
Olaa... apa kabar kalian??
Lama ya?? Hehe, sorry ya, minggu kemarin aku sibuk banget đ
HAPPY READING
.
.
.
Mobil melaju membela jalanan raya
yang masih di padati oleh banyaknya kendaraan. Sepanjang perjalanan tidak ada
yang bersuara, hening memeluk suasana. Sesekali, Ara menoleh untuk meihat
Ellard yang sejak tadi hanya menatap lurus jalanan di depannya. Ara tidak tahu
kenapa Ellard tiba-tiba jadi diam begini. Biasanya lelaki itu akan terus
mengajaknya berbicara, melontarkan pembahasan apa saja dengan  sebelah tangannya yang terus memainkan jemari Ara.
âapa saja yang mama katakan tadi
ditelepon?â Ara membuka suara, âsepertinya tadi kamu lama sekali menjawab
panggilan mamaâ
âCuma minta kita datang kerumah. Selebihnya
panggilan dari Blakeâ sahut Ellard, masih enggan menoleh ke arahnya.
âOh,â Ara mengangguk pelan âOya,
apa kamu tahu, anak-anak tadi pada heran gitu sama aku. Kata mereka, bagaimana
bisa  kamu dapat predikat cum laude? Sementara
kan selama ini IP kamu itu biasa-biasa aja?â Ara berceloteh garingâ mengulang
ucapan teman-temannya tadi âHaha, sayang sekaliâ mereka enggak tahu aja kalo
tiap malam aku diajarin sama pakarnya langsung. Kalo enggak, mana mungkin aku
bisa dapat nilai sebagus ituâ lanjutnya seraya terkekeh sendiri.
Ditengah kekehannya, Ara menunggu
respon atau sahutan dari lelaki disebelahnya, namun naas, Ellard masih tetap
fokus memandang ke depan, tidak terusik sama sekali. Ara menggigit bibir bagian
dalamnya. Usaha untuk menarik perhatian suaminya sama sekali tidak berhasil.
Ara berdehem, membenarkan posisi duduknya dan segera menahan bunga yang hampir
jatuh dari pangkuannya akibat pergerakan tersebut.
Ellard melirik dari sudut matanya
âbunga dari siapa?â
âHa?â Ara cengoh, ia menoleh ke
samping âkamu bilang apa tadi?â
âBunga dari siapa?â ulang Ellard,
sembari memelankan lajuan mobil saat mereka sudah memasuki komplek
Ara menatap satu-satunya buket
bunga yang berada dalam pangkuannya, sedang buket bunga dan hadia yang lain
berada di jok belakang. Senyumnya terbit ketika mengingat sosok yang memberikan
bunga tersebut. Dulu, ia yang meminta pada Leo untuk memberinya sebuket bunga
mawar merah cantik pada hari kelulusannya kelak.
âOh, ini dari kak Leo tadiâ sahut
Ara riang
Ada jedah sebelum Ellard
mengulurkan tangannya ke hadapan Ara
âCoba lihatâ pintanya
Ara menurut, menyerahkan buket
bunga tersebut ke tangan suaminya. Ellard menatap bunga itu sekilas sebelum kemudian
ia tersenyum miring. Didetik selanjutnya jendela mobil terbuka dan tanpa
babibu, dia melemparkan bunga tersebut keluar tanpa perasaan. Ara membulatkan
matanya
âEl⌠kenapa dibuang?!â pekik Ara,
menatap tidak percaya raut santai Ellard yang kembali fokus menatap jalanan di
depannya.
âNanti akan kubelikan yang lebih
bagus dari ituâ ucapnya ringan
âEllard..â Ara mengerang âitu
pemberian kak Leo, tidak seharusnya kamu membuangnya tanpa perasaan begituâ
âJustru karna bunga itu dari diaâ
aku enggak sukaâ
âkenapa? Kamu cemburu lagi?â Ara
memicingkan matanya. Sedikit tersulut.
Ellard akhirnya menghadapnya.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Ara.
âIya. Aku cemburuâ jawabnya
dingin
Ara memejamkan matanya.
Menetralisir kedongkolan yang mulai memuncak. Kecemburuan suaminya ini sudah
tidak masuk akal.
âElâ please, jangan jadi
kekanak-kanakan beginiâ Ara mendesah frustasi âkak Leo sahabatku. Enggak lebih.
Dan bunga itu⌠aku sendiri yang memintanya dulu dari dia kalau aku sudah lulus,
seperti sekarang ini. Cumââ
âJadi menurutmu aku kekanakan
begitu?â potong Ellard cepat, tatapannya menyorot tajam pada Ara
Ara terdiam. Ia jelas melihat
rahang suaminya yang sudah mengeras
âApa aku salah mencemburui lelaki
yang memberikan bunga untuk istriku?â rendah, Ellard mengepalkan tangannya
âParahnya itu dari lelaki yang pernah kamu cintai! Dan lagi, apa kamu tidak
menyadari sedikitpun kalau si brengsek itu juga menyukaimu sebagai wanita,
bukan sahabat?â
Gerbang dibuka oleh satpam sedang
Ellard masih menatapnya tajam.
âEl⌠ayolah, semua yang kamu katakan
itu tidak benarâ Ara tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Ara sudah
mengatakan dengan jelas bahwa lelaki yang kini dicintainya hanya dirinya
seorang. Bukan Leo atau siapapun. Tapi sepertinya suaminya itu masih enggan
mempercayainya. Ara hanya tidak suka Ellard terus cemburu buta pada Leo yang
jelas-jelas juga sudah mempunyai kekasih.
âTerserah jika kamu ingin terus
dekat dengannya. Tapi jangan harap aku akan diam saja!â
Raut Ellard terlihat sangat marah
dan menakutkan setelah mengatakannya. Ellard menatap kedepan. Melajukan
mobilnya ke dalam. Saling diam, keduanya membuka seatbelt. Sebelum keluar
membuka pintu, Ara meraih tangan Ellard, menatapnya sendu
âAre we okay? Please donât mad at me againâ
Ellard menatap Ara, dadanya naik
turun dengan nafas yang menderu kasar. Ia berusaha menetralkan amarahnya yang
memuncak.
âKita belum selesaiâ Ellard
berucap dingin, melepaskan tangan Ara kemudian keluar dari mobil.
****
Hari beranjak malam ketika Ara
dan Ellard tiba dirumah orangtuanya. Gadis itu di hadiai banyak ucapan selamat
dan pujian atas prestasi yang luar biasa diraihnya. Bahkan Andin sampai
meneteskan air mata karna begitu terharu dengan pencapaian putri satu-satunya
tersebut. Sedang Alex, seperti biasa kakanya itu tidak akan langsung memujinya,
melainkan menggodanya lebih dahulu hingga kesal dan hampir menangis barulah
__ADS_1
Alex akan kembali memeluknya sayang dan memujinya setinggi langit.
Kini mereka sekarang berada di sofa
ruang tengah terlibat pembicaraan ringan setelah menyelesaikan acara makan
malam terlebih dahulu.
âSetelah lulus, apa rencanamu
selanjutnya sayang?â tanya Andin, setelah sejak tadi yang banyak terlibat
pembicaraan hanya ketiga lelaki diantara mereka. Dan parahnya perbincangan
ketiganya tidak jauh-jauh dari pekerjaan.
Ara yang sejak tadi bermain
ponsel disebelah Ellard, kini mendongak âIya ma?â
âCk, kebiasaan kamu ini. Simpan dulu
ponselmu kalau kita lagi ngumpul beginiâ Andin mendengkus
Ara gelagapan, apalagi kini
tatapan tajam Ellard menyorot padanya. Ia menyengir kuda, menghalau suasana
yang tiba-tiba terasa mencekam dari sebelahnya.
âMaaf. Mama bilang apa tadi?â
âMama tanya, setelah lulus kuliah
apa rencanamu selanjutnya?â Andin mengulang pertanyaannya
âUntuk sekarang Ara masih belum kepikiran
ma,â Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
âKamu kan jurusan bisnis, yaudahâŚ
kerja di perusahaan Ellard aja lagi seperti waktu magang duluâ Alex menimpali
Ara diam sejenak, âHm, soal ituâ sebenarnya
aku tidak berniat kerja di perusahaan El lagiâ cicit Ara yang berhasil membuat
Ellard menoleh padanya.
âKenapa?â tanya Alex mengerut
kening
âKalau bisa aku mau melamar di
perusahaan lain. Aku sedikit kurang nyaman kalau kami kerja ditempat yang sama.
Yang ada orang-orang disana juga akan ikut-ikutan segan samaku,â aku Ara
âYah wajar dong kalau mereka
segan, kan kamu nyonya-nya disanaâ ujar Alex mengangkat bahu ringan
âEmang aku kayak kakakâ gila
hormatâ Ara mencebik
âDari pada kerja ditempat lain,
mending kamu tinggal dirumah aja ngurus semua keperluan suamimu, seperti yang
dilakukan mama kamuâ ucap Haris lebih dulu sebelum Alex hendak membalas balik
sindiran Ara. âToh semua yang kamu butuhkan Ellard bisa memenuhi.â
âTapi dad, aku mana tahan cuma duduk
seharian dirumah terus.â protes Ara
âAlaa dek.. gak usah sok protes
deh. Bilang gak tahan, padahal selama ini yang kakak tengok kamu betah banget  gak keluar kamar seharian Cuma untuk nonton drama
picisanmu itu.â sengit Alex âTrus belum lagi dengan nulis curhatan-urhatan
puitis nan halu kamu ituâ disiniâ lanjut Alex menyeringai seraya mengeluarkan
diary mini dari saku celananya.
Sontak mata Ara membulat sempurna
ketika melihat benda ditangan Alex tersebut.
âKak Alex kepoin kamarku ya?!â sembur
Ara nyaris berteriak, wajahnya seketika memerah
âya kurang lebih begitu sih dekâ
sahut Alex mengedikkan bahu santai âhabisnya kakak penasaran banget, apa aja
yang kamu kerjakan selama ini dalam kamar. Eh, rupanya ini toh. Rencananya kakak
baru mau baca. Penasaran apa sih isinyaâ sambungnya mengerling sambil
mengibaskan diary tersebut
Ara gelagapan, dan seketika itu
juga dia bangkit berdiri dari duduknya, menatap nyalang diary-nya. Bukannya apa,
perasaan memujanya pada Leo ada disana.
âBalikin enggak kak!â sengit Ara
seraya melangkah cepat hendak merampas benda tersebut dari tangan Alex.
âEnak aja⌠tunggu kakak uda
selesai bacaâ sahut Alex, segera berlari memutari ruangan ketika Ara nyaris
merebutnya. Alhasil keduanya kini saling mengejar bak anak kecil yang tengah
merebutkan benda kecil tersebut.
âkak balikin dongâ rengek Ara
terengah
âkakak bilang nanti loh dekâ Alex
tertawa puas, masih belum mau berhenti
âAra, Alex⌠bisa kalian berhenti!â
hardik haris yang kali ini sama sekali tidak dipedulikan kedua bocah besar
tersebut. Alex dan Ara masih saling mengejar di sekitar sofa ruangan
âAra, hati-hati⌠nanti kamu bisa
jatuhâ peringat Andin was-was
âTangkap Elââ seru Alex tiba-tiba,
secepat kilat melempar diary tersebut pada adik iparnya. Dan refleks tangan
Ellard langsung menangkapnya.
******!!
Seketika itu juga Ara berhenti
dari lariannya. Jantungnya memompa berkali-kali lebih cepat saat menatap benda
yang mereka perebutkan sejak tadi kini berada ditangan lelaki yang sama sekali
tidak pernah ingin ia biarkan untuk melihat isinya. Ayolah, tingakat
kecemburuan Ellard saat ini berada di level tertinggi, belum lagi jika lelaki
itu sampai membaca keseluruhan isi diary-nya yang dipenuhi oleh tentang cinta
pertamanya. Ia tidak bisa membayangkan apalagi yang akan terjadi dengan
hubungan keduanya. Sementara sepanjang mereka dirumah orangtuanya ini, sejak
tadi Ellard masih bersikap dingin padanya, ya sekalipun hal itu tidak terlihat
jelas di depan keluarganya.
Tidak bisa! Ellard tidak boleh
membacanya!
Panik, Ara kembali berlari
menghampiri Ellard yang masih tampak santai ditempat duduknya. Namun disaat
sedikit lagi ia akan sampai, tanpa sengaja kakinya terantuk siku kursi hinggaâŚ
Bukkkk
âARA!â teriak kempatnya
Secepat kilat Ellard melompat dari
duduknya, meraih tubuh istrinya yang tengah meringkuk dengan kedua siku menahan
agar wajahnya tidak langsung berbenturan dengan lantai. Ara mengerang kesakitan
ketika merasakan tulang keringnya berdenyut nyeri. Darah mengucur dilutut dan
sikunya.
âBodoh, hanya gara-gara benda sialan
itu kamu sampai rela terluka begini!â nada suara Ellard meninggi, namun sarat
akan kekahwatiran
âHikss⌠sakitâ erang Ara,
membenamkan wajah di dada Ellard. Ia meremas kuat kemeja suaminya
âYa ampun sayangâ sergah Andin
tak kalah cemas
âSebaiknya bawa dia ke kamar nakâ
saran Haris
âAku akan panggilkan dokterâ
timpal Alex tak kalah merasa bersalah
__ADS_1
Ellard langsung membopong tubuh Ara
masuk ke dalam kamar istrinya dulu sewaktu belum menikah. Dengan hati-hati ia
merebahkan tubuh mungil Ara di tengah ranjang. Gadis itu masih meringis
kesakitan. Dengan lembut Ellard menyeka keringat yang membasahi dahi istrinya.
âEl, ini kamu bersihkan dulu darah
dilutut istri kamuâ Andin menyodorkan wadah berisi air dan handuk kecil serta
kotak First Aid, sambil menunggu
sebelum dokter datang.
âIya Ma,â
Ellard mengambil wadah beserta First
Aid tersebut dan mulai membersihkan luka Ara terlebih dahulu. Setelahnya ia
mengoloskan salep antibiotic yang lansung membuat Ara kembali mengerang
âSshhh⌠sakit Elâ rengek Ara dan langsung
dihadiai delikan tajam oleh suaminya.
âBaru ingat sakit sekarang?â
sindirnya âtadi masih sok jago ajaâ
Ara mengatupkan bibirnya,
bukannya disayang, malah dihadiai sindiran. Raut wajah Ellard sama sekali tidak
bersahabat untuk saat ini. Namun begitu, Ellard kembali mengoleskan salep
dengan perlahan-lahan sambil meniup lututnya lembut.
****
Hari beranjak semakin larut.
Ellard dan Ara memutuskan untuk menginap dirumah orangtuanya, mengingat Ara
yang saat ini masih kesakitan dan sulit berjalan. Tadi dokter sudah memeriksanya
dan memberikan obat acetaminophen untuk menghilangkan rasa sakit. Ara mengalami cedera pada tulang keringnya
akibat benturan pada siku sofa tadi.
Kini keduanya tidur dengan kepala
Ara yang direbahkan pada bisep lengan kokoh Ellard. Ara mendesah lemas, sejak
tadi Ellard masih betah mendiamkannya. Â Ditengah
suasana kamar yang tamaran, Ara mendongak, menatap wajah suaminya yang ternyata
belum memejamkan mata.
âElâ panggilnya pelan
âHmâ
âKamu masih marah?â
âMarah untuk?â
âSoal bunga?â
Ellard menurunkan tatapannya,
memandang wajah cantik Ara yang tengah menunggu sahutannya
âApa aku berhak marah?â tanyanya
balik âbukankah kamu yang seharusnya marah karna aku sudah membuang bunga dari sahabat terkasihmu?â
âElâŚâ Ara meringis, tidak tahu
harus berkata apa lagi. Suaminya ini masih kembali menyindirnya.
âDan tadiâ apa sebegitu takutnya
kamu aku mengetahui keseluruhan isi hatimu dengan cinta pertamamu itu pada buku
harian itu?â
âDa⌠darimana kaâkamu tahu?â Ara
terbata, menelan ludah susah payah
Ellard tersenyum hambar. Ia memiringkan
tubuhnya, membelai wajah Ara seringan bulu.
âTerlihat jelas sayang. Ekspresimu
yang memberitahuâ
âElâ itu hanya masa laluku. Kumohon
jangan salah paham. Akâku cuma gak mau buat kamu semakin cemburu lagi dengan
membaca tulisan-tulisan kekanak-kanakanku di diary itu.â
âListen, Iâm not jealous, Iâm territorial. Jealous is when you want
something thatâs not yours. Territorial is protecting whatâs already yoursâ
ucap Ellard rendah namun penuh penekanan âkamu milikku yang paling berharga. Dan
aku hanya melindungi apa yang sudah menjadi milikku. Aku lelaki sayang⌠aku dapat
melihat dengan jela jika sejak awal si Leonard itu tidak murni menganggapmu
sebagai sahabat. Dia menyukaimu.â
Ara tertegun. Masih sulit
menerima bahwa Leo juga menyukainya. Ini tidak mungkin kan? Secara selama ini
lelaki itu tidak pernah menunjukkan sedikitpun tanda-tanda adanya ketertarikan
terhadap dirinya. Leo bahkan sudah memiliki kekasih yang sangat cantik dan
pintar, jauh lebih baik darinya.
Ellard menangkup sebelah pipi
Ara, menyadarkan wanitanya itu dari lamunan panjangnya. Ia menempelkan kening mereka
berdua.
âAku tidak peduli bagaimana
perasaan si sialan itu padamu. Tapi satu yang kupedulikan, aku harap perasaanmu
tidak kembali berubah. Sampai kapan pun kamu hanya boleh mencintaiku seorang. Bukan
lelaki lainâ lirih Ellard begitu takut jika perasaan wanitanya ini berubah.
Ara tersenyum hangat. Begitu manis
dan menenangkan. Ara memiringkan kepalanya, mencium begitu dalam bibir
suaminya.
âNever sayang. Perasaanku tidak
akan berubah lagi. lagipula kamu sudah mengikatku dalam pernikahan ini. Iâm yours forever moreâ
Senyum Ellard terbit, hingga
memunculkan lesung pipinya yang begitu manis. Ia mengecup lama kening Ara-nya. âYa, Youâre mineâ Ellard menarik tubuh
Ara, hingga menempel sepenuhnya. Dia mendekap erat tubuh mungil istrinya
âJangan marah lagi. Jujur, aku
sangat takut melihatmu yang begituâ aku Ara membalas dekapan Ellard tak kalah
eratnya.
Ellard menyurukkan wajahnya pada
ceruk leher Ara, mengendus lalu menghisap disepanjang leher jenjang istrinya
hingga meninggalkan bekas âMaaf sayangâ aku hanya terlalu takut, sampai enggak
sadar uda buat kamu ketakutanâ
Ara tidak mampu membalas ucapan
Ellard ketika suaminya itu kini menciumi lehernya begitu intens hingga
membuatnya menggeliat kegelian.
âSayang, aku ingin memakanmuâ
parau Ellard menggigit telinga Ara
âEllard hentikan⌠kakiku sedang
sakitâ akhirnya Ara memperotes dengan suaranya yang setengah mendesah.
Ellard mendengkus sebelum menarik
mundur wajahnya, menatap kesal pada wanitanya
âCk, kalo kamu gak pecicilan
sampai cedera begini, mungkin aku sudah memasukimu sekarangâ ucapnya frontal
Ara terkekeh. âseperti katamu
kemarin, kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya. Tidurlahâ Ara
menjeda ucapannya sebentar sebelum berucap dengan tersipu,
âI love youâ
Ellard tersenyum lebar, rasa
kesalnya hilang saat mendengar kata cinta dari mulut Ara-nya.
âI love you more, honeyâŚâ
Ellard mencium puncak kepala Ara.
Kemudian ikut memejamkan matanya dengan tubuh mereka yang saling memeluk erat.
To be continued
__ADS_1
IG: rianitasitumorangg