Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Dua (Seri II)


__ADS_3

Ellard


sedang memeriksa dokumen-dokumennya di meja kerja yang ada di kamarnya. Ellard


benar-benar sangat sibuk. Selama empat tahun ini, semakin hari pekerjaannya


semakin banyak. Hal tersebut benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Namun


Ellard sangat bersyukur dengan kesibukannya, ia sedikit melupakan masalah pribadinya


yang begitu menyiksa.


Selama


empat tahun ia telah mengerahkan kemampuan dan kekuasaannya untuk mencari


keberadaan Aurora tapi semuanya nihil. Ayahnya ternyata sangat pandai


menyembunyikan menantunya itu. Aurora benar-benar menghilang tanpa jejak.


Beberapa tahun ini juga Ellard sudah berkunjung ke beberapa Negara yang


memungkinkan Aurora berada disana, namun hasilnya masih saja tetap sama. Nihil.


Bahkan keluarga Aurora sekalipun tidak ada yang mengetahui keberadaan putri


mereka. Ellard sangat tidak menyangka, Ayahnya bisa sedetail itu menyembunyikan


Aurora.


Berulangkali


ia sudah membujuk Ayahnya untuk memberitahu dimana keberadaan istrinya, tapi


Holland masih enggan memberitahunya— sekalipun Clarissa sudah lama tiada.


 BRAKKK


Hentakan


keras pada pintu ruang kerjanya berhasil membuyarkan fokus Ellard pada dokumen


yang sedang dibacanya. Mendongak— senyumnya langsung terbit begitu mengetahui pelaku


pembuat kegaduhan itu. Little Princess-nya. Clara Veronica Miller. Putri


kecilnya itu tengah berdiri di ambang pintu, memakai piyama tidur dengan sebuah


boneka Teddy ditangannya. Mata dan hidung gadis itu memerah. Menangis?


“Papa!!”


teriak Clara dengan bahu yang naik turun dan bibir yang ditekuk.


“Hai,


princess Papa,” kekeh Ellard, ia bangkit dan mengitari meja. Menghampiri


Princess kecilnya yang lagi-lagi pasti merajuk karna meninggalkannya saat


tertidur tadi. Ellard merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh kecil itu


kedalam gendongannya.


“What’s


wrong my princess? Kenapa nangis, huh?” tanya Ellard sambil menyeka lembut


jejak airmata putrinya.


“Papa


bohong!”


“Bohong?”


“Papa


uda janji enggak tinggalin Cla, tapi Papa malah pergi,” rengek Clara sambil


meninju pelan wajah Ellard.


Ellard


terkekeh dan menciumi gemas pipi gembul putrinya. “I’m sorry, Princess. Papa


lagi banyak kerja nih. Princess Papa bobo lagi ya”


“Cla,


enggak mau bobo sendiri. Papa harus temani,”


“Terus,


kerjaan Papa gimana dong?”


“Ya


ditinggalin. Papa bobo sama Cla!” tangis Clara semakin kencang


Ellard


menghela nafas, “Ok, ok.. kita bobo. Tapi janji enggak nangis lagi, hm?” bujuk


Ellard seraya mengecup pipi Clara


Tangis


Clara langsung berhenti. Bocah kecil itu menganggukkan kepala cepat.


“Good


girl. Then, let’s sleep with Papa” seru Ellard, menciumi gemas puncak kepala


Clara sembari mulai menghela langkah keluar menujuh kamar tidur putrinya.


Ellard


membaringkan tubuh kecil Clara ditengah ranjang, kemudian ikut merebahkan diri


disampingnya dengan selimut yang ditarik hingga ke leher gadis kecilnya. Ellard


memiringkan tubuhnya dan mulai menepuk-nepuk pelan punggung gadis kecilnya.


“Papa…”


Ellard


menurunkan tatapannya “Hm?”


“I


want to hug Mum’s photo” gumam Clara, menatap sayu Ellard. Bocah itu sudah


hampir tertidur.


“Photo?”


beo Ellard


Clara


mengangguk. Tanpa menoleh, tangannya di arahkan ke nakas yang terdapat bingkai


foto. “There Papa. Give me…”


Ellard


tertegun, menatap nanar foto yang dimaksudkan putrinya. Potret yang ada dalam


bingkai itu merupakan sosok wanita cantik dengan senyum yang mereka indah,


tengah menatap camera. Begitu anggun. Sosok yang sudah lama sangat


dirindukannya mati-matian. Aurora. Istri


kesayangannya.


Lambat,


Ellard menggapai foto itu— menatapnya begitu dalam.


“Papa…


give me, my mom…” Clara menginterupsi setengah merengek dan langsung merebut


bingkai itu lalu menciumnya sebelum mendekapnya erat. “Miss you Mom…”


Ellard


menatap nelangsa kelakuan putrinya. Seperti permintaan Clarissa, dia ingin yang


dikenal Clara sebagai Mamanya adalah Aurora. Bukan dirinya. Dan Ellard


melakukan tepat seperti yang diminta ibu kandung Clara. Dia mengenalkan Aurora


sebagai ibu kandungnya, yang saat ini tengah menjalani pengobatan di luar


negri. Dia terpaksa membohongi Clara, namun berjanji didalam hati, dia akan berhasil


menemukan keberadaan istrinya itu dan membawanya kehadapan putrinya.


“Papa…


kapan Mama pulang? Cla rindu,” gumam Clara dengan mata terpejam, kantuk hampir

__ADS_1


menjemput kesadarannya.


“Tidak


lama lagi, sayang.” Sahut Ellard mengecup lama kening Clara lalu mengeratkan


pelukannya. “Papa akan bawa Mama pulang secepatnya— dan kalau belum sembuh juga,


nanti Papa sendiri yang akan obatin pelan-pelan” lirih Ellard dengan mata yang


memanas.


“Promise,


Papa?” gumam Clara ditengah kantuknya


Ellard


tertawa rendah, “Promise, Princess. Your mom will come home as soon as posible”


Ellard menduselkan kepalanya pada puncak Clara dengan gemas. Setelahnya tidak


ada lagi celoteh yang keluar dari mulut bocah kecil itu— digantikan dengan


dengkuran halus miliknya.


****


Suara


nyaring puluhan anak kecil yang sedang menyanyikan lagu rohani, mengisi ruangan


yang terletak di belakang sebuah Gereja. Dari anak yang baru menginjak umur


tiga tahun bahkan sampai remaja. Dan semua anak itu sedang melakukan paduan


suara untuk malam natal beberapa minggu lagi.


Lagu


Jinggle Bell menjadi lagu terakhir yang dinyanyikan anak-anak. Pertanda sesi


latihan berakhir untuk hari ini. Dan dengan itu Ara langsung menyambut dengan


tepuk tangan bersama beberapa orangtua anak yang kebetulan ikut menemani


anak-anak mereka latihan.


“Kerja


bagus anak-anak,” puji Ara pada beberapa anak asuhnya yang setelah selesai


latihan langsung menghampiri Ara dan memeluknya. Ara menyambut memeluk dan


menciumi puncak kepala mereka satu persatu.


Setelah


Ara memastikan anak-anak panti semua lengkap, ia segera mengajak mereka untuk


kembali ke panti karena sebentar lagi jam makan siang.


“Mama!!”


Langkah


Ara terhenti manakala mendengar seseorang memanggil namanya. Berbalik, senyumnya


langsung terbit begitu mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang anak


laki-laki dengan setelan kaos polo hitam, dibalut jaket jeans— bawahan celana


panjang biru dongker, dengan ransel yang melekat dipundaknya, kini tengah


tersenyum lebar menatapnya. Sementara disebelah anak lelaki itu, tampak juga


seorang gadis kecil dengan tinggi sedikit lebih pendek darinya— memakai skirt


dengan warna yang sama dengannya, juga menampilkan senyum yang tak kalah lebar


hingga menampilkan gigi susunya.


Ara


berjongkok dan segera merentangkan lebar kedua tangannya, menyambut bocah kecil


nan menggemaskan itu kini tengah berlarian ke arahnya. Nathan Mateo dan Nala Zanetta. Bocah kembar fraternal atau kembar tidak identik. Buah hatinya, anak yang berhasil ia lahirkan ke dunia, empat tahun


lalu.


“Mama…,”


pekik kedua bocah itu dengan riangnya, begitu berhasil memeluk erat leher sang


Mama.


Ara


sambil menciumi gemas pipi apel keduanya bergantian.


“Hai,


prince dan princess kesayangan Mama… darimana saja kalian, hm?” Ara menggigit


kecil hidung bangir keduanya.


“Mama,


Uncle Leo ada di depan. Katanya hari ini Uncle mau ajak kita jalan-jalan ke


kota,” seru Nathan, si sulung


“Uncle


Leo?” beo Ara


“Yes,


Mom” Nala menyahut cepat. “Mommy hurry up… lets’s go.. we want to spend time


with uncle Leo,”  lanjut Nala begitu


antusias hingga menarik-narik tangan Ara tak sabar


“Tapi


Mama masih ada keperluan dengan anak-anak lain sayang,”


“No,


Mom. We have to go right now!” timpal Nathan juga ikut menarik tangan Ara


“Uncle Leo uda tunggu kita di depan. C’mon Mom… c’mon…”


“Tapi—“


“Pergi


saja Ara. Biarkan suster yang lain handle anak-anak disini” sela Suster Anna


tepat dibelakang Ara.


Aurora


segera berdiri, berbalik dan mendapati Suster Anna tengah tersenyum hangat pada


mereka. suster Anna mendekat dan mengacak gemas puncak kepala anak kembar itu.


“Sampai


disana jangan nakal dan pergi jauh-jauh dari Mama dan Uncle kalian. Mengerti?” pesan


Suster Anna disertai senyum tulus yang terukir di wajah tuanya.


“Mengerti


Nenek,” seru keduanya bersamaan seraya langsung memeluk suster Anna.


“Then good,”


“Terimakasih


Suster Anna,” ucap Ara begitu ketiganya melepas pelukan. Nathan dan Nala segera


beralih menggamit tangan Ara. “kalau begitu kami pergi dulu, Suster” pamit Ara


yang dibalas anggukan kecil oleh suster Anna.


Ara


membimbing kedua tangan mungil anaknya keluar menuju parkiran. Disana, seorang


pria dengan pakaian santainya tengah berdiri sambil bersandar pada mobil.


lelaki itu belum menyadari kehadiran mereka karna tengah fokus mengetik sesuatu


di ponselnya.


“Uncle


Leoooo!!!” teriak si kembar bersamaan sambil langsung berlari menghampiri sosok


yang mereka panggil.


Leo

__ADS_1


mendongak— tersenyum lebar begitu melihat pasukan kecilnya tengah berlari


begitu semangatnya ke arahnya. Ia segera menunduk dan merentangkan kedua tangan


lebar, menyambut para kesayangannya.


Happ!


“Hello


twins… I miss you so badly,” ucap Leo seraya menciumi gemas pipi merah


keduanya.


“We


miss you too Uncle...” sahut Nathan


“Uncle


kok uda lama enggak main kesini lagi? Uncle Leo uda enggak sayang kita, kan?”


rajuk Nala bersidekap dada dengan pipi yang digembungkan.


Leo


mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan gadis kecil itu. Ia meraih tangan


mungil Nala dan menempelkan pada kedua pipinya.


“Siapa


bilang Uncle enggak sayang lagi? malahan tiap harinya Uncle berlipat kali


sayang sekarang”


“Uncle


bohong,” Nala menggeleng cepat. Masih dengan mood merajuknya.


“No,


I’m not lying my angel. Uncle beberapa minggu ini lagi banyak kerja, makanya


enggak bisa main dengan kalian.” Jelas Leo. Mengingat memang sudah sebulan ini


dia belum mengunjungi pasukan kecilnya ini. Sedang biasanya, sekali seminggu


dia selalu menyempatkan diri untuk datang menjenguk si kembar walau harus


menempuh jarak yang begitu jauh. “Tapi sekarang Uncle uda enggak sibuk. So, let’s


play for all day,” seru Leo dengan gaya kekanak-kanakannya.


“Really?


Horayyy… c’mon uncle… c’mon…” secepat kilat, mood merajuk Nala berganti ceria. Gadis


itu langsung melompat masuk ke dalam dekapan Leo. Sementara lelaki itu hanya


bisa terkekeh gemas seraya bangkit berdiri dengan menggendong tubuh kecil Nala.


“Aku


juga mau digendong sama Uncle Leo,” gerutu Nathan dengan bibir mencebik


“Nathan,


sama Mama aja ya.” Timpal Ara yang sejak tadi hanya diam tersenyum,


memperhatikan tingkah ketiganya. “Kasihan Uncle Leo-nya loh, kalau harus


gendong kalian berdua. Nanti pinggang Uncle bisa encok, terus sakit dan gak


bisa main dengan kalian lagi deh” lanjut Ara mengedikkan bahunya


“No,


Mama! Uncle ndak boleh sakit,” protes Nala, menggeleng tegas dengan kedua


tangan yang semakin melingkar kuat pada leher Leo. “Athan sama Mama aja”


“Deal.


Nathan sama Mama aja ya. Nanti Mamanya diculik loh kalo dibiarin sendirian” Leo


menengahi seraya mengerling jenaka pada Ara.


“Fine.


Nathan sama Mama aja deh” sahut Nathan, langsung merangkul kuat lengan Ara.


“Then,


Let’s go! Kita main sepuasnya” seru Leo, yang segera diikuti pekikan girang


sikembar.


Melihat


itu, Ara hanya bisa tersenyum bahagia. Perasaan hangat membanjiri hatinya. Axcel Leonard, lelaki yang selama empat


tahun ini selalu setia berada disisinya. Menemani dan memberinya kekuatan. Sejak


dulu bahkan sampai sekarang Leo selalu menjadi pelindungnya. Saat si kembar


masih dalam kandungan bahkan sampai sebesar ini, Leo tidak pernah sekalipun


meninggalkannya. Ntah bagaimana lagi dia bisa membalas kebaikan lelaki itu


padanya. Terutama pada sikembar. Tidak hanya menjadi Uncle untuk si kembar, Leo


juga merangkap sebagai Ayah untuk mereka— menggantikan peran yang seharusnya


milik Ellard. Leo mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada kedua bocah itu,


sekalipun sikembar bukan darah dagingnya sendiri. Namun kasih sayang Leo


terhadap anak-anaknya terlihat begitu tulus.


Sampai


sekarang Ara masih heran, bagaimana lelaki ini bisa berhasil melacak keberadaan


dirinya di area pelosok ini. Sementara yang dia tahu jika Ayah mertuanya adalah


sosok yang memiliki kekuasaan besar, sanggup menyembunyikan keberadaannya


begitu apik hingga siapapun tidak dapat menemukannya, termasuk Ellard, putra kandungnya sendiri.


Mengingat


Ellard, ntah bagaimana sekarang keadaan lelaki itu. Masihkah gencar mencarinya


atau mungkin sudah melupakan? karna telah bahagia dengan keberadaan Clarissa


dan anak mereka.


Aurora


menghela nafas berat. Ia tidak bisa menampik bahwa dirinya masih begitu


mencintai Ellard, lelaki yang sampai sekarang masih berstatus sebagai suaminya.


Empat tahun berpisah sama sekali tidak berhasil menyurutkan perasaannya pada


lelaki yang telah menyakitinya itu. Sebelum sikembar lahir, tidak jarang ia


selalu menangis diam-diam. Namun tidak sekarang. Keberadaan anaknya sedikit


berhasil mengalihkan kesedihannya.


Sekali


lagi Aurora membuang napasnya dengan kasar. Ia tidak boleh lemah. Sikembar sekarang


adalah prioritas hidupnya. Persetan dengan perasaannya. Saat ini kebahagiaan


kedua anaknya lah yang paling utama. Yah… sekarang dan berharap untuk


selamanya, hanya ada dia dan anak-anaknya. Mereka akan tetap bahagia sekalipun


tanpa Ellard O’Neill Miller.


To be continued


Info TH ada di IG: rianitasitumorangg


See youu


Clara Veronica Miller



Nathaniel Mateo Miller



Nala Zanetta Miller



Mommy & Daddy


__ADS_1


Axel Gabriel Leonard (Uncle kesayangan sikembar)



__ADS_2