
HAPPY READING.
.
.
Aurora mengeliat kecil dan membuka mata perlahan ketika sinar matahari pagi berhasil
membangunkannya dari alam bawah sadarnya. Ara hendak beranjak namun
pergerakannya tertahan begitu menyadari ada lengan kokoh yang melingkari
pinggangnya dengan posesif.
ehh?
Ara mengerjap. Berusaha
mengingat hal terakhir yang terjadi sebelum menutup mata. Dan
seperkian detik kemudian matanya membulat ketika berhasil mengumpulkan
kepingan-kepingan ingatan dimana hal terakhir kali yang mereka lakukan adalah
berciuman hingga berakhir dengan cumbuan panas. Semalaman Ellard mencumbunya begitu agresif dan meninggalkan banyak jejak kepemilikan
pria itu di sepanjang leher bahkan sampai dadanya. Dan sialnya, Ara
tidak bisa menghentikan perbuatan pria itu mengingat statusnya kini
adalah seorang istri.
Oh my gosh! Ini gila...
Ara memukul-mukul
kepalanya begitu mengingat jelas perbuatannya yang turut menikmati setiap cumbuan panas suaminya. Namun
kemudian Ara mensyukuri satu hal, Ellard tidak meneruskannya dengan
melakukan hal yang lebih. Pria itu dapat mengendalikan dirinya. Ellard seakan mengerti bahwasannya ia belum
siap. Pria itu memperlakukannya begitu lembut dan membuat dirinya
senyaman mungkin dengan semua sentuhannya. Alhasil, Ara pun terbuai.
Ara membalikkan badannya dengan
perlahan, menghadap sang suami yang masih terlelap. Ellard sempat
terusik dengan pergerakan kecilnya itu, namun kemudian pria itu kembali tenang
setelah berhasil mengurung tubuh Ara yang sempat terlepas lebih erat.
Jantung Ara memompa lebih cepat saat melihat perbuatan spontan pria
dihadapannya ini. Bahkan dalam keadaan tidak sadar sekalipun Ellard
seakan tidak rela melepaskannya. Tanpa sadar Ara tersenyum kecil. Dengan
gerakan seringan bulu, telunjuk tangannya bergerak menyentuh alis,
mata, hidung dan berakhir dibibir tipis nan menggoda Ellard. Bibir yang berhasil mencumbuinya
semalaman hingga tanpa sadar membuatnya jatuh tertidur.
Oh God, kenapa dalam
keadaan tidur begini pun dia masih sangat tampan! Ntah aku harus
bersyukur atau sebaliknya karna pria sempurna yang sedang terlelap
dihadapanku sekarang telah menjadi—Suamiku!
"Menikmati pemandangan indah dipagi hari, wifey?"
"Ehh?" Ara mengerjap.
Tersadar dari pemikirannya dan langsung menjauhkan tangannya begitu
melihat kedua bola mata coklat madu itu telah terbuka sempurna.
Memandangnya dengan sorot geli.
"Ma—maaf.. aku tidak bermaksud—"
Cup, cup, cup
"Morning kiss" kekehnya begitu berhasil mengecup bibir istrinya yang terlihat menggemaskan dimatanya itu.
"Ke—kenapa kau
menciumku?" pertanyaan bodoh memang. Namun cuma kalimat itu yang
berhasil keluar dari mulutnya mengingat wajahnya yang terasa panas dan
jantungnya itu mendadak tidak bisa diajak berkompromi.
"Karna aku suka," Ellard semakin mendekatkan wajahnya lalu ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawah Ara sensual.
"Your lips like a strawberry. I love it wifey. You've become my addiction" bisiknya lalu sedetik kemudian memagut kembali bibir Ara lebih dalam dan lembut.
Drttttt.. drrtttttt....
Ellard mengerang ketika
ciumannya terlepas. Ara mendorong dadanya dan menjauhkan wajah mereka.
Getaran ponsel diatas nakas berhasil menyelamatkan gadis itu dari ciuman
panjang Ellard yang seperti tidak mau melepaskannya.
"Sebaiknya ini penting. Kalau tidak kau tahu akibatnya telah menggangguku sepagi ini," ancam Ellard kesal.
Kesempatan Ellard
menerima telepon tidak disia-siakan Ara. Dia mengambil ancang-ancang
untuk kabur namun sial, tangan Ellard yang bebas berhasil menariknya
kembali dan mengurungnya. Ellard menatapnya kesal.
"Tuan, jet pribadi anda sudah siap. Kami hanya tinggal menunggu kedatangan tuan dan nona," Blake dari sebrang telepon
"Hm. Satu jam lagi kami
kesana," balas Ellard lalu memutuskan sambungan telepon sepihak.
Tatapannya beralih pada Ara yang mengerut kening.
"Kau mau pergi?" tanya Ara.
Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah semangat "Oh kalau begitu cepatlah. Nanti kau bisa terlamb—"
"Bukan aku saja. Tapi kita," sela Ellard cepat
"Apa?"
__ADS_1
"Kita akan pergi honeymoon ke Maldives untuk seminggu,"
Ara terdiam sebentar, mencerna kalimat itu. Maldives adalah tempat yang sejak dulu sangat Ara ingin kunjungi. Panorama alam
dan pantai serta pemandangan laut yang cantik disana telah menjadi
daftar tempat favorite yang ingin sekali dikunjunginya. Dan Ellard tadi
bilang apa? Bulan madu ke Maldives? matanya mengerjap berbinar-binar senang.
"Maldives? Benarkah? Kita kesana?" serunya sembari menguncang-guncang tangan Ellard kesenangan bak anak kecil.
Ellard terkekeh melihat binar bahagia itu.
"Ya. Kau menyukainya, hm?" Ellard membelai sayang puncak kepala Ara.
"Suka banget! Kalau begitu ayo cepat mandi!" Ara bersorak kesenangan dan menarik-narik tangan Ellard untuk bangkit.
Ellard memiringkan kepalanya lalu menyeringai nakal "Serius ingin mandi bersama? Ah,
menyenangkan sekali akhirnya bisa mandi bersama dengan istriku."
Ara langsung membeku. Bergidik ngeri mendengar suara serak itu.
Oh, ayolah Aurora kenapa kau selalu ceroboh begini sih!
"Ayo sayang..." Ellard
turun dari ranjang. Hendak menarik tangan Ara namun dengan cepat gadis
itu menepisnya dan berlari kabur masuk ke kamar mandi terlebih dahulu serta menutup
pintu dengan kuatnya.
Brakkk
"Aku mandi duluan," teriak Ara dari dalam kamar mandi
Ellard melongoh dengan
gerakan secepat kilat istrinya itu. Lalu sedetik kemudian dia tertawa
lepas, menggeleng-gelengkan kepala menanggapi aksi konyol Ara. Dia tadi
hanya menggoda istrinya itu dan lihatlah hasilnya. Istrinya telah kabur
duluan dengan gesitnya.
"That's my cutie wife" kekeh Ellard
****
Constance Moofushi - MALDIVES | 5.30 pm
Aurora tidak tahu
harus berkata apa lagi ketika jet pribadi milik Ellard telah landing di
pulau cantik itu. Tak henti-hentinya Aurora menatap kagum setiap kali
kakinya melangkah memasuki pulau maladewa ini. Semua keindahan yang
diposting di internet tentang pulau ini ternyata aslinya jauh lebih luar
biasa cantiknya.
Aurora semakin mengembang ketika penginapan mereka berada di bungalow
tepatnya kamar hotel berada di bawah laut. kamar hotel itu bertipe
Muraka, yang berarti terumbu karang. Didalam kamar mereka dapat
menikmati pemandangan bawah laut Samudera Hindia.
"Indah sekali" Ara
berdecak kagum. Menempelkan tangannya pada dinding kaca kamar,
menyaksikan pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan laut cantik yang
berenang kesana-kemari.
"Kau suka?" Tanya Ellard
yang baru saja memasuki kamar setelah selesai mengurus segala
sesuatu mengenai keperluan mereka selama disana.
Ara tersenyum lebar dan mengangguk antusias.
"Suka
sekali. Terimakasih sudah membawaku ketempat ini" ucap Ara sambil
mengarahkan kembali pandangannya pada ikan-ikan cantik didepan sana.
Ellard mendekat. Melingkarkan tangannya pada perut Ara.
"Anything for you honey," sahut Ellard seraya mulai mengendus-ngendus leher putih istrinya.
Ara menegang. Lelaki ini kenapa suka sekali menempel dan menciuminya seperti lintah begini sih.
"Ehemm.. El--ellard"
"Hm," masih belum berhenti dari kegiatannya mengendus.
"Ak--aku..laa..laparr. Aahh"
Sial. ******* laknat itu keluar ketika Ellard menggigit dan menjilati lehernya
"Mau makan?"
"I..iyyaa"
Ellard membalikkan tubuh Ara menghadapnya.
"Boleh. Tapi ada syaratnya"
"Syarat?"
"Hm. Syaratnya panggil aku sayang mulai sekarang dan seterusnya. Dan jika kau lupa, maka aku akan menghukummu,"
"Tapi aku--"
"Iya atau tidak akan ada makanan sama sekali. Digantikan dengan aku yang memakanmu." Ellard menyeringai
Ara menelan ludahnya susah payah. Lelaki ini paling bisa membuatnya tidak berkutik.
"Ah, sepertinya kau lebih suka pilihan kedua. Baiklah--"
"Iya sa..say-- anggggg" lidah Ara terasa sangat kakuh
"Ucapkan dengan lancar"
__ADS_1
Ck, devil ini!
"Iya sayang. Ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar sekarang,"
Ellard tersenyum
"Good girl" Ellard mengacak gemas surai panjang istrinya. Lalu menautkan jari mereka, berjalan beriringan keluar dari kamar.
****
Keesokan harinya,
pagi-pagi sekali Ara sudah bersiap-siap dengan segala macam peralatan
yang sudah dipersiapkannya. Begitu bersemangat ingin mengelilingi
keindahan pulau cantik Maladewa itu sesuai dengan janji sang suami pada
waktu sebelum mereka tidur akan mengajak dirinya berkeliling dan bermain
sepuasnya di tempat tersebut. Bahkan Ellard yang masih sangat mengantuk
pun terus diganggunya agar segera bergerak bangun.
Melihat semangat yang
begitu membara dimata istrinya, dengan sengaja Ellard berpura-pura tidur
lebih lama, sekalipun sebenarnya dia sudah bangun sejak istrinya
berkemas-kemas. Bahkan ketika Ara berulangkali menggoncang tubuhnya, dia
tetap bergeming. Menahan senyum dan ingin melihat sampai sejauh mana
usaha istri chubby-nya itu mampu membangunkannya.
Namun hal yang tidak
pernah diduganya terjadi. Ara-nya mencium bibirnya. Jantung Ellard berdebar lebih cepat. Ini pertama kalinya Ara
yang memulai. Gadis itu tahu saja kelemahannya yang satu itu.
Oh ****!
Ellard bergerak lebih
cepat ketika Ara hendak menjauhkan bibirnya. Ellard membalikkan keadaan. Dia menyerang Ara kembali. Memagut bibir itu lebih lama hingga dia
puas baru kemudian melepaskan.
"Dasar mesum! Giliran dicium saja langsung bangun," gerutu Ara mengerucutkan bibirnya
"Ayo cepat mandi. Kita
sudah terlambat. Aku tunggu diluar," sambungnya menghentakkan kaki masih
kesal terus berjalan keluar. Menulikan telinganya ketika mendengar tawa
lepas Ellard yang penuh kemenangan.
****
Sepanjang hari itu
Ellard menepati janjinya. Menyenangkan hati istrinya setelah aksi
merajuk singkat karna kejadian tadi pagi dikamar hotel. Dari mulai
snorkeling menikmati keindahan bawah laut, makan siang bersama di pasir
yang timbul di tengah laut, menghabiskan waktu berjalan-jalan di pasar
lokal dan membeli beberapa beragam souvenir menarik. Dan terakhir makan
malam di pinggir pantai ditemani cahaya lampu lilin dan deburan ombak.
Setelahnya menikmati bioskop outdoor di Gili Lankanfushi. Menonton film Hollywood sambil berbaring di kursi dengan minuman, popcorn, dan kudapan lainnya di bawah bintang-bintang.
Senyum Ara tak pernah
pudar selama mereka melakukan rangkaian kegiatan tersebut layaknya
pasangan suami istri yang benar-benar saling mencintai. Bergandengan
tangan kemanapun mereka pergi, meski Ara sempat menolak, namun Ellard
sama sekali tidak mengindahkannya. Ayolah, ini acara bulan madunya. Dia
hanya ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya tanpa ada satupun
gangguan selama seminggu berada di tempat ini.
Ellard menatap jari
mereka yang bertaut. Istrinya tengah serius menikmati film yang sedang
berlangsung, sementara dirinya sejak tadi sibuk memandangi wajah chubby
istrinya yang sama sekali tidak terusik. Sudut bibir Ellard terangkat
menikmati berbagai macam raut ekspresi Ara kala menyaksikan tayangan di depannya. Gadis kecilnya, Aurora-nya, istri-nya. Hanya memiliki gadis disebelahnya ini, lengkap sudah kebahagiaannya.
"Sayang," panggilnya pelan
"Hm?" sahut Ara masih serius menonton
"Look at me"
"Ada ap—"
Baru saja Ara menoleh hendak protes, namun
lagi-lagi bibirnya dibungkam dengan bibir kenyal Ellard yang sudah
menyosor lebih dahulu. Mata Ara membulat sempurna, terkejut. Suaminya
ini memang benar-benar tidak tahu tempat. Bahkan dengan santainya Ellard memiringkan wajahnya,
semakin memperdalam tautan bibir mereka tanpa mempedulikan orang-orang disekitar.
Wajah Ara memerah
menahan malu. Namun demikian, dia tidak menolak perbuatan
suaminya yang tidak tahu tempat itu. Ara justru mengalungkan tangannya
dileher Ellard, membalas setiap sentuhan bibir panas tersebut. Ellard
tersenyum disela-sela pagutannya ketika Ara-nya membalas. Menarik tengkuk
istrinya hingga dapat mengakses penuh bibir yang menjadi candunya itu.
To be continued
__ADS_1