Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Olaa... apa kabar kalian??


Lama ya?? Hehe, sorry ya, minggu kemarin aku sibuk banget 😅


HAPPY READING


.


.


.


Mobil melaju membela jalanan raya


yang masih di padati oleh banyaknya kendaraan. Sepanjang perjalanan tidak ada


yang bersuara, hening memeluk suasana. Sesekali, Ara menoleh untuk meihat


Ellard yang sejak tadi hanya menatap lurus jalanan di depannya. Ara tidak tahu


kenapa Ellard tiba-tiba jadi diam begini. Biasanya lelaki itu akan terus


mengajaknya berbicara, melontarkan pembahasan apa saja dengan  sebelah tangannya yang  terus memainkan jemari Ara.


“apa saja yang mama katakan tadi


ditelepon?” Ara membuka suara, “sepertinya tadi kamu lama sekali menjawab


panggilan mama”


“Cuma minta kita datang kerumah. Selebihnya


panggilan dari Blake” sahut Ellard, masih enggan menoleh ke arahnya.


“Oh,” Ara mengangguk pelan “Oya,


apa kamu tahu, anak-anak tadi pada heran gitu sama aku. Kata mereka, bagaimana


bisa  kamu dapat predikat cum laude? Sementara


kan selama ini IP kamu itu biasa-biasa aja?” Ara berceloteh garing— mengulang


ucapan teman-temannya tadi “Haha, sayang sekali— mereka enggak tahu aja kalo


tiap malam aku diajarin sama pakarnya langsung. Kalo enggak, mana mungkin aku


bisa dapat nilai sebagus itu” lanjutnya seraya terkekeh sendiri.


Ditengah kekehannya, Ara menunggu


respon atau sahutan dari lelaki disebelahnya, namun naas, Ellard masih tetap


fokus memandang ke depan, tidak terusik sama sekali. Ara menggigit bibir bagian


dalamnya. Usaha untuk menarik perhatian suaminya sama sekali tidak berhasil.


Ara berdehem, membenarkan posisi duduknya dan segera menahan bunga yang hampir


jatuh dari pangkuannya akibat pergerakan tersebut.


Ellard melirik dari sudut matanya


“bunga dari siapa?”


“Ha?” Ara cengoh, ia menoleh ke


samping “kamu bilang apa tadi?”


“Bunga dari siapa?” ulang Ellard,


sembari memelankan lajuan mobil saat mereka sudah memasuki komplek


Ara menatap satu-satunya buket


bunga yang berada dalam pangkuannya, sedang buket bunga dan hadia yang lain


berada di jok belakang. Senyumnya terbit ketika mengingat sosok yang memberikan


bunga tersebut. Dulu, ia yang meminta pada Leo untuk memberinya sebuket bunga


mawar merah cantik pada hari kelulusannya kelak.


“Oh, ini dari kak Leo tadi” sahut


Ara riang


Ada jedah sebelum Ellard


mengulurkan tangannya ke hadapan Ara


“Coba lihat” pintanya


Ara menurut, menyerahkan buket


bunga tersebut ke tangan suaminya. Ellard menatap bunga itu sekilas sebelum kemudian


ia tersenyum miring. Didetik selanjutnya jendela mobil terbuka dan tanpa


babibu, dia melemparkan bunga tersebut keluar tanpa perasaan. Ara membulatkan


matanya


“El… kenapa dibuang?!” pekik Ara,


menatap tidak percaya raut santai Ellard yang kembali fokus menatap jalanan di


depannya.


“Nanti akan kubelikan yang lebih


bagus dari itu” ucapnya ringan


“Ellard..” Ara mengerang “itu


pemberian kak Leo, tidak seharusnya kamu membuangnya tanpa perasaan begitu”


“Justru karna bunga itu dari dia—


aku enggak suka”


“kenapa? Kamu cemburu lagi?” Ara


memicingkan matanya. Sedikit tersulut.


Ellard akhirnya menghadapnya.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Ara.


“Iya. Aku cemburu” jawabnya


dingin


Ara memejamkan matanya.


Menetralisir kedongkolan yang mulai memuncak. Kecemburuan suaminya ini sudah


tidak masuk akal.


“El— please, jangan jadi


kekanak-kanakan begini” Ara mendesah frustasi “kak Leo sahabatku. Enggak lebih.


Dan bunga itu… aku sendiri yang memintanya dulu dari dia kalau aku sudah lulus,


seperti sekarang ini. Cum—”


“Jadi menurutmu aku kekanakan


begitu?” potong Ellard cepat, tatapannya menyorot tajam pada Ara


Ara terdiam. Ia jelas melihat


rahang suaminya yang sudah mengeras


“Apa aku salah mencemburui lelaki


yang memberikan bunga untuk istriku?” rendah, Ellard mengepalkan tangannya


“Parahnya itu dari lelaki yang pernah kamu cintai! Dan lagi, apa kamu tidak


menyadari sedikitpun kalau si brengsek itu juga menyukaimu sebagai wanita,


bukan sahabat?”


Gerbang dibuka oleh satpam sedang


Ellard masih menatapnya tajam.


“El… ayolah, semua yang kamu katakan


itu tidak benar” Ara tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Ara sudah


mengatakan dengan jelas bahwa lelaki yang kini dicintainya hanya dirinya


seorang. Bukan Leo atau siapapun. Tapi sepertinya suaminya itu masih enggan


mempercayainya. Ara hanya tidak suka Ellard terus cemburu buta pada Leo yang


jelas-jelas juga sudah mempunyai kekasih.


“Terserah jika kamu ingin terus


dekat dengannya. Tapi jangan harap aku akan diam saja!”


Raut Ellard terlihat sangat marah


dan menakutkan setelah mengatakannya. Ellard menatap kedepan. Melajukan


mobilnya ke dalam. Saling diam, keduanya membuka seatbelt. Sebelum keluar


membuka pintu, Ara meraih tangan Ellard, menatapnya sendu


“Are we okay? Please don’t mad at me again”


Ellard menatap Ara, dadanya naik


turun dengan nafas yang menderu kasar. Ia berusaha menetralkan amarahnya yang


memuncak.


“Kita belum selesai” Ellard


berucap dingin, melepaskan tangan Ara kemudian keluar dari mobil.


****


Hari beranjak malam ketika Ara


dan Ellard tiba dirumah orangtuanya. Gadis itu di hadiai banyak ucapan selamat


dan pujian atas prestasi yang luar biasa diraihnya. Bahkan Andin sampai


meneteskan air mata karna begitu terharu dengan pencapaian putri satu-satunya


tersebut. Sedang Alex, seperti biasa kakanya itu tidak akan langsung memujinya,


melainkan menggodanya lebih dahulu hingga kesal dan hampir menangis barulah

__ADS_1


Alex akan kembali memeluknya sayang dan memujinya setinggi langit.


Kini mereka sekarang berada di sofa


ruang tengah terlibat pembicaraan ringan setelah menyelesaikan acara makan


malam terlebih dahulu.


“Setelah lulus, apa rencanamu


selanjutnya sayang?” tanya Andin, setelah sejak tadi yang banyak terlibat


pembicaraan hanya ketiga lelaki diantara mereka. Dan parahnya perbincangan


ketiganya tidak jauh-jauh dari pekerjaan.


Ara yang sejak tadi bermain


ponsel disebelah Ellard, kini mendongak “Iya ma?”


“Ck, kebiasaan kamu ini. Simpan dulu


ponselmu kalau kita lagi ngumpul begini” Andin mendengkus


Ara gelagapan, apalagi kini


tatapan tajam Ellard menyorot padanya. Ia menyengir kuda, menghalau suasana


yang tiba-tiba terasa mencekam dari sebelahnya.


“Maaf. Mama bilang apa tadi?”


“Mama tanya, setelah lulus kuliah


apa rencanamu selanjutnya?” Andin mengulang pertanyaannya


“Untuk sekarang Ara masih belum kepikiran


ma,” Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


“Kamu kan jurusan bisnis, yaudah…


kerja di perusahaan Ellard aja lagi seperti waktu magang dulu” Alex menimpali


Ara diam sejenak, “Hm, soal itu— sebenarnya


aku tidak berniat kerja di perusahaan El lagi” cicit Ara yang berhasil membuat


Ellard menoleh padanya.


“Kenapa?” tanya Alex mengerut


kening


“Kalau bisa aku mau melamar di


perusahaan lain. Aku sedikit kurang nyaman kalau kami kerja ditempat yang sama.


Yang ada orang-orang disana juga akan ikut-ikutan segan samaku,” aku Ara


“Yah wajar dong kalau mereka


segan, kan kamu nyonya-nya disana” ujar Alex mengangkat bahu ringan


“Emang aku kayak kakak— gila


hormat” Ara mencebik


“Dari pada kerja ditempat lain,


mending kamu tinggal dirumah aja ngurus semua keperluan suamimu, seperti yang


dilakukan mama kamu” ucap Haris lebih dulu sebelum Alex hendak membalas balik


sindiran Ara. “Toh semua yang kamu butuhkan Ellard bisa memenuhi.”


“Tapi dad, aku mana tahan cuma duduk


seharian dirumah terus.” protes Ara


“Alaa dek.. gak usah sok protes


deh. Bilang gak tahan, padahal selama ini yang kakak tengok kamu betah banget  gak keluar kamar seharian Cuma untuk nonton drama


picisanmu itu.” sengit Alex “Trus belum lagi dengan nulis curhatan-urhatan


puitis nan halu kamu itu— disini” lanjut Alex menyeringai seraya mengeluarkan


diary mini dari saku celananya.


Sontak mata Ara membulat sempurna


ketika melihat benda ditangan Alex tersebut.


“Kak Alex kepoin kamarku ya?!” sembur


Ara nyaris berteriak, wajahnya seketika memerah


“ya kurang lebih begitu sih dek”


sahut Alex mengedikkan bahu santai “habisnya kakak penasaran banget, apa aja


yang kamu kerjakan selama ini dalam kamar. Eh, rupanya ini toh. Rencananya kakak


baru mau baca. Penasaran apa sih isinya” sambungnya mengerling sambil


mengibaskan diary tersebut


Ara gelagapan, dan seketika itu


juga dia bangkit berdiri dari duduknya, menatap nyalang diary-nya. Bukannya apa,


perasaan memujanya pada Leo ada disana.


“Balikin enggak kak!” sengit Ara


seraya melangkah cepat hendak merampas benda tersebut dari tangan Alex.


“Enak aja… tunggu kakak uda


selesai baca” sahut Alex, segera berlari memutari ruangan ketika Ara nyaris


merebutnya. Alhasil keduanya kini saling mengejar bak anak kecil yang tengah


merebutkan benda kecil tersebut.


“kak balikin dong” rengek Ara


terengah


“kakak bilang nanti loh dek” Alex


tertawa puas, masih belum mau berhenti


“Ara, Alex… bisa kalian berhenti!”


hardik haris yang kali ini sama sekali tidak dipedulikan kedua bocah besar


tersebut. Alex dan Ara masih saling mengejar di sekitar sofa ruangan


“Ara, hati-hati… nanti kamu bisa


jatuh” peringat Andin was-was


“Tangkap El—“ seru Alex tiba-tiba,


secepat kilat melempar diary tersebut pada adik iparnya. Dan refleks tangan


Ellard langsung menangkapnya.


******!!


Seketika itu juga Ara berhenti


dari lariannya. Jantungnya memompa berkali-kali lebih cepat saat menatap benda


yang mereka perebutkan sejak tadi kini berada ditangan lelaki yang sama sekali


tidak pernah ingin ia biarkan untuk melihat isinya. Ayolah, tingakat


kecemburuan Ellard saat ini berada di level tertinggi, belum lagi jika lelaki


itu sampai membaca keseluruhan isi diary-nya yang dipenuhi oleh tentang cinta


pertamanya. Ia tidak bisa membayangkan apalagi yang akan terjadi dengan


hubungan keduanya. Sementara sepanjang mereka dirumah orangtuanya ini, sejak


tadi Ellard masih bersikap dingin padanya, ya sekalipun hal itu tidak terlihat


jelas di depan keluarganya.


Tidak bisa! Ellard tidak boleh


membacanya!


Panik, Ara kembali berlari


menghampiri Ellard yang masih tampak santai ditempat duduknya. Namun disaat


sedikit lagi ia akan sampai, tanpa sengaja kakinya terantuk siku kursi hingga…


Bukkkk


“ARA!” teriak kempatnya


Secepat kilat Ellard melompat dari


duduknya, meraih tubuh istrinya yang tengah meringkuk dengan kedua siku menahan


agar wajahnya tidak langsung berbenturan dengan lantai. Ara mengerang kesakitan


ketika merasakan tulang keringnya berdenyut nyeri. Darah mengucur dilutut dan


sikunya.


“Bodoh, hanya gara-gara benda sialan


itu kamu sampai rela terluka begini!” nada suara Ellard meninggi, namun sarat


akan kekahwatiran


“Hikss… sakit” erang Ara,


membenamkan wajah di dada Ellard. Ia meremas kuat kemeja suaminya


“Ya ampun sayang” sergah Andin


tak kalah cemas


“Sebaiknya bawa dia ke kamar nak”


saran Haris


“Aku akan panggilkan dokter”


timpal Alex tak kalah merasa bersalah

__ADS_1


Ellard langsung membopong tubuh Ara


masuk ke dalam kamar istrinya dulu sewaktu belum menikah. Dengan hati-hati ia


merebahkan tubuh mungil Ara di tengah ranjang. Gadis itu masih meringis


kesakitan. Dengan lembut Ellard menyeka keringat yang membasahi dahi istrinya.


“El, ini kamu bersihkan dulu darah


dilutut istri kamu” Andin menyodorkan wadah berisi air dan handuk kecil serta


kotak First Aid, sambil menunggu


sebelum dokter datang.


“Iya Ma,”


Ellard mengambil wadah beserta First


Aid tersebut dan mulai membersihkan luka Ara terlebih dahulu. Setelahnya ia


mengoloskan salep antibiotic yang lansung membuat Ara kembali mengerang


“Sshhh… sakit El” rengek Ara dan langsung


dihadiai delikan tajam oleh suaminya.


“Baru ingat sakit sekarang?”


sindirnya “tadi masih sok jago aja”


Ara mengatupkan bibirnya,


bukannya disayang, malah dihadiai sindiran. Raut wajah Ellard sama sekali tidak


bersahabat untuk saat ini. Namun begitu, Ellard kembali mengoleskan salep


dengan perlahan-lahan sambil meniup lututnya lembut.


****


Hari beranjak semakin larut.


Ellard dan Ara memutuskan untuk menginap dirumah orangtuanya, mengingat Ara


yang saat ini masih kesakitan dan sulit berjalan. Tadi dokter sudah memeriksanya


dan memberikan obat acetaminophen untuk menghilangkan rasa sakit. Ara mengalami cedera pada tulang keringnya


akibat benturan pada siku sofa tadi.


Kini keduanya tidur dengan kepala


Ara yang direbahkan pada bisep lengan kokoh Ellard. Ara mendesah lemas, sejak


tadi Ellard masih betah mendiamkannya.  Ditengah


suasana kamar yang tamaran, Ara mendongak, menatap wajah suaminya yang ternyata


belum memejamkan mata.


“El” panggilnya pelan


“Hm”


“Kamu masih marah?”


“Marah untuk?”


“Soal bunga?”


Ellard menurunkan tatapannya,


memandang wajah cantik Ara yang tengah menunggu sahutannya


“Apa aku berhak marah?” tanyanya


balik “bukankah kamu yang seharusnya marah karna aku sudah membuang bunga dari sahabat terkasihmu?”


“El…” Ara meringis, tidak tahu


harus berkata apa lagi. Suaminya ini masih kembali menyindirnya.


“Dan tadi— apa sebegitu takutnya


kamu aku mengetahui keseluruhan isi hatimu dengan cinta pertamamu itu pada buku


harian itu?”


“Da… darimana ka—kamu tahu?” Ara


terbata, menelan ludah susah payah


Ellard tersenyum hambar. Ia memiringkan


tubuhnya, membelai wajah Ara seringan bulu.


“Terlihat jelas sayang. Ekspresimu


yang memberitahu”


“El— itu hanya masa laluku. Kumohon


jangan salah paham. Ak—ku cuma gak mau buat kamu semakin cemburu lagi dengan


membaca tulisan-tulisan kekanak-kanakanku di diary itu.”


“Listen, I’m not jealous, I’m territorial. Jealous is when you want


something that’s not yours. Territorial is protecting what’s already yours”


ucap Ellard rendah namun penuh penekanan “kamu milikku yang paling berharga. Dan


aku hanya melindungi apa yang sudah menjadi milikku. Aku lelaki sayang… aku dapat


melihat dengan jela jika sejak awal si Leonard itu tidak murni menganggapmu


sebagai sahabat. Dia menyukaimu.”


Ara tertegun. Masih sulit


menerima bahwa Leo juga menyukainya. Ini tidak mungkin kan? Secara selama ini


lelaki itu tidak pernah menunjukkan sedikitpun tanda-tanda adanya ketertarikan


terhadap dirinya. Leo bahkan sudah memiliki kekasih yang sangat cantik dan


pintar, jauh lebih baik darinya.


Ellard menangkup sebelah pipi


Ara, menyadarkan wanitanya itu dari lamunan panjangnya. Ia menempelkan kening mereka


berdua.


“Aku tidak peduli bagaimana


perasaan si sialan itu padamu. Tapi satu yang kupedulikan, aku harap perasaanmu


tidak kembali berubah. Sampai kapan pun kamu hanya boleh mencintaiku seorang. Bukan


lelaki lain” lirih Ellard begitu takut jika perasaan wanitanya ini berubah.


Ara tersenyum hangat. Begitu manis


dan menenangkan. Ara memiringkan kepalanya, mencium begitu dalam bibir


suaminya.


“Never sayang. Perasaanku tidak


akan berubah lagi. lagipula kamu sudah mengikatku dalam pernikahan ini. I’m yours forever more”


Senyum Ellard terbit, hingga


memunculkan lesung pipinya yang begitu manis. Ia mengecup lama kening Ara-nya. “Ya, You’re mine” Ellard menarik tubuh


Ara, hingga menempel sepenuhnya. Dia mendekap erat tubuh mungil istrinya


“Jangan marah lagi. Jujur, aku


sangat takut melihatmu yang begitu” aku Ara membalas dekapan Ellard tak kalah


eratnya.


Ellard menyurukkan wajahnya pada


ceruk leher Ara, mengendus lalu menghisap disepanjang leher jenjang istrinya


hingga meninggalkan bekas “Maaf sayang— aku hanya terlalu takut, sampai enggak


sadar uda buat kamu ketakutan”


Ara tidak mampu membalas ucapan


Ellard ketika suaminya itu kini menciumi lehernya begitu intens hingga


membuatnya menggeliat kegelian.


“Sayang, aku ingin memakanmu”


parau Ellard menggigit telinga Ara


“Ellard hentikan… kakiku sedang


sakit” akhirnya Ara memperotes dengan suaranya yang setengah mendesah.


Ellard mendengkus sebelum menarik


mundur wajahnya, menatap kesal pada wanitanya


“Ck, kalo kamu gak pecicilan


sampai cedera begini, mungkin aku sudah memasukimu sekarang” ucapnya frontal


Ara terkekeh. “seperti katamu


kemarin, kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya. Tidurlah” Ara


menjeda ucapannya sebentar sebelum berucap dengan tersipu,


“I love you”


Ellard tersenyum lebar, rasa


kesalnya hilang saat mendengar kata cinta dari mulut Ara-nya.


“I love you more, honey…”


Ellard mencium puncak kepala Ara.


Kemudian ikut memejamkan matanya dengan tubuh mereka yang saling memeluk erat.


To be continued


__ADS_1


IG: rianitasitumorangg


__ADS_2