
Dengan
tertati-tatih Ellard mencoba bangkit— memaksakan tubuhnya untuk beranjak dari sana.
Disetiap helaan langkahnya, kerap kali ia meringis ketika merasakan nyeri
diseluruh tubuhnya. Ayolah, Alex benar-benar menghajarnya bak kesetanan tadi.
Memakan
waktu yang cukup lama, Ellard berhasil duduk di dalam mobil dengan susah payah.
Matanya terpejam erat diiringi helaan nafas yang begitu berat. Ia tidak berani
kembali masuk ke dalam rumah dalam keadaan berantakan. Ia tidak ingin
anak-anaknya di perlihatkan bentuknya yang seperti ini.
Pukul
sembilan, kemungkinan anak-anaknya masih belum tertidur. Ellard meraih
ponselnya, menghubungi istrinya untuk
memastikan keadaan di dalam. “Halo, sayangku,”
“El,
kamu dimana? Kenapa belum kembali? Anak-anak pada nyariin”
“Apa
mereka sudah tidur?”
“Ini
baru akan mau tidur.”
Ellard
diam, cukup lama— dengan napas terembus panjang.
“Kamu
tidak akan tidur disini?”
“Tidak.
Mungkin lain kali. Aku tidak bisa kesana dalam keadaan begini,”
Hening
sejenak. “Baiklah, hati-hati dijalan kalo begitu. Aku tutup tel—“
“Aku
di depan gerbang. Jika anak-anak sudah tidur, datanglah kemari. Kita pulang
bersama,”
“Apa?“
“I
love you, istriku. I love you so much”
“Ellard…”
“Segeralah
datang padaku.” Ellard mematikan panggilan, tanpa menunggu respon Ara.
Senyumnya melebar hangat sambil mengusap wajah Ara yang ada di bagian depan
layar utama.
Pukul
sepuluh, dalam keadaan temaran— samar-samar Ellard melihat siluet Ara yang
berjalan kian mendekat ke arah mobilnya. Ellard tersenyum simpul lantas membuka
pintu mobil. Ara sama sekali tidak menyapa, kecuali dengan lurus memandang
Ellard sebelum kemudian masuk ke mobil.
“Hai,”
Ellard tersenyum sambil menelengkan kepalanya. Tidak ada yang berbicara, hanya
saling menatap teramat lekat untuk beberapa menit.
“Kenapa
memintaku untuk pulang juga? Bagaimana dengan anak-anak? Aku tidak bisa” Ara
hendak berbalik, dan dengan cepat Ellard mencekal tangannya— mendekapnya begitu
erat.
“Jangan
bersikap kejam begitu dong, Sayang” ucap Ellard dengan nada merengut “kamu
tidak lihat wajah tampan suamimu ini terluka? Tidakkah kamu berniat untuk
mengobatinya?”
Ara
merenggangkan pelukan, menatap wajah Ellard lekat.
“Apa
yang membuat kalian berkelahi seperti kanak-kanak begitu?” tanya Ara. Ia tahu
dari mana Ellard mendapatkan luka-luka diwajahnya itu. Tadi tanpa sengaja ia
juga melihat wajah Alex memiliki lebam yang sama, namun tetap tidak sebanyak
Ellard.
Ellard
mengangkat bahu santai, “Hanya sedikit olahraga di malam hari antar sesama pria
dewasa,”
Ara
manggut-manggut, “Ah, jika begitu… kamu pun bisa mengobati sendiri lukamu”
sarkas Ara
Ellard
meringis, “Tidak bisa, sayang. Bagian mengobati tetap harus kamu, istriku.”
Ara
menggertakkan gigi dongkol, “Enggak mau. Obati saja sendiri. Aku mau tidur
dengan anak-anakku!”
Ara
meraih handle pintu, namun dengan sigap Ellard sudah kembali menguncinya lalu
segera melajukan mobil dengan cepat hingga membuat Ara yang sama sekali belum
siap, memekik tertahan.
“Ellard!!
Kamu mau membunuhku?!” pekik Ara menatap horror pada raut santai Ellard
“Tentu
saja tidak. Aku terlalu mencintaimu, Sayang” Ellard mengerling gelih
“Bastard!”
__ADS_1
“Ssshhh…
tidak baik mengumpat suami sendiri” Ellard tertawa pelan seraya mengusap gemas
surai coklat istrinya.
****
“Sshhhh…
pelan-pelan sedikit, Sayang” ringis Ellard
“Kalau
mau pelan, obati saja sendiri,” ketus Ara, tanpa menghentikan kegiatannya—
mengobati luka memar pada wajah Ellard
“Ck,
galak bener istriku ini. Untung cinta,” gumamnya dengan bibir mengerucut.
Ara
tidak mempedulikan cicitan Ellard— ia lebih memilih fokus mengobati luka yang
cukup parah di wajahnya. Dalam hati Ara meringis ngeri melihat luka-luka yang
di dapat Ellard, ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika kakaknya yang
selalu terlihat hangat dan jenaka, nyatanya memiliki kelakuan yang begitu
bar-bar jika sudah marah. Pelan, hati-hati, Ara meniupi wajah yang telah
diolesi obat salep arnica setelah sebelumnya mengompres dengan air hangat.
“Sudah
selesai.”
Ellard
menangkup wajah Ara, mencium bibirnya— mengisap pelan “Makasih, Sayang” ucapnya
tersenyum manis
Ara
mengerjap beberapa kali lalu setelahnya hanya mengangguk lambat. Ia hendak
berbalik menyimpan kotak obat, wadah beserta handuk yang sudah dipenuhi bercak
darah ke wastafel, namun Ellard dengan sigap mencekal pergelangan tangannya.
“Besok
aja diberesin,” kata Ellard sambil mengambil alih semua yang hendak dibawah
Ara, lalu meletakkannya di nakas. “sudah waktunya tidur” sambungnya dengan
membawa langsung tubuh Ara berbaring dan memeluknya begitu erat.
“El…
aku susah napas kalo kamu peluk begini,”
“Masa
sih? Yaudah sini aku kasih nafas buatan,” Ellard memajukan bibirnya dan dengan
kesal Ara menampar bibir lelaki itu pelan
“Sinting
kamu”
Ellard
menyengir lebar, “Sintingnya juga buat kamu kok”
Ara
tidak membalas, matanya menatap lurus langit-langit kamar. “Aku harus kembali
Ellard
tersenyum ringan—jemarinya membelai lembut pipi Ara. “Jangan kahwatir. Ada
Mommy dan Daddy disana yang menjaga mereka. Lagipula aku juga sudah memberitahu
Alex bahwa aku membawamu bersamaku.”
Ara
memiringkan tubuh, melipat satu tangannya di bawah pipi dan menatap wajah
suaminya dalam-dalam yang masih terlihat begitu tampan meski dihiasi lebam dan
luka.
“Katakan,
kenapa kalian sampai berkelahi begini?”
“Kamu
ingin tahu cerita sebenarnya?”
Ara
tidak menyahut, tetapi dia menyimak. Ellard menghela napas, lalu mengambil
tangan Ara— mencium punggungnya dalam dan digenggam.
“Dia
sangat marah karna aku telah membuat adik kesayangannya menderita. Awalnya dia
hanya memakiku… namun semakin lama ia juga melibatkan Clara dan menyebutnya
anak haram. Kamu tahu… mendengarnya saja aku langsung begitu marah dan tanpa berpikir
panjang langsung menghajarnya. Dan karna itu pula, dia juga balas menghajarku
lebih gila lagi. Dia tidak terima aku masih membela anakku dengan Cla, tapi aku
membiarkannya.” Ellard mulai bercerita “Aku tidak pernah melihatnya kehilangan
sikap tenangnya dan menjadi semurka itu. Dan ini adalah duel pertama sepanjang
persahabatan kami. Kakakmu itu benar-benar kecewa padaku, Ara. Bahkan dia
sampai mengancamku akan membawamu pergi selamanya dariku jika aku kembali
menyakitimu. Wah, kakakmu memang luar biasa, Sayang”
Ara
masih diam mendengarkan. Ellard mengikiskan jarak wajah mereka, mengecup lama
dahi istrinya.
“Tolong
maafkan kesalahanku dimasa lalu. Beri aku kesempatan untuk menebusnya. Dosaku
di masa lalu… aku tahu sungguh tak termaafkan. Tapi, itu bagian dari hidupku,
Ara. Aku tidak bisa kembali ke masa itu untuk memperbaikinya. Dan untuk Clara…
demi apapun, jangan pernah menyebutnya juga anak haram, Ara. Dia sama sekali
tidak bersalah. Aku yang bersalah…” Ellard menangis, bulir bening jatuh dari
matanya ketika ia mengeluarkan segala sesak yang menghimpit dadanya.
Ellard
menyatukan kening mereka, hidung saling bersentuhan.
“Aku
__ADS_1
minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi.
Aku merindukanmu seperti akan gila. Aku sekarat selama kamu tidak disisiku,
Ara. Aku tahu kamu juga masih mencintaiku. Aku tahu kamu masih menginginkanku. Just don’t go again, please...,”
Mata
Ara berkaca-kaca, mengusap air mata Ellard yang jatuh membasahi pipinya. Ia
bisa melihat begitu jelas sorot kepedihan di mata Ellard yang begitu menderita.
“Jangan
menangis lagi…” dengan suara menyerak, Ara berucap pelan. Ia merangkum wajah
Ellard dan mengecup dahinya cukup lama. “Yang kamu takutkan tidak akan terjadi.
Aku… tidak akan meninggalkanmu lagi…”
“Ara…”
Ellard terpaku,
“Disini,
bukan hanya kamu yang melakukan kesalahan, tapi aku juga. Seandainya dulu, jika
aku berani bersikap tegas dan terbuka sama kamu, mungkin pernikahan kita tidak akan
seberantakan ini. Hanya saja, hatiku yang terlalu lemah saat itu— aku tidak
bisa menutup mata begitu saja melihat Clarissa yang menderita karna penyakit dan obesesinya padamu.
Maafkan aku…”
“Sshhh…
hati kamu enggak lemah, Sayang. Justru aku sangat kagum padamu, hatimu begitu
mulia.” Ellard tersenyum haru. Hatinya kian menghangat setiap kali mendengar
untaian kalimat yang sangat dinantikannya selama ini. ia balas mengusap air
mata di pipi Ara, lalu mengecup kedua netra itu bergantian.
“Apa
artinya kita uda baikan? Kamu udah enggak marah lagi, kan? Janji enggak
ninggalin aku lagi, kan?” tanyanya beruntun dengan sorot mata yang kian berbinar
Ara
berdehem “Tergantung… yah kalo kamu masih nekat bermain gila di belakangku,
maka jangan salahkan jika—“
Tidak
menunggu kalimat Ara diselesaikan, Ellard menangkup wajahnya— ******* bibirnya
dalam dan lama sampai Ara harus memukul dadanya ketika napasnya serasa
direnggut habis.
“El,
aku enggak bisa napas!”
Ellard
melepaskan, tersenyum sumringah. Dia terlihat begitu bahagia sekaligus luar
biasa lega. Bibir keduanya basah, dikecupnya kembali sisa saliva yang masih
menempel di ujung bibir Ara.
“I love you so much, Ara, I love you.
Tidak ada perempuan lain, aku bersumpah atas nyawaku sendiri kecuali kamu. Kamu
dan anak-anak kita adalah kebahagiaan terbesarku.” Bisiknya tepat ditelinga
Ara.
Ellard
membenamkan wajah Ara pada dada bidangnya— mendekapnya begitu erat seakan tidak
akan pernah rela melepaskannya. Malam ini ia hanya terlalu bahagia. Ara-nya
telah memaafkannya. Wanita favoritnya ini akhirnya kembali kesisinya. Tidak
akan pernah dia lepaskan lagi, cukup waktu empat tahun yang membuatnya begitu menderita
akibat kehilangan istrinya.
Sementara
Ara yang berada dalam lingkupan hangat suaminya, terenyum samar. Ia memilih
berdamai dengan hatinya— memutuskan untuk memaafkan suaminya dan segala
kesalahannya di masa lalu. Terlalu egois jika semua kesalahan hanya dilimpahkan
pada Ellard. Sedang disatu sisi ia juga turut andil dalam keretakan rumah
tangga mereka. Tidak ada manusia yang sempurna, yang luput dari kehilafan. Selalu ada
kesempatan kedua bagi mereka yang benar-benar menyesal. Itulah yang dikatakan
oleh Mamanya tadi ketika mereka berdua menunggui Clara, Nathan dan Nala tidur.
Ara
juga masih sangat mengingat apa yang dinasihatkan Mamanya pada malam sebelum
pernikahannya dulu,
“Menjadi pasangan
yang bahagia, pasangan suami istri harus saling mengenal dan menerima
pasangannya, saling mencintai, saling memiliki komitmen terhadap pasangannya,
tetap bersama dalam senang dan susah, saling membantu, saling mendukung,
memiliki komunikasi yang lancar dan terbuka, serta menerima keluarga pasangannya
sebagai keluarganya sendiri”
Dan
ya, Ara memilih berdamai dan melupakan semua kekacauan yang menimpah rumah
tangganya. Ia tidak bisa egois hanya memikirkan perasaannya sendiri. Kini sudah
ada anak-anak diantara mereka, yang memerlukan kasih sayang yang utuh dari
kedua orang tuanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak-anaknya
nanti jika seandainya mereka benar-benar berpisah selamanya.
Lagi
pula, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam… Aurora masih sangat mencintai
Ellard. Lelaki yang saat ini telah tertidur begitu tenang dengan kedua tangan
yang masih terus setia mendekap tubuhnya erat.
...TAMAT ...
Hehehe... gimana? Masih pengen dilanjutin? 🤭😅
Follow IG: rianitasitumorangg
Ntar aku kasih jawaban deh disana ✌😁
See yoouuuuuuuuuu
__ADS_1