Touching Heart

Touching Heart
Empat Puluh (Seri II)


__ADS_3

Dengan


tertati-tatih Ellard mencoba bangkit— memaksakan tubuhnya untuk beranjak dari sana.


Disetiap helaan langkahnya, kerap kali ia meringis ketika merasakan nyeri


diseluruh tubuhnya. Ayolah, Alex benar-benar menghajarnya bak kesetanan tadi.


Memakan


waktu yang cukup lama, Ellard berhasil duduk di dalam mobil dengan susah payah.


Matanya terpejam erat diiringi helaan nafas yang begitu berat. Ia tidak berani


kembali masuk ke dalam rumah dalam keadaan berantakan. Ia tidak ingin


anak-anaknya di perlihatkan bentuknya yang seperti ini.


Pukul


sembilan, kemungkinan anak-anaknya masih belum tertidur. Ellard meraih


ponselnya, menghubungi istrinya  untuk


memastikan keadaan di dalam. “Halo, sayangku,”


“El,


kamu dimana? Kenapa belum kembali? Anak-anak pada nyariin”


“Apa


mereka sudah tidur?”


“Ini


baru akan mau tidur.”


Ellard


diam, cukup lama— dengan napas terembus panjang.


“Kamu


tidak akan tidur disini?”


“Tidak.


Mungkin lain kali. Aku tidak bisa kesana dalam keadaan begini,”


Hening


sejenak. “Baiklah, hati-hati dijalan kalo begitu. Aku tutup tel—“


“Aku


di depan gerbang. Jika anak-anak sudah tidur, datanglah kemari. Kita pulang


bersama,”


“Apa?“


“I


love you, istriku. I love you so much”


“Ellard…”


“Segeralah


datang padaku.” Ellard mematikan panggilan, tanpa menunggu respon Ara.


Senyumnya melebar hangat sambil mengusap wajah Ara yang ada di bagian depan


layar utama.


Pukul


sepuluh, dalam keadaan temaran— samar-samar Ellard melihat siluet Ara yang


berjalan kian mendekat ke arah mobilnya. Ellard tersenyum simpul lantas membuka


pintu mobil. Ara sama sekali tidak menyapa, kecuali dengan lurus memandang


Ellard sebelum kemudian masuk ke mobil.


“Hai,”


Ellard tersenyum sambil menelengkan kepalanya. Tidak ada yang berbicara, hanya


saling menatap teramat lekat untuk beberapa menit.


“Kenapa


memintaku untuk pulang juga? Bagaimana dengan anak-anak? Aku tidak bisa” Ara


hendak berbalik, dan dengan cepat Ellard mencekal tangannya— mendekapnya begitu


erat.


“Jangan


bersikap kejam begitu dong, Sayang” ucap Ellard dengan nada merengut “kamu


tidak lihat wajah tampan suamimu ini terluka? Tidakkah kamu berniat untuk


mengobatinya?”


Ara


merenggangkan pelukan, menatap wajah Ellard lekat.


“Apa


yang membuat kalian berkelahi seperti kanak-kanak begitu?” tanya Ara. Ia tahu


dari mana Ellard mendapatkan luka-luka diwajahnya itu. Tadi tanpa sengaja ia


juga melihat wajah Alex memiliki lebam yang sama, namun tetap tidak sebanyak


Ellard.


Ellard


mengangkat bahu santai, “Hanya sedikit olahraga di malam hari antar sesama pria


dewasa,”


Ara


manggut-manggut, “Ah, jika begitu… kamu pun bisa mengobati sendiri lukamu”


sarkas Ara


Ellard


meringis, “Tidak bisa, sayang. Bagian mengobati tetap harus kamu, istriku.”


Ara


menggertakkan gigi dongkol, “Enggak mau. Obati saja sendiri. Aku mau tidur


dengan anak-anakku!”


Ara


meraih handle pintu, namun dengan sigap Ellard sudah kembali menguncinya lalu


segera melajukan mobil dengan cepat hingga membuat Ara yang sama sekali belum


siap, memekik tertahan.


“Ellard!!


Kamu mau membunuhku?!” pekik Ara menatap horror pada raut santai Ellard


“Tentu


saja tidak. Aku terlalu mencintaimu, Sayang” Ellard mengerling gelih


“Bastard!”

__ADS_1


“Ssshhh…


tidak baik mengumpat suami sendiri” Ellard tertawa pelan seraya mengusap gemas


surai coklat istrinya.


****


“Sshhhh…


pelan-pelan sedikit, Sayang” ringis Ellard


“Kalau


mau pelan, obati saja sendiri,” ketus Ara, tanpa menghentikan kegiatannya—


mengobati luka memar pada wajah Ellard


“Ck,


galak bener istriku ini. Untung cinta,” gumamnya dengan bibir mengerucut.


Ara


tidak mempedulikan cicitan Ellard— ia lebih memilih fokus mengobati luka yang


cukup parah di wajahnya. Dalam hati Ara meringis ngeri melihat luka-luka yang


di dapat Ellard, ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika kakaknya yang


selalu terlihat hangat dan jenaka, nyatanya memiliki kelakuan yang begitu


bar-bar jika sudah marah. Pelan, hati-hati, Ara meniupi wajah yang telah


diolesi obat salep arnica setelah sebelumnya mengompres dengan air hangat.


“Sudah


selesai.”


Ellard


menangkup wajah Ara, mencium bibirnya— mengisap pelan “Makasih, Sayang” ucapnya


tersenyum manis


Ara


mengerjap beberapa kali lalu setelahnya hanya mengangguk lambat. Ia hendak


berbalik menyimpan kotak obat, wadah beserta handuk yang sudah dipenuhi bercak


darah ke wastafel, namun Ellard dengan sigap mencekal pergelangan tangannya.


“Besok


aja diberesin,” kata Ellard sambil mengambil alih semua yang hendak dibawah


Ara, lalu meletakkannya di nakas. “sudah waktunya tidur” sambungnya dengan


membawa langsung tubuh Ara berbaring dan memeluknya begitu erat.


“El…


aku susah napas kalo kamu peluk begini,”


“Masa


sih? Yaudah sini aku kasih nafas buatan,” Ellard memajukan bibirnya dan dengan


kesal Ara menampar bibir lelaki itu pelan


“Sinting


kamu”


Ellard


menyengir lebar, “Sintingnya juga buat kamu kok”


Ara


tidak membalas, matanya menatap lurus langit-langit kamar. “Aku harus kembali


Ellard


tersenyum ringan—jemarinya membelai lembut pipi Ara. “Jangan kahwatir. Ada


Mommy dan Daddy disana yang menjaga mereka. Lagipula aku juga sudah memberitahu


Alex bahwa aku membawamu bersamaku.”


Ara


memiringkan tubuh, melipat satu tangannya di bawah pipi dan menatap wajah


suaminya dalam-dalam yang masih terlihat begitu tampan meski dihiasi lebam dan


luka.


“Katakan,


kenapa kalian sampai berkelahi begini?”


“Kamu


ingin tahu cerita sebenarnya?”


Ara


tidak menyahut, tetapi dia menyimak. Ellard menghela napas, lalu mengambil


tangan Ara— mencium punggungnya dalam dan digenggam.


“Dia


sangat marah karna aku telah membuat adik kesayangannya menderita. Awalnya dia


hanya memakiku… namun semakin lama ia juga melibatkan Clara dan menyebutnya


anak haram. Kamu tahu… mendengarnya saja aku langsung begitu marah dan tanpa berpikir


panjang langsung menghajarnya. Dan karna itu pula, dia juga balas menghajarku


lebih gila lagi. Dia tidak terima aku masih membela anakku dengan Cla, tapi aku


membiarkannya.” Ellard mulai bercerita “Aku tidak pernah melihatnya kehilangan


sikap tenangnya dan menjadi semurka itu. Dan ini adalah duel pertama sepanjang


persahabatan kami. Kakakmu itu benar-benar kecewa padaku, Ara. Bahkan dia


sampai mengancamku akan membawamu pergi selamanya dariku jika aku kembali


menyakitimu. Wah, kakakmu memang luar biasa, Sayang”


Ara


masih diam mendengarkan. Ellard mengikiskan jarak wajah mereka, mengecup lama


dahi istrinya.


“Tolong


maafkan kesalahanku dimasa lalu. Beri aku kesempatan untuk menebusnya. Dosaku


di masa lalu… aku tahu sungguh tak termaafkan. Tapi, itu bagian dari hidupku,


Ara. Aku tidak bisa kembali ke masa itu untuk memperbaikinya. Dan untuk Clara…


demi apapun, jangan pernah menyebutnya juga anak haram, Ara. Dia sama sekali


tidak bersalah. Aku yang bersalah…” Ellard menangis, bulir bening jatuh dari


matanya ketika ia mengeluarkan segala sesak yang menghimpit dadanya.


Ellard


menyatukan kening mereka, hidung saling bersentuhan.


“Aku

__ADS_1


minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi.


Aku merindukanmu seperti akan gila. Aku sekarat selama kamu tidak disisiku,


Ara. Aku tahu kamu juga masih mencintaiku. Aku tahu kamu masih menginginkanku. Just don’t go again, please...,”


Mata


Ara berkaca-kaca, mengusap air mata Ellard yang jatuh membasahi pipinya. Ia


bisa melihat begitu jelas sorot kepedihan di mata Ellard yang begitu menderita.


“Jangan


menangis lagi…” dengan suara menyerak, Ara berucap pelan. Ia merangkum wajah


Ellard dan mengecup dahinya cukup lama. “Yang kamu takutkan tidak akan terjadi.


Aku… tidak akan meninggalkanmu lagi…”


“Ara…”


Ellard terpaku,


“Disini,


bukan hanya kamu yang melakukan kesalahan, tapi aku juga. Seandainya dulu, jika


aku berani bersikap tegas dan terbuka sama kamu, mungkin pernikahan kita tidak akan


seberantakan ini. Hanya saja, hatiku yang terlalu lemah saat itu— aku tidak


bisa menutup mata begitu saja melihat Clarissa yang  menderita karna penyakit dan obesesinya padamu.


Maafkan aku…”


“Sshhh…


hati kamu enggak lemah, Sayang. Justru aku sangat kagum padamu, hatimu begitu


mulia.” Ellard tersenyum haru. Hatinya kian menghangat setiap kali mendengar


untaian kalimat yang sangat dinantikannya selama ini. ia balas mengusap air


mata di pipi Ara, lalu mengecup kedua netra itu bergantian.


“Apa


artinya kita uda baikan? Kamu udah enggak marah lagi, kan? Janji enggak


ninggalin aku lagi, kan?” tanyanya beruntun dengan sorot mata yang kian berbinar


Ara


berdehem “Tergantung… yah kalo kamu masih nekat bermain gila di belakangku,


maka jangan salahkan jika—“


Tidak


menunggu kalimat Ara diselesaikan, Ellard menangkup wajahnya— ******* bibirnya


dalam dan lama sampai Ara harus memukul dadanya ketika napasnya serasa


direnggut habis.


“El,


aku enggak bisa napas!”


Ellard


melepaskan, tersenyum sumringah. Dia terlihat begitu bahagia sekaligus luar


biasa lega. Bibir keduanya basah, dikecupnya kembali sisa saliva yang masih


menempel di ujung bibir Ara.


“I love you so much, Ara, I love you.


Tidak ada perempuan lain, aku bersumpah atas nyawaku sendiri kecuali kamu. Kamu


dan anak-anak kita adalah kebahagiaan terbesarku.” Bisiknya tepat ditelinga


Ara.


Ellard


membenamkan wajah Ara pada dada bidangnya— mendekapnya begitu erat seakan tidak


akan pernah rela melepaskannya. Malam ini ia hanya terlalu bahagia. Ara-nya


telah memaafkannya. Wanita favoritnya ini akhirnya kembali kesisinya. Tidak


akan pernah dia lepaskan lagi, cukup waktu empat tahun yang membuatnya begitu menderita


akibat kehilangan istrinya.


Sementara


Ara yang berada dalam lingkupan hangat suaminya, terenyum samar. Ia memilih


berdamai dengan hatinya— memutuskan untuk memaafkan suaminya dan segala


kesalahannya di masa lalu. Terlalu egois jika semua kesalahan hanya dilimpahkan


pada Ellard. Sedang disatu sisi ia juga turut andil dalam keretakan rumah


tangga mereka.  Tidak ada manusia yang sempurna, yang luput dari kehilafan. Selalu ada


kesempatan kedua bagi mereka yang benar-benar menyesal. Itulah yang dikatakan


oleh Mamanya tadi ketika mereka berdua menunggui Clara, Nathan dan Nala tidur.


Ara


juga masih sangat mengingat apa yang dinasihatkan Mamanya pada malam sebelum


pernikahannya dulu,


“Menjadi pasangan


yang bahagia, pasangan suami istri harus saling mengenal dan menerima


pasangannya, saling mencintai, saling memiliki komitmen terhadap pasangannya,


tetap bersama dalam senang dan susah, saling membantu, saling mendukung,


memiliki komunikasi yang lancar dan terbuka, serta menerima keluarga pasangannya


sebagai keluarganya sendiri”


Dan


ya, Ara memilih berdamai dan melupakan semua kekacauan yang menimpah rumah


tangganya. Ia tidak bisa egois hanya memikirkan perasaannya sendiri. Kini sudah


ada anak-anak diantara mereka, yang memerlukan kasih sayang yang utuh dari


kedua orang tuanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak-anaknya


nanti jika seandainya mereka benar-benar berpisah selamanya.


Lagi


pula, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam… Aurora masih sangat mencintai


Ellard. Lelaki yang saat ini telah tertidur begitu tenang dengan kedua tangan


yang masih terus setia mendekap tubuhnya erat.


...TAMAT ...


Hehehe... gimana? Masih pengen dilanjutin? 🤭😅


Follow IG: rianitasitumorangg


Ntar aku kasih jawaban deh disana ✌😁


See yoouuuuuuuuuu

__ADS_1



__ADS_2