi istriku satu-satunya. Aku


memang telah melakukan kesalahan besar dan menodai pernikahan kita. Dan aku


sangat menyesalinya.” Serak, Ellard frustasi “Aku akan tetap bertanggung jawab


dengan anak itu. Tapi tidak dengan menikahi clarissa”


Ara tertawa sinis. “Apa kamu


pikir semudah itu, El? TIDAK SADARKAH KAMU KALAU SELAMA INI CLARISSA SANGAT


TEROBSESI DENGANMU?!” jerit Ara murka


Ellard terdiam kakuh. Kenyataan


baru ini begitu menyentaknya


“Dia tidak murni menganggapmu


sebagai sahabat. Dia menginginkanmu begitu banyak—hingga sanggup melakukan


segala macam cara untuk mendapatkanmu” ungkap Ara sambil menyeka kasar air


matanya yang entah sejak kapan sudah keluar.


Ellard mengatupkan rahangnya


rapat. Seolah tidak mampu membalas perkataan Ara.


“Aku lelah. Terserah kamu mau


melakukan apapun. Silahkan bereskan sendiri kekacauan yang telah kalian


perbuat,” tandas Ara hendak berlalu dari sana, namun dengan cepat Ellard menahan


lengannya


“Ara kita belum sele—“


“Tuan” sela Blake yang datang


tiba-tiba dengan raut wajah yang tegang


Ellard menatap Blake tanpa


melepaskan tangan Ara dalam cekalannya “Ada apa Blake?” geram Ellard


tuan dan nonanya yang tampak kacau. Sepertinya dia datang diwaktu yang tidak


tepat.


“Jika hal yang tidak penting


sebaiknya kau—“


“Nona Clarissa masuk ruang ICU,


Tuan” potong Blake cepat


Mendengar berita menggemparkan


itu, sontak membuat pegangannya pada tangan Ara terlepas.


“A-apa? ICU?” Ellard tergagap,


raut wajahnya seketika berubah tegang dan hal yang sama juga terjadi pada Ara.


“Iya tuan. Subuh tadi nona


Clarissa mencoba bunuh diri dengan meminum banyak pil obat tidur dan menyayat


tangannya sendiri” lapor Blake


Tiba-tiba Ellard tertawa keras namun


begitu mengerikan, “Astaga… drama apa lagi ini?” Ellard menggeleng tak habis


pikir


“Ini bukan drama tuan. Nona


Clarissa sedang berjuang melewati masa kritis di rumah sakit. Disana juga ada


Oma dan ayah anda menunggui. Dan kedatangan saya kesini karna Tuan Holland yang


meminta saya menyampaikan berita ini kepada anda dan nona. Tuan meminta anda


berdua agar segera datang ke rumah sakit”


Damn it!!!


Bahkan sekarang ayahnya pun sudah


mengetahui masalah yang menimpahnya. Pria parubaya itu pasti sangat kecewa padanya.


Ellard berulangkali menyugar rambutnya kasar, sedang mulutnya terus


mengeluarkan kata umpatan.


“Katakan pada daddy kami akan


segera kesana” dingin, Ara yang menjawab, setelah sejak tadi hanya terdiam


kakuh. Ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.


“Ara…” erang Ellard, menggeleng


frustasi sedang matanya memerah. Perasaan buruk tiba-tiba merasuki dirinya.


Tidak bisa membayangkan hal buruk apa lagi yang akan menimpah rumah tangganya.


“Selesaikan semua hari ini” ucap


Ara penuh penekanan, sementara matanya menyorot luka yang begitu jelas.


****


Ruangan VIP itu hening, tidak ada


yang bersuara kecuali dokter yang masih sibuk mengecek keadaan Clarissa yang


baru saja telah melewati masa kritisnya. Clarissa terbaring lemah dalam keadaan


pucat pasi di atas ranjang rumah sakit. Gadis itu belum sadarkan diri setelah


melewati rangkaian pengobatan intensive tadi. Sementara diluar ruangan kedua


orang tua Clarissa, oma, dan Holand menunggu dengan cemas.


“Dad..” Ellard dan Ara baru


sampai ke depan ruang rawat inap Clarissa. Raut ketegangan Nampak jelas di


wajah keduanya.


Holland maju kedepan Ellard


dengan tatapan yang sulit diartikan

__ADS_1


BUGG


Sekeras-kerasnya Holland menonjok


pipi Ellard hingga dia terdorong mundur ke belakang dan nyaris menabrak


dinding. Bibir Ellard sobek, dan Holland kembali menghampiri, menonjok berulang


kali wajah anak semata wayang yang selama ini sangat di bangga-banggakannya—


kini telah merusak gadis yang adalah sahabatnya sendiri hingga hamil.


“Damn you, Son! Bagamana bisa


kamu melakukan hal sekotor ini?! Bagaimana bisa?!” Holland terus menghantam


tubuh Ellard, tidak ada satu pun dari antara mereka yang melerai, bahkan Ellard


tidak sedikit pun melawan. Membiarkan ayahnya memukuli sampai dia puas dan


babak belur. Sementara Ara hanya bisa terdiam dan membuang pandangannya ke arah


lain, sedang kedua tangannya terkepal kuat disisi.


Sepanjang perjalanan menujuh


rumah sakit tadi, dalam hati Ara tidak berhenti berdoa untuk keselamatan


Clarissa. Ia berharap Clarissa masih bisa di tolong.


“Kenapa harus Clarissa?! Sementara


kamu sudah punya istri, sialan!!” sentak Holland murka sarat akan kekecewaan


Napas Ellard terputus-putus,


darah mengalir dari hidungnya cukup banyak, ia menunduk. “Aku tidak sadar


melakukannya, Dad. I’m so sorry…”


“Maaf saja tidak berguna


brengsek!” umpat Holland, “kamu lihat, gadis itu bahkan mau mengakhiri hidupnya


karna kamu tidak mengakui anak dalam kandungannya”


Ellard terdiam, tidak mampu untuk


menjawab ucapan ayahnya. Namun dalam keadaannya yang masih terdiam tersebut,


tiba-tiba seseorang menarik sikunya kuat hingga berbalik dan


PLAKK


Diana, ibu dari Clarissa melayangkan


tamparan keras  ke wajahnya. Bahu wanita


parubaya itu naik turun akibat gejolak emosi yang sejak tadi ia redam kala


mengetahui alasan dibalik putrinya yang hendak mengakhiri hidupnya


“Bajingan kamu” desis Diana “saya


pikir kamu adalah pria baik-baik yang bisa menjaga putri saya, namun nyatanya


kamu tak ada ubahnya dengan binatang!!” teriak Diana “GARA-GARA KAMU, SAYA


HAMPIR KEHILANGAN PUTRI SAYA BRENGSEK!!!” lanjut Diana, memukuli badan Ellard


berang


“Diana, hentikan!” sergah Arnold


seraya langsung menarik istrinya kedalam pelukan


“Kenapa kau menghentikanku! Dia patut


mendapatkannya. Putri kita hampir celaka, Arnold!!” raung Diana masih berusaha


memberontak agar dilepaskan namun tidak bisa karna Arnold memeluknya begitu


kuat.


“Diana, tenanglah. Kita bisa


membicarakan ini secara baik-baik” Arnold berusaha menenangkan


“Maafkan saya Om, tante” lirih


Ellard menunduk putus asa.


Sejenak keadaan disana berangsur


hening, kecuali hanya ada suara isak Diana yang tergugu dalam pelukan suaminya.


Holland menyugar rambut frustasi seraya sesekali menendang dinding rumah sakit,


Ellard masih setia berdiri ditempatnya dengan kepala menunduk dan oma…


“Puas kamu sekarang?” sinis oma


yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Ara


“Maksud oma?” tanya Ara sama


sekali tidak mengerti


“Kamu lihat, gara-gara Ellard yang


bersikeras mempertahankanmu, keluarga Xander hampir kehilangan putri mereka!


Clarissa mencoba bunuh diri karna Ellard tidak mengakui anak dalam


kandungannya. Apa lagi kalau semua ini bukan karna kamu yang menjadi penyebab


satu-satunya kekacauan disini sekarang” tuding Oma tajam


“Jadi, kali ini pun semua karna


kesalahanku, Oma?” lirih Ara dengan suara parau


“Tentu saja. Kamu pikir siapa


lagi?” jawab oma tanpa perasaan “Lagian kamu seharusnya bersyukur karna


keluarga Miller akhirnya memiliki calon pewaris, sekalipun itu diluar


pernikahan. Sementara kamu sampai saat ini pun belum bisa memberikan keturunan


bagi keluarga ini!”


DEG


Dada Ara berdentam nyeri ketika


kalimat menyakitkan itu keluar dengan lancarnya dari mulut oma. Sakit sekali. Sungguh,


Ara tidak menyangka bahwa kekurangannya kali ini pun dijadikan boomerang oleh oma


untuk menutupi dosa yang diperbut oleh cucunya sendiri dan Clarissa. Air mata


yang sejak tadi tertahan dipelupuk mata kini meluruh jatuh.


“Baiklah oma, kalau ini semua juga


karna aku— aku akan memperbaikinya sekarang” Ara menyeka kasar air matanya. Berbalik,


menghela langkah maju ke hadapan ke empat orang di depannya sana.


“Ellard…” panggil Ara dengan


lirih, matanya basah.


Ellard mendongak, menatap


istrinya yang kini telah berdiri tepat dihadapannya. Begitupun dengan Holland


dan Arnold beserta istrinya, menoleh ke arah Ara.


Ara meraih tangan Ellard yang


sejak tadi terkepal, membukanya lalu menggenggam jemari lelaki tersebut.


“Ara…”


Ara menarik nafas panjang,


“Ellard…, Menikahlah dengan


Clarissa.”


To be continued


Untuk info cerita lebih lanjut cek di IG: rianitasitumorang yahh 😉


See youuuuu


ELLARD O'NEILL MILLER



AURORA BEATRIX MILLER


__ADS_1


__ADS_2