
Pernikahan Ellard dan Clarissa
hanya diadakan di Gereja dan dihadiri oleh keluarga terdekat saja, mengingat
Ellard yang bersikeras menginginkan agar pernikahan ini tidak terekspos sampai
keluar. Jika tidak dituruti, ia mengancam tidak akan melanjutkan pernikahan
keduanya ini. Walaupun demikian, senyum manis tak urung menghiasi wajah cantik
Clarissa disepanjang dia memasuki Gereja dan kini telah berdiri disamping lelaki
yang dicintainya— dihadapan Pendeta yang siap membacakan sumpah pernikahan.
“Pernikahan adalah sesuatu yang
suci. Sebelum semua dimulai, jika ada yang keberatan dengan pernikahan ini,
kalian bisa berbicara sekarang atau diam selamanya”
Hening beberapa saat. Tidak ada
yang bersuara. Sampai kemudian…
“Tunggu,” selah Ellard didetik
Pendeta akan melanjutkan kembali ucapannya.
Mendengar ucapan menyelah itu,
kontan semua keluarga yang hadir disana menatap heran dan ada juga yang saling
berbisik satu dengan yang lain. Sementara Clarissa disamping, tiba-tiba raut
wajahnya berubah tegang— menoleh, menatap Ellard yang tampak bergeming
ditempatnya dengan raut wajah yang sulit didefinisikan.
“El—”
“Pernikahan ini tidak akan
dilanjut sebelum istriku Aurora ada disini,” rendah, Ellard berucap tegas
“Tapi El..”
“Baiklah kalau itu permintaan
anda. Kita akan menunggu” sahut Pendeta, menyetujui permintaan calon mempelai
pria.
Clarissa menganga, menatap tidak
percaya pada keputusan pendeta. Wajahnya berubah pias dan keringat dingin mulai
membanjiri telapak tangannya. Mendadak pikiran-pikiran buruk mulai menghantui.
Sementara Ellard masih tetap
berdiri dengan raut yang kelihatan tenang. Namun siapa sangka dibalik
ketenangan yang ditampilkannya itu, tersimpan pikiran yang berkecamuk. Sejak
tadi dadanya berdentam nyeri setelah meninggalkan Ara dirumah. Instingnya
mengatakan ada yang tidak beres dengan tatapan tenang Ara-nya ketika melepasnya
tadi. Wanita itu bahkan terlalu tenang— seperti sedang tidak terjadi apa-apa.
Hingga suara gaduh yang memenuhi
mulai berhenti ketika sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa dari pintu
terdengar. Ellard menoleh, melihat Blake datang ke arahnya dengan raut wajah
yang jauh dari kata baik.
“Tuan, Nona---nona…” Blake
tergagap, tidak sanggup menyampaikan kabar yang dibawanya
“Katakan,” dingin, Ellard
menyahut— menyadari sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi
“Nona.. Nona Ara… tidak ada
dirumah, Tuan. Beliau menghilang. Saya dan yang lain sudah berkeliling
mencarinya tapi tak juga menemukannya.”
Booomm!!!
Seperti peluru yang langsung
ditembak tepat ke jantung, berita itu berhasil menyentaknya hebat. Ketakutan
akan sikap tenang Ara tadi benar-benar terjadi. Wanita itu pergi… meninggalkannya…
How dare she!
Sedetik kemudian, tiba-tiba
gelegar tawa Ellard menggema— memenuhi seluruh ruangan. Tawa itu begitu
mengerikan hingga membuat orang-orang disana bergidik ngeri.
“Son..” panggil Holland pelan,
penuh antisipasi. Ia tahu ini pertanda tidak baik.
Ellard berhenti tertawa. Tatapan matanya
seketika berkilat tajam, rahangnya mengetat marah.
“Blake, Sabotase semua data
penumpang seluruh jadwal penerbangan, data tamu diseluruh hotel Manhattan.
Periksa semua dan cari atas nama Aurora Beatrix Louis. Aku tunggu hasilnya
dalam 15 menit.” Ujarnya tajam dan penuh penekanan.
Ellard melangkah meninggalkan
altar tanpa mempedulikan Clarissa dibelakang memanggilnya keras. Tidak ada yang
boleh menghalanginya sekarang. Kemarahan jelas terpeta di raut wajahnya yang
mengeras dan penuh kemurkaan. Aurora benar-benar telah membangkitkan sisi
iblisnya yang selama ini tertidur.
****
“Leo, yang kamu lakukan ini
salah, Nak” Ambar mendesah lemah seraya membelai rambut hitam legam Leo yang
saat ini tengah duduk bersimpuh, dengan wajah yang dibenamkan di perutnya.
“Enggak ada cara lain, Ma” erang
Leo
“Tapi status Ara itu masih
menjadi istri orang Leo. Bagaimana jika suaminya tahu kamu yang bantuin Ara
pergi?” cemas Ambar
Leo mendongak, “Aku bisa atasi
itu, Ma. Aku enggak tega lihat Ara menderita lebih lama lagi. Dia berhak
bahagia, Ma”
__ADS_1
“Iya Nak, mama juga enggak tega
lihatnya. Tapi kamu kan tahu seberapa berkuasanya suami Ara? Dia bisa
menghancurkanmu dalam sekejap. Kita bukan tandingannya, sayang”
“Aku enggak peduli, Ma. Aku bisa
menghadapinya. Dan sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa menemukan Ara”
“Leo…”
“Leo mencintai Ara, Ma” pelan,
pada akhirnya Leo mengakui perasaannya. Matanya berkaca-kaca sementara
tangannya mengenggam erat jemari sang mama yang seketika menatapnya shock.
“A-apa? Kamu bilang apa barusan,
Nak?” Ambar masih tidak percaya. Berpikir mungkin pendengarannya salah.
“Maaf, Ma. Sejak lama aku sudah
mencintai Ara. Bukan sebagai seorang adik, melainkan wanita. Dan—waktu Ara
menikah, hatiku sakit, Ma. Sampai sekarang aku belum bisa terima Ara dimiliki
pria lain,” Aku Leo dengan bulir yang sudah mengalir
“Leo…” parau Ambar. Hatinya terenyuh
melihat putranya yang tidak pernah menangis, kini meneteskan airmata. Ambar
menangkup wajah Leo— mendongak menatapnya “Kenapa baru mengatakannya sekarang,
nak?”
“Aku takut mama marah dan
akhirnya jatuh sakit karna ini. Tapi aku juga enggak bisa menganggap Ara
sebagai adikku lagi Ma..”
“Bodoh kamu, siapa bilang mama
akan marah?” Ambar menampar pelan pipi Leo “sebaliknya mama justru senang jika
kamu bisa bersatu dengan Ara dulu.”
Leo mengerjap, “Jadi… mama enggak
marah?”
Ambar menggeleng— menyeka lembut
airmata putranya
“Justru Mama akan sangat bahagia
sayang, jika seandainya kamu yang menikah dengan Ara.”
“Ma…”
“Jika suatu saat nanti Ara memang
ingin melepaskan Ellard selamanya, maka kejarlah dia. Mama akan sangat
merestui” timpal Ambar, tersenyum begitu lembut dan hangat
Tidak mampu berkata-kata apa
lagi, Leo mendekap erat tubuh mamanya. Dia begitu bahagia, pada akhirnya wanita
yang dicintainya ini mendukung dirinya untuk mengejar cinta pertamanya kembali.
PRANGG
PRANGG
PRANGG
berhasil mengusik suasana sedu sedan ibu dan anak itu. Seorang pelayan wanita
tergopoh-gopoh menghampiri keduanya dengan raut tegang
“Nyonya..nyonya… gawat”
“Ada apa, Bi?” tanya Ambar
seketika langsung berdiri bersama dengan Leo
“Diluar ada pria yang mengamuk
sambil terus memanggil tuan Leo”
“Aku?” Leo mengerut dahi
“KELUAR KAU ******** SIALAN!!”
Sentakan itu berhasil membuat
raut wajah Ambar menegang. Dia mengenali pemilik suara itu
“Leo… bukankah it—itu suara
suaminya Ara?” Ambar mencengkram panik lengan Leo yang masih terlihat tenang.
Leo mengangguk, “Sebentar Ma, aku
harus menemuinya”
“Jangan, nak. Kamu bisa dalam
bahaya” Ambar menggeleng keras dengan tangan masih menahan Leo
Leo tersenyum hangat, “Tidak
apa-apa, ma. Semua akan baik-baik saja” ujarnya melepas lembut tangan Ambar dan
segera bergegas melangkah keluar
“Ada apa ini?” tanya Leo dengan
raut yang terlampau tenang, sementara tak jauh darinya wajah Ellard berkilat
mengerikan.
Ellard tidak menggubris. Leo berjalan semakin
dekat untuk menghampiri Ellard. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan. Dan…
BUGHH!!
Ellard meninju rahang Leo hingga
jatuh tersungkur. Dengan emosi yang tak terbendung, Ellard meraih kerah kemeja
Leo.
“Dimana istriku?” tanya Ellard
dengan napas tersengal, rahang mengeras penuh emosi yang jarang ia perlihatkan.
Leo terkekeh pelan, “Kenapa
bertanya padaku? Bukankah kau suaminya? Seharusnya kau yang lebih tahu dimana
dia berada”
Ellard semakin mencengkram kuat
kerah Leo, “Kutanya sekali lagi, dimana kau sembunyikan istriku sialan?!”
Sekali lagi, Leo tertawa rendah
“Oh, jadi Ara akhirnya pergi meninggalkanmu? Dihari pernikahan keduamu, eh? Congrats..
__ADS_1
Aku terlalu senang mendengarnya.” ejek Leo sembari menyeka kasar darah kental
yang mengalir deras dari hidungnya.
Ellard tersenyum miring, “Kenapa?
kau ingin merebutnya dariku? Setelah selama ini hanya menjadi seorang pecundang?!”
Leo balik mencengkram kerah
Ellard. Kedua pria itu saling mencengkram dengan tatapan garang masing-masing.
“Jika dia sudah tidak
menginginkanmu, why not? Aku sudah memberimu kesempatan untuk memilikinya, tapi
kau sudah menyia-nyiakannya. Maka jangan salahkan aku yang akan kembali
mengambilnya”
“Well, sepertinya kau memang
berharap mati hari ini, kan?” Ellard menyeringai, tatapannya sudah tampak
begitu dingin dan jahat. “dengan senang hati akan kuwujudkan.”
BUGH… BUGH… BUGH…
Kencang, Ellard berulang kali
melemparkan tinjuan ke wajah Leo. Pun Leo membalas tak kalah sengit. Hingga akhirnya keduanya baku hantam
seperti orang kesetanan. Tidak ada yang mau berhenti dan tidak ada juga yang
sanggup memisahkan keduanya. Bahkan satpam yang berjaga disana pun ikut babak
belur akibat sempat menahan tubuh Ellard yang kesetanan.
“Leo, Ellard… berhenti!! Kalian
bisa mati kalau begini!!”
Seruan nyaring Ambar sama sekali
tidak diindahkan keduanya, melainkan terus berkelahi dengan tubuh yang
terlempar ke sana kemari. Namun didetik selanjutnya Ellard lah yang lebih
menguasai duel itu. terbukti dengan tubuh Ellard yang berputar di udara, dan
langsung menendang keras-keras wajah Leo hingga tubuhnya terbanting nyaring dan
tak lagi bisa bangun. Leo benar-benar bisa mati ditangan Ellard saat ini juga.
Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa sosok berparas tampan dan selalu tampak
hangat itu, ternyata memiliki jiwa yang teramat gelap.
“Ellard berhenti!!! Kau bisa
membunuh anakku!” Ambar berteriak histeris saat melihat tubuh Leo yang sudah
jatuh terkapar berlumuran darah tak berdaya.
Napas Ellard terhela berat,
dadanya naik turun ketika gelungan amarah tak kunjung padam. Pelipis dan
bibirnya berdarah, tetapi sama sekali tidak terasa dan masih belum puas
menghajarnya.
“Katakan, dimana kau sembunyikan
istriku?” tanyanya dengan aura yang masih menggelap
Ditengah kesakitannya, Leo masih
bisa terkekeh sinis “Ck, bahkan sampai mati pun aku tidak akan memberitahumu,”
Ellard menyeringai, “Well, kalau
itu maumu—“ rendah, Ellard mundur dua langkah kebelakang lalu dalam hitungan
detik dia mengambil sebuah senjata dari saku celana dan langsung ditodongkan
tepat didepan tubuh Leo “akan kukabulkan”
“TIDAKKKK…”
“ELLARD JANGAN!!”
Holland dan Ambar berteriak
bersamaan di detik Ellard hendak menarik pelatuk. Holland, Blake beserta para
anak buah lainnya baru saja datang dengan raut wajah yang begitu pias—
menyaksikan Ellard yang begitu mengerikan. Perlahan, Holland berusaha maju
mendekati. Dia tahu, sisi gelap putranya sekarang ini lebih dominan.
Ellard bergeming. Dia tetap
menodongkan senjata dan tanpa melepaskan pandangan dari Leo. Ia tinggal menarik
pelatuk dan Axcel Leonard lenyap dari muka bumi.
“Ellard! Tenangkan dirimu!
Turunkan senjata itu, Nak,” peringat Holland lembut dan penuh kewaspadaan
“Jangan! Jangan! Tolong jangan!”
tiba-tiba Ambar menyelinap diantara mereka dan langsung menghalangi tubuh Leo
dengan pelukannya dari todongan senjata Ellard.
“Dia harus mati, Dad. Dia menyembunyikan
Ara-ku” desis Ellard tajam
“Tidak, Nak. Bukan dia yang
menyembunyikan istrimu,” Holland menggelengkan kepala pelan, “tapi Daddy”
Mendengar itu seketika Ellard
membeku. Ia menurunkan senjatanya dan menoleh cepat, menatap Holland dengan
sorot tak percaya. Dan sewaktu Ellard lengah, tanpa sepengetahuannya— Blake
menyelinap, berdiri tepat dibelakangnya.
“A-apa? Daddy yang melak—“
Tidak sampai selesai, tubuh
Ellard seketika ambruk saat Blake berhasil mendaratkan satu suntikan di
lengannya. Ellard menatap Blake marah sebelum mata itu tertutup.
“Maafkan saya, Tuan” Blake
menunduk, merasa bersalah.
To be continued
Info TH ada di IG: rianitasitumorangg
See youuuu
Ellard O'Neill Miller
Axel Gabriel Leonard
__ADS_1