Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh [Dark Side I]


__ADS_3

Pernikahan Ellard dan Clarissa


hanya diadakan di Gereja dan dihadiri oleh keluarga terdekat saja, mengingat


Ellard yang bersikeras menginginkan agar pernikahan ini tidak terekspos sampai


keluar. Jika tidak dituruti, ia mengancam tidak akan melanjutkan pernikahan


keduanya ini. Walaupun demikian, senyum manis tak urung menghiasi wajah cantik


Clarissa disepanjang dia memasuki Gereja dan kini telah berdiri disamping lelaki


yang dicintainya— dihadapan Pendeta yang siap membacakan sumpah pernikahan.


“Pernikahan adalah sesuatu yang


suci. Sebelum semua dimulai, jika ada yang keberatan dengan pernikahan ini,


kalian bisa berbicara sekarang atau diam selamanya”


Hening beberapa saat. Tidak ada


yang bersuara. Sampai kemudian…


“Tunggu,” selah Ellard didetik


Pendeta akan melanjutkan kembali ucapannya.


Mendengar ucapan menyelah itu,


kontan semua keluarga yang hadir disana menatap heran dan ada juga yang saling


berbisik satu dengan yang lain. Sementara Clarissa disamping, tiba-tiba raut


wajahnya berubah tegang— menoleh, menatap Ellard yang tampak bergeming


ditempatnya dengan raut wajah yang sulit didefinisikan.


“El—”


“Pernikahan ini tidak akan


dilanjut sebelum istriku Aurora ada disini,” rendah, Ellard berucap tegas


“Tapi El..”


“Baiklah kalau itu permintaan


anda. Kita akan menunggu” sahut Pendeta, menyetujui permintaan calon mempelai


pria.


Clarissa menganga, menatap tidak


percaya pada keputusan pendeta. Wajahnya berubah pias dan keringat dingin mulai


membanjiri telapak tangannya. Mendadak pikiran-pikiran buruk mulai menghantui.


Sementara Ellard masih tetap


berdiri dengan raut yang kelihatan tenang. Namun siapa sangka dibalik


ketenangan yang ditampilkannya itu, tersimpan pikiran yang berkecamuk. Sejak


tadi dadanya berdentam nyeri setelah meninggalkan Ara dirumah. Instingnya


mengatakan ada yang tidak beres dengan tatapan tenang Ara-nya ketika melepasnya


tadi. Wanita itu bahkan terlalu tenang— seperti sedang tidak terjadi apa-apa.


Hingga suara gaduh yang memenuhi


mulai berhenti ketika sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa dari pintu


terdengar. Ellard menoleh, melihat Blake datang ke arahnya dengan raut wajah


yang jauh dari kata baik.


“Tuan, Nona---nona…” Blake


tergagap, tidak sanggup menyampaikan kabar yang dibawanya


“Katakan,” dingin, Ellard


menyahut— menyadari sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi


“Nona.. Nona Ara… tidak ada


dirumah, Tuan. Beliau menghilang. Saya dan yang lain sudah berkeliling


mencarinya tapi tak juga menemukannya.”


Booomm!!!


Seperti peluru yang langsung


ditembak tepat ke jantung, berita itu berhasil menyentaknya hebat. Ketakutan


akan sikap tenang Ara tadi benar-benar terjadi. Wanita itu pergi… meninggalkannya…


How dare she!


Sedetik kemudian, tiba-tiba


gelegar tawa Ellard menggema— memenuhi seluruh ruangan. Tawa itu begitu


mengerikan hingga membuat orang-orang disana bergidik ngeri.


“Son..” panggil Holland pelan,


penuh antisipasi. Ia tahu ini pertanda tidak baik.


Ellard berhenti tertawa. Tatapan matanya


seketika berkilat tajam, rahangnya mengetat marah.


“Blake, Sabotase semua data


penumpang seluruh jadwal penerbangan, data tamu diseluruh hotel Manhattan.


Periksa semua dan cari atas nama Aurora Beatrix Louis. Aku tunggu hasilnya


dalam 15 menit.” Ujarnya tajam dan penuh penekanan.


Ellard melangkah meninggalkan


altar tanpa mempedulikan Clarissa dibelakang memanggilnya keras. Tidak ada yang


boleh menghalanginya sekarang. Kemarahan jelas terpeta di raut wajahnya yang


mengeras dan penuh kemurkaan. Aurora benar-benar telah membangkitkan sisi


iblisnya yang selama ini tertidur.


****


“Leo, yang kamu lakukan ini


salah, Nak” Ambar mendesah lemah seraya membelai rambut hitam legam Leo yang


saat ini tengah duduk bersimpuh, dengan wajah yang dibenamkan di perutnya.


“Enggak ada cara lain, Ma” erang


Leo


“Tapi status Ara itu masih


menjadi istri orang Leo. Bagaimana jika suaminya tahu kamu yang bantuin Ara


pergi?” cemas Ambar


Leo mendongak, “Aku bisa atasi


itu, Ma. Aku enggak tega lihat Ara menderita lebih lama lagi. Dia berhak


bahagia, Ma”

__ADS_1


“Iya Nak, mama juga enggak tega


lihatnya. Tapi kamu kan tahu seberapa berkuasanya suami Ara? Dia bisa


menghancurkanmu dalam sekejap. Kita bukan tandingannya, sayang”


“Aku enggak peduli, Ma. Aku bisa


menghadapinya. Dan sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa menemukan Ara”


“Leo…”


“Leo mencintai Ara, Ma” pelan,


pada akhirnya Leo mengakui perasaannya. Matanya berkaca-kaca sementara


tangannya mengenggam erat jemari sang mama yang seketika menatapnya shock.


“A-apa? Kamu bilang apa barusan,


Nak?” Ambar masih tidak percaya. Berpikir mungkin pendengarannya salah.


“Maaf, Ma. Sejak lama aku sudah


mencintai Ara. Bukan sebagai seorang adik, melainkan wanita. Dan—waktu Ara


menikah, hatiku sakit, Ma. Sampai sekarang aku belum bisa terima Ara dimiliki


pria lain,” Aku Leo dengan bulir yang sudah mengalir


“Leo…” parau Ambar. Hatinya terenyuh


melihat putranya yang tidak pernah menangis, kini meneteskan airmata. Ambar


menangkup wajah Leo— mendongak menatapnya “Kenapa baru mengatakannya sekarang,


nak?”


“Aku takut mama marah dan


akhirnya jatuh sakit karna ini. Tapi aku juga enggak bisa menganggap Ara


sebagai adikku lagi Ma..”


“Bodoh kamu, siapa bilang mama


akan marah?” Ambar menampar pelan pipi Leo “sebaliknya mama justru senang jika


kamu bisa bersatu dengan Ara dulu.”


Leo mengerjap, “Jadi… mama enggak


marah?”


Ambar menggeleng— menyeka lembut


airmata putranya


“Justru Mama akan sangat bahagia


sayang, jika seandainya kamu yang menikah dengan Ara.”


“Ma…”


“Jika suatu saat nanti Ara memang


ingin melepaskan Ellard selamanya, maka kejarlah dia. Mama akan sangat


merestui” timpal Ambar, tersenyum begitu lembut dan hangat


Tidak mampu berkata-kata apa


lagi, Leo mendekap erat tubuh mamanya. Dia begitu bahagia, pada akhirnya wanita


yang dicintainya ini mendukung dirinya untuk mengejar cinta pertamanya kembali.


PRANGG


PRANGG


PRANGG


berhasil mengusik suasana sedu sedan ibu dan anak itu. Seorang pelayan wanita


tergopoh-gopoh menghampiri keduanya dengan raut tegang


“Nyonya..nyonya… gawat”


“Ada apa, Bi?” tanya Ambar


seketika langsung berdiri bersama dengan Leo


“Diluar ada pria yang mengamuk


sambil terus memanggil tuan Leo”


“Aku?” Leo mengerut dahi


“KELUAR KAU ******** SIALAN!!”


Sentakan itu berhasil membuat


raut wajah Ambar menegang. Dia mengenali pemilik suara itu


“Leo… bukankah it—itu suara


suaminya Ara?” Ambar mencengkram panik lengan Leo yang masih terlihat tenang.


Leo mengangguk, “Sebentar Ma, aku


harus menemuinya”


“Jangan, nak. Kamu bisa dalam


bahaya” Ambar menggeleng keras dengan tangan masih menahan Leo


Leo tersenyum hangat, “Tidak


apa-apa, ma. Semua akan baik-baik saja” ujarnya melepas lembut tangan Ambar dan


segera bergegas melangkah keluar


“Ada apa ini?” tanya Leo dengan


raut yang terlampau tenang, sementara tak jauh darinya wajah Ellard berkilat


mengerikan.


 Ellard tidak menggubris. Leo berjalan semakin


dekat untuk menghampiri Ellard. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan. Dan…


BUGHH!!


Ellard meninju rahang Leo hingga


jatuh tersungkur. Dengan emosi yang tak terbendung, Ellard meraih kerah kemeja


Leo.


“Dimana istriku?” tanya Ellard


dengan napas tersengal, rahang mengeras penuh emosi yang jarang ia perlihatkan.


Leo terkekeh pelan, “Kenapa


bertanya padaku? Bukankah kau suaminya? Seharusnya kau yang lebih tahu dimana


dia berada”


Ellard semakin mencengkram kuat


kerah Leo, “Kutanya sekali lagi, dimana kau sembunyikan istriku sialan?!”


Sekali lagi, Leo tertawa rendah


“Oh, jadi Ara akhirnya pergi meninggalkanmu? Dihari pernikahan keduamu, eh? Congrats..

__ADS_1


Aku terlalu senang mendengarnya.” ejek Leo sembari menyeka kasar darah kental


yang mengalir deras dari hidungnya.


Ellard tersenyum miring, “Kenapa?


kau ingin merebutnya dariku? Setelah selama ini hanya menjadi seorang pecundang?!”


Leo balik mencengkram kerah


Ellard. Kedua pria itu saling mencengkram dengan tatapan garang masing-masing.


“Jika dia sudah tidak


menginginkanmu, why not? Aku sudah memberimu kesempatan untuk memilikinya, tapi


kau sudah menyia-nyiakannya. Maka jangan salahkan aku yang akan kembali


mengambilnya”


“Well, sepertinya kau memang


berharap mati hari ini, kan?” Ellard menyeringai, tatapannya sudah tampak


begitu dingin dan jahat. “dengan senang hati akan kuwujudkan.”


BUGH… BUGH… BUGH…


Kencang, Ellard berulang kali


melemparkan tinjuan ke wajah Leo. Pun  Leo membalas tak kalah sengit. Hingga akhirnya keduanya baku hantam


seperti orang kesetanan. Tidak ada yang mau berhenti dan tidak ada juga yang


sanggup memisahkan keduanya. Bahkan satpam yang berjaga disana pun ikut babak


belur akibat sempat menahan tubuh Ellard yang kesetanan.


“Leo, Ellard… berhenti!! Kalian


bisa mati kalau begini!!”


Seruan nyaring Ambar sama sekali


tidak diindahkan keduanya, melainkan terus berkelahi dengan tubuh yang


terlempar ke sana kemari. Namun didetik selanjutnya Ellard lah yang lebih


menguasai duel itu. terbukti dengan tubuh Ellard yang berputar di udara, dan


langsung menendang keras-keras wajah Leo hingga tubuhnya terbanting nyaring dan


tak lagi bisa bangun. Leo benar-benar bisa mati ditangan Ellard saat ini juga.


Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa sosok berparas tampan dan selalu tampak


hangat itu, ternyata memiliki jiwa yang teramat gelap.


“Ellard berhenti!!! Kau bisa


membunuh anakku!” Ambar berteriak histeris saat melihat tubuh Leo yang sudah


jatuh terkapar berlumuran darah tak berdaya.


Napas Ellard terhela berat,


dadanya naik turun ketika gelungan amarah tak kunjung padam. Pelipis dan


bibirnya berdarah, tetapi sama sekali tidak terasa dan masih belum puas


menghajarnya.


“Katakan, dimana kau sembunyikan


istriku?” tanyanya dengan aura yang masih menggelap


Ditengah kesakitannya, Leo masih


bisa terkekeh sinis “Ck, bahkan sampai mati pun aku tidak akan memberitahumu,”


Ellard menyeringai, “Well, kalau


itu maumu—“ rendah, Ellard mundur dua langkah kebelakang lalu dalam hitungan


detik dia mengambil sebuah senjata dari saku celana dan langsung ditodongkan


tepat didepan tubuh Leo “akan kukabulkan”


“TIDAKKKK…”


“ELLARD JANGAN!!”


Holland dan Ambar berteriak


bersamaan di detik Ellard hendak menarik pelatuk. Holland, Blake beserta para


anak buah lainnya baru saja datang dengan raut wajah yang begitu pias—


menyaksikan Ellard yang begitu mengerikan. Perlahan, Holland berusaha maju


mendekati. Dia tahu, sisi gelap putranya sekarang ini lebih dominan.


Ellard bergeming. Dia tetap


menodongkan senjata dan tanpa melepaskan pandangan dari Leo. Ia tinggal menarik


pelatuk dan Axcel Leonard lenyap dari muka bumi.


“Ellard! Tenangkan dirimu!


Turunkan senjata itu, Nak,” peringat Holland lembut dan penuh kewaspadaan


“Jangan! Jangan! Tolong jangan!”


tiba-tiba Ambar menyelinap diantara mereka dan langsung menghalangi tubuh Leo


dengan pelukannya dari todongan senjata Ellard.


“Dia harus mati, Dad. Dia menyembunyikan


Ara-ku” desis Ellard tajam


“Tidak, Nak. Bukan dia yang


menyembunyikan istrimu,” Holland menggelengkan kepala pelan, “tapi Daddy”


Mendengar itu seketika Ellard


membeku. Ia menurunkan senjatanya dan menoleh cepat, menatap Holland dengan


sorot tak percaya. Dan sewaktu Ellard lengah, tanpa sepengetahuannya— Blake


menyelinap, berdiri tepat dibelakangnya.


“A-apa? Daddy yang melak—“


Tidak sampai selesai, tubuh


Ellard seketika ambruk saat Blake berhasil mendaratkan satu suntikan di


lengannya. Ellard menatap Blake marah sebelum mata itu tertutup.


“Maafkan saya, Tuan” Blake


menunduk, merasa bersalah.


To be continued


Info TH ada di IG: rianitasitumorangg


See youuuu


Ellard O'Neill Miller



Axel Gabriel Leonard

__ADS_1



__ADS_2