
HAPPY READING
.
.
Di pagi hari, Ellard disibukkan
dengan bahan-bahan masakan yang telah disediakan pelayannya untuk dimasak. Ia
bangun pagi-pagi sekali. Bekerja sebentar, olahraga, setelahnya mandi lalu
turun ke bawah dengan bertelanjang dada— sedang bawahannya mengenakan celana
sweatpants. Ia turun tangan sendiri memasak sarapan pagi untuk dirinya dan
istrinya. Hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Ketakutan akan
Ara yang akan pergi darinya masih terus menghantui.
Setelah cukup lama ia berkutat
dengan masakan, akhirnya semua selesai dan langsung dihidangkan di atas meja.
Derap langkah yang terdengar menghampiri dapur membuat Ellard menyunggingkan
senyum. Ara masih memakai piyama tidur dan rambutnya di cepol sembarang.
Kentara sekali perempuan itu belum mandi. Hanya membasuh wajah dan gosok gigi.
Kebiasaan Ara jika hanya di rumah.
“Morning sayang” sapa Ellard
Ara tidak menyahut. Ia mengambil
jus kemasan di kulkas, menuangkannya dalam gelas lalu meminumnya sampai habis.
Wajahnya tertata datar tanpa mempedulikan keberadaan Ellard di sana. Merasa
tidak diacuhkan, Ellard menghampiri lalu menarik sikunya pelan hingga tatapan
Ara menatapnya sepenuhnya.
“Aku sudah masak. Kita sarapan
bersama” ucap Ellard lembut sembari membawanya keluar meninggalkan dapur dan
langsung mendudukkannya di kursi tepat dihadapan meja makan.
“Aku enggak lapar” tolak Ara,
segera bangkit dari kursi hendak pergi namun dengan sigap Ellard menahan
bahunya dan kembali membuatnya terduduk.
“Jangan berbohong. Semalam kamu
belum ada makan sama sekali. Sekarang makan dulu. aku enggak mau kamu sakit”
sergah Ellard, mulai menyendokkan nasi ke dalam piring
“Aku sudah sakit” pelan, namun
sanggup membuat gerakan tangan Ellard yang hendak mengambilkan lauk-pauk
terhenti. Ia menoleh dan mendapati Ara bergeming menatap hidangan di depannya
tanpa ekspresi.
Ia jelas mengerti makna kata sakit yang diucapkan Ara. Wanita itu
sama sekali belum melupakan kejadian semalam. Tentu saja, Ara tidak akan lupa
atau pun memang tidak akan pernah melupakan— mengingat luka yang ia torehkan
sangat besar.
“Aku tahu,” tercekat, Ellard
berucap lirih. Dia kembali melanjutkan meletakkan jenis makanan kedalam piring,
menggeser rapat kursinya dengan Ara. Ellard menyendokkan makanan lalu
mengarahkan suapan itu tepat di depan mulut Ara yang masih tertutup
“Sayang, buka mulutnya” pintanya
menunggu
Ara masih bergeming. Ellard
menghela nafas, “atau kamu mau kusuapi pakai mulutku saja?” ucapnya, mencoba
peruntungan “kedengarannya cara itu lebih menarik. Lagipula sudah lama kita
tidak melakukannya. Transfer makanan dari mulut ke mul—“
“Aku bisa makan sendiri” potong
Ara cepat seraya menarik piring dari tangan Ellard dan langsung memakannya.
Ellard mengulum senyum. Gadisnya
ini ternyata masih takut dengan ancamannya yang begituan.
“Good wifey” kekeh Ellard
mengusap-usap puncak kepala Ara
Ellard memangku dagunya,
menikmati pemandangan istrinya yang makan dengan santai tanpa mempedulikan
kehadirannya di sebelah.
“Kamu enggak makan?” Ara
menautkan alis saat Ellard hanya memandanginya sejak tadi
“Gimana mau makan kalo jatah aku
udah kamu makan sendiri semua” sahutnya sambil menunjuk dengan dagu piring Ara
Ara mengangkat sebelah alis, “Itu
disana masih banyak. Kamu ambil lagi”
“Ck, enggak bisa sayang. Aku uda
sendokin dipiring kamu untuk kita berdua.” Decak Ellard “malas mau ambil lagi”
lanjutnya mengerucutkan bibir
Ara menghembuskan nafas kasar,
ingin mengabaikan lelaki yang telah menyakitinya ini namun hatinya yang lain
tidak tega. Biar bagaimana pun ia masih berstatus sebagai istrinya dan sudah
seharusnya dialah yang melayani suaminya ini.
“Buka mulut” suruh Ara pada
akhirnya— dengan nada yang masih dingin
kontan Ellard langsung menegakkan
tubuhnya mendengar perintah itu. ia tersenyum samar, karna pada akhirnya
istrinya ini tetap tidak akan benar-benar tega mengabaikan kebutuhan makannya.
Mereka makan dalam diam. Ara
terus menyuapinya sambil ikut memakan semua hidangan yang tersaji, sedang
lelaki itu terus menatap fokus padanya tanpa sudi mengalihkan pandangan ke arah
lain. Ditatap sebegitu intens membuat Ara jadi kikuk sendiri, wajahnya memanas.
Demi apapun, ia mati-matian mempertahankan ekspresinya agar tetap datar namun
sial, kini gentian malah jantungnya yang berdebar tak karuan.
“Wajah kamu memerah” celetuk
Ellard setelah suapan Ara yang terakhir.
Ara tidak mengubris. Ia memilih membawa
semua piring bekas makan mereka ke kitchen sink dan mencucinya disana. Merasa
lagi-lagi diabaikan, Ellard menghampiri Ara lalu dengan santainya ia memeluk
wanita itu dari belakang. Ellard menciumi leher wanitanya dengan intens.
“Hentikan, aku sedang mencuci
piring” peringat Ara dingin
Ellard mengecup leher Ara,
sebelum berucap “Please, Jangan mengabaikanku lagi, sayang” pintanya dengan
menyandarkan dagu pada bahunya
__ADS_1
“hubungan kita tidak sedang tidak
sebaik itu, kalau kamu lupa” tekan Ara, dengan tangan yang tetap membersihkan
piring bekas sarapan mereka.
“Aku tahu. Tapi bisakah kamu
memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semua kerusakan yang kuperbuat? Akan
kupastikan semua akan kembali baik-baik lagi seperti semula”
“Dan apa kamu pikir semua akan
kembali seperti sedia kala dengan semudah itu?”
“Akan kucoba semampuku, Ara.
Segala cara akan kulakukan agar hubungan kita membaik”
Ara membilas gelas terakhir lalu
melepaskan hand glove dan dengan
cepat berbalik hingga membuat lingkaran tangan Ellard di pinggangnya terlepas,
netranya menyorot Ellard tajam. “Termasuk menikahi Clarissa?”
“A-apa?” Ellard tercekat, “berhenti
bicara omong kosong, Ara”
“Itu bukan omong kosong,
melainkan fakta. Apalagi sekarang dia sedang mengandung bayimu. Jadi, dimana
letak omong kosongnya?”
Untuk sesaat Ellard terdiam.
Kata-kata Ara kembali menyadarkannya akan dosa hasil perbuatannya. Ia
mengepalkan kedua tangan disisi. Rahangnya mengetat.
“Sampai kapan pun aku tidak akan
menikah lagi. Selamanya hanya kamu yang akan menjadi istriku satu-satunya. Aku
memang telah melakukan kesalahan besar dan menodai pernikahan kita. Dan aku
sangat menyesalinya.” Serak, Ellard frustasi “Aku akan tetap bertanggung jawab
dengan anak itu. Tapi tidak dengan menikahi clarissa”
Ara tertawa sinis. “Apa kamu
pikir semudah itu, El? TIDAK SADARKAH KAMU KALAU SELAMA INI CLARISSA SANGAT
TEROBSESI DENGANMU?!” jerit Ara murka
Ellard terdiam kakuh. Kenyataan
baru ini begitu menyentaknya
“Dia tidak murni menganggapmu
sebagai sahabat. Dia menginginkanmu begitu banyak—hingga sanggup melakukan
segala macam cara untuk mendapatkanmu” ungkap Ara sambil menyeka kasar air
matanya yang entah sejak kapan sudah keluar.
Ellard mengatupkan rahangnya
rapat. Seolah tidak mampu membalas perkataan Ara.
“Aku lelah. Terserah kamu mau
melakukan apapun. Silahkan bereskan sendiri kekacauan yang telah kalian
perbuat,” tandas Ara hendak berlalu dari sana, namun dengan cepat Ellard menahan
lengannya
“Ara kita belum sele—“
“Tuan” sela Blake yang datang
tiba-tiba dengan raut wajah yang tegang
Ellard menatap Blake tanpa
melepaskan tangan Ara dalam cekalannya “Ada apa Blake?” geram Ellard
tuan dan nonanya yang tampak kacau. Sepertinya dia datang diwaktu yang tidak
tepat.
“Jika hal yang tidak penting
sebaiknya kau—“
“Nona Clarissa masuk ruang ICU,
Tuan” potong Blake cepat
Mendengar berita menggemparkan
itu, sontak membuat pegangannya pada tangan Ara terlepas.
“A-apa? ICU?” Ellard tergagap,
raut wajahnya seketika berubah tegang dan hal yang sama juga terjadi pada Ara.
“Iya tuan. Subuh tadi nona
Clarissa mencoba bunuh diri dengan meminum banyak pil obat tidur dan menyayat
tangannya sendiri” lapor Blake
Tiba-tiba Ellard tertawa keras namun
begitu mengerikan, “Astaga… drama apa lagi ini?” Ellard menggeleng tak habis
pikir
“Ini bukan drama tuan. Nona
Clarissa sedang berjuang melewati masa kritis di rumah sakit. Disana juga ada
Oma dan ayah anda menunggui. Dan kedatangan saya kesini karna Tuan Holland yang
meminta saya menyampaikan berita ini kepada anda dan nona. Tuan meminta anda
berdua agar segera datang ke rumah sakit”
Damn it!!!
Bahkan sekarang ayahnya pun sudah
mengetahui masalah yang menimpahnya. Pria parubaya itu pasti sangat kecewa padanya.
Ellard berulangkali menyugar rambutnya kasar, sedang mulutnya terus
mengeluarkan kata umpatan.
“Katakan pada daddy kami akan
segera kesana” dingin, Ara yang menjawab, setelah sejak tadi hanya terdiam
kakuh. Ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.
“Ara…” erang Ellard, menggeleng
frustasi sedang matanya memerah. Perasaan buruk tiba-tiba merasuki dirinya.
Tidak bisa membayangkan hal buruk apa lagi yang akan menimpah rumah tangganya.
“Selesaikan semua hari ini” ucap
Ara penuh penekanan, sementara matanya menyorot luka yang begitu jelas.
****
Ruangan VIP itu hening, tidak ada
yang bersuara kecuali dokter yang masih sibuk mengecek keadaan Clarissa yang
baru saja telah melewati masa kritisnya. Clarissa terbaring lemah dalam keadaan
pucat pasi di atas ranjang rumah sakit. Gadis itu belum sadarkan diri setelah
melewati rangkaian pengobatan intensive tadi. Sementara diluar ruangan kedua
orang tua Clarissa, oma, dan Holand menunggu dengan cemas.
“Dad..” Ellard dan Ara baru
sampai ke depan ruang rawat inap Clarissa. Raut ketegangan Nampak jelas di
wajah keduanya.
Holland maju kedepan Ellard
dengan tatapan yang sulit diartikan
__ADS_1
BUGG
Sekeras-kerasnya Holland menonjok
pipi Ellard hingga dia terdorong mundur ke belakang dan nyaris menabrak
dinding. Bibir Ellard sobek, dan Holland kembali menghampiri, menonjok berulang
kali wajah anak semata wayang yang selama ini sangat di bangga-banggakannya—
kini telah merusak gadis yang adalah sahabatnya sendiri hingga hamil.
“Damn you, Son! Bagamana bisa
kamu melakukan hal sekotor ini?! Bagaimana bisa?!” Holland terus menghantam
tubuh Ellard, tidak ada satu pun dari antara mereka yang melerai, bahkan Ellard
tidak sedikit pun melawan. Membiarkan ayahnya memukuli sampai dia puas dan
babak belur. Sementara Ara hanya bisa terdiam dan membuang pandangannya ke arah
lain, sedang kedua tangannya terkepal kuat disisi.
Sepanjang perjalanan menujuh
rumah sakit tadi, dalam hati Ara tidak berhenti berdoa untuk keselamatan
Clarissa. Ia berharap Clarissa masih bisa di tolong.
“Kenapa harus Clarissa?! Sementara
kamu sudah punya istri, sialan!!” sentak Holland murka sarat akan kekecewaan
Napas Ellard terputus-putus,
darah mengalir dari hidungnya cukup banyak, ia menunduk. “Aku tidak sadar
melakukannya, Dad. I’m so sorry…”
“Maaf saja tidak berguna
brengsek!” umpat Holland, “kamu lihat, gadis itu bahkan mau mengakhiri hidupnya
karna kamu tidak mengakui anak dalam kandungannya”
Ellard terdiam, tidak mampu untuk
menjawab ucapan ayahnya. Namun dalam keadaannya yang masih terdiam tersebut,
tiba-tiba seseorang menarik sikunya kuat hingga berbalik dan
PLAKK
Diana, ibu dari Clarissa melayangkan
tamparan keras ke wajahnya. Bahu wanita
parubaya itu naik turun akibat gejolak emosi yang sejak tadi ia redam kala
mengetahui alasan dibalik putrinya yang hendak mengakhiri hidupnya
“Bajingan kamu” desis Diana “saya
pikir kamu adalah pria baik-baik yang bisa menjaga putri saya, namun nyatanya
kamu tak ada ubahnya dengan binatang!!” teriak Diana “GARA-GARA KAMU, SAYA
HAMPIR KEHILANGAN PUTRI SAYA BRENGSEK!!!” lanjut Diana, memukuli badan Ellard
berang
“Diana, hentikan!” sergah Arnold
seraya langsung menarik istrinya kedalam pelukan
“Kenapa kau menghentikanku! Dia patut
mendapatkannya. Putri kita hampir celaka, Arnold!!” raung Diana masih berusaha
memberontak agar dilepaskan namun tidak bisa karna Arnold memeluknya begitu
kuat.
“Diana, tenanglah. Kita bisa
membicarakan ini secara baik-baik” Arnold berusaha menenangkan
“Maafkan saya Om, tante” lirih
Ellard menunduk putus asa.
Sejenak keadaan disana berangsur
hening, kecuali hanya ada suara isak Diana yang tergugu dalam pelukan suaminya.
Holland menyugar rambut frustasi seraya sesekali menendang dinding rumah sakit,
Ellard masih setia berdiri ditempatnya dengan kepala menunduk dan oma…
“Puas kamu sekarang?” sinis oma
yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Ara
“Maksud oma?” tanya Ara sama
sekali tidak mengerti
“Kamu lihat, gara-gara Ellard yang
bersikeras mempertahankanmu, keluarga Xander hampir kehilangan putri mereka!
Clarissa mencoba bunuh diri karna Ellard tidak mengakui anak dalam
kandungannya. Apa lagi kalau semua ini bukan karna kamu yang menjadi penyebab
satu-satunya kekacauan disini sekarang” tuding Oma tajam
“Jadi, kali ini pun semua karna
kesalahanku, Oma?” lirih Ara dengan suara parau
“Tentu saja. Kamu pikir siapa
lagi?” jawab oma tanpa perasaan “Lagian kamu seharusnya bersyukur karna
keluarga Miller akhirnya memiliki calon pewaris, sekalipun itu diluar
pernikahan. Sementara kamu sampai saat ini pun belum bisa memberikan keturunan
bagi keluarga ini!”
DEG
Dada Ara berdentam nyeri ketika
kalimat menyakitkan itu keluar dengan lancarnya dari mulut oma. Sakit sekali. Sungguh,
Ara tidak menyangka bahwa kekurangannya kali ini pun dijadikan boomerang oleh oma
untuk menutupi dosa yang diperbut oleh cucunya sendiri dan Clarissa. Air mata
yang sejak tadi tertahan dipelupuk mata kini meluruh jatuh.
“Baiklah oma, kalau ini semua juga
karna aku— aku akan memperbaikinya sekarang” Ara menyeka kasar air matanya. Berbalik,
menghela langkah maju ke hadapan ke empat orang di depannya sana.
“Ellard…” panggil Ara dengan
lirih, matanya basah.
Ellard mendongak, menatap
istrinya yang kini telah berdiri tepat dihadapannya. Begitupun dengan Holland
dan Arnold beserta istrinya, menoleh ke arah Ara.
Ara meraih tangan Ellard yang
sejak tadi terkepal, membukanya lalu menggenggam jemari lelaki tersebut.
“Ara…”
Ara menarik nafas panjang,
“Ellard…, Menikahlah dengan
Clarissa.”
To be continued
Untuk info cerita lebih lanjut cek di IG: rianitasitumorang yahh 😉
See youuuuu
ELLARD O'NEILL MILLER
AURORA BEATRIX MILLER
__ADS_1