
Ellard
sedang memeriksa dokumen-dokumennya di meja kerja yang ada di kamarnya. Ellard
benar-benar sangat sibuk. Selama empat tahun ini, semakin hari pekerjaannya
semakin banyak. Hal tersebut benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Namun
Ellard sangat bersyukur dengan kesibukannya, ia sedikit melupakan masalah pribadinya
yang begitu menyiksa.
Selama
empat tahun ia telah mengerahkan kemampuan dan kekuasaannya untuk mencari
keberadaan Aurora tapi semuanya nihil. Ayahnya ternyata sangat pandai
menyembunyikan menantunya itu. Aurora benar-benar menghilang tanpa jejak.
Beberapa tahun ini juga Ellard sudah berkunjung ke beberapa Negara yang
memungkinkan Aurora berada disana, namun hasilnya masih saja tetap sama. Nihil.
Bahkan keluarga Aurora sekalipun tidak ada yang mengetahui keberadaan putri
mereka. Ellard sangat tidak menyangka, Ayahnya bisa sedetail itu menyembunyikan
Aurora.
Berulangkali
ia sudah membujuk Ayahnya untuk memberitahu dimana keberadaan istrinya, tapi
Holland masih enggan memberitahunya— sekalipun Clarissa sudah lama tiada.
BRAKKK
Hentakan
keras pada pintu ruang kerjanya berhasil membuyarkan fokus Ellard pada dokumen
yang sedang dibacanya. Mendongak— senyumnya langsung terbit begitu mengetahui pelaku
pembuat kegaduhan itu. Little Princess-nya. Clara Veronica Miller. Putri
kecilnya itu tengah berdiri di ambang pintu, memakai piyama tidur dengan sebuah
boneka Teddy ditangannya. Mata dan hidung gadis itu memerah. Menangis?
“Papa!!”
teriak Clara dengan bahu yang naik turun dan bibir yang ditekuk.
“Hai,
princess Papa,” kekeh Ellard, ia bangkit dan mengitari meja. Menghampiri
Princess kecilnya yang lagi-lagi pasti merajuk karna meninggalkannya saat
tertidur tadi. Ellard merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh kecil itu
kedalam gendongannya.
“What’s
wrong my princess? Kenapa nangis, huh?” tanya Ellard sambil menyeka lembut
jejak airmata putrinya.
“Papa
bohong!”
“Bohong?”
“Papa
uda janji enggak tinggalin Cla, tapi Papa malah pergi,” rengek Clara sambil
meninju pelan wajah Ellard.
Ellard
terkekeh dan menciumi gemas pipi gembul putrinya. “I’m sorry, Princess. Papa
lagi banyak kerja nih. Princess Papa bobo lagi ya”
“Cla,
enggak mau bobo sendiri. Papa harus temani,”
“Terus,
kerjaan Papa gimana dong?”
“Ya
ditinggalin. Papa bobo sama Cla!” tangis Clara semakin kencang
Ellard
menghela nafas, “Ok, ok.. kita bobo. Tapi janji enggak nangis lagi, hm?” bujuk
Ellard seraya mengecup pipi Clara
Tangis
Clara langsung berhenti. Bocah kecil itu menganggukkan kepala cepat.
“Good
girl. Then, let’s sleep with Papa” seru Ellard, menciumi gemas puncak kepala
Clara sembari mulai menghela langkah keluar menujuh kamar tidur putrinya.
Ellard
membaringkan tubuh kecil Clara ditengah ranjang, kemudian ikut merebahkan diri
disampingnya dengan selimut yang ditarik hingga ke leher gadis kecilnya. Ellard
memiringkan tubuhnya dan mulai menepuk-nepuk pelan punggung gadis kecilnya.
“Papa…”
Ellard
menurunkan tatapannya “Hm?”
“I
want to hug Mum’s photo” gumam Clara, menatap sayu Ellard. Bocah itu sudah
hampir tertidur.
“Photo?”
beo Ellard
Clara
mengangguk. Tanpa menoleh, tangannya di arahkan ke nakas yang terdapat bingkai
foto. “There Papa. Give me…”
Ellard
tertegun, menatap nanar foto yang dimaksudkan putrinya. Potret yang ada dalam
bingkai itu merupakan sosok wanita cantik dengan senyum yang mereka indah,
tengah menatap camera. Begitu anggun. Sosok yang sudah lama sangat
dirindukannya mati-matian. Aurora. Istri
kesayangannya.
Lambat,
Ellard menggapai foto itu— menatapnya begitu dalam.
“Papa…
give me, my mom…” Clara menginterupsi setengah merengek dan langsung merebut
bingkai itu lalu menciumnya sebelum mendekapnya erat. “Miss you Mom…”
Ellard
menatap nelangsa kelakuan putrinya. Seperti permintaan Clarissa, dia ingin yang
dikenal Clara sebagai Mamanya adalah Aurora. Bukan dirinya. Dan Ellard
melakukan tepat seperti yang diminta ibu kandung Clara. Dia mengenalkan Aurora
sebagai ibu kandungnya, yang saat ini tengah menjalani pengobatan di luar
negri. Dia terpaksa membohongi Clara, namun berjanji didalam hati, dia akan berhasil
menemukan keberadaan istrinya itu dan membawanya kehadapan putrinya.
“Papa…
kapan Mama pulang? Cla rindu,” gumam Clara dengan mata terpejam, kantuk hampir
__ADS_1
menjemput kesadarannya.
“Tidak
lama lagi, sayang.” Sahut Ellard mengecup lama kening Clara lalu mengeratkan
pelukannya. “Papa akan bawa Mama pulang secepatnya— dan kalau belum sembuh juga,
nanti Papa sendiri yang akan obatin pelan-pelan” lirih Ellard dengan mata yang
memanas.
“Promise,
Papa?” gumam Clara ditengah kantuknya
Ellard
tertawa rendah, “Promise, Princess. Your mom will come home as soon as posible”
Ellard menduselkan kepalanya pada puncak Clara dengan gemas. Setelahnya tidak
ada lagi celoteh yang keluar dari mulut bocah kecil itu— digantikan dengan
dengkuran halus miliknya.
****
Suara
nyaring puluhan anak kecil yang sedang menyanyikan lagu rohani, mengisi ruangan
yang terletak di belakang sebuah Gereja. Dari anak yang baru menginjak umur
tiga tahun bahkan sampai remaja. Dan semua anak itu sedang melakukan paduan
suara untuk malam natal beberapa minggu lagi.
Lagu
Jinggle Bell menjadi lagu terakhir yang dinyanyikan anak-anak. Pertanda sesi
latihan berakhir untuk hari ini. Dan dengan itu Ara langsung menyambut dengan
tepuk tangan bersama beberapa orangtua anak yang kebetulan ikut menemani
anak-anak mereka latihan.
“Kerja
bagus anak-anak,” puji Ara pada beberapa anak asuhnya yang setelah selesai
latihan langsung menghampiri Ara dan memeluknya. Ara menyambut memeluk dan
menciumi puncak kepala mereka satu persatu.
Setelah
Ara memastikan anak-anak panti semua lengkap, ia segera mengajak mereka untuk
kembali ke panti karena sebentar lagi jam makan siang.
“Mama!!”
Langkah
Ara terhenti manakala mendengar seseorang memanggil namanya. Berbalik, senyumnya
langsung terbit begitu mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang anak
laki-laki dengan setelan kaos polo hitam, dibalut jaket jeans— bawahan celana
panjang biru dongker, dengan ransel yang melekat dipundaknya, kini tengah
tersenyum lebar menatapnya. Sementara disebelah anak lelaki itu, tampak juga
seorang gadis kecil dengan tinggi sedikit lebih pendek darinya— memakai skirt
dengan warna yang sama dengannya, juga menampilkan senyum yang tak kalah lebar
hingga menampilkan gigi susunya.
Ara
berjongkok dan segera merentangkan lebar kedua tangannya, menyambut bocah kecil
nan menggemaskan itu kini tengah berlarian ke arahnya. Nathan Mateo dan Nala Zanetta. Bocah kembar fraternal atau kembar tidak identik. Buah hatinya, anak yang berhasil ia lahirkan ke dunia, empat tahun
lalu.
“Mama…,”
pekik kedua bocah itu dengan riangnya, begitu berhasil memeluk erat leher sang
Mama.
Ara
sambil menciumi gemas pipi apel keduanya bergantian.
“Hai,
prince dan princess kesayangan Mama… darimana saja kalian, hm?” Ara menggigit
kecil hidung bangir keduanya.
“Mama,
Uncle Leo ada di depan. Katanya hari ini Uncle mau ajak kita jalan-jalan ke
kota,” seru Nathan, si sulung
“Uncle
Leo?” beo Ara
“Yes,
Mom” Nala menyahut cepat. “Mommy hurry up… lets’s go.. we want to spend time
with uncle Leo,” lanjut Nala begitu
antusias hingga menarik-narik tangan Ara tak sabar
“Tapi
Mama masih ada keperluan dengan anak-anak lain sayang,”
“No,
Mom. We have to go right now!” timpal Nathan juga ikut menarik tangan Ara
“Uncle Leo uda tunggu kita di depan. C’mon Mom… c’mon…”
“Tapi—“
“Pergi
saja Ara. Biarkan suster yang lain handle anak-anak disini” sela Suster Anna
tepat dibelakang Ara.
Aurora
segera berdiri, berbalik dan mendapati Suster Anna tengah tersenyum hangat pada
mereka. suster Anna mendekat dan mengacak gemas puncak kepala anak kembar itu.
“Sampai
disana jangan nakal dan pergi jauh-jauh dari Mama dan Uncle kalian. Mengerti?” pesan
Suster Anna disertai senyum tulus yang terukir di wajah tuanya.
“Mengerti
Nenek,” seru keduanya bersamaan seraya langsung memeluk suster Anna.
“Then good,”
“Terimakasih
Suster Anna,” ucap Ara begitu ketiganya melepas pelukan. Nathan dan Nala segera
beralih menggamit tangan Ara. “kalau begitu kami pergi dulu, Suster” pamit Ara
yang dibalas anggukan kecil oleh suster Anna.
Ara
membimbing kedua tangan mungil anaknya keluar menuju parkiran. Disana, seorang
pria dengan pakaian santainya tengah berdiri sambil bersandar pada mobil.
lelaki itu belum menyadari kehadiran mereka karna tengah fokus mengetik sesuatu
di ponselnya.
“Uncle
Leoooo!!!” teriak si kembar bersamaan sambil langsung berlari menghampiri sosok
yang mereka panggil.
Leo
__ADS_1
mendongak— tersenyum lebar begitu melihat pasukan kecilnya tengah berlari
begitu semangatnya ke arahnya. Ia segera menunduk dan merentangkan kedua tangan
lebar, menyambut para kesayangannya.
Happ!
“Hello
twins… I miss you so badly,” ucap Leo seraya menciumi gemas pipi merah
keduanya.
“We
miss you too Uncle...” sahut Nathan
“Uncle
kok uda lama enggak main kesini lagi? Uncle Leo uda enggak sayang kita, kan?”
rajuk Nala bersidekap dada dengan pipi yang digembungkan.
Leo
mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan gadis kecil itu. Ia meraih tangan
mungil Nala dan menempelkan pada kedua pipinya.
“Siapa
bilang Uncle enggak sayang lagi? malahan tiap harinya Uncle berlipat kali
sayang sekarang”
“Uncle
bohong,” Nala menggeleng cepat. Masih dengan mood merajuknya.
“No,
I’m not lying my angel. Uncle beberapa minggu ini lagi banyak kerja, makanya
enggak bisa main dengan kalian.” Jelas Leo. Mengingat memang sudah sebulan ini
dia belum mengunjungi pasukan kecilnya ini. Sedang biasanya, sekali seminggu
dia selalu menyempatkan diri untuk datang menjenguk si kembar walau harus
menempuh jarak yang begitu jauh. “Tapi sekarang Uncle uda enggak sibuk. So, let’s
play for all day,” seru Leo dengan gaya kekanak-kanakannya.
“Really?
Horayyy… c’mon uncle… c’mon…” secepat kilat, mood merajuk Nala berganti ceria. Gadis
itu langsung melompat masuk ke dalam dekapan Leo. Sementara lelaki itu hanya
bisa terkekeh gemas seraya bangkit berdiri dengan menggendong tubuh kecil Nala.
“Aku
juga mau digendong sama Uncle Leo,” gerutu Nathan dengan bibir mencebik
“Nathan,
sama Mama aja ya.” Timpal Ara yang sejak tadi hanya diam tersenyum,
memperhatikan tingkah ketiganya. “Kasihan Uncle Leo-nya loh, kalau harus
gendong kalian berdua. Nanti pinggang Uncle bisa encok, terus sakit dan gak
bisa main dengan kalian lagi deh” lanjut Ara mengedikkan bahunya
“No,
Mama! Uncle ndak boleh sakit,” protes Nala, menggeleng tegas dengan kedua
tangan yang semakin melingkar kuat pada leher Leo. “Athan sama Mama aja”
“Deal.
Nathan sama Mama aja ya. Nanti Mamanya diculik loh kalo dibiarin sendirian” Leo
menengahi seraya mengerling jenaka pada Ara.
“Fine.
Nathan sama Mama aja deh” sahut Nathan, langsung merangkul kuat lengan Ara.
“Then,
Let’s go! Kita main sepuasnya” seru Leo, yang segera diikuti pekikan girang
sikembar.
Melihat
itu, Ara hanya bisa tersenyum bahagia. Perasaan hangat membanjiri hatinya. Axcel Leonard, lelaki yang selama empat
tahun ini selalu setia berada disisinya. Menemani dan memberinya kekuatan. Sejak
dulu bahkan sampai sekarang Leo selalu menjadi pelindungnya. Saat si kembar
masih dalam kandungan bahkan sampai sebesar ini, Leo tidak pernah sekalipun
meninggalkannya. Ntah bagaimana lagi dia bisa membalas kebaikan lelaki itu
padanya. Terutama pada sikembar. Tidak hanya menjadi Uncle untuk si kembar, Leo
juga merangkap sebagai Ayah untuk mereka— menggantikan peran yang seharusnya
milik Ellard. Leo mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada kedua bocah itu,
sekalipun sikembar bukan darah dagingnya sendiri. Namun kasih sayang Leo
terhadap anak-anaknya terlihat begitu tulus.
Sampai
sekarang Ara masih heran, bagaimana lelaki ini bisa berhasil melacak keberadaan
dirinya di area pelosok ini. Sementara yang dia tahu jika Ayah mertuanya adalah
sosok yang memiliki kekuasaan besar, sanggup menyembunyikan keberadaannya
begitu apik hingga siapapun tidak dapat menemukannya, termasuk Ellard, putra kandungnya sendiri.
Mengingat
Ellard, ntah bagaimana sekarang keadaan lelaki itu. Masihkah gencar mencarinya
atau mungkin sudah melupakan? karna telah bahagia dengan keberadaan Clarissa
dan anak mereka.
Aurora
menghela nafas berat. Ia tidak bisa menampik bahwa dirinya masih begitu
mencintai Ellard, lelaki yang sampai sekarang masih berstatus sebagai suaminya.
Empat tahun berpisah sama sekali tidak berhasil menyurutkan perasaannya pada
lelaki yang telah menyakitinya itu. Sebelum sikembar lahir, tidak jarang ia
selalu menangis diam-diam. Namun tidak sekarang. Keberadaan anaknya sedikit
berhasil mengalihkan kesedihannya.
Sekali
lagi Aurora membuang napasnya dengan kasar. Ia tidak boleh lemah. Sikembar sekarang
adalah prioritas hidupnya. Persetan dengan perasaannya. Saat ini kebahagiaan
kedua anaknya lah yang paling utama. Yah… sekarang dan berharap untuk
selamanya, hanya ada dia dan anak-anaknya. Mereka akan tetap bahagia sekalipun
tanpa Ellard O’Neill Miller.
To be continued
Info TH ada di IG: rianitasitumorangg
See youu
Clara Veronica Miller
Nathaniel Mateo Miller
Nala Zanetta Miller
Mommy & Daddy
__ADS_1
Axel Gabriel Leonard (Uncle kesayangan sikembar)